• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.3 Kawasan penelitian

4.3.1 Kondisi Eksisting Jembatan Lokasi Penelitian

Idealnya, sempadan sungai sejauh 50 meter ke kiri-kanan sungai adalah area hijau sebagai daerah longsor tebing dan daerah bantaran ekologis. Sementara permukiman dan fasilitas pendukungnya dibangun di luar area tersebut agar ketika banjir bandang terjadi material tidak menimbulkan banyak korban.

Di Kecamatan Semadam bantaran sungai tidak lagi ideal karena permukiman dibangun sangat dekat dengan sungai. Gambar 4.8 menunjukkan titik-titik kajian kerentanan dan penataan permukiman di Kecamatan Semadam, difokuskan pada desa-desa yang terdapat sungai kecil yang memotong jalan

Nasional Kutacane-Batas Sumut karena pada titik ini terbangun permukiman padat masyarakat sehingga merupakan daerah paling berisiko ketika terjadi banjir bandang. Titik-titik tersebut terdapat di Desa Kampung Baru, Titi Pasir, Lawe Mejile dan Lawe Beringin Gayo.

Gambar 4.8 Lokasi yang dilakukan analisis kerentanan dan penataan.

4.3.1.1 Desa Kampung Baru

Di Desa Kampung Baru terdapat sungai dengan kelas Ordo III, hulunya ada di kawasan hutan lindung pegunungan Bukit Barisan dan hilirnya bertemu dengan Sungai Lawe Kinga kemudian ke Kali Alas. Di sungai ini telah terjadi banjir bandang beberapa kali. Terbaru, terjadi pada tanggal 28 Maret 2019 yang menyebabkan 16 rumah rusak ringan dan belasan rumah lainnya terendam material banjir. (Gambar 4.9).

Gambar 4.9 Banjir di Desa Kampung Baru tanggal 28 Maret 2019.

Sumber : BPBD Aceh Tenggara

Material banjir terdiri dari lumpur, batu dan kayu yang tertahan pada jembatan di jalan Nasional Kutacane-Batas Sumut dan melimpah ke permukiman.

Lokasi penelitian Kampung Baru jika dilihat dari atas terdapat permukiman padat penduduk. Pada pertemuan sungai dan jalan Negara terdapat jembatan dan bangunan masjid serta kios masyarakat. (Gambar 4.10).

Gambar 4.10 Tampak atas lokasi penelitian Desa Kampung Baru Sumber : maps.google.com

Sementara itu Gambar 4.11 adalah foto terbaru di titik penelitian Desa Kampung Baru. Sungai dengan lebar 4 meter dan terdapat jembatan sepanjang 5 meter. Bangunan kios dan pagar masjid yang berbatasan langsung dengan sungai.

Ruang antara permukaan air dan balok gelagar jembatan tersisa 0,5 meter saja.

Gambar 4.11 Kondisi sungai dan jembatan Kampung Baru pada tanggal 30 Desember 2020.

Sumber : Dokumentasi Penulis

Penampang sungai sangat terbatas. Limitasi ini adalah kondisi yang sangat tidak ideal dilihat dari sisi kebencanaan. Ketika banjir bandang terjadi materialnya akan melimpah ke sebelah kanan-kiri jembatan dan berpotensi menyebabkan kerusakan yang masif.

4.3.1.2 Desa Titi Pasir

Lokasi selanjutnya adalah Desa Titi Pasir. Jarak antara sungai Kampung Baru dan sungai Titi Pasir adalah 400 meter pada jalan Nasional Kutacane-Batas Sumut sebagaimana ditunjukkan Gambar 4.12. Kedua sungai ini bertemu pada titik tertentu sebelum hulu di pegunungan Bukit Barisan sehingga ketika terjadi banjir bandang material terbawa oleh kedua sungai ini. Itu sebabnya kedua sungai ini terjadi banjir pada waktu yang bersamaan. Sungai Titi Pasir juga merupakan kelas sungai Ordo III yang bermuara di Sungai Lawe Kinga lalu mencapai Sungai Alas.

