Secara geografis wilayah Kota Tangerang berada antara 6º 6 LS - 6º 13 LS dan 106º 36 - 106º - 42º BT, dengan luas wilayah 183,780 km2 (termasuk luas Bandara Soekarno Hatta sebesar 19,69 km2) jarak tempuh ±60 Km dari Ibukota Provinsi Banten dan sekitar 27 Km dari DKI Jakarta. Secara administratif wilayah Kota Tangerang terbagi habis
ke dalam 13 Kecamatan dan 104 Kelurahan yang terdiri atas 931 Rukun Warga (RW) dan 4.587 Rukun Tetangga (RT), dengan batas
wilayah administratif adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Teluknaga dan Kecamatan Sepatan Kabupaten Tangerang;
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Curug Kabupaten Tangerang, Kecamatan Serpong dan Pondok Aren Kota Tangerang Selatan;
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Jakarta Barat dan Jakarta Selatan DKI Jakarta;
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Pasar Kemis dan Kecamatan Cikupa Kabupaten Tangerang.
Letak geografis yang sedemikian menguntungkan bagi Kota Tangerang, terutama dalam pengembangan ekonomi wilayah. Karena secara geografis, Kota Tangerang merupakan sebuah kota yang sangat dinamis karena merupakan hinterland langsung dari DKI Jakarta, sebagai bagian dari Propinsi Banten dan wilayah Metropolitan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (jabodetabek), Kota Tangerang mempunyai tiga fungsi utama dalam proses perkembangannya, yaitu pertama Kota Tangerang mampu melakukan fungsi utamanya yaitu melayani masyarakat Kota Tangerang dengan karakteristik perkotaan dan peningkatan kesejahteraan wilayah, kedua, Kota Tangerang sebagai kota bagian dari metropolitan diharuskan mampu untuk memiliki klasifikasi Kota Metropolitan dan pelayanan publik setara metropolitan, dan terakhir adalah Kota Tangerang merupakan bagian yang tidak terlepas dari Propinsi Banten merupakan gerbang utama
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
P e n d a h u l u a n | I-10
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 dari outlet Propinsi Banten dengan DKI Jakarta dan sebaliknya. Dengan karakteristik tersebut Kota Tangerang dihadapkan pada potensi sebagai bagian dari wilayah metropolitan, dan interaksi antar wilayah dan kendala karena keterbatasan perkembangan kota di mana lahan perkotaan yang semakin terbatas sedangkan aktivitas ekonomi terus bergerak dengan cepat, Kota Tangerang harus menata pembangunannya secara optimal.
Sebagai daerah hinterland DKI Jakarta, perkembangan pembangunan ekonomi Kota Tangerang relatif bergerak cepat dan menumbuhkan pola-pola pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Kota Tangerang. Pola pertumbuhan dengan titik tumbuh yang banyak (polisentris) diharapkan dapat mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah di Kota Tangerang. Selain untuk mengurangi kesenjangan, diharapkan Kota Tangerang mampu untuk memberikan counter magnet dari Jakarta dan menjadikan Kota Tangerang sebagai kota yang memiliki spesialiasi tertentu dibandingkan kota-kota lain yang ada di DKI Jakarta dan mengantisipasi terhadap issue megapolitan di masa depan. Masyarakat datang ke Kota Tangerang, karena pelayanan publik atau aktivitas lain tidak dapat dirasakan di kota-kota lainnya yang ada di sekitar Jabotabek. Sehingga diharapkan dalam jangka panjang Kota Tangerang dapat memberikan pelayanan bagi masyarakat secara maksimal, berkelanjutan, dan merupakan bagian dari megapolitan secara proporsional.
Secara umum, wilayah Kota Tangerang berada 14 meter di atas permukaan laut, curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Februari yaitu sebanyak 286 mm. Sedangkan rata-rata kelembaban udara 79,10 persen dan temperatur udara 27,30°C, dan rata-rata berada pada ketinggian 10 - 30 meter di atas permukaan laut. Bagian Utara memiliki rata-rata ketinggian 10 meter di atas permukaan laut, sedangkan bagian Selatan memiliki ketinggian 30 meter di atas permukaan laut.
