• Tidak ada hasil yang ditemukan

KHG SIAK-KAMPAR DAN TAMAN NASIONAL ZAMRUD

2.4. Kondisi Sosial Masyarakat sekitar TN Zamrud

Taman Nasional Zamrud (TN Zamrud) dalam kawasan Kesatuan Hutan Gambut Kampar-Siak (KHG Siak-Kampar), Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia, merupakan studi kasus yang menarik tentang hubungan antara penduduk setempat, pemerintah pusat dan daerah, dan otoritas taman nasional dalam menyeimbangkan konflik kepentingan antara mata pencaharian, obyek vital nasional tambang minyak dan konservasi. Potret dinamika interaksi antara penduduk dengan sumber daya alam, aktivitas penambangan minyak dan kawasan konservasi memberikan gambaran penting tentang perkembangan tumbuh-kembang sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Selama beberapa dekade terakhir, pertumbuhan dan perkembangan sosial ekonomi masyarakat wilayah hulu dan hilir Sungai Rawa dalam konteks KHG Siak-Kampar di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, berkaitan dengan melimpahnya kekayaan sumber daya alam yang tersedia, baik sumber daya hutan maupun minyak bumi dan luasnya perkebunan kelapa sawit yang dimiliki oleh kawasan ini(Frederick & Worden, 2011; Mubyarto, 1997; Ooi, 1982; Policies, 2012). Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, sejak masa pemerintahan Orde Lama hingga Orde Baru, temuan sumur-sumur minyak Riau (Minas 1952, Duri 1954, Beruk-Zamrud 1977; termasuk blok CPP (Coastal Plain Pekanbaru) yaitu; Zamrud (dalam batas TN Zamrud),

Pedada dan West area); merupakan sumber cadangan minyak bumi terbesar di Indonesia,

yang berkontribusi saat puncak produksi nasional tercapai tahun 1977 sebesar 1,7 juta barel/hari (Energy, 2018; Ooi, 1982; PWC, 2012).

Selain kekayaan sumber daya alam pada sektor migas, pada tahun 1980-an, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Riau disumbang sebesar 50% lebih oleh sektor kehutanan ketika ekspor kayu bulat Indonesia dapat memenuhi 49% pasar dunia tahun 1979 dan ekspor kayu lapis Indonesia menguasai 70-80% pasar dunia tahun 1987-1997(Hidayat, 2015), serta tumbuhnya sektor kehutanan lainnya awal tahun 1990-an; yaitu Hutan Tanaman Industri (HTI), salah satunya di antaranya adalah kebun kelapa sawit, hingga pada tahun 2010 luasannya telah mencapai 1,9 juta Ha atau 21% luas Riau atau 24% dari total luas kebun sawit di Indonesia, termasuk luas kebun sawit 149,9 ribu Ha di Kabupaten Siak(Policies, 2012; Riau, 2010).

Dinamika interaksi dan perkembangan sosial ekonomi masyarakat di kawasan KHG Kampar-Siak berada dalam konteks kerangka waktu kebijakan dan regulasi pemerintah pusat di masa Orde Lama - Orde Baru maupun Orde Reformasi(Hidayat, 2015), yang kemudian melatarbelakangi perkembangan industri sektor migas dan kehutanan di Kabupaten Siak, Riau, terutama masyarakat Desa Dayun (desa pedalaman) wilayah hulu Sungai Rawa (Danau Zamrud-hulu Sungai Rawa) dan Desa Sungai Rawa serta Rawa Mekar Jaya (desa pesisir) wilayah hilir Sungai Rawa yang bermuara di Laut Selat Panjang. Secara umum, tidak dapat dikesampingkan bahwa percepatan pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau didukung oleh keberadaan kekayaan sumber daya alam tersebut, sebagai contoh; sekitar tahun 1990-an, Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB) per kapita, Riau termasuk penghasilan sektor minyak, sebesar Rp. 3,98 juta, tertinggi saat itu ketika PDRB rata-rata Nasional Rp. 890.000, sebaliknya PDRB Riau tanpa penghasilan sektor minyak, hanya berada peringkat ke-lima; sebesar Rp. 795.000(Mubyarto, 1997). Demikian pula, bahwa pesatnya perkembangan kondisi sosial ekonomi masyarakat pada wilayah hulu-hilir Sungai Rawa, dipicu oleh penemuan cadangan minyak 1975, pada kedalaman 3.300 ft tepat di bawah Danau Sungai Rawa (atau lebih dikenal dengan Danau Zamrud)(Yunan & Haryanto, 2000), danau terbesar kawasan gambut dan daerah hulu Sungai Rawa yang bermuara ke Laut Selat Panjang.

