i
SILVIANA NOVITA SARI
SKRIPSI
DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
ii
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:
Keragaman Morfometrik Kerang Darah (Anadara granosa) di Perairan Pesisir Banten
adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, September 2010
Silviana Novita Sari
iii
Silviana Novita Sari. C24062897. Keragaman Morfometrik Kerang Darah (Anadara granosa) di Perairan Pesisir Banten. Di bawah bimbingan M. Mukhlis Kamal dan Nurlisa A. Butet
Kerang darah dari kelas Bivalvia adalah salah satu hewan bentik bernilai
ekonomis penting dan menjadi salah satu sumber bahan pangan yang mengandung protein tinggi dengan lemak yang rendah. Perairan Bojonegara dan Labuan memiliki wilayah pesisir yang diduga potensi perikanannya tinggi terutama sumberdaya kekerangan. Diduga telah terjadi penurunan populasi kerang darah pada perairan tersebut, yang disebabkan baik oleh tekanan lingkungan maupun karena tekanan penangkapan. Produksi kerang darah di Indonesia pada tahun 2003 adalah 495.50 ton dan meningkat pada tahun 2004 menjadi 496.30 ton (DKP 2004). Eksploitasi A. granosa yang telah dilakukan bertahun-tahun, belum diimbangi oleh upaya penelitian untuk memperoleh informasi biologi dan peranan ekologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek-aspek morfometrik sehingga dapat memberikan gambaran mengenai ciri stok kerang darah (A. granosa) di perairan Bojonegara-Teluk Banten dan PLTU Labuan-Bojonegara-Teluk Lada. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi awal mengenai status stok kerang darah di perairan Bojonegara dan Labuan.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2009-Mei 2010 di Perairan Bojonegara dan Labuan, Banten. Alat dan bahan yang digunakan antara lain GPS, Van dorn Water Sampler, botol sample, Ekman grab, alat tangkap garok, ice box, kamera digital, termometer, refraktometer, reagen, kertas indikator pH, wadah, kaliper, dan timbangan digital. Parameter yang diamati meliputi panjang cangkang, tinggi cangkang, tebal cangkang, tinggi umbo, panjang ligament, berat total dan berat daging kerang darah. Analisis data mengenai korelasi morfometrik kerang darah dilakukan dengan metode Principal Component Analisis (PCA) menggunakan software STATISTIKA 6.
Selama pengamatan jumlah kerang darah yang ditemukan di perairan Bojonegara dan Labuan masing-masing sebanyak 493 individu dan 373 individu. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan diperoleh kerang darah di perairan Bojonegara dan Labuan memiliki persamaan hubungan panjang berat berturut-turut W = 0.022L1.812 dan W = 0.0007L2.786. Persentase rasio berat daging/berat total yang tertinggi di perairan Bojonegara pada selang kelas 36.8-39.9 mm yaitu 24.16% dan di Labuan pada selang kelas 11.2-14.3 mm yaitu 29.35 %. Ukuran panjang kerang darah yang diperoleh berkisar antara 1.12-4.55 cm. Kisaran ukuran morfometrik kerang darah di perairan Bojonegara umumnya lebih luas dibandingkan di perairan Labuan. Korelasi ciri morfometrik yang sangat erat di perairan Bojonegara dan Labuan ditunjukkan oleh hubungan berat daging (BD) dan berat total (BT). Perbandingan karakter antara panjang cangkang : tinggi cangkang (PC : TIC) dengan panjang cangkang : tebal cangkang (PC : TEC) di perairan Bojonegara memiliki korelasi positif tertinggi, sedangkan perbandingan karakter antara panjang
iv
demikian, dapat disimpulkan bahwa hubungan panjang berat di perairan Bojonegara dan Labuan memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif dan kerang darah pada kedua perairan ini berasal dari stok yang berbeda. Rencana pengelolaan yang dapat disarankan antara lain adalah pengaturan upaya penangkapan meliputi pengaturan ukuran mata jaring dan pengaturan ukuran tangkap.
