• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERINTAH PROVINSI BANTEN TAHUN 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMERINTAH PROVINSI BANTEN TAHUN 2020"

Copied!
304
0
0

Teks penuh

(1)

RANCANGAN AWAL

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD)

PROVINSI BANTEN TAHUN 2022

PEMERINTAH PROVINSI BANTEN

TAHUN 2020

(2)

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN _____________________________________________ I-1 Latar Belakang ____________________________________________________ I-1 Dasar Hukum _____________________________________________________ I-3 Hubungan Antar Dokumen_________________________________________ I-6 Maksud dan Tujuan _______________________________________________ I-7 Sistematika Dokumen RKPD _______________________________________ I-7 BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH _______________________ II-1 KONDISI UMUM DAERAH ____________________________________ II-1 2.1.1 Aspek Geografi dan Demografi _________________________________ II-1 2.1.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat ______________________________ II-8 2.1.3 Aspek Pelayanan Umum _____________________________________ II-29 2.1.4 Aspek Daya Saing Daerah ____________________________________ II-29

Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD

Tahun 2020 dan Realisasi RPJMD _____________________________ II-40 2.2.1 Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD

Triwulan III Tahun 2020 ____________________________________ II-40 Permasalahan Pembangunan Daerah ______________________ II-104 BAB III. KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEUANGAN DAERAH _ III-1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah __________________________ III-1 3.1.1 Pertumbuhan Ekonomi Global ___________________________ III-2 3.1.2 Pertumbuhan Ekonomi Nasional _________________________ III-4 3.1.3 Pertumbuhan Ekonomi Banten _________________________ III-10 3.1.4 Prospek dan Arah Kebijakan Perekonomian Provinsi

Banten ________________________________________________ III-39 Arah Kebijakan Keuangan Daerah _______________________ III-40 3.2.1 Arah Kebijakan Pendapatan Daerah ____________________ III-41 3.2.3 Arah Kebijakan Belanja Daerah _________________________ III-44 3.2.4 Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah ____________________ III-49 BAB IV. SASARAN DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN TAHUN 2022 __ IV-1 4.1. Tujuan dan Sasaran Pembangunan ___________________________ IV-1

(3)

4.2. Strategi dan arah kebijakan RPJMD Provinsi Banten Tahun 2017-2022 ___________________________________________________ IV-8 4.3. Arah Kebijakan Tata Ruang Wilayah Provinsi Banten _________ IV-13 Prioritas Pembangunan Provinsi Banten Tahun 2022 _________ IV-16 4.4.1 Arah Kebijakan Pembangunan Nasional dalam RPJMN

Tahun 2020-2024 dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2022 ____________________________________________ IV-16 4.4.2 Pokok-pokok Pikiran DPRD Provinsi ____________________ IV-22 4.4.3 Prioritas Pembangunan Daerah Tahun 2022 ____________ IV-23 BAB V. ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KABUPATEN/KOTA _____ V-1

Arahan Kebijakan Pembangunan Pemerintah Kabupaten/

Kota ________________________________________________________ V-1 5.1.1 Kabupaten Pandeglang ___________________________________ V-2 5.1.2 Kabupaten Lebak ________________________________________ V-3 5.1.3 Kabupaten Tangerang ____________________________________ V-4 5.1.4 Kabupaten Serang ________________________________________ V-5 5.1.5 Kota Tangerang __________________________________________ V-6 5.1.6 Kota Cilegon _____________________________________________ V-7 5.1.7 Kota Serang ______________________________________________ V-8 5.1.8 Kota Tangerang Selatan __________________________________ V-9

Rencana Program Kegiatan di Wilayah Kerja Pembangunan (WKP) _____________________________________________________ V-10 5.2.1 Rencana Pembangunan di WKP I (Kabupaten Tangerang,

Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan) ___________ V-13 5.2.2 Rencana Pembangunan di WKP II (Kabupaten Serang,

Kota Serang, dan Kota Cilegon) _________________________ V-14 BAB VI. RENCANA KERJA DAN PENDANAAN DAERAH ______________ VI-1 Program dan Kegiatan Prioritas RKPD Tahun 2022 ________ VI-1 6.1.1 Prioritas Pembangunan -1 _______________________________ VI-2 6.1.2 Prioritas Pembangunan -2 _______________________________ VI-5 6.1.3 Prioritas Pembangunan -3 _______________________________ VI-8 6.1.4 Prioritas Pembangunan -3 ______________________________ VI-13

RENCANA KERJA PERANGKAT DAERAH DAN

PENDANAAN ______________________________________________VI-15 6.2.1 Rencana Program Kegiatan Pembangunan Sumber Dana

Corporate Social Responsiblity ( CSR ) __________________ VI-15

(4)

6.2.2 Rencana Kerja Perangkat Daerah dan Pendanaan Tahun 2022 ___________________________________________________ VI-16 BAB VII. KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHANAN

DAERAH _______________________________________________ VII-1 Indikator Kinerja Daerah ___________________________________ VII-1 Indikator Kinerja Perangkat Daerah ________________________ VII-4 BAB VIII. PENUTUP ______________________________________________ VIII-1

(5)

I-1 BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 1 (satu) tahun, yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). RKPD memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah, prioritas pembangunan Daerah, serta rencana kerja dan pendanaan untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, yang disusun dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah dan program strategis nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah. Hal ini sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah. RKPD Provinsi Banten Tahun 2022 merupakan merupakan penjabaran dari RPJMD Provinsi Banten Tahun 2017-2022 untuk tahun 2022.

RKPD Provinsi Banten Tahun 2022 merupakan penjabaran tahun kelima dari Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 10 tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 7 tahun 2017 tentang RPJMD Provinsi Banten tahun 2017-2022. Sebagai penjabaran tahun terakhir dari RPJMD, maka indikator dan target kinerja RPJMD, dalam rangka mencapai Visi dan Misi yang telah ditetapkan, diagendakan tercapai pada tahun rencana. Adapun Visi RPJMD Provinsi Banten Tahun 2017-2022, yang hendak diwujudkan, yaitu “ Mewujudkan Banten Yang Maju, Mandiri, Berdaya Saing, Sejahtera, Dan Berakhlaqul Karimah”.

Untuk merealisasikan visi tersebut, ditetapkan lima misi pembangunan sebagai berikut:

1. Menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance);

2. Membangun dan meningkatkan kualitas infrastruktur;

(6)

I-2

3. Meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan Pendidikan berkualitas;

4. Meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan Kesehatan berkualitas; dan

5. Meningkatkan kualitas pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.

Dengan demikian, kedudukan RKPD Tahun 2022 ini sangat krusial untuk menunaikan visi dan misi RPJMD tersebut.

