4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Kondisi Umum Daerah Penelitian
4.1.2. Kondisi umum perairan PLTU Labuan-Teluk Lada
Secara geografis Kabupaten Pandeglang terletak antara 6º21’-7º10’ LS dan 104º48’-106º11’ BT, memiliki luas wilayah 2.747 km2 (274.689.91 ha) atau sebesar 29.98% dari luas Provinsi Banten dengan panjang pantai mencapai 307 km. Secara administratif dibagi menjadi 322 Desa, 13 Kelurahan dan 31 Kecamatan, dengan batas-batas administrasi, yaitu:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Serang - Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Sunda
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia - Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lebak
Perairan pesisir PLTU Labuan-Teluk Lada berada di wilayah Kecamatan Labuan dan Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Perairan PLTU Labuan-Teluk Lada dibatasi oleh Tanjung ketapang di sebelah timur dan Tanjung Citereup di sebelah barat, sehingga daerah tersebut merupakan teluk kecil di dalam Teluk Lada. Pada perairan ini berpotensi masuknya air buangan yang berasal dari PLTU, perkebunan kelapa sawit, limbah domestik, industri skala kecil seperti pengolahan produk perikanan, dan aktifitas perikanan yang meliputi perikanan tangkap maupun perikanan budidaya.
Beberapa sungai yang mengalir menuju Teluk Lada diantaranya adalah Sungai Ciliman, Sungai Bama dan Sungai Cibungur. Di wilayah Labuan memiliki potensi sumberdaya kelautan untuk pengembangan kegiatan penangkapan kerang. Kerang yang terdapat di perairan Labuan diantaranya adalah kerang darah, kerang bulu, kerang mencos dan kerang tahu. Kerang tersebut ditangkap dengan menggunakan alat tangkap garok.
4.2. Kondisi Habitat Kerang Darah Anadara granosa 4.2.1. Kualitas air
Parameter fisika yang mempengaruhi kehidupan kerang darah diantaranya adalah suhu, salinitas, dan arus, sedangkan parameter kimia dan logam berat yang mempengaruhi kehidupan kerang adalah oksigen terlarut (DO), pH, timah hitam (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg). Parameter fisika, kimia dan logam berat di perairan Bojonegara dan Labuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5.
Tabel 4. Parameter fisika, kimia, dan logam berat di perairan Bojonegara
Parameter Perairan Bojonegara
Desember 2009 April 2010 Mei 2010 Suhu (°C) 26 ± 1.53 29 ± 0.52 30 ± 0.29 Salinitas (‰) 25 ± 7.07 22 ± 2.02 26 ± 1.89 Arus (cm/s) 14.71 ± 0.76 3.77 ± 1.86 11.04 ± 6.13 DO (mg/l) 4.12 ± 0.96 9.80 ± 5.34 5.60 ± 0.8 pH 8 ± 0.00 7.8 ± 0.29 7.2 ± 0.21 Pb (mg/l) 0.0530 ± 0.0042 0.0055 ± 0.0015 0.0004 ± 0.0000 Cd (mg/l) 0.023 ± 0.003 0.007 ± 0.001 0.031 ± 0.009 Hg (mg/l) 0.0006 ± 0.0001 0.0003 ± 0.0001 0.0055 ± 0.0010
Tabel 5. Parameter fisika, kimia, dan logam berat di perairan Labuan
Parameter Perairan Labuan
Desember 2009 Maret 2010 Mei 2010 Suhu (°C) 28 ± 0.58 29 ± 0.58 32 ± 0.58 Salinitas (‰) 35 ± 0.58 25 ± 0.58 32 ± 3.23 Arus (cm/s) 20.53 ± 13.72 2.81 ± 0.04 4.28 ± 0.71 DO (mg/l) 5.24 ± 1.32 5.41 ± 0.42 6.34 ± 0.30 pH 7.7 ± 0.29 7.3 ± 0.29 7.8 ± 0.29 Pb (mg/l) 0.0233 ± 0.0085 0.0120 ± 0.0044 0.0599 ± 0.0942 Cd (mg/l) 0.005 ± 0.000 0.005 ± 0.000 0.018 ± 0.007 Hg (mg/l) 0.0005 ± 0.0004 0.0003 ± 0.0001 0.0004 ± 0.0001
Berdasarkan Tabel 4 dan Tabel 5, dapat dilihat bahwa suhu di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 26-30°C dan suhu di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 28-32°C. Suhu di perairan Labuan memiliki kisaran suhu yang relatif lebih tinggi dibandingkan kisaran suhu di perairan Bojonegara. Hal ini dapat disebabkan karena di perairan Labuan telah dipengaruhi oleh buangan limbah
cair panas dari PLTU ke dalam perairan. Penelitian Hidayat pada tahun 2004, menyebutkan bahwa suhu yang berada di stasiun 1 di Perairan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang memiliki suhu yang lebih tinggi disebabkan adanya polutan yang berupa limbah air panas sisa pendingin instalasi PLTU yang menyebabkan air menjadi lebih panas mencapai 32.5°C (Hidayat et al. 2006).