v
SILVIANA NOVITA SARI C24062897
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
vi
Judul : Keragaman Morfometrik Kerang Darah (Anadara granosa) di Perairan Pesisir Banten
Nama Mahasiswa : Silviana Novita Sari Nomor Pokok : C24062897
Program Studi : Manajemen Sumberdaya Perairan
Menyetujui:
Pembimbing I, Pembimbing II,
Dr. Ir. M. Mukhlis Kamal, M.Sc Ir. Nurlisa A. Butet, M.Sc NIP. 132084932 NIP. 19651208 199011 2 001
Mengetahui:
Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan,
Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc NIP. 19660728 199103 1 002
vii
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini berjudul Keragaman Morfometrik Kerang Darah (Anadara granosa)
di Perairan Pesisir Banten; disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan
pada Desember 2009 hingga Mei 2010, dan merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Ir. M. Mukhlis Kamal, M.Sc. selaku dosen pembimbing pertama dan Ir. Nurlisa A. Butet, M.Sc selaku dosen pembimbing kedua serta Ir. Agustinus M. Samosir, M.Phil selaku Komisi Pendidikan S1 yang telah banyak membantu dalam pemberian bimbingan, masukan dan arahan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari skripsi ini masih banyak kekurangan, dikarenakan keterbatasan pengetahuan penulis. Namun, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk berbagai pihak.
Bogor, September 2010
Penulis
viii
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dr. Ir. M. Mukhlis Kamal, M.Sc dan Ir. Nurlisa A. Butet, M.Sc, masing-masing selaku ketua dan anggota komisi pembimbing skripsi dan akademik yang telah banyak memberikan arahan dan masukan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
2. Dr. Ir. Isdradjad Setyobudiandi, M.Sc selaku dosen penguji dan Ir. Agustinus M Samosir, M.Phil selaku ketua komisi pendidikan program S1 serta Dr. Ir. Yunizar Ernawati, MS selaku wakil dari komisi pendidikan program S1, atas saran, nasehat, dan perbaikan yang diberikan.
3. Para staf Laboratorium Produktivitas Lingkungan (Bu Ana, Ka Budi, dan Mas Adon) dan para staf Tata Usaha MSP yang sangat saya banggakan, terutama mba Widar dan Mba Yani.
4. Keluarga tercinta, Empih, Mamah, Teh Lia, Teh Irni, A”Afan, A”Aji, A”Sahrul serta Ananda Hafidz yang selalu memberikan semangat, doa, kasih sayang, dukungan, dan motivasinya.
5. Moh. Sanjiva Refi Hsb atas kesabaran, dukungan, motivasi, bantuan, dan pengertiannya selama menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi.
6. Anadara Team (Bu Wahyu, Kiki, Frida, Widya, Siti, Yuli, Intan, Yesti, Tyo, dan Danang) atas suka duka, perjuangan, kekompakan, kerjasama, dan semangatnya. 7. Teman-teman MSP 43 (Dian, Friska, Elin, Danto, Suryani, Wahyu, Damora, dan
Pandu) dan Rumah Ijo (Novi Ariyanti, Nirmaladewi, Mumun, Dede, Melly dan Nia) atas motivasi dan dukungan serta kasih sayang serta semangatnya.
8. Teman-teman MSP 41 (Irwan, Ipin, Titin), MSP 42 (Diana), MSP 44 (Ilman), dan ITK 43 (Daniel) atas bantuan, doa dan dukungannya.
ix
Penulis dilahirkan di Tangerang, pada tanggal 17 November 1987 dari pasangan Bapak Dada Suhanda dan Etin Mazini. Penulis merupakan putri keenam dari tujuh bersaudara. Pendidikan formal ditempuh di TK Pertiwi Tangerang (1994), SDN 1 Batubantar (2000), SLTPN 2 Pandeglang (2003), dan SMAN 6 Pandeglang (2006). Penulis lulus seleksi masuk ke Institut Pertanian Bogor pada tahun 2006 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI), dan masuk di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pada tahun 2007.
Selama mengikuti kegiatan perkuliahan di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, penulis berkesempatan untuk menjadi asisten Mata Kuliah Iktiologi (2008/2009 dan 2009/2010) dan Iktiologi Fungsional (2009/2010) serta aktif sebagai anggota departemen Infokom dan Social And Environment (SAE) pengurus Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (HIMASPER) pada tahun 2008/2009 dan 2009/2010.
