III. METODE PENELITIAN
4.2. Kondisi Kinerja Keuangan Perusahaan Sebelum dan
Tabel 2. Daftar Rasio Keuangan Sebelum Merger dan Akuisisi
Sumber: Data diolah
Sebelum dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi, rasio keuangan perusahaan bervariasi dari tahun ke tahun dan berbeda-beda untuk tiap perusahaan. Namun jika dibandingkan dengan perusahaan lainnya Kalbe memperoleh nilai rata-rata tertinggi untuk current ratio, net profit margin dan total asset turn over dengan perolehan nilai sebesar 1.995, 0.064, dan 1.121. Sedangkan nilai rata-rata terbaik untuk debt to equity ratio dicapai oleh Indofood dengan nilai sebesar 2.678. Daftar rasio keuangan perusahaan sebelum merger dan akuisisi secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 2.
CR DER NPM TATO CR DER NPM TATO CR DER NPM TATO 2000 2.108 7.704 -0.018 0.888 0.248 21.866 -0.681 0.411 1.304 2.897 0.051 1.012 2001 2.113 6.936 0.016 1.090 0.218 -10.594 -0.327 0.466 0.867 2.431 0.051 1.128 2002 1.177 2.784 0.101 1.316 0.559 0.885 -0.315 0.376 1.646 2.925 0.049 1.080 2003 1.568 1.719 0.112 1.180 0.574 0.964 -0.060 0.439 1.939 2.578 0.034 1.167 2004 3.010 1.261 0.109 1.131 0.713 1.142 0.008 0.512 1.479 2.560 0.022 1.143 Rata-rata 1.995 4.081 0.064 1.121 0.462 2.852 -0.275 0.441 1.447 2.678 0.041 1.106
Kalbe Hanson Indofood
Tahun
Tabel 3. Daftar Rasio Keuangan Sesudah Merger dan Akuisisi
Sumber: Data diolah
Sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi, secara umum rasio keuangan perusahaan menunjukan perbaikan. Sama halnya dengan kondisi sebelum dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi, Kalbe juga memperoleh nilai rata-rata rasio tertinggi diantara perusahaan lainnya sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi. Nilai untuk current ratio, net profit margin dan total asset turn over sebesar 4.148, 0.106, dan 1.383. Sedangkan nilai rata-rata terbaik untuk debt to equity ratio sebesar 0.339 juga diraih oleh Kalbe. Daftar rasio keuangan perusahaan sesudah merger dan akuisisi secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 3.
CR DER NPM TATO CR DER NPM TATO CR DER NPM TATO 2006 5.042 0.361 0.111 1.313 0.272 1.955 -0.235 0.585 1.168 2.115 0.030 1.341 2007 4.983 0.331 0.101 1.363 0.145 4.877 -0.474 0.549 0.916 2.613 0.035 0.938 2008 3.333 0.375 0.090 1.381 0.012 -1.014 0.000 0.898 3.110 0.027 0.980 2009 2.987 0.393 0.102 1.402 0.004 -1.006 0.000 1.163 2.451 0.056 0.926 2010 4.394 0.235 0.126 1.454 0.317 -2.177 0.308 0.819 2.036 1.339 0.077 0.813 Rata-rata 4.148 0.339 0.106 1.383 0.150 0.527 -0.134 0.651 1.236 2.326 0.045 0.999
Kalbe Hanson Indofood
Tahun
4.2.1. PT Indofood Sukses Makmur
Gambar 3. Kondisi current ratio Indofood Sukses Makmur sebelum merger dan akuisisi
Rasio likuiditas yang dapat diwakili oleh current ratio mengalami fluktuasi dan menempati posisi terendah pada tahun 2001 dengan nilai 0.867 kemudian di tahun berikutnya current ratio membaik dengan peningkatan di tahun 2002 dan 2003 namun kembali menurun pada tahun 2004. Current ratio yang berfluktuasi ini disebabkan oleh aktiva lancar dan hutang lancar yang dimiliki Indofood berfluktuasi jumlahnya dari tahun ke tahun. Menurunnya current ratio pada tahun tertentu menunjukan melemahnya kemampuan Indofood untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya, kondisi ini didukung dengan sebagian besar aktiva yang dimilikinya terdiri dari aktiva tetap seperti bangunan, mesin dan peralatan yang tidak memberikan kontibusi terhadap aktiva lancarnya.