Suhu pada kedua lokasi penelitian masih dapat mendukung pertumbuhan kerang darah karena masih dalam batas suhu yang optimal bagi pertumbuhan kerang darah. Berdasarkan penelitian Boonruang dan Janekarn pada tahun 1983 di Phuket Thailand, A. granosa dapat ditemukan pada suhu 25-32.8°C (Broom 1985). Suhu akan mempengaruhi aktivitas metabolisme dan perkembangbiakkan dari organisme tersebut (Nybakken 1988). Suhu air juga akan menentukan kehadiran dari spesies-spesies akuatik, mempengaruhi pemijahan dan penetasan serta aktivitas dan rangsangan yang dapat menghambat pertumbuhan spesies (NTAC 1968 in Koesoebiono 1979).
Salinitas di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 22-26‰ dan salinitas di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 25-35‰. Kisaran salinitas di perairan Bojonegara relatif lebih rendah dibandingkan perairan Labuan. Rendahnya salinitas di perairan Bojonegara dapat disebabkan karena percampuran massa air tawar yang dibawa Sungai Teratai dan Sungai Wadas. Menurut Nontji (1987), sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan, dan aliran sungai. Salinitas di kedua lokasi masih dapat mendukung pertumbuhan kerang darah karena masih dalam batas salinitas yang optimal bagi pertumbuhan kerang darah. Pathansali (1966) menyatakan bahwa A. granosa L. dapat ditemukan di perairan yang memiliki salinitas 18-30‰. Penelitian Baquiero pada tahun 1980 di Mexico, menemukan A. tuberculosa dapat hidup pada kisaran salinitas 30-40‰ (Broom 1985). Bervariasinya nilai salinitas dapat mempengaruhi pola adaptasi dan kelimpahan hewan bentik. Organisme yang cukup adaptif dan mampu bertahan dengan baik terhadap perubahan adalah organisme yang berasal dari kelas Polychaeta, Bivalvia, dan Crustacea (Nybakken 1988).
Kecepatan arus di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 3.77-14.71 cm/s dan kecepatan arus di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 2.81-20.53 cm/s. Kisaran kecepatan arus di perairan Labuan memiliki kisaran yang lebih luas
dibandingkan perairan Bojonegara. Hal ini dapat disebabkan karena di perairan Labuan dipengaruhi oleh gelombang air laut. Menurut Nontji (1987), arus merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dapat disebabkan oleh tiupan angin, karena perbedaan dalam densitas air laut atau disebabkan oleh gerakan gelombang. Kecepatan arus pada perairan Bojonegara dipengaruhi oleh pasang surut air laut yang berada pada muara Sungai Teratai dan muara Sungai Wadas. Nontji (1987) menyatakan bahwa arus yang disebabkan oleh pasang surut biasanya lebih banyak terdapat di perairan pesisir dan estuari. Menurut Nybakken (1988), arus mempengaruhi penyebaran organisme laut dan juga menentukan tipe substrat.
