III. METODE KAJIAN
4.1 Kondisi Umum IKM di Provinsi Riau
Luas Wilayah Provinsi Riau 107.932,71 KM, terdiri dari daratan 80,11 % dan Lautan/Perairan 19,89 % , dengan Administrasi Pemerintahan Sepuluh Kabupaten dan Dua Kota dengan 151 Kecamatan dan 1.609 Desa/Kelurahan. Bappeda Prov Riau (2007) Penduduk Provinsi Riau berjumlah 5.070.952 Jiwa dengan Pertumbuhan Penduduk sebesar 5,23 % dan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 8,25 %.
Tabel 2. Jumlah Unit Usaha,Tenaga Kerja,Nilai Investasi dan Nilai Produksi IKM di Provinsi Riau menurut Kabupaten/Kota , 2007
No. Kab/Kota Unit
Usaha Tenaga Kerja Nilai Investasi (000) Nilai Produksi (000) 1. 2. 3 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11. Kab. Kuansing Kab. Inhu Kab. Inhil Kab. Pelalawan Kab. Siak Kab. Kampar Kab. Rokan Hulu Kab. Bengkalis Kab. Rokan Hilir Kota Pekanbaru Kota Dumai 331 121 278 517 464 312 426 316 564 716 1.069 1.151 534 1.556 3.616 2.078 1.515 1.931 2.671 4.177 57.423 3.155 7.021.005 4.067.000 5.905.202 37.715.364 342.189.736 57.175.000 17.074.872 7.408.525 215.525.013 82.211.912 1.309.881.270 226.332.075 9.811.410 23.604.750 41.717.641 56.569.725 136.097.428 35.517.726 11.748.500 138.220.800 627.274.962 95.415.185 J u m l a h 5.114 79.807 2.086.174.899 1.402.250.210
Tahun 2007 jumlah IKM di Provinsi Riau sebanyak 5.114 unit usaha dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 79.807 orang, dengan Investasi sebesar 2.096.174.889 ribu Rupiah, dengan Jenis Industri dan sebaran Unit Usaha di 11 Kabupaten/Kota di Provinsi Riau. Dengan penyerapan tenaga kerja langsung sebanyak 79.807 orang belum termasuk tenaga kerja tidak langsung maka peran IKM dalam menggerakkan roda perekonomian daerah ini sangat besar. Untuk mengembangkan potensi ekonomi ini diharapkan UPT Pelatihan dan
Pengembangan mampu memfasilitasi kebutuhan pengembangan IKM baik dari segi Teknis,SDM, Manajemen maupun keuangan.
Tabel 3. Jumlah Unit Usaha,Tenaga Kerja, Nilai Investasi dan Nilai Produksi IKM Propinsi Riau per jenis Industri, 2007
No. Jenis Industri Unit Usaha Tenaga Kerja (Orang) Nilai Investasi (000) Nilai Produksi (000) 1. 2. 3. 4. 5. Pangan Sandang Kimia dan barang bangunan Logam dan elektronika Kerajinan 1.341 392 2.166 991 224 7.700 1.438 65.231 4.628 810 1.313.220.061 104.000.906 408.092.639 255.980.513 4.880.780 518.596.146 52.359.955 554.776.974 235.012.655 41.504.480 J u m l a h 5.114 79.807 2.086.174.899 1.402.250.010
Setiap Kabupaten/Kota di Provinsi Riau mempunyai Stuktur Organisasi Tata Kerja tersendiri dan Dinas perindustrian dan Perdagangan ada pada setiap Kabupaten/Kota tersebut. Menurut Peraturan Daerah Provinsi Riau No.7 tahun 2008 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Riau dan Peraturan Gubernur Riau No.38 tahun 2009 tentang Uraian Tugas Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Riau adalah merupakan salah satu perangkat daerah yang bertanggung jawab dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui penumbuhan, pembinaan dan pengembangan sektor industri dan perdagangan. Usaha-usaha yang dilakukan antara lain dengan menyusun dan melaksanakan program kerja pembangunan industri dan perdagangan serta memberikan pelayanan teknis dengan melaksanakan berbagai pelatihan dibidang industri dan perdagangan. Salah satu dari fungsi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Riau tersebut diwujudkan melalui Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pelatihan dan Pengembangan Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Riau yang berfungsi untuk mendukung pertumbuhan pengembangan industri dan perdagangan, dengan tugas pokoknya menyelenggarakan urusan pekerjaan dan kegiatan yang berkenaan dengan pelatihan dibidang perindustrian dan
perdagangan. UPT Pelatihan dan Pengembangan Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Riau merupakan suatu lembaga pelatihan dan wadah pelayanan dan pembinaan Industri Kecil dan Dagang Kecil Menengah yang dibutuhkan dalam meningkatan dan mengembangan sumber daya manusia (SDM) IKM . Melalui SDM yang handal akan dapat menumbuhkan dan mengembangkan sektor industri dan perdagangan yang akan memacu pertumbuhan perekonomian Provinsi Riau. Dapat dikatakan bahwa UPT Pelatihan dan Pengembangan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan SDM terampil yang dibutuhkan oleh IKM di Provinsi Riau. UPT Pelatihan dan Pengembangan ini merupakan satu-satunya Lembaga Pemerintah yang membidangi Pelatihan dan Pengembangan Industri di Provinsi Riau.
