• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAMPAK MERGER DAN AKUISISI TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS DAMPAK MERGER DAN AKUISISI TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)

(Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia, Periode 2005)

Oleh

ANUGERAH DEWI P. S.

H24080021

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

(2)

Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia, Periode 2005). Dibawah bimbingan FARIDA RATNA DEWI.

Adanya globalisasi dan perdagangan bebas menyebabkan persaingan usaha diantara perusahaan-perusahaan semakin tajam. Kondisi ini menuntut perusahaan untuk selalu mengembangkan strategi perusahaan agar dapat mempertahankan eksistensinya. Salah satu strategi yang dilakukan perusahaan adalah dengan melakukan merger dan akuisisi. Keberhasilan perusahaan dalam merger dan akuisisi dapat dilihat dari kinerja perusahaan tersebut, salah satunya kinerja keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi alasan perusahaan melakukan merger dan akuisisi, (2) Menganalisis kondisi kinerja keuangan perusahaan sebelum merger dan akuisisi, (3) Menganalisisi kondisi kinerja keuangan perusahaan sesudah merger dan akuisisi, (4) Menganalisis adanya perbedaan kinerja keuangan perusahaan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi.

Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Objek penelitian ini adalah perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang melakukan merger dan akuisisi pada tahun 2005.

Berdasarkan metode pengambilan sampel dengan purposive sampling, diperoleh tiga perusahaan yang memenuhi kriteria sampel. Analisis data dilakukan dengan membandingkan kinerja keuangan perusahaan pada periode sebelum dan sesudah merger dan akuisisi yang diwakili oleh current ratio, debt to equity ratio, net profit margin, dan total asset turn over. Selanjutnya digunakan uji beda paired sample t test untuk mengetahui ada tidaknya dampak akuisisi terhadap kinerja keuangan.

Alasan merger dan akusisi yang dilakukan perushaan berbeda-beda sesuai dengan tujuan dan keadaan perusahaan sampel. Begitu juga dengan kinerja keuangan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi bervariasi dari tahun ke tahun dan berbeda-beda untuk tiap perusahaan.

Dari hasil analisis deskriptif pada rasio keuangan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi maka dapat terlihat beberapa perubahan. Perubahan tersebut dapat berupa peningkatan atau penurunan pada nilai rata-rata setiap rasio, nilai maximum, nilai minimum, serta standar deviasi dari rasio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi.

Selanjutnya untuk melihat apakah terdapat perbedaan kinerja keuangan perusahaan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi dilakukan uji paired sample t test dengan SPSS 17. Dari hasil pengujian dengan membandingkan kinerja keuangan 5 tahun sebelum dan 5 tahun sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada current ratio, debt to equity ratio, net profit margin, dan total asset turn over antara sebelum dan sesudah merger dan akuisisi pada taraf signifikan 95%

(α=0.05).

Kata Kunci: Merger, Akuisisi, Kinerja Keuangan

(3)

(Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia, Periode 2005)

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI

Pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Oleh

ANUGERAH DEWI P. S.

H24080021

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

(4)

Nama : Anugerah Dewi P. S.

NIM : H24080021

Menyetujui, Pembimbing

(Farida Ratna Dewi, SE, MM) NIP : 19710307 200501 2 001

Mengetahui, Ketua Departemen

(Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc) NIP : 19610123 198601 1 002

Tanggal Lulus :

(5)

iv

Penulis bernama Anugerah Dewi Permata Sary yang dilahirkan di Jakarta pada tanggal 20 Desember 1990. Penulis merupakan anak ke dua dari pasangan Alm. Bapak Wito dan Ibu Giyanti.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasarnya di SDN Cipadu 1 Tangerang pada tahun 2002, pendidikan tingkat menengah pertama di SMP Negeri 245 Jakarta pada tahun 2005 dan pendidkan menengah atas di SMA Negeri 6 Jakarta pada tahun 2008. Setelah itu penulis melanjutkan studi untuk jenjang stara satu di Institut Pertanian Bogor. Penulis memulai studinya di tahun 2008 pada Mayor Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Selama menempuh masa studinya di IPB, penulis aktif di beberapa organisasi dan ikut serta menjadi panitia dalam beberapa acara kepanitiaan yang diselenggarakan oleh BEM FEM IPB dan BEM KM IPB. Penulis aktif sebagai staff Direktorat Public Relation Center of Management (COM@) (2009-2010).

Di tahun berikutnya penulis menjabat sebagai Dewan Komisaris Center of Management (COM@) (2010-2011). Selain aktif pada himpunan profesi, penulis juga aktif dalam unit kegiatan mahasiswa International Association of Student in Agricultural and Related Sciences (IAAS). Di organisasi ini penulis menjabat sebagai Head of Human Resources Develompent Department (2010-2011).

(6)

v

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Analisis Dampak Merger dan Akuisisi Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia, Periode 2005).” Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.

Skripsi ini membahas mengenai dampak merger dan akuisisi yang dilakukan perusahaan terhadap kinerja keuangannya. Dampak merger dan akuisisi yang dilakukan perusahaan dilihat dari perubahan kinerja keuangan setelah merger dan akuisisi yang di proyeksikan ke dalam empat rasio yaitu, current ratio, debt to equity ratio, net profit margin dan total asset turn over yang masing masing mewakili rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas dan rasio aktivitas.

Demikian skripsi ini dibuat dengan harapan dapat memberikan manfaat kepada para pembaca. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, baik dari segi materi maupun dari segi penyajiannya. Oleh karena itu penulis memohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam skripsi ini dan penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak.

Bogor, Maret 2012

Penulis

(7)

vi

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mendapat banyak bimbingan, masukan, motivasi, dan semangat dari berbagai pihak. Dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan ucapan terimakasih kepada:

1. Ibu Farida Ratna Dewi, SE, MM sebagai dosen pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, arahan, motivasi dan semangat kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.

2. Bapak R. Dikky Indrawan, SP, MM dan Ibu Dra. Siti Rahmawati M.Pd selaku dosen penguji sidang yang telah bersedia meluangkan waktunya menjadi penguji sidang dan memberikan bimbingan serta saran dalam penulisan skripsi ini.

3. Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc selaku ketua Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

4. Seluruh Dosen Departemen Manajemen beserta Staf Tata Usaha yang telah banyak membantu.

5. Kedua orang tua penulis yang telah mendidik, memberi kasih sayang, doa serta dukungan baik moril maupun materil kepada penulis dalam mengerjakan skripsi ini. Serta Eko yang telah memberikan bantuan yang tak terhitung nilainya.

6. Iqdam Nadirman yang selalu memberikan motivasi, semangat, kesabaran dan dukungan kepada penulis.

7. Sahabat sekaligus keluargaku di Putri Bunda, Dina, Mutia, Mafia, Aysri, dan Gita. Terimakasih atas kehangatan keluarga, pertolongan, dan keceriaan yang selalu kalian berikan.

8. Sahabat-sahabatku di Manajemen 45, Risya, Amel, Ida, Fitri, Regi dan Oca.

Terimakasih untuk keceriaan dan kebersamaanya selama ini.

9. Sahabat-sahabat tersayangku Debby, Bunga, Riris, Duma dan Tri yang selalu memberikan dukungan dan semangat kepada penulis.

10. Teman-teman Center of Management dan IAAS. Terimakasih untuk kekeluargaan dan teamwork selama berada di organisasi tersebut.

(8)

vii

12. Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan skripsi ini.

