Kondisi Geografi Provinsi Maluku
Provinsi Maluku merupakan provinsi kepulauan yang secara astronomis terletak antara 2° 30’ – 8°30’ LS dan 124° 00’ – 135° 30’ BT (Gambar 7). Sedangkan batas geografis Provinsi Maluku adalah sebagai berikut : sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Maluku Utara dan Laut Seram, sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Papua, sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah dan sebelah selatan berbatasan dengan Negara Timor Leste, Australia, Samudera Indonesia dan Laut Arafura..
Provinsi Maluku mempunyai luas wilayah 646.295 km2, yang 90 % merupakan wilayah perairan, sedangkan sisanya (10 %) merupakan wilayah daratan yang terbentuk dari 1.412 buah pulau (hasil analisa, 2005). Pulau terbesar adalah Pulau Seram (18.625 km2) kemudian Pulau Buru (9.000 km2), Pulau Yamdena (5.085 km2) dan Pulau Wetar (3.624 km2).
Dengan perbandingan antara luas daratan dan luas lautan adalah 1 : 9, maka dapat dilihat bahwa potensi kelutan di Provinsi Maluku sangat besar dan aksesibilatas dengan provinsi disekitarnya sangat terbuka, bahkan terbuka juga bagi jalur perdagangan internasional, mengingat eksistensinya sebagai penghubung perdagangan antara wilayah utara dengan wilayah selatan.
Kondisi Perikanan Tangkap
Provinsi Maluku memiliki luas wilayah mencapai 81.376 km2. Luas lautan
mencapai 27.191 km2 sedangkan luas daratan mencapai 54.185 km2. Dengan jumlah pulau yang terdiri dari 559 pulau, menjadikan Provinsi Maluku sebagai daerah kepulauan. Provinsi Maluku terdiri dari 9 kabupaten dan 2 kota. Pada tahun 2010, Menteri Kelautan dan Perikanan menetapkan Provinsi Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional 2030.
Selama periode tahun 2006 sampai dengan tahun 2010, produksi ikan di Provinsi Maluku sangat berfluktuasi. Produksi menurun terjadi pada tahun 2008 yang hanya mencapai 353.000 ton, menurun 27,95 % dari tahun sebelumnya (2007) yang mencapai 489.260 ton, dan pada tahun 2009 terus terjadi penurunan produksi sebesar 1,57 % yaitu hanya mencapai 347.000 ton, namun pada tahun 2010 meningkat kembali sebesar 6,90 % dengan produksi sebesar 370.930 ton. Secara lengkap jumlah produksi perikanan periode tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 dalat dilihat pada Gambar 8 berikut :
Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku, 2010
Gambar 8 Jumlah Produksi Perikanan di Provinsi Maluku 2006-2010 484.40 489.26 353 347.00 370.93 0.00 100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 2006 2007 2008 2009 2010 Jm l p ro d u ksi (r ib u an ) Tahun
Tabel 7 Jumlah Produksi Perikanan Tangkap per Kabupaten di Provinsi Maluku pada tahun 2010
Kabupaten/Kota Produksi (ton)
Ambon 100.922,4
Maluku Tengah 82.860,5
Seram Bagian Barat 20.676,4
Seram Bagian Timur 10.764,9
Buru 20.242,8
Maluku Tenggara 62.625,8
Maluku Tenggara Barat 8.088,9
Kepulauan Aru 64.747,7
Produksi perikanan tangkap di Provinsi Maluku sebagian besar berasal dari Kota Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah seperti tercantum pada Tabel 7 dan Gambar 9. Pada tahun 2010 produksi masing-masing wilayah tersebut mencapai 100,922,4 ton (27,21 %) dan 82.860,5 ton (22,34 %).
Produksi Perikanan Maluku
Indikator produksi pada industrialisasi perikanan mencakup volume, kelas mutu dan nilai tambahnya. Volume produksi ikan tuna tongkol dan cakalang diharapkan meningkat. PPN Ambon menetapkan rata-rata target peningkatan produksi TTC selama periode 2011–2014 adalah 17,64%. Target outcome untuk masing-masing ikan selama periode waktu tersebut disajikan pada Tabel 8 di bawah.
Sampai dengan bulan Agustus 2012, produksi ikan tuna, tongkol dan cakalang adalah sebesar 3.960.667 dengan rincian berturut-turut adalah 1.772.667 kg, 817.333 kg dan 1.370.667 kg. Jumlah tersebut telah men-capai 66,66% dari target output produksi TTC pada tahun 2012. Peningkatan kelas mutu 3 menjadi mutu 2 dan mutu 2 menjadi mutu 1. Target yang ditetapkan PPN Ambon adalah tidak adanya mutu 3 untuk TTC (0%).
Gambar 9 Kontribusi Produksi Perikanan Tangkap dari Perairan Laut untuk Setiap Kabupaten/Kota Pesisir di Provinsi Maluku pada Tahun 2010.
