• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Tahap Pasca Konstruksi .1 Sirkulasi

Dalam dokumen ANALISIS DOKUMEN DAMPAK LALU LINTAS PEMB (Halaman 68-80)

REKAYASA LALU LINTAS

D. Kerusakan Prasarana Jalan Umum

6.2 Kondisi Tahap Pasca Konstruksi .1 Sirkulasi

1 Sirkulasi Internal

Penanganan lalu lintas internal yang perlu dilakukan pada tahap masa konstruksi yaitu dengan mendesain ulang sirkulasi lalu lintas kendaraan yang beroperasi di dalam kawasan

pembangunan kampus. Terdapat beberapa penanganan yang diusulkan pada gambar dibawah ini.

Gambar 6.7 Sirkulasi Internal Pasca Konstruksi

Pada sirkulasi internal kondisi pasca konstruksi tidak banyak terjadi perubahan yaitu dengan sirkulasi kendaraan searah jarum jam. Hanya yang perlu diperhatikan yaitu ketika kendaraan truk operasional yang akan memuat atau

KAMPUS PARKIR MOBIL PARKIR MOTOR PARKIR MOTOR 450 m2 2500 m2 500 m2 POS 6 -11

menurunkan barang, perlu dilakukan manajement waktu sehingga tidak terjadi penumpukan kendaraan dan mengganggu kendaraan lainnya yang akan melintas didalam lokasi pembangunan kampus.

2 Sirkulasi Eksternal

Penanganan lalu lintas Eksternal yang perlu dilakukan padatahap masa konstruksi yaitu dengan mendesain ulang sirkulasi lalu lintas kendaraan yang beroperasi keluar masuk kawasan pendidikan. Terdapat beberapa penanganan yang diusulkan pada Gambar 6.8.

Gambar 6.8 Sirkulasi Eksternal Pasca Konstruksi

Pada sirkulasi ekternal kondisi pasca konstruksi tidak terjadi banyak perubahan. Hal ini dikarenakan antara ruas jalan dan akses pintu masuk menuju lokasi pembangunan kampus sudah sesuai dengan desain yang ideal. Namun, dalam pengoperasian pembangunan kampus sekaligus keluar masuknya baik

KAMPUS PARKIR MOBIL PARKIR MOTOR PARKIR MOTOR 450 m2 2500 m2 500 m2 J L. BIMA POS 6 -12

kendaraan dosen ataupun kendaraan staff dan mahasiswa perlu dibantu dengan petugas keamanan (PKD) agar tidak mengganggu pengguna jalan lain.

6.2.2 Manajemen Dan Rekayasa

Manajemen dan rekayasa yang dilakukan pada ruas jalan bima hanya menambahkan jalur perlambatan khusus pada akses masuk menuju lokasi pembangunan kampus, selain itu ditambahkan rambu-rambu untuk mempermudah pengengendara yang akan keluar masuk kampus serta kendaraan lainnya.

6.2.3 Keselamatan Lalu Lintas 1 Pertimbangan Batas Kecepatan

Untuk menunjang keselamatan lalu lintas, diperlukan antisipasi dengan mempertimbangkan batas kecepatan kendaraan baik di dalam lokasi kampus dengan memberi rambu Max kecepatan 5km/jam serta batas kecepatan didepan lokasi pembangunan kampus dimana kendaraan yang melintas keluar dan masuk ke lokasi dengan memberi rambu hati-hati.

2 Fasilitas Keselamatan

Untuk memberi peringatan terhadap aktivitas keluar masuk kendaraan, maka dipasang Pembatas kecepatan kendaraan di depan lokasi pembangunan kampus yaitu rambu peringatan untuk berhati-hati pada jarak 25 meter sebelum pintu keluar masuk kendaraan selain itu untuk menjamin keselamatan bagi pejalan kaki dipasang Zebra Cross yang dapat mempermudah akses pejalan kaki dalam meyeberang jalan di ruas Jalan Bima. Sebagai salah satu upaya meningkatkan keselamatan di lokasi pembangunan kampus yaitu dengan melengkapi setiap titik baik ruas jalan maupun akses masuk menuju lokasi industri dengan rambu-rambu lalu lintas sebagai salah satu fasilitas keselamatan lalu

lintas. Berikut adalah lokasi penempatan rambu dan jenis rambu yang digunakan baik didalam lokasi maupun diluar lokasi pembangunan kampus.