(9)

viii

RIWAYAT HIDUP ... iv

KATA PENGANTAR ... v

UCAPAN TERIMA KASIH ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 3

1.3. Tujuan Penelitian ... 4

1.4. Manfaat Penelitian ... 4

1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1. Merger dan Akuisisi ... 6

2.1.1 Pengertian ... 6

2.1.2 Motif Merger dan Akuisis ... 6

2.1.3 Jenis Merger ... 7

2.2. Analisis Laporan Keuangan ... 8

2.2.1 Pengertian Laporan Keuangan ... 8

2.2.2 Pengertian Analisis Laporan Keuangan ... 9

2.2.3 Tujuan Analisis ... 9

2.2.4 Jenis laporan Keuangan ... 10

2.2.5 Metode dan Teknik Analisis ... 11

2.2.6 Analisis Rasio Keuangan ... 12

2.2.6.1 Pengertian, Tujuan, dan Klasifikasi Rasio .... 12

2.2.6.2 Keunggulan Analisis Rasio ... 13

2.3. Uji Normalitas Data ... 13

2.4. Uji Paired Sample T Test ... 14

2.5. Penelitian Terdahulu ... 16

III. METODE PENELITIAN ... 18

3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 18

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 20

3.3. Sumber Data dan Metode Pengumpulan Data ... 20

3.4. Metode Analisis Data ... 21

3.4.1 Variabel Penelitian ... 21

3.4.2 Teknik Analisis ... 23

3.4.2.1 Analisis Deskriptif ... 23

(10)

ix

4.1. Gambaran Umum Perusahaan dan Alasan Melakukan

Merger dan Akuisisi ... 27

4.1.1 PT Indofood Sukses Makmur ... 27

4.1.2 PT Hanson International ... 29

4.1.3 PT Kalbe Farma ... 31

4.2. Kondisi Kinerja Keuangan Perusahaan Sebelum dan Sesudah Merger dan Akuisisi ... 34

4.2.1 PT Indofood Sukses Makmur ... 36

4.2.2 PT Hanson International ... 44

4.2.3 PT Kalbe Farma ... 52

4.3 Perkembangan Kinerja Keuangan Perusahaan Sebelum dan Sesudah Merger dan Akuisisi ... 60

4.3.1 PT Indofood Sukses Makmur ... 60

4.3.2 PT Hanson International ... 62

4.3.3 PT Kalbe Farma ... 63

4.4. Analisis Deskriptif ... 65

4.4.1 Analisis Deskriptif Sebelum Merger dan Akuisisi ... 66

4.4.2 Analisis Deskriptif Sesudah Merger dan Akuisisi ... 67

4.4.3 Perbandingan Analisis Deskriptif Rata-Rata Sebelum dan Sesudah Merger dan Akuisisi ... 68

4.4.3.1 Analisis Rasio Likuiditas ... 69

4.4.3.2 Analisis Rasio Solvabilitas ... 71

4.4.3.3 Analisis Rasio Profitabilitas ... 72

4.4.3.4 Analisis Rasio Aktivitas ... 73

4.5. Uji Paired Sample T Test ... 75

4.5.1 Analisis Rasio Likuiditas ... 75

4.5.2 Analisis Rasio Solvabilitas ... 76

4.5.3 Analisis Rasio Profitabilitas ... 77

4.5.4 Analisis Rasio Aktivitas ... 77

KESIMPULAN DAN SARAN ... 80

a. Kesimpulan ... 80

b. Saran ... 81

DAFTAR PUSTAKA ... 82

LAMPIRAN ... 84

(11)

x

1. Daftar perusahaan sampel... 21

2. Hasil pengujian normalitas data ... 21

3. Daftar rasio keuangan sebelum merger dan akuisisi ... 34

4. Daftar rasio keuangan sesudah merger dan akuisisi ... 35

5. Daftar perkembangan kinerja keuangan PT Indofood Sukses Makmur ... 6. Daftar perkembangan kinerja keuangan PT Hanson International 62 7. Daftar perkembangan kinerja keuangan PT Kalbe Farma ... 63

8. Hasil analisis deskriptif sebelum dan sesudah merger dan akuisisi ... 65

9. Hasil analisis deskriptif rata-rata sebelum dan sesudah merger dan akuisisi ... 63

10. Hasil paired sample t test sebelum dan sesudah merger dan Akuisisi ... 69

(12)

xi

1. Kurva distribusi normal ... 14 2. Kerangka pemikiran penelitian... 19 3. Kondisi current ratio Indofood Sukses Makmur sebelum

merger dan akuisisi ... 36 4. Kondisi current ratio Indofood Sukses Makmur sesudah

merger dan akuisisi ... 37 5. Kondisi debt to equity ratio Indofood Sukses Makmur

sebelum merger dan akuisisi ... 38 6. Kondisi debt to equity ratio Indofood Sukses Makmur

sesudah merger dan akuisisi ... 39 7. Kondisi net profit margin Indofood Sukses Makmur

sebelum merger dan akuisisi ... 40 8. Kondisi net profit margin Indofood Sukses Makmur

sesudah merger dan akuisisi ... 41 9. Kondisi total asset turn over Indofood Sukses Makmur

sebelum merger dan akuisisi ... 42 10. Kondisi total asset turn over Indofood Sukses Makmur

sesudah merger dan akuisisi ... 43 11. Kondisi current ratio Hanson International sebelum merger

dan akuisisi ... 44 12. Kondisi current ratio Hanson International sesudah merger

dan akuisisi ... 45 13. Kondisi debt to equity ratio Hanson International sebelum

merger dan akuisisi ... 46 14. Kondisi debt to equity ratio Hanson International sesudah

merger dan akuisisi ... 47 15. Kondisi net profit margin Hanson International sebelum

merger dan akuisisi ... 48 16. Kondisi net profit margin Hanson International sesudah

merger dan akuisisi ... 49 17. Kondisi total asset turn over Hanson International sebelum

merger dan akuisisi ... 50 18. Kondisi total asset turn over Hanson International sesudah

merger dan akuisisi ... 51 19. Kondisi current ratio Kalbe Farma sebelum merger dan

akuisisi ... 52 20. Kondisi current ratio Kalbe Farma sesudah merger dan

akuisisi ... 53 21. Kondisi debt to equity ratio Kalbe Farma sebelum merger

dan akuisisi ... 54 22. Kondisi debt to equity ratio Kalbe Farma sesudah merger

dan akuisisi ... 55 23. Kondisi net profit margin Kalbe Farma sebelum merger

dan akuisisi ... 56

(13)

xii

26. Kondisi total asset turn over Kalbe Farma sesudah merger

dan akuisisi ... 59 27. Perubahan komponen current ratio sebelum dan sesudah

merger dan akuisisi ... 64 28. Perubahan komponen debt to equity ratio sebelum dan

sesudah merger dan akuisisi ... 66 29. Perubahan komponen net profit margin sebelum dan

sesudah merger dan akuisisi ... 67 30. Perubahan komponen total asset turn over sebelum dan

sesudah merger dan akuisisi ... 68

(14)

xiii

1. Daftar rasio keuangan ... 85

2. Hasil output uji normalitas ... 86

3. Hasil output uji deskriptif ... 87

4. Hasil output bloxplot ... 88

5. Hasil output uji paired sample t test ... 93

6. Perhitungan manual uji beda berpasangan ... 95

(15)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Adanya globalisasi dan perdagangan bebas menyebabkan persaingan usaha diantara perusahaan-perusahaan semakin tajam. Kondisi ini menuntut perusahaan untuk selalu mengembangakan strategi perusahaan agar dapat mempertahankan eksistensinya, baik strategi jangka pendek maupun strategi jangka panjang. Masalah penggabungan usaha selalu menarik perhatian karena banyak aspek dan kepentingan yang terkait. Penggabungan usaha dapat dilakukan dengan berbagai cara yang didasarkan pada pertimbangan hukum, perpajakan atau alasan lainnya. Melalui penggabungan beberapa usaha, diharapkan perusahaan-perusahaan itu dapat meningkatkan pangsa pasar, diversifikasi usaha, atau meningkatkan integrasi vertikal dari aktivitas operasional yang ada.

Salah satu strategi yang dilakukan perusahaan adalah dengan melakukan merger dan akuisisi. Perusahaan melakukan merger dan akuisisi bertujuan untuk membuat skala bisnis menjadi lebih besar di tengah kompetisi. Merger dan akuisisi merupakan alternatif investasi modal pertumbuhan secara internal. Merger terjadi ketika dua organisasi yang berukuran kurang lebih sama bersatu untuk membangun satu jenis usaha sedangkan akuisisi terjadi ketika sebuah organisasi yang besar membeli suatu perusahaan yang lebih kecil atau sebaliknya.

Merger dan akuisisi di Indonesia telah berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah alternatif strategi yang menarik bagi banyak perusahaan baik domestik maupun asing untuk melakukannya. Merger di Indonesia secara umum diatur dalam Undang-undang No.1/1995 mengenai Perseroan Terbatas, Peraturan Pemerintah No. 27/1998 mengenai Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas, Peraturan Pemerintah No. 28/1999 mengenai Merger, Konsolidasi dan Akuisisi Bank dan peraturan-peraturan lain yang terkait. Untuk perusahaan

(16)

Terbuka, merger diatur dalam Peraturan Bapepam No. IX.G.1 mengenai Penggabungan dan Peleburan Usaha Perusahaan Publik atau Emiten.

Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) mencatat nilai merger dan akuisisi atau penggabungan usaha selama tahun 2011 mencapai Rp 70,3 triliun yang terdiri atas transaksi sesama perusahaan asing Rp 39,5 triliun, perusahaan asing dan perusahaan Indonesia Rp 26,2 triliun, serta sesama perusahaan lokal Rp 4,6 triliun. Jumlah ini lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun 2010. (Sumber:http://www.kabarbisnis.com)

Pada tahun 2005, menurut Dealogic’s Invesment Banking Review, Asia tampil di posisi teratas dalam merger dan akuisisi global pada kuartal pertama dengan nilai kesepakatan yang diumumkan melonjak sebesar 75%

dari periode yang sama tahun lalu yang jauh lebih cepat daripada kawasan manapun. Indonesia menjadi salah satu negara yang menunjukan pertumbuhan terkuat dengan nilai kesepakatan merger dan akuisisi meningkat sebesar 37% menjadi US$ 5,4 miliar. (Sumber: http://www.merdeka.com)

Contoh perusahaan yang pernah melakukan aktivitas akuisisi di tahun 2005 adalah PT Indofood Sukses Makmur. Pada 1 Juni 2005 perusahaan ini melalui anak perusahaannya PT Salim Ivomas mengakuisisi PT Kebun Ganda Prima dan PT Citranusa Intisawit senilai Rp. 175 miliar atau 100%

saham dari Silveron Investment Ltd Milik Reserve Cash Ltd pemegang saham KGP dan CI. Akuisisi ini adalah akuisisi eksternal perusahaan yang bergerak dalam perkebunan sawit di Kalimantan Barat seluas 27 ribu hektar.

(Sumber: Dokumentasi Bursa Efek Indonesia)

Contoh lain adalah merger yang dilakukan oleh PT Hanson International Tbk yang mengakuisisi 50% saham PT Panca Amara Utama pada 15 April 2005. Akuisisi ini merupakan upaya penyelamatan PT Hanson Industri Utama Tbk setelah core bisnisnya yakni tekstil bangkrut. Perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi PT Hanson International Tbk dan beralih menjadi perusahaan investasi. (Sumber: Dokumentasi Bursa Efek Indonesia)

Selain dua perusahaan diatas, pada tahun 2005 tercatat 19 perusahaan terbuka yang melakukan aktivitas merger dan akuisisi di Indonesia. Enam

(17)

diantaranya bertindak sebagai perusahaan pengakuisisi, yaitu Indofood Sukses Makmur, Hanson International, Kalbe Farma, Bakrie Sumatera Plantation, Medco Energy International, dan Bat Indonesia. Sedangkan 13 perusahaan lainnya berindak sebagai perusahaan target, yaitu Bank NISP, Bank Buana Indonesia, Bank Lippo, Bank Arta Graha, Cahaya Kalbar, Gajah Tunggal, HM Sampoerna, Cipta Televisi Pendidikan Indonesia, Lippo Karawaci, Excelkomindo Pratama, Ring Tenders Indonesia, Summitplast, dan Duta Semesta Mas.

Keberhasilan perusahaan dalam merger dan akuisisi dapat dilihat dari kinerja perusahaan tersebut, salah satunya kinerja keuangan. Perubahan yang terjadi setelah perusahaan melakukan melakukan merger dan akuisisi biasanya akan tampak dari kinerja perusahaan dan keadaan finansialnya.

Setelah melakukan merger dan akuisisi, posisi keuangan perusahaan mengalami perubahan dan tercermin dalam laporan keuangannya.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Dampak Merger dan Akuisisi Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2005).”

1.2. Perumusan Masalah

Aktivitas merger dan akuisisi yang dilakukan oleh perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia menarik untuk dianalisis karena aktivitas merger dan akuisisi mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan, diantaranya investor, kreditor, pemerintah dan masyarakat umum.

Pada tahun 2005 tercatat banyak aktivitas merger dan akuisisi yang dilakukan perusahaan publik, namun penelitian ini fokus untuk menganalisis dampak merger dan akuisisi pada perusahaan publik dari sektor manufaktur.

Dipilihnya perusahaan yang berasal dari sektor manufaktur dilatarbelakangi oleh fakta bahwa mayoritas perusahaan yang melakukan aktivitas merger dan akuisisi pada tahun 2005 adalah perusahaan yang bergerak di sektor manufaktur. Perusahaan yang menjadi fokus penelitian ini diantaranya Indofood Sukses Makmur, Hanson International, dan Kalbe Farma.

(18)

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah :

1. Apakah alasan perusahaan manufaktur melakukan merger dan akuisisi?

2. Bagaimana kondisi kinerja keuangan perusahaan manufaktur sebelum merger dan akuisisi?

3. Bagaimana kondisi kinerja keuangan perusahaan manufaktur sesudah merger dan akuisisi?

4. Apakah terdapat perbedaan kinerja keuangan perusahaan manufaktur sebelum dan sesudah merger dan akuisisi?

1.3. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi alasan perusahaan manufaktur melakukan merger dan akuisisi.

2. Menganalisis kondisi kinerja keuangan perusahaan manufaktur sebelum merger dan akuisisi.

3. Menganalisis kondisi kinerja keuangan perusahaan manufaktur sesudah merger dan akuisisi.

4. Menganalisis adanya perbedaan kinerja keuangan manufaktur perusahaan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat mengukur perubahan kinerja keuangan perusahaan setelah dilakukannya merger dan akuisisi serta memberikan masukan kepada perusahaan sebagai bahan pertimbangan yang dapat digunakan untuk menentukan langkah perusahaan selanjutnya.

2. Bagi Investor

Melalui penelitian ini diharapkan investor dapat mengetahui pengaruh aksi perusahaan dalam melakukan merger dan akuisisi terhadap fundamental perusahaan melalui kinerja keuangan yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan investasi.

(19)

3. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumber informasi, pembanding, pertimbangan, dan pengembangan bagi penelitian lebih lanjut di permasalahan yang sejenis atau bersangkutan.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dari penelitian ini berkaitan dengan analisis data laporan keuangan periode lima tahun sebelum dan lima tahun sesudah dilakukannya merger dan akuisisi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia, dimana perusahaan tersebut melakukan aktivitas merger dan akuisisi pada tahun 2005. Selanjutnya dilakukan uji beda dengan paired sample t test untuk melihat adanya perbedaan kinerja keuangan perusahaan antara sebelum dan sesudah merger dan akuisisi.

(20)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Merger dan Akuisisi 2.1.1 Pengertian

Merger dan akuisisi merupakan dua cara yang lazim dipakai untuk menjalankan strategi. Merger terjadi manakala dua organisasi yang berukuran kurang lebih sama bersatu untuk membangun satu jenis usaha.

Akuisisi terjadi ketika sebuah organisasi yang besar membeli (mengakuisisi) suatu perusahaan yang lebih kecil, atau sebaliknya. Ketika merger atau akuisisi tidak diinginkan oleh kedua belah pihak, maka dapat disebut pengambilalihan (takeover). Sebaliknya jika diinginkan oleh kedua belah pihak, akuisisi diistilahkan sebagai merger yang bersahabat (friendly merger). (David 2009)

2.1.2 Motif merger dan akuisisi

Menurut Brigham dan Houston (2001) menyebutkan terdapat beberapa motif perusahaan dalam melakukan merger dan akuisisi, diantaranya:

1. Sinergi

Motif utama dalam sebagian besar merger adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan yang bergabung. Perusahaan yang melakukan merger berusaha untuk mencapai sinergi, yaitu kondisi dimana nilai keseluruhan lebih besar daripada hasil penjumlahan bagian-bagiannya. Pengaruh sinergi bisa timbul dari empat sumber: (1) Penghematan operasi, yang dihasilkan dari skala ekonomis manajemen, pemasaran, produksi, atau distribusi; (2) penghematan keuangan, yang meliputi biaya transaksi yang lebih rendah dan evaluasi yang lebih baik dari pada analis sekuritas; (3) perbedaan efisiensi, yang berarti bahwa manajemen salah satu perusahaan lebih efisien dan aktiva perusahaan yang lemah akan lebih produktif setelah merger; dan (4) peningkatan penguasaan pasar akibat berkurangnya persaingan.

(21)

2. Pertimbangan pajak

Pertimbangan pajak dapat mendorong dilakukannya sejumlah merger, misalnya perusahaan yang menguntungkan dan termasuk dalam kelompok tarif pajak tertinggi dapat mengambil alih perusahaan yang memiliki akumulasi kerugian yang besar. Selain itu merger dan akuisisi dapat dipilih sebagai cara untuk meminimalkan pajak dan menggunakan kas berlebih.

3. Pembelian aktiva di bawah biaya penggantian

Kadang-kadang perusahaan diambil alih karena nilai penggantian aktivanya yang lebih tinggi daripada nilai pasar perusahaan itu sendiri.

Tentu saja, nilai sebenarnya dari setiap perusahaan adalah fungsi daya menghasilkan laba masa depannya, bukan biaya untuk mengganti aktivanya. Jadi, akuisisi harus didasarkan nilai ekonomi aktiva yang diakuisisi, bukan atas biaya penggantinya.

