Gambaran Umum Pendidikan dan Pekerja anak di Desa Lingkungpasir
Pada data kondisi pendidikan yang diperoleh dari monografi Desa Lingkungpasir tahun 2015, sebanyak 18 orang masih buta huruf dan 491 orang bahkan tidak menyelesaikan pendidikan sekolah dasar (SD). Kesadaran penduduk desa terhadap pendidikan masih rendah, meskipun sarana dan bangunan untuk sekolah sudah cukup memadai. Di Desa Lingkungpasir, terdapat 6 bangunan Sekolah Dasar (SD) dan 2 bangunan Sekolah Menengah Pertama (SMP), sementara untuk bangunan Sekolah Menengah Atas (SMA) belum tersedia di desa tersebut.
Penduduk di Desa Lingkungpasir sebagian besar hanya menyekolahkan anak-anaknya hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun banyak juga anak-anak yang sudah malas untuk bersekolah dan memilih berhenti sebelum mereka duduk di bangku SMP. Orang tua mereka juga tidak melarang mereka untuk tetap melanjutkan sekolah asalkan mereka tetap membantu pekerjaan orang tua. Berikut jumlah dan persentase golongan pendidikan anak yang menjadi responden di Desa Lingkungpasir.
Tabel 13 Jumlah dan persentase golongan pendidikan responden di Desa Lingkungpasir tahun 2016
Golongan Pendidikan
Pekerja anak Hanya bersekolah
Jumlah (orang) Presentase (%) Jumlah (orang) Presentase (%) SD 11 36.67 13 65.00 SMP 19 63.33 7 35.00 Total 30 100.00 20 100.00
Berdasarkan tabel 13 anak-anak yang memiliki status sebagai pekerja anak banyak ditemukan pada golongan pendidikan jenjang SMP. Hal tersebut dikarenakan pada jenjang yang lebih tinggi dan dengan usia yang semakin bertambah menjadikan mereka sudah diperbolehkan untuk bekerja dengan anggapan bahwa usia mereka telah cukup untuk membantu orang tua dengan bekerja atau membantu meringankan pekerjaan orang tua.
Di Desa Lingkungpasir, permasalahan yang paling mencolok selain kondisi pendidikannya yang masih rendah, adalah pembangunan infrastrukturnya yaitu jalan yang cukup buruk sehingga hampir semua rencana pembangunan desa difokuskan hanya kepada pembangunan infrastruktur. Pak Wawan selaku sekretaris desa menyampaikan bahwa memang ada program tahunan yang dikhususkan untuk menangani masalah kesejahteraan dan pendidikan di Desa Lingkungpasir, namun saat ini masih difokuskan pada yang lebih prioritas yaitu pembangunan jalan.
Prioritas permasalahan utama di Desa Lingkungpasir menurut aparat desa yaitu kondisi jalan yang sangat buruk dan penerangan yang kurang memadai di sepanjang jalan menyebabkan warga desa lingkungpasir tidak berani bepergian jauh saat malam hari. Pembangunan infrastruktur jalan yang di prioritaskan dijadikan alasan mengapa persoalan mengenai pendidikan di Desa Lingkungpasir dianggap tidak terlalu penting untuk ditangani dalam jangka waktu dekat.
“Saya bingung neng sama orang desa. Katanya sih program utama untuk sekarang itu benerin jalan. Padahal itu dari dulu neng, tapi jalanan sampe sekarang masih aja jelek. Pendidikan kan padahal dasar pembangunan juga neng. kalau warga desa pendidikannya rendah, kan pembangunan apapun di desa juga jadi gak maju-maju akhirnya” (ML, 24 tahun).
Sudah terdapat bangunan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Desa Lingkungpasir dan anak-anak bisa bersekolah tanpa membayar uang gedung dan iuran setiap bulan. Hampir semua anak di desa sudah bersekolah meskipun hanya sampai jenjang SMP karena di desa belum terdapat gedung sekolah untuk SMA. Sebagian besar anak-anak berhenti dan tidak melanjutkan sekolahnya setelah lulus dari sekolah menengah pertama, kemudian membantu pekerjaan orang tua atau pergi keluar desa untuk mencari pekerjaan. Hanya beberapa orang tua dari anak-anak di Desa Lingkungpasir yang sadar akan pentingnya pendidikan dan tetap menyekolahkan anaknya meskipun jarak dari desa ke sekolah cukup jauh dan dengan kondisi jalan yang kurang baik, meskipun di Desa Lingkungpasir untuk mengenyam pendidikan di jenjang SD dan SMP tidak dipungut biaya, namun masih banyak sekali anak-anak yang bersekolah, tetapi tingkat kehadirannya di sekolah sangat rendah. Berikut tabel yang menunjukan jumlah dan persentase kehadiran anak di sekolah.
