Letak dan Luas
Kecamatan Kejajar merupakan salah satu kawasan di Kabupaten Wonosobo yang masuk dalam kawasan Pegunungan Dieng. Secara geografis memiliki luas wilayah 5.761,92 ha, atau 5,85 % dari luas Kabupaten Wonosobo. Ketinggian wilayah antara 1.360 – 2.302 m di atas permukaan laut.
Kecamatan Kejajar merupakan salah satu dari 15 Kecamatan di Kabupaten Wonosobo, terletak antara 7°11’20’’ sampai 7°18’00’’ Lintang Selatan (LS) dan 109° 51’11” sampai 109° 59’52’’ Bujur Timur (BT), berjarak 17 Km dari ibu kota Kabupaten Wonosobo dan 146 Km dari ibu kota Propinsi Jawa Tengah.
Secara Administrasi Kecamatan Kejajar berbatasan langsung dengan: Sebelah Utara : Kabupaten Batang
Sebelah Timur : Kabupaten Temanggung Sebelah Selatan : Kecamatan Garung Sebelah Barat : Kabupaten Banjarnegara
Luas Kecamatan Kejajar adalah 5.761,919 ha, dengan komposisi tata guna lahan atas lahan tanah kering seluas 3.066,31 ha (53,21 %), hutan negara 2.309,81 ha (40,08 %), perkebunan negara/swasta seluas 155,85 ha (2,7 %) dan lainnya seluas 232,67 ha (4,01%) (Bapeda Kabupaten Wonosobo 2009).
Jenis Tanah dan Topografi
Tanah merupakan lapisan-lapisan dekat permukaan yang berbeda dengan batuan di bawahnya sebagai hasil interaksi antara: iklim, jasad hidup, bahan induk, relief dan proses yang panjang. Tanah merupakan salah satu unsur lingkungan dan tempat manusia melakukan kegiatan baik dalam bidang pertanian, maupun non pertanian. Tanah dalam kaitannya dengan penggunaan tanah/lahan tergantung pada kebutuhan penduduk. Hal ini yang sering menimbulkan konflik antar kepentingan.
Perbedaan faktor yang menentukan pembentukan tanah, menghasilkan perbedaan sifat, potensi dan jenis tanah yang terbentuk. Jenis-jenis tanah yang
terbentuk di Kawasan Dieng adalah: 1) Latosol; 2) Latosol coklat; 3) Latosol coklat kekuningan; 4) Podzolik coklat kemerahan. 5) Litosol – Latosol.
Jenis tanah di Kecamatan Kejajar didominasi oleh jenis regosol dan Andosol. Jenis tanah regosol ini belum berkembang, sehingga belum terbentuk horison tanah. Regosol banyak ditemukan pada endapan lahar dan piroklastis. Tanah bertekstur pasiran hingga pasir bergeluh, struktur remah pada kondisi kering, warna tanah abu-abu kecoklatan. Konsistensi lepas-lepas, permeabilitas umumnya sedang hingga cepat, kandungan bahan organis rendah hingga sedang, pH 5 – 6,5 kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa termasuk sedang. Pada lokasi tertentu Regosol dapat bertekstur remah hingga gumpal jika terdapat kandungan lempung atau banyak mengandung bahan organis. Sebaran jenis tanah ini terdapat pada relief datar, berombak, bergelombang, lereng gunung api, perbukitan hingga pegunungan terjal berbatuan vulkanis.
