BOGOR
2 0 0 8
Tanam di Lahan Hutan Negara dan Lahan Milik (Studi Kasus di Desa Sungai Langka Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran Propinsi Lampung)
Nama : Indra Gumay Febryano
NIM : E051060011
Disetujui Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Didik Suharjito, M.S. Ketua
Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, M.S. Anggota
Diketahui Ketua Program Studi
Ilmu Pengetahuan Kehutanan
Prof. Dr. Ir. Imam Wahyudi, M.S.
Dekan Sekolah Pascasarjana
Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S.
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia- Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini ialah pengambilan keputusan oleh petani, dengan judul Pengambilan Keputusan Pemilihan Jenis Tanaman dan Pola Tanam di Lahan Hutan Negara dan Lahan Milik (Studi Kasus di Desa Sungai Langka Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran Propinsi Lampung).
Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar- besarnya terutama kepada pembimbing, yaitu Dr. Ir. Didik Suharjito, MS dan Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, MS yang telah banyak memberikan bimbingan dan
saran selama penulis menempuh studi di Sekolah Pascasarjana IPB. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, M.A. selaku penguji luar komisi yang telah banyak memberikan koreksi dan arahan untuk perbaikan tesis.
Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang memberikan Beasiswa Program Pasca Sarjana (BPPS). Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada papa, mama, istri dan anak-anak, serta seluruh keluarga atas doa, dukungan dan kasih sayangnya. Tidak lupa kepada rekan-rekan yang tidak dapat disebutkan satu persatu, penulis mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kebersamaannya.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan. Penulis berharap semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca.
Bogor, November 2008
Penulis dilahirkan di Gombong pada tanggal 22 Februari 1974 dari ayah Kolonel (Purn.) Drs. H. Sahmi Gumay dan ibu H. Indrawati Soekardi. Penulis merupakan putra keempat dari lima bersaudara. Penulis menikah dengan Yurika Tauryska, ST pada tanggal 22 Agustus 2004 dan telah dikaruniai dua orang putra yang bernama Nashwa Azzahra Gumay dan Ryan Pasha Gumay.
Tahun 1992 penulis lulus dari SMA Negeri 3 Denpasar dan pada tahun yang sama diterima di IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB. Selanjutnya penulis memilih Jurusan Teknologi Hasil Hutan (Pengolahan Hasil Hutan) Fakultas Kehutanan dan lulus pada tahun 1998.
Penulis bekerja sebagai staf pengajar di Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung sejak tahun 2003. Sebelumnya penulis pernah bekerja sebagai plywood inspector di Toyo Tex, Co. Ltd. pada tahun 1999- 2001 dan sebagai supervisor di PT Naramitra Tarra pada tahun 2001-2003.
Pada tahun 2006 penulis mendapatkan Beasiswa Program Pasca Sarjana (BPPS) dari Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia untuk melanjutkan studi pascasarjana di Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan, Sekolah Pascasarjana IPB.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... xi DAFTAR GAMBAR ... xii DAFTAR LAMPIRAN ... xiii PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1 Perumusan Masalah ... 4 Tujuan dan Manfaat ... 4 TINJAUAN PUSTAKA ... 6 Pengambilan Keputusan oleh Petani ... 6 Pemilihan Jenis Tanaman dan Pola Tanam ... 7 METODE PENELITIAN ... 13 Kerangka Pemikiran ... 13 Definisi Operasional ... 15 Pendekatan Penelitian ... 17 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 18 Metode Pengumpulan Data ... 18 Metode Analisis Data ... 19 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN ... 25 Letak dan Luas ... 25 Topografi dan Iklim ... 25 Penggunaan Lahan ... 27 Komposisi Penduduk ... 27 Tingkat Pendidikan ... 28 Sarana dan Prasarana... 29 Sejarah Pengelolaan Lahan ... 30 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 33 Analisis Pemilihan Jenis Tanaman dan Pola Tanam ... 33 Analisis Finansial ... 48 Struktur Pendapatan Rumah Tangga... ... 49 Analisis Diversifikasi Portofolio ... 51 SIMPULAN DAN SARAN ... 52 Simpulan ... 52 Saran ... 53 DAFTAR PUSTAKA ... 54 LAMPIRAN ... 57