Gambar 6.9 Fasilitas Keselamatan Pada Pembangunan Kampus Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Dan berikut ini adalah rekomendasi perbaikan untuk simpang Ketandan dan Nglaban Pasca Pengoperasian Kampus

Gambar 6.10 Fasilitas Keselamatan Pada Simpang Terdampak

Keterangan :

6.2.5 Kebutuhan Parkir

Telah disediakan ruang parkir dimana terdiri dari 4 lokasi parkir, yaitu: lokasi parkir kendaraan roda empat untuk Dosen, lokasi parkir kendaraan roda

A B C D E F G H

MARKA TEPI MENERUS

MARKA PEMISAH GARIS PUTUS-PUTUS MARKA GARIS HENTI

MARKA PENYEBERANGAN (ZEBRA CROSS) RAMBU PETUNJUK PENYEBRANG JALAN APILL (ALAT PEMBERI ISYARAT LALU LINTAS) RAMBU PETUNJUK JURUSAN

PENERANGAN JALAN UMUM (PJU)

empat untuk mahasiswa, lokasi parkir kendaraan roda dua untuk mahasiswa, dan yang terakhir lokasi kendaraan roda dua untuk staff. Adapun lokasi parkir kendaraan roda empat untuk dosen dengan jumlah 150 SRP, parkir kendaraan roda empat untuk mahasiswa sebanyak 100 SRP, parkir kendaraan roda dua staff sebanyak 50 SRP dan parkir roda dua mahasiswa dengan jumlah 750 SRP.

Adapun pengaturan sirkulasi parkir kendaraan dilakukan dengan pemasangan rambu petunjuk lokasi parkir untuk setiap jenis kendaraan dan ”rambu parkir” pada lokasi yang telah ditentukan.

Tabel 6.2 Kebutuhan Parkir

Dengan melihat bangkitan dan tarikan industri pendidikan, SRP yang disediakan telah disesuaikan dengan persentase pengguna kendaraan baik roda 2 dan roda 4 dengan rincian parkir kendaraan roda empat untuk dosen dengan jumlah 150 SRP, parkir kendaraan roda empat untuk mahasiswa sebanyak 100 SRP, parkir kendaraan roda dua staff sebanyak 50 SRP dan parkir roda dua mahasiswa dengan jumlah 750 SRP. Sehingga ruang parkir yang disediakan sudah memenuhi kebutuhan ruang parkir industri pendidikan dimana jalan memiliki lebar yang cukup.

Kebutuhan Yang disediakan

1 Dosen Mobil 133 150 2 Staff Motor 40 50 3 Mahasiswa Mobil 75 100 Motor 500 750 Keterangan 1 Mobil Dosen 133<150 2 Mobil Mahasiswa 75<100 3 Motor Staff 40<50 4 Motor Mahasiswa 500<750 Memenuhi Memenuhi Memenuhi

No Uraian Jenis Kendaraan Jumlah

Memenuhi

Gambar 6.11 Sirkulasi Parkir Di Area Kampus

6.2.6 Fasilitas Pejalan Kaki

Dengan meningkatnya intensitas tataguna lahan suatu daerah akan berpotensi adanya bangkitan dan tarikan pejalan kaki dimana pembangunan kampus yang berada pada ruas Bima. Pengaturan pejalan kaki di sekitar Jalan Bima perlu dilakukan dengan melihat dasar dari perencanaan fasilitas pejalan kaki sebagai berikut ini :

 Pejalan kaki harus mencapai tujuan dengan jarak sedekat mungkin, aman dari lalu lintas kendaraan.

 Menghubungkan daerah-daerah yang satu dengan yang lainnya;

 Apabila pejalan kaki memotong arus lalu lintas yang lain harus dilakukan pengaturan lalu lintas berdasarkan jumlah pejalan kaki dan arus lalu lintas baik dengan jalur penyeberangan Zebra Cross, pelican maupun Jembatan Penyeberangan Orang;

 Jalur pejalan kaki dibuat sedemikian rupa sehingga apabila terjadi hujan, permukaan jalan tidak licindantidak terjadi genangan air;

 Fasilitas pejalan kaki tidak boleh diperuntukan bagi kegiatan lain;

 Untuk menjaga keamanan dan keleluasaan pejalan kaki, harus dipasang kerb jalan sehingga fasilitas pendekatan manajemen dan rekayasa lalu lintas yang pejalan kaki lebih tinggi dari permukaan.

6.2.7 Implementasi Penanganan Dampak Lalu Lintas

Penanganan kemacetan lalu lintas pada tahap ini merupakan penanganan jangka pendek. Penanganan dilakukan dengan tertuang dalam rencana umum jaringan transportasi jalan, kapasitas dan karakteristik jalan, serta fungsi, dan kelas jalan. Selain itu rekayasa yang ada dalam studi ini harus memperhatikan pola fluktuasi volume lalu lintas, seperti :

 adanya jam puncak pagi dan jam puncak sore

 pola pergerakan lalu lintas (perubahan arah)

 bobot dan pola pergerakan lalu lintas

Penanganan yang dilakukan harus bisa memberikan perubahan lebih baik pada kinerja ruas, simpang maupun jaringan jalan dalam hal sebagai berikut :

 lalu lintas dalam hal;

 peningkatan kecepatan kendaraan;

 pengurangan waktu perjalanan;

 Pengurangan hambatan;

 Peningkatan kapasitas jalan;

 Pengurangan kecelakaan.

