BAB III : METODE PENELITIAN
4.1. Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Kecamatan Serba Jadi terletak di Kabupaten Aceh Timur Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan luas wilayah sebesar 2,245,40 Km². Secara Astronomis
Kecamatan Serba Jadi terletak antara Lintang Utara: 04º09, 21,08 - 04º44,48,65, dan
Bujur Timur: 97º15,22,07 - 97º46,24,32. Memiliki suhu rata-rata 25°C - 29°C.
Kecamatan ini merupakan daerah yang berada pada dataran tinggi, dengan ketinggian antara 300 – 700 m di atas permukaan laut. Kecamatan ini merupakan kecamatan yang mempunyai kawasan hutan yang paling luas di Kabupaten Aceh Timur.
Kecamatan Serba Jadi mempunyai luas hutan sebesar 224.540 Ha, terdiri dari hutan lindung 79.822 Ha, hutan produksi terbatas 110.197 Ha, hutan produksi tetap 115.000 Ha dan penggunaan lain 299.041 Ha.
4.1.1. Keadaan Geografis
Geografis Kecamatan Serba Jadi berbatasan dengan:
Sebelah Utara : Kabupaten Aceh Utara, Kecamatan Julok dan Kecamatan Idi Rayeuk.
Sebelah Timur : Kecamatan Ranatau Seulamat dan Kecamatan Birem Bayeun. Sebelah Selatan : Kecamatan Ranto Peureulak dan Kecamtan Pantee Bidari. Sebelah Barat : Kabupaten Aceh Tenggara.
4.1.2. Topografi Daerah Penelitian
Topografi daerah penelitian terdiri dari dataran tinggi dengan ketinggian antara 300 sampai dengan 700 m dari permukaan laut. Kondisi klimatologis Kecamatan Serba Jadi antara tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 mempunyai suhu antara 23º C sampai dengan 30º C, kelembaban udara berkisar antara 82% sampai
dengan 87%, curah hujan terjadi setiap bulan diantara tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 yaitu antara 181 mm sampai dengan 645 mm, dan kecepatan angin berkisar antara 05 sampai dengan 08 Km/jam. Keadaan iklim yang terjadi di Kecamatan Serba Jadi sangat mendukung bagi perkembangan dan pertumbuhan hutan di daerah tersebut.
Faktor iklim yang berpengaruh adalah curah hujan rata-rata tinggi. Curah hujan tinggi terjadi pada bulan Juni sampai Januari setiap tahunnya.
4.1.3. Demografi
Secara demografi Kecamatan Serba Jadi adalah kecamatan yang kecil jumlah penduduknya dibandingkan dengan kecamatan lain di Kabupaten Aceh Timur. Mata pencaharian penduduknya umumnya adalah petani. Jumlah penduduk terpadat terdapat di Desa Bunin yaitu 1147 jiwa dan 257 KK. Sedangkan penduduk terendah terdapat di Desa Ujung Karang dengan jumlah penduduk 153 jiwa dan 39 KK.
Berikut tabel jumlah penduduk Kecamatan Serba Jadi menurut desa tahun 2008.
Tabel 4.1. Jumlah Penduduk Kecamatan Serba Jadi
No. Desa Jumlah Penduduk Jumlah KK
1 Lokop 565 132 2 Tualang 435 89 3 Terujak 346 78 4 Lelis 495 106 5 Ujung Karang 193 42 6 Nalon 420 77 7 Jering 598 121 8 Umah Taring 248 47 9 Rampah 502 109 10 Seulemak 391 65 11 Loot 389 91 12 Sekualan 365 74 13 Bunin 1209 261 14 SP 1 Kuala Pango 449 96 15 SP 2 Kuala Pango 983 228 16 Sunti 385 80 17 Mesir 341 73 18 Sembuang 370 85 Total 8687 1854
Sumber: Profil Kecamatan Serba Jadi, 2008.
4.1.4. Gambaran Umum Areal Hutan Berdasarkan Fungsinya
Gambaran umum luas areal hutan berdasarkan fungsinya di Kecamatan Serba Jadi terdapat beberapa jenis pemanfaatan hutan sesuai dengan fungsinya yaitu hutan lindung, hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, hutan taman nasional dan hutan lainnya. Pemanfaatan hutan di Kecamatan Serba Jadi dapat kita lihat pada Tabel 4.2 berikut:
Tabel 4.2. Luas Areal Berdasarkan Fungsi Kecamatan Serba Jadi Kabupaten Aceh Timur Tahun 2007
No Berdasarkan Fungsi Luas (Ha) Persentase
1. Hutan Lindung (HL) 47.175 21.01
2. Hutan Produksi Terbatas (HPT) 101.897 45.38
3. Hutan Produksi Tetap (HP) 50.225 22.37
4. Taman Nasional (TN) - -
5. Areal Penggunaan lain 25.243 11.24
Jumlah 224.54 100
Sumber: Dinas Kehutanan Kabupaten Aceh Timur, 2007.