4. Diversifikasi

Diversivikasi merupakan salah satu alasan untuk melakukan merger, hal ini karena diversifikasi membantu menstabilkan laba perusahaan sehingga bermanfaat bagi pemiliknya.

5. Insentif pribadi manajer

Beberapa keputusan bisnis banyak didasarkan pada motivasi pribadi daripada analisis ekonomi, begitu juga dengan keputusan merger dan akuisisi. Terkadang ego eksekutif memegang peranan penting dalam keputusan merger dan akuisisi.

2.1.3 Jenis merger

Para ekonom mengklasifikasikan merger dan akuisisi menjadi empat jenis (Brigham dan Houston 2001):

1. Merger horizontal

Merger horizontal adalah penggabungan dua jenis perusahaan yang menghasilkan jenis produk atau jasa yang sama. Merger ini terjadi apabila perusahaan dalam jenis usaha yang sama saling bergabung, misalnya jika suatu pabrikan komputer mengakuisisi pabrikan lain.

(22)

2. Merger vertikal

Merger vertikal adalah penggabungan atau merger antara satu perusahaan dengan salah satu pemasok atau pelangganya. Contoh merger vertikal adalah pengambilalihan pabrik baja oleh suatu pemasoknya, seperti perusahaan minyak yang mengakuisisi sebuah perusahaan petrokimia yang menggunakan minyak sebagai bahan baku.

3. Merger kongenerik

Merger kongenerik adalah penggabungan perusahaan yang bergerak dalam industri umum yang sama tetapi tidak ada hubungan pelanggan dan pemasok diantara keduanya. Merger ini melibatkan perusahaan- perusahaan yang berkaitan satu sama lain tetapi bukan merupakan produsen produk yang sama (horizontal) dan juga tidak mempunyai hubungan sebagai produsen pemasok (vertikal). Contoh dari merger jenis ini adalah pengambilalihan Lotus oleh IBM .

4. Merger konglomerat

Merger konglomerat adalah penggabungan perusahaan dari industri yang benar-benar berbeda, seperti halnya pengambilalihan Mongtomery oleh Mobil Oil.

Penghematan operasi sebagian bergantung pada jenis merger yang terjadi. Pada umumnya merger horizontal dan vertikal memberikan manfaat operasi sinergistik terbesar, untuk itu dalam setiap kejadian perlu untuk mempertimbangkan klasifikasi ekonomi ketika menganalisis merger yang prospektif.

2.2 Analisis Laporan keuangan 2.2.1 Pengertian

Harahap (2004) mengemukakan bahwa laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahan pada suatu saat tertentu atau suatu jangka waktu tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah: neraca atau laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan posisi keuangan.

(23)

Laporan keuangan merupakan media yang paling penting untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomis suatu perusahaan. Laporan keuangan inilah yang menjadi bahan sarana informasi bagi analis dalam proses pengambilan keputusan. Laporan keuangan dapat menggambarkan posisi keuangan perusahaan, hasil usaha perusahaan dalam suatu periode, dan arus kas perusahaan dalam periode tertentu.

2.2.2 Pengertian analisis laporan keuangan

Prastowo dan Juliaty (2008) memberi definisi analisis laporan keuangan sebagai suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan dalam masa sekarang dan masa lalu dengan tujuan untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang.

Lebih jauh lagi Prastowo dan Juliaty (2008) menegaskan bahwa disiplin dari suatu analisis terhadap laporan keuangan terletak pada dua landasan pengetahuan, yaitu landasan pemahaman terhadap model-model akuntansi seperti yang tercermin dalam laporan keuangan yang dipublikasikan dan landasan penguasaan terhadap alat-alat analisis keuangan.

2.2.3 Tujuan analisis

Prastowo dan Juliaty (2008) mengemukakan analisis laporan keuangan dilakukan untuk mencapai beberapa tujuan, misalnya dapat digunakan sebagai alat screening awal dalam memilih alternatif investasi atau merger; sebagai alat forecasting mengenai kondisi dan kinerja keuangan dimasa yang akan datang; sebagai proses diagnosis terhadap masalah-masalah manajemen, operasi, atau masalah lainnya; dan sebagai alat evaluasi terhadap manajemen.

Dari semua tujuan tersebut yang terpenting dari analisis laporan keuangan adalah tujuannya untuk mengurangi ketergantungan para pengambil keputusan pada dugaan murni, tekanan, dan intuisi; mengurangi dan mempersempit lingkup ketidakpastian yang tidak bisa dielakan pada

(24)

setiap proses pengambilan keputusan. Analisis laporan keuangan tidaklah berarti mengurangi kebutuhan akan penggunaan pertimbangan- pertimbangan melainkan hanya memberikan dasar yang layak dan sistematis dalam menggunakan pertimbangan tersebut.

2.2.4 Jenis laporan keuangan

Jenis laporan keuangan utama menurut Harahap (2004) diantaranya:

1. Daftar neraca yang menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada suatu tanggal tertentu

2. Perhitungan laba rugi yang menggambarkan jumlah hasil, biaya dan laba rugi perusahaan pada suatu periode tertentu

3. Laporan sumber dan penggunaan dana. Pada laporan ini dimuat sumber dan pengeluaran perusahaan selama satu periode

4. Laporan arus kas. Laporan ini memuat sumber dan penggunaan kas dalam suatu periode

5. Laporan harga pokok produksi yang menggambarkan berapa dan unsur apa yang diperhitungkan dalam menentukan harga pokok produksi suatu barang. Dalam hal tertentu harga pokok produksi disatukan dalam harga pokok penjualan.

HPPj = HPPd + Persediaaan awal – Persediaan akhir

Harga pokok penjualan adalah harga pokok produksi ditambah persediaaan barang awal dikurangi persediaan barang akhir.

6. Laporan laba ditahan, menjelaskan posisi laba ditahan yang tidak dibagikan kepada pemilik saham.

7. Laporan perubahan modal, menjelaskan perubahan posisi modal baik dalam PT atau modal dalam perusahaan perseroan.

8. Laporan kegiatan keuangan. Laporan ini menggambarkan transaksi laporan keuangan perusahaan yang mempengaruhi kas atau ekuivalen kas. Laporan ini jarang digunakan dan merupakan rekomendasi Trueblood Committee tahun 1974.

(25)

2.2.5 Metode dan teknik analisis

Prastowo dan Juliaty (2008) menyatakan secara umum, metode analisis laporan keuangan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu metode analisis horizontal (dinamis) dan metode analisis vertikal (statis).

Metode analisis horizontal (dinamis) adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara membandingkan laporan keuangan untuk beberapa tahun (periode), sehingga dapat diketahui perkembangan dan kecenderungannya. Metode ini disebut metode analisis horizontal karena analisis ini membandingkan pos yang sama untuk periode yang berbeda sedangkan disebut analisis dinamis karena metode ini bergerak dari tahun ke tahun (periode). Teknik analisis yang temasuk pada klasifikasi metode ini antara lain teknik perbandingan, analisis trend, analisis sumber dan penggunaan dana, dan analisis perubahan laba kotor.

Metode analisis vertikal (statis) adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara menganalisis laporan keuangan pada tahun (periode) tertentu, yaitu dengan membandingkan antara pos satu dengan pos lainnya pada laporan keuangan yang sama untuk tahun (periode) yang sama. Oleh karena membandingkan antara pos yang satu dengan pos lainnya pada laporan keuangan yang sama maka disebut metode vertikal.

Sedangkan metode ini disebut metode statis karena metode ini hanya membandingkan pos-pos laporan keuangan pada tahun (periode) yang sama. Teknik analisis yang termasuk pada klasifikasi metode ini antara lain teknik analisis persentase perkomponen (Common Size), analisis rasio, dan analisis impas.

Analisis rasio merupakan teknik analisis laporan keuangan yang paling banyak dipakai dalam praktik. Dalam analisis rasio, hal yang perlu ditekankan adalah arti dan kegunaan dari masing-masing angka rasio tersebut. Ray H. Garrison misalnya mengklasifikasikan analisis rasio menjadi tiga, yaitu rasio investor, rasio jangka pendek, dan rasio kreditor jangka panjang.

Agar diperoleh hasil yang optimal, maka analisis terhadap laporan keuangan harus mempunyai fokus yang jelas. Hal ini diharapkan dapat

(26)

memenuhi kebutuhan umum para pemakai laporan keuangan, analisis laporan keuangan harus difokuskan pada lima area analisis, yaitu menilai likuiditas, struktur modal, return on investment, pemanfaatan aktiva, dan kinerja operasi.