CR 0,000
0,500 1,000 1,500 2,000
2000 2001 2002 2003 2004
1,304
0,867
1,646 1,939
1,479
Nilai
Tahun
CR
CR
Gambar 4. Kondisi current ratio Indofood Sukses Makmur sesudah merger dan akuisisi
Rasio likuiditas yang dapat diwakili oleh current ratio mengalami fluktuasi, rasio ini menurun berangsur-angsur sampai dengan tahun 2008 kemudian mengalami peningkatan sampai tahun 2010. Walaupun aktiva lancar secara berangsur menunjukan pertumbuhan tetapi hutang lancar mengalami fluktuasi, hal inilah yang melatarbelakangi naik turunnya nilai current ratio pada periode sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi.
Rata-rata current ratio pada periode sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi mengalami penurunan. Sebelum merger dan akuisisi rata-rata current ratio sebesar 1.447 sedangkan sesudah merger dan akuisisi sebesar 1.236. Menurunnya current ratio menunjukan melemahnya kemampuan Indofood untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Kondisi ini didukung dengan sebagian besar aktiva yang dimiliki Indofood terdiri dari aktiva tetap seperti bangunan, mesin dan peralatan yang tidak memberikan kontibusi terhadap aktiva lancarnya.
CR 0,000
1,000 2,000 3,000
2005 2006 2007 2008 2009 2010
1,467 1,168
0,916 0,898 1,163 2,036
Nilai
Tahun
CR
CR
Gambar 5. Kondisi debt to equity ratio Indofood Sukses Makmur sebelum merger dan akuisisi
Sama halnya dengan yang terjadi pada current ratio, rasio solvabilitas yang dapat diwakili oleh debt to equity ratio mengalami fluktuasi dan menempati posisi terendah pada tahun 2001 dengan nilai 2.431 kemudian di tahun berikutnya debt to equity ratio membaik dan menempati nilai tertinggi sebesar 2.952 setelah itu debt to equity ratio kembali mengalami penurunan sampai dengan tahun 2004. Penurunan pada debt to equity ratio mengindikasikan semakin baiknya kemampuan perusahaan untuk membiayai kewajiban jangka panjangnya.
DER 0,000
1,000 2,000 3,000
2000 2001 2002 2003 2004
2,897
2,431 2,925
2,578 2,560
Nilai
Tahun
DER
DER
Gambar 6. Kondisi debt to equity ratio Indofood Sukses Makmur sesudah merger dan akuisisi
Rasio solvabilitas yang dapat diwakili oleh debt to equity ratio mengalami fluktuasi. Rasio ini mengalami penurunan di tahun 2006 setelah itu secara berangsur meningkat sampai dengan tahun 2008 dan kembali mengalami penurunan sampai tahun 2010. Walaupun jumlah ekuitas mengalami peningkatan dari tahun ke tahun namun jumlah kewajiban perusahaan mengalami fluktuasi, hal inilah yang menyebabkan fluktuasi pada rasio ini.
Rata-rata debt to equity ratio pada periode sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi mengalami penurunan. Sebelum merger dan akuisisi rata-rata debt to equity ratio sebesar 2.678 sedangkan sesudah merger dan akuisisi sebesar 2.326. Penurunan pada debt to equity ratio mengindikasikan investasi yang dilakukan perusahaan lebih banyak didanai dari ekuitas pemegang saham dari pada oleh hutang dimana total ekuitas terus mengalami peningkatan dari tahun 2006 sampai 2010 sedangkan total hutang mengalami fluktuasi. Perubahan rasio antara periode sebelum dan sesudah merger dan akuisisi memudahkan Indofood untuk menarik perhatian para investor.
DER 0,000
2,000 4,000
2005 2006 2007 2008 2009 2010
2,331 2,115 2,613 3,110 2,451
1,339
Nilai
Tahun
DER
DER
Gambar 7. Kondisi net profit margin Indofood Sukses Makmur sebelum merger dan akuisisi
Rasio profitabilitas yang dapat di wakili oleh net profit margin terus mengalami penurunan secara berangsur-angsur dari tahun 2000 sampai dengan 2004. Penurunan net profit margin ini disebabkan oleh peningkatan penjualan yang tidak diiringi dengan peningkatan laba bersih.