Halaman
1 Definisi operasional variabel dan parameter pengukurannya ... 15 2 Indikator yang digunakan dalam perhitungan analisis finansial ... 23 3 Jenis penggunaan lahan ... 27 4 Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur ... 27 5 Jumlah penduduk berdasarkan jenis mata pencaharian ... 28 6 Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan ... 28 7 Sarana dan prasarana ... 29 8 Pembagian blok pengelolaan dalam master plan Tahura WAR ... 32 9 Jumlah responden berdasarkan aspek persyaratan minimal dalam
pemilihan jenis tanaman dan pola tanam ... 33 10 Jumlah responden berdasarkan aspek yang dipertimbangkan dalam
pemilihan jenis tanaman dan pola tanam ... 37 11 Aspek-aspek yang mempengaruhi pemilihan jenis tanaman dan
pola tanam di lahan hutan negara ... 38 12 Aspek-aspek yang mempengaruhi pemilihan jenis tanaman dan
pola tanam di lahan milik ... 39 13 Analisis finansial pengusahaan lahan ... 49
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Kerangka pemikiran ... 14 2 Lokasi penelitian ... 26 3 Tahap 1 pemilihan jenis tanaman dan pola tanam di lahan hutan
negara dan lahan milik ... 36 4 Tahap 2 pemilihan jenis tanaman dan pola tanam di lahan hutan
negara ... 40 5 Tahap 2 pemilihan jenis tanaman dan pola tanam di lahan milik ... 41 6 Struktur pendapatan rumah tangga. ... 50
Halaman
1 Penilaian kesesuaian lahan untuk kakao di Desa Sungai Langka ... 58 2 Kriteria penilaian kesesuaian lahan untuk kakao ... 59 3 Curah hujan di Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran
Propinsi Lampung Tahun 1996-2005 ... 61 4 Suhu udara di Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran
Propinsi Lampung Tahun 1996-2005 ... 62 5 Kelembaban udara di Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten
Pesawaran Propinsi Lampung Tahun 1996-2005 ... 63 6 Analisis finansial pola tanam kakao+pisang ... 64 7 Analisis finansial pola tanam kakao+petai ... 65 8 Analisis finansial pola tanam kakao+durian ... 66 9 Komponen biaya pengusahaan lahan per ha ... 67 10 Komponen pendapatan pengusahaan lahan per ha... 75 11 Struktur pendapatan rumah tangga... 77
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perhatian terhadap kegiatan petani pada agroforestri sebagian besar tentang adopsi teknologi pertanian dan kehutanan. Pattanayak et al. (2003) telah me-review 120 artikel mengenai adopsi teknologi pertanian dan kehutanan oleh petani kecil. Melalui seleksi analisis empiris yang difokuskan pada agroforestri dan yang berkaitan, jumlah tersebut dipersempit menjadi 32 studi dari 21 negara. Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku adopsi teknologi secara signifikan paling dipengaruhi oleh resiko dan ketidakpastian, faktor biofisik, dan sumberdaya, walaupun preferensi dan dukungan sumberdaya merupakan faktor yang paling sering dimasukkan dalam studi. Kiptot et al. (2007) menambahkan bahwa walaupun terjadi peningkatan jumlah studi tentang agroforestri, tetapi masih terdapat beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut yaitu: (1) sebagian besar studi adopsi berdasarkan suatu potret pada waktunya, padahal adopsi agroforestri merupakan suatu proses dinamis yang terjadi melalui periode waktu yang panjang, (2) sebagian besar studi adopsi tidak membedakan antara kategori pengguna, baik yang menguji teknologi maupun yang mengadopsi, dan (3) mayoritas studi adopsi tidak mempertimbangkan sosial ekonomi, pengaturan
politik dan kelembagaan yang melekat di petani secara lebih luas.