Untuk menyelesaikan studi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, penulis melaksanakan penelitian yang berjudul ”Keragaman Morfometrik Kerang Darah
x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
1. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Perumusan Masalah ... 2 1.3. Tujuan Penelitian ... 3 1.4. Manfaat Penelitian ... 3 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1. Klasifikasi dan Morfologi Kerang Darah ... 4
2.1.1. Klasifikasi ... 4
2.1.2. Morfologi ... 4
2.2. Habitat Kerang Darah ... 5
2.3. Morfometrik ... 6
2.4. Hubungan Panjang Berat ... 7
2.5. Parameter Fisika-Kimia Perairan bagi Kehidupan Kerang Darah ... 8
2.5.1. Parameter fisika ... 8 2.5.2. Parameter kimia ... 10 2.6. Logam Berat ... 10 2.6.1. Timah hitam (Pb) ... 10 2.6.2. Kadmium (Cd) ... 11 2.6.3. Merkuri (Hg) ... 12 3. METODE PENELITIAN ... 14
3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 14
3.2. Metode Kerja ... 16
3.2.1. Pengambilan dan penanganan contoh air, substrat dan biota ... 16
3.2.2. Pengukuran dan pengamatan ... 16
3.2.2.1. Pengukuran karakter morfometrik kerang darah ... 16
3.2.2.2. Analisis kualitas air, sedimen dan daging ... 17
3.3. Analisis Data ... 19
3.3.1. Analisis karakter morfometrik ... 19
3.3.2. Hubungan panjang berat ... 20
3.3.3. Rasio berat daging/berat total ... 21
4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 22
4.1. Kondisi Umum Daerah Penelitian ... 22
4.1.1. Kondisi umum perairan Bojonegara-Teluk Banten ... 22
4.1.2. Kondisi umum perairan PLTU Labuan-Teluk Lada ... 23
4.2. Kondisi Habitat Kerang Darah Anadara granosa ... 24
4.2.1. Kualitas air ... 24
xi
4.6. Analisis Karakter Morfometrik ... 34
4.6.1. Analisis korelasi karakter morfometrik pada masing-masing lokasi penelitian ... 36
4.6.2. Analisis korelasi perbandingan karakter morfometrik pada masing-masing lokasi penelitian ... 38
4.6.3. Analisis korelasi karakter morfometrik dengan habitat ……….. 39
4.7. Rencana Pengelolaan Kerang Darah ... 41
5. KESIMPULAN DAN SARAN ……….. 43
5.1. Kesimpulan ... 43
5.2. Saran ... 44
DAFTAR PUSTAKA ... 45
xii
1. Biomagnifikasi merkuri pada beberapa organisme anggota jala makanan
pada ekosistem perairan ………... 12
2. Karakter morfometrik yang diukur ... 17
3. Perbandingan ukuran karakter morfometrik kerang darah ... 19
4. Parameter fisika, kimia, dan logam berat di perairan Bojonegara ... 24
5. Parameter fisika, kimia, dan logam berat di perairan Labuan ... 24
6. Kondisi sedimen di perairan Bojonegara ... 28
7. Kondisi sedimen di perairan Labuan ... 28
8. Kandungan logam berat pada kerang darah ... 30
9. Kisaran ukuran morfometrik pada kedua lokasi penelitian ... 34
10. Kisaran ukuran perbandingan karakter morfometrik pada kedua lokasi penelitian ... 35
xiii
1. Skema perumusan masalah ... 3
2. Kerang darah Anadara granosa (dokumentasi pribadi) ... 4
3. Lokasi penelitian perairan Bojonegara (google earth) . ... 14
4. Lokasi penelitian perairan Labuan (google earth) ... 15
5. Lokasi penelitian perairan Bojonegara dan Labuan (google earth) ... 15
6. Karakter morfometrik yang diukur (google) ... 17
7. Segitiga Millar (Brower et al. 1990) ... 18
8. Hubungan panjang berat kerang darah di perairan Bojonegara dan Labuan ... 32
9. Rasio berat daging/berat total rata-rata kerang darah selama penelitian di perairan Bojonegara dan Labuan ……….... 33
xiv
Halaman
1. Peta lokasi penelitian di perairan Bojonegara dan Labuan ………... 50
2. Foto alat-alat yang digunakan selama penelitian ... 50
3. Foto Kerang darah Anadara granosa yang diukur . ... 51
4. Analisis regresi panjang berat kerang darah perairan Bojonegara ... 52