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 Dilihat dari kemiringan tanahnya, sebagian besar Kota Tangerang mempunyai tingkat kemiringan tanah 0-3% dan sebagian kecil (yaitu di bagian Selatan kota) kemiringan tanahnya antara 3-8% berada di Kelurahan Parung Serab, Kelurahan Paninggilan Selatan dan Kelurahan Cipadu Jaya.
Sedangkan dari aspek penggunaan lahan memperlihatkan bahwa Kota Tangerang merupakan daerah perkotaan (urbanized area). Konkritnya luas wilayah yang sudah terbangun mencapai 48% ( 8.811,98 Ha), sedangkan sisanya sekitar 52% ( 9.546,321 Ha) belum terbangun.
Lahan yang telah terbangun tersebut pemanfaatannya meliputi:
permukiman, industri, perdagangan dan perkantoran. Pola penggunaan lahan ini secara spasial dijabarkan dalam kebijaksanaan pengembangan struktur tata ruang.
Gambar 1.2 Peta Kota Tangerang
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
P e n d a h u l u a n | I-12
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 2. Kondisi Demografis
a. Jumlah Penduduk
Identifikasi terhadap jumlah, laju pertumbuhan, komposisi dan distribusi penduduk akan membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan dan program pembangunan. Jumlah penduduk yang besar dapat menjadi potensi pembangunan, namun dapat pula menjadi beban dalam proses pembangunan apabila kualitas sumber daya tersebut tidak bagus. Oleh karena itu penanganan persoalan kependudukan tidak hanya mengarahkan pada upaya pengendalian jumlah penduduk akan tetapi juga menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumberdaya manusia.
Pertumbuhan penduduk di Kota Tangerang yang cukup tinggi tidak hanya disebabkan oleh pertumbuhan secara alamiah, dan bukan program KB tidak berhasil tetapi tidak lepas karena pengaruh migran yang masuk karena daya tarik Kota Tangerang dari berkembangnya potensi Industri, perdagangan dan jasa sehingga mengakibatkan tersedianya lapangan kerja dan kondusifnya kesempatan berusaha. Disamping itu sebagai daerah yang berbatasan dengan Ibukota Negara, Kota Tangerang mau tidak mau harus menampung pula penduduk yang aktifitas ekonomi kesehariannya di wilayah DKI Jakarta.
Penyebaran atau distribusi penduduk pada dasarnya merupakan komposisi penduduk berdasarkan geografis, akan lebih bermakna apabila dikaitkan dengan kepadatan. Dari data penyebaran penduduk dapat terlihat di wilayah mana terjadi pemusatan penduduk sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini.
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 Tabel 1.1
Luas Wilayah, Jumlah Penduduk Dan Kepadatan Penduduk Tahun 2008
Kecamatan Luas Wilayah
(Km2) Jumlah Kepadatan Penduduk/Km2
1. Ciledug 8,77 108.780 12.404
2. Larangan 9,4 137.621 14.641
3. Karang Tengah 10,47 101.488 9.693
4. Cipondoh 17,91 162.419 9.069
5. Pinang 21,59 133.743 6.195
6. Tangerang 15,79 129.489 8.201
7. Karawaci 13,48 163.195 12.106
8. Cibodas 9,61 131.373 13.671
9. Jatiuwung 14,41 117.688 8.167
10. Periuk 9,54 108.482 11.371
11. Neglasari 16,08 91.346 5.681
12. Batuceper 11,58 79.535 6.868
13. B e n d a 5,92 66.507 11.234
Kota Tangerang 164,55 1.531.666 9.308 Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka Tahun 2008
Kota Tangerang dikatakan daerah cukup padat, tiap kilometer persegi rata-rata dihuni 9.308 jiwa, Di antaranya Kecamatan Larangan merupakan Kecamatan dengan kepadatan tertinggi (14.641 jiwa/Km2), sementara Kecamatan Pinang masih banyak terdapat lahan kosong sehingga kepadatan penduduknya terendah hanya mencapai 6.195 jiwa/Km2.
Jumlah Penduduk Kota Tangerang tahun 2008 berjumlah 1.531.666 dengan rasio jenis kelamin sebesar 97.39 artinya setiap 100 penduduk perempuan terdapat 97.39 penduduk laki-laki dapat dikatakan seimbang, hal ini dipengaruhi banyaknya tenaga wanita pada industri padat modal di Kota Tangerang yang cukup tinggi.