Adopsi agroforestri juga mencakup keputusan petani untuk menanam dan memelihara pohon. Hal ini sesuai dengan penjelasan Banister dan Nair (2003) mengenai strategi implementasi agroforestri di negara miskin seperti Haiti, yaitu berdasarkan pengetahuan yang menyeluruh bagaimana petani menggunakan karakteristik rumah tangga dan lahan pertaniannya untuk mengambil keputusan adopsi agroforestri. Begitu pula dengan Degrande et al.(2006) yang menyatakan bahwa keputusan petani untuk menanam dan memelihara pohon di Kamerun dan Nigeria ditentukan oleh suatu kumpulan yang kompleks dari faktor-faktor yang saling berkaitan, baik di dalam maupun antar komunitas. Sedangkan Zubair dan Garforth (2006) dalam penelitiannya di Pakistan menyatakan bahwa kesediaan petani untuk menanam pohon di lahannya adalah suatu fungsi dari sikap petani terhadap keuntungan dan ketidakuntungan penanaman pohon, persepsi petani mengenai pendapat referents yang penting, dan faktor-faktor yang mendorong dan
menghambat penanaman pohon di lahan pertanian. Faktor-faktor utama yang mendorong dan menghambat penentu keputusan petani untuk menanam tanaman berkayu, terutama di pekarangan juga dijelaskan oleh Krause dan Uibrig (2006) berdasarkan kasus di dataran tinggi Ethiopia Tengah. Tingkat adopsi yang relatif rendah pada integrasi pohon buah pada sistem pertanian dataran tinggi oleh petani kecil di Propinsi Isabela, Filipina yang telah dipromosikan secara luas, sangat kontras dengan penanaman tanaman perdagangan musiman (seasonal cash crops) yang tersebar secara cepat, khususnya varietas unggulan padi dan jagung (Snelder
et al. 2005). Petani mempertimbangkan pohon buah sebagai suatu tanaman yang keuntungannya lebih rendah dibandingkan tanaman perdagangan musiman, dimana hal ini sangat kontras dengan hasil perhitungan analisis ekonomi dalam siklus produksi selama 10 tahun. Pengetahuan petani tentang manajemen pohon dan pemilihan jenis terbukti tidak cukup dan berkontribusi secara tidak langsung terhadap rendahnya tingkat pertumbuhan dan produksi buah.
Walaupun studi adopsi agroforestri tentang keputusan petani untuk menanam dan memelihara pohon telah banyak dilakukan, tetapi ada aspek penting yang belum mendapat perhatian secara lebih mendalam, yaitu dari sisi pandangan petani, terutama mengenai alasan-alasan petani dalam pemilihan jenis tanaman dan pola tanam. Beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai pengambilan keputusan pemilihan jenis tanaman dan pola tanam pada agroforestri antara lain dilakukan oleh: Lubis (1997), Suharjito (2002), Krause dan Uibrig (2006), dan Snelder et al. (2007).
Lubis (1997) menyatakan bahwa pengambilan keputusan dalam memilih jenis tanaman yang akan dibudidayakan pada pengelolaan lahan hutan di Pesisir Krui-Lampung Barat, didasari oleh pengaruh ekonomi; sebagian di antaranya hanya sebatas kebutuhan subsistensi, tapi sebagian lainnya didasari oleh adanya permintaan pasar. Sementara petani di Buniwangi-Sukabumi memilih suatu jenis tanaman untuk dibudidayakan karena mempunyai alasan-alasan yang menunjuk- kan orientasi produktivitas, kegunaan untuk konsumsi keluarga dan dipasarkan, dan kontinuitas (Suharjito 2002). Begitu pula dengan Krause dan Uibrig (2006) menjelaskan bahwa pengambilan keputusan oleh petani dalam pemilihan jenis tanaman ditentukan oleh kegunaan dan pendapatan uang dari jenis tanaman.
