• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Eksternal

Dalam dokumen Rencana Bisnis dan Anggaran tahun 2012 (Halaman 25-35)

BAB I PENDAHULUAN

A. GAMBARAN KONDISI LPDP

2. Kondisi Eksternal

a. Kondisi Pendidikan di Indonesia

Kondisi pendidikan terus mengalami perbaikan. Hal tersebut terlihat dari beberapa indikator, diantaranya adalah tingkat buta huruf, pendidikan yang telah dilalui penduduk dengan usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi kasar, dan disparitas antar kabupaten/kota.

Namun, beberapa indikator yang diterbitkan lembaga international, misalnya

| Melayani untuk Indonesia Jaya

16

yang berdampak pada rendahnya daya saing perekonomian Indonesia.

Global Competitiveness Report 2011 yang diterbitkan oleh World Economic Forum menunjukkan tingkat daya saing Indonesia berada pada peringkat yang relatif rendah, yakni pada peringkat 46. Dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti China, Malaysia, Thailand dan Singapura, Indonesia masih di bawah negara-negara tersebut. China berada pada peringkat 26, Malaysia berada pada peringkat 21, Thailand berada pada peringkat 39 dan Singapura berada pada peringkat 2. Peringkat Indonesia hanya lebih baik dibandingkan dengan Vietnam yang berada pada peringkat 65 dan Philipina 75. Tabel peringkatan daya saing beberapa negara 4 tahun terakhir adalah sebagai berikut :

Tabel II.2

Peringkat Daya Saing Indonesia

No Negara GCI 2009 GCI 2010 GCI 2011

Peringkat Nilai Peringkat Nilai Peringkat Nilai

1 Singapora 3 5.55 3 5.48 2 5.63 2 Malaysia 24 4.87 26 4.88 21 5.08 3 China 29 4.74 27 4.84 26 4.90 4 Thailand 36 4.56 38 4.51 39 4.52 5 Indonesia 54 4.26 44 4.43 46 4.38 6 Vietnam 75 4.03 59 4.27 65 4.24 7 Philipines 87 3.90 85 3.96 75 4.08

Sumber : The Global Competitiveness Report 2011-2012, World Economic Forum

Global Competitiveness Report 2011 juga menunjukkan, beberapa pilar yang mempengaruhi daya saing Indonesia yang tidak optimal tersebut, yaitu

kelembagaan (institutions), infrastruktur, kondisi ekonomi makro, termasuk

pilar kondisi kesehatan dan pendidikan dasar dan pilar pendidikan tinggi dan pelatihan. Beberapa pilar yang mempengaruhi peringkat daya saing Indonesia selengkapnya adalah sebagai berikut :

| Melayani untuk Indonesia Jaya

17

Tabel II.3

Perkembangan Score dan Ranking 12 Pilar Indikator GCI Indonesia

Sumber : The Global Competitiveness Report 2010 - 2011, World Economic Forum

Bila dibandingkan dengan negara-negara lain, pada pilar kesehatan dan pendidikan dasar, kualitas pendidikan di Indonesia relatif tertinggal. Indonesia berada pada peringkat 64 dari 142 negara. Dibandingkan dengan negara tetangga, peringkat Indonesia lebih rendah daripada Singapura (3), Malaysia (33), dan Filipina (42). Kondisi yang sama juga terjadi pada indikator pendidikan tinggi dan pelatihan. Pada Indikator ini, Indonesia berada pada peringkat 69 dari 142 negara. Dibandingkan dengan negara tetangga, peringkat Indonesia lebih rendah daripada Malaysia (38), Thailand (62) dan Singapura (4).