Gambar 4.12 Tampak atas lokasi penelitian Desa Titi Pasir Sumber : maps.google.com

Sungai ini memiliki lebar sekitar 3 meter dengan dimensi kedalaman yang variatif. Bagian bawah bangunan jembatan memiliki dimensi lebar 3 meter dan tinggi 2,5 meter. Jembatan berkonstruksi beton bertulang dengan kondisi cukup

Jembatan

Kios yang menjorok ke sungai

Permukiman

baik. Bagian palung sungai terlihat tidak banyak sendimen yang menganggu aliran sungai. (Gambar 4.13)

Gambar 4.13 Kondisi sungai dan jembatan Titi Pasir pada tanggal 30 Desember 2020

Sumber : Dokumentasi Penulis

Pada arah Barat Daya jembatan terdapat sebuah bangunan kios bertapak pada setengah palung sungai yang menyebabkan sungai menjadi sempit. Lebar sungai pada posisi ini hanya tersisa sekitar 1 meter. Kondisi ini ketika banjir bandang terjadi akan menyebabkan sendimen melimpah ke segala sisi dan berpotensi merusak permukiman lain di sekitarnya. (Gambar 4.14)

Gambar 4.14 Bangunan menjorok ke sungai Titi Pasir Sumber : Dokumentasi Penulis

4.3.1.3 Desa Lawe Mejile

Lokasi selanjutnya adalah jembatan Desa Lawe Mejile juga terletak di jalan Nasional-Batas Sumut. Tahun 2005 pernah terjadi banjir bandang yang sangat dasyat di sungai ini. Paling tidak ada 5 desa di kecamatan ini berdampak parah.

Banjir bandang terjadi pada 18 Oktober 2005, sekitar pukul 22.00 WIB. Lima desa rusak berat yakni Desa Simpang Semadan, Semadam Awal, Desa Lawe Beringin, Semadan Asal, dan Titi Pasir. 21 orang meninggal dunia, ribuan jiwa lainnya mengungsi dan 526 rumah rusak. Akibat peristiwa ini jalan nasional juga putus.

(Gambar 4.15).

Gambar 4.15 Tampak udara banjir bandang Kecamatan Semadam tanggal 18 Oktober 2005

Sumber : Buletin Jejak Leuser, 2005

Paska banjir bandang besar tahun 2005 sungainya telah dibangun trap melintang untuk memperlambat aliran material banjir. Tebing sungai juga diperkuat pasangan bronjong. Penampang sungai diperlebar dengan normalisasi serta pemanjangan jembatan pada jalan Nasional Kutacane-Batas Sumut yang mencapai 11 meter.

Kini penampang sungai di bawah jembatan mimiliki lebar 9 meter dan tinggi 4,5 meter. Sayangnya di kawasan ini permukiman penduduk kembali tumbuh dan posisinya terlau dekat dengan sungai. (Gambar 4.16).

Gambar 4.16 Kondisi sungai dan jembatan Lawe Mejile pada tanggal 30 Desember 2020

Sumber : Dokumentasi Penulis

4.3.1.4 Desa Lawe Beringin Gayo

Tanggal 12 April 2017 banjir bandang juga terjadi di Desa Lawe Beringin Gayo dengan kerusakan yang masif, menyebabkan 2 korban jiwa, 298 rumah rusak, 127 rumah rusak berat, 91 rumah rusak sedang serta 80 rumah rusak ringan. Jalan Nasional Kutacane-Batas Sumut lumpuh total karena jembatan penghubungnya rusak parah. (Gambar 4.17).

Gambar 4.17 Banjir bandang tanggal 12 April 2020 di Desa Lawe Beringin Gayo Sumber : BPBD Aceh Tenggara

Pasca bencana, penataan telah dilakukan dengan baik. Sungai yang dulunya kecil diperlebar sejauh ratusan meter. Area permukiman direlokasi, pertapakannya direkayasa elevasi dengan metode cut and fill. Area tertentu digali dan materialnya diurug pada daerah lainnya.

Rumah-rumah yang rusak berat direlokasi dan dibangun kembali oleh Pemerintah Daerah. Pemerintah Pusat kemudian juga merekostruksi sebuah jembatan yang melintas di jalan Nasional Kutacane-Batas Sumut. Jembatan diganti box culvet yang memadai dan abutmen dibuat lebih tinggi sehingga penampang

sungai pada jembatan ini mejadi lebih luas. Jembatan dibangun dengan konstruksi box calvert dengan 5 meter x 2,5 meter dan terdapat bangunan tembok penahan

pada tebing sungainya sepanjang 50 meter ke arah hulu dan hilir. Bagian dasar sungai juga dicor beton sebagai perkerasan untuk menghindari aliran sungai mengikis bagian bawah bangunan jembatan sebagaimana ditunjukkan gambar 4.18 berikut ini. Penampang sungai pada jembatan ini sudah memadai sebagai lalu lintas aliran sungai di bawahnya.

Gambar 4.18 Kondisi sungai dan jembatan Lawe Beringin Gayo pada tanggal 30 Desember 2020

Sumber : Dokumentasi Penulis

Dokumen terkait