Analisis terhadap laporan kinerja keuangan dengan berbagai metode dan teknik analisis serta telah memfokuskan pada area analisis yang jelas akan menghasilkan informasi penting, yaitu informasi mengenai kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan.

2.2.6 Analisis rasio keuangan

2.2.6.1 Pengertian , tujuan, dan klasifikasi rasio

Harahap (2004) menjelaskan rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan suatu pos laporan keuangan dengan pos lain yang mempunyai hubungan relevan dan signifikan. Rasio ini menyederhanakan informasi yang menggambarkan hubungan antara satu pos tertentu dengan pos lainnya. Dengan penyederhanaan ini kita dapat menilai secara cepat hubungan antara pos dan membandingkannya dengan rasio lain sehingga kita dapat memperoleh informasi dan memberikan penilaian.

Rasio menyediakan profil dari suatu perusahaan, karakteristik ekonomi dan strategi kompetitifnya, juga karakteristik operasional, finansial dan investasinya White et al. (2003). White et. al. membagi analisa rasio menjadi empat kategori utama, yaitu:

1. Rasio aktivitas, yaitu rasio yang menggambarkan hubungan antara tingkat operasi perusahaan dan aset yang dibutuhkan untuk menjaga kesinambungan kegiatan operasi tersebut. Rasio ini dibagi menjadi dua subkategori:

a. Short-term (operating) activity, mengukur efisiensi dari penggunaan sumber daya modal jangka pendek.

b. Long-term (investment) activity, mengukur efisiensi dari penggunaan investasi modal jangka panjang.

(27)

2. Rasio likuiditas, membandingkan sumber daya jangka pendek perusahaan terhadap kewajiban jangka pendek perusahaan.

3. Rasio utang jangka panjang dan solvency ratio, mengevaluasi prospek risk dan return perusahaan dalam jangka panjang.

4. Rasio profitabilitas, mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan, menjaga dan meningkatkan keuntungan. Dibagi menjadi dua subkategori yaitu:

a. Return on sales, mengukur hubungan antara biaya dan tingkat penjualan perusahaan.

b. Return on investment, mengukur antara keuntungan dan jumlah investasi yang diperlukan untuk menghasilkan keuntungan tersebut.

2.2.6.2 Keunggulan analisis rasio

Menurut Harahap (2004), analisis rasio memiliki keunggulan dibanding dengan teknik analsis lainnya. Keunggulan tersebut adalah:

1. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan

2. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit

3. Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain

4. Bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan keputusan dan model prediksi (Z-score)

5. Menstandarisir size perusahaan

6. Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau time series

7. Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi dimasa yang akan datang

2.3 Uji Normalitas Data

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui distribusi data dalam variabel yang akan digunakan dalam penelitian (Nugroho 2005). Prosedur

(28)

yang digunakan pada uji statistik dilandaskan oleh asumsi-asumsi tertentu diantaranya bahwa data harus berdistribusi normal. Selain itu data yang digunakan berupa data kuantitatif dengan skala pengukuran interval dan rasio.

Kisaran dari kemungkinan hasil distibusi normal adalah seluruh garis, yaitu semua angka yang terletak diantara -∞ dan +∞. Ekor dari kurva lonceng memiliki panjang tanpa batas kiri dan kanan. (De Fusco et al. 2001)

Gambar 1. Kurva distribusi normal

Definisi karakteristik dari distribusi normal menurut De Fusco et al.

(2001) diantaranya:

1. Distribusi normal digambarkan oleh dua parameter, yaitu mean µ dan varians σ2.

𝑋~𝑁(µ, σ2) ……….(1)

2. Distribusi normal memiliki skewness 0 yang berarti simetris. Distribusi normal mempunyai kurtosis 3 yang berarti yang mengukur puncak, dengan kurtosis yang berlebihan (-3) dianggap 0. Sebagai konsekuensi dari simetri, rata-rata, median, dan semua modus adalah sama untuk variabel acak normal.

3. Kombinasi dari dua atau lebih variasi acak normal juga terdistribusi normal.

2.4 Uji Paired Sample T Test

Menurut De Fusco et al. (2001), terdapat tiga jenis uji mengenai hipotesis rata-rata berdasarkan masalahnya:

1. Uji mengenai single mean, digunakan untuk menguji rata-rata populasi dari satu populasi apakah sama, lebih besar, atau lebih kecil dari beberapa nilai hipotesis.

(29)

2. Uji mengenai perbedaan diantara mean, digunakan untuk menguji sampel yang yang berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan sampel saling bebas.

3. Uji mengenai perbedaan mean, digunakan untuk menguji dua rata-rata bedasarkan sampel dependen dimana data disusun dalam pengamatan berpasangan dan uji ini disebut dengan uji perbandingan berpasangan atau paired sample t test. Data yang digunakan merupakan data berpasangan dari satu sampel antara sebelum dan sesudah perlakuan tertentu yang kemudian diuji rata-rata perbedaan.

De Fusco et al. (2001) merumuskan hipotesis sebagai berikut untuk uji mengenai perbedaan berpasangan dengan sampel dependen.

𝐻0 = 𝜇𝑑− 𝜇𝑑0= 0 𝐻1 = 𝜇𝑑− 𝜇𝑑0 ≠ 0

Untuk menghitung t-statistik atau t-hitung harus ditentukan terlebih dahulu rata-rata perbedaan sample:

𝑑̅ =𝑛1𝑛𝑖=0𝑑𝑖 ………..(2) Dimana n adalah jumlah pasangan pengamatan. Kemudian hitung variasi dengan rumus:

𝑠𝑑2= �𝑑𝑖−𝑑��

𝑛 2

𝑖=0𝑛−1 ………..…(3)

Hitung standar deviasi dengan mengakarkan nilai variasi:

𝑠𝑑 = �𝑠𝑑2 ………...………..(4) Hitung standar eror dari perbedaan mean dengan rumus:

𝑠𝑑 =√𝑛𝑠𝑑 ………..………(5) Statistik uji yang digunakan untuk pengujian:

𝑡ℎ𝑖𝑡 = 𝑑�− 𝜇𝑠 𝑑0

𝑑 ……….………..(6)

Wilayah kritik dari pengujian, yaitu:

𝑡 < −𝑡

2 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑡 > 𝑡

2 ………...…(7)

(30)

2.5 Penelitian terdahulu

Beberapa penelitian di Indonesia mengenai pengaruh merger dan akuisisi terhadap kinerja keuangan diantaranya adalah yang dilakukan Murni Hadingsih (2007) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa peningkatan dan penurunan yang terjadi pada rasio-rasio keuangan tidak cukup kuat untuk menunjukkan adanya pengaruh merger dan akuisisi terhadap rasio keuangan, baik perusahaan pengakuisisi maupun perusahaan yang diakuisisi. Hal ini dibuktikan dengan tidak terdapat perbedaan secara signifikan antara satu tahun sebelum dengan satu tahun sesudah merger dan akuisisi dan satu tahun sebelum dengan dua tahun sesudah merger dan akuisisi.

Payamta dan Setiawan (2004) dalam Murni Hadiningsih (2007) meneliti pengaruh merger dan akuisisi kinerja keuangan perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi tahun 1990-1996. Dari rasio-rasio keuangan yang terdiri rasio likuiditas, solvabilitas, aktivitas, dan profitabilitas hanya rasio Total Asset Turnover, Fixed Asset Turnover, Return On Investment, Return On Equity, Net profit margin, Operating Profit Margin, Total Asset to Debt, Net Worth to Debt yang mengalami penurunan signifikan setelah merger dan akuisisi. Sedangkan rasio lainnya tidak mengalami perubahan signifikan.

Annisa Meta C. W. (2009) membuktikan bahwa kinerja keuangan yang diproksikan dengan total asset turnover (TATO), net provit margin (NPM) dan return on asset (ROA) mengalami perubahan yang berbeda-beda baik sebelum maupun sesudah merger dan akuisisi. TATO mengalami kenaikan sesudah merger dan akuisisi dibandingkan sebelum merger dan akuisisi, sedangkan NPM dan ROA mengalami penurunan sesudah merger dan akuisisi.

Morck (1990) dalam Ali Riza Pahlevi (2011) melakukan penelitian mengenai pengaruh tujuan manager pengakuisisi terhadap hasil akusisi antara bidder dan target. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 326 akusisi di Amerika Serikat yang dilaksanakan selama periode waktu 1975 sampai 1987. Menurut peneliti (Morck), manager yang buruk akan menghasilkan akusisi yang buruk pula. Alternatifnya manager yang buruk memiliki insentif yang lebih untuk mengakuisisi perusahaan target dengan

(31)

tujuan untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan atau untuk menemukan bisnis baru yang lebih sehat dengan melakukan diversifikasi perusahaan target yang tidak berhubungan (unrelated diversification) dan membeli perusahaan target yang sedang tumbuh guna mengurangi tingkat pengembalian (return) dalam akusisi. Di mana manager yang buruk juga akan menghasilkan keputusan merger dan akuisisi yang buruk pula.