4.2. Hasil
4.2.1. Peranserta Masyarakat
Peranserta masyarakat memiliki arti yang penting dan strategis dalam perencanaan pembangunan. Masyarakat akan lebih bertanggung jawab jika mempunyai kesempatan untuk berperanserta dalam kegiatan publik. Hal ini akan memaksa orang yang bersangkutan untuk membuka cakrawala pikirannya dan mempertimbangkan kepentingan publik. Sehingga orang tersebut tidak semata-mata memikirkan kepentingannya sendiri, tetapi akan lebih memiliki sifat bertanggung jawab dengan mempertimbangkan kepentingan bersama.
Bentuk peranserta masyarakat di Kecamatan Serba Jadi Kabupaten Aceh Timur dapat kita lihat pada Tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3. Distribusi Peranserta Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan Berkelanjutan di Kecamatan Serba Jadi
No Peran Serta Jumlah Persentase (%)
1. Baik 113 35,53
2. Kurang 205 64,47
Jumlah 318 100
Pada Tabel 4.3 menunjukkan distribusi responden yang menjawab kuesioner peran serta baik (responden yang dapat menjawab lebih dari 4 kuesioner dari 7 kuesioner) sebanyak 35,53%. Sedangkan peranserta kurang adalah responden yang menjawab kurang dari 4 kuesioner dari 7 kuesioner, yang berjumlah 64,47%.
4.2.2. Karakteristik Responden a. Jenis Kelamin
Berdasarkan sampel yang diambil jumlah jenis kelamin terbesar ialah laki- laki, dikarenakan pada umumnya pengisian kuesioner dilakukan oleh kepala keluarga yang umumnya laki-laki, kecuali janda atau tidak menikah. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut.
Tabel 4.4. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
1. Laki-laki 253 79,55
2. Perempuan 65 20,45
Jumlah 318 100
Pada Tabel 4.4 menunjukkan bahwa distribusi responden yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 79,55% dan responden yang berjenis kelamin perempuan
b. Lama Menetap
Sistem hak milik hutan bertentangan dengan kesinambungan ekosistem hutan, serta dengan masa depan bagi pengelolaan kawasan hutan secara berkelanjutan. Dengan mengenyampingkan hak-hak tradisional, sistem hak-hak serta pengaturan peluang masuk yang didukung secara nasional dan relatif baru, telah mempengaruhi rangsangan masyarakat setempat untuk mengelola kawasan hutan dalam jangka panjang. Distribusi sampel berdasarkan lama menetap dapat dilihat pada Tabel 4.5 sebagai berikut.
Tabel 4.5. Distribusi Responden Berdasarkan Lama Menetap
No Lama Menetap Jumlah Persentase ( % )
1. 1 s/d 5 thn 21 6,60
2. 6 s/d 10 thn 42 13,20
3. ≥ 11 thn 255 80,20
Jumlah 318 100
Pada Tabel 4.5 menunjukkan distribusi responden yang menetap lebih dari 11 tahun berjumlah 80,20% lebih besar dari pada responden yang menetap 6 s/d 10 tahun (13,20%) dan responden yang menetap 1 s/d 5 tahun (6,60%). Dengan kata lain penduduk asli lebih banyak dibandingkan dengan masyarakat pendatang.
c. Pendidikan
Peranserta masyarakat dan bentuk peranserta sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan masyarakat itu sendiri. Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk ikut berpartisipasi. Kemampuan adalah kesanggupan seseorang karena memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk ikut berperan aktif dalam suatu
kegiatan dan dengan pendidikan yang memadai seorang masyarakat dapat berperan sesuai dengan yang diharapkan. Berikut distribusi sampel berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan
No Pendidikan Jumlah Persentase (%)
1. Dasar 160 50,31
2. Menengah 133 41,83
3. Tinggi 25 7,86
Jumlah 318 100
Pada Tabel 4.6 menunjukkan distribusi responden yang berpendidikan dasar berjumlah 50,31% lebih besar dari pada responden yang berpendidikan menengah (41,83%) dan sangat sedikit responden yang berpendidikan tinggi (7,86%).
d. Pekerjaan
Mata pencaharian merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam peranserta masyarakat pada pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil penelitian Damar (2008), menyimpulkan bahwa: Peranserta masyarakat dalam pengelolaan hutan dipengaruhi oleh mata pencaharian pokok, dominan oleh golongan tua dan umumnya dilakukan secara musiman.