Secara umum, RKPD mempunyai kedudukan yang strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah mengingat beberapa hal sebagai berikut:

1. RKPD merupakan dokumen yang secara substansial menjabarkan visi, misi dan program Kepala Daerah, yang ditetapkan dalam RPJMD, ke dalam program dan kegiatan pembangunan tahunan daerah.

2. RKPD memuat arahan operasional pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan tahunan bagi seluruh perangkat daerah dalam menyusun Rencana Kerja Perangkat Daerah.

3. RKPD merupakan acuan Kepala Daerah dan DPRD dalam menentukan Kebijakan Umum APBD dan penentuan prioritas serta pagu anggaran sementara, yang selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam penyusunan APBD.

4. RKPD merupakan salah satu instrumen evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah. Melalui evaluasi terhadap pelaksanaan RKPD, dapat diketahui sejauh mana capaian kinerja RPJMD sebagai perwujudan kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah hingga tahun berkenaan.

Selain kedudukannya yang strategis tersebut, RKPD juga merupakan dokumen perencanaan yang komprehensif, karena disusun dengan berpedoman pada RPJPD, RTRW, dan RPJMN, serta SPM, yang mengacu pada arah kebijakan pembangunan nasional dan prioritas pembangunan nasional yang disepakati pada koordinasi teknis nasional.

Penyusunan RKPD, secara teknis, berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut, tahapan penyusunan RKPD terdiri dari Persiapan, penyusunan rancangan awal, penyusunan rancangan, pelaksanaan Musrenbang, perumusan rancangan akhir, dan penetapan.

(7)

I-3

Proses penyusunan RKPD secara komprehensif disajikan dalam diagram alir sebagai berikut:

Gambar 0-1. Bagan Alir Tahapan dan Tata Cara Penyusunan RKPD Provinsi Banten

Penyusunan RKPD Provinsi Banten Tahun 2022, saat ini, adalah pada tahap penyusunan rancangan awal, yang disusun berpedoman pada RPJMD Provinsi, RKP, program strategis nasional, dan pedoman penyusunan RKPD.

I.2. DASAR HUKUM

Selain berpedoman pada RPJMD Provinsi, RKP, program strategis nasional, dan pedoman penyusunan RKPD, secara umum, Penyusunan Rancangan Awal RKPD Provinsi Banten Tahun 2022 merujuk pada serangkaian peraturan perundangan sebagai berikut:

1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4010);

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

(8)

I-4

3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

4. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomr 4723);

5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

6. Peraturan Pemerintah 2 tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal ((Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 2 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6178);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 42 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6322);

8. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan/atau Dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 87, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomr 6485);

9. Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 10);

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Serta Tata Cara

(9)

I-5

Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1312);

11. Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 1 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Banten Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Provinsi Banten Tahun 2010 Nomor 1, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Banten Nomor 26);

12. Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 2 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Banten Tahun 2010-2030 (Lembaran Daerah Provinsi Banten Tahun 2011 Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Banten Nomor 32) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 5 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 2 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Banten Tahun 2010-2030 (Lembaran Daerah Provinsi Banten Tahun 2017 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Banten Nomor 69);

13. Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2017 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Banten Tahun 2017-2022 (Lembaran Daerah Provinsi Banten Tahun 2017 Nomor 7, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Banten Nomor 7) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 10 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2017 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Banten Tahun 2017-2022 (Lembaran Daerah Provinsi Banten Tahun 2019 Nomor 10, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Banten Nomor 10);

14. Peraturan Gubernur Nomor 36 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Banten Nomor 16 Tahun 2018 tentang Indikator Kinerja Utama Pemerintah Provinsi Banten dan Indikator Kinerja Utama Perangkat Daerah Provinsi Banten Tahun 2017-2022;

15. Peraturan Gubernur Nomor 37 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Banten Nomor 15 Tahun 2018 tentang Rencana Strategis Perangkat Daerah Pemerintah Provinsi Banten Tahun 2017-2022.

(10)

I-6

Dasar hukum tersebut merupakan peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan secara langsung terkait dengan penyusunan RKPD Provinsi Banten Tahun 2022.

I.3. Hubungan Antar Dokumen

RKPD adalah dokumen perencanaan pembangunan tahunan yang disusun dalam rangka menjamin keterkaitan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan. RKPD menjadi dasar penyusunan Renja Perangkat Daerah, serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tahapan penyusunan RAPBD. Secara umum, hubungan antara RKPD dengan dokumen lain yang relevan, disajikan dalam diagram berikut

Gambar 0-2. Hubungan Antar Dokumen

Untuk menjamin konsistensi antara dokumen rencana dan anggaran, RKPD menjadi dasar penyusunan KUA dan PPAS, serta RKA Perangkat Daerah. Dalam rangka sinergitas dan harmoni perencanaan pembangunan daerah, RKPD Provinsi Banten Tahun 2022 akan menjadi acuan penyusunan RKPD Tahun 2022 untuk Kabupaten/Kota di Provinsi Banten. RKPD juga merupakan instrumen evaluasi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

RPJM

D RKPD

RPJPN RPJM

N

RPJPD DPA

APBD KUA/

PPAS RKP

RENSTRA RENJA

RKA

R-APBD

(11)

I-7 I.4. Maksud dan Tujuan

Rancangan Awal RKPD Tahun 2022 dimaksudkan sebagai acuan bagi setiap Perangkat Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam penyusunan rancangan Renja Perangkat Daerah Tahun 2022.

Adapun tujuannya adalah:

1. Sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal Renja Perangkat Daerah.

Rancangan awal RKPD Provinsi Banten Tahun 2022 menjadi bahan penyempurnaan perangkat daerah dalam perumusan rencana program, kegiatan, indikator kinerja, pendanaan indikatif, lokasi kegiatan dan kelompok sasaran berdasarkan rencana program, kegiatan, indikator kinerja, pendanaan indikatif, lokasi kegiatan dan kelompok sasaran dalam Renja Perangkat Daerah Tahun 2022.

2. Sebagai pedoman penyusunan Rancangan awal RKPD Kabupaten/Kota.

Dalam penyusunan Rancangan Awal RKPD Tahun 2022, Kabupaten/Kota melakukan penyelarasan sasaran dan prioritas pembangunan Daerah serta program dan kegiatan pembangunan Daerah Kabupaten/Kota dengan sasaran dan prioritas pembangunan provinsi, serta program dan kegiatan pembangunan Daerah provinsi pada tahun 2022.

I.5. Sistematika Rancangan Awal RKPD Provinsi Banten Tahun 2022

Rancangan awal RKPD Provinsi, sebagaimana ditentukan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 , mencakup:

a. analisis gambaran umum kondisi Daerah;

b. analisis rancangan kerangka ekonomi Daerah;

c. analisis kapasitas riil keuangan Daerah;

d. penelaahan rancangan awal Renja Perangkat Daerah;

e. perumusan permasalahan pembangunan Daerah;

f. penelaahan terhadap sasaran RPJMD;

g. penelaahan terhadap arah kebijakan RPJMD;

h. penelaahan terhadap kebijakan pemerintah pada RKP dan program strategis nasional;

(12)

I-8 i. penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD;

j. perumusan prioritas pembangunan Daerah; dan k. perumusan rencana kerja program dan pendanaan.