Secara kronologi, dinamika dan perkembangan sosial ekonomi dapat dibedakan dalam tiga (3) fase; fase awal – sebelum sumber minyak lapangan Zamrud ditemukan tahun 1975, fase perkembangan – setelah tahun 1975 – 1999, saat puncak produksi sektor migas dan kehutanani; fase transisi tahun 1999-2018; masa surutnya produksi sektor migas dan kehutanan; kayu bulat dan kayu lapis serta meningkatnya sektor kehutanan lainnya, HTI baik kebun sawit maupun kebun acacia mangium.

2.4.1. Fase Awal; sebelum tahun 1975;

Pada fase ini, baik masyarakat desa pedalaman maupun pesisir, kehidupannya masih bergantung pada sumber-sumber daya alam di sekeliling tempat tinggalnya, jika desa Dayun Lama (desa Bropit) tepi sungai Dayun (anak sungai Mempura), hanya dapat dijangkau melalui sungai Mempura yang bermuara di sungai Siak, sedangkan desa Sungai Rawa hanya dapat ditempuh melalui jalur laut. Pemukiman Desa Mempura di tepi muara Sungai Siak, merupakan pemukiman lama yang ditandai dengan keberadaan Makam Sultan Siak ke-2; Sultan Abdul Jalil Muzaffar Shah (tahun 1746-1765 M) dan pintu jalan akses sungai menuju Desa Dayun Lama, yang dapat ditempuh selama 1 hari perjalanan. Dengan rumah panggung yang berdinding kulit kayu Meranti dan beratap daun Sikaidan berperahu kulit kayu Mentangor, kehidupan ekonominya bersumber dari kegiatan berladang menanam padi dan sayuran, menangkap ikan, menjerat satwa, mengumpulkan buah pohon Seminai untuk bahan minyak goreng dan kulit kayu yang sebagian hasilnya, dijual di pasar tradisional tepi sungai Siak. Jika, saat itu masyarakat Dayun belum dapat mencapai Danau Zamrud, sebaliknya penduduk desa Sungai Rawa telah menangkap ikan di danau yang lebih dikenal dengan nama Danau Sungai Rawa. Pada masa itu, masyarakat Dayun telah dipimpin oleh seorang Penghulu Rusli yang menjabat dari tahun 1970 hingga 2002.

2.4.2. Fase Perkembangan; tahun 1975-1999;

Fase ini ditandai dengan awal ditemukannya sumur minyak nomor 1 (satu) Zamrud di sekitar Danau Bawah Zamrud tahun 1975 dan diakhiri pada saat pemekaran Kabupaten Siak dari Kabupaten Bengkalis pada masa Reformasi tahun 1999, serta diambil alihnya pengelolaan sumur minyak CPP blok yang meliputi; Zamrud, Pedada dan West Area saat berakhirnya

Production Sharing Contract PT. Caltex Pasific Indonesia, tanggal 8 Agustus 2002.

Periode waktu ini adalah saat tumbuh kembang ekonomi masyarakat Dayun dan sekitarnya, dari kehidupan ekonomi dengan tingkat subsisten berkembang menjadi kehidupan ekonomi yang lebih maju karena terbukanya banyak lapangan pekerjaan di sektor migas beserta turunannya dan kemudian diikuti dengan tumbuhnya kegiatan disektor kehutanan. Kegiatan sektor industri tersebut, membuka lapangan pekerjaan dari mulai kegiatan survei, pembukaan lahan, pengeboran minyak, penyambungan pipa, pembangunan infrastruktur jalan hingga penebangan kayu hutan (legal maupun ilegal) maupun pekerjaan turunan pada industri kayu, seperti industri penggergajian kayu, kayu lapis dan lain-lain.

