DAFTAR GAMBAR
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
Letak dan Luas
Secara administratif, Desa Sungai Langka berada dalam wilayah Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Propinsi Lampung. Luas desa adalah sekitar 900 ha, yang terdiri dari sepuluh dusun. Jarak dari ibu kota kecamatan di Gedong Tataan sekitar 7 km, yang dapat ditempuh dalam waktu 15 menit perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sementara jarak dari ibu kota propinsi di Bandar Lampung sekitar 20 km, yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.
Desa ini merupakan salah satu desa yang berbatasan langsung dengan hutan negara, yaitu Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman (Tahura WAR) yang berada di sebelah Selatan. Di sebelah Utara, wilayahnya berbatasan dengan Desa Bernung dan Negeri Sakti, sebelah Timur berbatasan dengan Desa Kurungan Nyawa, dan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Wiyono dan PTPN VII.
Topografi dan Iklim
Desa Sungai Langka berada di ketinggian 100-500 meter di atas permukaan laut, dengan kondisi topografi yang berbukit dan kemiringan lereng berkisar antara 10-20%. Jenis tanahnya adalah latosol dengan warna merah kehitam-hitaman dan sebagian lainnya podsolid merah kuning dengan tekstur liat berpasir dan pH berkisar 5-7.
Curah hujan berkisar antara 1.000-3.000 mm/tahun dengan musim hujan pada bulan Oktober-Maret dan musim kemarau pada bulan April-September, sedangkan suhu udara berkisar antara 30-34oC dan kelembaban udara berkisar antara 80-85%. Data curah hujan, suhu udara, dan kelembaban udara dapat dilihat secara lengkap pada Lampiran 3-5.
27
Penggunaan Lahan
Dari total luas lahan (900 ha), sekitar 560 ha (62,78%) digunakan sebagai lahan perkebunan yang didominasi oleh kakao (Tabel 3). Selain ditanam di lahan milik, kakao juga ditanam oleh masyarakat di lahan hutan negara. Tercatat sekitar 200 ha lahan hutan negara yang digarap oleh masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Pengelola dan Pelestari Hutan (KPPH) Wana Makmur.
Tabel 3 Jenis penggunaan lahan
Jenis penggunaan lahan Luas lahan (ha) Persentase (%)
Pemukiman penduduk 319 35,76 Sawah 4 0,45 Ladang 3,5 0,39 Perkebunan 560 62,78 Perkantoran 3 0,34 Lain-lain 2,5 0,28 Jumlah 892 100,00
Sumber: BPS Lampung Selatan (2006)
Komposisi Penduduk
Jumlah penduduk pada tahun 2008 adalah 4.788 jiwa (sekitar 1.250 KK), yang terdiri dari 2.481 jiwa laki-laki (51,82%) dan 2.307 jiwa perempuan (48,18%). Kelompok tenaga kerja merupakan kelompok umur penduduk produktif yang berumur 10-56 tahun dengan jumlah jiwa terbesar, yaitu sebesar 59,09% (Tabel 4). Sebagian besar kaum perempuan di desa ini ikut terlibat secara aktif membantu bekerja dan biasanya pengelolaan lahan dilakukan secara bersama- sama oleh seluruh anggota keluarga.
Tabel 4 Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur
Kelompok umur (tahun) Jumlah (jiwa) Persentase (%)
<10 10-14 15-19 20-26 27-40 41-56 >57 1.043 325 346 351 1.021 786 836 21,78 6,79 7,23 7,33 21,32 16,42 17,46 Jumlah 4.788 100,00
Sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani, yaitu sebesar 78,54% (Tabel 5). Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang paling dominan menggerakkan perekonomian di desa tersebut. Ketersediaan lahan bagi masyarakat merupakan hal yang sangat penting untuk memperoleh pendapatan, karena untuk bekerja di sektor yang lain akan terbentur dengan banyaknya kendala, terutama rendahnya tingkat pendidikan dan modal usaha.
Tabel 5 Jumlah penduduk berdasarkan jenis mata pencaharian
Jenis mata pencaharian Jumlah (jiwa) Persentase (%)
PNS Swasta Wiraswasta/pedagang Petani Pertukangan Pensiunan Jasa 75 4 54 849 47 21 31 6,94 0,37 5,00 78,54 4,35 1,94 2,87 Jumlah 1.081 100,00 Sumber: Monografi Desa Sungai Langka (2008)
Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan kepala keluarga pada tahun 2006 masih tergolong rendah. Sebagian kepala keluarga hanya menamatkan pendidikannya sampai tingkat SD/SLTP, yaitu sebesar 40,00% (Tabel 6). Tetapi dalam kegiatan bertani, pemahaman mereka terhadap pengetahuan budidaya suatu jenis tanaman, baik yang berasal dari pengalaman sendiri maupun orang lain cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari pengetahuan mereka dalam membudidayakan tanaman coklat, kopi, cengkeh, dan vanili.