Merujuk pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017, dalam penyusunan rancangan awal RKPD, DPRD memberikan saran dan pendapat berupa pokok-pokok pikiran DPRD berdasarkan hasil reses/penjaringan aspirasi masyarakat. Pokok-pokok pikiran tersebut disampaikan secara tertulis kepada kepala BAPPEDA, dan menjadi bahan perumusan kegiatan, lokasi kegiatan dan kelompok sasaran, yang selaras dengan pencapaian sasaran pembangunan yang telah ditetapkan dalam RPJMD.

Hasil penyusunan rancangan awal RKPD provinsi tersebut disajikan dalam sistematika sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

I.2. Dasar Hukum Penyusunan I.3. Hubungan antar Dokumen I.4. Maksud dan Tujuan

I.5. Sistematika Dokumen RKPD

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH II.1. Kondisi Umum Daerah

II.2. Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD sampai Tahun 2019 dan realisasi RPJMD

II.3. Permasalahan Pembangunan Daerah

BAB III KERANGKA EKONOMI DAN KEUANGAN DAERAH III.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah

III.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah

BAB IV SASARAN DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH IV.1. Arah Kebijakan Pembangunan Provinsi Banten

IV.2. Arah Kebijakan Tata Ruang Wilayah Provinsi Banten IV.3. Tujuan dan Sasaran Pembangunan

IV.4. Prioritas dan Sasaran Pembangunan Tahun 2022

IV.5. Arah Kebijakan Tematik Holistik Integratif Spasial Pembangunan Provinsi Banten

IV.6. Inovasi Daerah

(13)

I-9

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KABUPATEN/KOTA V.1. Arahan Kebijakan PembangunanPemerintah Kabupaten/Kota V.2. Rencana Program Kegiatan di Wilayah Kerja Pembangunan (WKP) BAB VI RENCANA KERJA DAN PENDANAAN DAERAH

VI.1. Rencana Program Kegiatan Tahun 2022

BAB VII KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH VII.1. Indikator Kinerja Daerah

VII.2. Indikator Kinerja Perangkat Daerah BAB VIII PENUTUP

Rancangan awal RKPD Tahun 2022 ini selanjutnya dibahas bersama dengan kepala Perangkat Daerah dan pemangku kepentingan, dalam forum konsultasi publik, untuk memperoleh masukan dan saran penyempurnaan.

(14)

II-1

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH II.1. KONDISI UMUM DAERAH

II.1.1 ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI 1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Banten, luas Provinsi Banten adalah 8.651,20 km2. Adapun berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, luas Provinsi Banten adalah 9.662,92 km2, dengan batas wilayah Provinsi Banten adalah:

a) Sebelah Utara dengan Laut Jawa;

b) Sebelah Timur dengan Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat;

c) Sebelah Selatan dengan Samudera Hindia; dan

d) Sebelah Barat dengan Selat Sunda dan Provinsi Lampung.

Berdasarkan letak geografis dan batas administratif tersebut, maka Provinsi Banten memiliki posisi strategis secara geografis dan secara regional, karena menjadi jalur utama penghubung perekonomian antara Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera sebagai kesatuan wilayah koridor andalan pengembangan ekonomi nasional. Selain itu, berdasarkan aspek kemaritiman, wilayah perairan wilayah maritim Banten dilalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I yang menghubungkan lalulintas laut antara Samudra Hindia ke wilayah Asia.

Secara administratif wilayah Provinsi Banten terbagi menjadi 4 (empat) daerah otonom Kabupaten, yaitu Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang, dan Kabupaten Tangerang serta 4 (empat) daerah otonom Kota yaitu Kota Tangerang, Kota Cilegon, Kota Serang dan Kota Tangerang Selatan. Selanjutnya secara rinci terdiri dari 155 kecamatan, dan 1551 desa/kelurahan (1.238 desa dan 313 kelurahan) sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam NegeriNomor 137 Tahun 2017 Tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan.

Ekosistem wilayah Provinsi Banten secara umum terdiri dari kawasan hutan pegunungan di sebelah selatan dan kawasan pantai sebelah utara melingkar menuju Selat Sunda di sebelah barat.

Iklim wilayah Banten dipengaruhi oleh angin muson dan gelombang la nina. Cuaca didominasi oleh angin barat dari samudera hindia dan

(15)

II-2

angin asia di musim penghujan serta angin timur pada musim kemarau.

Suhu udara di Banten berkisar antara 22,70C-32,90C, dengan kelembaban udara bervariasi antara 79%-87%. Jumlah hari dan curah hujan dalam setahun masing-masing sebanyak 206 hari dan 3.573 mm. (Sumber : Provinsi Banten Dalam Angka, BPS 2020)

2. Potensi Unggulan Daerah

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017, diwilayah Provinsi Banten terdapat beberapa Kawasan Strategis Nasional (KSN) antara lain: 
 KSN Selat Sunda, KSN Ujungkulon, KSN JABODETABEKJUR, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung,
 serta terdapat 21 Kawasan Industri di wilayah Provinsi Banten dengan produk manufaktur unggulan : baja, metrokimia, alas kaki,elektronik, semen dan makananyang didukung oleh beberapa pusat perdagangan tradisional dan modern, infrastruktur dan simpul transportasi meliputi Bandara Internasional Soekarno Hatta, Pelabuhan Merak, Jalan Tol Jakarta-Merak, Jalan Tol Serpong-Jakarta-Purbalenyi dan Kereta Api Jakarta-Merak.

Terdapat Lokasi Kawasan Strategis Provinsi (KSP) yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Banten Tahun 2010-2030 yang telah diubah dengan Peraturan Daerah 
 Nomor 5 Tahun 2017, selanjutnya dapat dilihat pada gambar 2.1 dibawah ini:

(16)

II-3

Gambar 0-1. Peta Kawasan Stategis Nasional dan Provinsi Banten

3. Wilayah Rawan Bencana

Beberapa potensi bencana yang ada di wilayah Provinsi Banten yang teridentifikasi, antara lain:

a. Wilayah Rawan Banjir

Daerah rawan banjir di Provinsi Banten tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten/Kota, yang dapat teridentifikasi adalah sebagai berikut:

1) Kota Cilegon meliputi Kecamatan Cibeber, Cilegon, Purwakarta, dan Grogol;

2) Kota Serang meliputi Kecamatan Kasemen, Cipocok jaya, Serang, dan Walantaka;

3) Kota Tangerang meliputi Kecamatan Tangerang, Cipondoh, Batuceper, Ciledug, Jatiuwung, Benda, Karawaci, Cibodas, Periuk, Neglasari, Pinang, Karangtengah, dan Larangan;

