KOMUNIKASI YANG EFEKTIF
DENGAN HUBUNGAN YANG SEHAT
Dari apa yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, jelaslah bahwa komunikasi mencakup hampir setiap interaksi antara sesama manusia. Oleh karena itu, jalinan komunikasi dengan hubungan (relationship) adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Artinya, seseorang tidak mungkin berhubungan dengan orang lain tanpa melakukan komunikasi. Komunikasi berkenaan erat dengan cara seseorang mengungkapkan pikiran, gagasan, dan perasaannya kepada orang lain,
Apapun yang orang katakan kepada orang lain, secara langsung sebenarnya orang itu juga mengirimkan kesan dan pesannya tentang pendapat orang lain dan pendapatnya sendiri, serta dia akan menunjukkan apakah dirinya jujur dan tulus dengan apa yang dikatakannya.
Dalam komunikasi non lisan meskipun tidak diungkapkan dengan kata-kata, banyak hal yang tersampaikan melalui isyarat, raut muka, dan sikap. Jadi seseorang yang melakukan komunikasi non lisan, sesungguhnya dia berbicara lebih lantang dari ucapannya.
Apa yang orang katakan dan lakukan, serta bagaimana orang mengatakan dan melakukannya, secara langsung sebenarnya sangat
mempengaruhi dan membentuk pendapat orang lain tentang diri orang tersebut. Buktinya, pendapat orang lain tentang seseorang sering kali terbentuk atas dasar cara seseorang berkomunikasi. Misalnya, si A dikatakan kasar karena dia selalu berkomunikasi dengan suara keras dan menggunakan kata-kata yang tidak pantas. Atau si B tidak pernah tegas karena dia berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata yang tidak jelas dan dengan suara yang lemah lembut. Tentu saja hal inipun mempengaruhi bagaimana orang lain bereaksi terhadap orang itu. Dengan kata lain komunikasi adalah saluran dua arah.
Komunikasi yang diucapkan atau yang tidak diucapkan, bisa jelas atau bisa juga samar-samar, terbuka atau terkontrol (guided), jujur atau tidak jujur, tetapi tidak ada istilah tidak ada komunikasi. Artinya, tetap ada komunikasi. karena bahasa tubuh seseorang merupakan ekspresi wajah, nada suara dan tingkat ketertarikan, orang tetap mengkomunikasikan sesuatu terhadap orang lain yang memang mengamati kita. Oleh karena gagasan-gagasan dan minat seseorang disampaikan kepada orang lain dengan berbagai cara tertentu, tentu saja orang itu akan berhasil menyampaikannya kalau dia sebagai komunikator yang efektif. Masalahnya, seseorang sering kali bermaksud mengkomunikasikan satu hal, tetapi nyatanya orang itu malah mengkomunikasikan hal yang sama sekali berbeda dari yang dia maksudkan. Dengan kata lain, dia seringkali menyampaikan maksud orang lain dengan cara yang kurang atau bahkan tidak komunikatif, sehingga orang lain tidak begitu memahami apa yang dia coba sampaikan. Inilah yang dinamakan dengan komunikasi yang tidak efektif (ineffective communication).
Komunikasi yang efektif mempunyai tiga unsur yaitu kecepatan, kecermatan, dan keringkasan. Para komunikator yang cermat akan memperoleh promosi yang lebih cepat dibandingkan dengan komunikator yang kurang cermat. Kecermatan merupakan unsur yang paling utama dalam menunjang karier seseorang dalam pekerjaannya. Sedangkan unsur ketepatan dan keringkasan tidak ada hubungannya dengan karier seseorang.
Pada dasarnya, berkomunikasi secara efektif menjadi cita-cita setiap orang yang berkomunikasi. Komunikasi dapat dikatakan efektif apabila:
1. Pesan diterima dan dimengerti sebagaimana yang dimaksud oleh si pengirim.
2. Pesan disetujui oleh penerima dan ditindaklanjuti dengan perbuatan yang dikehendaki oleh pengirim.
3. Tidak ada hambatan untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk menindak lanjuti pesan yang dikirim.
(Agus M. Hardjana, Komunikasi Intrapersonal & Interpersonal)
Komunikasi yang efektif dan hubungan yang sehat juga tergantung dari macam perilaku komunikasi, yang dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Komunikasi formal: dikatakan komunikasi formal atau resmi
karena dilakukan dalam lembaga formal atau lembaga resmi melalui jalur garis perintah, berdasarkan struktur organisasi oleh pelaku yang berkomunikasi sebagai petugas organisasi dengan status masing-masing, yang tujuannya menyampaikan pesan yang
berkaitan dengan kepentingan dinas dan dengan bentuk resmi yang berlaku pada organisasi resmi pada umumnya. Atau komunikasi dapat juga dikatakan formal apabila komunikasi antara dua orang atau lebih yang ada pada suatu organisasi, dengan tegas telah diatur dan ditentukan dalam struktur organisasi.
2. Komunikasi informal atau the grapevine: adalah komunikasi
antara orang yang ada dalam satu organisasi, akan tetapi tidak direncanakan atau tidak ditentukan dalam struktur organisasi. Fungsi komunikasi informal adalah untuk memelihara hubungan sosial persahabatan kelompok informal, penyebaran informasi yang bersifat private (issue, gossip, atau rumors).
Menghadapi penyebaran informasi yang demikian itu ada tiga hal yang perlu dibuat:
a.Jangan berbuat hanya berdasarkan desas-desus sebab beritanya tidak akurat dan tidak dapat diandalkan.
b.Jika mungkin carilah sumber berita yang dapat dipercaya. c.Jika tidak mungkin mendapatkan sumber beritanya gunakan
akal sehat dan bertindaklah menurut akal sehat.
(Ages. M. Hardjana,Komunikasi Intrapersonal & Interpersonal)
Informasi grapevine (kabar burung) pada umumnya timbul melalui
rantai kerumunan di mana seseorang menerima informasi dan
diteruskan kepada seseorang atau lebih, dan seterusnya, sehingga informasi itu tersebar keberbagai kalangan. Akhirnya, kebenaran informasi itu menjadi kabar atau hilang. Hal demikian sering terjadi dalam komunikasi grapevine, karena pengiriman informasi tidak
didasarkan pada kenyataan yang ada dan selalu tidak dicek kebenarannya.
Komunikasi informal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari sebagai komunikasi yang tidak resmi tetap mempunyai manfaat sebagai berikut:
1. memenuhi kebutuhan sosial untuk berhubungan dengan orang lain dan manjadi bagian kelompok.
2. menjadi jalan untuk mempengaruhi orang lain.
3. menjadi sumber informasi kerja yang tidak diperoleh melalui saluran informasi resmi. Dengan demikian, kerja jalan terus meski tidak ada informasi resmi yang diperoleh.
4. mengatasi kelambatan komunikasi yang sering kaku dan harus melalui berbagai saluran dan jalur.
(Agus M. Hardjana, Komunikasi Intrapersonal & Interpersonal)
Komunikasi non formal: adalah komunikasi antara yang
formal/resmi dengan yang tidak resmi/informal, komunikasi yang berhubungan dengan pekerjaan dengan komunikasi yang berhubungan dengan hubungan pribadi.
Ciri-ciri komunikasi yang tidak efektif antara lain:
1. Tidak langsung (bertele-tele), tidak mengatakan maksud dan tujuan secara jelas.
2. Pasif (malu-malu, tertutup).
3. Antagonistis (marah-marah, agresif atau bernada kebencian). 4. Kriptis (pesan atau maksud yang disampaikan tidak jelas dan
5. Tersembunyi (maksud yang sesungguhnya tidak pernah diungkapkan secara terbuka).
6. Tidak secara lisan alias non verbal (pesan disampaikan melalui bahasa tubuh dan perilaku, bukan dengan kata-kata).
7. Satu arah (lebih banyak berbicara dari pada mendengarkan). 8. Tidak responsive (sedikit/atau tidak ada minat terhadap
pandangan atau kebutuhan orang lain).
9. Tidak nyambung (respon dan kebutuhan orang lain disalah artikan dan disalah interpretasikan).
10.Tidak terus terang (perasaan, gagasan dan keputusan diungkapkan secara tidak jujur).
Ciri-ciri komunikasi yang efektif adalah sebagai berikut: 1. Langsung (to the point, tidak ragu menyampaikan pesan).
