• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONDISI SOSIAL EKONOMI DAN STATUS KEBERLANJUTAN USAHATANI PADI DI LAHAN GAMBUT

ASAM FENOLAT PADA PERTANAMAN PADI DI LAHAN GAMBUT

6. KONDISI SOSIAL EKONOMI DAN STATUS KEBERLANJUTAN USAHATANI PADI DI LAHAN GAMBUT

Latar Belakang

Pertanian Indonesia, menghadapi tiga isu penting yang sangat terkait dengan upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan, yaitu: (1) dampak penggunaan berbagai input pertanian terhadap produk, lahan, dan lingkungan, (2) dampak sistem usaha tani, terutama padi sawah dan padi lahan rawa pasang surut, terhadap emisi gas rumah kaca (GRK), dan (3) dampak industri, permukiman, dan perkotaan terhadap produktivitas lahan dan kelestarian lingkungan pertanian (Las

et al. 2006).

Manusia dapat berperan positif atau negatif dalam menimbulkan penurunan kualitas lahan akibat aktifitas pertanian, tergantung pada cara mereka menjalankan pertaniannya. Kegiatan tersebut antara lain cara pengolahan tanah, penggunaan sarana produksi (pupuk dan pestisida), serta budidayanya. Pengolahan tanah yang tidak benar, input produksi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, pengelolaan air salah, dapat menjadi kontribusi pada kerusakan lingkungan akibat penurunan kualitas lahan. Penurunan kualitas lahan akan mengakibatkan penurunan produktivitas, ketidakamanan pangan, bahaya bagi sumberdaya dan ekosistem dasar serta kehilangan biodiversitas. Selain itu penurunan kualitas lahan akan berdampak pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat berupa meningkatnya angka kemiskinan (Atmojo 2006).

Pengelolaan lahan suboptimal seperti lahan gambut masih banyak menghadapi permasalahan. Selain aspek kimia dan fisik lahan, permasalahan lainnya adalah; rendahnya minat dan kemampuan petani, lemahnya system kelembagaan, dan aplikasi teknologi yang rendah terutama karena terkendala oleh kapasitas finansial petani yang tidak memadai. Semua itu juga menjadi permasalahan yang dihadapi di dalam pembangunan pertanian di lahan gambut (Haryono 2013). Pemahaman masyarakat dan pemerintah terhadap multifungsi pertanian sangatlah diperlukan agar pertanian mendapat perlakuan dan penghargaan yang lebih layak. Pemahaman ini akan lebih menjamin kelestarian usaha tani, mempertahankan kualitas lingkungan dan memelihara stabilitas sosial ekonomi. Oleh karena itu, pembangunan pertanian harus dilaksanakan dengan memperhatikan tiga pilar pembangunan berkelanjutan, yaitu ekologi (lingkungan), ekonomi dan sosial. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Inti dari konsep ini adalah bahwa tujuan sosial, ekonomi dan lingkungan harus saling mendukung dan terkait dalam proses pembangunan (Munasinghe 1993). Sehingga pembangunan pertanian ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani, menjaga kualitas lingkungan, dan menghindari penurunan kualitas lahan (Laba 2009).

Usahatani di lahan gambut akan berkelanjutan jika menguntungkan dari aspek usaha tani (aspek ekonomi), kondisi gambut lestari atau tidak menurun kualitasnya (aspek lingkungan) dan teknologi usahatani dapat diterima atau diadopsi oleh petani (aspek sosial). Keraf (2002) mengemukakan, pengelolaan akan berkelanjutan jika dalam implementasinya memberi bobot yang sama dan mengintegrasikan aspek ekonomi, lingkungan dan aspek sosial. Proses pembangunan tidak boleh terhenti tetapi alam ini harus tetap dapat diwariskan

dari generasi ke generasi dalam keadaan yang tetap baik, layak untuk mendukung kehidupan generasi yang akan datang dengan sejahtera. Pembangunan yang demikian adalah pembangunan yang berkelanjutan.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pestisida dan pengelolaan air terhadap pertumbuhan tanaman dan kelayakan usahatani padi serta keberlanjutannya di lahan gambut.