Tabel 6 Jumlah kepala keluarga berdasarkan tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan Jumlah (jiwa) Persentase (%)
Tidak tamat SD Tamat SD/SLTP Tamat SLTA ke atas
35 280 385 5,00 40,00 55,00 Jumlah 700 100,00 Sumber: BPS Lampung Selatan (2006)
29
Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang cukup baik di Desa Sungai Langka, terutama prasarana jalan, sangat menunjang kegiatan pertanian yang merupakan mata pencaharian sebagian besar penduduk (Tabel 7). Kondisi jalan yang cukup baik dan jarak yang relatif dekat dengan ibukota kecamatan dan propinsi membuat banyak pedagang pengumpul berdatangan ke desa tersebut untuk membeli secara langsung hasil-hasil pertanian. Bahkan beberapa penduduk menjual langsung hasil pertaniannya ke beberapa pasar yang berada di ibukota propinsi.
Tabel 7 Sarana dan prasarana
Sarana/prasarana Jenis Jumlah (unit)
Perhubungan Jalan aspal
Jalan batu Jalan tanah 8 km 0,7 km 6 km Pendidikan TK SD SMP 1 buah 5 buah 1 buah
Tempat ibadah Masjid
Mushola
10 buah 3 buah
Sosial Balai desa
Poskamling
1 buah 4 buah
Lapangan olahraga Sepak bola
Bulu tangkis Bola voli
1 buah 3 buah 5 buah Sumber: BPS Lampung Selatan (2006)
Belum adanya SMA di desa ini membuat sebagian masyarakat kurang berminat untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya ke jenjang tersebut, karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk biaya transportasi dan akomodasi ke luar desa. Tetapi pada pertengahan tahun 2008, pemerintah telah berupaya membuka sekolah setingkat SMA, yaitu SMK Perkebunan. Dengan adanya SMK Perkebunan ini diharapkan tingkat pendidikan masyarakat akan meningkat, terutama yang terkait secara langsung dengan kebutuhan masyarakat setempat, yaitu masalah pertanian/perkebunan; yang pada akhirnya akan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa tersebut secara keseluruhan. Kegiatan-kegiatan rutin seperti pengajian, arisan, koperasi dan kegiatan olahraga, baik di tingkat desa maupun dusun juga turut membantu proses terjadinya tukar menukar pengalaman berusaha tani di masyarakat.
Sejarah Pengelolaan Lahan
Sebagian besar transmigran yang berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, mulai membuka desa ini pada awal tahun 1900-an. Mereka dipekerjakan sebagai buruh perkebunan oleh pemerintah kolonial Belanda. Seiring dengan pertambahan penduduk dan berkembangnya desa, penduduk mulai membuka hutan negara (Taman Hutan Rakyat Wan Abdul Rahman, dahulu Hutan Lindung Register 19 Gunung Betung) yang berbatasan langsung dengan desa pada tahun 1950-an untuk dijadikan lahan bercocok tanam dan pemukiman. Terdapat tiga pemukiman di hutan negara pada saat itu, yaitu Kampung Karawang, Gunung Wetan dan Batu Lapis. Jenis tanaman utama yang ditanam oleh penduduk di lahan hutan negara dan lahan milik adalah kopi.
Pada tahun 1982-1985, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mereboisasi hutan negara dengan mengosongkan hutan tersebut dari pemukiman dan aktivitas penduduk. Jenis tanaman yang digunakan untuk reboisasi adalah sonokeling, lamtoro dan kaliandra. Penduduk yang bermukim di hutan negara kemudian dipindahkan secara paksa melalui program transmigrasi lokal ke daerah Mesuji (Kabupaten Tulang Bawang) dan Pakuan Ratu (Kabupaten Way Kanan). Pengelolaan kebun-kebun yang berada di lahan hutan negara, yang didominasi oleh kopi, selanjutnya diserahkan kepada penduduk yang tinggal di Desa Sungai Langka (sebagian besar dengan cara memberi ganti rugi atas tanaman dan biaya/jasa perawatan kebun yang sudah dikeluarkan).
Meskipun masyarakat sangat bergantung pada hutan negara, kepastian menggarap kawasan hutan tersebut tidak mereka dimiliki. Banyak kebutuhan masyarakat, seperti kayu bakar, makanan ternak, air bersih dan lain-lain yang berasal dari hutan. Sejak pemerintah menegakkan hukum (law enforcement) dengan mengosongkan hutan negara dari aktivitas masyarakat, hubungan masyarakat dengan aparat kehutanan sarat dengan ketegangan dan saling curiga. Aparat dipandang oleh masyarakat sebagai sumber ancaman terhadap pengelolaan kebun dan hasil-hasilnya. Sebaliknya, masyarakat dipandang oleh aparat sebagai sumber ancaman terhadap keamanan kawasan hutan negara. Setelah tumbangnya rezim Orde Baru pada tahun 1998, masyarakat beramai-ramai kembali masuk ke dalam hutan negara.
