BAB II IDENTIFIKASI DESA
2.2 Kondisi Alam dan Geografis
Desa Sukatendel merupakan salah satu desa dari 25 desa yang berada di Kecamatan Payung.18 Desa ini berjarak 25 km dari ibukota Kabupaten Karo, Kabanjahe dan berjarak 101 km dari Medan.19
Luas desa ini 6,16 km2
atau sekitar 4,60% dari luas Kecamatan Payung. Luas desa tampaknya tidak mengalami perubahan yang signifikan, terkecuali pada tahun 1997. Adapun penyebab perubahan luas ini akan dibahas pada bab selanjutnya.
18 Dalam kurun waktu penelitian ini (1965-2005) Desa Sukatendel masih termasuk ke dalam
Kecamatan Payung. Pada Tahun 2005 Bupati Karo menerbitkan PERDA nomor 04 tahun 2005 tentang pembentukan kecamatan baru dimana salah satu kecamatan yang mengalami pemekaran ialah Kecamatan Payung menjadi 2 kecamatan. Kecamatan Payung (sebagai kecamatan induk pindah ibukota kecamatan dari Tiganderket ke Payung), sedangkan Kecamatan Tiganderket (kecamatan pemekaran) ibukotanya di Tiganderket. Secara resmi Kecamatan Tiganderket telah disahkan oleh Bupati Karo tanggal 29 Desember 2006.
Tabel 1
Klasifikasi Tanah dan Fungsinya
FUNGSI TANAH LUAS (HA) % 1965 - 1996 1997 1965 - 1996 1997 Tanah Sawah 110 40 17,86 6,49 Tanah Kering 97,5 168 15,83 27,27 Bangunan Pekarangan 7 7 1,14 1,14 Lainnya 401,5 401,5 65,17 65,17 JUMLAH 616 616 100 100
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Karo, Kecamatan Payung Dalam Angka
1996 & 1997
Pemukiman terdapat di tengah-tengah desa dengan susunan rapi, dan teratur. Sawah ataupun ladang yang terdapat di desa ini sebagian besar berada di luar pemukiman warga. Sawah dan ladang mereka terletak di wilayah perbatasan antar desa Sukatendel dengan desa-desa lain. Para petani dapat berjalan kaki jika ingin pergi ke sawah atau ladang mereka, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari desa. Adapun batas wilayah desa dapat dilihat sebagai berikut.20
Utara - Desa Susuk, Desa Kutambaru.
Timur - Desa Tiganderket, Desa Tanjung Merawa. Selatan - Desa Batukarang.
Barat – Desa Jandimeriah.
Desa ini berada di ketinggian 900 m dari permukaan laut dengan suhu udara sekitar 21°C - 26°C dan curah hujan 1800 mm per tahun.21 Dengan letaknya yang berjarak 7 km dari gunung berapi Sinabung (2451 m), tanah di desa ini tergolong cukup subur, sehingga penduduk desa memanfaatkannya sebagai lahan untuk bertani dan bersawah.
Desa Sukatendel juga mempunyai bagian-bagian khusus yang dapat dimanfaatkan oleh warganya. Bagian-bagian itu meliputi daerah yang luas dan mempunyai fungsinya masing-masing, seperti uraian berikut:
a) Perumahan warga
Sebelum periode kemerdekaan, penduduk tinggal di sebuah rumah tradisional yang disebut Rumah Adat. Khusus di wilayah Karo Teruh Deleng, rumah dihuni oleh empat keluarga, sehingga disebut Rumah Si Empat Jabu. Rumah itu dihuni oleh simantek kuta (jabu benana kayu), anak beru-nya (ujung
kayu), sembuyak/biak senina simantek kuta (lepar benana kayu) dan kalimbubu simantek kuta (lepar ujung kayu). Namun setelah desa
dibumihanguskan pada tahun 1947, bentuk fisik rumah pun berubah seperti uraian di atas.
b) Kesain
Kesain merupakan tempat semacam alun-alun yang dipergunakan sebagai
tempat dilaksanakannya sebuah acara adat. Kesain juga berfungsi sebagai tempat anak-anak untuk bermain-main. Pada zaman dulu, tidak semua warga
21 Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar,
tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1800 mm artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar, tertampung air setinggi 1800 mm.
desa dapat mempergunakan kesain ini untuk acara adat mereka. Hanya mereka yang berasal dari kelompok simantek kuta saja yang dapat menggunakan kesain ini. Kelompok ginenggem juga dapat mempergunakan
kesain, tapi harus meminta izin dari simantek kuta terlebih dahulu. Aturan ini
mulai dihapuskan setelah Belanda masuk ke Tanah Karo. c) Jambur
Jambur mempunyai beberapa fungsi:
- Sebagai lumbung, dimana warga desa dapat menyimpan padi. Masing- masing warga dapat menyimpan padi milik mereka, dan tidak tergabung begitu saja dengan padi milik orang lain.
