• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONDISI AREA STUDI

Dalam dokumen ANALISIS DOKUMEN DAMPAK LALU LINTAS PEMB (Halaman 27-36)

3.1 Rencana Pengembangan

3.1.1 Lokasi Studi

Kabupaten Sleman berada di Provinsi D.I. Yogyakarta. Secara geografis Kabupaten Sleman terletak di antara 110º 33' 00" dan 110° 13' 00" Bujur Timur, 7° 34' 51" dan 7° 47' 30" Lintang Selatan. Kabupaten Sleman keadaan tanahnya dibagian selatan relatif datar kecuali daerah perbukitan dibagian tenggara Kecamatan Prambanan dan sebagian di Kecamatan Gamping. Kemiringan lahan digolongkan menjadi 4 (empat) kelas yaitu lereng 0-2%; > 2-15%; > 15-40%; dan > 40%. Dimana batas-batas wilayah kabupaten Sleman secara administratif sebagai berikut:

• Sebelah Utara : Kabupaten Boyolali (Jawa Tengah)

• Sebelah Timur : Kabupaten Klaten (Jawa Tengah)

• Sebelah Selatan : Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul

• Sebelah Barat : Kabupaten Kulonprogo (Provinsi DIY), Kabupaten Magelang

Gambar 3.1 Peta Administrasi Kabupaten Sleman

3.1.2 Wilayah Administrasi dan Pemerintahan

Luas wilayah Kabupaten Sleman adalah 57.482 Ha atau 574,82 Km2 atau sekitar 18% dari luas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 3.185,80 Km2, dengan jarak terjauh Utara – Selatan 32 Km, Timur – Barat 35 Km. Wilayah administrasi terdiri dari 17 wilayah Kecamatan, 86 Desa dan 1.212 Dusun. Kecamatan dengan wilayah terluas adalah Kecamatan Cangkringan yaitu seluas 4.799 Ha. Sedangkan kecamatan dengan luas wilayah terkecil adalah Kecamatan Berbah dengan luas 2.299 Ha. Tanah Hampir setengah dari luas wilayah merupakan tanah pertanian yang subur dengan didukung irigasi teknis dibagian barat dan selatan. Keadaan

jenis tanahnya dibedakan atas sawah, tegal, pekarangan, hutan, dan lain-lain. Perkembangan penggunaan tanah selama 5 tahun terakhir menunjukkan jenis tanah Sawah turun rata-rata per tahun sebesar 0,96 %, Tegalan naik 0,82 %,

Pekarangan naik 0,31 %, dan lain-lain turun 1,57 %. Rincian luas wilayah

kecamatan selengkapnya ditunjukkan sebagaimana tabel berikut.

Tabel 3.1 Luas Wilayah Di Kabupaten Sleman

No Kecamatan Desa Dusun Luas (Ha) Penduduk

(Jiwa) Kepadatan (Km2) 1 Moyudan 4 65 2.762 33.595 1,216 2 Godean 7 57 2.684 57.245 2,133 3 Minggir 5 68 2.727 34.562 1,267 4 Gamping 5 59 2.925 65.789 2,249 5 Seyegan 5 67 2.663 42.151 1,583 6 Sleman 5 83 3.132 55.549 1,774 7 Ngaglik 6 87 3.852 65.927 1,712 8 Mlati 5 74 2.852 67.037 2,351 9 Tempel 8 98 3.249 46.386 1,428 10 Turi 4 54 4.309 32.544 0,755 11 Prambanan 6 68 4.135 44.003 1,064 12 Kalasan 4 80 3.584 54.621 1,524 13 Berbah 4 58 2.299 40.226 1,750 14 Ngemplak 5 82 3.571 44.382 1,243 15 Pakem 5 61 4.384 30.713 0,701 16 Depok 3 58 3.555 109.092 3,069 17 Cangkringan 5 73 4.799 26.354 0,549 Jumlah 86 1.212 57.482 850.176 1,479