Manajemen dan rekayasa lalu lintas dilakukan untuk meningkatkan kinerja jaringan jalan yang berada di sekitar pembangunan kampus. Untuk lebih jelasnya penyebab kemacetan di ruas jalan ditinjau dari berbagai kriteria aspek dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 6.3 Kriteria Kemacetan

Kecepatan Rencana (km/jam) Faktor Penyebab Kemacetan

kecepatan bergerak lebih kecil

Hambatan Samping 1

Pejalan kaki menyeberang jalan tidak pada tepatnya

dari 10 km/jam 2 Parkir kendaraan di badan jalan akibat tundaan dari Hambatan

3

Naik turun penumpang angkutan umum/angkot samping pada saat waktu peak

Kapasitas Jalan 1

Volume lalu lintas melebihi kapasitas

Konflik Lalu Lintas 1 Kendaraan balik arah

Prilaku Pengguna Jalan 2

Konflik kendaraan keluar masuk

kawasan dengan arus lalu lintas

terusan

Perambuan/Pemarkaan 1

Tidak mematuhii rambu dan marka

2

Perambuan / marka jalan tidak jelas dan aus

Implementasi atau pelaksanaan penanganan pemecahan masalah kemacetan perlu di lakukan, pada subab ini di jelakan secara rinci faktor penyebab dan usulan penanganan pemecahan kemacetan dari skala mikro dengan mengoptimalkan geometrik jalan, lingkungan dan faktor lain yang termasuk dalam penanganan jangka waktu pendek. Dapat dilihat dari Tabel di atas permasalahan yang ada di sekitar pembangunan kampus dilihat beberapa faktor antara lainnya hambatan samping, kapasitas jalan, konflik lalu lintas, prilaku pengguna jalan dan perambuan. Sehingga perlunya penanganan kemacetan di ruas jalan yang berdasarkan faktor penyebab yang ada di ruas jalan. Untuk lebih jelasnya penanganan kemacetan lalu lintas dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 6.4 Bentuk Penanganan Kemacetan Di Sekitar Pembangunan Kampus

Faktor Penanganan Kemacetan

Hambatan Samping 1 Disediakan tempat khusus menyeberang pejalan kaki (Zebra Cross)

Peningkatan Kapasitas

1

Melakukan Manajemen dan rekayasa lalu lintas

Faktor Penanganan Kemacetan

2 Mengoptimalkan ruang milik jalan yang ada

Mengurangi Konflik

1 Manajemen arus pada simpang 2 Meniadakan hambatan samping dan pemisahan sirkulasi internal keluar-masuk

Prilaku Pengguna Jalan

1 Perlu adanya ketegasan oleh petugas yang berwenang terhadap pengemudi yang mengendarai secara ugal-ugalan 2 Perambuan larangan yang jelas

Perambuan/Pemarkaan

1 Pemasangan rambu yang sesuai dengan ketentuan

2 Perbaikan terhadap marka jalan yang mulai aus

Pada tabel diatas dapat dilihat penerapan pemecahan masalah dari berbagai faktor, pemecahan dilakukan dengan koordinasi pihak terkait baik Dinas Perhubungan, Kepolisian, Pol PP dan Bina Marga. Pada pemecahan masalah tertentu akan berdampak pada kesenjangan sosial perlu di lakukan secara komprehensif dan mendalam oleh pemerintah daerah, penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) perlu adanya tahapan berupa penyuluhan, pemberitahuan dan selanjutnya ketegasan berupa penertiban, sehingga tidak ada konflik sosial terhadap pedagang dengan pemerintah daerah. Pada penertiban Parkir liar pihak pengembang harus memberikan kontribusi yang nyata (poluter pays) didalam penanganan dampak lalu lintas sebagai akibat pengembangandengan menyediakan lahan parkir, sehingga dari sisi pelayanan parkir bagi pengunjung dapat terpenuhi.