31 Tanaman hasil reboisasi tahun 1982-1985, yang sudah menutupi lahan dengan rapat, banyak yang diteres dan ditebang. Kemudian kakao mulai ditanam oleh petani di lahan hutan negara untuk menggantikan kopi pada akhir tahun 1990-an dan ditanam secara meluas pada tahun 2002. Sementara di lahan milik, sama seperti di lahan hutan negara, penanaman kopi dilakukan sekitar tahun 1950- an sampai 1960-an. Lalu kopi diganti dengan cengkeh pada tahun 1970-an. Pada akhir tahun 1980-an ketika cengkeh mati secara serentak karena terkena penyakit, kakao mulai ditanam oleh petani dan ditanam secara meluas pada awal tahun 1990. Vanili sempat juga diusahakan oleh sebagian penduduk untuk menggantikan cengkeh, tetapi tanaman tersebut banyak mengalami kegagalan akibat kematian karena musim kemarau yang berkepanjangan.
Pelibatan masyarakat dalam sistem pengelolaan hutan negara secara formal baru dimulai ketika Departemen Kehutanan meluncurkan program Hutan Kemasyarakatan (HKm) pada akhir tahun 1990-an yang memberi peluang kepada masyarakat setempat untuk mengelola hutan negara. Kelompok tani yang bernama Kelompok Pengelola dan Pelestari Hutan (KPPH) Wana Makmur di Desa Sungai Langka dibentuk pada tanggal 13 Februari 2000 dengan maksud untuk memperoleh ijin pengelolaan HKm. Bahkan di tahun 2001-2003, kelompok ini mendapatkan pendampingan dalam kegiatan HKm dari P3AE UI, LSM Watala dan Unila. Pada akhirnya, kelanjutan program HKm di desa ini menjadi tidak jelas, seiring dengan berakhirnya kegiatan pendampingan. Sampai dengan sekarang, KPPH Wana Makmur belum juga mendapatkan ijin pemanfaatan HKm tersebut. Jumlah anggota yang terdaftar di KPPH Wana Wakmur sebanyak 235 anggota; dengan jumlah lahan garapan di lahan hutan negara sekitar 200 hektar.
Keberadaan Tahura WAR seluas sekitar 22.249,31 ha di Propinsi Lampung memiliki arti yang sangat penting dan strategis ditinjau dari aspek ekologi dan lingkungan hidup serta aspek pembangunan sosial ekonomi Propinsi Lampung, antara lain: (1) sebagai kawasan pelestarian alam yang diperlukan untuk perlindungan sistem penyangga kehidupan, untuk pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa (plasma nutfah) serta pemanfaatan sumberdaya hayati dan ekosistemnya secara lestari (2) sebagai daerah tangkapan air bagi Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan, yang dalam hal
ini sangat penting artinya dalam menjaga siklus tata air, menangkap, menyimpan dan menyediakan air permukaan dan air bawah tanah, serta menjaga kestabilan lingkungan dari bahaya kekeringan, banjir dan tanah longsor; (3) sebagai penyedia berbagai jasa lingkungan bagi wilayah di sekitarnya, serta menunjang budidaya pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan industri hilir (Dinas Kehutanan Propinsi Lampung, 2006).
Dinas Kehutanan Propinsi Lampung pada tahun 2006 telah membuat suatu
Master Plan untuk pengembangan Kawasan Tahura WAR, yang membagi kawasan ini menjadi beberapa blok pengelolaan (Tabel 8). Pembuatan blok
Social Forestry/Hutan Kemasyarakatan (HKm), tidak terlepas dari kebijakan pemerintah untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat yang berada di dalam dan sekitar Tahura WAR, dimana blok HKm ini merupakan blok yang terluas dari blok-blok yang ada (Dinas Kehutanan Propinsi Lampung, 2006).
Tabel 8 Blok pengelolaan dalam master plan Tahura WAR
Nama blok pengelolaan Luas (ha) Persentase (%)
Blok pemanfaatan/wisata alam 700,00 3,15
Blok koleksi tanaman 845,54 3,80
Blok perlindungan 6.846,92 30,77
Blok pendidikan & penelitian 540,43 2,43
Blok social forestry/ hutan kemasyarakatan (HKm) 13.316,42 59,85
Jumlah 22.249,31 100,00