BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Permasalahan Masyarakat Petani
2. Kondisi Eksternal
a. Pendistribusian Pupuk dan Harga Pupuk
Dalam melakukan kegiatan usaha taninya, masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede tidak hanya menghadapi kendala dari dalam diri mereka sendiri. Permasalahan lain timbul dari pihak luar juga, diantaranya adalah permasalahan pendistribusian pupuk dan harga pupuk dari pengecer resmi tidak sesuai apa yang telah disepakati dalam pertemuan kelompok tani dan masyarakat petani.
Masalah ini bermula dari laporan sebagian masyarakat petani yang ingin membeli pupuk ke pengecer di Kelurahan Tegalgede, banyak masyarakat yang tidak mendapatkan pupuk bersubsidi sesuai dengan jatah mereka dan sesuai dengan lahan yang mereka kelola. Hal yang kedua terjadi perbedaan harga pupuk dari tiap-tiap kelompok tani Makarti Tani I-IV, hal ini terlihat dari setiap masyarakat petani yang membeli pupuk dari
kelompok tani yang berbeda oleh pengecer diberi harga yang tidak sama. Padahal untuk harga bersubsidi seharusnya tidak ada masalah tentang harga karena harga pupuk bersubsidi telah disepakati bersama oleh masyarakat petani dalam pertemuan kelompok tani. Dalam kesepakatannya kelompok tani dengan pengecer sudah dipilah-pilah mana itu untuk keuntungan pengecer dan mana untuk simpanan kelompok tani yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk mengadakan pertemuan.
Hal ini menimbulkan gejolak masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede yang merasa dipermainkan oleh pengecer setempat yang sengaja mempermainkan penyaluran dan harga pupuk untuk mengambil keuntungan pribadi. Masyarakat petani sendiri merasa dirugikan karena harga pupuk sudah mahal ditambah mereka tidak mendapatkan pupuk sesuai dengan jatah menurut luas lahan masing-masing.
Seperti yang dikemukakan oleh Pak Hasyim, beliau mengatakan bahwa :
“permasalahan penyaluran pupuk dan harga pupuk di Kelurahan
Tegalgede ini mutlak adalah kesalahan pengecer yang nakal yang
ingin mengambil keuntungan pribadi”
(Hasil wawancara tanggal 21 Februari 2012)
Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan Pak Tarmo, beliau mengatakan bahwa :
“pupuk sakmeniko sakjano sakderenge sampun wonten
kesepakatan antaranipun masyarakat petani wonten pertemuan kelompok tani kalian pengecer Kelurahan Tegalgede. Tapi praktekipun pengecer sengojo maringi regi pupuk subsidi sak inggile kesepakatan ingkang sampun disepakati lan parahipun
pengecer nyukani regi dateng tiap kelompok tani niku benten- benten. Kulo selaku ketua gapoktan Kelurahan Tegalgede angsal laporan saking masyarakat tani. Mboten niku mawon pengecer nggih mboten maringi jatah pupuk subsidi dateng petani ingkang nopo dados hak petani. Kenakalan pengecer meniko damel resah
masyarakat tani wonten mriki.”(mengenai distribusi pupuk itu
sebelumnya sudah ada kesepakatan antara masyarakat petani dalam pertemuan dengan pengecer Kelurahan Tegalgede. Tapi prakteknya pengecer sengaja memberi harga pupuk subsidi diatas kesepakatan yang sudah disepakati dan parahnya pengecer memberi harga ke setiap kelompok tani itu beda-beda. Saya selaku Ketua Gapoktan Kelurahan Tegalgede mendapat laporan dari masyarakat petani. Kenakalan pengecer itu membuat keresahan masyarakat petani disini).
(Hasil wawancara tanggal 22 Februari 2012)
Dari pernyataan para informan di atas dan dari pengamatan peneliti di lapangan, dapat diperolah kesimpulan bahwa peran PPL dan dinas terkait sangat diperlukan sebagai penyelenggara sekaligus fasilitator antara para petani dengan pengecer pupuk untuk membahas permasalahan pupuk tersebut, agar harga dan pendistribusian pupuk kepada petani dapat berjalan stabil. Pertemuan antara para petani dan pengecer pupuk yang diselenggarakan oleh PPL dan dinas terkait tentunya tidak dilakukan sekali dua kali, melainkan secara rutin dan terus menerus, agar lama kelamaan tercipta keakraban antara pihak-pihak yang terlibat tersebut.