Chad Van Mallow (2000) melakukan penelitian untuk menguji pengalaman merger dan akuisisi pada industri jasa keuangan di Amerika Serikat pada tahun 1990-an. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah penggabungan yang telah dilakukan mengakibatkan peningkatan efisiensi operasi. Sebanyak 25 bank terbesar di teliti pada rasio keuangan umum untuk industri jasa keuangan, diantaranya return on equity, return on asset, charge off to loans dan asset growth. Penelitian ini membandingkan kinerja operasi perusahaan selama awal dekade (1991-1993) dengan akhir dekade (1996- 1998). Hasil penelitian ini membuktikan bahwa bank tidak mengalami peningkatan yang signifikan pada kinerja operasi di seluruh rasio yang umum digunakan pada industri perbankan.

Ulku Yaylacicegi (2005) melakukan penelitian mengenai aktivitas merger dan akuisisi pada industri telekomunikasi di Amerika Serikat.

Penelitian ini menjelaskan akibat merger dan akuisisi pada industri telekomunikasi menggunakan statistik komunikasi yang umum digunakan pada periode 1988 sampai 2001 dengan menggunakan teknik estimasi analisis data dinamis panel. Penelitian ini menguji efek sinergi dan factor yang mempengaruhi merger dari waktu ke waktu dari segi kinerja keuangan, operasional, dan teknologi yang mengukur keuntungan, pertumbuhan, efisiensi, produkttivitas, skala dan lingkup ekonomi, dan kemajuan teknologi.

Dari hasil uji, penelitian ini menemukan bukti bahwa merger dan akuisisi diikuti penurunan laba, kinerja operasional, dan penurunan investasi pada teknologi baru.

(32)

III. METODE PENELITIAN

3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian

Merger dan akuisisi adalah salah satu tindakan strategis perusahaan untuk menjaga eksistensi dan mengembangkan usahanya. Dalam merger, entitas baru dapat dibentuk (dari/dengan menyatakan) perusahaan yang digabungkan, sedangkan pada akuisisi, perusahaan target menjadi tambahan atau cabang dari perusahaan yang mengakuisisi. Perubahan-perubahan yang biasa terjadi setelah perusahaan melakukan merger dan akuisisi adalah kinerja keuangan perusahaan dan keadaan finansial perusahaan yang praktis membesar dan meningkat.

Penilaian kinerja perusahaan yang tercermin dari laporan keuangan perusahaan merupakan suatu kegiatan yang sangat penting karena berdasarkan hasil penilaian tersebut ukuran keberhasilan perusahaan selama suatu periode tertentu dapat diketahui. Hasil penilaian tersebut juga dapat dipergunakan sebagai pedoman bagi usaha perbaikan maupun peningkatan kinerja perusahaan selanjutnya termasuk menilai keberhasilan keputusan merger dan akuisisi. Dimana laporan keuangan tersebut dapat memberikan informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan

Berdasarkan penjelasan diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis adanya perbedaan kinerja keuangan perusahaan pada periode lima tahun sebelum dan lima tahun sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi. Adapun analisis yang digunakan adalah analisis rasio keuangan yang diwakili oleh current ratio, debt to equity ratio, net profit margin dan total asset turn over. Selanjutnya digunakan uji beda paired sample t test untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kinerja keuangan. Adapun kerangka pemikiran penelitian terilustrasikan dalam gambar berikut.

(33)

Gambar 2. Kerangka pemikiran penelitian Rasio Keuangan :

1. Current ratio 2. Debt to equity ratio 3. Net profit margin 4. Total Assets Turn Over Kinerja Keuangan

Sebelum Akuisisi

Kinerja Keuangan Sesudah Akuisisi

Uji Asumsi:

o Distribusi Data Normal o Ada Kecukupan data

Uji Beda dengan Paired-Sample T Test

Uji Beda dengan Wilcoxon Sign Test

Memenuhi Tidak Memenuhi

Perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi pada tahun

2005 Investor

Analisis Deskriptif Alasan perusahaan melakukan merger

(34)

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang pernah melakukan merger dan akusisi pada tahun 2005. Penelitian dilakukan pada bulan Januari hingga Maret 2012.

3.3 Sumber data dan Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Data tersebut diperoleh dari Bursa Efek Indonesia dan sumber lainnya yang berasal dari sumber bacaan seperti buku-buku, jurnal, data dari internet, serta literatur-literatur terkait yang mendukung penelitian.

Populasi yang digunakan adalah perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang pernah melakukan merger dan akusisi, dan perusahaan tersebut mengumumkan aktivitasnya tersebut pada tahun 2005.

Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan secara non probability sampling, yaitu dengan pendekatan purposive sampling. Adapun perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan yang memenuhi beberapa kriteria, diantaranya:

1. Perusahaan publik terdaftar di BEI.

2. Melakukan aktivitas merger dan akuisisi pada periode 2005.

3. Perusahaan termasuk industri manufaktur dan industri lain selain perusahaan perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

4. Tersedia laporan keuangan untuk 5 tahun sebelum dan 5 tahun sesudah aktivitas merger dan akuisisi.

5. Tanggal dilakukan merger dan akuisisi diketahui dengan jelas.

Berdasarkan sampling yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa terdapat tiga perusahaan yang memenuhi kriteria sampel dari total enam perusahaan pengakuisisi yang melakukan merger dan akuisisi pada tahun 2005.

Perusahaan tersebut diantaranya:

(35)

Tabel 1. Daftar Perusahaan Sampel No Perusahaan

Pengakuisisi

Perusahan Target Tanggal Merger dan Akuisisi 1 PT Indofood Sukses

Makmur

PT Kebun Ganda Prima dan PT Citranusa Intisawit

27 Juni 2005 24 November 2005 2 PT Hanson

International tbk

PT Anca Amara Utama 5 Oktober 2005

3 PT Kalbe Farma Tbk PT Enseval dan PT Dankos

16 Desember 2005

Sumber: Dokumentasi BEI 3.4 Metode Analisis Data 3.4.1 Variabel penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja keuangan perusahaan sebelum dan sesudah melakukan merger atau akuisisi. Kinerja keuangan perusahaan secara eksplisit di representasikan oleh rasio-rasio keuangan berikut ini:

1. Rasio likuiditas

Likuiditas perusahaan menggambarkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya kepada kreditor jangka pendek. Untuk mengukur kemampuan ini digunakan current ratio.

) 8 ...(

...

...

...

abilities Current Li

sets Current As tio

Current Ra =

Rasio ini menunjukan sejauh mana aktiva lancar mampu menutupi kewajiban lancar. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan utang lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya.

Current ratio yang tinggi dapat disebabkan adanya piutang tidak tertagih atau persediaan yang tidak terjual yang tentu saja tidak dipakai untuk membayar hutang. Untuk menguji apakah alat bayar tersebut benar-benar likuid, maka alat bayar yang kurang atau tidak

(36)

likuid harus dikeluarkan dari total aktiva lancar. Alat bayar yang kurang likuid misalnya persediaan dan pos-pos yang analog dengan persediaan.

2. Rasio solvabilitas

Rasio solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban- kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi. Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan ini adalah debt to equity ratio, rasio ini memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki perusahaan dapat menutupi hutang-hutang kepada pihak luar.

Semakin kecil rasio ini, maka semakin baik perusahaan. Rasio ini disebut juga rasio leverage. Untuk keamanan pihak luar rasio terbaik jika jumlah modal lebih besar dari jumlah utang atau minimal sama.

Namun bagi pemegang saham atau manajemen resiko leverage ini sebaiknya besar.

) 9 ....(

...

...

...

...

...

tiy Total Equi

Total Debt uity

Debt to Eq =

3. Rasio profitabilitas

Rasio profitabilitas atau rentabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah laba, dan sebagainya. Rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba disebut juga operating ratio. Jenis rasio profitabilitas yang digunakan pada penelitian ini adalah net profit margin. NPM menunjukan berapa besar persentase pendapatan bersih yang diperoleh dari setiap penjualan. Semakin besar rasio ini maka semakin baik karena dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi.

) 10 .(

...

...

...

...

...

...

...

Sales Net Income NPM =

(37)

4. Rasio aktivitas

Rasio aktivitas menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian maupun kegiatan lainnya. Jenis rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio total asset turn over, dimana rasio ini menunjukan perputaran total aktiva diukur dari volume penjualan dengan kata lain seberapa jauh kemampuan semua aktiva menciptakan penjualan.

