• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi dan Proyeksi Kemiskinan

Dalam dokumen PEMERINTAH PROVINSI BANTEN TAHUN 2020 (Halaman 148-154)

BAB III KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEUANGAN DAERAH Kerangka Ekonomi Daerah dan Keuangan Daerah memuat penjelasan

PERTUMBUHAN EKONOMI 5,6

4. Kondisi dan Proyeksi Kemiskinan

Pandemi Covid-19 yang terjadi di akhir tahun 2019 juga turut mempengaruhi persentase kemiskinan baik ditingkat nasional maupun daerah. Badan pusat statistik menyebutkan bahwa data persentese kemiskinan beberapa tahun kebelakang menunjukan tren penurunan sebagaimana disajikan pada gambar di bawah ini.

Gambar 3.10. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Nasional Peride Maret 2006–Maret 2020

Sumber: BPS 2020

III-30

Gambar diatas menunjukan bahwa sejak Maret 2006 persentase kemiskinan selalu menunjukan penurunan kecuali pada September 2013 (meningkat menjadi 11,46 dibandingkan Maret 2013 sebesar 11,36) dan Maret 2015 (11,22 dari sebelumnya September 2014 sebesar 10,96).

Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode tersebut dipicu oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai akibat dari kenaikan harga bahan bakar minyak sebagai dampak keaikan harga minyak dunia. Berbeda dengan kondisi sebelumnya, kejadian Pandemi Covid-19 menyebabkan Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret2020 mencapai 26,42 juta orang. Dibandingkan September 2019, jumlah penduduk miskin meningkat 1,63 juta orang. Sementara jika dibandingkan dengan Maret 2019, jumlah penduduk miskin meningkat sebanyak 1,28 juta orang. Persentase penduduk miskin pada Maret 2020 tercatat sebesar 9,78 persen, meningkat 0,56 persen poin terhadap September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret 2019.

Peningkatan persentase penduduk miskin akibat Pandemi Covid-19 juga terjadi di wilayah provinsi Banten. Menurut BPS Provinsi Banten, Persentase penduduk miskin di Banten pada bulan Maret 2020 mencapai 5,92 persen. Jika dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2019, maka selama enam bulan terjadi peningkatan sebesar 0,98 poin (dari posisi 4,94 persen). Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan dan perdesaan mengalami peningkatan. Persentase penduduk miskin di perkotaan naik dari 4,00 menjadi 5,03 dan persentase penduduk miskin di perdesaan naik dari 7,31 pada September 2019 menjadi 8,18 pada Maret 2020.Sejalan dengan peningkatan tingkat kemiskinan, jumlah penduduk miskin di Banten pada periode yang sama bertambah sebanyak 134,60 ribu orang dari 641,42 ribu orang pada September 2019 menjadi 775,99 ribu orang pada bulan Maret 2020

III-31

Gambar 3.11.Jumlah dan Persentase Kemiskinan di Provinsi Banten

Sumber: BPS Provinsi Banten 2020

Melihat pebandingan data kemiskinan antara nasional dengan Provinsi Banten, secara persentase tingkat kemiskinan di Provinsi Banten selalu lebih rendah. Meski demikian adanya peningkatan yang cukup besar setelah Pandemi Covid-19 tingat kemiskinan ini harus menjadi perhatian. Disisi lain membandingkan antara target tingkat kemiskinan sebagaimana tertuang pada dokumen perencanaan baik daerah maupun nasional dengan data Maret 2020 nampaknya perlu upaya keras agar target pembangunan tersebut dapat tercapai.

Tabel 3.13. Realisasi dan Proyeksi Persentese Kemiskinan Nasional dan Banten

2020 2021 2022

Realisasi Maret RPJMD Proyeksi

Nasional 9,7 –10,2 9,78 9,2 –9,7

Banten 5,12 5,92 5,06 5 4,99 – 5,4

III-32

Melihat komoditas penyebab kemiskinan di Provinsi Banten, pada Maret 2020 beras masih berperan sebagai penyumbang terbesar Garis Kemiskinan baik di perkotaan (17,57%) maupun di perdesaan (21,52%).

Komoditi makanan lainnya penyumbang Garis Kemiskinan di perkotaan adalah rokok kretek filter (15,23%), daging ayam ras (4,18%), telur ayam ras (4,13%), dan mie instan (2,39%). Sedangkan di daerah perdesaan, empat komoditi makanan penyumbang terbesar terhadap Garis Kemiskinan secara berturut- turut adalah rokok kretek filter (16,64%), telur ayam ras (3,46%), roti (2,85%) serta daging ayam ras sebesar 2,49%.Sementara komoditi non makanan pemberi sumbangan terbesar untuk Garis Kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan sama.

Kelima komoditi non makanan penyumbang Garis Kemiskinan di perkotaan adalah biaya perumahan (9,64%), bensin (4,38%), listrik (3,88%), pendidikan (1,59%) dan perlengkapan mandi (1,27%). Di perdesaan lima komoditi non makanan penyumbang Garis Kemiskinan adalah biaya perumahan (10,69%), bensin (2,24%), listrik (1,68%), biaya pendidikan (1,32%) dan perlengkapan mandi sebesar 1,13%.

Upaya pengentasan kemiskinan berdasarkan pendekatan penyediaan komoditas dapat dilakukan dengan penyediaan ketersediaan dan stabilisasi harga komoditas penyebab kemiskinan baik diwilayah Perkotaan atau pun perdesaaan. Melihat beberapa komoditas penyebab kemiskinan seperti halnya beras, daging ayam dan telur merupakan beberapa komoditas yang sangat dimungkinkan untuk dibudidayakan di lingkungan masyarakat. Untuk itu perlu keberpihakan pemerintah daerah daerah baik Provinsi maupun Kabupaten Kota untuk melaksanakan program dan kegiatan yang dapat menumbuhkembangkan minat masyarakat budidaya komoditas tersebut.