3 Sementara petani memilih jenis pohon buah tidak hanya berdasarkan nilai ekonominya saja, tetapi juga fungsi-fungsi penting lainnya yang disediakan oleh pohon (Snelder et al. 2007).
Menurut Suharjito (2002), beberapa penelitian sosial, ekonomi dan budaya yang telah dilakukan, khususnya menjelaskan hubungan antara sistem- sistem penguasaan lahan (land tenure system) dengan praktek agroforestri. Privatisasi atau pemberian hak milik telah mendorong petani menanam pohon- pohon karena alasan keamanan penguasaan lahan (the security of land tenure) di Kenya (Brokesha dan Riley 1987, diacu dalam Suharjito 2002). Berdasarkan sistem tenurial yang ada di Haiti, petani melaksanakan budidaya pohon pada lahan milik individual dan tidak bersedia melaksanakannya pada lahan komunal atau lahan negara, karena adanya jaminan memperoleh manfaat yang lebih pasti dari lahan milik daripada lahan komunal atau lahan negara (Murray 1987, diacu dalam Suharjito 2002). Sedangkan di Nigeria agroforestri membutuhkan modal lebih banyak daripada pertanian tradisional, maka kepastian penguasaan lahan diperlukan oleh petani untuk menjamin investasinya (Adeyoju 1987, diacu dalam Suharjito 2002). Sementara berdasarkan kasus di Filipina, praktek-praktek agroforestri yang lestari telah berkembang walaupun tidak berada pada lahan yang dimiliki sendiri (Sajise 1987, diacu dalam Suharjito 2002).
Penelitian-penelitian di atas menjelaskan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh petani untuk memilih jenis tanaman dan pola tanam; juga terkait dengan konteks sistem penguasaan lahan. Hal ini sangat penting, karena banyak program penanaman pohon yang dilakukan oleh pemerintah di lahan hutan negara yang digarap oleh masyarakat sering menemui kegagalan, karena masyarakat enggan untuk menanam bibit tanaman yang diberikan oleh pemerintah dan lebih memilih jenis tanaman dan pola tanam tertentu. Sebaliknya, penanaman pohon di lahan milik lebih banyak yang berhasil. Oleh karena itu, penelitian yang akan dilakukan memberi perhatian pada pengambilan keputusan pemilihan jenis tanaman dan pola tanam pada sistem penguasaan lahan yang berbeda, yaitu di lahan hutan negara dan lahan milik.
Penelitian tentang pengambilan keputusan pemilihan jenis dan pola tanam di lahan hutan negara dan lahan milik dilakukan dalam konteks pengambilan keputusan oleh petani, dengan unit analisis rumah tangga petani agroforestri dan menggunakan metode studi kasus. Pengambilan keputusan oleh petani untuk memilih jenis tanaman dan pola tanam ini melalui beberapa tahapan pengambilan keputusan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal.
Perumusan Masalah
Penelitian ini bermaksud untuk menguraikan dan menjelaskan peng- ambilan keputusan yang dilakukan oleh petani dalam menentukan pemilihan jenis tanaman dan pola tanam. Fokus penelitian yang akan dilakukan adalah kajian tentang alasan-alasan petani untuk memilih jenis tanaman dan pola tanam. Pertanyaan utama dari penelitian ini adalah bagaimana dan mengapa petani melakukan pengambilan keputusan untuk memilih suatu jenis tanaman dan pola tanam tertentu dan bukan jenis tanaman dan pola tanam yang lain, pada sistem penguasaan lahan yang berbeda, antara yang berlokasi di lahan hutan negara dan lahan milik.