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
P e n d a h u l u a n | I-14
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 Tabel 1.2
Rasio Penduduk Kota Tangerang Menurut Jenis Kelamin Tahun 2008
Kecamatan Penduduk
Jumlah Rasio Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan
1. Ciledug 54.460 54.321 108.781 100,26 2. Larangan 68.300 69.321 137.621 98,53 3. Karang Tengah 47.923 53.562 101.485 89,47 4. Cipondoh 81.561 80.860 162.421 100,87 5. Pinang 67.094 66.650 133.744 100,67 6. Tangerang 62.453 67.034 129.487 93,17 7. Karawaci 80.765 82.430 163.195 97,98 8. Cibodas 66.377 64.999 131.376 102,12 9. Jatiuwung 57.868 59.820 117.688 96,74 10. Periuk 51.760 56.719 108.479 91,26 11. Neglasari 45.721 45.626 91.347 100,21 12. Batuceper 39.213 40.322 79.535 97,25 13. B e n d a 32.842 33.665 66.507 97,56 Kota Tangerang 756.337 775.329 1.531.666 97,55 Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka Tahun 2008
Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk maka jumlah rumah tangga juga semakin bertambah. Penambahan jumlah rumah tangga sangat erat kaitanya dengan penyediaan pemukiman dan lapangan pekerjaan dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosial rumah tangga. Kondisi jumlah rumah tangga penduduk pada tahun 2008 adalah sebagai berikut:
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 Tabel 1.3
Jumlah Rumah Tangga di Kota Tangerang (Menurut Kepemilikan Kartu Keluarga) Tahun 2008
No Kecamatan Rumah Tangga
1. Ciledug 22.853
2. Larangan 23.949
3. Karang Tengah 17.582
4. Cipondoh 32.798
5. Pinang 26.818
6. Tangerang 24.239
7. Karawaci 29.455
8. Cibodas 23.660
9. Jatiuwung 21.314
10. Periuk 20.736
11. Neglasari 18.711
12. Batuceper 17.013
13. Benda 14.116
Jumlah 293.244
Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka Tahun 2008
Dari data di atas terlihat jumlah rumah tangga terbanyak terdapat di Kecamatan Cipondoh yaitu sebanyak 32.798 rumah tangga, sedangkan jumlah rumah tangga paling sedikit terdapat di Kecamatan Benda yaitu sebanyak 14.116 rumah tangga.
b. Struktur Usia
Informasi struktur usia penduduk sangat bermanfaat bagi perencanaan pembangunan antara lain antisipasi penyediaan berbagai fasilitas pendidikan, kesehatan dan lapangan pekerjaan.
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
P e n d a h u l u a n | I-16
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 Sedangkan komposisinya masih sama seperti tahun sebelumnya didominasi oleh penduduk usia produktif dengan rasio beban ketergantungan sebesar 39.84 atau setiap 100 penduduk usia produktif (15-64) tahun menanggung 39.84 penduduk usia non produktif. Angka ini ada kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun, hal ini di karenakan terus meningkatnya jumlah penduduk usia tua (65+) seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup di Kota Tangerang.
Adapun struktur usia penduduk Kota Tangerang adalah sebagai berikut:
Tabel 1.4
Penduduk Kota Tangerang (Menurut Kelompok Umur) Tahun 2008 Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah
0 - 4 68.015 68.516 136.531
5 - 9 72.701 68.981 141.682
10 - 14 59.098 57.730 116.828
15 - 19 69.451 79.301 148.752
20 - 24 77.840 96.605 174.445
25 - 29 79.729 75.499 155.228
30 - 34 68.015 77.439 145.454
35 - 39 68.922 68.981 137.903
40 - 44 53.959 53.462 107.421
45 - 49 43.152 39.883 83.035
50 - 54 31.892 35.616 67.508
55 - 59 26.299 20.174 46.473
60 - 64 15.492 13.579 29.071
65 - 69 12.696 7.527 20.223
70 - 74 5.139 6.596 11.735
75 + 3.324 6.053 9.377
Kota Tangerang 755.724 775.942 1.531.666 Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka Tahun 2008
Dari tabel di atas jumlah penduduk pada kelompok usia anak (0-14 tahun) jumlahnya mencapai 199.814 jiwa atau 26,44% dari
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 jumlah penduduk Kota Tangerang. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena terkait dengan penyedian sarana dan prasarana pendidikan, dan kesehatan. Seiring dengan jumlah proporsi usia anak dalam komposisi penduduk maka peningkatan kualitas anak sebagai sumber daya manusia membutuhkan perhatian yang besar.