Andosol berkembang pada satuan bentuk lahan perbukitan hingga pegunungan terjal berbatuan tuf pada kondisi suhu dingin dan curah hujan sedang. Ciri Andosol yaitu; tanah tebal, warna tanah coklat – abu-abu gelap, tekstur geluh berdebu, konsistensi gembur permeabilitas sedang, kandungan bahan organik sedang, pH 5,5 - 6, kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa tinggi. Potensi lahan untuk tanaman pertanian termasuk sedang hingga tinggi (RTPPKD 2007)
Topografi Kecamatan Kejajar dikelilingi oleh gunung dan perbukitan. Komplek pegunungan Dieng terdiri dari Gunung Bismo, Binem, Nagasari, Pangonan, Merdada, Prau, Pager Kandang, Petarangan Telaga Dlimo, Pakuwojo, Kunir, Kendil, Srodjo, Sipandu dan Prambanan. Gunung di komplek Dieng yang tertinggi adalah Gunung Prau, yaitu 2565 m dpl. Kemiringan tanah di Kecamatan Kejajar cukup terjal, didominasi kelas lereng antara 15 – 40 % yaitu seluas 1.993,099 ha (65%).
Disamping dikelilingi gunung dan perbukitan, di Kecamatan Kejajar terdapat beberapa telaga, diantaranya Telaga Warna, Telaga Pengilon dan Telaga Cebong. Telaga ini dimanfaatkan sebagai sumber mata air dan objek wisata oleh masyarakat setempat untuk menyirami tanaman pertaniannya saat musim kemarau sehingga seringkali menimbulkan konflik kepentingan antar petani dan pengelola wisata alam (Bapeda Kabupaten Wonosobo 2009)
26
Iklim
Iklim merupakan gabungan beberapa unsur cuaca yang terjadi dalam kurun waktu yang lama dan dalam wilayah yang luas. Iklim dipengaruhi oleh suhu, kelembaban, keadaan awan, hujan dan sinar matahari. Curah hujan merupakan salah satu unsur penyusun iklim yang sangat penting dalam kehidupan pertanian. Menentukan jenis tanaman yang akan ditanam dan waktu yang tepat untuk penanaman sangat bergantung pada banyaknya curah hujan dalam menentukan jenis tanaman yang akan ditanam dan waktu penanamannya.
Berdasarkan besarnya curah hujan yang ditentukan dalam banyaknya bulan basah, bulan lembab dan bulan kering, Schmidt dan Ferguson menetapkan tipe iklim di Indonesia dengan menggunakan rumus nilai Q yaitu Jumlah rata-rata bulan kering dibagi jumlah rata-rata bulan basah dikali 100%.
Berdasarkan data curah hujan 5 tahun terakhir, diketahui curah hujan rata-rata adalah 3,533 mm/tahun dengan jumlah rata-rata-rata-rata bulan basah sebanyak 8,67 bulan dan bulan kering sebanyak 2,33 bulan. Dengan menghitung nilai Q, diketahui bahwa tipe iklim di Kecamatan Kejajar termasuk dalam tipe iklim B(basah).
Sebagian besar desa di Kecamatan Kejajar bersinggungan langsung dengan RPH Dieng yang merupakan BKPH Wonosobo. Dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan penting untuk diketahui iklim suatu daerah untuk dapat ditentukan kelas perusahaan serta tata waktu pelaksanaan pembangunan hutan mulai dari persemaian, penanaman, sampai dengan tebangan.
Di daerah pegunungan, seperti dataran tinggi Dieng suhu relatif rendah, berkisar antara 200C – 300C, sementara kelembaban udara relatif tinggi antara 84 – 86% (Bapeda Kabupaten Wonosobo 2009).
Sosial Ekonomi Masyarakat Kependudukan
Kependudukan merupakan hal yang penting untuk diketahui di dalam pembangunan wilayah, termasuk di dalamnya pembangunan wilayah hutan. Jumlah dan komposisi penduduk dapat mencerminkan ketersediaan angkatan kerja yang diperlukan dalam pembangunan wilayah. Jumlah angkatan kerja yang
banyak akan mempercepat pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam pembangunan wilayah. Namun ketersediaan tenaga kerja yang banyak harus diimbangi dengan penyediaan lapangan kerja yang cukup, sehingga tidak menyebabkan terjadinya pengangguran dan pemanfaatan sumber dayaalam yang melebihi daya dukungnya sehingga akan menyebabkan kerusakan sumber dayaalam itu sendiri. Jumlah tenaga kerja yang sedikit juga akan menyebabkan tingginya tingkat upah buruh sehingga dapat berpengaruh terhadap pembangunan.