b. Kurangnya Bantuan Pemerintah Terhadap Masyarakat Petani
Di era otonomi daerah, pemerintah daerah Kabupaten Karanganyar terus berupaya melakukan pembangunan daerah yang mana dilaksanakan di berbagai sektor yang strategis. Hal tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan daerah serta mampu mengelola berbagai potensi yang dimiliki oleh suatu daerah. Namun, pembangunan daerah yang
terjadi cenderung tidak sesuai dengan keberlanjutan pembangunan di bidang pertanian. Seperti hasil temuan di lapangan oleh peneliti, masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede mengeluhkan mengenai anggaran dari pemerintah yang ditujukan untuk mereka. Padahal akhir-akhir ini banyak sekali kendala yang mereka hadapi dalam rangka menyelenggarakan kegiatan usaha tani mereka, diantaranya adalah bantuan dana untuk kelompok tani yang kurang untuk mensejahterakan masyarakat petani dan kurangnya bantuan saprodi (sarana produksi) berupa benih dan pupuk yang berkualitas yang bisa meningkatkan produktivitas masyarakat petani.
Oleh karena itu masyarakat petani meminta kepada pemerintah daerah untuk lebih memikirkan nasib mereka. Masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede menginginkan kepada pemerintah daerah untuk menganggarkan APBD yang lebih besar demi kelangsungan kehidupan pertanian mereka. Apabila dana yang di dapatkan lebih besar maka masyarakat petani lebih mudah menguatkan kelompok taninya dengan banyak melakukan kegiatan di luar pertanian, seperti misalnya memberdayakan peran kelompok tani “Wanita Tani Lestari” dalam pembuatan rambak dari ampas tahu agar bisa diproduksi secara banyak dan diedarkan dipasaran. Untuk saat ini pembuatan rambak dari ampas tahu dimanfaatkan hanya sebatas untuk camilan keluarga tani dan belum diedarkan di pasaran. Pemberdayaan kepada kelompok wanita tani apabila dapat berkembang dengan benar maka sedikit banyak akan membantu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani di wilayah Kelurahan Tegalgede.
Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Bu Endang, selaku koordinator PPL, beliau mengatakan :
“bantuan pemerintah daerah memang belum bisa menyentuh segala aspek kehidupan pertanian di Kelurahan Tegalgede namun bantuan yang diberikan kepada masyarakat petani tidak dalam bentuk dana saja melainkan mulai dari bangunan dan infrastruktur dan lainnya. Bantuan dana untuk kelompok tani untuk sekarang ini ada tapi belum cukup untuk membuat para kelompok tani bisa mengembangkan usaha seperti apa yang mereka inginkan. Bantuan dana untuk kelompok tani masih bersifat untuk menghidupkan lagi kelompok yang dulunya mati atau vakum menjadi hidup lagi dengan kegiatan-kegiatan dalam hal simpan pinjam misalnya sehingga mereka bisa berkelompok lagi”.
(Hasil wawancara tanggal 20 Februari 2012)
Pernyataan tersebut diperkuat oleh pernyataan dari Pak Narso yang mengemukakan bahwa :
“Bantuan saking pemerintah pusat kalian pemerintah daerah
dateng Kelurahan Tegalgede khususipun ingkang kulo rasakne nggih kurang mas. Sakniki masalae masalah masyarakat tani meniko kathah. Kurange bantuan dana damel penguatan kelompok tani. wonten bantuan winih saking pemerintah tapi tiap petani namung angsal 5 Kg niku kulo raos nggih kurang damel nyukupi kebutuhan tanem kulo..”.
(bantuan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah ke Kelurahan Tegalgede khususnya yang saya rasakan ya kurang mas. Sekarang masalahnya permasalahan masyarakat petani banyak dan kurangnya bantuan dana dalam penguatan kelompok tani. Ada bantuanpun berupa benih dari pemerintah tetapi tiap petani Cuma dapat 5 Kg saja dan itu saya rasa kurang buat mencukupi kebutuhan tanam saya)
Senada dengan pernyataan Pak Narso, Bu Rini selaku kelompok wanita tani, yang juga mengeluhkan hal yang serupa sebagai berikut :
“kelompok ‘wanita tani lestari’ dereng dangu madek mas tapi
sampun wonten kegiatan ingkang sae yoiku damel rambak saking ampas tahu. Kulo pikir yen niku dpasarne mbo menawi saget dtompo masyarakat tapi sampe sak niki niku taseh angen-angen kemawon dereng wonten bantuan dana damel kelompok saking
pemerintah namung PPL mawon maringi pengarahan”.