Metodologi Penelitian

Pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman dan komponen hasil padi dilakukan bersamaan dengan kegiatan pada bab-bab sebelumnya. Pengamatan dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan.

Pengumpulan data sosial ekonomi dan status keberlanjutan usahatani dilaksanakan di Desa Kanamit Jaya, Kecamatan Maliku, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara langsung dengan petani menggunakan kuesioner pada bulan November 2013. Penentuan responden dilakukan dengan menggunakan metode

purposive sampling. Kriteria responden adalah petani padi di lahan gambut, memiliki pengalaman bertani lebih dari 10 tahun, dan merupakan anggota dari kelompok tani yang ada di lokasi penelitian.

Pengamatan Pertumbuhan Tanaman dan Komponen Hasil

Pengamatan pertumbuhan tanaman yang diukur meliputi tinggi tanaman dan jumlah anakan. Tinggi tanaman dan jumlah anakan diukur setiap dua minggu dimulai pada 5 HST. Pengamatan dilakukan terhadap 5 rumpun tanaman secara diagonal terhadap petakan. Tinggi tanaman diukur dari permukaan tanah hingga ujung daun atau malai yang paling tinggi. Jumlah anakan dihitung dari banyaknya anakan aktif dari tanaman padi yang memiliki minimal tiga helai daun. Komponen hasil yang diamati terdiri dari; jumlah malai, jumlah biji per- malai, jumlai biji hampa dan isi, serta berat 1000 biji. Biji padi diambil dari 5 rumpun tanaman sampel, sementara biji hampa dan isi diambil dari 5 rumpun tanaman yang diambil secara acak dari jumlah rata-rata anakan aktif dari tiap petak percobaan.

Analisa Kelayakan Usahatani Padi

Salah satu indikator dari keberhasilan usahatani adalah tingkat pendapatan yang diperoleh yaitu keuntungan usahatani, yakni selisih antara penerimaan usahatani dengan biaya yang dikeluarkan (Mubyarto 1995). Maka analisis sosial ekonomi usahatani yang akan dilakukan meliputi: (1) analisa masukan (input) usahatani seperti benih, pupuk, amelioran, dan pestisida termasuk tenaga kerja. (2) analisa usahatani yang meliputi pendapatan, keuntungan bersih dan R/C ratio. Return Cost Ratio (R/C rasio) merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya produksi, yang dirumuskan sebagai berikut:

Total penerimaan Total biaya produksi R/C rasio =

Bila hasil analisis memberikan nilai R/C Rasio > 1, maka usaha tersebut efisien dan menguntungkan. Apabila R/C Rasio = 1, maka usaha tersebut tidak menguntungkan dan tidak merugikan, dan bila R/C Rasio < 1, maka usaha tersebut tidak efisien dan merugikan.

Analisa Potensi Keberlanjutan Usahatani Padi

Untuk mendapatkan informasi tentang potensi keberlanjutan usahatani di lahan gambut dilakukan melalui analisis terhadap tiga dimensi keberlanjutan, yaitu dimensi sosial, dimensi ekonomi dan dimensi lingkungan. Analisis indek dan status keberlanjutan dilakukan dengan pendekatan multidimentional scaling

(MDS) dengan menggunakan teknik ordinasi modifikasi Rapfish terhadap model usahatani yang diteliti. Analisa dilakukan melalui 6 tahapan yaitu:

1. Penentuan atribut dari tiap dimensi

Penentuan atribut dimensi ekonomi, ekologi dan sosial budaya merupakan atribut yang berpengaruh terhadap keberlanjutan pengelolaan sumberdaya alam. Atribut-atribut tersebut mencerminkan bagaimana budidaya padi di lahan gambut dapat diterima oleh sosial budaya masyarakat, memberikan manfaat ekonomi secara mikro maupun makro sehingga akan menopang keberlanjutan pengelolaan sumberdaya alam.

