BAB III KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEUANGAN DAERAH Kerangka Ekonomi Daerah dan Keuangan Daerah memuat penjelasan
PERTUMBUHAN EKONOMI 5,6
3. Kondisi dan Proyeksi Ketenagakerjaan
Adanya perlambatan ekonomi di triwulan I serta kontraksi di triwulan II (-7,40) dan berlanjut di Triwulan III (-5,77) berimplikasi pada
III-24
meningkatnya angka pengangguran di Provinsi Banten. Berdasarkan data BPS Provinsi Banten, jumlah penduduk bekerja di Provinsi Banten pada periode februari 2020 mengalami penurunan sebanyak 54,6 ribu orang dibandingkan dengan periode Februari 2019 yaitu dari 5.676,2 ribu orang menjadi 5.621,6 ribu orang. Penurunan tersebut sejalan dengan menurunnya jumlah angkatan kerja sebnyak 31,2 ribu orang yaitu dari 6.142 ribu orang pada februari 2019 menjadi 6110,8 ribu orang. Pada bulan Februari 2020 jumlah penduduk usia kerja tercatat sebanyak 9.480 ribu orang sedangkan Februari 2019 tercatat sebanyak 9279,8 ribu orang atau mengalami peningktan penduduk usia kerja sebanyak 200,3 ribu orang.
Peningkatan jumlah pengangguran di wilayah Provinsi Banten berlanjut pada data pengangguran bulan Agustus 2020. Menurut data BPS Provinsi Banten, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Agustus 2020 sebesar 10,64persen atau sebanyak 661 ribu orang, yang berarti meningkat 2,53persen poin atau bertambah sebanyak 171 ribu orang dibandingkandengan Agustus 2019. Peningkatan TPT tersebut seiring dengan menurunnya penduduk yang bekerja yakni sebanyak 5,55 juta orang, turun sebanyak282 orang dari Agustus 2019. Adanya penurunan tersebut terutama Sektor Industri Pengolahan (3,35 persen poin), Administrasi Pemerintahan (0,88 persen poin), dan Jasa Pendidikan (0,35 persen poin) sementara untuk lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase terbesar adalah Sektor Perdagangan (1,81persen poin) dan Pertanian (1,77 persen poin).
Tabel 3.9. Penduduk Usia Kerja dan Angkatan Kerja di Provinsi Banten, Agustus 2018-Agustus 2020
III-25
persen persen persen persen
poin
Sumber: BPS Provinsi Banten 2020
Data BPS Provinsi Banten sebagaimana disajikan pada tabel diatas juga memperlihatkan adanya peningkatan yang cukup besar dalam hal persentase pengangguran di wilayah perkotaan. Pada Agustus 2020 persentase pengangguran di wilayah perkotaan mencapai 10,64% atau meningkat sebesar 3,06% dibandingkan data Agustus 2019 yang mencapai 7,57. Hal ini menunjukan bahwa akibat adanya Pandemi Covid-19 mengakibatkan banyak penduduk yang kehilangan mata pencahariannya sebingga memaksa mereka untuk menjadi penganggur.
Selain itu tingginya perubahan persentase pengangguran antara Agustus 2020 dengan Agustus 2019 di wilayah perkotaan dibandingkan dengan perdesaaan menunjukan bahwa pandemi Covid-19 lebih membawa dampak negatif di perkotaan.
Secara spesifik BPS Provinsi Banten (2020) menyebutkan bahwa pandemi covid-19 telah mengakibatkan 205,24 ribu penduduk Banten menjadi peganggur dengan rincaian 165,39 ribu orang tersebar di wilayah perkotaan dan 39,85 ribu orang tersebar di wilayah perdesaan. Dalam surveynya, BPS Provinsi Banten membagi kelompokPenduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 menjadi empat komponen yaitu a) Penganggur;
b) Bukan angkatan kerja yang pernah berhenti bekerja pada Februari-Agustus 2020; c) Penduduk yang bekerja dengan status sementara tidak bekerja; dan d) Penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam
III-26
kerja. Kondisi c) dan d) merupakan dampak pandemi Covid-19 yang dirasakan oleh mereka yang saat ini masih bekerja, sedangkan kondisi a) dan b) merupakan dampak pandemi Covid-19 bagi mereka yang berhenti bekerja.