Penjualan terus menunjukan perkembangan baik dari tahun 2000 sampai dengan 2004 namun laba bersih yang diperoleh perusahaan mengalami fluktuasi. Laba menunjukan peningkatan dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2002 namun mengalami penurunan setelah itu sampai dengan tahun 2004. Fluktuasi laba ini disebabkan besarnya biaya operasional yang harus dikeluarkan perusahaan berbeda tiap tahunnya.
NPM 0,000
0,020 0,040 0,060
2000 2001 2002 2003 2004
0,051 0,051 0,049
0,034
0,022
Nilai
Tahun
NPM
NPM
Gambar 8. Kondisi net profit margin Indofood Sukses Makmur sesudah merger dan akuisisi
Rasio profitabilitas yang dapat diwakili oleh net profit margin juga mengalami fluktuasi. Pada tahun 2006 dan 2007 terlihat peningkatan namun setelah itu menurun di tahun 2008 dan kembali meningkat sampai dengan tahun 2010. Meskipun laba menunjukan trend pertumbuhan yang baik tetapi penjualan mengalami fluktuasi, hal inilah yang menyebabkan nilai net profit margin mengalami fluktuasi pada periode sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi.
Rata-rata net profit margin pada periode sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi mengalami peningkatan. Sebelum merger dan akuisisi rata-rata net profit margin sebesar 0.041 sedangkan sesudah merger dan akuisisi sebesar 0.045. Peningkatan net profit margin ini mengindikasikan membaiknya kemampuan Indofood dalam menghasilkan net income dari kegiatan operasi.
NPM 0,000
0,050 0,100
2005 2006 2007 2008 2009 2010 0,007 0,030 0,035
0,027
0,056 0,077
Nilai
Tahun
NPM
NPM
Gambar 9. Kondisi total asset turn over Indofood Sukses Makmur sebelum merger dan akuisisi
Rasio aktivitas yang dapat diwakili oleh total asset turn over juga mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun sebelum dilakukan aktivitas merger dan akuisisi. Meskipun penjualan menunjukan pertumbuhan yang baik dari tahun ke tahun dan diiringi total asset yang juga menunjukan peningkatan tetapi perolehan rasio total asset turn over bervariasi. Hal ini disebabkan pada tahun tertentu peningkatan pada penjualan tidak sebesar peningkatan pada total aktiva yang menyebabkan nilai total asset turn over mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Penurunan pada rasio total asset turn over mengindikasikan kurang efektifnya Indofood dalam menggunakan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan penjualan dan sebaliknya.
TATO 0,900
1,000 1,100 1,200
2000 2001 2002 2003 2004
1,012
1,128
1,080
1,167
1,143
Nilai
Tahun
TATO
TATO
Gambar 10. Kondisi total asset turn over Indofood Sukses Makmur sesudah merger dan akuisisi
Sama halnya dengan ketiga rasio sebelumnya, rasio aktivitas yang dapat diwakili oleh rasio total asset turn over juga mengalami fluktuasi. Di tahun 2006 terjadi peningkatan rasio total asset turn over sesudah itu rasio ini mengalami peningkatan dan penurunan yang cukup sering. Meskipun total aktiva terus mengalami peningkatan pada periode setelah dilakukannya merger dan akuisisi tetapi penjualan mengalami fluktuasi, hal inilah yang menyebabkan nilai total asset turn over mengami fluktuasi.
Rata-rata total asset turn over pada periode setelah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi mengalami penurunan. Sebelum merger dan akuisisi rata-rata current ratio sebesar 1.106 sedangkan sesudah merger dan akuisisi sebesar 0.999. Penurunan pada rasio total asset turn over mengindikasikan kurang efektifnya Indofood dalam menggunakan aktiva dalam menghasilkan penjualan.
TATO 0,000
0,500 1,000 1,500
2005 2006 2007 2008 2009 2010 1,269 1,341
0,938 0,980 0,926
0,813
Nilai
Tahun
TATO
TATO
4.2.2. PT Hanson International
Gambar 11. Kondisi current ratio Hanson International sebelum merger dan akuisisi
Rasio likuiditas yang dapat diwakili oleh current ratio mengalami fluktuasi, rasio ini menurun di tahun 2001 dan terus mengalami peningkatan berangsur-angsur sampai tahun 2004. Current ratio yang berfluktuasi ini disebabkan oleh fluktuatifnya jumlah aktiva lancar dan utang lancar yang dimiliki Hanson selama tahun 2000 sampai dengan tahun 2004. Menurunnya current ratio menunjukan melemahnya kemampuan Hanson untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Kesulitan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek juga disebabkan oleh sebagian besar aktiva lancar yang dimilikinya terdiri dari persediaan dan bukan aktiva yang lebih likuid seperti kas.