Pada tahun 1979, jalan minyak telah menghubungkan desa Dayun ke desa Benteng Ulu (dekat Tangsi Belanda tahun 1900-an), tepi sungai Siak dan ke arah Minas via Dermaga sekitar Perawang, tahun 1982 akses jalan ke kilo 100 Danau Zamrud telah terhubung, kemudian diikuti terbukanya jalan ke Teluk Mesjid via simpang desa Mengkapan dan desa Sungai Apit, termasuk ke dermaga pelabuhan Buton Lama sekitar tahun 1982-1988. Terbukanya akses jalan dan banyak kesempatan lapangan pekerjaan, selain memudahkan akses kegiatan logistik lapangan minyak dan industri kehutanan, kesempatan itu menarik kaum pekerja dari berbagai etnis, terutama etnis Minang (daerah Payakumbuh & Bukit Tinggi), Batak (daerah Sumatera Utara bagian selatan), Melayu (daerah Kepulauan Riau) dan Jawa (warga transmigran Buatan dan sekitarnya).

Bermula dari pemukiman desa Dayun Lama di tepi Sungai dayun, dengan bertambahnya jumlah penduduk, pemukiman kemudian berkembang menjadi beberapa kampung di tepi jalan minyak, seperti kampung Gereja, kampung Survei, kampung Gajah Mati, kampung Baru, kampung Melayu dan kampung Jawa. Pada tahun 1980-an, kebutuhan barang-barang kelontong dan listrik disediakan, oleh satu-satunya warung milik warga etnis Minang; Zainal Apandi, yang memiliki mesin diesel pembangkit listrik untuk 60 KK, dengan omzet tertinggi mencapai 10 juta / hari di akhir tahun 90-an.

Tren produksi minyak mulai menurun, ditandai dengan penerapan EOR (Enhanced Oil

Recovery) di beberapa lapangan sumur minyak PT. CPI, termasuk CPP blok untuk

mempertahankan laju produksi minyak yang anjlok dari 77.800 bpd tahun 1999 menjadi 60.000 tahun 2001, salah satunya dengan teknik Water Injection untuk jenis Heavy Crude Oil seperti di Zamrud Area(Thefreelibrary, 2003). Selain itu, pelarangan ekspor kayu bulat oleh Pemerintah tahun 1985, berangsur-angsur menyurutkan kegiatan sektor kehutanan terutama ekspor kayu bulat dan kemudian mendorong tumbuhnya kegiatan sektor kehutanan lainnya; seperti kayu lapis dan HTI(Hidayat, 2015).

Awal tahun 1999, setelah berakhirnya masa Orde Baru dan mulai Orde Reformasi, Kabupaten Bengkalis dimekarkan menjadi Kabupaten Siak, diikuti pengambilalihan CPP blok oleh pemda Siak melalui Konsorsium BOB (Badan Operasi Bersama) PT Bumi Pusako Siak (BSP) – PT. Pertamina Hulu Energi (PHE) dari PT. Caltex Pasific Indonesia (CPI), Agustus 2002 dengan Masa Kontrak Wilayah Kerja; 6 Agustus 2002 – 5 Agustus 2022 dan proporsi pembagian hasil 50% : 50% (Pertamina Hulu Energi, 2017).Pada fase ini pula, kawasan Danau Zamrud ditetapkan olen Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim, Kementerian Lingkungan Hidup melalui SK MenPPLH Nomor 812 tahun 1979 dan kemudian, setelah melalui serangkaian

regulasi undang-undang sebelumnya, tahun 2016, dengan SK KLHK Nomor 351, kawasan Danau Zamrud seluas 31.480 Ha. ditetapkan sebagai Taman Nasional Zamrud.

2.4.3. Fase Transisi; tahun 1999-2018;

Pada fase ini ditandai dengan surutnya kegiatan kehutanan; kayu bulat dan kayu lapis, dengan adanya pelarangan ekspor kayu bulat tahun 1985 dan lahirnya Inpres RI Nomor 4 tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Secara Ilegal di Kawasan Hutan dan Peredarannya Di Seluruh Wilayah Republik Indonesia(Frederick & Worden, 2011; Hidayat, 2015; Indonesia, 2005), serta turunnya sumber pendapatan dari sektor migas, sehingga akibat tren menurun laju produksi dan meningkatnya laju kebutuhan komsumsi domestik menjadikan Indonesia sebagai

Net Oil Importer pada tahun 2014 (Energy, 2018).