Pada Tabel dibawah dapat dilihat bahwa dari penduduk usia kerja yang mencapai 9,63 juta, terdapat 1,84 juta orang yang terdampak Covid-19 atau Covid-19,18 persen. Secara total, jumlah laki- laki yang terdampak Covid-19 lebih besar hampir 2 kali lipat dibandingkan perempuan.
Penduduk usia kerja yang terdampak di perkotaan sebesar 31,18 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan, yakni 6,74 persen.
Tabel 3.10.Dampak Covid-19 terhadap Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin dan Daerah Tempat Tinggal di Provinsi Banten, Agustus
2020
Jenis Kelamin Daerah Tempat
Tinggal Total (ribu
orang)
Pengangguran2 Karena Covid-19 133,97 71,27 165,39 39,85 205,24 Bukan Angkatan Kerja (BAK)3 Karena
Covid-19 9,12 19,47 22,77 5,82 28,59
Sementara Tidak Bekerja Karena
Covid-19 74,24 29,31 82,63 20,92 103,55
Penduduk Bekerja yang Mengalami Pengurangan Jam Kerja Karena Covid-19
1.004,66 506,18 1.258,81 252,03 1.510,83
Total 1.221,99 626,22 1.529,59 318,62 1.848,21
Penduduk Usia Kerja (PUK) 6.949,41 2.686,65 4.905,76 4.730,30 9.636,06
Persentase terhadap PUK 17,58 23,31 31,18 6,74 19,18
Sumber: Sumber: BPS Provinsi Banten 2020
Keterangan:
1. Penghitungan dengan menggunakan penimbang hasil proyeksi SUPAS2015
2. Pengangguran karenaCovid-19 adalah pengangguran yang berhenti bekerja karena Covid-19 selama bulan Februari-Agustus2020
3. Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19 adalah penduduk usia kerja yang termasuk dalam kategori bukan angkatan kerja dan pernah berhenti bekerja karena Covid-19 selama bulan Februari-Agustus2020
Berdasarkan distribusi persentase pengangguran agustus 2020, Kabupaten Tangerang merupakan wilayah dengan pesentase pengangguran terbesar yakni 13,06, kemudian kedua Kota Cilegon (12,69%) serta Kabupaten Serang dengan persentase TPT mencapai 12,22%. Secara lengkap disajikan pada tabel berikut ini:
III-27
Tabel 3.11. Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Banten (persen) Agustus 2018–Agustus 2020
Kab/Kota Agustus 2018
Agustus 2019
Agustus 2020
Perubahan Ags
2018-Ags 2019
Perubahan Ags
2019-Ags 2020
Pandeglang 8,19 8,67 9,15 0,48 0,48
Lebak 7,57 7,96 9,63 0,39 1,67
Tangerang 9,63 8,92 13,06 -0,71 4,14
Serang 12,63 10,58 12,22 -2,04 1,64
Kota Tangerang 7,39 7,14 8,63 -0,25 1,50
Kota Cilegon 9,21 9,64 12,69 0,44 3,05
Kota Serang 8,10 8,07 9,26 -0,04 1,19
Kota Tangsel 4,67 4,78 8,48 0,10 3,70
Total 8,47 8,11 10,64 -0,36 2,53
Sumber: BPS 2020
Tabel diatas juga memperlihatkan perubahan persentese pengangguran yang paling besar yakni 4,14 persen (YoY) terjadi di wilayah Kabupaten Tangerang, kedua dialami oleh Kota Tangsel (3,70) dan berikutnya Kota Cilegon senilai 3,05%. Gambaran tersebut menunjukan fokus penanganan pengangguran di wilayah provinsi Banten harus difokuskan pada upaya pemulihan pasca kebijakan perumahan atau pun pemutusan hubungan kerja dari perusahaan industri atau pun jasa terutama yang berlokasi di wilayah Tangerang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon dan Tangsel.