Sedangkan jumlah penduduk pada kelompok usia (15-65 tahun) yang merupakan usia produktif berjumlah 464.695 jiwa atau 61,49%, dan perkembangan rasio ketergantungan (depedency ratio/DR) di Kota Tangerang memiliki kecenderungan yang semakin mengecil. Jika pada tahun 2006 rasio ketergantungannya mencapai angka 40,32% maka pada tahun 2007 menjadi hanya sebesar 39,77% dan pada tahun 2008 sebesar 39,84%. Penurunan angka rasio ketergantungan tersebut menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia non produktif menurun secara relatif bila dibandingkan dengan penduduk usia produktifnya.
Bila dilihat per kecamatan, maka dapat diketahui bahwa Kecamatan Benda dan Batuceper merupakan dua kecamatan yang memiliki rasio ketergantungan yang paling tinggi, yaitu masing-masing sebesar 45,92% dan 45,76%. Sedangkan Kecamatan Ciledug merupakan kecamatan dengan angka ketergantungan yang paling kecil yaitu sebesar 32,25%.
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
P e n d a h u l u a n | I-18
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 Tabel 1.5
Rasio Ketergantungan Penduduk Tiap Kecamatan Kota Tangerang Tahun 2008
Kecamatan Laki-Laki dan Perempuan
Jumlah Depedency Ratio 0 – 14 15 - 64 65 +
1. Ciledug 31.042 106.100 3.174 34.216 32,25 2. Larangan 34.804 106.971 3.975 38.779 36,25 3. Karang Tengah 32.947 99.394 3.358 36.305 36,53 4. Cipondoh 32.023 93.460 2.629 34.652 37,08
5. Pinang 31.098 93.818 4.573 35.671 38,02
6. Tangerang 23.113 67.080 2.592 25.705 38,32 7. Karawaci 23.008 62.829 2.401 25.409 40,44
8. Cibodas 32.405 85.615 3.384 35.789 41,80
9. Jatiuwung 30.860 77.668 2.652 33.512 43,15
10. Periuk 33.330 82.377 2.714 36.044 43,75
11. Neglasari 18.661 45.950 1.896 20.557 44,74 12. Batuceper 46.509 111.427 4.483 50.992 45,76 13. B e n d a 25.241 62.601 3.504 28.745 45,92 Kota Tangerang 395.041 1.095.290 41.335 436.376 39,84 Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka Tahun 2008
c. Tenaga Kerja
Ketenagakerjaan merupakan salah satu indikator penting pembangunan ekonomi khususnya dalam upaya pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan. Hal ini karena tenaga kerja adalah modal bagi geraknya pembangunan. Masalah penyediaan lapangan kerja menjadi masalah yang cukup serius, karena kesenjangan antara jumlah pencari kerja dan lowongan yang tersedia semakin jauh dari tahun ke tahun.
Sesuai dengan karakteristik sebagai kota industri dan perdagangan, dari tabel di bawah ini terlihat sebagian besar mata
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 pencaharian/jenis pekerjaan penduduk Kota Tangerang adalah di bidang industri, perdagangan dan jasa. Pertambahan jumlah perusahaan industri berbanding lurus dengan jumlah tenaga kerja yang terserap pada sektor ini. Pada tahun 2008, tenaga kerja di sektor industri sebanyak 173.265 orang atau mengalami kenaikan sebanyak 3.027 orang dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Tabel 1.6
Jumlah Penduduk Kota Tangerang
Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan Tahun 2008
No Jenis Pekerjaan Jumlah
1 Pertanian 6.949
2 Industri 173.265
3 Perdagangan 91.846
4 Jasa 39.359
5 Angkutan 96.021
6 Lainnya 17.964
Total 425.404
Sumber: Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangerang
Pada tahun 2008 jumlah lowongan kerja yang terdaftar sebanyak 10.325 menurun sekitar 1,06% dari tahun sebelumnya sementara jumlah pencari kerja yang terdaftar sebanyak 29.025 orang juga mengalami penurunan sebesar 1,05% dari tahun sebelumnya.
