• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Rumah Tangga Sangat Miskin di Kecamatan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian

4.3.6 Kondisi Rumah Tangga Sangat Miskin di Kecamatan

Sejak Diimplementasikan PKH

Arah program pengentasan kemiskinan melalui PKH ini mengarah pada

outcome atau hasil dari kegiatan pengentasan kemiskinan yang selama ini telah dilaksanakan dari output atau keluaran yang akan didapatkan output dari pengentasan kemiskinan ini memang hasilnya tidak secara langsung melainkan memerlukan waktu jangka panjang. Outcome yang diharapkan dari program ini adalah perubahan pola pikir masyarakat (RTSM) tentang akan pentingnya pendidikan dan kesehatan anak-anak mereka yang nantinya akan mencapai kesejahtraan masyarakat yang terjadi dalam kegiatan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Wanasalam sesuai konsep Implementasi merupakan proses untuk memastikan terlaksananya suatu kebijakan dan tercapainya kebijakan tersebut.

Van Meter dan Van Horn (dalam Agustino, 2006:153), mendefiniskan implementasi kebijakan adalah tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan. Hal ini menunjukkan perubahan rencana menjadi praktek yang nyata. Senada juga diungkapkan oleh Mazmanian dan Sabitier

(dalam Wahab 2007: 81) yang berpendapat bahwa peran penting analis implementasi kebijaksanaan Negara ialah mengidentifikasikan variable-variabel yang mempengaruhi tercapainya tujuan-tujuan formal pada seluruh proses implementasi. Variabel-variabel yang dimaksud adalah mudah tidaknya masalah yang digarap dikendalikan dan kemampuan keputusan kebijaksanaan untuk menstrukturkan secara tepat proses implementasinya. Kemudian, pengaruh langsung berbagai variabel politik terhadap keseimbangan dukungan bagi tujuan yang termuat dalam keputusan kebijaksanaan tersebut.

Dalam implementasi Program PKH di Kecamatan Wanasalam yaitu untuk meningkatkan jangkauan atau aksesibilitas masyarakat tidak mampu terhadap pelayanan pendidikan dan kesehatan. Sehingga diharapkan ketika dilaksanakannya Program PKH tersebut RTSM mampu meningkatkan jangkauan terhadap pelayanan untuk mendapatkan pendidikan dan pelayanan keshetan. Sementara, untuk jangka pendek Program PKH di Kecamatan Wanasalam dapat memberikan bantuan uang tunai kepada RTSM/KSM yang diharapkan mampu mengurangi beban pengeluaran RTSM/KSM. Sedangkan untuk jangka panjang, melalui kewajiban yang dipersyaratkan diharapkan akan terjadi perubahan pola pikir dan perilaku serta kesinambungan terhadap perbaikan kesehatan ibuhamil, balita serta tingkat pendidikan anak-anak RTSM/KSM. Sehingga pada akhirnya dapat memutus rantai kemiskinan yang ada di Kecamatan Wanasalam.

Setidaknya ada dua yang dilihat dari Program PKH dalam implementasinya, yaitu perubahan Kondisi Kesehatan dan Kondisi Pendidikan pada Peserta PKH atau RTSM/KSM. Perubahan yang dirasakan oleh Penerima Program PKH di Kecamatan Wanasalam, belum bisa dilihat secara langsung oleh Pejabat

Kecamatan Wanasalam Drs. Bidin Saehabudin, Kasi Kesos Kecamatan Wanasalam. Menurutnya sulit melihat perubahan, dikarenakan dirinya belum memahami betul program tersebut dalam realisasinya, berikut kutipan wawancaranya:

“Untuk perubahannya sih kurang begitu tahu, karena tidak mengamati satu per satunya. Yang mengamati pendampingnya langsung. Paling kalau mau tahu ke pendampingnya saja” (wawancara 10 Maret 2016).

Pendapat dari Infroman Dedi Anshori, S.H. Ketua UPPKH Kecamatan Wanasalam. Menurutnya, perubahan yang dilihatnya setelah Peserta PKH mendapatkan bantuan dari Program PKH, mereka mau untuk berobat baik saat balitanya sakit maupun saat sedang hamil dengan memeriksakannya ke Puskesmas terdekat. Ungkapan tersebut terlihat dari kutipan wawaancaranya sebagai berikut:

“Perubahan yang saya lihat setelah RTSM mendapatkan PKH yaitu mereka ketika hamil atau belitanya sakit mau ke Puskesmas” (wawancara, 11 Maret 2016).