6.2.8 Implementasi Waktu Penanganan Dampak

Pada kondisi pembangunan kampus Fakultas Ekonomi Universitas Atmajaya Yogyakarta selesai dikerjakan dan telah beroperasi secara keseluruhan, perlunya penanganan berupa manajemen dan rekayasa lalu lintas untuk kelancaran, kenyamanan dan ketertiban lalu lintas serta menjamin keselamatan. Untuk

implementasi penanganan dampak secara lebih terperinci, dapat dilihat pada gambar teknis dan tahapan pelaksanaannya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 6.5 Implementasi Penanganan Dampak Lalu Lintas

6 -21

URAIAN KOMPONEN BATAS

KEGIATAN YANG TERKENA PELAKSANAAN

YANG DAMPAK LALU

BERPOTENSI LINTAS

MENIMBULKAN DAMPAK LALU

LINTAS

Akses Keluar Arus lalu lintas Penyediaan Penyediaan Tapper di Ruas Jalan Bima 7 hari setelah

masuk kendaraan menerus di Ruas Tapper di Ruas dekat Pintu masuk kawasan pendidikan kawasan pendidikan

kawasan pendidikan Jalan Bima Jalan Bima dekat bertujuan untuk meminimalisir mulai beroperasi

pintu masuk konflik kendaraan masuk dan kendaraan kawasan keluar kawasan pendidikan

pendidikan

Sirkulasi Kendaraan Arus lalu lintas perambuan dan Perambuan dan pemarkaan ini 14 hari setelah

Internal menerus di Ruas pemarkaan digunakan untuk memberikan petunjuk kawasan pendidikan

Jalan Bima internal sirkulasi kepada kendaraan sehingga mulai beroperasi

tidak terjadi konflik kendaraan didalam kawasan pendidikan . Hal ini di harapkan dapat memperlancar sirkulasi internal dan tidak mengganggu arus lalu lintas eksternal

Rekomendasi Rekomendasi sirkulasi kendaraan ini 14 hari setelah

sirkulasi di harapkan akan dapat memperlancar kawasan pendidikan

kendaraan pergerakan kendaraan di dalam mulai beroperasi

internal kawasan pendidikan sehingga tidak kawasan mengganggu arus lalu lintas eksternal pendidikan

Sirkulasi Pejalan kaki di dalam kawasan pendidikan sirkulasi kendaraan di dalam kawasan pendidikan dan pejalan kaki Penyediaan jalur pedestrian dan fasilitas pejalan kaki berupa zebra

cross

Fasilitas pejalan kaki yang terdapat di kawasan pendidikan berupa jalur pedestrian

zebra cross yang terletak didepan keluar

masuk kawasan pendidikan

Pengembang Kawasan Pendidikan

14 hari setelah kawasan pendidikan beroperasi maksimal Perambuan dan Pemarkaan di lokasi parkir

Perambuan dan pemarkaan ini digunakan untuk memberikan petunjuk kepada kendaraan untuk dalam proses parkir kendaraan sehingga tidak terjadi konflik kendaraan didalam kawasan pendidikan diharapkan dapat memperlancar sirkulasi Arus lalu lintas

terusan di ruas jalan bima dan lalu lintas internal kawasan

pendidikan Kegiatan Parkir

Kendaraan Pengembang Kawasan Pendidikan

14 hari setelah kawasan pendidikan beroperasi maksimal Keluar masuk pejalan

kaki dari kawasan pendidikan

Sirkulasi kendaraan keluar masuk kawasan pendidikan

dan area lalu lintas di ruas jalan Bima

Tidak ada penanganan dampak dikarenakan di kawasan pendidikan sudah terdapat fasilitas pejalan kaki berupa trotoar d b

Berdasarkan perhitungan, fasilitas pejalan kaki yang terdapat dikawasan pendidikan berupa trotoar dengan lebar 1,5 meter,

zebra cross yang terletak didepan pintu

masuk kawasan pendidikan sudah sesuai.

Pengembang Kawasan Pendidikan

URAIAN PELAKSANAAN

USAHA PENANGANAN

DAMPAK

Pengembang Kawasan Pendidikan Pengembang Kawasan Pendidikan Pengembang Kawasan Pendidikan

6.2.9 Pembagian Wewenang Penanganan Dampak Lalu Lintas

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2011 Tentang Manajemen dan Rekayasa, Analisis Dampak serta Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas yang membahas terperinci hasil analisis dampak lalu lintas perlu adanya pembagian tanggung jawab pemerintah dan pengembang disekitar pembangunan suatu bangunan yang menimbulkan gangguan lalu lintas (Pada Pasal 51 ayat 2). Tanggung jawab pada penanganan dampak lalu lintas yang di timbulkan akibat adanya tarikan-bangkitan perjalanan yang mengakibatkan permasalahan lalu lintas perlu dilakukan untuk mencapai keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan. Pada analisa dampak lalu lintas pembangunan kawasan pendidikan dilakukan beberapa penanganan manajemen dan rekayasa Lalu lintas. Untuk lebih jelasnya pembagian tanggung jawab pada rencana pembangunan Kawasan pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 6.7 Tanggung Jawab Pada Dampak Lalu Lintas Pembangunan Kawasan Pendidikan

BAB

7

Dalam dokumen ANALISIS DOKUMEN DAMPAK LALU LINTAS PEMB (Halaman 68-80)

Dokumen terkait