Sejumlah usaha industri sektor kehutanan; kayu lapis dan penggergajian kayumenghentikan aktivitas produksinya yang berakibat pada pemutusan hubungan kerja, seperti salah satunya PT. Panca Eka Bina Plywood Industry (PEPI) (narasumber: Sapardi 40 tahun, mantan ex karyawan PEPI tahun 1998-2007), alih fungsi mesin penggergajian kayu ke penggilingan padi milik Hendrik Simatupang tahun 1986-1995, Simpang Tiga, Kampung Gereja, Dayun (narasumber: Berliana Boru Manurung 65 tahun, istri alm Hendrik Simatupang). Dan upaya efisiensi kegiatan operasi konsorsium BOB, sebagai akibat tren menurun laju produksi minyak blok CPP sejak 7 tahun terakhir; tahun 2010-18.082 bpd (PHE 9041: BOB 9041 bpd)(Pertamina Hulu Energi, 2010), tahun 2011-17.132 bpd (8566:8566 bpd)(Pertamina Hulu Energi, 2011), tahun 2012-16.474 bpd (8237:823bpd)(Pertamina EP, 2012), tahun 2013-15.688 bpd (7844:7844 bpd)(Pertamina Hulu Energi, 2013), tahun 2014-14510 bpd (7255-7255 bpd)(Pertamina Hulu Energi, 2014), tahun 2015-14.025 (7013-7013 bpd)(Id.berita.com, 2016; Pertamina Hulu Energi, 2015), tahun 2016-12.855 bpd (6442-6442 bpd)(Pertamina Hulu Energi, 2016), dan tahun 2017-11.618 bpd (5809:5809)(Pertamina Hulu Energi, 2017; Tempo.Co, 2017).

Hal ini mendorong upaya pengembangan sumber pendapatan lain, terutama sektor kehutanan; HTI berupa ekspansi luas kebun sawit(Policies, 2012), baik oleh korporasi maupun masyarakat hingga lahirnya moratorium gambut tentang pelarangan pembukaan lahan baru di kawasan gambut tahun 2015.Fase ini merupakan masa transisi dari fase sebelumnya bagi masyarakat sekitarnya; ketika semula bergantung pada sumber-sumber pendapatan yang berasal dari sektor migas dan kehutanan; kayu bulat dan kayu lapis, beralih ke kebun kelapa sawit, dan sumber-sumber lain, seperti sumber hasil hutan bukan kayu (HHBK); madu dan

sumber daya wilayah perairan, baik danau, sungai dan kanal, terutama adanya kanal sumur minyak dan kanal perkebunan akasia (Acacia mangium) yang tersebar di seluruh kawasan, baik kawasan dalam taman nasional maupun sekelilingnya.

Fase-fase perkembangan sosial ekonomi tersebut di atas, memberikan gambaran dinamika tentang latar belakang keadaan sosial ekonomi masyarakat dalam skala waktu sekitar 40 tahun lamanya, transformasi sumber-sumber pendapatan penduduk dari kegiatan ekonomi yang bersifat subsisten, berkembang pada kegiatan ekonomi yang lebih maju yang bertumpu pada sumber ekonomi kehutanan dan migas. Saat ini, situasi sumber ekonomi, cenderung kembali ke fase awal, ketika akses dan kesempatan untuk mengekstraksi sumber-sumber daya migas dan kehutanan, belum dimiliki atau terbatas. Perbedaannya, jika pada saat fase awal sebelumnya, rombongan pertama desa Dayun tahun 1978 hanya ± 9 KK dengan keadaan hutan masih perawan dan sumber daya yang melimpah, sedang saat ini Dayun telah dihuni lebih dari 500 KK berada dalamkeadaan terbatasnya ketersediaan sumber-sumber daya alam; kehutanan dan migas, kecuali ratusan ribu hektar hutan tanaman industri dan sepenggal kawasan hutan di Taman Nasional Zamrud. Sementara itu, masyarakat Sungai Rawa, yang semula dapat bergantung pada persediaan ikan pada sumber daya wilayah perairan; danau dan sungai, saat ini sumber ikan tidak dapat lagi menjadi sumber mata pencaharian utama karena jumlah dan jenis ikan jauh berkurang dari waktu sebelumnya.

Pemahaman atas dinamika interaksi masyarakat, latar belakang sumber pendapatan dan gambaran kondisi sosial ekonomi atau pendapatan masyarakat saat ini merupakan hal yang krusial untuk diketahui, mengingat terbatasnya sumber daya alam yang tersedia serta potensi berkurangnya sumber pendapatan dari sektor migas dalam waktu dekat merupakan ancaman bagi kelangsungan kehidupan masyarakat di masa mendatang, bila sumber-sumber ekonomi lain belum dapat dikembangkan.

BAB III

Dokumen terkait