Penelitian tersebut akan dijelaskan dengan mengkaji pengambilan keputusan oleh rumah tangga petani yang dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (kondisi sosial ekonomi dan biofisik) dan eksternal (pasar, ketersediaan informasi teknis, jasa infrastruktur/pendukung dan kerangka kebijakan). Kajian lebih lanjut dilakukan dengan membandingkan pengambilan keputusan pemilihan jenis tanaman dan pola tanam oleh petani pada sistem penguasaan lahan yang berbeda, antara yang berlokasi di lahan hutan negara dan lahan milik.
Tujuan dan Manfaat
Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan dan menjelaskan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh petani dalam menentukan pemilihan jenis tanaman dan pola tanam pada sistem penguasaan lahan yang berbeda, antara yang berlokasi di lahan hutan negara dan lahan milik. Pengetahuan dan pemahaman tentang alasan-alasan petani ini akan bermanfaat bagi berbagai pihak, seperti: Dinas Kehutanan (terutama penyuluh), universitas, lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain, yang bermaksud mengembangkan kehutanan masyarakat, baik di
5 lahan hutan negara maupun lahan milik. Studi mengenai pilihan-pilihan petani tersebut sangat penting untuk mengerti preferensi, pertimbangan dan hambatan yang ditemui oleh petani di lapangan, sehingga kegiatan yang akan dilakukan akan lebih tepat, berguna, dan sesuai dengan kebutuhan petani.
Pengambilan Keputusan oleh Petani
Beberapa studi telah dilakukan tentang bagaimana petani membuat keputusan. Sebagian besar penelitian dan pengajaran mengenai pengambilan keputusan difokuskan pada kejadian keputusan, bukan proses (Orasanu dan Conolly 1993, diacu dalam Ohlmer et al. 1998). Pengetahuan saat ini mengenai proses pembuatan keputusan dikaji dan digambarkan sebagai suatu kumpulan dari delapan fungsi atau unsur: nilai dan sasaran, deteksi masalah, definisi masalah, pengamatan, analisis, pengembangan tujuan, implementasi, dan pengambilan tanggung jawab (Hogarth 1976; Mintzberg et al.; Johnson et al., diacu dalam Ohlmer et al. 1998). Ohlmer et al. 1998 menyatakan bahwa relevansi pandangan dari perilaku pembuatan keputusan oleh petani di atas diuji melalui suatu rangkaian studi kasus. Berdasarkan pengamatan ini, model konseptual dari proses keputusan direvisi yang mencakup empat fase (deteksi masalah, definisi masalah, analisa dan pilihan, dan implementasi) dan empat sub proses (mencari dan memperhatikan, perencanaan, evaluasi dan memilih, dan memeriksa masalah).
Pengambilan keputusan mengenai alokasi sumberdaya paling banyak dilakukan oleh rumah tangga petani. Hal ini dijelaskan oleh French (1995), dimana pembagian peran dan tanggung jawab anggota keluarga terjadi secara alami di antara laki-laki, perempuan, angkatan kerja produktif dan generasi tua. Keputusan manajemen petani dibuat berdasarkan pembagian tugasnya masing- masing, yang terbagi ke dalam keputusan investasi dan pemasaran serta keputusan produksi dan konservasi. Keputusan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (kondisi sosial ekonomi dan biofisik) dan eksternal (pasar dan saluran pasar, kebijakan, aturan dan peraturan; jasa pendukung, dan informasi teknis). Sementara Ruddle dan Rondinelli (1983) menyatakan bahwa analisis pengambilan keputusan oleh petani diperumit oleh karakteristik kepribadian petani atau anggota rumah tangga petani. Petani mungkin akan berspekulasi untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan mengambil resiko pada musim kemarau. Di sisi lain, seorang petani yang konservatif akan meminimalkan kerugian dari kemungkinan kondisi cuaca yang terburuk. Sebagian besar petani mungkin akan
7 menanam suatu kombinasi tanaman untuk mengurangi resiko, seperti yang dilaksanakan di banyak sistem pertanian tropis. Bagaimanapun juga, sebagai tambahan untuk mewakili suatu usaha untuk mengurangi resiko, diversifikasi tanaman dapat juga menjadi suatu contoh produksi yang komplementer, optimalisasi penggunaan bermacam-macam kondisi ekologi di dalam bagian yang berbeda pada lahan pertanian, atau suatu sistem rotasi yang sangat panjang, atau suatu kombinasi berbagai faktor.