Pandangan Informan Dedi Anshori, S.H dibenarkan oleh Informan lainnya yang juga masih Pendamping PKH Kecamatan Wanasalam, Restu. Menurutnya, perubahan yang dilihatnya serta pengakuan dari para Peserta PKH, bahwa dengan adanya Program PKH kebutuhan kesehatan dan pendidikan bisa tertanggulangi dengan baik khusunya untuk kebutuhan anak-anak Peserta PKH baik kebutuhan pendidikan maupun kebutuhan kesehatan. Pandangan tersebut bisa dilihat dalam kutipan wawancaara berikut ini:

“Perubahan yang saya lihat dan menurut pengakuan mereka, mereka bisa meng-cover seluruh kebutuhan anak-anak mereka. Baik itu yang sekolah, maupun yang masih balita” (wawancara, 11 Maret 2016).

Perubahan yang dirasakan para Peserta PKH, sepertinya membenarkan pernyataan Informan Pendamping PKH di atas. Informan Tinah, misalnya salah satu Penerima Bantuan PKH di Desa Muara yang mensyukuri pemberian bantuan dari Program PKH. Karena ia menganggap jika tidak ada program PKH, dirinya tidak mampuh menyekolahkan anaknya, dan sekarang ia sudah merasa lega karena bias menyekolahkan anaknya. Berikut terlihat dari kutipan wawancarnya:

Sateuacan aya PKH Teh Tinah teu bisa nyakolakeun anak nu kahiji, tapi saanggeus aya PKH alhamdulillah anak-anak Teh Tinah bisa sakola. (Sebelum ada PKH Teh Tinah tidak bisa menyekolahkan anak peratama, tapi setelah ada PKH alhamdulillah anak-anak Teh Tinah bisa bersekolah)” (wawancara, 13 Maret 2016).

Informan Sarimah, Penerima Bantuan PKH di Desa Cipeucang berpendapat sama dengan Informan Tinah. Menurutnya, dirinya bersyukur bisa menyekolahkan anaknya, karena sebelumnya anaknya tidak sekolah lantaran tidak ada biaya. Namun, setelah mendapatkan dana bantuan Program PKH, anaknya bisa bersekolah. Hal tersebut bisa dilihat dalam kutipan wawancaranya berikut ini: “Perubahan na, sateuacan aya PKH doang na Teteh moal bisa nyakolakeun anak. Tapi alhamdulillah anak Teteh pada sakola kabeh. (Perubahannya sebelumnya saya kayaknya tidak bisa menyekolahkan anak. Tapi alhamdulillah anak saya pada sekolah semua)” (wawancara, 14 Maret 2016).

Pandangan berbeda diungkapkan oleh Informan penerima PKH berikutnya yaitu Warwi, Penerima Bantuan PKH di Desa Muara. Informan Warwi, tersebut merasa Program PKH dipandang biasa saja, karena untuk menyekolahkan anaknya dirinya bisa, meski tidak mendapatkan Program PKH dari pemerintah. Berikut ini kutipan wawancaranya:

Kanggo perubahan sih biasa-biasa bae ja maap sanajan Teh Uwar teu kenging PKH geh insya Allah Ka Ahmad bisa nyakolakeun anak-anak.

(Untuk perubahan sih biasa-biasa saja karena maaf walaupun Teh Uwar tidak dapat PKH juga Insyaallah Ka Ahmad bisa menyekolahkan anak-anak)” (wawancara, 13 Maret 2016).

Kesimpulan yang dirangkum dari gambaran perubahan yang dirasakan oleh RTSM atau Peserta Program PKH setelah mereka mendapatkan program tersebut terlihat sangat dirasakan manfaatnya, baik dari akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan maupun pelayanan pendidikan. Meski demikian, untuk jangka panjang Program PKH, yang diharapkan akan terjadi perubahan pola pikir dan perilaku serta kesinambungan terhadap perbaikan kesehatan ibu hamil, balita serta tingkat pendidikan anak-anak RTSM/KSM, belum bisa terlihat. Sehingga Program PKH yang bisa memutus rantai kemiskinan yang ada di Kecamatan Wanasalam belum bisa dilihat dengan nyata.