Tabel 14 Jumlah dan persentase responden terhadap kehadiran di sekolah di Desa Lingkungpasir tahun 2016
Kehadiran di sekolah
Pekerja anak Hanya bersekolah
Jumlah (orang) Presentase (%) Jumlah (orang) Presentase (%) Rendah 21 70.00 9 45.00 Tinggi 9 30.00 11 55.00 Total 30 100.00 20 100.00
Tabel 14 menunjukan bahwa sebanyak 21 dari 30 anak yang memiliki status sebagai pekerja anak memiliki tingkat kehadiran di sekolah yang rendah karena pernah atau sering membolos tanpa alasan yang jelas dibandingkan dengan anak yang berstatus hanya bersekolah. Sebanyak 70% pekerja anak pernah membolos sekolah dengan berbagai macam alasan, sedangkan hanya sekitar 45% dari jumlah anak yang hanya bersekolah yang pernah membolos.
Anak yang memiliki status sebagai pekerja anak juga cenderung mudah kelelahan saat harus bekerja dan bersekolah, meskipun waktu kerja berbeda dengan waktu untuk bersekolah dan responden mengaku bahwa jam kerja tidak mengganggu kegiatan lainnya, namun secara tidak langsung mempengaruhi aktifitas lainnya.
“Saya masuk sekolah terus kok teh, tapi kadang suka enggak kalau lagi capek, lagian telat bangun juga terus terlambat deh pasti, jadi yaudah di rumah aja sekalian istirahat” (AS, 14 tahun)
Alasan anak sering tidak masuk sekolah selain kelelahan adalah karena orang tua mereka juga tidak menegur dan memperbolehkan. Salah satu responden bernama imam seringkali tidak masuk sekolah karena membantu orang tuanya di kebun, terutama saat musim panen tiba. Orang tua responden tidak melarangnya ketika responden tidak masuk sekolah, asalkan responden membantu orang tuanya.
“Imam kan anak saya satu-satunya teh, lalaki. kalau bukan dia yang bantuin saya, terus siapa lagi?” (Kaba, 48 tahun, buruh tani)
Namun beberapa dari mereka juga ada yang menjadikan alasan tidak masuk ke sekolah karena harus membantu orang tua bekerja. Namun pada kenyataannya mereka hanya malas untuk pergi sekolah, serta banyak juga anak-anak di Desa Lingkungpasir tidak masuk sekolah atau membolos dengan alasan yang tidak jelas. Guru dan wali kelas sudah mencoba mencari tahu dari teman-teman sekelas atau bertanya langsung kepada orang tua, tetapi banyak dari orang tua mengaku tidak tahu alasan mengapa anak mereka malas-malasan untuk bersekolah dan tidak menganggap hal itu adalah sebuah masalah selama anak-anak mereka masih membantu mereka bekerja. Beberapa dari orang tua mengaku anaknya berpamitan untuk berangkat sekolah tetapi tidak berada di sekolah pada hari yang sama. Setelah diselidiki, beberapa anak-anak memang membolos sekolah tanpa sepengetahuan orang tua mereka.
“Kata teman sekelasnya dia gak masuk karena bantu bapaknya di kebon, tapi waktu saya mau pulang kerumah sebentar, saya lihat lagi pada asik nongkrong di warung” (Asep, 52 tahun, guru)
Selain dari persentase kehadiran di sekolah, kemampuan anak menerima pelajaran juga memiliki hubungan dengan status kegiatan anak tersebut. Dengan status anak sebagai pekerja anak dan anak yang hanya bersekolah, terdapat perbedaan dalam capaian pendidikannya dan dapat dilihar dari kemampuannya dalam menerima pelajaran saat di sekolah. Berikut tabel yang akan menunjukan jumlah dan persentase responden dengan kemampuannya dalam menerima pelajaran di Desa Lingkungpasir.