Hasil wawancara dengan staff UPT Pelatihan dan pengelola workshop
diketahui bahwa terdapat 6 bidang usaha yaitu makanan dan minuman, perbengkelan, pertenunan, kerajinan kayu, konveksi dan border. Setiap unit usaha ini mempunyai kelemahan dalam menjalankan aktivitas usahanya, akan tetapi mempunyai peluang untuk dikembangkan. dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rekapitulasi kondisi IKM Riau serta Kebutuhan Pengembangannya
No Bidang Usaha Unit Usaha Identifikasi kondisi IKM Presentase (%) Kebutuhan Pengembangan IKM 1 2 3 4 5 6 Makanan Minuman Perbengkelan Pertenunan Kerajian Kayu Konveksi Bordir 35 12 8 5 2 3 1. Terbatasnya permodalan 2. Terbatasnya jaringan Pemasaran 3. Peralatan sederhana 4. Tidak berorientasi Pasar 5. Manajemen usaha kurang memadai 6. Kurang mampu melihat peluang 7. Informasi usaha sangat kurang 100 80 85 90 90 90 100 1. Penambahan modal kerja yang cukup dan memadai bagi usaha 2. Penguatan jaringan
pemasaran yang luas 3. Ketersediaan peralatan
usaha yang cukup dengan penguasaan teknologi 4. Kemampuan melihat peluang dan pengembangan usaha 5. Kemampuan menguasai informasi , teknologi produk dan pasar 6. Kemampuan mengembangkan usaha 7. Kemampuan untuk mandiri dengan kekuatan sendiri 65
Dari Tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa kondisi IKM di Provinsi Riau masih memerlukan pengembangan kegiatan dalam bentuk pemberdayaan, peran UPT Pelatihan dan pengembangan masih diperlukan dalam pemberdayaan IKM, baik dalam bentuk penguatan kelembagaan komunitas maupun usaha serta pendampingan kegiatan usaha. Fokus pemberdayaan yang dilakukan oleh UPT pelatihan dan pengembangan adalah melalui penguatan modal usaha unit usaha melalui asistensi manajemen usaha dan kredit usaha berbunga rendah, pengutan jaringan usaha kerja melalui pendampingan dan advokasi melalui kegiatan konsultasi dan promosi usaha, pengadaan sarana peralatan usaha serta training untuk penggunaannya, melakukan pendampingan dalam pemasaran hasil dan peningkatan performance produk usaha serta melakukan kegiatan konsultansi usaha secara terus menerus melalui peningkatan partisipasi anggota IKM dalam kelembagaan komunitas IKM dalam kegiatan klinik konsultansi usaha.
Hasil wawancara dengan staff UPT Pelatihan dan Pengembangan serta pengelola workshop diketahui bahwa perkembangan IKM yang telah dan akan mendapat pendampingan dari UPT Pelatihan dan Pengembangan juga dapat diketahui bahwa pelatihan dan pendampingan yang telah dilakukan oleh UPT pelatihan dan pengembangan telah membawa perkembangan yang cukup baik bagi perkembangan usaha maupun kelembagaan IKM. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rekapitulasi Kondisi dan Kebutuhan IKM Terhadap UPT Pelatihan dan Pengembangan
Bidang Usaha Kondisi Awal (Pra Pelatihan dan Pendampingan )
Kondisi Akhir (Pasca Pelatihan dan Pendampingan)
Kebutuhan IKM TerhadapUPT Pelatihan dan
Pengembangan
1 2 3 4
Makanan dan Minuman 1. Jaringan akses permodalan terbatas 2. Jaringan pemasaran
terbatas
3. Informasi pengembangan usaha dan peluang usaha terbatas
1.Akses terhadap sumber permodalan terbuka, yaitu dengan PT. PER
2.Jaringan Pemasaran terbuka melalui pendampingan dan konsultasi Usaha. 3.Akses terhadap informasi
usaha dan peluang usaha terbuka
1. Pelatihan manajemen keuangan dan perusahaan 2. Pendampingan, promosi,
bar code dan advokasi pada investor dan pasar terbuka
3. Pembuatan, pelaksanaan dan pendampingan klinik konsultasi usaha
Perbengkelan 1. Jaringan akses permodalan terbatas 2. Peralatan sederhana 3. Manajemen Usaha