4) Kota Tangerang Selatan meliputi Kecamatan Serpong, Ciputat, Ciputat Timur, dan Pondok Aren;

(17)

II-4

5) Kabupaten Lebak meliputi Kecamatan Malingping, Banjarsari, Cimarga, Rangkasbitung, dan Cibadak;

6) Kabupaten Pandeglang meliputi Kecamatan Labuan, Pagelaran, Cikedal, Perdana, Patia, Sukaresmi, Panimbang, Pagelaran, Sumur, dan Carita;

7) Kabupaten Serang meliputi Kecamatan Kramatwatu, Bojonegara, Puloampel, Ciruas, Kragilan, Pontang, Tirtayasa, Tanara, Cikande, Kibin, Carenang, Binuang, Tunjungteja, Cikeusal, Pamarayan, Anyer, dan Cinangka.

b. Wilayah Rawan Longsor

Daerah rawan longsor di Provinsi Banten tersebar di beberapa kecamatan di kabupaten/kota, yang dapat teridentifikasi adalah sebagai berikut:

1) Kota Cilegon meliputi Kecamatan Pulomerak dan Purwakarta;

2) Kabupaten Serang meliputi Kecamatan Bojonegara dan Cikeusal;

3) Kabupaten Lebak meliputi Kecamatan Cipanas, Muncang, Cibeber, dan Bayah;

4) Kabupaten Pandeglang meliputi Kecamatan Pandeglang, Cadasari, dan Mandalawangi.

c. Tsunami

Daerah rawan bencana tsunami terdapat di sepanjang pantai Utara, Barat, sampai Selatan Provinsi Banten meliputi Kabupaten Tangerang, Kota Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Lebak. Untuk lebih jelasnya lokasi rawan bencana tsunami di Provinsi Banten dapat dilihat pada gambar 2.2 berikut ini:

(18)

II-5

Gambar 0-2. Peta Daerah Rawan Gempa dan Tsunami di Banten

4. Demografi

Kondisi Demografi Banten secara umum tercermin melalui jumlah penduduk, laju pertumbuhan penduduk, struktur penduduk, sebaran penduduk serta ketenagakerjaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Banten, jumlah Penduduk Banten tahun 2019 mencapai 12,927,316 jiwa yang terdiri dari atas 6.583.895 jiwa penduduk laki-laki dan 6.343.421 jiwa penduduk perempuan dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.87 % artinya pada tahun 2019 (Data Juni) setiap 100 (seratus) orang penduduk Banten akan bertambah sebesar 1,87 jiwa dari kelahiran dan atau migrasi penduduk dari luar Banten, kondisi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 0-1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota

Provinsi Banten Tahun 2019

KAB/KOTA Luas

Wilayah

Jumlah Penduduk Laki-laki Perempuan Laki-laki +

Perempuan Kepadatan Penduduk Kab.Pandeglang 2.746,89 618.304 593.605 1,211,909 9,37 Kab. Lebak 3.426,56 618.304 635.806 1,302,608 10,08 Kab. Tangerang 1.011,86 1.942.490 1.858.297 3,800,787 29,40 Kab. Serang 1.734,28 764.097 744.300 1,508,397 11,67

(19)

II-6

KAB/KOTA Luas

Wilayah

Jumlah Penduduk Laki-laki Perempuan Laki-laki +

Perempuan Kepadatan Penduduk Kota Tangerang 153,93 1.136.898 1.093.003 2,229,901 17,25

Kota Cilegon 175,50 223.002 214.203 437,205 3,38

Kota Serang 266,71 352.601 336.002 688,603 5,33

8. Kota Tangsel 147,19 879.701 868.205 1,747,906 13,52 Provinsi Banten 9.662,92 6.583.895 6.343.421 12,927,316 100,00 Sumber : BPS Provinsi Banten Tahun 2020

Tabel 0-2. Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, 2016 – 2019 (Jiwa)

KAB/KOTA 2016 2017 2018 2019

1. Kab. Pandeglang 1,200,512 1,205,203 1,295,810 1,211,909 2. Kab. Lebak 1,279,412 1,288,103 1,209,011 1,302,608 3. Kab. Tangerang 3,477,495 3,584,770 3,692,693 3,800,787 4. Kab. Serang 1,484,502 1,493,591 1,501,501 1,508,397 5. Kota Tangerang 2,093,706 2,139,891 2,185,304 2,229,901

6. Kota Cilegon 418,705 425,103 431,305 437,205

7. Kota Serang 655,004 666,600 677,804 688,603

8. Kota Tangsel 1,593,812 1,644,899 1,696,308 1,747,906 Provinsi Banten 12,203,148 12,448,160 12,689.736 12,927,316 Sumber : BPS Provinsi Banten Tahun 2020

Tabel 0-3. Jumlah Kecamatan dan Kelurahan/Desa Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Banten(Jiwa)

Kabupaten/ Kota Jumlah kecamatan

Jumlah kelurahan

Jumlah desa

Luas wilayah

(m2)

Jumlah penduduk

(jiwa) Keterangan

KAB. PANDEGLANG 35 13 326 2.746,89 1.205.137

KAB. LEBAK 28 5 340 3.426,56 1.290.325

KAB. TANGERANG 29 28 246 1.011,86 2.785.405

KAB. SERANG 29 326 1.734,28 1.479.034 PP. No. 32 Tahun

2012

KOTA TANGERANG 13 104 153,93 1.763.432

KOTA CILEGON 8 43 175,50 421.448

KOTA SERANG 6 66 266,71 649.057 PP. No. 32/2007-PP

32/2012

Pemindahan Ibukota KOTA TANGERANG

SELATAN 7 54 147,19 1.274.972 UU No. 51/2008

Jumlah 155 313 1.238 9.662,92 10.868.810

Sumber Data : Biro Pemerintahan Setda Provinsi Banten

(20)

II-7

Tabel 0-4. Laju Pertumbuhan Penduduk di Provinsi Banten Tahun 2016-2019 (Persen)

KAB/KOTA 2016 2017 2018 2019

1. Kab. Pandeglang 0.47 0.39 0,32 0,24

2. Kab. Lebak 0.76 0.68 0,60 0,52

3. Kab. Tangerang 3.17 3.08 3,01 2,93

4. Kab. Serang 0.69 0.61 0,53 0,46

5. Kota Tangerang 2.28 2.21 2,12 2,04

6. Kota Cilegon 1.6 1.53 1,46 1,37

7. Kota Serang 1.83 1.77 1,68 1,59

8. Kota Tangsel 3.28 3.21 3,13 3,04

Provinsi Banten 2.07 2.01 2,17 1,87

Sumber: BPS Provinsi Banten Tahun 2020

Sumber : BPS Provinsi Banten Tahun 2020

Gambar 0-3. Laju Pertumbuhan Penduduk di Provinsi Banten

Kepadatan penduduk di Provinsi Banten tahun 2019 mencapai 1.338 jiwa/Km2. Persebaran penduduk Provinsi Banten tidak merata, karena sebagian besar masih terkonsentrasi di wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan. Dengan luas wilayah 1.312,98Km² (14% dari luas wilayah Provinsi Banten), ketiga wilayah tersebut pada tahun 2019 dihuni oleh sekitar 60,17 % dari jumlah penduduk Banten. Sedangkan 39,82 % penduduk tersebar di 5 (lima) wilayah yaitu Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kota Serang, dan Kota Cilegon. Akibatnya tingkat kepadatan penduduk antar wilayah di Banten menjadi tidak merata.