Tabel 15 Jumlah dan persentase responden dengan kemampuan menerima pelajaran di sekolah Desa Lingkungpasir tahun 2016
Kemampuan menerima
pelajaran
Pekerja anak Hanya bersekolah
Jumlah (orang) Presentase (%) Jumlah (orang) Presentase (%) Kurang mampu 22 73,33 7 35,00 Mampu 8 26,67 13 65,00 Total 30 100,00 20 100,00
Berdasarkan tabel 14 dan tabel 15 kondisi pendidikan di Desa Lingkungpasir dapat dilihat bahwa anak yang memiliki status sebagai pekerja anak sebanyak 70% atau sekitar 21 dari 30 anak memiliki tingkat kehadiran yang rendah di sekolah atau seringkali membolos dengan alasan yang tidak jelas. Anak yang memiliki status sebagai pekerja anak juga kurang mampu dalam menerima pelajaran disekolah jika dibandingkan dengan anak yang hanya bersekolah. Sebanyak 73% pekerja anak kurang mampu menerima pelajaran dibandingkan dengan sebanyak 35% anak yang hanya bersekolah juga kurang mampu.
“Saya sering ngantuk teh kalau dikelas, abisnya saya ketinggalan banyak materi jadi saya bingung, yaudah jadi tidur aja deh” (MS, 15 tahun).
Ketertinggalan materi dalam pelajaran menyebabkan anak malas untuk memperhatikan pelajaran selama dikelas. Tidak ada kebijakan khusus di sekolah bagi anak-anak yang bekerja dan juga tidak ada hukuman atau peraturan apapun yang melarang murid-murid untuk membolos sekolah dengan alasan bekerja atau membantu orang tua. Hal ini seperti sudah lumrah terjadi di desa ini. Kesulitan menerima pelajaran tidak ditanggapi lebih jauh oleh wali kelas dari masing anak- anak tersebut. Pihak sekolah diwakili oleh guru pernah mencoba bertanya kepada beberapa orang tua dari pekerja anak yang seringkali membolos sekolah serta memiliki kesulitan dalam menerima pelajaran, namun orang tua selalu mengatakan bahwa anak-anak tersebut pada dasarnya malas untuk pergi ke sekolah dan lebih memilih membantu orang tua mereka bekerja.
“Kadang suka males teh merhatiin guru, omongannya saya gak
ngerti. Mendingan nanti minta dijelasin temen aja jadi lebih ngerti”
(SN, 12 tahun).
Desa Lingkungpasir memiliki banyak anak-anak yang terbiasa bekerja membantu pekerjaan orang tuanya. Banyak dari mereka justru meninggalkan sekolah dan akhirnya hanya bekerja meneruskan pekerjaan orang tuanya. Tidak ada penanggulangan khusus mengenai banyaknya pekerja anak di Desa Lingkungpasir oleh aparat desa. Aparat desa tidak mengakui bahwa banyak sekali anak-anak yang bekerja dan pada akhirnya berhenti untuk melanjutkan pendidikan mereka namun pak Wawan mengaku mengenal beberapa orang tua yang memiliki
anak yang bekerja. Menurut pak Wawan orang tua dari anak yang memiliki status sebagai pekerja anak memperbolehkan mereka bekerja hanya untuk meringankan pekerjaan orang tua sebagai bentuk bakti, bukan untuk membantu perekonomiannya.
“Banyak di sini mah neng, anak-anak yang suka ikut bapaknya ke kebon, tapi itu abis pulang sekolah kok neng, jadi gak ganggu
rutinitas sekolah mereka”(Wawan, 45 tahun, Sekretaris desa)
Pada kenyataannya terdapat home industry milik warga di Desa Lingkungpasir kampung Cihanja yang mempekerjakan anak-anak usia sekolah untuk membuat karet silk yang nantinya akan digunakan untuk tabung gas elpiji. Motivasi bekerja mereka bermacam-macam dan usianya masih di bawah 18 tahun serta masih aktif bersekolah. Beberapa dari anak-anak hanya ke pabrik untuk mengambil bahan karet yang telah jadi dan mengguntingnya untuk kemudian dikembalikan dan mendapat upah sesuai berapa banyak yang telah mereka gunting, beberapa anak lagi berjualan di sekolah dan beberapanya membantu orang tua mereka di kebun. Jenis pekerjaan yang dilakukan oleh anak tersebut sudah dijelaskan sebelumnya pada karakteristik responden, namun berikut rincian jumlah dan persentase jenis pekerjaan yang dilakukan oleh anak-anak di Desa Lingkungpasir.
Tabel 16 Jumlah dan presentase jenis pekerjaan pekerja anak di Desa Lingkungpasir tahun 2016
Jenis pekerjaan Jumlah
(orang) Presentase (%) Buruh pabrik 20 66,67 Buruh tani 8 26,67 Pedagang asongan 2 6,67 Total 30 100,00
Berdasarkan tabel 16 sebanyak 30 orang dari responden yang memiliki status sebagai pekerja anak dibagi menjadi tiga bagian menurut jenis pekerjaannya. Terdapat 20 anak yang tergolong sebagai pekerja buruh pabrik, dan 8 anak tergolong kedalam pekerja buruh tani, dan 2 anak tergolong kedalam pedagang asongan. Pekerja buruh adalah anak-anak yang bekerja pada orang lain dan dibayar atau diupah sesuai jerih payahnya, sedangkan pekerja keluarga atau rumah tangga adalah anak-anak yang bekerja membantu pekerjaan orang tuanya dengan diberikan imbalan ataupun tidak.