Rendahnya peringkat pilar kesehatan dan pendidikan dasar Indonesia dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya kualitas pendidikan dasar yang

rendah dan primary education enrollment rate. Sedangkan untuk pilar

pendidikan tinggi dan training dipengaruhi oleh beberapa faktor faktor

diantaranya secondary education enrollment rate, secondary education

| Melayani untuk Indonesia Jaya

18

Tabel II.4

Perkembangan Ranking Indikator Pendidikan Indonesia menurut GCI

Sumber : The Global Competitiveness Report 2010-2011, World Economic Forum

Ketertinggalan pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain juga terlihat indikator lain, seperti perbandingan jumlah mahasiswa strata 3 di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain. Pada tahun 2011, jumlah mahasiswa S3 di Indonesia berjumlah 23.000 orang atau sebesar 98 orang per satu juta penduduk. Angka ini jauh di bawah negara-negara maju, misalnya Amerika, yang mahasiswa S3-nya berjumlah 3.100.000 orang atau 9.850 orang untuk setiap satu juta penduduk. Bahkan dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia, Indonesia juga masih jauh tertinggal. Jumlah mahasiswa S3 di Malaysia mencapai 14.000 orang atau 509 orang per satu juta penduduk. Dengan asumsi pertambahan mahasiswa S3 di Indonesia

| Melayani untuk Indonesia Jaya

19

sebesar 15% per tahun, Indonesia baru bisa menyamai Malaysia pada kondisi saat ini pada tahun 2022. Data perbandingan mahasiswa S3 Indonesia dengan beberapa negara adalah sebagai berikut :

Tabel II.5

Perbandingan Mahasiswa S3 Beberapa Negara Negara Jumlah S3

Tahun 2011

Populasi S3 per 1 Juta Penduduk Indonesia 23.000 234.000.000 98 Malaysia 14.000 27.500.000 509 India 1.690.000 1.198.000.000 1.410 Jerman 328.000 82.200.000 3.990 Perancis 320.000 62.300.000 5.136 Jepang 819.000 127.200.000 6.438 USA 3.100.000 314.700.000 9.850

Sumber : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012

Dilihat dari indikator jumlah publikasi ilmiah, Indonesia sebenarnya telah mengalami perkembangan, yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel II.6

Data Publikasi Indonesia per tahun 1996-2010

Sumber : SCImago Journal & Country Rank, 2012

Namun, bila dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia masih tertinggal. Indonesia berada posisi 64 dari 236 negara yang terdata. Peringkat ini lebih rendah dibandingkan negara ASEAN yang lain. Singapura unggul pada ranking 32, disusul Thailand 42, dan Malaysia 43.

| Melayani untuk Indonesia Jaya

20

Sementara itu, dalam hal prasarana fasilitas pendidikan, sebagai konsekuensi letak geografis Indonesia yang berada pada daerah bencana, kerusakan fasilitas pendidikan di Indonesia menunjukkan angka yang cukup memprihatinkan. Sebaran kerusakan fasilitas pendidikan tersebut dapat disajikan dalam diagram lingkar sebagai berikut :

Gambar II.1

Kerusakan Fasilitas Pendidikan di Berbagai Propinsi

Sumber : Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Kondisi pendidikan sebagaimana tersebut di atas tidak lepas dari kondisi sosial, ekonomi, budaya, teknologi dan politik antara lain :

1) Geografis, Demografis, Sosial, Budaya dan Lingkungan

Kondisi sosial, budaya, dan lingkungan yang mempengaruhi pengelolaan dana pengembangan pendidikan antara lain :

a) Indonesia sebagai negara kepulauan dan termasuk dalam negara rawan bencana, yang banyak menimbulkan kerusakan pada fasilitas pendidikan;

b) Laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi;

c) Kesenjangan aksesibilitas terhadap pendidikan antara penduduk perkotaan dan pedesaan, antara penduduk kaya dan miskin, antara wilayah maju dan wilayah tertinggal; dan

d) Perbedaan persepsi kebutuhan pendidikan dari aspek budaya (etnis dan gender).