Atrribut yang dipilih dari setiap dimensi menggambarkan kondisi usahatani padi di lahan gambut dan status keberlanjutannya di setiap dimensi. Atribut- atribut tersebut diambil dari beberapa sumber antara lain: Nazam (2011), Ruslan et al. (2013) dan Mamat et al. (2013) yang kemudian dimodifikasi menyesuaikan dengan kondisi di lahan gambut serta pendapat para pakar dan stakeholder. Atribut-atribut tersebut dikelompokan dalam 3 dimensi yaitu dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan. Dimensi sosial terdiri dari 10 atribut, dimensi ekonomi 10 atribut, dan dimensi ekologi 10 atribut (Lampiran 10). 2. Pembuatan Skor dan Pemberian Nilai Skor.

Tahap kedua dari analisis ini adalah melakukan pembuatan skor melalui pemberian skor atau pemberian peringkat pada atribut. Pembuatan skor mengacu pada teknik RAPFISH (Pittcher and Preikshot 2001) yaitu skor yang diberikan berupa nilai “buruk (bad)” yaitu mencerminkan kondisi yang paling tidak menguntungkan dan sebaliknya nilai “baik (good)”, yaitu kondisi yang paling menguntungkan. Diantara nilai yang ekstrim “baik” dan “buruk”, biasanya terdapat satu atau lebih nilai antara.

Setiap atribut diperkirakan skornya, yaitu skor 4 untuk kondisi baik (good), 1 berarti buruk (bad) dan di antara 1 – 4 untuk keadaan di antara baik dan buruk. Nilai definitifnya adalah nilai rata-rata dari kuisioner yang ada yang digunakan menentukan posisi titik keberlanjutan terhadap titik buruk dan baik (Tabel 6.1). 3. Proses ordinasi

Posisi titik keberlanjutan dapat divisualisasikan dalam dua dimensi (sumbu vertikal dan horisontal). Melalui metode rotasi sumbu maka posisi titik-titik tersebut dapat diproyeksikan pada garis mendatar dimana titik ekstrem “buruk” diberi nilai skor 0 % dan titik ekstrim “baik” diberi skor 100 %. MDS MDS

(Multi Dimensional Scalling) dapat mempresentasikan metode ordinasi secara efektif. Dua titik atau objek yang sama dipetakan dalam satu titik yang saling

berdekatan satu sama lain. Sebaliknya objek atau titik yang tidak sama digambarkan dengan titik-titik yang berjauhan (Fauzi dan Anna 2002). Proses ordinasi selanjutnya setelah titik acuan utama horizontal adalah (Susilo, 2003): a. Membuat titik acuan utama lainnya yaitu “titik tengah” merupakan titik

tengah baik dan titik tengah buruk. Dua titik tambahan ini akan menjadi acuan arah vertikal (“atas” atau “up” dan “bawah” atau “down”) dari ordinasi;

b. Membuat titik acuan tambahan yang disebut dengan titik acuan “jangkar”

(anchors) yang berguna untuk stabilizer dan menempatkan titik pada posisi yang tidak sama pada ruang multidimensi yang sama;

c. Melakukan standarisasi skor untuk setap atribut sehingga setiap atribut mempunyai bobot yang seragam dan perbedaan antar skala pengukuran dapat dihilangkan;

d. Meghitung jarak antar titil-titik acuan dengan metode Euclidean distance squared (seuclied); titik ordinasi dengan mengkonfigurasikan jarak antar titik dalam t- dimensi yang mengacu pada jarak euclidien antar titik. Dalam ruang dua dimensi jarak Euclidean dirumuskan sebagai berikut:

Sedangkan dalam n-dimensi jarak Euclidien dirumuskan sebagai berikut:

e. Membuat ordinasi baik untuk seluruh dimensi dan seluruh atribut berdasarkan algoritme analisis MDS

i. Data dalam matrik adalah data interval yang menunjukkan skoring baik dan buruk. Skor data tersebut kemudian dinormalkan untuk meminimalkan stress. Salah satu pendekatan untuk menormalkan data adalah dengan nilai Z.

ii. Z = (x- μ)/σ...(3)

f. Menghiting nilai “stress” (standarlize residual sum of square), dengan menggunakan nilai jarak pada saat dua dimnesi dan hasil analisis regresi antara dua dimensi dengan nilai jarak pada saat p dimensi (nilai harapan jarak pada saat dua dimensi). Analisis MDS berhenti jikan nilai “stress”

telah memenuhi persyaratan yang dikehendaki, dalam hal ini < 0,25 atau jika “stress” tidak turun lagi di dalam iterasi (Fauzi dan Anna, 2002). Stress didefinisikan sebagai :

4. Proses Rotasi

Untuk memproyeksikan titik-titik tersebut pada garis mendatar dilakukan proses rotasi, dengan titik ekstrim “buruk” yang diberi nilai skor 0% dan titik ekstrim yang “baik” diberi nilai skor 100%. Untuk menjamin tidak terjadinya kesalahan dalam posisi titik yang bersifat kebalikan cermin maka dilakukan proses”flip” untuk titik-titik tertentu yang mengalami kesalahan.

5. Penyusunan indeks dan status keberlanjutan

Skor keberlanjutan dinyatakan dengan skala terburuk (0%) sampai dengan terbaik (100%). Nilai indeks keberlanjutan > 50 menunjukkan bahwa sistem yang dianalisa telah berkelanjutan sedangkan nilai indeks keberlanjutan < 50 menunjukkan sistem yang dianalisa belum atau tidak berlakelanjutan (Tabel 6.1).

Tabel 6.1. Nilai indeks dan kategori keberlanjutan

Nilai Indeks Kategori Keberlanjutan 0 – 25.00 Buruk; tidak berkelanjutan 25.01 – 50.00 Kurang; kurang berkelanjutan 50.01 – 75.00 Cukup; cukup berkelanjutan

75.01 – 100 Baik; sangat berkelanjutan

6. Analisis sensitivitas untuk melihat atrribut yang paling berpengaruh (sensitive) 7. Evaluasi pengaruh galat acak dengan analisa Monte Carlo yang dapat

digunakan untuk mengetahui: a. Pengaruh kesalahan dalam membuat skor atribut, b. Pengaruh variasi pemberian skor, c. Stabilitas proses analisi yang berulang-ulang, d. Kesalahan pemasukan atau hilangnya data, dan e. Nilai stress

Goodness of fit dalam MDS dapat dilihat dari nilai S-stress (S) dan koefisien determinasi (RSQ = R square). Nilai S yang rendah menunjukkan goodness of fit yang baik. Model dapat dikatakan baik apabila nilai S < 0,25 dan nilai RSQ > 80 atau mendekati 1 (Pitcher and Preiskot, 2001). Jika titik menyebar semakin mendekati garis diagonal, maka Rsquare akan semakin besar atau semakin mendekati angka 1, dan RMSE (root mean square error) semakin kecil atau semakin mendekati angka 0. Rsquare besar dan RMSE kecil menunjukkan prediksi semakin tepat (perbedaan antara predicted value dan actual value semakin kecil). Rsquare disebut juga coefficient of determination. Rsquare 0.6 dapat diinterpretasikan kemungkinan 60% dari fenomena dapat dijelaskan dengan model regresi yang dibuat, kemungkinan 40% tidak dapat dijelaskan. Perbandingan keberlanjutan antar dimensi dinyatakan dalam bentuk diagram layang-layang (kite diagram).

