• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.2 Penataan Sungai Dan Permukiman

5.2.2 Penataan permukiman

Permukiman Desa Kampung Baru berpola linier dengan jalan lingkungan.

Tata letak rumah-rumah dibiarkan sesuai dengan pola awalnya. Hanya saja di antara sungai dan permukiman dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan segala fungsinya secara ekologis, estetis dan ekonomis. Rumah yang ada pada bantaran sungai dibebaslahankan untuk sepenuhnya area ini dijadikan Ruang Terbuka Hijau.

Intervensi lainnya pada permukiman adalah dengan rekayasa sistem transportasi, membuat jalan tembus baru. Beberapa rumah juga dibebaslahankan. Jalan baru sebanyak dua ruas adalah penghubung dari jalan-jalan yang ada. Selengkapnya dijelaskan pada poin-poin berikut ini.

5.2.2.1 Penyediaan Ruang Terbuka Hijau

Ruang Terbuka Hijau di Desa Kampung Baru dimensinya tergantung pada seberapa besar ruang sempadan yang tersedia. Letaknya sepanjang jalan permukiman antara jembatan dan embung kecil. Jalur sungai sepanjang 400 meter yang dinormalisasi kemudian disediakan ruang terbuka di sisi sungai yang mengarah ke permukiman. Ada 13 rumah yang ada di area sepadan sungai dibebaslahankan. Praktis tidak ada lagi bangunan yang langsung berbatasan dengan

sungai. Semua potensi luasan tanah antara sungai dan jalan desa dijadikan Ruang Terbuka Hijau dengan segala manfaatnya secara sosial, ekonomi dan ekologis.

Artinya, antara sungai dan permukiman terhubung oleh ruang terbuka hijau.

(Gambar 5.8). Ruang Terbuka Hijau dapat dijadikan pusat rekreasi skala lokal untuk menambah nilai sebuah lingkungan dengan disediakan fasilitas pendukung seperti pusat jajanan. Langkah ini dipandang penting untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar dengan melakukan aktifitas jual-beli makanan ringan.

Gambar 5.8 Penyediaan RTH Desa Kampung Baru Sumber : Analisa Penulis

Sungai yang berkelok tidak diluruskan tapi dibiarkan alirannya berbelok-belok sesuai dengan kondisi awal yang fungsinya memperlambat aliran material ketika terjadi banjir. Penampang sungai diperluas dengan memperdalamnya pada titik tertentu. Ruang terbuka tidak tipikal dari ujung ke ujung, lebarnya bervariasi sesuai dengan kondisi ruang antara aliran sungai yang ada dengan jalan setapak permukiman.

Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) diharapkan mampu mereduksi nilai kerentanan bencana (ekonomi, sosial, fisik dan lingkungan) karena sifatnya yang multifungsi. Fungsi utama Ruang Terbuka Hijau adalah untuk kebutuhan perbaikan kualitas lingkungan karena merupakan bagian dari sistem pertukaran udara, penghasil oksigen, pengatur iklim mikro, peneduh dari panas, penyerap air hujan, penyedia habitat fauna tertentu, penyerap polusi udara, tanah dan air, serta buffer terhadap angin. Lebih lanjut RTH juga dapat berfungsi secara sosial di mana RTH dapat menjadi tempat interaksi masyarakat sekitar kemudian menimbulkan fungsi secara ekonomis di mana RTH dapat dijadikan lokasi jual beli barang dan jasa tertentu. Kemudian RTH juga dapat berfungsi secara estetis karena unsurnya yang terdiri dari pepohonan yang dipadukan dengan fasilitas pendukungnya dapat menambah keindahan suatu kawasan.

5.2.2.2 Rekayasa Transportasi

Pada permukiman Desa Kampung Baru terdapat 3 ruas jalan lingkungan sebagai sarana transportasi 129 rumah tinggal. Guna mendapatkan lingkungan permukiman yang lebih tanggap bencana maka dibuat jalan baru yang menghubungkan ketiga ruas jalan yang ada. Fungsinya untuk memudahkan akses antar warga dan sebagai jalur singkat untuk evakuasi bencana banjir bandang. Jalan baru sepanjang sekitar 100 meter dengan lebar masing-masing 4 meter. Akibat adanya jalan-jalan baru ini akses antar rumah penduduk menjadi lebih dekat.