| Melayani untuk Indonesia Jaya

21

Sumber: Bank Indonesia

2) Ekonomi

Kondisi ekonomi yang mempengaruhi pengelolaan Dana Pengembangan Pendidikan Nasional antara lain :

a) Tingginya angka kemiskinan dan pengangguran; b) Kesenjangan pertumbuhan ekonomi antarwilayah;

c) Meningkatnya daya saing dan isu globalisasi ekonomi yang mengancam perekonomian nasional;

d) Komitmen pemenuhan pendanaan minimal 20% (dua puluh persen) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

3) Politik, Pertahanan dan Keamanan

Kondisi politik, pertahanan dan keamanan yang dapat mempengaruhi pengelolaan Dana Pengembangan Pendidikan Nasional antara lain : a) Kemungkinan adanya ketidakstabilan politik, pertahanan dan

keamanan;

b) Ancaman disintegrasi bangsa; dan

c) Ketidakselarasan peraturan perundangan yang berdampak pada penyelenggaraan pendidikan.

b. Kondisi Ekonomi Makro

Selama tahun 2011, kondisi perekonomian Indonesia mengalami

pertumbuhan cukup signifikan. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar II.2

| Melayani untuk Indonesia Jaya

22

Tabel tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi naik dari 6,1% pada tahun 2010 menjadi 6,5 persen menjadi sebesar 6,50% tahun 2011.

Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, yang didorong oleh peningkatan pendapatan riel karena inflasi yang rendah. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh pendapatan dari hasil ekspor yang tumbuh tinggi sepanjang tahun 2011. Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut tentu menggembirakan, karena terjadi ketika perekonomian global kurang kondusif yang ditandai rendahnya pertumbuhan ekonomi negara-negara Eropa dan Amerika. Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya lebih rendah bila dibandingkan dengan China dan India.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2012 ini juga mengalami keadaan yang relatif stabil seperti tahun 2011 yakni sebesar 6,5%

(yoy). Kestabilan ini bersumber dari kestabilan konsumsi rumah tangga dan akselerasi investasi. Konsumsi rumah tangga masih didorong oleh optimisme konsumen sehingga konsumsi tumbuh dengan stabil. Sedangkan akselerasi investasi didukung oleh agresifitas investor di tengah iklim usaha yang semakin baik dan kondusif, semakin kuatnya pendanaan, dan terjadinya percepatan pembangunan proyek infrastruktur terutama dalam bidang kelistrikan.

Inflasi pada tahun 2011 juga relatif terkendali, yaitu sebesar 3,79%. Tingkat inflasi ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2010 yaitu sebesar 6,96% yang terus mengalami kestabilan sampai dengan kuartal I tahun 2012 yang

besarnya 0,88% (qtq) dan 3,79% (yoy). Tekanan inflasi ini masih tetap

terkendali meskipun sedikit mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Beberapa factor yang mempengaruhi tingkat inflasi antara lain adalah ekspektasi yang meningkat sejalan dengan rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Sepanjang triwulan I 2012, beberapa factor eksternal yang mendorong inflasi antara lain kenaikan harga komoditas internasional non pangan terutama komoditas emas dan energy yang meningkat cukup signifikan serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap US Dollar.

| Melayani untuk Indonesia Jaya

23

Gambar II.3

Perkembangan Inflasi per Triwulan I 2012

Sumber : Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan I 2012

Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, meskipun melemah pada tahun 2011, namun masih pada kisaran Rp 9.000. Pergerakan Kurs Dollar dari tahun 1993 adalah sebagai berikut :

Gambar II.4

Nilai Tukar Rupiah vs USD

| Melayani untuk Indonesia Jaya

24

Penguatan kurs pada tahun 2011 dibandingkan tahun 2010 merupakan upaya bertahan Indonesia setelah dikhawatirkan akan digoncang oleh krisis enkonomi internasional. Pada triwulan I 2012 Rupiah mengalami tekanan hingga mencapai level Rp9.066 per dolar AS dari yang sebelumnya Rp8.972 per dolar AS pada triwulan IV tahun 2011. Pelemahan rupiah tersebut terutama disebabkan karena persepsi risiko domestik terhadap kenaikan ekspektasi inflasi yang semakin meningkat karena adanya kepanikan global terhadap krisis benua Eropa.