Menurut Ethika (1997) diacu dalam Tribowo (2001) jumlah penduduk dapat digolongkan berdasarkan produktivitas sebagai berikut:
1. Golongan tidak produktif
a. Usia muda : 0 – 14 tahun b. Usia tua : 60 tahun ke atas 2. Golongan produktif : Usia 15 – 59 tahun
Penggolongan penduduk menurut produktivitasnya di desa-desa Kecamatan Kejajar disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Penggolongan Penduduk Menurut Produktivitas Kerja
No Desa
Jumlah Penduduk Usia Non Produktif
Usia Produktif Jumlah Usia Muda Usia Tua
Jiwa % Jiwa % Jiwa % Jiwa
1 Buntu 632 26,68 209 8,82 1.528 64,50 2.369 2 Sigedang 877 30,15 128 4,40 1.904 65,45 2.909 3 Tambi 1.520 29,62 228 4,44 3.383 65,93 5.131 4 Kreo 514 32,17 132 8,26 952 59,57 1.598 5 Serang 1.575 33,92 328 7,06 2.740 59,01 4.643 6 Kejajar 986 28,65 273 7,93 2.182 63,41 3.441 7 Igirmranak 200 29,59 54 7,99 422 62,43 676 8 Surengede 1.114 30,79 203 5,61 2.301 63,60 3.618 9 Tieng 1.138 27,02 346 8,21 2.728 64,77 4.212 10 Parikesit 559 28,53 106 5,41 1.294 66,05 1.959 11 Sembungan 344 30,52 51 4,53 732 64,95 1.127 12 Jojogan 428 29,34 57 3,91 974 66,76 1.459 13 Patakbanteng 802 31,76 131 5,19 1.592 63,05 2.525 14 Dieng 500 23,38 172 8,04 1.467 68,58 2.139 15 Sikunang 593 29,05 116 5,68 1.332 65,26 2.041 16 Campursari 717 29,31 172 7,03 1.557 63,65 2.446 JUMLAH 12.499 29,40 2.706 6,40 27.088 64,18 42.293
28
Dari tabel di atas diketahui bahwa jumlah angkatan kerja produktif cukup besar yaitu 27.088 jiwa atau 64,18 %, yang terdiri dari angkatan kerja muda (14 – 24 tahun), angkatan kerja produktif (25 – 49 tahun) dan angkatan kerja tua (50 – 59 tahun). Dengan melihat penggolongan umur ini dapat dihitung beban ketergantungan atau angka ketergantungan yang diperoleh dengan membandingkan golongan umur non produktif dengan golongan umur produktif dikali 100%. Untuk Kecamatan Kejajar, angka ketergantungan yang diperoleh sebesar 56%, artinya setiap 100 orang yang bekerja harus menanggung 56 orang yang tidak bekerja. Dilihat dari segi ekonomi, semakin tinggi angka ketergantungan penduduk di suatu daerah maka akan semakin berat beban penduduknya. Penggolongan penduduk berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada lampiran 1.
Pendidikan
Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pembangunan wilayah. Tinggi rendahnya tingkat pendidikan masyarakat akan berpengaruh terhadap penerimaan program-program pembangunan, termasuk program rehabilitasi hutan dan lahan. Dalam rehabilitasi hutan dan lahan, salah satu tujuannya adalah kelestarian hutan dan lahan memerlukan pemahaman yang cukup untuk dapat menerima pelaksanaan introduksi rehabilitasi hutan dan lahan. Hal tersebut mengingat keberhasilan pembangunan hutan baru dapat dilaksanakan dalam waktu yang lama.