5. Analisis regresi panjang berat kerang darah perairan Labuan ... 53
6. Contoh perhitungan rasio berat daging/berat total ... 54
7. Matriks korelasi karakter morfometrik perairan Bojonegara ... 54
8. Grafik korelasi karakter morfometrik perairan Bojonegara ... 54
9. Matriks korelasi karakter morfometrik perairan Labuan ……… 55
10. Grafik korelasi karakter morfometrik perairan Labuan ... . 55
11. Korelasi perbandingan karakter morfometrik perairan Bojonegara ... 55
12. Grafik korelasi perbandingan karakter morfometrik perairan Bojonegara ... 56
13. Matriks korelasi perbandingan karakter morfometrik perairan Labuan ... 56
14. Grafik korelasi perbandingan karakter morfometrik perairan Labuan ... 57
15. Nilai korelasi karakter morfometrik di kedua lokasi penelitian ... 57
16. Nilai korelasi perbandingan karakter morfometrik di kedua lokasi Penelitian ... 57
17. Nilai korelasi perbandingan karakter morfometrik dengan logam berat pada daging di perairan Bojonegara ... 58
18. Grafik korelasi karakter morfometrik dengan logam berat pada daging kerang darah di perairan Bojonegara ... 59
19. Nilai korelasi perbandingan karakter morfometrik dengan logam berat pada daging di perairan Labuan ... 60
20. Grafik korelasi karakter morfometrik dengan logam berat pada daging kerang darah di perairan Labuan ... 61
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perairan Bojonegara-Teluk Banten terletak di wilayah Kabupaten Serang, sedangkan perairan PLTU Labuan-Teluk Lada terletak di wilayah Kabupaten Pandeglang. Kedua Kabupaten ini memiliki wilayah pesisir yang diduga potensi perikanannya tinggi terutama sumberdaya kekerangan. Kerang dari kelas Bivalvia adalah salah satu hewan bentik bernilai ekonomis penting dan menjadi salah satu sumber bahan pangan yang mengandung protein tinggi dengan lemak yang rendah. Salah satu jenis kekerangan yang banyak terdapat di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang adalah kerang darah (Anadara granosa). Menurut Nurdin et al. (2006), kerang ini hidup di perairan pantai yang memiliki substrat pasir berlumpur pada ekosistem estuari, mangrove dan padang lamun.
Perairan Bojonegara dan Labuan menghadap Selat Sunda merupakan daerah yang potensial bagi penangkapan kerang darah. Diduga telah terjadi penurunan populasi kerang darah pada perairan tersebut, yang disebabkan baik oleh tekanan lingkungan maupun karena tekanan penangkapan. Produksi kerang darah di Indonesia pada tahun 2003 adalah 495.50 ton dan meningkat pada tahun 2004 menjadi 496.30 ton (DKP 2004). Eksploitasi A. granosa yang telah dilakukan bertahun-tahun, belum diimbangi oleh upaya penelitian untuk memperoleh informasi biologi dan peranan ekologi.
Menurut Mayunar et al. (1995), sejak tahun 1992 di sekitar pantai Bojonegara telah berdiri beberapa pabrik kimia, plastik, industri perakitan dan galangan kapal. Semua kegiatan tersebut akan menghasilkan berbagai limbah yang dapat menyebabkan pencemaran. Pencemaran perairan dapat menyebabkan toksisitas sehingga akan mempengaruhi perubahan bentuk tubuh, fisiologi dan tingkah laku kerang sedangkan tekanan penangkapan dapat menurunkan kelimpahan individu.
Salah satu upaya untuk membandingkan karakteristik morfologi kerang darah pada dua lingkungan yang berbeda, maka diperlukan studi morfometrik. Pengukuran morfometrik kerang darah (A. granosa) meliputi pengukuran panjang
cangkang, tinggi cangkang, tebal cangkang, tinggi umbo, panjang ligament, berat total, dan berat daging. Ukuran ini merupakan salah satu hal yang dapat digunakan sebagai ciri taksonomik yang berguna dalam hubungan kekerabatan dan penciri stok.