Pemilihan Jenis Tanaman dan Pola Tanam
Beberapa penelitian menjelaskan tentang faktor-faktor yang mem- pengaruhi keputusan petani untuk menanam pohon. Banister dan Nair (2003) menjelaskan bahwa strategi implementasi agroforestri di Haiti berdasarkan pengetahuan yang menyeluruh bagaimana petani menggunakan karakteristik rumah tangga, yaitu: (1) umur kepala rumah tangga, (2) pendidikan anggota rumah tangga, (3) jenis kelamin kepala rumah tangga, dan (4) kepala rumah tangga imigran/lokal) dan karakteristik lahan pertanian, yaitu: (1) persen kemiringan, (2) jarak dari rumah ke lahan pertanian, (3) tenure, (4) penilaian kualitatif kesuburan tanah oleh petani). Hasil penelitian Degrande et al. (2006) di Kamerun dan Nigeria, menunjukkan bahwa faktor-faktor yang terdapat di dalam dan antar komunitas ditemukan saling berkaitan dan mempengaruhi keputusan penanaman pohon. Faktor-faktor di dalam komunitas adalah: (1) tenure, (2) kesejahteraan (dihubungkan dengan ukuran lahan pertanian), (3) kelompok etnik, (4) gender, (5) umur, dan (6) pendidikan; dimana perbedaan antar rumah tangga individu kurang mudah dijelaskan tetapi tenure dan ukuran lahan pertanian merupakan hal penting; sedangkan faktor-faktor antar komunitas adalah: (1) akses pasar, (2) penggunaan lahan, dan (3) akses ke sumberdaya hutan.
Berdasarkan kasus di dataran tinggi Ethiopia Tengah, Krause dan Uibrig (2006) menyatakan bahwa faktor-faktor utama penentu keputusan petani untuk menanam tanaman berkayu, terutama di pekarangan, yaitu: kegunaan kayu terutama untuk kayu bakar, produk yang berasal dari kayu, pendapatan uang, dan kurangnya sumberdaya lahan dan bibit. Sedangkan Zubair dan Garforth
(2006) memaparkan bahwa keputusan petani untuk menanam pohon di Pakistan dipengaruhi oleh pendapat dari anggota keluarga, pemilik/penyewa lahan, sesama petani dan orang yang dituakan di kampung. Faktor-faktor yang mempengaruhi penanaman pohon di lahan pertanian adalah: (1) tersedianya lahan marjinal/terlantar, (2) kurangnya akses pasar, (3) kurangnya pembibitan dan (4) kerusakan yang diakibatkan hewan dan manusia. Manfaat yang dirasakan dari penanaman pohon adalah: (1) meningkatkan pendapatan, (2) menyediakan kayu untuk bahan bakar dan meubel, (3) mengontrol erosi dan polusi, dan (4) menyediakan naungan untuk manusia dan hewan. Petani juga melihat penanaman pohon sebagai hambatan dalam kegiatan pertanian (mengurangi produksi karena naungan terhadap tanaman perdagangan) dan tempat berkumpulnya serangga, hama dan penyakit.