Seperti di desa-desa sekitar hutan umumnya, tingkat pendidikan masyarakat di Kecamatan Kejajar tergolong rendah, sebagian besar penduduk yaitu 18.451 orang atau 54,08% hanya menamatkan sekolah dasar. Tingkat pendidikan yang rendah tersebut akan menyulitkan dalam penyampaian program rehabilitasi hutan dan lahan dan intoduksi teknologi baru yang bermanfaat bagi pembangunan wilayah. Terlebih di Kecamatan Kejajar yang sebagian besarnya merupakan hutan lindung, menuntut pemahaman lebih untuk tetap mempertahankan hutan sebagai pelindung tata air. Tingkat pendidikan masyarakat di Kecamatan Kejajar dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Tingkat Pendidikan Masyarakat di Kecamatan Kejajar No Desa Tamat Tidak/ belum tamat SD Tidak Sekolah Jumlah SD SMP SMA AKD /PT 1 Buntu 1.197 152 129 23 402 45 1.948 2 Sigedang 1.416 134 64 18 621 71 2.324 3 Tambi 2.149 424 230 24 1.126 186 4.139 4 Kreo 707 99 62 10 338 68 1.284 5 Serang 1.876 527 240 34 845 107 3.629 6 Kejajar 1.297 527 366 51 429 79 2.749 7 Igirmranak 261 37 12 1 169 49 529 8 Surengede 1.851 231 61 6 611 142 2.902 9 Tieng 1.581 498 274 86 862 161 3.462 10 Parikesit 1.023 91 37 12 346 93 1.602 11 Sembungan 572 157 33 3 59 53 877 12 Jojogan 588 143 55 7 349 52 1.194 13 Patakbanteng 1.296 158 77 13 364 91 1.999 14 Dieng 956 219 239 21 342 57 1.834 15 Sikunang 849 228 91 7 401 89 1.665 16 Campursari 832 60 27 3 933 123 1.978 Jumlah 18.451 3.685 1.997 319 8.197 1.466 34.115
Sumber: BPS Kab. Wonosobo 2008.
Matapencaharian
Biro Pusat Statistik Kabupaten Wonosobo (2008), mengklasifikasikan jenis mata pencaharian penduduk menjadi 13 kelompok, yaitu petani sendiri, buruh tani, peternak skala besar, penggalian, nelayan, industri, bangunan, perdagangan, transportasi, PNS/Honda, TNI, Polisi, pensiunan, dan lainnya. Klasifikasi mata pencaharian masyarakat Kecamatan Kejajar sesuai pengelompokan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 2.
Dari Lampiran 2 terlihat bahwa sebagian besar masyarakat di Kecamatan Kejajar adalah petani, baik sebagai pemilik maupun buruh tani. Dengan demikian, jumlah penduduk yang bekerja di bidang pertanian sebanyak 17.936 jiwa (77,27%) yang terdiri dari petani pemilik sebanyak 10.851 jiwa (46,75%) dan buruh tani sebanyak 7.085 jiwa (30,52%).
Mata pencaharian lain yang cukup dominan adalah perdagangan dan bangunan, yang masing-masing sebanyak 1.471 jiwa (6,34%) dan 815 jiwa (3,51%). Perdagangan yang banyak disediakan oleh masyarakat di samping toko klontong adalah sarana pertanian seperti pupuk, bibit tanaman pertanian.
30
Tata Guna Lahan
Lahan menjadi modal utama pada masyarakat di Kecamatan Kejajar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Penggunaan lahan di Kecamatan Kejajar hanya digunakan untuk lahan kering. Lahan kering berupa pekarangan dan tegalan dengan luas masing-masing adalah 157,21 ha dan 3066,31 ha. Tegalan mendominasi semua lahan pertanian yang ada di Kecamatan Kejajar. Hal ini dikarenakan letak desa-desa tersebut berada pada ketinggian di atas 1000 m dpl dengan kondisi lahan yang bergelombang dan berbukit. Disamping itu kebutuhan untuk pertanian hanya diperoleh dari hujan dan beberapa mata air yang ada. Hanya petani yang cukup mampu yang dapat mengalirkan air dari mata air ke lahan pertaniannya, mengingat diperlukan pipa pralon yang cukup panjang untuk memperoleh air.