1.2. Perumusan Masalah
Perairan Bojonegara-Teluk Banten dan perairan PLTU Labuan-Teluk Lada memiliki tingkat eksploitasi dan kondisi lingkungan perairan yang berbeda. Tingkat eksploitasi perairan Bojonegara diduga relatif lebih rendah dibandingkan perairan Labuan. Hal ini dapat diduga karena kerang darah di perairan Bojonegara ditangkap dengan cara tradisional dengan menggunakan tangan, sedangkan di perairan Labuan dengan menggunakan alat tangkap garok. Kondisi perairan Bojonegara dipengaruhi oleh masukan bahan organik dan pencemar dari limbah domestik maupun limbah industri. Industri-industri yang berkembang di Bojonegara meliputi pabrik kimia, plastik, industri perakitan dan galangan kapal (Mayunar et al. 1995). Banyaknya industri besar maupun kecil akan berdampak pada lingkungan perairan Bojonegara. Hal ini berbeda dengan tingkat pencemaran di perairan Labuan yang hanya dipengaruhi oleh industri skala kecil, PLTU, perkebunan kelapa sawit dan limbah domestik dari pemukiman sehingga tingkat pencemaran di perairan Labuan diduga relatif lebih rendah dibandingkan dengan perairan Bojonegara.
Organisme di lingkungan yang berbeda akan memberikan respon yang berbeda. Respon ini diperlukan untuk beradaptasi, mempertahankan hidup dan bereproduksi. Respon yang paling mudah dilihat adalah adanya keragaman morfologi. Selain dapat mendeteksi pengaruh lingkungan, keragaman morfologi juga dapat digunakan untuk melihat tingkat eksploitasi. Keragaman morfologi yang akan dikaji pada penelitian ini adalah panjang cangkang, tinggi cangkang, tebal cangkang, tinggi umbo, panjang ligament, berat total, dan berat daging. Informasi dari keragaman morfologi diharapkan dapat dimanfaatkan untuk studi lanjutan mengenai status taksonomi dan pengelolaan satuan stok A. granosa. Skema perumusan masalah dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Skema Perumusan Masalah
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek-aspek morfometrik sehingga dapat memberikan gambaran mengenai ciri stok kerang darah (A. granosa) di perairan Bojonegara-Teluk Banten dan PLTU Labuan-Teluk Lada.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi awal mengenai status stok kerang darah di perairan Bojonegara-Teluk Banten dan PLTU Labuan-Teluk Lada.
Kerang darah (A. granosa)
Kondisi perairan Bojonegara : Limbah industri dan limbah domestik PLTU Labuan : PLTU, perkebunan kelapa sawit, dan limbah domestik Tingkat Pencemaran Mobilitas rendah Adaptasi morfologi Strategi pengelolaan Eksploitasi Bojonegara : Tangan Labuan : Garok Penurunan populasi
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Klasifikasi dan Morfologi Kerang Darah 2.1.1. Klasifikasi
Klasifikasi kerang darah Anadara granosa menurut Broom (1985) adalah sebagai berikut :
Filum : Mollusca Kelas : Bivalvia Famili : Arcidae Sub famili : Anadarinae Genus : Anadara
Spesies : Anadara granosa Nama Umum : Blood cockle Nama Lokal : Kerang darah
Gambar 2. Kerang darah Anadara granosa (Dokumentasi pribadi)
2.1.2. Morfologi
Storer et al. (1977) in Erianto (2005), menyatakan bahwa kelas bivalvia memiliki bentuk tubuh simetris bilateral dengan tubuh lunak yang memadati antara dua cangkang lateral. Bivalvia tidak memiliki kepala dan memiliki kaki yang berbentuk kampak. Cangkang yang melindungi tubuh berbentuk bulat yang ditandai dengan garis lingkar yang berputar memusat ke arah tempat yang lebih besar (umbo) dekat dengan ujung anterior bagian dorsal. Menurut Barnes (1987), garis lingkar ini
menunjukkan adanya pertumbuhan cangkang, umur kerang dan kondisi kerang dimana kerang tersebut tumbuh.