Tercatat, Kota Tangerang merupakan wilayah dengan tingkat kepadatan tertinggi, mencapai 14.486 jiwa per km2. Sedangkan yang terendah adalah

2,16 2,27 2,2 2,14 2,07 2,01 2,17

1,87

0 0,5 1 1,5 2 2,5

2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

Laju Pertumbuhan Penduduk Banten

(21)

II-8

Kabupaten Lebak yaitu dengan tingkat kepadatan penduduk hanya 380 jiwa per km2. Berarti, Kota Tangerang hampir 37 kali lebih padat bila dibandingkan dengan Kabupaten Lebak. Sebaran penduduk tersebut dapat dilihat pada Gambar berikut :

Sumber : BPS Provinsi Banten Tahun 2020

Gambar 0-4. Sebaran Penduduk Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Banten Tahun 2019

II.1.2 ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT 1. Pertumbuhan PDRB

Kinerja pembangunan pada aspek kesejahteraan masyarakat dapat dilihat dari gambaran hasil pelaksanaan pembangunan yang meliputi Pertumbuhan Ekonomi dan distribusi beberapa lapangan usaha di Provinsi Banten.

LPE merupakan indikator yang dapat menggambarkan perkembangan ekonomi di suatu wilayah. Perkembangan LPE di Provinsi Banten dapat dilihat pada Gambar berikut :

Pandeglang 1% Lebak

1%

Kab Tangerang

10% Kab Serang

3%

kota Tangerang 39%

Kota Cilegon 7%

Kota serang 7%

Kota Tangsel 32%

(22)

II-9 Sumber : BPS Provinsi Banten Tahun 2020

Gambar 0-5. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) 2015 – 2020

PDRB adalah jumlah nilai tambah seluruh sektor kegiatan ekonomi yang terjadi di suatu daerah pada periode tertentu. Perkembangan PDRB salah satunya dapat dilihat dari PDRB Atas Dasar Harga Berlaku, PDRB Atas Dasar Harga Berlaku menurut sektor ekonomi di Provinsi Banten dapat dilihat pada Tabel berikut:

5,45

5,28

5,73 5,81

5,53

5,77

4,88

5,03 5,07 5,17

5,02 5,05

2015 2016 2017 2018 2019 2020

LPE

Banten Nasional

(23)

II-10

Tabel 0-5. PDRB Provinsi Banten Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2010 (triliun rupiah)

Lapangan Usaha

Harga Berlaku Harga Konstan 2010

Triwulan Triwulan II-2020 III-2020

Triwulan Triwulan II-2020 III-2020

(1) (2) (3) (4) (5)

A. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 9,76 9,90 6,36 6,43 B. Pertambangan dan Penggalian 1,17 1,04 0,71 0,60 C. Industri Pengolahan 46,09 48,03 34,85 36,39

D. Pengadaan Listrik dan Gas 2,38 2,50 0,86 0,94 E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang 0,14 0,14 0,12 0,12 F. Konstruksi 16,54 17,94 10,35 11,20 G. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi

Mobil dan Sepeda Motor 20,36 20,87 14,76 15,09 H. Transportasi dan Pergudangan 6,19 8,74 3,80 4,81 I. Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 3,54 3,72 2,53 2,65 J. Informasi dan Komunikasi 6,33 6,42 7,48 7,59 K. Jasa Keuangan dan Asuransi 5,02 5,15 3,33 3,41 L. Real Estate 13,31 13,94 10,02 10,34

M,N. Jasa Perusahaan 1,72 1,82 1,08 1,14 O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan

dan Jaminan Sosial Wajib 3,50 3,60 1,98 2,02 P. Jasa Pendidikan 6,09 6,34 3,48 3,62 Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 2,16 2,25 1,46 1,50 R,S,T,U. Jasa lainnya 2,51 2,67 1,56 1,64 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 146,81 155,08 104,73 109,49 Sumber :BPS Provinsi Banten 2020

(24)

II-11

Tabel 0-6. Laju Pertumbuhan dan Sumber Pertumbuhan PDRB Provinsi Banten Menurut Lapangan Usaha (persen)

Lapangan Usaha

Triw II-2020 terhadap Triw I-2020

(q-to-q)

Triw III-2020 terhadap Triw II-2020

(q-to-q)

Triw III-2020 terhadap Triw III-2019

(y-on-y)

Triw I s.d. III 2020 terhadap Triw I s.d. III

2019 (c-to-c)

Sumber Pertumbuhan

Triw III-2020 (y-on-y)

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

A. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 1,98 1,02 3,83 3,97 0,20

B. Pertambangan dan Penggalian -3,10 -15,40 -16,85 -5,13 -0,10

C. Industri Pengolahan -9,24 4,41 -6,57 -5,12 -2,20

D. Pengadaan Listrik dan Gas -17,12 9,15 -13,36 -12,79 -0,12

E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah

dan Daur Ulang 3,31 2,65 8,78 6,75 0,01

F. Konstruksi -7,42 8,17 -6,19 -2,27 -0,64

G. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi

Mobil dan Sepeda Motor -7,90 2,26 -5,92 -2,26 -0,82

H. Transportasi dan Pergudangan -43,94 26,53 -35,82 -29,09 -2,31

I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum -14,70 4,83 -8,76 -4,64 -0,22

J. Informasi dan Komunikasi 5,98 1,46 9,11 9,21 0,55

K. Jasa Keuangan dan Asuransi -1,05 2,25 2,95 2,60 0,08

L. Real Estate -4,25 3,21 -0,52 2,41 -0,05

M,N. Jasa Perusahaan -14,08 5,50 -7,51 -3,25 -0,08

O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan

Jaminan Sosial Wajib -1,08 2,19 -1,21 -0,61 -0,02

P. Jasa Pendidikan -0,37 3,86 1,32 0,86 0,04

Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial -2,77 3,23 4,35 5,44 0,05

R,S,T,U. Jasa lainnya -15,81 5,33 -8,97 -4,41 -0,14

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) -8,50 4,55 -5,77 -3,36 -5,77

Sumber : BPS Provinsi Banten 2020

Perekonomian Banten berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan III-2020 mencapai Rp 155,08 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 109,49 triliun.