Lahan pekarangan hanya digunakan untuk rumah dan sarana sosial seperti sekolah dan masjid. Terbatasnya lahan pertanian yang relatif datar dan jumlah penduduk yang cukup banyak menyebabkan rumah-rumah dibangun cukup rapat satu dengan yang lainnya sehingga membentuk pemukiman yang sangat padat. Pekarangan yang sempit tersebut tidak memungkinkan ditanami tanaman pertanian maupun tanaman kayu keras yang dapat membantu masyarakat memperoleh penghasilan tambahan selain dari lahan tegalan.
Pemilikan Ternak
Umumnya berternak merupakan salah satu budaya pada masyarakat agraris selain kegiatan bercocok tanam. Memelihara ternak disamping untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi keluarga juga sebagai tabungan. Jika sewaktu-waktu hasil dari kegiatan bercocok tanam tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga atau kebutuhan mendesak, ternak tersebut akan dijual.
Ternak yang dipelihara oleh masyarakat Kecamatan Kejajar kebanyakan merupakan hewan ternak kecil, seperti kambing dan jenis unggas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonosobo tahun 2008, jenis dan jumlah ternak yang ada di Kecamatan Kejajar adalah sapi 43 ekor, domba 5.701 ekor, ayam 18.428 ekor, itik 424 ekor, dan enthog 2.192 ekor.
Sub Sistem Kehutanan
Identifikasi pola pengelolaan hutan dilakukan dengan mengidentifikasi sejarah pengelolaan hutan, kondisi hutan saat ini dan aspek teknik kehutanan dan sumberdaya manusia di Kecamatan Kejajar pada khususnya dan RPH Dieng pada umumnya.
Sejarah Singkat Pengelolaan Hutan di Kawasan Pegunungan Dieng.
Dataran tinggi Dieng pada jaman Mataram Kuno merupakan hutan perawan. Hal tersebut terungkap dari beberapa informasi naskah dan sastra kuno, misalnya Serat Centini, kisah Paradin Dieng, dan masih banyak lagi. Dataran tinggi Dieng dikenal sebagai dataran tinggi yang gelap dan pekat. Dieng kala itu digambarkan masih sebagai hutan perawan (Sukatno 2004).
Aktivitas manusia di Dataran Tinggi Dieng yang mulai memanfaatkan hutan primer telah berlangsung sejak abad ke-8. Hal ini dapat ditelusuri dari jejak sejarah pada situs Dieng. Bukti-bukti prasasti menunjukkan bahwa kehidupan situs Dieng berlangsung dari abad ke-8 sampai ke-13 (Dumarcay 1986, diacu dalam Pudjoarianto 1996). Kelangsungan hidup situs Dieng tersebut dapat digunakan untuk merefleksikan adanya aktifitas-aktifitas pada masa itu. Manusia merambah hutan untuk berbagai kebutuhan, seperti membangun rumah, kayu bakar dan sumber kebutuhan lainnya. Aktivitas manusia di Dieng ditunjukkan pula oleh adanya bukti bekas jalan buatan berbatu di bagian utara antara Pekalongan dan Gunung Kendeng, jalan yang diberi nama ‘Andha Budha’, di sebelah tenggara kawah Sikidang. Bukti arkeologis lain yaitu di Watu Kelir dekat kelompok Candi Magersari. Bukti tersebut menunjukkan bahwa komplek percandian Dieng banyak dikunjungi orang.