Menurut Storer et al. (1977) in Erianto (2005), sendi ligamen menahan cangkang bagian dorsal secara bersama-sama dan membentang untuk membuat kedua belah cangkang berpisah secara ventral serta memiliki satu atau dua pasang otot adduktor. Otot ini berperan dalam membuka cangkang dan menggerakkan kakinya. Barnes (1987) menyatakan bahwa antara otot adduktor dan hinge ligament ini bekerja secara otomatis. Hinge ligament merupakan pita elastik yang terdiri dari bahan organik seperti zat tanduk (conchiolin).
Menurut Nybakken (1988), warna cangkang bivalvia dipengaruhi oleh warna substrat dan tipe ekosistem seperti ekosistem air tawar, estuari dan laut. Dance (1977) in Hery (1998) menyatakan bahwa kerang darah mempunyai cangkang yang tebal, berbentuk agak ellips dan terdapat 20-21 garis vertikal pada permukaan yang dimulai sampai dengan bagian dorsal.
Pada umumnya moluska bivalvia adalah pemakan deposit. Secara khusus moluska bivalvia dapat beradaptasi sebagai pemakan suspensi, namun tidak dapat menyaring air dengan baik pada tingkat padatan tersuspensi yang tinggi. Dengan demikian, walaupun moluska bivalvia bersifat pemakan deposit tetapi cenderung untuk menghindari wilayah yang bersubstrat lumpur halus karena di wilayah ini terjadi proses pelarutan padatan partikel yang lebih kecil (Broom 1988 in Hery 1998).
2.2. Habitat Kerang Darah
Kehidupan moluska bentik secara umum dipengaruhi oleh kualitas perairannya, antara lain jenis substrat tempat hidup, kekeruhan, pH, suhu, salinitas, kandungan oksigen terlarut dan polutan (Nybakken 1988). Komunitas hewan bentik yang banyak ditemukan di daerah estuari adalah krustasea, moluska dan polikaeta. Menurut Kennis (1990) in Hery (1998), distribusi hewan bentik di daerah ini ditentukan oleh faktor fisik yaitu gelombang, arus dan tipe sedimen. Nybakken (1988) menyatakan bahwa penggali pemakan deposit cenderung melimpah pada substrat lumpur dan substrat lunak yang merupakan daerah dengan kandungan bahan organik yang tinggi, sedangkan pemakan suspensi terdapat lebih melimpah pada
substrat yang lebih mengandung pasir dengan kandungan bahan organik lebih sedikit. Menurut Broom (1985), kerang darah dari populasinya terbesar umumnya ditemukan pada daerah pasang surut berlumpur lunak berbatasan dengan hutan bakau.
Squares et al. (1975) in Hery (1998) menyatakan bahwa Anadara spp. banyak ditemukan pada lumpur halus atau kadang-kadang pada pasir berlumpur dan berlindung atau berasosiasi dengan mangrove di sebagian besar daerah tropis. Menurut Dharma (1988) in Prawuri (2005), moluska termasuk binatang yang sangat berhasil menyesuaikan diri untuk hidup di beberapa tempat dan cuaca. Dharma (1992) in Prawuri (2005) menyatakan bahwa keempat jenis kerang yaitu Anadara antiquata, Anadara granosa, Barbatia decussata dan Scapharca pilula hidup pada laut dangkal yang berlumpur dan mudah ditemukan dalam jumlah yang banyak.
Pathansali (1966) menyatakan bahwa Anadara granosa ditemukan juga pada lumpur berpasir tetapi jumlah dan ukurannya tidak sebaik di lumpur halus. Menurut Mzighani (2005), kerang darah hidup mengelompok dan umumnya banyak ditemukan pada substrat yang kaya kadar organik. Distribusi kerang tersebut meliputi Australia, Laut Merah, Laut China Selatan, Vietnam, China, Hongkong (Xianggang), Thailand, Philipina, Jepang dan Indonesia yang tersebar di kawasan pesisir pantai (OBIS 2006 in Nurdin et al. 2006).
2.3. Morfometrik
Morfometrik adalah ciri yang berkaitan dengan ukuran tubuh atau bagian tubuh organisme. Ukuran ini merupakan salah satu hal yang dapat digunakan sebagai ciri taksonomik saat mengidentifikasi organisme. Ukuran yang dimaksud adalah jarak antara satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain. Hasil pengukuran biasanya dinyatakan dalam satuan millimeter atau centimeter, ukuran ini disebut ukuran mutlak. Tiap spesies memiliki ukuran mutlak yang berbeda-beda. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh umur, jenis kelamin, dan lingkungan hidupnya. Faktor lingkungan yang mempengaruhi misalnya makanan, suhu, pH, dan salinitas. Faktor lingkungan juga mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan organisme, sehingga pada umur yang sama suatu spesies, ukuran mutlaknya dapat berbeda (Affandi et al. 1992).