Seperti tahun sebelumnya pencari kerja ini masih didominasi oleh tamatan SLTA mencapai 19.346 orang atau sebesar 66,59% dari total pencari kerja, begitu juga dengan lowongan yang tersedia mencapai 77,09% diperuntukkan bagi tamatan SLTA. Terlihat jumlah pencari kerja wanita lebih banyak dibandingkan pencari kerja laki-laki namun lowongan kerja yang tersedia untuk perempuan lebih banyak.
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
P e n d a h u l u a n | I-20
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 Tabel 1.7
Jumlah Pencari Kerja dan Lowongan Yang Tersedia (Menurut Tingkat Pendidikan) Tahun 2008
No Tingkat Pendidikan Pencari Kerja Lowongan Kerja Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
1 Tidak Tamat SD - 1 - -
2 SD 98 214 59 134
3 SLTP 922 1.305 286 675
4 SLTA 10.293 8.194 4.055 3.415
5 Diploma 561 1.685 136 234
6 Sarjana 1.955 2.523 151 152
Total 13.830 13.858 4.687 4.650
Sumber: Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangerang
Indikator lain untuk menggambarkan ketenagakerjaan adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja tahun 2008 tercatat sebesar 65.79% meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 58.24%, hal ini cukup menggembirakan karena semakin banyak penduduk usia kerja yang bekerja atau berusaha mendapatkan pekerjaan.
Tabel 1.8
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Kota Tangerang Tahun 2004-2008
Tahun Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) %
2004 61,90
2005 55,90
2006 59,70
2007 58,24
2008 65,79
Rata-Rata 60,31
Sumber: Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangerang
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 d. Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan dan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan merupakan bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan rakyat. Jika pembangunan yang dilakukan tidak dapat mengandalkan sumber daya alam yang keberadaanya terbatas maka peningkatan sumber daya manusia merupakan modal untuk penggerak pembangunan.
Sebagian besar penduduk Kota Tangerang memiliki pendidikan di atas SLTA, hal ini menggambarkan potensi sumber daya manusia yang dimiliki Kota Tangerang cukup bagus.
Tabel 1.9
Penduduk Kota Tangerang (Menurut Tingkat Pendidikan) Tahun 2008
No Tingkat Pendidikan Jumlah
1 Tidak/Belum Tamat 278.666
2 SD 262.891
3 SLTP 242.891
4 SLTA 507.571
5 DI/DII 15.891
6 DIII 267.658
7 Perguruan Tinggi 57.658
Sumber: Dinas P & K Kota Tangerang
Pemerataan kesempatan pendidikan sangat dipengaruhi oleh tersedianya sarana dan prasarana pendidikan seperti tersedianya gedung sekolah, perpustakaan, dan buku-buku penunjang pelajaran serta tenaga pendidik (guru).
Pendidikan pra sekolah seperti pendidikan Taman kanak-kanak (TK) pada tahun 2008 tersedia sebanyak 339 sekolah.
Perkembangan jumlah sekolah ini meningkat sekitar 33,60% dari tahun 2007. Demikian juga jumlah murid sekolah TK ini yang
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
P e n d a h u l u a n | I-22
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 berkembang pesat, dari sekitar 17.689 orang pada tahun 2007, meningkat menjadi 21.970 orang pada tahun 2008, atau meningkat sekitar 24,20%.
Fasilitas gedung sekolah dasar (SD) yang tersedia pada tahun 2008 adalah sebanyak 473, terdiri dari 363 SD Negeri dan 110 SD Swasta. Jumlah murid sebanyak 163.190 orang dan jumlah guru sebanyak 6.052 orang, sehingga dapat dihitung rasio guru-murid SD sebesar 26,97 yang artinya setiap 1 (satu) orang guru membimbing sekitar 27 murid. Pada akhir tahun pendidikan, tingkat kelulusan siswa SD pada tahun 2008 adalah sekitar 99,92%.