Ekonomi Banten triwulan III-2020 terhadap triwulan III-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan 5,77 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami kontraksi pertumbuhan tertinggi sebesar 35,82 persen. Dari sisi

(25)

II-12

Pengeluaran,kontraksi pertumbuhan terdalam terjadi pada Komponen Pengeluaran Total Net Ekspor yang terkontraksi sebesar 39,05 persen.

Ekonomi Banten triwulan III-2020 terhadap triwulan sebelumnya mengalami akselerasi pertumbuhan sebesar 4,55 persen (q-to-q).Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 26,53 persen. Sementara dari sisi Pengeluaran pertumbuhan tertinggi pada Komponen Pengeluaran Total Net Ekspor yang tumbuh sebesar 43,32 persen.

Ekonomi Banten sampai dengan triwulan III-2020 (c-to-c) mengalami kontraksi sebesar 3,36 persen. Dari sisi produksi, kontraksi pertumbuhan terbesar pada lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 29,09 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, kontraksi tertinggi terjadi pada Komponen Pengeluaran Total Net Ekspor sebesar 30,99 persen.

Struktur perekonomian Provinsi se-Jawa pada triwulan III-2020 masih didominasi oleh Provinsi DKI Jakarta yang memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto se-Jawa sebesar 30,00 persen, kemudian diikuti oleh Provinsi Jawa Timur sebesar 25,01 persen, Provinsi Jawa Barat sebesar 22,24 persen. Sementara itu, Provinsi Banten memberikan kontribusi sebesar 6,60 persen.

Gambar 0-6. Peranan PDRB Provinsi se-Jawa Triwulan III Tahun 2020 (Persen)

(26)

II-13

Transportasi Pertambangan dan dan Pergudangan Pengadaan Listrik dan Gas Penggalian

-5,13

-12,79

-29,09

Gambar 0-7. Pertumbuhan Beberapa Lapangan Usaha Triwulan III-2020 (c-to-c) (persen)

Transportasi Pertambangan Pengadaan Listrik dan Pergudangan dan Penggalian dan Gas

-13,36 -16,85

-35,82

Gambar 0-8. Pertumbuhan PDRB Beberapa Lapangan Usaha Triwulan III- 2020 (y-on-y) (persen)

(27)

II-14

Industri Pengolahan

PDRB

Transportasi Transportasi

Gambar 0-9. Sumber Pertumbuhan PDRB Beberapa Lapangan Usaha Triwulan III-2020 (y-on-y) (persen)

I-2018 II-2018 III-2018 IV-2018 I-2019 II-2019 III-2019 IV-2019 I-2020 II-2020 III-2020 P DRB Transportasi dan Pergudangan Industri Pengolahan

Gambar 0-10. Pertumbuhan PDB Menurut Beberapa Lapangan Usaha (q-to-q) (persen)

2. Inflasi

Perkembangan harga berbagai komoditas pada November 2020 secara umum menunjukkan adanya kenaikan harga. Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Banten di 3 kota, pada November 2020 terjadi inflasi sebesar 0,14 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,23 pada Oktober 2020 menjadi 105,38 pada November 2020. Tingkat inflasi tahun kalender November 2020 sebesar 1,23 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (November 2020 terhadap November

(28)

II-15

2019) sebesar 1,43 persen. Perkembangan laju inflasi menurut kelompok pengeluaran di Provinsi Banten dapat dilihat pada Tabel II.7 berikut:

Tabel 0-7. IHK dan Tingkat Inflasi Gabungan 3 Kota IHK Provinsi Banten November 2020, Tahun Kalender 2020, dan Tahun ke Tahun

Menurut Kelompok Pengeluaran COICOP (2018=100)

Kelompok Pengeluaran

IHK November

2019

IHK Desemb

er 2019

IHK Novemb

er 2020

Tingkat Inflasi November

2020 1) (%)

Tingkat Inflasi Tahun Kalend er 2020

2) (%)

Tingkat Inflasi Tahun ke Tahun

3) (%)

Andil Inflasi November

2020 (%)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Umum (Headline) 103.89 104.10 105.38 0.14 1.23 1.43 0.14

Makanan, Minuman, dan Tembakau 103.33 104.10 105.71 0.69 1.55 2.31 0.18

Pakaian dan Alas Kaki 102.89 103.00 105.80 0.72 2.72 2.82 0.03

Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar

Lainnya 104.98 105.02 105.05 -0.08 0.03 0.06 -0.02

Perlengkapan, Peralatan, dan

Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga 106.36 106.66 108.93 0.34 2.13 2.42 0.02

Kesehatan 103.92 103.56 104.45 0.06 0.86 0.51 0.00

Transportasi 103.77 103.98 103.16 -0.03 -0.78 -0.58 0.00

Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan

93.60 92.58 92.00 0.00 -0.63 -1.71 0.00

Rekreasi, Olahraga, dan Budaya 106.24 106.26 106.82 -0.28 0.53 0.54 -0.01

Pendidikan 106.37 106.37 107.05 0.00 0.65 0.65 0.00

Penyedia Makanan dan Minuman/Restoran

103.69 103.70 105.52 0.09 1.76 1.77 0.01

Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya 107.07 107.18 116.64 -1.26 8.83 8.94 -0.07

1) Persentase perubahan IHK November 2020 terhadap IHK Oktober 2020.

2) Persentase perubahan IHK November 2020 terhadap IHK Desember 2019.

3) Persentase perubahan IHK November 2020 terhadap IHK November 2019.

Sumber : BPS Provinsi Banten 2020

Berdasarkan pemantauan Badan Pusat Statistik terhadap 416 jenis barang dan jasa serta hasil Survei Biaya Hidup (SBH) tahun 2018 di Kota Serang, Tangerang dan Cilegon baik secara mingguan, dua mingguan maupun bulanan, diketahui pada bulan November 2020 ini sebanyak 203 komoditas mengalami perubahan harga. Rincian lengkapnya adalah 124 komoditas mengalami kenaikan harga dan sisanya sebanyak 79 komoditas mengalami penurunan harga, beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga dibulan November 2020 antara lain: cabai merah, tomat, telur ayam ras, baju muslim pria, cabai rawit, kol putih/kubis, daging ayam ras, tempat tidur, bubur, dan kasur. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga selama bulan November

(29)

II-16

2020, antara lain: buah naga, kacang panjang, semangka, sepeda, ketimun, emping mentah, kulit melinjo, jengkol, melon, dan buncis.