Karakter morfometrik dapat membantu dalam menyediakan informasi untuk pendugaan stok sebaran populasi dalam habitat atau lingkungan perairan tempat hidupnya. Pada moluska, ciri morfometrik yang umumnya diamati meliputi panjang cangkang, tinggi cangkang, tebal cangkang, tinggi umbo, panjang ligament, berat total dan berat daging. Menurut Jolicoeur dan Worimann (1960) in Ramesha dan Thippeswamy (2009), beberapa individu yang memiliki panjang yang sama dapat memiliki ukuran lebar dan tebal yang berbeda dan memiliki bentuk yang bervariasi. Lingkungan yang bervariasi dapat mempengaruhi bentuk cangkang bivalvia. Berdasarkan penelitian Broom yang melakukan pengambilan contoh Anadara granosa pada perairan yang alami selama enam bulan menemukan bahwa panjang A. granosa dapat mencapai 4-5 mm, sedangkan pengambilan setelah satu tahun panjangnya mencapai 30 mm. Hal tersebut dapat bervariasi tergantung dengan kondisi lingkungannya (Broom 1982).
2.4. Hubungan Panjang Berat
Menurut Effendie (1997), pertumbuhan merupakan suatu proses biologis yang dirumuskan sebagai pertambahan ukuran panjang dan berat tubuh dalam suatu periode tertentu. Pertumbuhan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). Faktor internal diantaranya adalah keturunan, umur, parasit dan penyakit, sedangkan faktor eksternal adalah makanan dan suhu (Effendie 1985). Analisa hubungan panjang-berat bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan dengan menggunakan parameter panjang dan berat. Berat dianggap sebagai suatu fungsi dari panjang. Nilai dari hubungan panjang-berat ini dapat memberikan keterangan mengenai pertumbuhan, kemontokan, dan perubahan lingkungan terhadap organisme dapat diketahui (Effendie 1997).
Terdapat dua pola pertumbuhan organisme yaitu pertumbuhan isometrik (b=3) dan allometrik (b≠3) (Effendie 1997). Pola pertumbuhan isometrik adalah pertambahan panjang yang seimbang dengan pertambahan beratnya, sedangkan pertumbuhan allometrik adalah pertambahan panjang yang tidak seimbang dengan pertambahan beratnya. Pertumbuhan allometrik positif dinyatakan apabila nilai b>3 yang menandakan bahwa pertambahan berat lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan panjangnya, sedangkan pertumbuhan allometrik negatif dinyatakan
apabila nilai b<3 yang menandakan bahwa pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan berat (Effendie 1997). Penelitian Ramesha dan Thippeswamy pada tahun 2005 di sungai Kempuhole India, menunjukkan bahwa pola pertumbuhan Parreysia corrugate pada bulan juni-juli 2005 bersifat allometrik negatif (Ramesha dan Thippeswamy 2009).
2.5. Parameter Fisika-Kimia Perairan bagi Kehidupan Kerang Darah 2.5.1. Parameter fisika
Parameter fisika yang mempengaruhi kehidupan kerang darah diantaranya adalah suhu, salinitas, arus, dan tekstur tanah. Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengontrol kehidupan dan penyebaran organisme dalam suatu perairan. Suhu akan mempengaruhi aktivitas metabolisme dan perkembangbiakkan dari organisme tersebut (Nybakken 1988). Suhu air juga akan menentukan kehadiran dari spesies-spesies akuatik, mempengaruhi pemijahan dan penetasan serta aktivitas dan rangsangan yang dapat menghambat pertumbuhan spesies (NTAC 1968 in Koesoebiono 1979).