Petani di Buniwangi-Sukabumi yang mengusahakan kebun-talun dengan lahan yang sempit, cenderung mengusahakan jumlah jenis tanaman yang sedikit, sebab semakin banyak jumlah jenis tanaman dalam satuan luas berarti semakin sedikit jumlah tanaman per jenisnya yang dapat ditanam (Suharjito 2002). Sedangkan Degrande et al. (2006) menyatakan bahwa terdapat kecenderungan yang signifikan di dalam komunitas dari meningkatnya kepadatan pohon buah dengan menurunnya ukuran lahan pertanian, terutama dengan permintaan pasar yang sangat besar terhadap satu jenis spesies. Hal ini menunjukkan bahwa petani kecil lebih memilih opportunity cost untuk menanam lebih banyak pohon buah dibandingkan menanam tanaman pangan. Sementara berdasarkan kasus di Propinsi Isabela-Filipina Snelder et al. (2007) menjelaskan bahwa petani mengidentifikasi luas lahan yang kecil sebagai faktor yang diasosiasikan dengan resiko dan mempengaruhi keputusan mereka untuk tidak menanam pohon pada lahan mereka. Petani dengan lahan milik biasanya membagi tanah untuk keturunannya, sehingga luas lahan menjadi lebih kecil dan petani lebih suka menanam tanaman musiman/perdagangan untuk mendapatkan pendapatan uang jangka pendek. Hal yang sama juga terjadi pada petani yang menyewa luas lahan yang kecil.
Degrande et al. (2006) dalam penelitiannya menyatakan bahwa property right (tenure) mempengaruhi keputusan petani untuk menanam dan memelihara
9 pohon. Kepadatan dan jumlah jenis pohon pada lahan milik lebih tinggi dibandingkan dengan lahan yang disewa. Hal ini menunjukkan bahwa tenure
yang lebih aman mendorong suatu ketertarikan yang lebih besar dalam penanaman pohon. Hal ini sesuai dengan penelitian Banister dan Nair (2003) yang menyatakan bahwa kepadatan pohon per hektar meningkat sesuai dengan peningkatan luas lahan yang status tenure-nya aman.
Menurut Zubair dan Garforth (2006) petani mempertimbangkan pohon sebagai tanaman untuk lahan marjinal/terlantar berhubungan dengan sejumlah faktor-faktor yang menghambat, seperti tidak tersedianya pasar, kurangnya pembibitan (nurseries), dan sifat jangka panjang usaha budidaya kehutanan (farm forestry). Persaingan antara budidaya kehutanan dan pertanian terjadi bila menggunakan lahan yang sama; jika lahannya bagus maka pertanian lebih diutamakan daripada budidaya kehutanan, yang pada akhirnya akan berdampak buruk terhadap produksi tanaman. Hal ini menunjukkan suatu kebutuhan untuk lebih mengkonsentrasikan pada jenis-jenis pohon serbaguna (multipurpose tree species) yang berotasi pendek daripada jenis-jenis pohon yang berotasi panjang, khususnya ketika tersedianya lahan yang produktif menjadi suatu hambatan dan pertanian lebih ditujukan untuk tingkat subsisten.
Beberapa penelitian menjelaskan tentang faktor-faktor yang mem- pengaruhi pemilihan jenis tanaman dan pola tanam oleh petani. Faktor-faktor yang diidentifikasi antara lain: kondisi sosial ekonomi, biofisik dan pasar. Menurut Lubis (1997), pengambilan keputusan dalam memilih jenis tanaman yang akan dibudidayakan di lahan darak, kebun dan repong pada pengelolaan lahan hutan di Pesisir Krui-Lampung Barat didasari oleh pengaruh ekonomi. Sedangkan Suharjito (2002) menyatakan bahwa petani memilih suatu jenis tanaman untuk dibudidayakan karena mempunyai alasan-alasan, yaitu: (1) supaya hasilnya banyak atau maksimal, (2) supaya hasilnya beragam, (3) mudah memelihara, (4) mudah pemasarannya, (4) harga stabil/naik, (5) warisan orang tua, (6) tanahnya relatif kecil/sempit dan (7) sesuai dengan kondisi tanahnya. Alasan-alasan tersebut menunjukkan orientasi produktivitas, kegunaan untuk konsumsi keluarga dan dipasarkan, dan kontinuitas (harian, musiman, tahunan). Begitu pula dengan Krause dan Uibrig (2006), yang
menyatakan bahwa petani memilih jenis tanaman berdasarkan: (1) kegunaannya