2. Asertif (tidak takut mengatakan apa yang diinginkan dan mengapa).
3. Congenial (ramah dan bersahabat).
4. Jelas (hal yang disampaikan mudah dimengerti). Terbuka (tidak ada pesan dan makna yang tersembunyi).
5. Secara lisan (menggunakan kata-kata untuk menyampaikan gagasan dengan jelas). Dua arah (seimbang antara berbicara dan mendengarkan).
6. Responsif (memperhatikan keperluan dan pandangan orang lain). 7. Nyambung (menginterpretasi pesan dan kebutuhan orang lain
dengan tepat).
8. Jujur (mengungkapkan gagasan, perasaan dan kebutuhan yang sesungguhnya).
A.
Rangkuman
Komunikasi mencakup hampir setiap interaksi antara seseorang dengan orang lain. Oleh karena itu, antara komunikasi dengan hubungan/relation adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Artinya, antara seorang dengan orang lainnya tidak dapat berhubungan tanpa melakukan komunikasi.
Komunikasi yang diucapkan atau tidak diucapkan bisa jelas, samar-samar, terbuka atau terkontrol.
Komunikasi efektif dan hubungan yang sehat tergantung pada tiga macam perilaku komunikasi yang dapat dibedakan menjadi: Komunikasi formal, komunikasi informal/grapevine dan komunikasi non formal.
Komunikasi formal terjadi dalam lembaga formal, dan dalam hubungan yang formal. Komunikasi informal terjadi secara spontan dan biasanya berkerumun serta membicarakan hal-hal yang tidak ada sumber beritanya yang pasti (sekedar desas- desus). Sedangkan komunikasi non formal adalah gabungan antara komunikasi formal dengan informal.
Ada beberapa ciri komunikasi yang tidak efektif dan ciri-ciri komunikasi yang efektif.
B.
Latihan
1. Berikan beberapa contoh komunikasi yang tidak efektif dengan mengacu pada ciri-cirinya.
2. Berikan beberapa contoh komunikasi yang efektif dengan mengacu pada ciri-cirinya.
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan komunikasi grapevine. 4. Adakah manfaat dari komunikasi informal? Bila ada sebutkan
apa manfaatnya dan bila tidak ada jelaskan jawaban Saudara.
LATIHAN I (waktu 15 menit)
Latihan ini bertujuan memberikan pemahaman mengenai komunikasi dalam kalimat-kalimat tertentu, yang akan memberikan makna yang berbeda antara satu kalimat dengan kalimat lainnya.
Kelas dibagi menjadi 6 kelompok : tugaskan masing-masing kelompok membuat 2 kalimat yang mempunyai makna :
1. Komunikasi sebagai bidang ilmu pengetahuan; 2. Komunikasi sebagai pesan;
3. Komunikasi sebagai hubungan; 4. Komunikasi sebagai keterampilan; 5. Komunikasi sebagai peristiwa.
Burung Film Ikan Pulpen
Burung Dara Aktor Tiram Telepon
Burung Hitam Film Garam Meja
Angsa TV Script Air Stapler
Burung Pipit Kamera Laut Kertas
LATIHAN II (waktu 15 menit)
Latihan ini bertujuan membantu peserta memahami bagaimana seseorang dapat dengan mudah mengingat pesan terstruktur dari pada pesan yang tidak terstruktur.
Dalam lampiran 1a, semua nama-nama benda dikumpulkan dalam “keluarga” yang sama di setiap kolomnya. Dilampiran 1b nama-nama benda tersebut ditempatkan secara acak.
Tunjuk 10 orang peserta, lima orang duduk di sebelah kanan widyaiswara, yang mendapat lembar lampiran 1a, dalam keadaan halaman belakang menghadap ke atas, dan 5 orang di sebelah kiri Widyaiswara yang mendapat lembar lampiran 1b dalam keadaan halaman belakang menghadap keatas. Widyaiswara meminta pada kesempatan pertama agar kesepuluh peserta melihat kertas selama 10 detik tanpa men-catat apapun.
Selanjutnya Widyaiswara meminta kesepuluh peserta untuk meletakkan kertas tersebut kembali dengan halaman belakang menghadap keatas. Para peserta diminta untuk menuliskan semua kata yang mereka ingat tanpa “mencontek”.