Menurut Schelterna (1912) diacu dalam Pudjorianto (1996), tanpa adanya sebab-sebab yang jelas, sampai dengan 1800 Dataran tinggi Dieng ditinggalkan oleh penduduknya. Proses perambahan hutan terulang kembali setelah tahun 1800 hingga sekarang. Akibat populasi penduduk di Dieng berkembang cepat, maka
32
kerusakan hutan untuk tempat pemukiman dan lahan-lahan pertanian bertambah besar. Sehingga hutan alami hanya terdapat di puncak Gunung Prau dan puncak-puncak bukit lainnya.
Pada tahun 1900 oleh pemerintah Belanda, kawasan hutan Gunung Bisma ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung. Pada tahun 1919 dilakukan tata batas di kawasan Gunung Bisma, yaitu seluas 2.219,9 hektar dan kemudian pada tahun 1923 ditentukan petak-petaknya. Selanjutnya oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 26 tanggal 26 Juli 1940, kawasan hutan Gunung Bisma ditetapkan sebagai Cagar Alam Tlogo Warno Pangilon. Menurut Sukatno (2004), pada masa pemerintahan Belanda ini, di Dataran Tinggi Dieng banyak diusahakan perkebunan buah-buahan khas Eropa dan Amerika yang dikelola oleh orang-orang Belanda.
Pada mulanya, kawasan hutan Pegunungan Dieng merupakan hutan rimba dengan keadaan topografi yang berbukit-bukit, bergelombang, bergunung-gunung dengan lereng bergelombang sangat curam. Maka sebagian besar hutannya merupakan hutan lindung. Pada tahun 1958 telah dicoba tanaman pinus dan berhasil baik. Mengingat keberhasilan tanaman pinus, maka dalam penyusunan buku RPKH jangka 1988-1997, untuk hutan bagian Wonosobo ditetapkan sebagai Kelas Perusahaan Pinus, termasuk di dalamnya RPH Dieng (Perhutani 1998).
Kondisi Hutan
Kecamatan Kejajar memiliki kawasan hutan negara terluas diantara empat kecamatan yang wilayahnya bersinggungan langsung dengan RPH Dieng yaitu seluas 2.309,80 ha atau 90,23% dari luas total RPH Dieng. Kawasan hutan RPH Dieng dikelilingi oleh 20 desa. Desa Campursari di Kecamatan Kejajar wilayahnya memiliki hutan terluas yaitu 256 ha dan Desa Surengede memiliki luas hutan terendah yaitu 14 ha. Kawasan hutan RPH Dieng terdiri dari 2 kompleks gunung, yaitu kompleks Gunung Prau di sebelah utara dan Gunung Bisma di sebelah selatan. Desa-desa yang masuk dalam kompleks Gunung Prau antara lain: Desa Dieng, Patakbanteng, Jojogan, Parikesit, Igirmranak, Surengede dan Tieng. Sedangkan desa-desa yang masuk dalam kompleks Gunung Bismo antara lain: Desa Sembungan, Sikunang, Campursari, Kalidesel, Mutisari, Krinjing, Dero Duwur, Slukatan, Tlogo, Menjer, Mlandi, dan Maron.
Desa-desa yang berada di wilayah Kecamatan Kejajar lebih mudah diakses dari kantor RPH Dieng daripada desa-desa yang berada di Wilayah Kecamatan lain. Sehingga letak desa yang jauh seringkali menyulitkan dalam menjalin kerjasama dengan masyarakat desa tersebut. Kantor RPH Dieng berada di pinggir jalan antara Wonosobo – Dieng yaitu di Desa Kejajar Kecamatan Kejajar. Kantor RPH Dieng berada 15 km dari pusat kota Wonosobo.
Kawasan hutan di RPH Dieng luasnya 2.560 ha berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No.359/Menhut-II/2004 tanggal 1 Oktober 2004 tentang Penunjukan Kawasan Hutan Propinsi Jawa Tengah. Kawasan tersebut dibedakan menurut fungsinya menjadi hutan lindung (63,65%), hutan produksi terbatas (34,99%) dan Cagar Alam/Taman Wisata Alam (1,36%). Selengkapnya disajikan dalam Tabel 6.