CR 0,000
0,200 0,400 0,600 0,800
2000 2001 2002 2003 2004
0,248 0,218
0,559 0,574 0,713
Nilai
Tahun
CR
CR
Gambar 12. Kondisi current ratio Hanson International sesudah merger dan akuisisi
Rasio likuiditas yang dapat diwakili oleh current ratio menunjukan perkembangan yang cukup buruk pada awal tahun sesudah dilakukannya merger dan akuisisi. Rasio ini mengalami penurunan sampai dengan tahun 2009 dan menempati posisi terendah dengan nilai 0.004 kemudian meningkat pada tahun 2010 dengan perolehan nilai sebesar 0.317.
Dibandingkan dengan rata-rata sebelum periode merger dan akuisisi, rasio ini mengalami penurunan pada periode sesudah dilakukannya merger dan akuisisi dari 0.462 menjadi 0.150. Menurunnya current ratio menunjukan melemahnya kemampuan Hanson untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Kesulitan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek juga disebabkan oleh sebagian besar aktiva lancar yang dimilikinya terdiri dari persediaan dan bukan aktiva yang lebih likuid seperti kas.
CR 0,000
0,200 0,400 0,600
2005 2006 2007 2008 2009 2010
0,575
0,272
0,145
0,012 0,004
0,317
Nilai
Tahun
CR
CR
Gambar 13. Kondisi debt to equity ratio Hanson International sebelum merger dan akuisisi
Sama halnya dengan current ratio, debt to equity ratio yang merupakan perwakilan dari rasio solvabilitas juga mengalami fluktuasi. Di tahun 2001 debt to equity ratio mencapai -10.594 menurun drastis dari tahun sebelumnya. Penurunan yang sangat tajam ini disebabkan menurunnya ekuitas yang dimiliki oleh Hanson. Ditahun berikutnya Hanson memperlihatkan nilai ekuitas yang semakin meningkat. Sejak tahun 2002 Hanson memiliki nilai debt to equity ratio yang berangsur meningkat yang mengindikasikan perusahaan lebih banyak didanai oleh hutang daripada ekuitas pemegang saham.
DER -20,000
-10,000 0,000 10,000 20,000 30,000
2000 2001 2002 2003 2004
21,866
-10,594
0,885 0,964 1,142
Nilai
Tahun
DER
DER
Gambar 14. Kondisi debt to equity ratio Hanson International sesudah merger dan akuisisi
Rasio solvabilitas yang dapat diwakili oleh debt to equity ratio mengalami penurunan pada awal tahun sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi kemudian mengalami fluktuasi di tahun berikutnya hingga bernilai negatif mulai dari tahun 2008 sampai dengan 2010.
Perolehan nilai negatif pada debt equity ratio disebabkan oleh defisit ekuitas yang dialami perusahaan. Walaupun jumlah ekuitas mengalami peningkatan secara berangsur pada periode sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi namun jumlah kewajiban perusahaan mengalami fluktuasi, hal inilah yang menyebabkan fluktuasi pada rasio ini.
Dibandingkan dengan rata-rata sebelum periode merger dan akuisisi, rasio ini mengalami penurunan pada periode sesudah dilakukannya merger dan akuisisi dari 2.852 menjadi 0.527. Penurunan pada debt to equity ratio mengindikasikan investasi yang dilakukan perusahaan lebih banyak didanai dari ekuitas pemegang saham dari pada oleh hutang.
DER -5,000
0,000 5,000
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2,193 1,955
4,877
-1,014 -1,006 -2,177
Nilai
Tahun
DER
DER
Gambar 15. Kondisi net profit margin Hanson International sebelum merger dan akuisisi
Rasio profitabilitas yang dapat diwakili oleh net profit margin, menunjukan trend yang terus membaik dari tahun 2000 sampai tahun 2004. Berangsur-angsur net profit margin yang pada tahun 2000 bernilai negatif meningkat sampai bernilai positif pada tahun 2004 sebesar 0.008.