Kebijakan lainnya yang merupakan kelanjutan dari kebijakan ditahun sebelumnya berupa kehadiran BUMD agrobisnis untuk mendekatkan produsen kepada konsumen diharapkan dapat mejawab permasalahan tingginya harga yang disebabkan panjangnya rantai pasok komoditas tersebut. Hal lainnya yang perlu dilakukan adalah peningkatan jumlah penerima Bansos Jaminan Sosial Rakyat Banten Bersatu (Jamsosratu) yang pelaksanaan dirasakan cukup efektif dalam pengentasan kemiskinan sebelum masa pandemi.

III-33 5. Kondisi dan Proyeksi Indek Gini

Indeks Gini merupakan alat ukur derajat ketidakmerataan atau ketimpangan pengeluaran penduduk. Pada tahun 2010 Gini Ratio Banten tercatat sebesar 0,419. Angka ini terus bergerak turun hingga September 2012 yaitu sebesar 0,384. Pada September 2014 nilai Gini Ratio mencapai angka tertinggi yaitu sebesar 0,424. Kemudian pada periode Maret 2015 - Maret 2020 nilai Gini Ratio menunjukkan kecenderungan menurun hingga mencapai angka0,363. Secara lengkap disajikan pada gambar dibawah ini:

Gambar 3.12. Perkembangan Gini Rasio Provinsi Banten

Sumber: BPS Provinsi Banten

Berdasarkan gambar diatas terlihat bahwa Gini Rasio di perkotaan di wilayah Provinsi Banten selalu lebih tinggi dibandingkan dengan Gini Rasio di wilayah perdesaan. Meski demikian dalam hal tren yang ada, terlihat bahwa mulai tahun 2016 terjadi tren peningkatan gini rasio di wilayah perdesaan. Pada Bulan Sepetember 2016 gini rasio dilayah perdesaan hanya 0,248 meningkat menjadi 0,296 di Bulan Maret 2020.

Hal ini menunjukan bahwa terjadi peningkatan pendapatan antar penduduk yang ada diwilayah perdesaan. Untuk itu Pemerintah Provinsi Banten beserta pemerintah Kabupaten perlu memberikan rekomendasi kebijakan bagi proses pembangunan desa sehingga proses perencanaan dan penganggaran yang dilakukan Pemerintahan Desa dapat menekan terjadi tren peningkatan ketimpangan tersebut. Selain itu, kebijakan alokasi bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi yang selama ini dilaksanakan perlu diarahkan pada peningkatan kesejahteraan

III-34

masyarakat dengan penghasilan rendah. Skema padat karya tunai untuk pembangunan infrastruktur, revitalisasi fasilitas umum yang ada di desa ataupun objek wisata di desa merupakan alternatif kebijakan yang dapat dilakukan untuk penurunan ketimpangan pendapatan di desa.

Selain tren peningkatan distribusi pendapatan di wilayah perdesaan, hal lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah peningkatan Gini Rasio pada bulan Maret 2020 dibandingkan September 2019. Menurut BPS Provinsi Banten, nilai Gini Ratio provinsi Banten pada bulan Maret 2020 sebesar 0,363 meningkat dibandingkan dengan bulan September 2019 yakni 0,361. Meskipun belum dapat dipastikan kenaikan tersebut ada hubungannya dengan kejadian Pandemi Covid-19, namun adanya kebijakan PHK dari beberapa industri yang ada di wilayah provinsi Banten dapat mendorong peningkatan gini rasio di periode berikutnya.

Melihat dokumen RPJMD Provinsi Banten 2017-2022, realisasi Gini rasio provinsi Banten pada Maret 2020 sebetulnya lebih rendah nilai gini rasio yang menjadi target di tahun 2020. Dalam dokumen RPJMD, nilai gini rasio ditetapkan sebesar 0,370 di tahun 2020 dan menurun menjadi 0,365 di tahun 2021.

Tabel 3.14. Target dan Proyeksi Gini Rasio di Provinsi Banten Index gini 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 Target RPJMD 0,40 0,390 0,390 0,390 0,370 0,365 0,360 Index Gini Banten 0,39 0,38 0,37 0,36 0,377* 0,374* 0,370*

Sumber : BPS Banten

*angka proyeksi Bappeda Banten

Berdasarkan tabel di atas, gini rasio provinsi Banten di proyeksikan dapat mencapai 0,374 ditahun 2021 dan menurun menjadi 0,370 ditahun 2022. Untuk itu diperlukan kebijakan perencanaan penganggaran dengan sasaran kelompok pendapatan yang rendah. Mengingat gambaran peningkatan gini rasio seiring dengan peningkatan tingkat kemiskinan maka pendekatan kebijakan yang dapat dilakukan berupa kelanjutan program Bansos Jaminan Sosial Rakyat Banten Bersatu (Jamsosratu), kelanjutan program bantuan langsung tunai akibat Pandemi Covid-19 serta pemberian stimulan bagi usaha mikro di masyarakat disertai

III-35

peningkatan efektivitas kelompok sasaran penerimanya merupakan jawaban untuk meminimalisasir tren peningkatan ketimpangan yang ada.

Dalam dokumen PEMERINTAH PROVINSI BANTEN TAHUN 2020 (Halaman 148-154)