Berikut distribusi sampel berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 4.7. Tabel 4.7. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan
No Pekerjaan Jumlah Persentase (%)
1. Petani 182 57,23
2. Wiraswasta/pedagang 20 6,30
3. PNS/TNI/POLRI 116 36,47
Jumlah 318 100
Pada Tabel 4.7 menunjukkan distribusi responden yang mempunyai pekerjaan petani lebih besar berjumlah 57,23% dari pada responden yang mempunyai pekerjaan PNS/TNI/POLRI (36,47%) dan responden yang mempunyai pekerjaan Wiraswasta/ pedagang (6,30%).
e. Pendapatan
Pendapatan masyarakat yang bermukim di sekitar hutan biasanya akan mempengaruhi pengetahuan dan kesadaran tentang kelestarian hutan sebagai suatu bagian dari ekosistem pemukiman tersebut, sehingga berpengaruh terhadap peranserta masyarakat dalam mengelola hutan di daerah tersebut.
Distribusi responden di Kecamatan Serba Jadi berdasarkan pendapatan masyarakat dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut.
Tabel 4.8. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan
No Tingkat Pendapatan Jumlah Persentase (%)
1. Tinggi (>UMP Rp.1.000.000) 177 55,66
2. Rendah (<UMP Rp.1.000.000) 141 44,34
Pada Tabel 4.8 tingkat pendapatan menunjukkan distribusi responden yang berpendapatan tinggi lebih besar yaitu sebesar 55,66% dari pada responden yang berpendapatan rendah yaitu sebesar 44,34%.
4.2.3. Sosial Ekonomi
Sistem pengelolaan sumberdaya hutan pada kawasan hutan negara atau hutan hak, yang memberi kesempatan kepada masyarakat setempat sebagai pelaku atau mitra utama dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya dan mewujudkan kelestarian hutan. Hal ini terjadi terutama di dekat pemukiman penduduk, di mana hasil-hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan sebagian kecil untuk dijual. Sebagian besar dari hutan-hutan sekunder berada di dalam siklus pemanfaatan yang kontinyu, di mana hutan-hutan tersebut dibuka (ditebang) untuk tujuan pertanian dan kemudian diikuti dengan regenerasi hutan untuk mengembalikan produktivitasnya (sistem perladangan berpindah).
Dukungan sosial ekonomi masyarakat Kecamatan Serba Jadi dapat kita lihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.9. Distribusi Dukungan Responden terhadap Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Berdasarkan Sosial Ekonomi
No Sosial Ekonomi Jumlah Persentase (%)
1 Mendukung 127 40
2 Tidak mendukung 191 60
Jumlah 318 100
Pada Tabel 4.9 menunjukkan bahwa distribusi responden yang sosial ekonominya tidak mendukung peranserta dalam pengelolaan hutan berkelanjutan
yaitu sebesar 60%, sedangkan pada sosial ekonomi yang mendukung peranserta dalam pengelolaan hutan berkelanjutan yaitu berjumlah 40%.
4.2.4. Budaya
Di Indonesia masih memiliki kearifan adat dalam pengelolaan sumberdaya alam. Sistem-sistem lokal ini berbeda satu sama lain yang berkembang dan berubah secara evolusioner sesuai kondisi sosial budaya dan tipe ekosistem setempat. Di banyak wilayah adat di pelosok nusantara masih ditemukan kawasan-kawasan hutan adat yang masih alami, bebas dari kegiatan penebangan kayu besar-besaran dan juga bertahan dari berbagai jenis eksploitasi sumberdaya alam lainnya, hanya dengan mengandalkan pengelolaan yang diatur dengan hukum adat.
Dukungan masyarakat lokal tradisional Kecamatan Serba Jadi dapat kita lihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.10. Distribusi Dukungan Responden Berdasarkan Budaya Masyarakat
No Budaya Jumlah Persentase (%)
1. Mendukung 243 76,41
2. Tidak mendukung 75 23,59
Jumlah 318 100
Pada Tabel 4.10 menunjukkan distribusi responden yang menjawab kuesioner budaya yang mendukung peranserta dalam pengelolaan hutan berkelanjutan yaitu sebesar 76,41%, lebih besar dari pada budaya yang tidak mendukung peranserta dalam pengelolaan hutan berkelanjutan yaitu sebesar 23,59%.
4.2.5. Penegakan Hukum Bidang Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
Pelestarian hutan serta fungsinya secara berkesinambungan perlu ada suatu aturan dalam pengambilan keputusan, bersifat konsultif dan kemitraan antara pemerintah sebagai pengambil keputusan dengan masyarakat yang berkepentingan. Bentuk dukungan responden terhadap penegakan hukum di Kecamatan Serba Jadi dapat kita lihat pada tabel berikut:
Tabel 4.11. Distribusi Dukungan Responden terhadap Penegakan Hukum
No Hukum Jumlah Persentase (%)
1. Mendukung 96 30,18
2. Tidak mendukung 222 69,82
Jumlah 318 100
Pada Tabel 4.11 menunjukkan distribusi responden yang memberikan jawaban hukum yang mendukung peranserta dalam pengelolaan hutan berkelanjutan sebesar 69,82%, lebih besar dari pada hukum yang tidak mendukung peranserta dalam pengelolaan hutan berkelanjutan yaitu sebesar 30,18%.