Peningkatan net profit margin ini disebabkan oleh meningkatnya laba bersih perusahaan. Di tahun 2000 perusahaan mengalami kerugian namun keadaan ini terus menunjukan perbaikan sampai pada tahun 2004 dimana perusahaan berhasil mendapatkan keuntungan kembali dan memperoleh laba bersih sekitar 2 miliar.
NPM
-0,800 -0,600 -0,400 -0,200 0,000 0,200
2000 2001 2002 2003 2004
-0,681 -0,327 -0,315 -0,060
0,008
Tahun
NPM
NPM
Gambar 16. Kondisi net profit margin Hanson International sesudah merger dan akuisisi
Rasio profitabilitas yang dapat diwakili oleh net profit margin mengalami penurunan sampai dengan tahun 2007 dengan perolehan nilai negatif. Net profit margin yang bernilai negatif disebabkan oleh perusahaan yang mengalami kerugian pada tiga tahun pertama setelah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi kemudian di tahun 2009 dan 2010 perusahaan kembali memperoleh laba dari aktivitas bisnisnya. Pada tahun 2008 dan 2009 Hanson tidak membukukan penjualannya karena penjualan yang terjadi adalah hasil dari usaha anak perusahaan yaitu PT Primayudha Mandirijaya oleh karena itu tidak ada nilai net profit margin pada tahun ini. Pada tahun 2010 Hanson kembali melakukan penjualan dan memperoleh laba bersih yang pada akhirnya mencatatkan nilai rasio net profit margin sebesar 0.308.
Dibandingkan dengan rata-rata sebelum periode merger dan akuisisi, rasio ini mengalami peningkatan pada periode sesudah dilakukannya merger dan akuisisi dari -0.275 menjadi -0.134. Peningkatan net profit margin ini mengindikasikan membaiknya kemampuan Indofood dalam menghasilkan net income dari kegiatan operasi.
NPM -0,500
0,000 0,500
2005 2006 2007 2008 2009 2010 0,036 -0,235 -0,474 0,308
Nilai
Tahun
NPM
NPM
Gambar 17. Kondisi total asset turn over Hanson International sebelum merger dan akuisisi
Rasio aktivitas yang dapat diwakili oleh total asset turn over mengalami fluktuasi. Rasio ini meningkat sampai tahun 2001 dan mengalami penurunan ditahun 2002 dan meningkat kembali sampai tahun 2004. Fluktuasi pada nilai total asset turn over ini disebabkan oleh penurunan dan peningkatan pada penjualan dan total aktiva yang dimiliki Hanson. Peningkatan pada rasio total asset turn over mengindikasikan membaiknya kegiatan bisnis yang dijalankan Hanson karena semakin banyak volume bisnis yang dilakukan begitupun sebaliknya penurunan pada rasio total asset turn over mengindikasikan menurunnya kegiatan bisnis yang dijalankan karena semakin menurun volume bisnis yang dilakukan.
TATO 0,000
0,200 0,400 0,600
2000 2001 2002 2003 2004
0,411 0,466
0,376 0,439 0,512
Nilai
Tahun
TATO
TATO
Gambar 18. Kondisi total asset turn over Hanson International sesudah merger dan akuisisi
Rasio aktivitas yang dapat diwakili oleh total asset turn over juga mengalami fluktuasi setelah dilakukan aktivitas merger dan akuisisi. Pada tahun 2006 total asset turn over mengalami peningkatan yang kemudian diikuti dengan penurunan di tahun setelahnya. Pada tahun 2008 dan 2009 tidak terjadi perputaran penjualan terhadap aktiva, hal ini disebabkan pada tahun tersebut Hanson tidak membukukan penjualannya. Pada tahun 2010 Hanson kembali memperoleh nilai rasio total asset turn over sebesar 0.819 setelah perusahaan kembali membukukan hasil penjualannya.
Dibandingkan dengan rata-rata sebelum periode merger dan akuisisi, rasio ini mengalami peningkatan pada periode sesudah dilakukannya merger dan akuisisi dari 0.441 menjadi 0.651. Peningkatan rasio total asset turn over ini mengindikasikan efektifnya penggunaan aktiva dalam menghasilkan penjualan.