Gambar II.5

Perkembangan Nilai Tukar Rupiah per Triwulan I 2012

Sumber : Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan I 2012

Kondisi ekonomi makro yang baik selama beberapa tahun terakhir, khususnya tahun 2011, juga ditandai dengan kinerja perbankan Indonesia masih mampu mempertahankan kinerja. Aset perbankan dan laba yang

meningkat, Capital Edequacy Ratio (CAR) yang memadai di atas ketentuan

permodalan minimum dan Biaya Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Operasional (BOPO) yang membaik. Dengan kondisi tersebut,

sampai awal tahun 2012, BI rate dipertahankan pada tingkat 5.75%.

Pada tahun 2011, tingkat suku perbankan sedikit mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Deposito satu bulan misalnya, pada tahun 2010 rata-rata sebesar 6,64%, naik menjadi rata-rata sebesar 6,74% pada tahun 2011. Tingkat suku bunga rata-rata perbankan nasional dari tahun 2008 sampai 2011 adalah sebagai berikut :

| Melayani untuk Indonesia Jaya

25

Tabel II.7

Suku Bunga Rata-rata Perbankan Nasional

2008 2009 2010 2011 2012 Giro 2.90% 2.39% 2.23% 2.24% 2.08% Deposito - 1 bulan 10.71% 6.77% 6.64% 6.74% 6.05% - 3 bulan 11.17% 7.45% 6.94% 7.08% 6.56% - 6 bulan 10.32% 7.89% 7.07% 7.12% 6.94% -12 bulan 10.34% 9.54% 7.65% 7.14% 6.82%

Sumber : Bank Indonesia, 2012

Di samping itu, kondisi pasar modal juga bertahan pada kondisi yang cukup baik. IHSG mengalami kenaikan sebesar 3,2% pada akhir tahun 2011 yang ditutup di level 3.821 dari tahun 2010 yaitu 3.703. Kinerja pasar modal yang

baik tersebut juga ditopang oleh kenaikan sovereign credit rating Indonesia

dari Moodys. Rating Indonesia yang semula Baa1 yang tergolong

“speculative grade” menjadi Baa3 yang tergolong "investment grade".

Pencapaian ini merupakan pertama kali sejak tahun 1997.

Dengan kondisi tersebut, tantangan bagi LPDP adalah bagaimana memanfaatkan kinerja ekonomi makro dan kinerja sektor finansial yang cukup bagus untuk memperoleh pendapatan sesuai yang diharapkan dan menyalurkan hasil pengembangan dana sesuai visi dan misinya.

B. ASUMSI RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN TAHUN 2012

1. Asumsi Ekonomi Makro

Pada APBN Tahun 2012, ekonomi makro diasumsikan pertumbuhan ekonomi 6,7%, nilai tukar rupiah Rp 8.800 per dollar dan inflasi 5,3%. Angka asumsi tersebut lebih optimis dibandingkan dengan tahun 2011. Ekonomi tahun 2011 tumbuh 6,5%, nilai tukar stabil sekitar Rp 9.000 per dollar dan inflasi cukup

terkendali pada 3,79%. Karena inflasi yang stabil tersebut, BI rate juga stabil pada

kisaran 6%-6,75%.

Sedangkan berdasarkan APBNP tahun 2012, asumsi ekonomi makro Indonesia sedikit mengalami perubahan dimana tingkat pertumbuhan ekonominya hanya 6,5% atau lebih rendah 0,2% dari asumsi yang ditetapkan dalam APBN tahun

Dalam dokumen Rencana Bisnis dan Anggaran tahun 2012 (Halaman 25-35)

Dokumen terkait