Untuk Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMP), dan selanjutnya pada tahun 2008 tersedia 166 sekolah, terdiri dari 24 SMP Negeri dan 142 SMP Swasta. Jumlah murid sebanyak 63.007 orang dan guru sebanyak 3.687 orang, sehingga terhitung rasio guru-murid SMP adalah 17,09 yang artinya setiap 1 (satu) orang guru membimbing sebanyak 17 murid. Tingkat kelulusan siswa SMP tahun 2008 mencapai 99,88%.
Sedangkan Fasilitas pendidikan untuk tingkat SMU pada tahun 2008 tersedia 83 sekolah, terdiri dari 16 SMU negeri dan 67 SMU swasta.
Jumlah murid sebanyak 34.163 orang dan jumlah guru sebanyak 1.975 orang. Rasio guru-murid untuk tingkat SMU adalah 17,29.
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 Tabel 1.10
Jumlah Sekolah Tiap Kecamatan di Kota Tangerang Tahun 2008
Kecamatan TK SD SLTP SLTA SMK Jumlah
1. Ciledug 33 35 15 8 7 98
2. Larangan 38 32 7 1 3 81
3. Karang Tengah 31 30 13 7 2 83
4. Cipondoh 41 45 22 13 11 132
5. Pinang 37 30 15 9 8 99
6. Tangerang 38 52 29 15 17 151
7. Karawaci 28 63 16 12 10 129
8. Cibodas 22 44 15 6 2 89
9. Jatiuwung 11 25 6 1 2 45
10. Periuk 31 38 9 4 6 88
11. Neglasari 11 32 8 3 4 58
12. Batuceper 14 28 9 3 6 60
13. B e n d a 4 19 2 1 1 27
Kota Tangerang 339 473 166 83 79 1140 Sumber: Dinas P & K Kota Tangerang
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
P e n d a h u l u a n | I-24
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 Tabel 1.11
Angka Partisipasi Sekolah Tiap Kecamatan di Kota Tangerang Tahun 2008
Kecamatan SD SLTP SLTA SMK
1. Ciledug 129,19 136,31 32,42 76,50
2. Larangan 89,45 29,03 10,00 2,00
3. Karang Tengah 115,13 85,30 28,35 11,61
4. Cipondoh 105,31 89,56 25,78 39,20
5. Pinang 123,54 43,13 17,15 23,94
6. Tangerang 157,75 311,13 115,41 142,18
7. Karawaci 123,37 106,36 80,90 37,81
8. Cibodas 102,17 113,18 17,22 4,62
9. Jatiuwung 66,37 66,23 17,69 17,69
10. Periuk 104,06 48,37 14,47 6,91
11. Neglasari 96,00 60,70 15,04 7,77
12. Batuceper 91,09 81,76 31,52 10,48
13. B e n d a 77,09 29,72 1,25 18,74
Kota Tangerang 107,39 93,95 34,04 32,65 Sumber: Dinas P & K Kota Tangerang
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 Tabel 1.12
Jumlah Murid dan Guru Tiap Kecamatan di Kota Tangerang Tahun 2008
Kecamatan SD SLTP SLTA SMK
Murid Guru Murid Guru Murid Guru Murid Guru 1. Ciledug 14.366 508 6.731 354 2.365 154 5.580 274
2. Larangan 11.214 361 1.547 174 855 32 171 30
3. Karang Tengah 10.973 429 3.753 198 2.091 181 856 54 4. Cipondoh 16.277 593 6.879 432 2.826 253 4.297 312 5. Pinang 15.258 545 2.654 301 1.647 180 2.300 141 6. Tangerang 18.734 797 16.032 885 9.540 379 11.753 734 7. Karawaci 18.888 725 7.042 378 8.652 354 4.044 303 8. Cibodas 12.993 465 6.121 360 1.402 128 376 35
9. Jatiuwung 8.563 207 2.850 113 835 34 835 40
10. Periuk 13.691 518 2.607 138 992 76 474 93
11. Neglasari 9.183 339 2.885 181 1.107 86 572 50 12. Batuceper 7.495 394 2.892 193 1.789 96 595 79
13. B e n d a 5.555 171 1.014 54 61 22 912 40
Kota Tangerang 163.190 6.052 63.007 3.687 34.163 1.975 32.765 2.185 Sumber: Dinas P & K Kota Tangerang
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
P e n d a h u l u a n | I-26
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 Tabel 1.13
Rata-rata Murid dan Rasio Murid/Guru Tiap Kecamatan di Kota Tangerang Tahun 2008
Kecamatan Sumber: Dinas P & K Kota Tangerang
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 3. Kondisi Ekonomi
a. Produk Domestik Regional Bruto
Salah satu indikator penting dalam menganalisis perekonomian adalah mengamati perubahan struktur ekonomi. Struktur ekonomi dilihat berdasarkan kontribusi sektor-sektor dalam perekonomian.