TATO 0,000
0,500 1,000
2005 2006 2007 2008 2009 2010 0,527 0,585 0,549
0,000 0,000
0,819
Nilai
Tahun
TATO
TATO
4.2.3. PT Kalbe Farma
Gambar 19. Kondisi current ratio Kalbe Farma sebelum merger dan akuisisi
Rasio likuiditas yang dapat diwakili oleh current ratio mengalami fluktuasi dan menempati posisi terendah pada tahun 2002 dengan nilai 1.177 dan posisi tertinggi pada tahun 2004 dengan nilai 3.010. Current ratio yang berfluktuasi disebabkan oleh aktiva lancar yang terus mengalami peningkatan dari tahun 2000 sampai dengan 2004 sedangkan hutang lancar yang berfluktuasi jumlahnya dari tahun ke tahun.
Menurunnya current ratio pada tahun 2002 menunjukan melemahnya kemampuan Kalbe untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya, namun demikian di tahun berikutnya Kalbe kembali terus menunjukan perbaikan pada rasio ini.
CR 0,000
1,000 2,000 3,000 4,000
2000 2001 2002 2003 2004
2,108 2,113
1,177 1,568
3,010
Nilai
Tahun
CR
CR
Gambar 20. Kondisi current ratio Kalbe Farma sesudah merger dan akuisisi
Rasio likuiditas yang dapat diwakili oleh current ratio mengalami peningkatan di tahun 2006 setelah itu rasio ini berangsur menurun sampai tahun 2009 hingga mencapai nilai terendah 2.987 kemudian current ratio kembali meningkat pada tahun 2010. Walaupun aktiva lancar secara berangsur menunjukan pertumbuhan tetapi hutang lancar mengalami fluktuasi, hal inilah yang melatarbelakangi naik turunnya nilai current ratio pada periode sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi.
Sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi, rata-rata current ratio menunjukan peningkatan dari 1.995 menjadi 4.148.
Meningkatnya rata-rata current ratio pada periode setelah dilakukannya merger dan akuisisi ini menunjukan membaiknya kemampuan Kalbe untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
CR 0,000
2,000 4,000 6,000
2005 2006 2007 2008 2009 2010
4,045 5,042 4,983
3,333 2,987 4,394
Nilai
Tahun
CR
CR
Gambar 21. Kondisi debt to equity ratio Kalbe Farma sebelum merger dan akuisisi
Rasio solvabilitas yang dapat diwakili oleh debt to equity ratio menunjukan trend yang terus membaik selama lima tahun sebelum melakukan aktivitas merger dan akuisisi. Jika pada tahun 2000 debt to equity ratio yang dicapai Kalbe sebesar 7.704 maka pada tahun 2004 telah mencapai 1.261 kali. Penurunan pada debt to equity ratio mengindikasikan membaiknya kemampuan perusahaan dalam membiayai kewajiban jangka panjangnya.
DER 0,000
2,000 4,000 6,000 8,000
2000 2001 2002 2003 2004
7,704
6,936
2,784
1,719
1,261
Nilai
Tahun
DER
DER
Gambar 22. Kondisi debt to equity Kalbe Farma sesudah merger dan akuisisi
Rasio solvabilitas yang dapat diwakili oleh debt to equity ratio mengalami fluktuasi. Di tahun 2006 debt to equity ratio mengalami penurunan dari tahun sebelumnya kemudian di tahun berikutnya current ratio berangsur membaik dan menempati nilai tertinggi pada tahun 2009 sebesar 0.393 setelah itu debt to equity ratio kembali mengalami penurunan di tahun 2010. Walaupun jumlah ekuitas mengalami peningkatan secara berangsur pada periode sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi namun jumlah kewajiban perusahaan mengalami fluktuasi, hal inilah yang menyebabkan fluktuasi pada rasio ini.
Sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi, rata-rata debt to equity rasio menunjukan penurunan dari 4.081 menjadi 0.339.
Penurunan pada debt to equity ratio mengindikasikan investasi yang dilakukan perusahaan lebih banyak didanai dari ekuitas pemegang saham dari pada oleh hutang dimana total ekuitas terus mengalami peningkatan dari tahun 2006 sampai 2010. Perubahan rasio antara periode sebelum dan sesudah merger dan akuisisi memudahkan Indofood untuk menarik perhatian para investor.