Widyaiswara mengumpulkan semua kertas dan membaginya menjadi dua, selanjutnya widyaiswara membacakan semua nama benda yang tidak terstruktur dan setiap peserta diminta untuk mencoret semua kata yang benar tanpa mencontek.
Lampiran 1b
Burung Dara Film Ikan Pulpen
Laut Burung Pipit Aktor Kamera
Burung Kertas Garam Meja
Angsa TV Script Air Stapler
Film Tiram Telepon Burung Hitam
LATIHAN III (waktu 10 menit)
Tujuan pelatihan ini, untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang pesan berantai, yang sering terdistorsi, disebabkan tidak terpenuhinya Seven Cs Communication sebagai faktor keberhasilan komunikasi.
Tunjuk 7 orang peserta, diminta berbaris, kepada peserta paling depan diminta membaca lembar X, atau lembar Y, dan menyampaikan kepada peserta kedua dan seterusnya sampai peserta no. 7. Seven Cs Communication : Credibility, Context, Content, Clarity,
Continuity and consistency, Capability of audience, Channels of distribution.
Lembar Y
Widyaiswara Tidak Datang Belum Jadi Datang Widyaiswara Widyaiswara Belum Bisa Datang Benar-Benar Widyaiswara Tidak Datang
Lembar X
Widyaiswara Tidak Jadi Datang Tidak Jadi Datang Widyaiswara Jadi Widyaiswara Tidak Datang
LATIHAN IV (waktu 20 menit)
Latihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta, bahwa komunikasi satu arah tidak seefektif bila dibandingkan dengan komunikasi dua arah.
Latihan tahap 1 : Panggil satu peserta, dan berikan 1 gambar kepadanya, mintalah kepada yang bersangkutan untuk meminta rekan-rekan peserta lainnya menggambar sesuai dengan gambar 1, dengan ketentuan peserta tidak boleh bertanya.
Latihan tahap 2 : Panggil satu peserta lainnya, dan berikan gambar 2 kepadanya, mintalah kepada yang bersangkutan untuk meminta rekan-rekan peserta lainnya menggambar sesuai dengan gambar 2, dengan terlebih dahulu memberikan kejelasan. Misalnya: sebelah kanan (dengan mengangkat tangan kanan), sebelah kiri (dengan mengangkat tangan kiri), gambar kotak ukuran 3 x 3 cm, buat gambar trisium, ketupat, dll.
DAFTAR PUSTAKA
Anomymous, (1986), Public Speaking. AIESEC. Singapore. Anomymous, (1986), Public Relation. AIESEC. Singapore. Collins Cobnild English Langrage Dictionary.
Dennis. M. (1957), Better Business Communication. London. McGraw-Hill Book Company Inc.
Espey, F.J.D. &, Mulbauser, F. (1966), Language, Rhetoric and Style. New York. McGraw Hill Book Company.
Gordon, J. R (1996), Organizational Behavior, A Diagnostic
Approach, Fifth Edition. Prentice Hall.
Greenberg, J. & Baron, R.A. (1995), Behavior In Organization,
Understanding And Managing The Human Side Of Work,
Fifth Edition. Prentice Hall.
Hardjana, A. M. (2003), Komunikasi Intrapersonal & Interpersonal. Jakarta. Kanisius.
Jones, H., Mann, R. (1997), Setting The Scene, Workplace
Communication Skills. Addison Wesley Lungman Australia
PTY Limited.
Julius, F.(1978), Body Language. London. Pan Books.
Lilico, T.M. (1972), Komunikasi Menejemen. Jakarta. Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen.
Liliwen, A. (1991), Komunikasi Antar Pribadi. Bandung. PT Citra Aditya Bakti.
Longman Dictionary of Contemparary English. Oxford Advanced Learner's Dictionary.
Senge, M.P. (1990), The Fifth Discipline, The Art & Practice of The
Soehoet, A.M.H. Drs. (2002), Pengantar Ilmu Komunikasi. Yayasan Kampus Tercinta-IISIP.
Soehoet, A.M.H. Drs. (2002), Teori Komunikasi 1 dan 2. Yayasan Kampus Tercinta-IISIP.
Wursanto, Ig. Drs. (1994), Etika Komunikasi Kantor. Jogjakarta. Kanisius.