Peningkatan ekonomi suatu daerah dapat dinilai dengan berbagai ukuran agregat, ukuran yang paling banyak digunakan sebagai ukuran keberhasilan pembangunan suatu daerah adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sudah cukup dikenal luas oleh masyarakat dalam hal kemampuannya untuk menggambarkan pendapatan per kapita, strukur ekonomi, laju pertumbuhan ekonomi dan lebih luas lagi sebagai kinerja pembangunan suatu wilayah.
Meskipun bukan merupakan pengukuran yang sempurna, tetapi tetap merupakan suatu pendekatan yang baik untuk pengukuran kinerja ekonomi suatu daerah. Menurut pendekatan produksi, PDRB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan berbagai unit produksi suatu daerah dalam jangka waktu satu tahun.
Unit-unit produksi yang digunakan biasanya dikelompokkan
menjadi 9 sektor atau lapangan usaha, yaitu (1) Pertanian, (2) Pertambangan dan penggalian, (3) Industri pengolahan, (4) Listrik, gas dan air minum, (5) Bangunan, (6) Perdagangan, (7) Pengangkutan dan komunikasi, (8) Bank dan lembaga keuangan lainnya dan (9) Jasa-jasa.
PDRB dapat dihitung berdasarkan harga berlaku (current price) maupun berdasarkan harga konstan (constant price). PDRB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat besarnya nilai PDRB berdasarkan harga pada tahun berjalan (masing-masing tahun), meski dalam pengertian ekonomi PDRB berdasarkan harga berlaku ini tidak memiliki makna dibandingkan dengan PDRB berdasarkan harga konstan. Tetapi bisa memberikan makna
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
P e n d a h u l u a n | I-28
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 perubahan pada besaran pertumbuhan ekonomi regional.
Sedangkan PDRB dengan harga konstan, menyajikan setiap sektor yang dinilai atas dasar harga tetap. Perkembangan PDRB dari tahun ke tahun semata-mata menunjukkan kenaikan kuantum atau produksi (perkembangan riil) dan bukan disebabkan oleh kenaikan harga.
Tabel 1.14
PDRB Kota Tangerang Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004 – 2008 (Juta Rupiah)
Lapangan
40.614,78 41.866,84 40.554,81 41.132,95 44.431.37
Pertambangan
& Penggalian 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Industri
Pengolahan 11.147.336,18 11.803.914,28 12.448.408,00 13.181.289,63 12.390.678,69 Listrik, Gas
Dan Air Bersih 531.708,89 551.787,35 554.308,00 567.686,45 326.685,22 Bangunan 324.248,99 349.313,44 380.694,23 417.323,96 397.998,30 Perd. Hotel &
Restoran 5.141.127,01 5.475.230,53 5.902.258,34 6.423.840,75 6.040.121,05 Pengangkutan
& Komunikasi 2.271.138,46 2.458.273,18 2.741.257,56 2.924.397,47 3.015.923,90 Keuangan,
Persewaan &
Jasa Per.
468.894,90 609.842,50 673.733,48 806.182,88 716.392,50
Jasa-Jasa 407.066,15 430.936,43 473.707,40 512.350,14 435.758,17 PDRB 20.332.135,35 21.721.164,55 23.214.921,82 24.874.204,24 25.981.106,33
Sumber: PDRB Kota Tangerang Tahun 2008
PDRB Kota Tangerang selama kurun waktu lima tahun terakhir menunjukkan trend peningkatan dari Rp.20,33 Triliun (tahun 2004) menjadi Rp.25,98 Triliun (tahun 2008) dengan laju pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4,5% hingga 7%. Kenaikan tersebut murni sebagai peningkatan produksi karena PDRB atas harga konstan telah terbebas dari pengaruh inflasi.