DER 0,000
0,500 1,000
2005 2006 2007 2008 2009 2010
0,762
0,361 0,331 0,375 0,393
0,235
Nilai
Tahun
DER
DER
Gambar 23. Kondisi kinerja keuangan Kalbe Farma sebelum merger dan akuisisi
Begitu juga dengan net profit margin yang mewakili rasio profitabilitas, rasio ini menunjukan trend yang terus membaik dari tahun 2000 yang pada awalnya net profit margin bernilai negatif -0.018 meningkat sampai dengan tahun 2003 menjadi 0.112 dan pada tahun 2004 kembali sedikit mengalami penurunan. Peningkatan net profit margin ini disebabkan oleh peningkatan laba bersih yang menunjukan perkembangan baik selama periode 2000 sampai 2004. Setelah rugi bersih tahun 2000 sebesar Rp 28 miliar, laba bersih terus meningkat sehingga pada tahun 2004 mencapai Rp 372 miliar. Peningkatan laba bersih ini disebabkan oleh kinerja operasional perusahaan yang terus membaik yang dibuktikan dengan pertumbuhan penjualan secara konsisten dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2004 dengan rata-rata pertumbuhan 25,3% per tahun.
-0,050 NPM 0,000 0,050 0,100 0,150
2000 2001 2002 2003 2004
-0,018 0,016
0,101 0,112 0,109
Nilai
Tahun
NPM
NPM
Gambar 24. Kondisi net profit margin Kalbe Farma sesudah merger dan akuisisi
Net profit margin yang mewakili rasio profitabilitas menunjukan penurunan pada tiga tahun pertama sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi kemudian rasio ini kembali meningkat dari tahun 2009 sampai tahun 2010. Peningkatan net profit margin ini disebabkan oleh peningkatan laba bersih yang menunjukan perkembangan baik diiringi pertumbuhan penjualan yang terus meningkat dari tahun 2006 sampai dengan 2010 yang membuktikan kinerja operasional Kalbe yang terus membaik.
Sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi, rata-rata net profit margin menunjukan peningkatan dari 0.064 menjadi 0.106.
Peningkatan net profit margin ini mengindikasikan membaiknya kemampuan Kalbe dalam menghasilkan net income dari kegiatan operasionalnya.
NPM 0,000
0,050 0,100 0,150
2005 2006 2007 2008 2009 2010 0,111 0,111 0,101
0,090 0,102 0,126
Nilai
Tahun
NPM
NPM
Gambar 25. Kondisi total asset turn over Kalbe Farma sebelum merger dan akuisisi
Rasio aktivitas yang dapat diwakili oleh total asset turn over cenderung mengalami peningkatan dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2002 dan mengalami penurunan sampai tahun 2004. Fluktuasi pada nilai total asset turn over ini disebabkan oleh pertumbuhan penjualan Kalbe yang tumbuh secara konsisten diiringi dengan peningkatan total aktiva.
Namun pada tahun tetentu peningkatan penjualan tidak sebesar peningkatan total aktiva, hal inilah yang menyebabkan nilai total asset turn over mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan pada rasio total asset turn over ini mengindikasikan membaiknya kegiatan bisnis yang dijalankan Kalbe karena semakin banyak volume bisnis yang dilakukan serta mengindikasikan efektifnya penggunaan aktiva dalam menghasilkan penjualan.
TATO 0,000
0,500 1,000 1,500
2000 2001 2002 2003 2004
0,888 1,090
1,316
1,180 1,131
Nilai
Tahun
TATO
TATO
Gambar 26. Kondisi total asset turn over Kalbe Farma sesudah merger dan akuisisi
Rasio aktivitas yang dapat diwakili oleh total asset turn over juga mengalami peningkatan dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010.
Peningkatan total asset turn over ini disebabkan oleh pertumbuhan penjualan Kalbe yang tumbuh secara konsisten diiringi dengan peningkatan total aktiva yang dimiliki Kalbe.
Sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi, rata-rata total asset turn over menunjukan peningkatan dari 1.121 menjadi 1.383.
Peningkatan pada rasio total asset turn over ini mengindikasikan membaiknya kegiatan bisnis yang dijalankan Kalbe karena semakin banyak volume bisnis yang dilakukan serta menunjukan efektivitas penggunaan aktiva dalam menghasilkan penjualan.
TATO 1,000
1,200 1,400 1,600
2005 2006 2007 2008 2009 2010 1,242 1,313 1,363 1,381 1,402 1,454
Nilai
Tahun
TATO
TATO
4.3. Perkembangan Kinerja Keuangan Perusahaan Sebelum dan Sesudah