Tabel 8 Nilai outcome dari Indikator Produksi TTC di PPN Ambon (ton)
Jenis ikan 2011 Kondisi yang diinginkan
2012 2013 2014 Tuna 1.492 2.659 2.835 3.029 Tongkol 1.195 1.226 1.307 1.396 Cakalang 1.573 2.056 2.192 2.343 Jumlah 4.260 5.941 6.334 6.768 Sumber : PPN Ambon(2012)
Tabel 9 Outcome dari Indikator Kelas Mutu TTC di PPN Ambon (%)
Jenis ikan 2011 Kondisi yang diinginkan
2012 2013 2014
Ikan Tuna
•Mutu 1 24,80 28,80 32,80 36,80
•Mutu 2 75,20 71,20 67,20 63,20
Sampai dengan Agustus 2012, capaian mutu ikan tuna di PPN Ambon adalah 32,77% mutu 1 dan 21,85% mutu 2. Capaian mutu ikan tongkol adalah 76,5% mutu 1 dan 28,81% mutu 2 sedangkan capaian mutu ikan cakalang adalah 31,79% mutu 1 dan 23,44% mutu 2. Berdasarkan hal tersebut, maka capaian mutu ikan tongkol telah melampaui target, sedang-kan untuk ikan tuna dan cakalang masing-masing mencapai 54,62% dan 55,24% dari target kelas mutu di PPN Ambon. Capaian mutu ikan tuna tahun 2011 dan dan hasil mutu yang diinginkan sampai dengan tahun 2014 tersebut tersaji pada tabel 9
Dengan meningkatnya kelas mutu jenis TTC, maka diharapkan dapat meningkatkan nilai tambahnya. Target tersebut juga mempertimbangkan harga elastis untuk jenis TTC. Penetapan target untuk nilai tambah jenis TTC disajikan pada Tabel 10.
Pendapatan Nelayan
Pendapatan nelayan menjadi salah satu indikator dalam industrialisasi. Peningkatannya menjadi tanda bahwa kegiatan industrialisasi memberikan tingkat kesejahteraan bagi pelaku utamanya yaitu nelayan. PPN Ambon menargetkan peningkatan pendapatan nelayan mencapai 30,56% sampai 40% selama periode 2012 sampai 2014 dengan rata-rata mencapai 35,19%. Rincian target pendapatan nelayan yang ditetapkan oleh PPN Ambon disajikan pada Tabel 11 di bawah ini. Fasilitas PPN Ambon
PPN Ambon menyediakan fasilitas pokok, fasilitas fungsional maupun fasilitas penunjang untuk mendukung kegiatan operasional di pelabuhan perikanan. Fasilitas-fasilitas tersebut dan kapasitasnya disajikan pada Tabel 12 di bawah ini.
Tabel 10 Outcome dari Indikator Nilai Tambah TTC di PPN Ambon (Rp)
Jenis ikan Kondisi yang diinginkan
2012 2013 2014
Ikan Tuna
Nilai tambah mutu 1 23.617.760.000 37.756.940.000 55.680.621.600
Nilai tambah mutu 2 19.210.896.000 23.664.224.000 28.519.731.360
Sumber : PPN Ambon (2012)
Tabel 11 Outcome dari Indikator Pendapatan Nelayan di PPN Ambon (Rp.)
Kondisi saat ini Kondisi yang diinginkan
2012 2013 2014
1.394.000 1.820.000 2.457.000 3.440.000
Penyerapan Tenaga Kerja
Kegiatan perikanan memberikan dampak kegiatan ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung pada berbagai stakeholder yang terkait. PPN Ambon menetapkan penyerapan tenaga kerja sebagai indikator dalam industrialisasi dengan peningkatan jumlah per tahunnya antara 2,11% sampai 2,23% selama periode 2012 sampai 2014 dengan rata-rata 2,15%. Outcome dari indikator penyerapan tenaga kerja di PPN Ambon disajikan pada Tabel 13 di bawah ini.