Kandungan oksigen terlarut (DO) di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 4.12-9.80 mg/l dan kandungan oksigen terlarut di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 5.24-6.34 mg/l. Perairan Labuan memiliki kandungan oksigen terlarut yang relatif lebih rendah dibandingkan perairan Bojonegara. Hal ini dapat disebabkan karena suhu yang berada di perairan Labuan relatif lebih tinggi dibandingkan perairan Bojonegara sehingga dapat mempengaruhi kandungan oksigen terlarut di perairan. Menurut Effendi (2003), peningkatan suhu disertai dengan penurunan kadar oksigen terlarut. Kandungan oksigen di kedua lokasi masih dalam batas yang dapat ditoleransi oleh kerang darah dan masih dapat mendukung pertumbuhan kerang darah. Pada penelitian Setyobudiandi et al. di perairan Marunda ditemukan bahwa kerang lamis dapat ditemukan pada perairan yang memiliki kandungan oksigen 2.01-9.24 mg/l (Setyobudiandi et al. 2004).
pH di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 7.2-8 dan pH di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 7.3-7.8. Organisme perairan mempunyai kemampuan yang berbeda dalam mentoleransi pH perairan. Nilai pH pada kedua lokasi penelitian masih dapat mendukung pertumbuhan kerang darah karena masih dalam batas pH yang optimal bagi pertumbuhan kerang darah. Menurut Tebbut (1992) in Effendi (2003), sebagian besar spesies akuatik menyukai pH yang mendekati nilai netral yaitu berkisar antara 7-8.5. Keanekaragaman bentos mulai menurun pada pH 6-6.5 (Effendi 2003). Pada penelitian Setyobudiandi et al. di perairan Marunda ditemukan bahwa kerang lamis dapat ditemukan pada perairan yang memiliki kisaran pH antara 6.5-7.5 (Setyobudiandi et al. 2004).
Kandungan timah hitam (Pb) di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 0.0004-0.0530 mg/l dan kandungan Pb di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 0.0120-0.0599 mg/l. Kandungan Pb di perairan Bojonegara relatif lebih kecil dibandingkan kandungan Pb di perairan Labuan. Kandungan Pb di perairan Bojonegara dan Labuan telah melewati ambang batas yang telah dikeluarkan KepMen LH No. 51 Tahun 2004 yaitu >0.001 mg/l. Hal ini menunjukan bahwa air di Perairan Bojonegara dan Labuan telah terkontaminasi logam Pb. Perairan Bojonegara berpotensi masuknya limbah buangan yang berasal dari pabrik minyak kelapa, pabrik batu bara, dan pabrik gula. Pabrik-pabrik tersebut mengeluarkan limbah berupa cairan maupun padatan yang mengandung bahan organik, minyak dan lemak, Sulfida, timah hitam (Pb), Krom, dan Sianida. Perairan Labuan berpotensi masuknya limbah buangan yang berasal dari pabrik, PLTU, tambak, dan perkebunan kelapa sawit. Limbah-limbah yang dikeluarkannya berupa cairan maupun padatan yang mengandung bahan organik dan pestisida. Menurut Marasabessy dan Edward (2002), logam berat Pb yang terakumulasi dalam tubuh biota akan terus meningkat dengan adanya proses biomagnifikasi di badan perairan. Timah hitam dapat menutupi lapisan mukosa pada organisme akuatik dan selanjutnya dapat mengakibatkan sufokasi.
Kandungan kadmium (Cd) di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 0.007-0.031 mg/l dan kandungan Cd di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 0.005-0.018 mg/l. Kandungan Cd di perairan Bojonegara lebih besar dibandingkan kandungan Cd di perairan Labuan. Kandungan Cd di kedua perairan ini tergolong cukup tinggi. Berdasarkan KepMen LH No. 51 Tahun 2004, kandungan Cd di kedua perairan telah melewati ambang batas yang ditetapkan yaitu >0.001 mg/l. Hal ini menunjukkan bahwa air di Perairan Bojonegara dan Labuan telah terkontaminasi logam Cd.
Kandungan Merkuri (Hg) di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 0.0003-0.0055 mg/l dan kandungan Hg di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 0.0003-0.0005 mg/l. Kandungan Hg di perairan Bojonegara lebih besar dibandingkan kandungan Hg di perairan Labuan. Kandungan Hg di perairan Bojonegara dan Labuan masih dapat ditolerir oleh kerang darah. Menurut Moore (1991) in Effendi (2003), kadar merkuri pada perairan laut berkisar antara <10-30
ng/l. Berdasarkan Kep Men LH No. 51 tahun 2004, baku mutu Hg masih dibawah ambang batas yang yaitu <0.008 mg/l.