Sumber : Pemerintahan Kabupaten Sleman

3.1.3 Sistem Transportasi di Kabupaten Sleman

Sesuai SK Bupati Kabupaten Sleman No.42/Kep.KDH/1996 tanggal 16 Februari 1996, kebutuhan mobilitas masyarakat antar wilayah dalam Kabupaten Sleman telah difasilitasi oleh 16 (enam belas) trayek, dimana dalam operasionalisasinya trayek-trayek tersebut dijalankan oleh sebanyak 335 armada angkutan perdesaan di bawah 1 (satu) pengelolaan Koperasi PEMUDA. Kondisi wilayah Sleman yang terbagi atas beberapa bagian, yaitu wilayah aglomerasi, sub-urban, wilayah penyangga (buffer zone), dan beberapa kawasan rural menyebabkan jumlah demand terhadap angkutan perdesaan juga berbeda-beda.

Kenyataan bahwa jumlah demand pada wilayah aglomerasi dan sub-urban yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan demand pada wilayah penyangga dan rural menyebabkan sebagian sopir angkutan tidak menjalankan keseluruhan trayek yang telah ditetapkan. Sebagian dari mereka hanya memilih menjalankan trayek pada wilayah-wilayah aglomerasi dan sub-urban bahkan sampai masuk dalam wilayah administratif lain.

Pembangunan bidang pendidikan di Kabupaten Sleman dilaksanakan dengan kebijakan antara lain: Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun, program pendidikan menengah, program peningkatan kualitas pendidikan non formal, program peningkatan mutu pendidikan dan tenaga kependidikan, program manajemen pelayanan pendidikan, program pengembangan kreatifitas siswa dan guru. Jalan Bima berperan penting dalam mendukung pembangunan Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta di Kabupaten Sleman serta mempunyai kontribusi terbesar dalam melayani pendidikan dan mobilitas sosial. Akses Jalan ke Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta di Kabupaten Sleman antara lain :

a. Jalan Kaliurang arah utara belok kanan ke Jalan Bima b. Jalan Kaliurang arah selatan belok kiri ke Jalan Bima c. Jalan Plosokuning

d. Jalan Kaliuarang arah timur belok kanan ke Jalan Bima

Panjang jalan di Provinsi Yogyakarta adalah 4.598,1 km dengan rincian sebagai berikut:

1. Jalan Nasional

Total panjang jalan nasional adalah 168,8 km. 168,8 km (kondisi mantap), 112,4 km (kondisi baik), 56,4 km (kondisi sedang, 0 km (tidak mantap), 0 km (kondisi rusak ringan dan 0 km (rusak berat)

2. Jalan Provinsi

Total panjang jalan provinsi adalah 690,3 km. 621,6 km (kondisi mantap), 30,3 km (baik), 591,3 km (sedang), 68,6 km (tidak mantap), 66,7 km (rusak ringan) dan 1,9 km (rusak berat)

3. Jalan Kabupaten

Total panjang jalan kabupaten adalah 3.739 km. 2.816 km (kondisi mantap), 1.404 km (baik), 1.411 km (sedang), 923 km (tidak mantap), 661,6 km (rusak ringan) dan 261,7 km (rusak berat).

3.2 Lokai Studi

Pembangunan Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta merupakan institusi pendidikan tinggi dan mempelajari bagaimana masyarakat mengalokasikan berbagai sumber daya (alam, manusia, modal, energi, lingkungan dan teknologi) yang jumlahnya terbatas. Tujuan program studi ini adalah untuk menghasilkan sarjana ekonomi pembangunan yang mampu bersaing di pasar internasional, serta berkemampuan untuk menganalisis dan memecahkan permasalahan ekonomi makro dan tingkat sektoral.

Dalam operasinya, aktivitas pembangunan Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta sedikit akan berpengaruh pada sistem lalu lintas di daerah sekitarnya terutama di ruas jalan Bima dan sekitar jalan Kaliurang sebagai penghubung Kabupaten Sleman, untuk itu sangat penting dilakukan kajian sejauh mana dampak yang ditimbulkan tarikan dan bangkitan yang berupa kendaraan pribadi maupun kendaraan barang.