) 11 ...(

...

...

tal Assets Average To

Sales r

ts Turnove

Total Asse =

3.4.2 Teknik analisis 3.4.2.1 Analisis Deskriptif

Analisis statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskriptif suatu data yang dilihat dari nilai maksimum, nilai minimum, rata-rata (mean), standar deviasi kinerja keuangan dari rasio keuangan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi pada perusahaan yang terdaftar di BEI.

3.4.2.2 Uji Normalitas

Uji normalitas data dilakukan sebelum data diolah berdasarkan model-model penelitian. Uji normalitas ini bertujuan untuk mengetahui distribusi data dalam variabel yang akan digunakan dalam penelitian.

(Nugroho 2005). Untuk mendeteksi normalitas data dapat dilakukan dengan uji metode kolmogorov-smirnov test. Sampel berdistribusi normal atau terima H0 apabila Asymptotic sig > taraf signifikan yang digunakan dalam pengujian, dalam hal ini adalah 95% atau α=0.05. Sebaliknya dikatakan tidak normal atau tolak H0 apabila asymptotic sig < taraf signifikan. Dengan hipotesis sebagai berikut:

 Data rasio keuangan sebelum merger dan akuisisi

H0 = Data rasio keuangan sebelum merger dan akuisisi menyebar normal H1 = Data rasio keuangan sebelum merger dan akuisis tidak menyebar

normal

(38)

 Data rasio keuangan sesudah merger dan akuisisi

H0 = Data rasio keuangan sesudah merger dan akuisisi menyebar normal H1 = Data rasio keuangan sesudah merger dan akuisisi tidak menyebar

normal

Pengujian ini mengunakan program SPSS versi 17.0. Jika hasil uji menunjukan sampel berdistribusi normal maka uji beda yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah uji parametric (paired sampel t-test).

Tetapi jika apabila sampel tidak berdistribusi normal maka uji beda yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah uji non parametric (wilcoxon sign test).

Hasil uji normalitas data rasio keuangan dengan kolmogorov- smirnov test secara ringkas dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Hasil Pengujian Normalitas Data Periode Variabel Sig Taraf

Signifikan Kesimpulan

Sebelum Merger dan

Akuisisi

CR 0.995 0.05 Normal

DER 0.870 0.05 Normal

NPM 0.823 0.05 Normal

TATO 0.784 0.05 Normal

Sesudah Merger dan

Akuisisi

CR 0.970 0.05 Normal

DER 0.845 0.05 Normal

NPM 0.962 0.05 Normal

TATO 1.000 0.05 Normal

Sumber: Data diolah

Dari Tabel 2 diketahui hasil uji normalitas untuk periode sebelum dan sesudah merger dan akuisisi untuk semua variabel penelitian yaitu current ratio, debt to equity ratio, net profit margin, dan total asset turn over berdistribusi normal. Hal ini terlihat dari semua variabel memiliki asymptotic sig > taraf signifikan (α=0.05) atau terima H0. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari uji normalitas ini maka digunakan uji paired sampel t test untuk uji beda untuk data yang menyebar normal.

(39)

3.4.2.3 Uji Paired Sample T Test

Data yang telah dikumpulkan dan dihitung kemudian akan diolah dengan uji beda rata-rata dengan menggunakan uji beda paired sample t test. Uji beda ini digunakan untuk menentukan ada tidaknya perbedaaan rata-rata dua sampel. Dua sampel yang dimaksud disini adalah sampel yang sama namun mengalami proses pengukuran maupun perlakuan yang berbeda.

Dua perlakuan yang berbeda dalam penelitian ini adalah sampel pertama sebelum dilakukan akuisisi dan sampel kedua sesudah dilakukan akuisisi, sehingga outputnya akan terlihat ada atau tidaknya perbedaan rata-rata dari kinerja keuangan perusahaan yang diwakili oleh rasio-rasio keuangan. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut;

Variabel Current ratio:

H0 = Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata current ratio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi

H1 = Terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata current ratio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi

Variabel Debt to equity ratio:

H0 = Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata debt to equity ratio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi

H1 = Terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata debt to equity ratio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi

Variabel Net profit margin:

H0 = Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata net profit margin sebelum dan sesudah merger dan akuisisi

H1 = Terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata net profit margin sebelum dan sesudah merger dan akuisisi

Variabel Total asset turn over:

H0 = Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata total asset turn over sebelum dan sesudah merger dan akuisisi

H1 = Terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata total asset turn over sebelum dan sesudah merger dan akuisisi

(40)

Dari hasil uji paired sample t test dengan menggunakan SPSS 17, variabel dikatakan tidak memiliki perbedaan yang signifikan atau terima H0 apabila asymptotic sig > taraf signifikan yang digunakan dalam pengujian, dalam pengujian ini menggunakan taraf signifikan 95% atau α=0.05. Sebaliknya variabel dikatakan memiliki perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah merger dan akuisisi atau tolak H0

apabila asymptotic sig < taraf signifikan.

(41)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Perusahaan dan Alasan Melakukan Merger dan Akuisisi

4.1.1. PT Indofood Sukses Makmur

PT Indofood Sukses makmur Tbk didirikan pada tanggal 14 Agustus 1990 dengan nama PT Panganjaya Intikusuma. Indofood merupakan salah satu perusahaan makanan olahan terbesar di Indonesia dengan kegiatan operasional yang mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di rak para pedagang eceran. Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, Indofood memperoleh manfaat dari ketangguhan model bisnisnya yang terdiri dari empat Kelompok Usaha Strategis (Grup) yang saling melengkapi sebagai berikut:

• Produk Konsumen Bermerek (CBP). Kegiatan usahanya dilaksanakan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tanggal 7 Oktober 2010.

ICBP merupakan salah satu produsen makanan dalam kemasan terkemuka di Indonesia yang memiliki berbagai jenis produk makanan dalam kemasan. Berbagai merek produk ICBP merupakan merek- merek yang terkemuka dan dikenal di Indonesia untuk makanan dalam kemasan.

• Bogasari, memiliki kegiatan usaha utama memproduksi tepung terigu dan pasta. Kegiatan usaha Grup ini didukung oleh unit perkapalan dan kemasan.

• Agribisnis. Kegiatan usahanya terkonsentrasi pada Indofood Agri Resources Ltd. (IndoAgri), yang tercatat di Bursa Efek Singapura, dan anak-anak perusahaannya termasuk PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum) yang tercatat di BEI. Kegiatan usaha utama Grup ini meliputi penelitian dan pengembangan, pembibitan, pemuliaan dan pengolahan kelapa sawit hingga produksi dan pemasaran minyak goreng, margarin dan shortening bermerek. Di samping itu, kegiatan

(42)

usaha Grup ini juga mencakup pemuliaan dan pengolahan karet dan tebu serta tanaman lainnya.

• Distribusi, memiliki jaringan distribusi yang paling luas di Indonesia.

Grup ini mendistribusikan hampir seluruh produk konsumen Indofood dan anak-anak perusahannya, serta berbagai produk pihak ketiga

Dalam menjalankan bisnisnya, Indofood memiliki visi sebagai perusahaan total food solution dengan misi memberikan solusi atas kebutuhan pangan secara berkelanjutan, senantiasa meningkatkan kompetensi karyawan, proses produksi dan teknologi, memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan, dan meningkatkan stakeholder’s values secara berkesinambungan.

Sebagai salah satu perusahaan terbesar makanan di Indonesia Indofood mencatat berbagai prestasi, diantaranya Indonesia's Most Admired Companies Award 2010, The Best in Building and Managing Corporate Image; Top Brand Award 2010 – Pop Mie, Outstanding Achievement in Building the Top Brand; Indonesian Customer Satisfaction Award 2010 – Segitiga Biru, Golden Award, The Best in Achieving Total Customer Satisfaction for 7 Years (2004-2010); Indonesia Original Brands 2010 – Bimoli, Its Contributions in Building Indonesia Original Brand.

Perseroan mencatatkan penjualan bersih konsolidasi sebesar Rp 38,40 triliun di tahun 2010, naik 2,7% dari Rp 37,40 triliun di tahun 2009 karena peningkatan penjualan di seluruh Kelompok Usaha Strategis kecuali Grup Bogasari akibat penurunan harga jual rata-rata. Sepanjang tahun 2010, Perseroan membukukan penjualan ekspor sebesar US$480 juta. Disisi lain laba bersih meningkat 42,2% menjadi Rp 2,95 triliun di tahun 2010 dari Rp 2,08 triliun di tahun 2009, terutama disebabkan oleh peningkatan kinerja operasional dan penurunan beban keuangan.