Tabel 6 Luas Kawasan Hutan di RPH Dieng Berdasarkan Fungsinya
Petak HL (ha) HPT (ha) CA/TWA (ha) Jumlah (ha)
1 83,7 83,7 2 70,9 70,9 3 220,3 219,0 439,3 4 128,6 256,1 384,7 5 266,3 266,0 532,3 6 36,9 36,9 7 521,7 521,7 8 89,9 89,9 9 34,9 34,9 10 22,5 22,5 11 230,0 230,0 12 113,2 113,2 Jumlah 1.629,4 895,7 34,9 2.560,0
Sumber: SK Menhut No. 359/Menhut-II/2004
RPH Dieng merupakan Kelas Perusahaan Pinus dan wilayah hutannya dibagi sesuai dengan kelas hutannya sesuai dengan Tabel 7.
Tabel 7 Luas Kawasan Hutan di RPH Dieng Berdasarkan Kelas Hutan
No Kelas Hutan Luas (ha)
1 Tanah Kosong (TK) 87,2
2 Tanaman Kayu Lain (TKL) 43,5 3 Hutan Lindung Terbatas (HLT) 763,6
4 Hutan Lindung (HL) 1.614,4
5 Tak Baik untuk Produksi (TBP) 51,3
Jumlah 2560,0
34
Hutan di RPH Dieng terdiri dari hutan alam dan hutan tanaman. Hutan alam yang ada seluas 973,5 ha dengan jenis tanaman antara lain bendo, mranak, sadan, pucangan, wrakas dan pakis. Jenis-jenis pohon yang ada di hutan tanaman antara lain: pinus (Pinus merkusii), puspa (Schima noronhoe), rimba campur, akasia (Acacia decurens) dan bintamin, dengan luas total 1.106,9 ha.
Pada era reformasi tahun 1997-1998 terjadi perambahan hutan lindung oleh masyarakat sekitar hutan untuk ditanami kentang. Penjarahan di Dataran Tinggi Dieng tersebut mencapai luas 714,9 ha (Perhutani 2007). Hal tersebut menyebabkan tanah kosong seluas 87,2 ha pada akhir jangka meskipun telah dilakukan penanaman. Disamping itu juga terdapat hutan tanaman dengan kondisi tanaman yang jelek seluas 269,4 ha.
Pola Pengelolaan Hutan.
Mengingat kelas hutannya sebagian merupakan hutan lindung, RPH Dieng tidak pernah melakukan penebangan. Pengelolaan yang dilakukan hanya membiarkan hutan tersebut sebagai perlindungan kawasan. Tebangan yang dilakukan adalah tebangan B1 yaitu tebang habis pada bidang-bidang tak produktif tetapi baik untuk perusahaan tebang habis. Pada lapangan tak produktif disediakan untuk penghasilan kayu pinus, meliputi: tanah kosong, hutan pinus rawang (pertumbuhan kurang), dan hutan jenis kayu lain. Penebangan tersebut dilakukan pada petak-petak yang pertumbuhannya kurang atau jelek, kemudian diganti dengan tanaman baru untuk mendapatkan tegakan yang lebih baik.
Pembuatan tanaman merupakan hal yang harus berhasil dilakukan untuk mencapai kelestarian hutan. Pembuatan tanaman di RPH Dieng terdiri dari tanaman pembangunan dan rehabilitasi hutan dan lahan. Tanaman pembangunan dilakukan pada petak-petak yang telah dilakukan penebangan B1 dan tanaman RHL dilakukan dilakukan pada petak-petak yang kosong akibat penjarahan lahan yang terjadi selama era reformasi dan kebakaran hutan. Jenis-jenis tanaman yang ditanam di hutan lindung sebagian besar adalah puspa, pinus, dan rimba campur. Rimba campur biasanya terdiri dari jenis Akasia dan bintamin. Jarak tanam yang digunakan adalah 5 x 5 m dan 5 x 2 m. Jarak tanam yang cukup lebar dipilih karena alasan efisiensi namun sangat rawan bagi masyarakat untuk memanfaatkan
lahan yang kosong di sela-sela tanaman kehutanan untuk ditanami tanaman semusim seperti tanaman kentang dan sayuran lainnya.