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 a.1. Kontribusi Masing-masing Sektor
Struktur perekonomian menunjukkan pola mobilisasi sumberdaya dan alokasi terutama yang berhubungan dengan keberlanjutan pertumbuhan dan kebijakan pembangunan. Pola pembangunan yang biasanya ditunjukkan dalam perubahan struktur perekonomian merupakan perubahan variasi sistematis yang secara singifikan adanya perubahan struktur baik secara sosial maupun ekonomi dengan meningkatnya pendapatan atau indek pembangunan.
Secara teori untuk mengidentifikasi perubahan struktur perekonomian relatif komplek tetapi dengan bukti bahwa penawaran dan faktor permintaan selalu berinteraksi dalam proses pembangunan maka perubahan pembangunan ini selalu dilihat dengan adanya pola pergeseran antara sektor pertanian ke sektor industri.
Indikator yang umum digunakan untuk memahami kondisi makro ekonomi suatu daerah adalah nilai produk domestik regional bruto wilayah yang bersangkutan. Informasi mengenai produk domestik regional bruto dalam perekonomian akan memberikan gambaran awal tentang keadaan ekonomi suatu wilayah. Dengan mengetahui informasi persektor ekonomi terhadap PDRB maka akan diketahui sektor mana sajakah yang menjadi penyumbang dalam perekonomian tersebut. Tabel 1.15 memperlihatkan sektor industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar bagi pertumbuhan PDRB. Namun, trend kontribusi tersebut dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 relatif menurun.
Penurunan terjadi pada sektor industri jika pada tahun 2004 sebesar 57,20% berturut-turut menjadi 55,99% (tahun 2005), 54,29% (tahun 2006), 51,84% (tahun 2007) dan 53,02% pada tahun 2008. Penurunan sektor industri pengolahan sangat dipengaruhi oleh faktor produksi, pengaruh yang cukup signifikan antara kenaikan harga bahan bakar minyak untuk
PEMERINTAH KOTA TANGERANG
http://www.tangerangkota.go.id
P e n d a h u l u a n | I-30
LKPJ Walikota Tangerang, Tahun 2008 industri. Bila dikaitkan dengan tabel Laju Pertumbuhan Ekonomi sebenarnya LPE sektor industri pengolahan mengalami peningkatan sejak tahun 2004, akan tetapi sektor lain mengalami pertumbuhan yang lebih besar sehingga tingkat kontribusi industri pengolahan sedikit mengalami penurunan.
Penurunan kontribusi industri pengolahan ini, juga disebabkan adanya pergeseran peran karena meningkatnya kontribusi beberapa sektor lain, seperti sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta sektor pengangkutan dan komunikasi.
Kontribusi sektor pengangkutan dan komunikasi terhadap PDRB mengalami peningkatan selama periode 2004-2008, peningkatan tersebut tidak terlepas dari perkembangan jaringan transportasi dan komunikasi, seperti pembangunan jalan dan perkembangan telepon selular, serta kedudukan Kota Tangerang sebagai kota hinterland DKI Jakarta dan Propinsi Banten sehingga menyebabkan commuter ke wilayah lain relatif cepat terutama karena dekat dengan jalan bebas hambatan (Toll Jakarta – Merak).
Sedangkan perkembangan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan adalah sebesar2,75% (tahun 2004), 2,91%
(tahun 2005), 2,97% (Tahun 2006), 3,09% (tahun 2007) dan 3,07% pada tahun 2008. Perkembangan sektor ini disebabkan mulai stabilnya kondisi moneter pasca krisis ekonomi.
Sektor yang memiliki kontribusi yang semakin tinggi selain industri pengolahan adalah sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran. Tiap tahun sektor ini memberikan kontribusi tidak kurang dari 25%. Besaran kontribusi sektor ini secara berturut-turut dari tahun 2004 sampai dengan 2008 adalah 23,58%, 24,08%, 25,18% 26,80% dan 25,85%.