Pada November 2020 dari 11 kelompok pengeluaran, 4 kelompok memberikan andil/ sumbangan inflasi diatas atau sama dengan 0,01 persen, 3 kelompok memberikan andil/ sumbangan deflasi dibawah atau sama dengan 0,01 persen, dan 4 kelompok memberikan andil kurang signifikan atau kurang dari 0,01 persen. Kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan inflasi diatas atau sama dengan 0,01 persen, yaitu: kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 0,18 persen; kelompok Pakaian dan Alas Kaki sebesar 0,03 persen, kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga sebesar 0,02 persen; kelompok Penyedia Makanan dan Minuman/Restoran sebesar 0,01 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan deflasi, yaitu: kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 0,07 persen; kelompok Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Lainnya sebesar 0,02 persen serta kelompok Rekreasi, Olahraga, dan Budaya sebesar 0,01 persen. Sedangkan kelompok Kesehatan, kelompok Transportasi, kelompok Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan dan kelompok Pendidikan masing-masing memberikan andil/sumbangan inflasi/ deflasi kurang dari 0,01 persen.

Beberapa komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada bulan November ini adalah komoditas: cabai merah, telur ayam ras, daging ayam ras, baju muslim pria, minyak goreng, ikan kembung/ikan gembung, kasur, tomat, bawang merah, dan bubur. Sementara komoditas yang dominan menyumbang deflasi pada bulan November ini adalah komoditas:

emas perhiasan, beras, tarif listrik, pepaya, melon, buah naga, pir, jeruk, daging sapi, dan sepeda anak.

(30)

II-17 3. PDRB Perkapita

Tabel 0-8. PDRB Perkapita Provinsi Banten Tahun 2017-2019

Sumber : BPS Provinsi Banten 2020

4. Indeks Gini Rasio dan Analisa Ketimpangan

Pada Maret 2020, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Banten yang diukur oleh Gini Ratio tercatat sebesar 0,363. Angka ini naik 0,002 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,361.

Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2020 tercatat sebesar 0,360 naik dibanding Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,355.

Demikian pula Gini Ratio di daerah perdesaan meningkat dari 0,292 pada September 2019 menjadi 0,296 pada Maret 2020.

Pada Maret 2020, distribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah adalah sebesar 18,73 persen. Artinya pengeluaran penduduk masih berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 18,64 persen dan di daerah perdesaan sebesar 22,00 Persen. Walaupun keduanya masih berada pada kategori ketimpangan rendah, tetapi di daerah perkotaan hampir mendekati kategori ketimpangan sedang (12- 17persen). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut :

Tabel 0-9. Gini Rasio Provinsi Banten Tahun 2016-2019

Kelasifikasi Daerah 2016 2017 2018 2019

Perkotaan 0.4 0.38 0.36 0.36

Perdesaan 0.25 0.27 0.30 0.29

Perkotaan + Perdesaan 0.39 0.38 0.37 0.36

Sumber : BPS Provinsi Banten, 2020

(31)

II-18

0,440 0,419 0,435

0,404 0,411

0,402 0,401 0,4020,399

0,400 0,419 0,3880,3870,381 0,424 0,390

0,376 0,3810,3800,386

0,404

0,394 0,399 0,401

0,3870,384 0,395

0,380 0,386 0,3940,392 0,362 0,36 0,355 0,36

0,3820,379 0,385

0,321 0,3670,3650,3610,363

0,2890,295 0,3030,308

0,287 0,294 0,299

0,2940,2920,296

0,2760,280 0,283

0,269

0,2610,264

0,2670,270 0,248

2010 Maret Sept Maret Sept Maret Sept Maret Sept Maret Sept Maret Sept Maret Sept Maret Sept Maret Sept Maret 2011 2011 2012 2012 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2016 2016 2017 2017 2018 2018 2019 2019 2020

Gambar 0-81. Perkembangan Gini Ratio Banten, 2010 – Maret 2020

Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2020 tercatat sebesar 0,360. Angka ini naik sebesar 0,005 poin dibanding Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,355. Untuk daerah perdesaan Gini Ratio Maret 2020 tercatat sebesar 0,296, angka ini naik sebesar 0,004 poin dibanding Gini Ratio September 2019. Nilai Gini Ratio di perdesaan lebih kecil dibandingkan di perkotaan. Artinya ketimpangan pengeluaran penduduk di perdesaan lebih rendah.

Tabel 0-10. Distribusi Pengeluaran Kelompok Penduduk 40 Persen Terbawah Maret 2019, September 2019 dan Maret 2020 (Persentase)

Maret 2019 Maret 2020

(32)

II-19 5. Angka Kemiskinan

Angka kemiskinan Provinsi Banten hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) bulan Maret 2020 sebesar 5,92 persen, mengalami peningkatan sebesar 0,98 poin dibanding periode sebelumnya (September 2019) yang sebesar 4,94 persen. Hal ini sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk miskin sebanyak 134,6 ribu orang dari 641,42 ribu orang pada September 2019 menjadi 775,99 ribu orang pada Maret 2020.

Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan yang pada September 2019 sebesar 4,00 persen naik menjadi 5,03 persen pada Maret 2020.

Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2019 sebesar 7,31 persen naik menjadi 8,18 persen pada Maret 2020.

Selama periode September 2019-Maret 2020, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 101,6 ribu orang (dari 371,28 ribu orang pada September 2019 menjadi 472,84 ribu orang pada Maret 2020), demikian pula di daerah perdesaan naik sebanyak 33,0 ribu orang (dari 270,13 ribu orang pada September 2019 menjadi 303,14 ribu orang pada Maret 2020).

Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi non makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada Maret 2020, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan tercatat sebesar 71,78 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan kondisi September 2019 yang sebesar 71,61 persen.

Jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan Maret 2020 di perkotaan dan di perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, serta roti. Sementara komoditi non makanan penyumbang terbesar Garis Kemiskinan di perkotaan dan perdesaan adalah sama yaitu biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.

(33)

II-20

Tabel 0-11. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah, September 2019- Maret 2020

DAERAH/TAHUN JUMLAH PENDUDUK

MISKIN (RIBU) PERSENTASE

PENDUDUK MISKIN Perkotaan

September 2019 371,28 4,00

Maret 2020 472,84 5,03

Perdesaan

September 2019 270,13 7,31

Maret 2020 303,14 8,18

Perkotaan/Perdesaan

September 2019 641,42 4,94

Maret 2020 775,99 5,92

Sumber : BPS Provinsi Banten, 2020

Secara umum, pada periode 2002–2020 tingkat kemiskinan di Banten cenderung menurun baik darisisi jumlah maupun persentase, kecuali pada tahun 2006, September 2013, Maret 2015, September 2017, September 2018 dan Maret 2020. Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode tersebut dipicu oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak. Sedangkan pada periode Maret 2020 kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin disebabkan oleh munculnya pandemi Covid- 19. Gambar berikut menyajikan perkembangan tingkat kemiskinan Provinsi Banten tahun 2002 sampai dengan Maret 2020:

Gambar 0-92. Perkembangan Kemiskinan di Provinsi Banten, 2002-Maret 2020

Sumber : BPS Provinsi Banten, 2020

(34)

II-21

Selain di tingkat provinsi, jumlah dan persentase penduduk miskin di kabupaten/kota juga mengalami penurunan dengan besaran yang bervariasi, kecuali di Kota Tangerang Selatan, yang tidak berubah. Angka kemiskinan di Kabupaten Pandeglang berkurang 2.02 persen, Kabupaten Lebak berkurang 1.33 persen, Kabupaten Tangerang berkurang 0.78 persen, Kabupaten Serang berkurang 5.39 persen, Kota Tangerang berkurang 7.45 persen, Kota Cilegon berkurang 7.26 persen, dan Kota Serang berkurang 1.52 persen. Secara rinci, jumlah dan persentase penduduk miskin menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Banten disajikan pada tabel berikut:.