Data atribut atau parameter sosial dan ekonomi diperoleh melalui survei deskriptif terhadap 25 petani responden. Melalui wawancara ini digali potensi sosial budaya yang dimiliki dan berlaku umum pada masyarakat petani di lahan gambut. Potensi dan kendala sosial budaya ini sangat diperlukan untuk mengetahui apakah masyarakat petani akan menerima teknologi yang disampaikan. Parameter ekonomi digali melalui kebiasaan petani melalui teknik budidaya yang dilakukan. Preferensi petani dalam melakukan usahataninya dipelajari untuk dapat difahami guna meningkatkan penerimaan teknologi. Pada parameter ekonomi ini termasuk juga dipelajari sistem pasar, tingkat harga input pertanian, harga hasil panen, kemudahan menjual hasil panen dan membeli input pertanian. Termasuk juga diantaranya dipelajari kelembagaan yang berlaku di tingkat petani. Data terhadap parameter ekologi sebagian besar diperoleh dari aspek biofisik hasil penelitian ditunjang kondisi eksisting lahan pertanian.

Selanjutnya dilakukan wawancara untuk menentukan skor terhadap hasil penentuan parameter setiap dimensi. Wawancara dilakukan kepada para pakar atau orang yang memiliki kompetensi dan pengetahuan terhadap kondisi pertanian padi di lahan gambut secara umum maupun spesifik lokasi. Wawancara dilakukan kepada peneliti, petugas penyuluh lapang (PPL) setempat, pejabat instansi terkait dan petani sebagai pengguna.

Hasil dan Pembahasan

Pengaruh pestisida dan pengelolaan air terhadap pertumbuhan dan komponen hasil tanaman padi

Pengaruh pestisida terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi dapat terjadi melalui peran pestisida sebagai pelindung tanaman padi dari kehilangan hasil akibat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Selain itu pestisida juga dapat berperan sebagai agent yang secara langsung membantu pertumbuhan tanaman (Growth regulator). Namun pestisida juga mampu menjadi penyebab turunnya produksi tanaman akibat gangguannya terhadap kesuburan lahan dan keseimbangan ekosistem tanah.

Secara umum pertumbuhan tanaman padi pada musim hujan lebih baik daripada musim kemarau. Hal ini berkaitan erat dengan ketersediaan air pada kedua musim tanam. Pada musim hujan curah hujan terukur hanya 51.6 mm sedangkan pada musim hujan sebanyak 196.2 mm. Ketersediaan air sangat berpengaruh terhadap perkembangan mikrob tanah yang berperan terhadap ketersediaan hara-hara tanah (1AEA, 2011). Pada musim hujan mikrob tanah dapat berkembang lebih baik dari pada musim kemarau, sehingga pada musim hujan hara-hara tanah tersedia lebih baik.

Pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman padi dan komponen hasil pada musim kemarau dan musim hujan terhadap perlakuan pestisida tidak memperlihatkan perbedaan yang sangat signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pestisida tidak secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan dan komponen hasil tanaman padi. Produksi gabah tertinggi pada musim kemarau dihasilkan oleh perlakuan P4 pada musim kemarau (Tabel 6.2). Sedangkan pada musim hujan hasil gabah tertinggi dihasilkan oleh perlakuan P2 (Tabel 6.3).

Pengelolaan air intermittent (A2) memberikan hasil yang relatif sama dengan A1 (Tabel 6.4)

Tabel 6.2. Pertumbuhan tanaman dan komponen hasil padi terhadap perlakuan pestisida pada musim kemarau 2012

Tabel 6.3. Pertumbuhan tanaman dan komponen hasil padi terhadap perlakuan pestisida pada musim hujan 2012/2013

Tabel 6.4. Pertumbuhan tanaman dan komponen hasil padi terhadap perlakuan pengelolaan air pada musim hujan 2012/2013

Perlakuan A2 menciptakan kondisi lingkungan tanah yang mendukung pertumbuhan padi. Selain itu tinggi muka air tanah yang dikurangi secara perlahan menguntungkan bagi perkembangan mikroba. Mikroba tanah berperan aktif dalam proses enzimatik dan dekomposisi bahan organik. Mikroba juga berperan aktif dalam mendegradasi cemaran bahan kimia pestisida sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman.