Pekerjaan yang dilakukan oleh para pekerja buruh di Desa Lingkungpasir adalah membuat karet silk untuk tabung gas elpiji. Setelah pulang sekolah mereka pergi ke rumah seorang warga yang memiliki rumah produksi karet silk dan warga tersebut mempekerjakan orang berbagai golongan usia, salah satunya adalah anak usia sekolah untuk membuat karet silk. Sebagian dari mereka yang bekerja di home industry menggunting karet silk yang dibawa dari pabrik ke rumah untuk
diserahkan kembali jika telah selesai digunting-gunting. Bahan karet silk yang telah digunting dihargai Rp2000 - 3000 per plastik sesuai dengan kesanggupan mereka menyelesaikannya dalam kurun waktu satu hari.
Jam Kerja Anak
Anak-anak yang memiliki status sebagai pekerja anak memiliki jam kerja atau biasa disebut sebagai waktu yang dicurahkan dalam kurun waktu tertentu untuk bekerja. Dari hasil penelitian, ditemukan minimal jam kerja yang dimiliki responden adalah 2 jam per hari, dan maksimal jam kerja 8 jam per hari, dan rata- rata jam kerja responden adalah 5 jam per hari. Kemudian jam kerja responden digolongkan menjadi dua golongan. Berikut adalah jumlah dan persentase jam kerja dari pekerja anak di Desa Lingkungpasir
Tabel 17 Jumlah dan persentase jam kerja pekerja anak di Desa Lingkungpasir tahun 2016
Rata-rata jam kerja (per hari) Pekerja anak Jumlah (orang) Presentase (%) Rendah (≤3 jam) 10 33,33 Tinggi (>3 jam) 20 66,67 Total 30 100,00
Jam kerja anak digolongkan menjadi 2 golongan yaitu rendah dan tinggi. Jam kerja yang tergolong rendah adalah jika anak bekerja dalam kurun waktu ≤3 jam, dan tergolong tinggi dengan kurun waktu >3 jam. 10 orang pekerja anak tergolong jam kerja rendah dan 20 orang sisanya tergolong jam kerja tinggi.
Pekerja anak yang tergolong memiliki jam kerja yang tinggi adalah anak- anak dengan jenis pekerjaan sebagai pekerja anak (buruh). Dalam satu hari, mereka bekerja 8 jam sehari setelah pulang sekolah. Mereka bekerja dimulai dari pukul 16.00 WIB sampai dengan selesai. Pekerja dibagi menjadi dua shift, shift pagi dan shift malam. Karena shift pagi anak-anak harus sekolah, maka mereka mengambil shift malam agar tidak mengganggu kegiatan sekolah mereka. Sebagian besar pekerja anak bekerja 4-5 hari dalam satu minggu tergantung dari kemauan mereka sendiri.
Pekerja anak yang tergolong memiliki jam kerja rendah adalah anak-anak yang memiliki jenis pekerjaan sebagai pekerja anak (keluarga) yaitu bekerja pada keluarga atau membantu pekerjaan orang tuanya yang sebagian besar adalah buruh tani. Sebagian dari mereka bekerja untuk mendapatkan tambahan uang saku atau orang tua mereka membiasakan mereka untuk bekerja dan tidak memberi mereka upah karena bekerja membantu orang tua dianggap sebagai melatih anak untuk terbiasa bekerja dan kelak meneruskan pekerjaan orang tuanya.
Dalam UU Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, disebutkan bahwa pekerja anak adalah anak-anak yang berusia di bawah 18 tahun. Anak-anak boleh dipekerjakan dengan syarat mendapat izin dari orang tua dan bekerja maksimal 3 jam sehari. Hal ini membuktikan bahwa meskipun anak-anak telah mendapat izin bekerja dari orang tua mereka, jam kerja mereka yang lebih dari 3 jam seharusnya dijadikan pertimbangan dan menjadi alasan yang kuat untuk mencegahnya melakukan pekerjaan tersebut karena secara langsung maupun tidak akan mempengaruhi kegiatannya sehari-hari.