Tabel 12 Fasilitas di PPN Ambon
No Fasilitas Kapasitas/Volume
Fasilitas Pokok
1 Areal Daratan Pelabuhan 6 ha
2 Dermaga 3.556,8 m2
3 Penehan Tanah (Revetmet) 600 m2
4 Jalan 3000 m2
5 Drainase
6 Drainase 1.317 m2
7 Drainase Terbuka 110 m2
Fasilitas Fungsional
1 Tempat Pelelangan Ikan 375 m2
2 Pabrik Es (2 unit) 10 ton
3 Cold Storage 45 m2
4 Tempat Parkir 115,95 m2
5 Kantor Administrasi Pelabuhan 1.133 m2
6 Tangki BBM 500 KL
7 Kapal Pengawas 1 unit
8 Lampu Suar 3 unit
9 Genset 1.350 KVA
10 Rumah Genset 125 m2
Fasilitas Penunjang
1 Rumah Karyawan (5 unit) 120-36 m2
2 Mess Karyawan (2 unit) 20 m2
3 Pos Jaga 4 m2
4 MCK 40 m2
5 Kios Iptek 10 m2
Sumber : PPN Ambon (2012)
Tabel 13 Outcome dari Indikator Pendapatan Nelayan di PPN Ambon (orang)
Penyerapan tenaga
kerja 2011
Kondisi yang diinginkan
2012 2013 2014
Nelayan 9.518 9.730 9.936 10.146
Non Nelayan 575 675 780 860
Kondisi Perikanan Tuna Unit Penangkap Tuna
Kapal yang digunakan untuk menangkap tuna di perairan Maluku adalah jukung kecil berukurang panjang sekitar 7 meter degan lebar sekitar 0,8 meter seperti tersaji pada Gambar 10. Kapal-kapal ini dilengkapi dengan mesin motor tempel yang memiliki kekuatan 15 PK atau 40 PK tergantung ukuran kapal. Dengan kondisi unit penangkapan yang digunakan untuk menangkap ikan tuna, penangkapan dilakukan hanya dalam satu hari (one day fishing). Biasanya nelayan berangkat pada dini hari sekitar jam 02.00 dan pulang pada sore hari sekitar jam 15.00-17.00. Dalam satu kali trip, BBM yang dibutuhkan oleh nelayan sekitar 60 liter minyak tanah dan 10 liter bensin.
Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan tuna di perairan Maluku adalah pancing. Pancing yang digunakan dioperasikan dengan menggunakan layang-layang atau pun dengan umpan dan pemberat seperti handline pada umumnya, hal ini disesuaikan dengan kondisi saat akan menangkap ikan. Saat posisi ikan diketahui maka pancing digunakan seperti pancing ulur pada umumnya, sedangkan saat ikan tuna tidak terlihat maka digunakan pancing dengan bantuan layang-layang agar umpan terlihat lebih hidup dan ikan tuna tertarik untuk mendekat.
Nelayan tuna di perairan Maluku menggunakan alat bantu penangkapan berupa lingkaran besi seperti tersaji pada Gambar 11. Cara mengoperasikannya adalah pada saat ikan sudah terkena mata pancing, maka alat bantu ini dimasukkan melalui ujung tali pancing yang dipegang nelayan kemudian diloloskan melalui tali pancing supaya masuk pada kepala ikan. Biasanya nelayan membawa berberapa lingkaran besi yang ukurannya berbeda dan dipakai sesuai ukuran tubuh ikan yang tertangkap. Hal ini dilakukan agar ikan tidak terlalu berontak dan memudahkan nelayan untuk menarik ikan ke atas kapal. Setelah ikan terkena pancing dan kepalanya dijerat dengan menggunakan lingkaran besi yang disekelilingnya diberi jaring (menyerupai ring basket), maka ikan tuna segera dinaikkan ke atas kapal dan langsung dipukul di bagian kepala ikan agar segera mati, sehingga diharapkan fase rigor mortis ikan tidak cepat terjadi dan penyenbaran histamin dapat diminimalkan. Alat bantu ini memiliki berbagai ukuran yang disesuaikan dengan ukuran ikan yang tertangkap.
Salah satu perbekalan ikan yang sangat penting untuk dibawa pada saat melaut adalah es. Es diperlukan untuk menjaga rantai dingin ikan agar kualitasnya tetap terjaga. Es yang dibawa nelayan tuna di perairan Maluku jumlahnya sekitar 1-2 balok es (30 kg per balok) yang telah dihancurkan dengan cara dipukul secara manual dengan menggunakan tenaga manusia seperti terlihat pada Gambar 12. Daerah Penangkapan Ikan
Rumpon sebagai alat bantu penangkapan juga digunakan untuk membuat ikan berkumpul di suatu tempat. Jika banyak ikan yang berkumpul di rumpon maka nelayan akan melakukan penangkapan di rumpon. Namun saat ikan sedang tidak banyak biasanya nelayan mencari ikan dengan mengandalkan tanda-tanda alam seperti air yang berbuih, burung yang mendekati perairan dan sebagainya atau dengan cara melihat kumpulan lumba-lumba dimana biasanya di sekitar kumpulan ikan lumba-lumba tersebut terdapat juga kumpulan ikan tuna. Nelayan
Gambar 11 Alat bantu penangkapan ikan
mengadakan mobilisasi untuk melakukan kegiatan penangkapan tuna di wilayah- wilayah perairan lain seperti perairan Pulau Seram dan Pulau Buru yang diperkirakan menjadi tempat munculnya ikan tuna.
Tuna yang ditangkap di perairan Maluku jumlahnya sangat banyak pada musim tertentu (bulan Oktober hingga November). Sedangkan pada bulan-bulan lain biasanya jumlah tangkapan tuna tidak terlalu banyak.