Perlakuan pestisida Tinggi tanaman (cm) Jumlah anakan / rumpun (batang) Jumlah malai / rumpun (batang) Panjang malai (cm) Jumlah gabah / malai (butir) Berat 1000 biji (gr) Hasil per- petak (kg) Konversi ton/ha P0 55 14 11 21 81 27.0 3.7 1.8 P1 55 15 13 20 82 26.2 4.1 2.1 P2 56 15 14 21 82 26.7 4.2 2.1 P3 56 13 12 20 79 26.4 4.5 2.3 P4 55 16 13 20 84 27.6 4.6 2.3 P5 55 14 13 20 86 28.2 4.5 2.2 Perlakuan pestisida & pengelolaan air Tinggi tanaman Jumlah anakan / rumpun Jumlah malai / rumpun Panjang malai Jumlah gabah / malai Berat 1000 biji Hasil per- petak (kg) Konversi ton/ha P0 78 17 34 23 80 39.4 5.9 2.9 P1 76 19 38 23 94 41.0 5.8 2.9 P2 78 20 37 22 99 40.1 7.1 3.6 P3 79 18 37 23 87 39.2 6.1 3.1 P4 71 19 36 22 95 40.7 6.8 3.4 P5 77 19 32 22 90 39.9 6.3 3.2 Perlakuan Pengelolaan air Tinggi tanaman Jumlah anakan / rumpun Jumlah malai / rumpun Panjang malai Jumlah gabah / malai Berat 1000 biji Hasil per- petak (kg) Konversi ton/ha A0 74 18 34 22 87 40.2 5.9 2.9 A1 79 19 37 22 93 39.7 6.6 3.3 A2 77 19 37 23 93 40.3 6.6 3.3

Analisa kelayakan usahatani teknologi yang diteliti

Hasil analisa kelayakan usahatani pada menunjukkan nilai kelayakan yang sedikit lebih kecil dengan R/C rasio bervariasi antara 1.3 – 1.5 (Tabel 6.5). Input yang diperlukan sekitar 8.1 juta – 10.8 juta rupiah, dengan penerimaan diperoleh 11.8 – 14.2 juta rupiah. Dengan demikian keuntungan usahatani yang diperoleh adalah sebesar 2.8 – 5.0 juta rupiah.

Tabel 6.5. Analisa kelayakan usahatani padi plot penelitian pada musim hujan 2012/2013

Perhitungan di atas merupakan pembiayaan pada skala penelitian. Dalam prakteknya petani dapat menekan biaya yang harus dikeluarkan dalam budidaya tanaman padi dengan melakukan kerjasama dalam kelompok. Gotong royong yang dilakukan petani dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan, misalnya untuk pengolahan lahan dan pengelolaan air. Sehingga kendala tenaga kerja yang saat ini dikeluhkan petani dapat teratasi.

Penggunaan pestisida tetap mengacu pada asas pengelolaan hama terpadu (PHT). Untuk itu pengetahuan petani mengenai organisme pengganggu tanaman (OPT) dan teknik pengendaliannya harus ditingkatkan. Selanjutnya yang tak kalah pentingnya adalah konservasi dan pengelolaan air menjadi upaya yang sangat penting untuk mempertahankan keberlanjutan usahatani di lahan gambut. Tinggi muka air tanah yang terjaga akan menahan laju subsidensi gambut dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Melalui kerjasama kelompok usaha