(kelompok ‘wanita tani lestari’ belum lama berdiri mas tetapi sudah ada kegiatan yag sudah bagus yaitu membuat rambak dari ampas tahu. Saya pikir kalau rambak itu dipasarkan mungkin bisa diterima masyarakat tetapi sampai sekarang ini hanya sebatas angan-angan saja belum ada bantuan dana atau apapun buat kelompok dari pemerintah hanya PPL saja yang memberi pengarahan).
(Hasil wawancara tanggal 24 Februari 2012)
Dari keterangan diatas dapat diperoleh kesimpulan bahwa ternyata pemerintah daerah kurang menyentuh potensi - potensi sumber daya yang ada di Kelurahan Tegalgede. Seharusnya pemerintah daerah lebih memperhatikan juga terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan usaha tani yang dilakukan oleh kelompok petani pria di wilayahnya maupun kelompok wanita taninya agar lebih berdaya dan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani agar mereka mempunyai kehidupan yang lebih baik.
Tabel 4.6 Matriks Analisa Permasalahan Masyarakat Petani Kelurahan Tegalgede
Kondisi Internal Penyebab Dampak
Kepemilikan Lahan yang kurang
1. Persawahan/ lahan persawahan yang
1. Ketersediaaan lahan yang kurang/ sempit menjadikan
dijadikan tempat tinggal (rumah, toko, kantor, dll). 2. Harga lahan/sawah
yang sudah mahal.
masyaraat petani di Kelurahan Tegalgede kurang produktif, sehingga sulit untuk menopang kebutuhan hidup keluarganya.
2. Untuk harga sawah atau lahan baru sudah tidak bisa dijangkau lagi oleh masyarakat petani.
Hama / Penyakit 1. Cuaca yang ekstrim. 2. Sistem pola tanam yang kurang bervariasi.
1. Cuaca yang sulit ditebak dan berubah-ubah
mengakibatkan munculnya hama/ penyakit mudah menyerang persawahan dan bisa berakibat gagal panen bagi petani.
2. Pola tanam yang tidak berubah/ bervariasi memberikan dampak yang kurang bagus bagi usahatani, karena hama terpusat di lahan tersebut sehingga sulit untuk mengatasinya. Untuk itu diperlukan sistem pola tanam bergilir.
Modal 1. Kebutuhan
masyarakat petani yang tinggi untuk kebutuhan
keluarganya.
1. Masyarakat petani kesulitan dalam mengerjakan lagi sawahnya karena modal dari hasil panen mereka sudah habis untuk kehidupan
2. Kurangnya
informasi dalam proses pengajuan kredit ke bank atau lembaga lainnya.
keluarga mereka masing- masing.
2. Masyarakat petani lebih memilih jalan yang cepat dan mudah untuk mencari pinjaman modal tanpa harus melewati syarat-syarat yang ribet yaitu dengan pinjam ke renternir.
Kondisi Eksternal Penyebab Dampak
Distribusi dan harga Pupuk 1. Penyaluran pupuk yang sengaja dimainkan oleh pengecer.
2. Harga pupuk yang tidak sesuai antara masyarakat petani di kelompok tani satu dengan yang lainnya
1. Masyarakat petani kesulitan dalam memperoleh pupuk bersubsidi, padahal jatah pupuk subsidi mereka itu harusnya tersedia di pengecer resmi Kelurahan Tegalgede.
2. Harga yang tidak sesuai menimbulkan gejolak dalam masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede dan untuk menebus pupuk yang terlalu tinggi masyarakat petani merasa keberatan. Minimnya Bantuan Pemerintah 1. Kurangnya perhatian dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat terhadap masyarakat petani.
1. Minimnya bantuan yang dirasakan oleh masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede berdampak lemahnya kelompok tani untuk mengadakan kegiatan
atau usahatani yang bisa menambah pendapatan mereka.
Sumber: Data Primer 2012
C. PERAN PENYULUH PERTANIAN DALAM MEMBERDAYAKAN