• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.2 Penataan Sungai Dan Permukiman

5.2.1 Penataan sungai

Penataan sungai dilakukan untuk menyediakan ruang palung sungai yang cukup menampung material banjir bandang sekaligus mereduksi kecepatan aliran banjir agar ada jeda waktu yang cukup bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri.

Penatan sungai mencakup pembangunan embung di hulu sungai, pembangunan detention storage, pembangunan check dam, rekayasa elevasi (normalisasi, memperdalam sungai), dan rekonstruksi bangunan jembatan pada jalan Nasional Kutacane-Batas Sumut. Penataan sungai adalah bagian dari mengamankan permukiman dari bencana banjir bandang sekaligus meningkatkan kualitas lingkungannya.

5.2.1.1 Pembangunan Embung Sungai

Pembangunan embung sungai kecil diatur dalam Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 07/SE/M/2018 tentang Pedoman Pembangunan Embung Kecil dan Bangunan Penampung Airnya di Desa. Embung kecil bangunan penampung air seperti kolam atau cekungan yang berfungsi untuk menyimpan air limpasan sungai dan menjadi sumber kebutuhan air bagi masyarakat dengan volume tampungan 500 sampai dengan 3.000 m3 sengan kedalaman maksimal 3 m. Embung di samping dijadikan sumber air masyarakat untuk keperluan irigasi dan untuk kebutuhan dapur juga akan berfungsi sebagai tadahan material banjir bandang berupa lumpur, batu, dan tanah akan tertampung di dalam embung. Atau jika volumenya melebihi kemampuan embung maka kecepatan banjir bandang akan berkurang secara signifikan. Dengan demikian embung dapat berfungsi ganda dan terpadu, di samping untuk mengatasi banjir juga sebagai sumber air bagi masyarakat. (Gambar 5.2).

Gambar 5.2 Lokasi rencana pembangunan embung sungai kecil Sumber : Olahan peta www.maps.google.com

Di Desa Kampung Baru embung kecil dibangun di hulu sungai dengan jarak 650 meter dari jembatan yang bersilangan dengan jalan Nasional Kutacane-Batas Sumut atau sekitar 300 meter dari permukiman masayarakat.

Gambar 5.3 Komponen embung sungai kecil

Sumber : Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum No. 07 Tahun 2018 Struktur embung kecil sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 5.3 memiliki komponen utama sebagai sumber air, bak pengendap, batas tadah hujan, bak penambung 500-3000 m3, pelimpah, pintu penguras, pipa distribusi air, dan bak air untuk rumah tangga, hewan serta tanaman. Keberadaan embung sungai diharapkan dapat menampung air untuk kebutuhan air bersih masyarakat dan sebagai tampungan material ketika banjir bandang terjadi. Embung juga dapat memperlambat banjir sehingga terjadi jeda dan memberi ruang bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri dan harta benda.

5.2.1.2 Pembangunan Detention Storage

Detention storage adalah tempat penyimpanan material banjir sementara yang dibangun pada bagian sungai yang berarus deras. Tujuannya untuk menyerap

material banjir dan memberi jeda terhadap proses terjadinya banjir bandang.

Berbeda dengan embung, detention storage dalam kesehariannya tidak dimanfaatkan sebagai tempat penampungan air baku tetapi hanya dibiarkan terbuka dengan vegetasi alamiah dan hanya dilakukan perawatan seperlunya.

Gambar 5.4 Rencana detention storage di Desa Kampung Baru Sumber : Olah peta www.maps.google.com

Di Desa Kampung Baru detention storage dibangun pada lahan kosong di seberang sungai dari permukiman dengan jarak 250 meter dari jembatan jalan Nasional Kutacane-Batas Sumut, dimensinya 30 meter x 30 meter dengan kedalaman 3 meter (Gambar 5.4). Fungsinya sebagai tempat penampungan material banjir dan diharapkan dapat mengurangi secara signifikan kecepatan banjir bandang ketika embung sungai di hulu daya tampungnya sudah tidak lagi memadai.

5.2.1.3 Normalisasi, Perluasan Penampang Sungai.

Sungai Kampung Baru tidak diperlebar namun dikeruk sedalam 1,5 meter dan dibuat dinding penahan. Pengerukan dilakukan dari embung hingga jembatan dengan panjang total 650 meter. Pengerukan menyebabkan elevasi muka air turun 1,5 meter sehingga penampang banjir menjadi lebih besar dari semula. Bagian

kiri-kanan sungai yang masih terisisa dijadikan ruang terbuka untuk perkerasan berpori dan vegetasi. Pada perkerasan ditempatkan pula pohon-pohon peneduh dan fasilitas penerangan serta rambu-rambu terkait bencana. (Gambar 5.5).

Gambar 5.5 Denah penataan sungai Desa Kampung Baru Sumber : Analisa Penulis

Perkerasan berpori berarti perkerasan yang mampu menyerap air dan menyalurkannya ke tanah. Contohnya adalah beton pervious atau no fines concrete di mana beton jenis ini dibuat tanpa menggunakan material filler seperti pasir.

Tujuannya agar tercipta pori-pori beton untuk menyerap air. Perkerasan ini juga dapat difungsikan sebagai pedestrian. Pada jalan desa juga dibangun drainase yang berfungsi mengalirkan air dari beton jalan desa yang sudah dibangun kedap air. Air buangan dari drainase ini dialirkan ke dalam sungai melalui pipa-pipa.

Jalan desa adalah jalan eksisting yang dibangun dengan dana desa. Lebar rata-rata 2 meter. Penataan dilakukan dengan membuat drainase tertutup yang

VEGETASI

SUNGAI

PERKERASAN BERPORI

300

JALAN DESA

200 50

disamakan elevasinya dengan permukaan jalan eksisting untuk menambah lebar penampang jalan menjadi 3 meter dan layak dilewati oleh kenderaan roda empat.

Gambar 5.6 Penampang sungai Desa Kampung Baru setelah penataan Sumber : Analisa Penulis

Pada lokasi sebagaimana digambarkan dalam Gambar 5.6, jarak antara sungai dan jalan desa yang memadai maka perkerasan menjadi satu kesatuan dengan penyedian Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan segala fungsinya yang mencakup sosial, ekonomi, dan lingkungan sehingga kualitas sungai dan permukiman menjadi lebih baik di samping diharapkan menjadi lebih tanggap terhadap terjadinya bencana banjir bandang di masa yang akan datang. Artinya, rangkaian penataan sungai dan permukiman merupakan bagian utuh dari mitigasi bencana. Diharapkan, sungai dan bataran yang sudah ditata sedemikian rupa menjadi buffer terhadap potensi kerusakan akibat banjir bandang.

Dengan normalisasi sungai yang dilakukan diharapkan terpenuhi penampang sungai ideal untuk meminimalisir risiko bencana. Tembok penahan didesain dengan struktur yang kokoh dengan tinggi 2,5 meter dari permukaan air dengan pondasi 1 meter. Tembok penahan adalah pengaman palung sungai dari

gerusan yang menyebabkan longsor. Akibat adanya tembok penahan maka aliran air sungai menjadi lebih cepat. Kondisi ini menyimpan bahaya pula. Oleh karena itu bila perlu dibangun pula trap sendimen atau ground sills atau Check dam untuk memperlampat aliran material banjir bandang.

5.2.1.4 Rekonstruksi Jembatan.

Gambar 5.7 menunjukkan jembatan pada titik pertemuan sungai dan jalan negara Kutacane-Batas Sumut yang direkonstruksi untuk menyesuaikan penampang dengan upaya normalisasi sungai sebelumnya. Di samping itu jembatan dipertinggi 1 meter agar penampang sungai lebih luas karena jembatan adalah bangunan di atas sungai yang akan menjadi penghalang aliran material banjir bandang. Handrail jembatan idealnya bentuk konvesional yang terdiri dari tiang-tiang beton dan pipa galvanis. Dari pada membuat dinding jembatan, jenis handrail seperti sangat ideal untuk jembatan yang terletak di sungai rawan bencana banjir bandang karena dapat mengamankan jembatan dan tidak menghalangi material banjir jika banjir berskala besar yang meterialnya melimpah.

Gambar 5.7 Rekonstruksi jembatan Desa Kampung Baru Sumber : Analisa Penulis

Akibat peninggian bangunan jembatan maka oprit juga ikut meninggi dan jalan menjadi ada gundukan. Oleh karenanya untuk meminimalisir momen kejut jembatan dan jumping kendaraan maka oprit dibuat sepanjang 10 meter dengan kemiringan 5 derajat. Kemudian pada jarak yang cukup disediakan pula rambu lalu lintas untuk menegasakan adanya jembatan di titik ini.

Dokumen terkait