P0 P1 P2 P3 P4 P5

1. Produksi gabah (GKG)/Ha (ton/ha) 2.97 2.91 3.55 3.10 3.40 3.16 2. Penerimaan (produksi x harga GKG/kg) 11,865,333 11,625,889 14,209,235 12,400,000 13,600,974 12,653,297 3. Biaya/ modal (Rp) a. Saprodi 1. Benih padi 150,000 150,000 150,000 150,000 150,000 150,000 2. Urea 750,000 750,000 750,000 750,000 750,000 750,000 3. Tsp 405,000 405,000 405,000 405,000 405,000 405,000 4. KCl 700,000 700,000 700,000 700,000 700,000 700,000 5. Kapur 1,600,000 1,600,001 1,600,002 1,600,003 1,600,004 1,600,005 6. Insektisida - - 800,000 400,000 - - 7. Fungisida - - - - 2,400,000 1,200,000 8. Herbisida - 150,000 - - - - 9. Rodentisida 50,000 50,000 50,000 50,000 50,000 50,000 Jumlah 3,655,000 3,805,000 4,455,000 4,055,000 6,055,000 4,855,000 b. Tenaga kerja 1. Persemaian 350,000 350,000 350,000 350,000 350,000 350,000 2. Pengolahan tanah 420,000 140,000 420,000 420,000 420,000 420,000 3. Tanam 700,000 700,000 700,000 700,000 700,000 700,000 4. Memupuk 210,000 210,000 210,000 210,000 210,000 210,000 5. Menyiang 420,000 420,000 420,000 420,000 420,000 420,000 6. Menyemprot pestisida - 70,000 280,000 140,000 280,000 140,000 7. Panen 210,000 210,000 210,000 210,000 210,000 210,000 8. Merontok 210,000 210,000 210,000 210,000 210,000 210,000 9. Menjemur 210,000 210,000 210,000 210,000 210,000 210,000 10. Mengelola air A0 - - - - A1 870,000 870,000 870,000 870,000 870,000 870,000 A2 870,000 870,000 870,000 870,000 870,000 870,000 Jumlah 4,470,000 4,260,000 4,750,000 4,610,000 4,750,000 4,610,000 4. Total biaya (3a + 3b) 8,125,000 8,065,000 9,205,000 8,665,000 10,805,000 9,465,000 5. Keuntungan (2 - 4) 3,740,333 3,589,889 5,004,235 3,735,000 2,795,974 3,188,297

6. R/C (2/4) 1.46 1.44 1.54 1.43 1.26 1.34

konservasi air dimungkinkan untuk dilakukan di lahan gambut. Pengaturan air dalam suatu kawasan yang luas akan mampu mencegah kehilangan air yang cepat di lahan, sehingga memungkinkan untuk menerapkan pengelolaan air seperti perlakuan.

Status keberlanjutan usahatani padi di lahan gambut Dimensi ekologi.

Hasil analisa terhadap atribut-atribut pada dimensi ekologi menunjukkan nilai indeks keberlanjutan sebesar 69.49 (Gambar 6.1). Berdasarkan skala indeks keberlanjutan, maka dikategorikan kepada cukup berkelanjutan.

Gambar 6.1. Status dan Nilai indeks Keberlanjutan dimensi Ekologi

Gambar 6.4 menunjukkan indeks dan status keberlanjutan usahatani padi di lahan gambut berdasarkan hasil analisa ordinasi MDS dalam plot dua dimensi. Status keberlanjutan berada pada X-axis antara 0 – 100. Hasil analisis menunjukkan status keberlanjutan untuk dimensi ekologi adalah 69.49.

Berdasarkan hasil analisa laverage (Gambar 6.2), tidak terdapat atribut yang mempunyai nilai lebih dari 10 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada atribut yang sangat dominan. Nilai atribut yang paling mendominasi dan mempunyai rentang yang sangat besar berdasarkan hasil analisa leverage yaitu atribut perubahan tingkat dekomposisi bahan organik dengan nilai 5.36. Untuk meningkatkan keberlanjutan lahan gambut, maka atribut ini harus menjadi fokus perhatian untuk diperbaiki.