Pendapatan Pekerja Anak
Pendapatan adalah jumlah uang yang diperoleh dari hasil kerja seorang individu dalam kurun waktu tertentu. Berdasarkan hasil penelitian, pendapatan pekerja anak dalam satu hari paling kecil adalah Rp2.000 per hari dan pendapatan paling besar adalah Rp5.000 per hari dengan rata-rata pendapatannya sebesar Rp14.285 per hari. Pendapatan pekerja anak digolongkan menjadi tiga golongan berdasarkan rata-rata pendapatan yang diperoleh dari keseluruhan jumlah pekerja anak, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Berikut rincian jumlah dan persentase dari pendapatan pekerja anak.
Tabel 18 Jumlah dan persentase pendapatan pekerja anak per hari di Desa Lingkungpasir tahun 2016
Pekerja Anak
Golongan Pendapatan (Rp/hari) Total
Rendah (≤5000) Sedang (10000 – 15000) Tinggi (≥ 25000) N % N % N % N % Buruh pabrik - - 10 33,33 10 33,33 20 66,66 Buruh tani 3 10,00 5 16,67 8 26,67 Pedagang asongan 1 3,33 1 2 6,66 Total 30 100,00
Golongan pendapatan tergolong rendah adalah jika pendapatan di bawah Rp5.000, tergolong sedang jika pendapatan di antara Rp10.000–15.000, dan tergolong tinggi jika pendapatan lebih dari Rp25.000. Sebanyak 10 orang pekerja anak termasuk kedalam golongan yang memiliki pendapatan rendah, 10 orang memiliki pendapatan sedang, dan 7 orang sisanya tergolong memiliki pendapatan yang tinggi. Sumbangan pekerja anak untuk ekonomi keluarganya tidak kecil. Pendapatan pekerja anak dengan golongan rendah banyak ditemukan pada pekerja anak dengan jenis pekerjaan sebagai buruh tani dan pedagang asongan.
Khaerunnisa pemilik home industry karet silk tempat anak-anak bekerja memberi upah kepada mereka sekitar Rp40.000-50.000 per hari dengan waktu 8 jam bekerja. Tidak ada perekrutan dan pemberhentian khusus. Semua anak-anak bekerja dengan kemauan mereka sendiri dan akan diberhentikan jika sering tidak
masuk kerja tanpa alasan yang jelas karena masih banyak anak lainnya yang bersedia menggantikan mereka bekerja dan tidak dapat di rekrut karena keterbatasan alat produksi. Saat bekerja, selain mendapatkan upah, mereka diberi jatah makan siang (bagi shift pagi) dan makan malam (bagi shift malam) juga makanan ringan dan uang rokok (bagi yang merokok).
“Anak-anak seneng kerja di sini karena dapet makan selain upah dari kerjaan mereka neng. Gapapa deh saya repot dikit masaknya
sekalian juga buat keluarga saya kok” (Khaerunnisa, 25 tahun, pemilik home industry karet silk)
Banyak anak-anak yang bekerja karena kemauan sendiri dan pendapatan dari hasilnya bekerja digunakan untuk keperluan pribadi. Alasan mereka bekerja selain karena ingin mendapatkan uang dan bisa membeli kebutuhan sendiri, adalah karena mereka senang bisa mendapat teman dan pengalaman baru. Awal mula mereka bekerja juga karena ajakan dari teman-teman sekolahnya.
“Saya seneng teh kalau di tempat kerja. Banyak temen, bisa ngobrol sambil kerja. kalau di rumah terus saya bosen. Ini juga saya kerja karena ikutan temen-temen” (Dandi, 15 tahun)
Namun tidak sedikit juga anak-anak yang bekerja dan memberikan hasil pendapatan mereka untuk membantu ekonomi keluarga. Hal tersebut biasanya dikarenakan oleh jumlah anggota keluarga yang terlalu banyak sampai anak juga harus ikut bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan juga sebagai bentuk bakti mereka kepada orang tua.
“Saya udah dibiasain sama bapak ibu saya buat ikut kerja teh, adek
saya banyak, ya jadinya saya bantuin bapak ibu, paling enggak saya gak minta uang jajan lagi dari bapak dan bisa jajanin adek saya kadang-kadang” (AJ, 14 tahun, pekerja anak).
Membantu orang tua memang bagian dari kewajiban seorang anak sebagai bentuk bakti dan pembiasaan yang baik dan perlu dilakukan sejak dini, namun hal tersebut lebih tepat jika tidak sampai mengganggu kegiatan sehari-hari anak terutama mengenai pendidikannya. Seorang anak memiliki hak untuk belajar dan mengenyam pendidikan sebaik mungkin dan tidak melakukan kegiatan yang sampai membebaninya.