Penggunaan kenderaan akan berkurang secara signifikan yang berarti berkurangnya potensi polusi udara dan akan lebih baik secara ekonomis. Di samping itu, pemilihan mobilitas masyarakat dengan berjalan kaki juga akan menjadikan

interaksi sosial antar masyarakat lebih baik karena masyarakat bisa lebih sering bertegur sapa. Hal ini sesuai termasuk ke dalam prinsip uatama pembangunan berkelanjutan yang mengutamakan aspek lingkungan, ekonomis dan sosial secara bersamaan. (Gambar 5.9).

Gambar 5.9 Rekayasa jalan lingkungan permukiman Desa Kampung Baru Sumber : Analisa Penulis

Rekayasa jalan yang dilakukan akhirnya membentuk pola grid/straight street/gridiron yang memiliki keunggulan karena praktis and efisien dalam banyak hal. Pola ini membuat sirkulasi lalu lintas masyarakat menjadi relatif lebih tinggi karena banyak jalan tembus satu sama lain yang berarti pertemuan antar warga menjadi lebih sering terjadi. Namun secara umum pola jalan ini merupakan pola yang paling efektif dan efisien serta ekonomis dalam penataan persil suatu kawasan permukiman.

97 6.1 Kesimpulan

Berdasarkan rangkaian pembahasan dari penelitian ini mengenai kerentanan bencana dan penataan permukiman di Desa Kampung Baru Kecamatan Semadam Kabupaten Aceh Tenggara diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Desa-desa yang telah berulang kali terjadi bencana banjir bandang di Kecamatan Semadam adalah Desa Kampung Baru, Desa Titi Pasir, Desa Lawe Mejile dan Desa Lawe Beringin Gayo. Di desa-desa tersebut terdapat sungai yang memotong jalan nasional Kutacane-Batas Sumut dan terdapat jembatan-jembatan yang menghalangi material banjir bandang lalu meluap mengarah ke permukiman warga dan menyebabkan kerusakan yang masif. Hanya desa Kampung Baru yang belum dilakukan penataan yang memadai, baik penataan sungai maupun penataan permukiman.

2. Pada Desa Kampung Baru terlebih dahulu dilakukan analisa kerentanan bencana sebagai dasar melakukan penataan permukiman yang aman dari bencana. Hasilnya, Indeks Kerentanan Sosial (IKS) berada pada angka 0.56, Indeks, Kerentanan Ekonomi (IKS) ada pada angka 1.00, Indeks Kerentanan Fisik (IKF) diperoleh angka 1.00 dan Indeks Kerentanan Lingkungan (IKL) adalah 0,00.

3. Secara keseluruhan Indeks Kerentanan Bencana di Desa Kampung Baru Kecamatan Semadam adalah 0.724 dan masuk ke dalam kategori tinggi karena berada pada rentang angka 0.67 s/d 1.00 sesuai dengan Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana.

4. Penataan dilakukan pada sungai dan permukiman. Pada sungai dilakukan pembangunan embung kecil, detention storage, normalisasi panambahan penampang sungai, dan rekonstruksi jembatan.

5. Pada permukiman dilakukan penyedian Ruang Terbuka Hijau (dengan segala fungsinya secara ekologis, estetis dan ekonomi), dan rekayasa transportasi dengan menambah 2 ruas jalan yang memotong jalan eksisting.

6.2 Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian kerentanan dan penataan permukiman yang aman dari banjir, penulis menyaranakan beberapa hal yang menjadi rekomendasi kepada pihak terkait, yaitu :

1. Kajian kerentanaan, penataan sungai dan permukiman dari hasil dari penelitian ini dapat diaplikasikan oleh Pemerintah Daerah pada desa-desa lain di Aceh Tenggara dalam rangka menciptakan permukiman yang aman dari banjir bandang.

2. Pemerintah Daerah harus pro aktif dalam menyediakan data-data variabel yang dibutuhkan dalam menghitung indeks kerentanan bencana sehingga diperoleh hasil yang lebih akurat.

3. Agar Pemerintah Daerah menyiapkan Qanun yang lebih detail dalam menyikapi maraknya bencana banjir bandang. Qanun tersebut dapat berupa Rencana Detail Tata Ruang dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.

4. Pemerintah Daerah harus menegakkan Qanun No. 1 tahun 2014 pasal 17 yang mengatur sepadan sungai bertanggul 10-50 meter dan sungai tidak bertanggul 50 meter dari pinggir sungai. Artinya tidak ada permukiman liar yang terbangun di daerah sepadan sungai.

5. Dalam kaitannya dengan Manajemen Pembangunan Kota dan sesuai dengan Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, kajian kerentanan bencana yang diikuti oleh langkah-langkah penataan sumber bencana (sungai) dan permukiman di sekitarnya adalah bagian asas dan tujuan (pasal 3) penataan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dan Pemerintah Daerah harus pro aktif mewujudkannya.

100 Adi, Seno. 2013. Karakterisasi Bencana Banjir Bandang di Indonesia. Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 15 No. 1 Tahun 2013 Hal. 41-51. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Jakarta.

Andiese, Vera Wim dan Setiawan, Altim. 2012. Normalisasi Sungai Lariang Berdasarkan Aspek Guna Lahan. Jurnal Infrastruktur Vol. 2 No. 2 (2012).

Universitas Tadulako. Palu.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tenggara. 2020. Aceh Tenggara Dalam Angka. Kutacane. BPS.

Budi Utomo, Bambang dan Dewi Supriharjo, Rima. 2012. Pemintakatan Risiko Bencana Banjir Bandang di Kawasan Sepanjang Kali Sampean, Kabupaten Bondowoso. JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271. Hal. 58-62. ITS. Surabaya.

Buletin KAMADHIS UGM. 2007. Bencana Alam. Yogyakarta.

Citrayani, Noviana. Sudikno, Antariksa dan Titisari, Ema. 2008. Permukiman Masyarakat Petani Garam di Desa Pinggir Papas, Kabupaten Sumenep.

Arsitektur E-Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008. Universitas Brawijaya. Malang.

Devi N, Syahril. Waginah dan Nirfalini Aulia, Dwira. 2017. Identifikasi Faktor Transformasi Hunian Pada Perumahan Johor Indah Permai Medan. Jurnal Arsitektur Perkotaan “Koridor” Vol.8 No.02. USU. Medan.

Direktorat Sungai dan Pantai, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementrian Pekerjaan Umum dan JICA Projection on Integrated Disaster Mitigation Management for Banjir Bandang. 2012. Petunjuk Tindakan dan Sistem Mitigasi Banjir Bandang. Jakarta.

Doxiadis, Constantinos A. 1968. EKISTICS An Introduction To The Science Of Human Settlements. London. Hutchinson Of London.

Ernawati, Rita. 2015. Optimalisasi Fungsi Ekologis Ruang Terbuka Hijau Publik di Kota Surabaya. EMARA Journal of Architecture. 1(2). 60-68. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. Surabaya.

Ervianto, Wulfram I. dan Felasari. 2019. Sushardjanti, Pengelolaan Permukiman Kumuh Berkelanjutan Di Perkotaan. Jurnal Spektran Vol. 7, No. 2, Juli 2019, Hal. 178 - 186 e-ISSN: 2302-2590. Universitas Udayana. Bali.

Finch, Verno C. 1957. Elements of Geography. McGraw Hill Book Company. New York.

Findayani, Aprilia. 2015. Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Penanggulangan Banjir di Kota Semarang. Jurnal Geografi Media Informasi Pengembangan Ilmu dan Profesi Kegeografian. Universitas Negeri Semarang. Semarang.

Galiion, Arthur B. dan Eisner, Simon. 1996. Pengantar Perancangan Kota, Desain dan Perencanaan Kota. Erlangga. Jakarta.

Ginting, Nurlisa dan Pratama Putra, Nanda. 2019. Mitigasi Bencana Banjir Kawasan Wisata Berkelanjutan (Studi Kasus: Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat). Talenta Conference Series. USU. Medan.

Handayani, Wawan. Noor, Gunawan dan Rodho, Muhammad Taufik. 2019.

Perencanaan Bangunan Penahan Sedimen (Check Dam Ii) Di Daerah Aliran Sungai Ciliman Desa Leuwikopo, Kecamatan Gunungkencana, Kabupaten Lebak. Jurnal of Sustainable Civil Engineering Vol. 1 No. 1 Februari 2019.

Universitas Banten Jaya. Serang.

Heinrich and Hergt. 1999. Atlas Oekologie. Deutsche Verlag. Munchen. Jerman.

Hendryant, Aisyah Nur. 2011. Permukiman Kumuh, Sebuah Kegagalan Pemenuhan Aspek Permukiman Islami. Journal of Islamic Architecture Volume 1 Issue 3 June 2011. UIN Maulana Malik Ibrahim. Malang.

Imran, A.M., Ramlan, A. Arif, S. Baja, S., Paharuddin., Solle, M.S., Alimuddin, I., Sakka., Salman, D. 2013. Kajian Naskah Akademik Master Plan Penanggulangan Risiko Bencana Banjir Bandang. Universitas Hasanuddin.

Makassar.

Irwansyah, Mirza. Nursaniah, Cut. dan Qadri, Laila. 2016. Penerapan Konsep Permukiman Hijau Pada Permukiman Di Wilayah Das Krueng Meureudu Untuk Mitigasi Banjir. Seminar Nasional Sains dan Teknologi Lingkungan II e-ISSN 2541-3880. Universitas Andalas. Padang.

Kamus Bahasa Indonesia. 2008. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Jakarta.

Kwanda, Timoticin. 2000. Penerapan Konsep Perencanaan dan Pola Jalan dalam Perencanaan Real Estate di Surabaya. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol.

28, no. 2, Desember 2000: 106 - 113. Universitas Kristen Petra. Surabaya.

Kerlinger, Fred, N. 2006. Asas-Asas Penelitian Behaviorial. Yogyakarta: Gajah Madah University Press.

Maryono, Agus. 2007. Restorasi Sungai. UGM Press. Jogyakarta.

_____2017a. Pengelolaan Kawasan Sempadan Sungai. UGM Press. Jogyakarta.

Naja, Danis Arbabun. dan Mardiatno, Djati. 2011. Analisis Kerentanan Fisik Permukiman di Kawasan Rawan Bencana Tsunami Wilayah Parangtritis, Yogyakarta. UGM Press. Yogyakarta.

Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Ngo, Thi Thuy., Yoo, Do Guen., Lee, Yong Sik and Kim, Joong Hoon. 2016.

Optimization of Upstream Detention Reservoir Facilities for Downstream Flood Mitigation in Urban Areas.Journal of Water 2016, 8, 290;

doi:10.3390/w8070290. Korea University. Seoul. 2016.

Parker. 1992. Pencegahan dan Manajemen Bencana. http://social-studies17.blogspot.com/2012/11/recognize-pencegahan-bencana-dan.html Diakses tanggal 05 September 2020.

Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No. 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. BNPB. Jakarta.

Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2011 Tentang Sungai. Kemenkumham.

Jakarta.

Putro, Jawas Dwijo dan Nurhamsyah, M. 2015. Pola Permukiman Tepian Air Studi Kasus Desa Sepuk Laut, Punggur Besar dan Tanjung Saleh Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Langkau Betang : Vol. 2, No.1 (ISSN 2355-2484) Hal. 65-76. Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura. Pontinak.

Prasetya, L. Edhi. 2008. Penataan Kawasan Bantaran Sungai Martapura Banjarmasin Sebagai Ruang Terbuka Rekreatif. Seminar Nasional Peran Arsitektur Perkotaan dalam Mewujudkan Kota Tropis. Universitas Diponegoro. Semarang.

Pelly, Dandi Arianto. Saputra, Roni Haryadi. Dewi, Rosita. Rahman, Auliya dan Nasrul, M. Rozi. 2013. Banjir Bandang di DAS Batang Kuranji Kec. Kuranji Kota Padang dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional Program Kreativitas Mahasiswa. Universitas Negeri Padang. Padang.

Ramli, Koehatman. 2010. Pedoman Praktis Manajemen Bencana. Dian Rakyat.

Jakarta.

Ridwan, Ucok Heriady dan Giyarsih, Sri Rum. 2012. Kualitas Lingkungan Permukiman Masyarakat Suku Bajo di Daerah yang Berkarakter Pinggiran Kota dan Daerah Berkarakter Pedesaan di Kabupaten Muna.

Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Volume 8 (2): 118-125. Undip.

Semarang.

Rohmanu, Azhim. Afifuddin dan Hayat. 2019. Pemberdayaan Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) Dalam Penanggulangan Bencana (Studi di Desa Pandansari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang).

Jurnal Respon Publik Vol. 13, No. 6, Tahun 2019, Hal: 12-19. Universitas Islam Malang. Malang.

Rosyidah, Sitti dan Sutriani. 2011. Pola Spasial Perumahan dan Permukiman di Tepi Danau Tempe. Unity Jurnal Arsitektur Volume 1 No. 2 Maret 2011. Hal.

104-116. Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Haluoleo. Kendari.

Sabaruddin, Arief. 2016. Permukiman Berkelanjutan, Telaah Psikologi Sosial.

Erlangga. Jakarta.

Santoso, Dian Hudawan. 2019. Penanggulangan Bencana Banjir Berdasarkan Tingkat Kerentanan dengan Metode Ecodrainage Pada Ekosistem Karst di Dukuh Tungu, Desa Girimulyo, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Jurnal Geografi 16(1) (2019) 7-15. UPN. Jogyakarta.

Sadana, Agus. S. 2014. Perencanaan Kawasan Permukiman. Graha Ilmu. Jakarta.

Siregar, Amril Ma’ruf. Rosadi, R.A. Bustomi dan Arifaini, Nur. 2011.

Maksimalisasi Desain Embung Sebagai Sumber Air Irigasi Untuk Memenuhi Kebutuhan Air Tanaman Tebu. Jurnal Rekayasa Vol. 15. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Sembiring, Novia W. Manurung, Ruminy dan Aulia, Dwira Nirfalini. 2016. Makna Rumah Tinggal Bagi Penghuni Dan Implementasinya Pada Perumahan Terencana Di Kota Medan. Jurnal Seminar Kearifan Lokal dan Lingkungan Binaan. Departemen Arsitektur Universitas Sumatera Utara. Medan.

Sudibyakto. 2011. Manajemen Bencana Di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Jogyakarta.

Sudjarwadi, 1987. Teknik Sumber Daya Air. Diktat Kuliah Jurusan Teknik Sipil, Yogyakarta.

Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta. Bandung.

Sugiyanto, Eko dan Sitohang, Cinly A.V. 2017. Optomalisasi Fungsi Ruang Terbuka Hijau Sebagai Ruang Publik di Taman Ayodia Kota Jakarta Selatan.

POPULIS Jurnal Sosial dan Humaniora Vol.2 No. 3 (2017). Universitas Nasional. Jakarta.

Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 07/SE/M/2018 tentang Pedoman Pembangunan Embung Kecil dan Bangunan Penampung Airnya di Desa. Kementerian PUPR. Jakarta. 2018

Syadza, Wenti Hidayah Nur dan Ernawati, Jenny. 2008. Tata Ruang Hunian Pengrajin Akar Jati Desa Tempellemahbang Kabupaten Blora. Jurnal Arsitektur Vol. 6, No. 3 (2018). Universitas Brawijaya. Malang.

Tanty, Rahayu dan Suyanto, Solichin. 2017. Evaluasi Fungsi Bangunan Pengendali Sedimen (Check Dam) Pengkol Berdasarkan Perubahan Tata Guna Lahan Kali Keduang Kabupaten Wonogiri. E-jurnal Matriks Teknik Sipil. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Tintia, Linda. 2019. Perencanaan Sistem Normalisasi Sungai Bubode Di Kecamatan Tomilito Kabupaten Gorontalo Utara. Jurnal peradaban sains, rekayasa dan teknologi (RADIAL) Vol. 6 No.1. Sekolah Tinggi Teknik (STITEK) Bina Taruna Gorontalo. Gorontalo.

Tharziansyah, Muhammad dan Agusniansyah, Nursyarif. 2004. Pola Permukiman Periferi Kota Banjarmasin Studi Kasus Koridor Jalan A. Yani Km. 6 – Km.

17. Info teknik, volume 5 no.1, Juli 2004. Universitas Lambung Mangkurat.

Banjarmasin.

Turner, John. 1972. Freedom to Build, Dwalling Control of the Housing Project.

Collier Macillan. New York.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

United Nations International Strategy for Disaster Reduction [UNISDR]. 2009.

Disaster Risk Reduction. United Nation. Geneva.

YPM (Yayasan Pengabdi Masyarakat) dan JICA (Japan International Corporation Agency). 2011. Standard Operating Procedure (SOP) Sistem Peringatan Dini Sebelum Kejadian Banjir Bandang DAS Kalipakis di Kabupaten Jember. Jember.

Yudohusodo, Siswono. 1991. Rumah Untuk Seluruh Rakyat. INKOPPOL. Jakarta.

Yusuf, Husainah. Hasnudi dan Lubis, Yusniar. 2014. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Jagung Di Kabupaten Aceh Tenggara. Agrica (Jurnal Agribisnis Sumatera Utara) Vol.7 No.2. USU. Medan.

Dokumen terkait