Pengentasan pengangguran dalam perencanaan pembangunan diarahkan pada upaya pencapaian indikator pembangunan baik lingkup nasional atau pun daerah. Dalam dokumen RPJMN 2020-2024, target indikator TPT untuk provinsi Banten ditetapkan sebesar 7,80% di tahun 2021 dan 7,70% ditahun 2022. Sementara itu dalam dokumen RPJMD Provinsi Banten (revisi) target TPT ditetapkan sebesar 8,03% (tahun 2021) dan 7,84% (tahun 2022). Meski demikian penetapan target TPT dalam dua dokumen perencanaan tersebut ditetapkan sebelum adanya kejadian Pandemi Covid-19. Karena itu perlu penyesuaian proyeksi mengingat Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi berbagai bidang (tidak hanya kesehatan) termasuk bidang perekonomian yang berimplikasi pada peningkatan pengangguran.
Dalam laporan IMF (Agustus 2020) proyeksi TPT di indonesia akibat merebaknya pandemi Covid-19 mencapai 8,0% di tahun 2020 dan menurun menjadi 6,8% di tahun 2021. Optimisme penurunan TPT di tahun 2021 dilandasi akan keyakinan Reboundnya kondisi perekonomian
III-28
setelah terpuruk di tahun 2020. Kembali bergeraknya sektor industri dan jasa diharapkan akan membawa dampak pada penyerapan angkatan kerja meskipun kondisinya sangat tergantung dari efektivitas dan distribusi vaksininasi. Proyeksi lainnya terkait angka TPT nasional tersaji dalam dokumen RKP 2021 yang menyebutkan bahwa outlook TPT tahun 2020 diperkirakan dalam rentang 8,1 – 9,2 (tahun 2020) dan proyeksi TPT tahun 2021 pada angka 7,7 – 9,1.
Gambar 3.9. Persentase TPT Bulan Agustus Provinsi Banten dan Nasional
Berdasarkan gambar diatas terlihat bahwa selama lima tahun terakhir TPT provinsi Banten selalu berada diatas nilai TPT nasional dengan selisih rata-rata mencapai 3,3%. Oleh karena itu, mengacu pada proyeksi IMF dan RKP 2021 maka untuk proyeksi TPT provinsi Banten di tahun 2021 mencapai 9,7-10,2 dan 9,2 – 9,7 di tahun 2022.
Tabel.3.12 Proyeksi Tingkat Pengangguran Terbuka 20200
Wilayah Realisasi
Agustus 2020 Outlook 2021 Proyeksi
2022 IMF RKP Draft RKPD
Banten 10,64 9,7-10,2 9,2 – 9,7
Nasional 7,07 6,8 7,7 – 9,1
Besarnya tingkat pengangguran di wilayah provinsi Banten memerlukan perhatian semua pihak tidak sebatas Perangkat daerah yang
0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00
2016 2017 2018 2019 2020
8,92 9,28
8,52 8,11
10,64
5,61 5,50 5,30 5,23
7,07
3,31 3,78
3,22 2,88
3,57
Banten Nasional Selisih
III-29
menangani urusan ketenagakerjaan atau pun urusan Perindustrian.
Upaya pengentasan permasalahan pengangguran di provinsi Banten memerlukan koordinasi multistakeholder yang dituangkan dalam bentuk rencana aksi sebagai bagian dari pelaksanaan program dan kegiatan masing asing Perangkat Daerah. Selain Pemerintah dan Pemerintah Daerah berupaya dalam penciptaan lapangan pekerjaan yang bersifat padat karya baik industri pengolahan maupun lainnya, perlu juga dilakukan upaya kegiatan program padat karya yang melibatkan masyarakat dalam pembangunan infrastruktur yang tidak memerlukan spesifikasi keahlian khusus. Hal lainnya yang perlu dilakukan adalah menumbuhkembangkan minat usaha dikalangan masyarakat sehingga jumlah dan kualitas usaha mikro dan kecil di wilayah provinsi Banten pasca pandemi Covid-19 bisa lebih meningkat.