3.2.1 Rencana Pembangunan

Pembangunan Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta secara administratif berlokasi di ruas jalan Bima, Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman dengan nomor ruas jalan: 079.11.K (Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.631/KPTS/M/2009). Dimana sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 2 Tahun 2013 tentang

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sleman Tahun 2011-2031, bahwa lokasi pembangunan Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta tersebut berada di Kecamatan Ngaglik yang diarahkan sebagai kawasan pendidikan. Selanjutnya dapat dilihat pada Gambar 3.1 mengenai dimana lokasi pembangunan Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta serta intensitas tata guna lahan di sekitar lokasi tersebut.

Gambar 3.2 Lokasi Pembangunan Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi UAJY

3.2.2 Intensitas Tata Guna Lahan

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa pembangunan Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta berada di ruas jalan Bima yang merupakan salah satu ruas jalan Kaliurang di kabupaten Sleman. Tata

guna lahan di sekitar pembangunan Kampus terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta saat ini berupa kawasan pemukiman warga, kawasan komersil/ pertokoan, rumah makan, hotel/ tempat penginapan, pasar, kawasan sekolah (SMK dan MIN tempel) dan fasilitas umum lainnya. Karena akses keluar masuk Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta bersinggungan langsung dengan ruas jalan Bima maka perlu dilakukan manajemen dan rekayasa lalu lintas pada area tersebut untuk meminimalisir terjadinya konflik antara arus terusan pada ruas jalan Bima dengan kendaraan yang akan keluar-masuk Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

3.3 Permasalahan Lalulintas

Pertumbuhan penduduk di Kecamatan Ngaglik sekitar Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta memiliki tingkat pertumbuhan penduduk cukup tinggi. Keadaan ini menyebabkan tata guna lahan seperti lahan pertanian semakin lama semakin menurun tiap tahunnya. Posisi wilayah kecamatan Ngaglik yang strategis dan memiliki aksebilitas yang baik menjadi pilihan bagi parah pengembang perumahan di sekitar Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakar kondisi ini menimbulkan permasalahan lalu lintas karena tingginya tingkat pergerakan kendaraan dari dan menuju pada ruas jalan Bima serta bervariasinya komposisi kendaraan yang melintas dari kendaraan berdimensi kecil sampai kendaraan berdimensi besar. Kompleksitas permasalahan lalu lintas eksisting di sekitar wilayah studi berpengaruh langsung terhadap kinerja lalu lintas. Permasalahan di sekitar Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta dapat dilihat dari segi prasarana jalan, lingkungan dan karakteristik pengguna jalan.

Dari sisi prasarana dapat dilihat dari kurangnya infrastruktur dan fasilitas pendukung yang kurang memadai sehingga meyebabkan tidak optimalnya pelayanan terhadap arus lalu lintas, permasalahan lalu lintas menyebabkan adanya antrian dan tundaan. Berikut ini permasalahan lalu lintas yang ada di

sekitar Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta antara lain:

1. Masih Kurangnya Fasilitas Marka Dan Rambu

Penempatan dan pemasangan rambu pada ruas jalan Bima atau di sekitar Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta belum sesuai dengan kebutuhan, marka jalan yang ada pada kondisi eksisting belum ada sehingga kurang memberikan informasi pengguna jalan. Hal ini menyebabkan perilaku pengguna jalan tidak teratur karena tidak adanya aturan dan panduan dalam berlalu lintas sehingga pada ruas jalan Bima

Gambar 3.3 Fasilitas Perambuan dan Pemarkaan

2. Hambatan Samping

Permasalahan lalu lintas yang muncul yaitu tata guna lahan di sekitar Kampus Terpadu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta memiliki intensitas yang cukup tinggi berupa kawasan pertokoan/kios dan kawasan perumahan warga sehingga ruas jalan Bima tidak begitu padat kendaraan yang menimbulkan antrian atau tundaan. Hambatan samping pada ruas jalan Bima tidak tinggi.

Gambar 3.4 Hambatan Samping Di Sekitar Lokasi

3. Perilaku Pengguna Jalan

Perilaku pengguna jalan yang tidak mematuhi tata terib berlalu lintas yang dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain dan dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

Gambar 3.5 Pengguna Jalan Yang Tidak Menggunakan Helm

BAB

4

ANALISIS KONDISI LALU

Dalam dokumen ANALISIS DOKUMEN DAMPAK LALU LINTAS PEMB (Halaman 27-36)

Dokumen terkait