kurang memadai
1.Akses terhadap sumber permodalan terbuka, yaitu dengan PT. PER
2.Pengadaan dan penggunaan peralatan
1. Pelatihan manajemen keuangan dan perusahaan. 2. Pengadaan peralatan serta
magang usaha dan penggunaan peralatan
1 2 3 4 4. Informasi pengembangan
usaha dan peluang usaha terbatas
telah memadai
3. Manajemen usaha semakin baik
4. Akses terhadap usaha dan peluang usaha terbuka
3. Pelatihan manajemen usaha.
4. Pembuatan, pelaksanaan dan pendampingan klinik konsultasi usaha
Pertenunan 1. Jaringan akses permodalan terbatas 2. Peralatan sederhana 3. Tidak berorientas pasar 4. Manajemen Usaha
kurang memadai 5. Informasi pengembangan
usaha dan peluang usaha terbatas
1.Akses terhadap sumber permodalan terbuka, yaitu dengan PT. PER
2.Pengadaan dan penggunaan peralatan telah memadai
3.Produk yang duhasilkan telah berorientasi pasar 4.Manajemen usaha semakin
baik
5.Akses terhadap usaha dan peluang usaha terbuka
1. Pelatihan manajemen keuangan dan perusahaan. 2. Pengadaan peralatan serta
magang usaha dan penggunaan peralatan 3. Pelatihan teknis
pertenunan, motif tenun dan peningkatan kualitas hasil tenunan
4. Pelatihan manajemen usaha.
5. Pembuatan, pelaksanaan dan pendampingan klinik konsultasi usaha
Kerajinan Kayu 1. Jaringan akses permodalan terbatas 2. Terbatasnya jaringan
pemasaran
3. Tidak berorientas pasar 4. Manajemen Usaha
kurang memadai 5. Informasi pengembangan
usaha dan peluang usaha terbatas
1.Akses terhadap sumber permodalan terbuka, yaitu dengan PT. PER
2.Jaringan Pemasaran terbuka melalui pendampingan dan konsultasi Usaha
3.Produk yang duhasilkan telah berorientasi pasar 4.Manajemen usaha semakin
baik
5.Akses terhadap usaha dan peluang usaha terbuka
1. Pelatihan manajemen keuangan dan perusahaan. 2. Pendampingan, promosi
dan advokasi pada investor dan pasar terbuka
3. Pelatihan teknis kerajinan kayu dan peningkatan mutu olahan kayu 4. Pelatihan manajemen
usaha.
5. Pembuatan, pelaksanaan dan pendampingan klinik konsultasi usaha
Konveksi 1. Jaringan akses permodalan terbatas 2. Peralatan sederhana 3. Tidak berorientas pasar 4. Manajemen Usaha
kurang memadai 5. Informasi pengembangan
usaha dan peluang usaha terbatas
1.Akses terhadap sumber permodalan terbuka, yaitu dengan PT. PER
2.Pengadaan dan penggunaan peralatan telah memadai
3.Produk yang duhasilkan telah berorientasi pasar 4.Manajemen usaha semakin
baik
5.Akses terhadap usaha dan peluang usaha terbuka
1. Pelatihan manajemen keuangan dan perusahaan. 2. Pengadaan peralatan serta
magang usaha dan penggunaan peralatan 3. Pelatihan teknis konveksi
dan peningkatan mutu hasil konveksi 4. Pelatihan manajemen
usaha.
5. Pembuatan, pelaksanaan dan pendampingan klinik konsultasi usaha Bordir 1. Jaringan akses
permodalan terbatas 2. Peralatan sederhana 3. Tidak berorientas pasar 4. Manajemen Usaha
kurang memadai 5. Informasi pengembangan
usaha dan peluang usaha terbatas
1.Akses terhadap sumber permodalan terbuka, yaitu dengan PT. PER
2.Pengadaan dan penggunaan peralatan telah memadai
3.Produk yang duhasilkan telah berorientasi pasar 4.Manajemen usaha semakin
baik
5.Akses terhadap usaha dan peluang usaha terbuka
1. Pelatihan manajemen keuangan dan perusahaan. 2. Pengadaan peralatan serta
magang usaha dan penggunaan peralatan 3. Pelatihan teknis border,
motif bordir dan peningkatan mutu hasil bordir
4. Pelatihan manajemen usaha.
5. Pembuatan, pelaksanaan dan pendampingan klinik konsultasi usaha
Menurut Sumarjo dan Saharudin (2003), apabila suatu kebutuhan pembangunan sudah dapat dirasakan oleh masyarakat, maka akan mendorong masyarakat untuk memenuhi kebutuhan yang dirasakan (Felt Need) akan benar-benar menjadi kekuatan internal dalam pembangunan masyarakat. Selanjutnya disebutkan bahwa dalam pembangunan perlu dilandasi upaya untuk memanfaatkan faktor eksternal secara serasi baik pada sistem sosial ditingkat mikro (komunitas), meso (antar komunitas) maupun makro.
Untuk mewujudkan suatu kelembagaan yang baik (good governance) menurut UN-ESCAP ada delapan karakteristik untuk mencapainya yakni partisipasi, penegakan hukum, transparansi, responsif, orientasi pada konsensus, persamaan, efektif dan efisien serta akuntabilitas. Untuk mengoptimalkan pemberdayaan yang dilaksanakan melalui UPT Pelatihan dan Pengembangan , maka delapan karakteristik good governance merupakan sarana mempermudah mewujudkan kelembagaan yang benar-benar mempunyai fungsi dan peran dalam pemberdayaan masyarakat khususnya IKM di Provinsi Riau.