Pohon akasia sangat rawan dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar. Selain merencek, masyarakat kadang juga menebang pohon akasia meskipun masih muda karena kualitas kayu akasia cukup baik untuk kayu bakar. Namun sekarang hal tersebut sangat sedikit dilakukan oleh masyarakat karena kebijakan pemerintah mengganti bahan bakar rumah tangga dari minyak tanah yang semakin tinggi harganya menjadi gas elpiji yang lebih rendah harganya dan lebih mudah didapatkan oleh masyarakat.
Sumberdaya Manusia
Keberadaan sumberdaya manusia sangat berpengaruh dalam keberhasilan program pembangunan apapun, termasuk dalam pembangunan dan rehabilitasi hutan. Kemampuan sumberdaya manusia dalam pengelolaan hutan ikut menentukan keberhasilan dalam pembangunan dan rehabilitasi hutan, yang pada akhirnya akan menuju pada kelestarian hutan itu sendiri. Di samping kemampuan, jumlah pegawai yang memadai dengan kawasan hutan yang harus dikelola juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembangunan hutan.
Sumberdaya manusia yang mengelola kawasan hutan di RPH Dieng seluruhnya berjumlah 9 orang terdiri dari 1 orang kepala RPH, 2 orang mandor polter, 3 orang mandor tanam dan pemeliharaan, 1 orang mandor UST/tanam, 1 orang mandor VHF/tanam dan 1 orang mandor persemaian /tanam. Keterbatasan jumlah pegawai menyebabkan rangkap tugas mandor. Seluruh pegawai di RPH Dieng umumnya berpendidikan SLTA dan tidak ada yang secara khusus berpendidikan formal di bidang kehutanan. Pengetahuan pengelolaan hutan didasarkan pada pengalaman, petunjuk teknis pelaksanaan dan pengarahan dari atasan.
Jumlah pegawai tidak sebanding dengan luas hutan yang harus dijaga dan dikelola yaitu seluas 2.560 ha. Hutan yang begitu luas harus dijaga oleh 2 orang mandor polter yang tugasnya mengamankan hutan. Jika seluruh pegawai juga menjaga hutan, maka setiap orang harus menjaga hutan seluas sekitar 284,44 ha. Sangat diluar batas kemampuan seseorang untuk mengelola hutan seluas itu
36
apalagi dengan berbagai kondisi dan tekanan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Mengingat keterbatasan sumberdaya manusia dan besarnya tekanan masyarakat terhadap hutan, untuk dapat mengamankan seluruh kawasan hutan diperlukan partisipasi dari masyarakat setempat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Masyarakat akan bersedia menjaga kelestarian hutan jika masyarakat memperoleh keuntungan ekonomi dalam jangka pendek yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Keuntungan ekonomi jangka panjang seperti ketersediaan air yang cukup kurang menjadi alasan yang populer untuk mengajak masyarakat ikut berperan dalam menjaga kelestarian hutan. Melalui pendekatan social forestry dengan program PHBM, kepentingan kedua belah pihak dapat diakomodir dengan solusi yang saling menguntungkan. Kepentingan pengamanan hutan bagi pengelola hutan dan kepentingan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi masyarakat sekitar hutan.
Tugas lebih berat harus dilakukan oleh mantri dan mandor dalam hal pendekatan kepada masyarakat. Mantri dan mandor harus lebih memposisikan diri sebagai bagian dari masyarakat tersebut karena secara karakter manusiawi daerah pedesaan sopan santun dan rasa segan masih dijunjung tinggi.
Sub Sistem Pertanian