- Bagian atas jambur dipergunakan oleh para anak laki-laki yang sudah remaja (anak perana) untuk tidur.
- Bagian bawah jambur dipergunakan sebagai tempat untuk bercengkerama antar warga.
- Jambur juga dipergunakan sebagai tempat untuk memasak lauk-pauk
pada saat sebuah acara adat tengah berlangsung. d) Geriten
Geriten ialah tempat diletakkannya tengkorak para leluhur pendiri desa, atau
seorang keturunannya yang mempunyai prestise dan wibawa yang tinggi. Pembuatan sebuah geriten kepada seorang yang telah meninggal tidak boleh sembarangan, melainkan harus dilihat dari sudut moral, kekuasaan atau kekayaan orang tersebut. Tokoh yang diletakkan di dalam Geriten patut menjadi contoh bagi orang lain, terlebih pada keturunannya.
e) Pendonen
Pendonen ialah kuburan bagi orang-orang yang sudah meninggal. Pendonen
mulai dibuat sejalan dengan pemerintahan Belanda di Tanah Karo, sekitar tahun 1908. Sebelumnya mayat orang yang sudah meninggal dibakar dan abunya dihanyutkan ke sungai.22
f) Perjuman
Area di sekitar desa dijadikan perjuman atau perladangan bagi warga setempat. Ada warga yang menjadikan area tersebut menjadi sawah dengan mengalirkan air dari parit di tepian jalan, sehingga mereka dapat menanam padi. Setiap ladang diberi pagar, selain sebagai pembatas, juga untuk mencegah masuknya hewan peliharaan warga. Di setiap ladang biasanya dibangun sebuah pondok kecil (sapo) sebagai tempat berteduh, atau menyimpan berbagai peralatan tani. Di sawah, selain membangun sapo, petani juga membangun sebuah pantar, yaitu sebuah tempat yang dikhususkan untuk mengamati burung-burung saat padi sudah menguning. Pantar dibuat lebih tinggi dari sapo, terbuat dari kayu, tanpa dinding, hanya atap dan lantai disertai dengan tiang penahan lantai. Dari pinggir sawah dipasang banyak tali yang dihubungkan ke pantar, sehingga jika sekelompok burung mendekati sawah, tali tersebut dapat digoyang-goyangkan oleh si penjaga sawah untuk menakut-nakuti kelompok burung.
22 Ritual menghanyutkan abu jenazah ke sungai ini merupakan salah satu bukti peninggalan
g) Kerangen
Kerangen (hutan) desa merupakan milik warga desa sepenuhnya, dimana
warga biasa mencari kayu bakar atau balok kayu di sana. h) Barong
Barong merupakan wilayah di luar perladangan yang dipergunakan oleh
warga sebagai tempat untuk mengembalakan ternaknya. Ternak yang dipelihara harus mempunyai gembala (permakan) supaya ternak-ternak tersebut tidak pergi ke luar barong dan merusak tanaman orang lain.
i) Perjalangen
Perjalangen merupakan sebuah wilayah luas yang dikhususkan untuk hewan-
hewan yang tidak digembalakan. Perjalangen ialah milik simantek kuta, sebagai bagian dari Tanah Kesain. Di sini perladangan tidak diizinkan. Jikalau ada warga yang ingin membuka perladangan di perjalangen, maka ia harus mendapat izin dari pengulu (kepala desa), memagar ladangnya dan membayar sewa tanah kepada pengulu.
j) Tapin
Tapin merupakan sungai yang mengalir di sebuah desa. Setiap desa biasanya
mempunyai sebutan khusus untuk sungai mereka. Tapin di Desa Sukatendel disebut dengan Lau Bentayan.
k) Buah Uta-uta
Buah Uta-uta ialah tempat dimana warga biasanya melangsungkan upacara
religius. Misalkan jika terjadi musim kemarau yang panjang, maka warga desa melakukan upacara meminta hujan (Ndilo Wari Udan). Jika permohonan
mereka berhasil dan hasil panen memuaskan, warga kembali mengadakan upacara pemujaan Buah Uta-uta (Mere Buah Uta-uta)