Tabel 0-12. Jumlah dan Presentase Penduduk Miskin Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Banten Tahun 2017-2019

Kabupaten/Kota Jumlah (Ribu Jiwa) Presentase

2017 2018 2019 2017 2018 2019

Kab Pandeglang 117.31 116.16 114.09 9.74 9.61 9.42

Kab Lebak 111.08 108.81 107.93 8.64 8.41 8.30

Kab Tangerang 191.62 190.05 193.97 5.39 5.18 5.14

Kab Serang 69.10 64.46 61.54 4.63 4.30 4.08

Kota Tangerang 105.34 103.49 98.37 4.95 4.76 4.43

Kota Cilegon 14.89 13.96 13.20 3.52 3.25 3.03

Kota Serang 36.97 36.21 36.21 5.57 5.36 5.28

Kota Tangerang Selatan 28.73 28.21 29.16 1.76 1.68 1.68 Provinsi Banten 675.04 661.36 654.46 5.45 5.24 5.09

Sumber : BPS Provinsi Banten, 2020

Dari tabel tersebut, terlihat bahwa meskipun angka kemiskinan di tingkat provinsi berada di kisaran 5 persen, di Kabupaten/Kota masih ada yang lebih tinggi dari 5%, dengan kinerja penurunan angka kemiskinan yang bervariasi antar Kabupaten/Kota.

Untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin, digunakan Garis Kemiskinan (GK). Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Selama periode September 2019-Maret 2020, Garis Kemiskinan naik sebesar 4,74 persen, yaitu dari Rp 485.096,- per kapita per bulan pada September 2019 menjadi Rp 508.091,- per kapita per bulan pada Maret 2020.

Garis Kemiskinan terdiri dari komponen Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar

(35)

II-22

dibandingkan peranan komoditi non makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan GKM terhadap GK pada Maret 2020 adalah sebesar 71,78 persen, mengalami sedikit peningkatan dibandingkan September 2019 yang sebesar 71,61 persen.

Pada Maret 2020, beras masih berperan sebagai penyumbang terbesar Garis Kemiskinan baik di perkotaan (17,57%) maupun di perdesaan (21,52%). Keempat komoditi makanan lainnya penyumbang Garis Kemiskinan di perkotaan adalah rokok kretek filter (15,23%), daging ayamras(4,18%),telur ayamras(4,13%), danmie instan (2,39%). Sedangkan di daerah perdesaan, empat komoditi makanan penyumbang terbesar terhadap Garis Kemiskinan secara berturutturut adalah rokok kretek filter (16,64%), telur ayam ras (3,46%), roti (2,85%) serta daging ayam ras sebesar 2,49%. Sementara komoditi non makanan pemberi sumbangan terbesar untuk Garis Kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan sama. Kelima komoditi non makanan penyumbang Garis Kemiskinan di perkotaan adalah biaya perumahan (9,64%), bensin (4,38%), listrik (3,88%), pendidikan (1,59%) dan perlengkapan mandi (1,27%). Di perdesaan lima komoditi non makanan penyumbang Garis Kemiskinan adalah biaya perumahan (10,69%), bensin (2,24%), listrik (1,68%), biaya pendidikan (1,32%) dan perlengkapan mandi sebesar 1,13%.

Dimensi lain yang perlu diperhatikan dalam penanggulangan kemiskinan, selain jumlah dan persentase penduduk miskin, adalah tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Kebijakan penanggulangan kemiskinan selain berupaya memperkecil jumlah penduduk miskin, juga terkait dengan bagaimana mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan yang menggambarkan kesejahteraan penduduk miskin.

Pada periode September 2019-Maret 2020, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) keduanya mengalami peningkatan. Indeks Kedalaman Kemiskinan naik dari 0,800 pada September 2019 menjadi 0,995 pada Maret 2020. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan naik dari 0,226 menjadi 0,229 pada periode yang sama. Peningkatan nilai kedua indeks tersebut mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin

Gambar

Gambar 0-1. Bagan Alir Tahapan dan Tata Cara Penyusunan RKPD  Provinsi Banten
Gambar 0-1. Peta Kawasan Stategis Nasional dan Provinsi Banten
Tabel 0-1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Luas Wilayah dan  Kepadatan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota
Tabel 0-3. Jumlah Kecamatan dan Kelurahan/Desa   Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Banten(Jiwa)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Plafon anggaran sementara berdasarkan program kegiatan Tahun 2017 disesuaikan dengan Prioritas, sasaran pembangunan yang menjadi agenda dalam rancangan RKPD

NO PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL (NAWACITA) RANCANGAN PRIORITAS RKPD PROVINSI JAWA-TIMUR TAHUN 2017 PRIORITAS RKPD TAHUN 2017 dalam kerangka negara kesatuan 4)

Demikian proposal dan rencana program kegiatan LKKS Provinsi Banten tahun 2018 dalam menangani pembangunan usaha kesejahteraan sosial di Provinsi Banten sebagai

RANCANGAN RKPD Rancangan Awal RKPD (Draft I) Rancangan Awal RKPD (Draft II) RPJM Tahun 2010-2014 TANTANGAN AKTUAL MUSREMBANG PROVINSI RANCANGAN AKHIR RKPD PERGUB RKPD TAHUN

ALUR PROSES RKPDJabar Online 2101 BELANJA TIDAK LANGSUNG (BANTUAN KEUANGAN) DOKUMEN RKPD PROVINSI RANCANGAN AWAL RANCANGAN RANCANGAN AKHIR PERGUB RKPD Admin RKPD (Subag

Rancangan awal Rencana Kerja (Renja) Dinas Sosial Provinsi Banten Tahun 2016 ini memuat tentang dokumen perencanaan Dinas Sosial Provinsi Banten untuk masa periode 1 (satu)

Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten melaksanakan penyesuaian/perubahan terhadap Renja Tahun 2020 antara

Peraturan Gubernur Nomor 30 Tahun 2020 tentang Perubahan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Provinsi Banten Tahun 2020 sebagai pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah