TAHUN III
B. Kondisi Eksisting Sanitasi Pengawalan Program dan Kegiatan kedalam mekanisme penganggaran
B. Kondisi Eksisting Sanitasi Pengawalan Program dan Kegiatan kedalam mekanisme penganggaran.
Peningkatan pelayanan sanitasi diharapkan terjadi peningkatan pada setiap tahunnya seiring dengan pembangunan sanitasi, disisi lain target yang diharapkan sering tidak tercapai. Perkembangan pelayanan dan kondisi sanitasi didalam lingkungan masyarakat mengharuskan para pemangku kepentingan untuk melakukan monitoring dan evaluasi agar tujuan, sasaran dan target dapat tercapai. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk dapat
menilai sejauhmana pelaksanaan pembangunan sanitasi dapat terealisasi sesuai dengan rencana didalam pada setiap tahunnya, hal ini akan menggambarkan sejauhmana MPS dapat dilaksanakan.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas maka menjadi hal penting untuk memasukkan program dan kegiatan dalam mekanisme peng‐anggaran pada setiap tahunnya agar mendapatkan prioritas pendanaan sesuai dengan komitmen, namun demikian terkadang tidak dapat di‐anggarkan karena keterbatasan anggaran, kalah dalam prioritas atau hal lain sehingga tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan komitmen didalam MPS. Apabila hal ini terjadi maka harus dilakukan penjadwalan ulang atau meng‐akses sumber pendanaan lain yang mungkin dapat mendanai kegiatan tersebut.
Implikasinya adalah penundaan kegiatan.
Penentuan area berisiko berdasarkan tingkat resiko sanitasi dilakukan dengan menggunakan data sekunder dan data primer berdasarkan hasil penilaian oleh SKPD dan hasil studi EHRA. Penentuan area berisiko berdasarkan data sekunder adalah kegiatan menilai dan memetakan tingkat risiko sebuah area (kelurahan/desa) berdasarkan data yang telah tersedia di SKPD mengenai ketersediaan layanan fasilitas air bersih dan sanitasi dan data umum, meliputi cakupan layanan air bersih dan ketersediaan air bersih;
jumlah jamban; nama kelurahan/desa, jumlah RT & RW, jumlah populasi, luas administratif, luas terbangun; Jumlah KK miskin; serta bila data tersedia, luas genangan.
Penentuan area berisiko berdasarkan Penilaian SKPD diberikan berdasarkan pengamatan,pengalaman, pengetahuan praktis dan keahlian profesi yang dimiliki individu anggota pokja kota/kabupaten. Adapun penentuan area berisiko berdasarkan hasil studi EHRA adalah kegiatan menilai dan memetakan tingkat resiko berdasarkan: kondisi sumber air;
pencemaran karena air limbah domestik; pengelolaan persampahan di tingkat rumahtangga; kondisi drainase lingkungan; aspek perilaku (cuci tangan pakai sabun, higiene jamban, penangan air minum, buang air besar sembarangan).
Proses penentuan area berisiko dimulai dengan analisis data sekunder, diikuti dengan penilaian SKPD dan analisis berdasarkan hasil studi EHRA. Penentuan area berisiko dilakukan bersama‐sama seluruh anggota Pokja berdasarkan hasil dari ketiga data tersebut. Penentuan area berisiko berdasarkan tingkat/derajat risiko ini akan disajikan dalam bentuk tabel dan peta.
Penentuan area risiko sanitasi di Kabupaten Kotawaringin Barat dilakukan dengan cara pemberian skoring pada 94 desa/kelurahan berdasarkan beberapa indikator yang berasal dari data sekunder, persepsi SKPD dan studi EHRA. Indikator‐indikator yang digunakan merupakan hasil kesepakatan pokja searah petunjuk praktis penyusunan Buku Putih Sanitasi tahun 2013, yaitu:
1. Persepsi SKPD merupakan penilaian secara subyektif berdasarkan pengetahuan dan pengalaman di lapangan dari masing ‐ masing institusi yang menjadi anggota Pokja Sanitasi Kabupaten Kotawaringin Barat, dalam hal ini diwakili oleh Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum ( PU) bidang Cipta Karya dan bidang Pertamanan,Kebersihan dan Persampahan,Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Badan Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan terhadap kondisi sanitasi di setiap desa/kelurahan, dengan bobot penilaian sebagai berikut:
a. Angka 1 : Resiko Sanitasi Rendah b. Angka 2 : Resiko Sanitasi Menengah c. Angka 3 : Resiko Sanitasi Sedang
d. Angka 4 : Resiko Sanitasi Tinggi
Adapun kriteria dalam penilaian didasarkan pada hal‐hal berikut:
Kondisi wilayah : meliputi kepadatan penduduk, kondisi genangan air dan daerah terlewati sungai;
Kondisi sosial : meliputi tingkat kemiskinan, tingkat partisipasi dan kelembagaan;
Kondisi layanan sanitasi: meliputi layanan air limbah domestik, persampahan dan drainase.
2. Data sekunder merupakan data yang sudah tersedia di Kabupaten Kotawaringin Barat sebagai indikator untuk menentukan kondisi area risiko sanitasi, antara lain :
a. Kepadatan penduduk : membandingkan antara jumlah penduduk tiap desa/kelurahan wilayah kajian dengan luas wilayah efektif desa/kelurahan;
b. Keluarga Miskin : merupakan prosentasi antara jumlah penduduk miskin dengan jumlah penduduk seluruh di masing‐
masing desa/kelurahan wilayah studi;
c. Tingkat pelayanan air minum PDAM : merupakan cakupan pelayanan PDAM berupa sambungan rumah dan hidran umum dibandingkan dengan total populasi di masing‐masing desa/kelurahan wilayah studi;
d. Akses terhadap kepemilikan jamban pribadi : merupkana perbandingan antara jumlah jamban pribadi dengan jumlah rumah di masing‐masing desa/kelurahan wilayah studi.
3. Studi EHRA merupakan data primer yang diambil dari 11 desa/kelurahan dengan jumlah 440 responden. Beberapa hasil studi
EHRA tersebut dipilih dan disepakati oleh Pokja Sanitasi Kabupaten Kotawaringin Barat sebagai indikator penentu area risiko sanitasi.Untuk lebih jelasnya sebaran area beresiko di Kabupaten Kotawaringin Barat,dapat dilihat pada Gambar :2.1 Peta Area Beresiko Sanitasi.
Berdasarkan data dari Statistik Kotawaringin Barat tahun 2008/2009 tercatat bahwa jumlah jamban keluarga yaitu 15.704 jamban. Jamban keluarga ini sifatnya private yang ada di tiap rumah – rumah penduduk maupun di fasilitas sosial. Sedangkan jumlah sarana pembuangan air limbah mencapai 4.647 lokasi. Aktivitas masyarakat yang bermukim di tepian sungai menjadikan sungai sebagai pusat kehidupan sehari‐hari, dimana proses hidup keseharian bertumpu terhadap sungai.
Dari segi kesehatan lingkungan permukiman, sungai dijadikan tempat membuang limbah rumah tangga dan kotoran (tinja) dengan membuat kakus yang terbuat dari bahan kayu dan mengapung diatas permukaan sungai. Sistem sanitasi tersbut secara swadaya dibuat oleh masyarakat yang bermukim baik secara pribadi maupun kelompok keluarga (komunal). Hal ini ini timbul dikarenakan tidak adanya septictank untuk masyarakat dalam membuang hajat/tinja. Lantai kakus dibuat lebar sedimikian rupa yang mana sisi lantai tersbut digunakan untuk cuci dan mandi. Sehingga secara bersamaan ada yang mandi dan buang hajat.
Tampak disekitar permukiman kotoran tinja yang berserakan disekitar rumah dan pinggiran Sungai Arut.
Adapun isu strategis kondisi pembuangan air limbah di Kabupaten Kotawaringin Barat berdasarkan kondisi eksisting adalah sebagai berikut:
a) Penetapkan lokasi sarana sanitasi pada permukiman tepian sungai
b) Dibutuhkan pencerahan kebiasaan masyarakat tepian sungai
c) Merubah system sanitasi terhadap permukiman yang sudah ada