Gambar 6.2. Leverage analisis dimensi ekologi untuk menunjukkan atribut yang sensitif Good Bad -20 0 20 0 50 100 O th e r Dis tin gis h in g Fe at u re s

Status Usaha tani padi lahan gambut g 69.49 2.74 4.19 5.36 2.49 3.84 4.15 3.99 3.55 0.19 0.53 0 1 2 3 4 5 6

Perkembangan tingkat emisi GRK demplot sebelum dan sesudah perlakuan

Konsentrasi bahan organik lahan observasi pada awal dan akhir pengamatan

Perubahan tingkat dekomposisi bahan organik Elevasi muka air tanah pada awal dan akhir pengamatan Fluktuasi debit air di lahan observasi pada awal dan akhir

pengamatan

pH tanah lahan observasi pada awal dan akhir pengamatan pH air lahan observasi pada awal dan akhir pengamatan Kejadian kebakaran pada saat pelaksanaan penelitian

dilakukan

Residu pestisida di tanah dan air pada awal dan akhir pengamatan

Jenis dan jumlah serangga pada awal dan akhir pengamatan

Root Mean Square Change % in Ordination when Selected Attribute Removed (on Status scale 0 to 100) A ttr ib u te

Salah satu ciri spesifik tanah gambut adalah tingginya kandungan bahan organik. Fraksi organik tanah gambut di Indonesia lebih dari 95%. Tingginya kandungan bahan organik pada lahan gambut menyebabkan potensi emisi CO2 lahan gambut sangat tinggi. Dalam keadaan alami simpanan karbon pada tanah gambut relatif stabil, namun dalam kondisi yang terganggu makan simpanan karbon tersebut akan terdekomposisi dengan cepat dan teremisi dalam bentuk CO2 (Parish et al. 2007).

Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk menekan laju dekomposisi bahan organik diantaranya adalah pengaturan tinggi muka air tanah melalui pengelolaan air. Untuk itu diperlukan saluran drainase yang memadai dan dilengkapi pintu- pintu air untuk mengendalikan tinggi muka air tanah (Subiksa et al. 2011). Keberadaan saluran drainase ini juga berkaitan erat dengan tingkat subsiden lahan gambut. Selain itu perlu ditanamkan kesadaran petani akan pentingnya menjaga kelestarian lahan gambut, yaitu dengan memberikan pemahaman untuk tidak membakar lahan pada saat persiapan dan pengolahan lahan. Untuk itu perlu diberikan alternatif yang murah dan mudah untuk menggantikan kebiasaan membakar lahan sebelum tanam. Aplikasi herbisida dengan metode tepat jenis dan tepat takaran, serta sistem olah tanah minimum dengan mekanisasi ringan dapat disodorkan sebagai teknologi pengganti bakar lahan. Maka diperlukan dukungan pemerintah daerah untuk memberikan bantuan mekanisasi sesuai keperluan petani. Melalui kelompok tani, mekanisasi ini dapat diberdayakan secara swadaya untuk meningkatkan kualitas hasil pertanian dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Dimensi ekonomi

Hasil analisa MDS terhadap dimensi ekonomi, menunjukkan nilai indeks dan status keberlanjutan 53.15 (Gambar 6.3). Walaupun lebih rendah dari nilai dimensi ekologi namun masih termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan (skor > 50).

Gambar 6.3. Status dan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi

Berdasarkan analisis leverage, tujuan berusaha tani merupakan atribut yang paling berpengaruh dengan skor leverage 3.75 kemudian diikuti oleh penguasaan lahan dan intensitas pengelolaan dengan skor 2.87 dan kestabilan harga gabah pada saat panen dengan skor 2.10 (Gambar 6.4).

Good Bad -20 0 20 0 50 100

Status Usahatani padi lahan gambut

Gambar 6.4. Leverage analisis untuk dimensi ekonomi yang menunjukkan atribut yang sensitif

Pada umumnya tujuan petani dalam usaha tani padi hanya untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok saja, dan masih sangat tergantung pada pekerjaan sampingan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya. Hal ini akan

Dokumen terkait