Indofood juga melakukan upaya peningkatan kualitas lingkungan kerja yang ditempuh melalui berbagai cara, antara lain melalui penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), Sertifikasi ISO 14000, ISO 22000,

(43)

ISO 9001 dan penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3). Upaya-upaya tersebut merupakan salah satu sarana untuk mencapai tingkat “zero accident” yang bertujuan untuk memperbaiki lingkungan dan iklim kerja sehingga dapat meningkatkan motivasi kerja karyawan dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas.

Pada tanggal 29 Desember 2004, Indofood melalui anak perusahaannya PT Salim Ivomas menandatangani perjanjian jual beli bersyarat dengan Reserve Cash Limited Hongkong (RCL) untuk membeli 100% kepemilikan saham RCL pada Silveron Investment Limited (SIL).

Transaksi jual beli tersebut di finansialkan dan diselesaikan pada 27 Juni 2005 dengan nilai pembelian sebesar Rp 175 miliar. SIL memiliki kepemilikan langsung dan tidak langsung masing-masing Kebun Ganda Prima dan Citranusa Intisawit.

Di tahun yang sama, pada 24 November 2005 Indofood melalui anak perusahaannya PT Salim Ivomas kembali mengambil alih kepemilikan saham Kebun Mandiri Sejahtera sebesar 93.44% dari PT Arka Kirana Sawita dengan jumlah nilai pengambilan sebesar Rp 75 miliar. Kebun sawit berlokasi di Kabupaten pasir Kalimantan Timur dengan luas 8350 Ha kebun karet dan 3000 Ha kebun kelapa sawit.

Kedua aktivitas akuisisi yang dilakukan Indofood tergolong jenis akuisisi kongenerik, dimana penggabungan usaha melibatkan perusahaan yang bisnisnya masih berkaitan tetapi tidak termasuk dalam ketegori akuisisi vertikal dan horizontal. Perusahaan yang bergabung tidak memproduksi produk yang sama (horizontal) dan tidak juga mempunyai hubungan sebagai pemasok (vertikal). Adapun tujuan yang ingin dicapai Indofood dari akuisisi ini adalah untuk memenuhi sasaran perseroan memiliki lahan seluas 250 ribu hektar perkebunan kelapa sawit di tahun 2015.

4.1.2. PT Hanson International

PT Hanson International Tbk yang dahulu bernama PT Hanson Industri Utama Tbk didirikan pada tanggal 7 Juli 1971 berdasarkan Akta Notaris Henk Limanow, S.H. No. 13. Akta pendirian ini telah disahkan

(44)

oleh Menteri kehakiman Republik Indonesia dalam Surat keputusan No.

J.A.5/212/11 tanggal 12 Desember 1971, serta diumumkan dalam berita negara Republik Indonesia No. 103 tanggal 26 Desember 1975.

Ruang lingkup kegiatan perusahaan ini terutama meliputi bidang industri kimia dan serat sintesis, permintalan, pertenuan, industri tekstil laninnya, perdagangan ekspor impor, lokal, leveransir, grosir dan distributor, serta agen. Perusahaan mulai melakukan kegiatan komersial pada tahun 1973 dan hasil produksinya dipasarkan terutama ke Eropa, Amerika Serikat, Asia, dan timur Tengah.

Visi yang ingin dicapai Hanson adalah menjadi perusahaan yang berdaya saing global dan memberikan nilai optimal bagi stakeholder.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Hanson menetapkan empat misi yang harus dilaksanakan, yaitu memberikan nilai optimal bagi pemangku kepentingan, menerapkan teknologi informasi yang tepat guna, meningkatkan nilai ekonomis, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Pada tahun 2010, Hanson memperoleh laba bersih sebesar Rp 33,63 miliar dengan peningkatan sebesar 41,2% dari tahun 2009 sebesar Rp 13,95 miliar. Laba ini diperoleh dari hasil penjualan bersih sebesar Rp 109 miliar ditahun 2010 setelah sebelumnya di tahun 2009 perusahaan tidak membukukan penjualannya karena pada tahun tersebut penjualan hanya dilakukan oleh anak perusahaan.

Pada 5 Oktober 2005, Hanson masuk sebagai pemegang saham PT Panca Amara Utama sebesar 50%. Perusahaan ini bergerak dalam bidang perindustrian, perdagangan, pertambangan dan jasa, khususnya amoniak dan pupuk. Akuisisi ini merupakan upaya penyelamatan Hanson Industri Utama Tbk setelah core bisnisnya yakni tekstil bangkrut dan berubah nama menjadi PT Hanson International tbk.

Akuisisi yang dilakukan oleh Hanson dapat digolongkan sebagai jenis akuisisi horizontal, yaitu penggabungan yang dilakukan oleh perusahaan dalam jenis usaha yang sama. Akuisisi jenis ini bertujuan untuk mengurangi persaingan, meningkatkan aset, menekan biaya,

(45)

meningkatkan efisiensi melalui penggabungan aktivitas produksi, pemasaran, distribusi, riset dan pengambangan dan fasilitas sesuai dengan kebutuhan Hanson yang pada saat itu sedang mengalami kebangkrutan pada core bisnisnya.

4.1.3. PT Kalbe Farma

PT Kalbe Farma Tbk (“Perseroan” atau “Kalbe”) berdiri sejak tahun 1966 dan pada tahun 1991 terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai perusahaan publik. Kalbe merupakan perusahaan produk kesehatan publik terbesar di Asia Tenggara yang memiliki nilai kapitalisasi pasar sebesar USD 3,6 miliar dan omset penjualan Rp 10,2 triliun pada akhir tahun 2010.

Kalbe memiliki fokus bisnis pada 4 divisi yang masing-masing memberikan kontribusi yang relatif seimbang, yaitu divisi obat resep (kontribusi 25%), divisi produk kesehatan (kontribusi 17%), divisi nutrisi (kontribusi 22%) serta divisi distribusi dan kemasan (kontribusi 36%).

Dengan didukung lebih dari 15.000 karyawan termasuk 4.000 tenaga pemasaran dan penjualan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, Kalbe mampu menjangkau 70% dokter umum, 90% dokter spesialis, 100% rumah sakit, 100% apotek untuk pasar obat-obat resep serta 80%

untuk pasar produk kesehatan dan nutrisi.

Dalam menjalankan bisnisnya, Kalbe Farma memiliki visi menjadi perusahaan produk kesehatan Indonesia terbaik yang didukung oleh inovasi, merek yang kuat dan manajemen yang prima dengan misi meningkatkan kesehatan untuk kehidupan yang lebih baik. Untuk mewujudkan visi dan misi tersebut Kalbe menjunjung beberapa nilai, diantaranya saling percaya diantara sesama karyawan, kesadaran penuh dalam setiap tindakan, inovasi yang merupakan kunci keberhasilan, tekad untuk menjadi yang terbaik, dan saling keterkaitan yang dijadikan panduan.

Semangat inovasi yang telah menjadi bagian integral pertumbuhan Perseroan sejak awal pendiriannya secara berkesinambungan diterapkan di lingkungan Grup Kalbe untuk pengembangan produk baru yang berdaya

Referensi

Dokumen terkait

Penggunaan rasio keuangan sebagai penilaian kinerja perusahaan dalam kaitannya dengan merger dan akuisisi telah dilakukan oleh beberapa peneliti, diantaranya adalah Payamta dan

ANALISIS MANAJEMEN LABA DAN KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN PENGAKUISISI SEBELUM DAN SESUDAH MERGER DAN AKUISISI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2010-2011..

sebelum dan sesudah melakukan merger dan akuisisi. Ha : terdapat perbedaan kinerja keuangan perusahaan sebelum dan. sesudah melakukan merger

Auqie, Vally, “Dampak Merger dan Akuisisi pada Abnormal Return dan Kinerja Keuangan Bidder Firm di Sekitar Tanggal Pengumuman Merger dan Akuisisi pada Perusahaan yang Terdaftar

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang terjadi pada abnormal return dan kinerja keuangan sebelum dengan sesudah merger dan akuisisi

Menyatakan bahwa skripsi ini dengan judul “ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN SEBELUM DAN SESUDAH MERGER DAN AKUISISI (Studi Pada Perusahaan Yang

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang terjadi pada abnormal return dan kinerja keuangan sebelum dengan sesudah merger dan akuisisi

Kemudian, Tarigan dan Pratomo 2013 melakukan analisis dampak merger dan akuisisi terhadap abnormal return dan kinerja keuangan 3 tahun sebelum dan 3 tahun sesudah merger dan akuisisi,