Organisme akuatik memiliki kisaran suhu tertentu yang dapat mempengaruhi pertumbuhannya (Effendi 2003). Hewan yang hidup di zona pasang surut dan sering mengalami kekeringan, mempunyai daya tahan yang besar terhadap perubahan suhu (Nontji 1987). Menurut Squares et al. (1975) in Hery (1998), Anadara spp selalu berlindung pada mangrove dengan kisaran suhu dalam lumpur antara 26.0-37.5°C disesuaikan dengan waktu dan puncak sinar matahari. Penelitian Boonruang dan Janekarn pada tahun 1983 di Phuket Thailand, A. granosa dapat ditemukan pada suhu 25-32.8°C (Broom 1985).
Nybakken (1988) mendefinisikan salinitas sebagai jumlah garam-garam yang terlarut dalam satu kilogram air laut. Salinitas mempunyai peranan penting dalam kehidupan organisme, misalnya dalam distribusi biota akuatik. Bervariasinya nilai salinitas dapat mempengaruhi pola adaptasi dan kelimpahan hewan bentik (Nybakken 1988). Nilai salinitas perairan tawar biasanya kurang dari 0.5‰, perairan payau antara 0.5‰-30‰, dan perairan laut 30‰-40‰.
Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan, dan aliran sungai (Nontji 1987). Organisme
yang cukup adaptif dan mampu bertahan dengan baik terhadap perubahan adalah organisme yang berasal dari kelas Polychaeta, Bivalvia, dan Crustacea (Nybakken 1988). Menurut Pathansali (1966) menyatakan bahwa A. granosa L. dapat ditemukan di perairan yang memiliki salinitas 18-30‰.
Menurut Nontji (1987), arus merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dapat disebabkan oleh tiupan angin, karena perbedaan dalam densitas air laut atau disebabkan oleh gerakan gelombang. Nybakken (1988) menyatakan bahwa arus mempengaruhi penyebaran organisme laut dan juga menentukan tipe substrat. Arus yang kuat dapat menyebabkan ketidakseimbangan dasar perairan yang lunak seperti dasar perairan berpasir atau berlumpur.
Nontji (1987) menyatakan bahwa arus yang disebabkan oleh pasang surut biasanya lebih banyak terdapat di perairan pesisir dan estuari. Pergerakan air yang cukup lambat di daerah berlumpur menyebabkan partikel-partikel halus mengendap dan detritus melimpah. Menurut Mann (1982), pergerakan air pada daerah berpasir cenderung besar sehingga fauna yang memanfaatkan daerah ini adalah filter feeder.
Odum (1993) menyatakan bahwa karakter dasar suatu perairan menentukan penyebaran hewan bentik, dimana masing-masing tipe tekstur menentukan komposisi jenis hewan bentik. Substrat didefinisikan sebagai campuran dari fraksi lumpur, pasir, dan liat dalam tanah (Brower et al. 1990). Menurut Nybakken (1988), jenis substrat dan ukurannya merupakan salah satu faktor ekologi yang mempengaruhi kandungan bahan organik dan distribusi hewan bentik. Kemampuan menjebak bahan organik dalam sedimen semakin meningkat seiring dengan semakin halusnya substrat.
Jenis-jenis dari bivalvia dapat tumbuh dan berkembang pada sedimen halus, karena memiliki alat-alat fisiologi khusus untuk dapat beradaptasi pada lingkungan perairan yang memiliki tipe substrat berlumpur. Pathansali (1966) menyatakan bahwa Anadara granosa dilihat dari habitatnya hidup pada substrat dengan kandungan lumpur halus berukuran kurang dari 0.124 mm sebanyak dari 90% pada hamparan pasang yang terlindung dari ombak dan terletak di muara atau di luar dengan salinitas antara 18-30‰.
2.5.2. Parameter kimia
Parameter kimia yang mempengaruhi kehidupan kerang darah diantaranya adalah oksigen terlarut (DO) dan pH. Nontji (1987) menyatakan bahwa ada lima faktor yang mempengaruhi sebaran kandungan oksigen terlarut di laut yaitu suhu, salinitas, kegiatan biologi, arus dan percampuran massa air.
A. granosa juga disebut Bloody Cockles karena terdapat kandungan haemoglobin dalam eritrosit darahnya yang memungkinkan untuk dapat bertahan hidup pada perairan yang mempunyai kadar oksigen terlarut rendah (Broom 1988 in Hery 1998). Secara menyeluruh kerang darah mampu mengatasi kondisi “hypoxia” dan “anoxia” yaitu dengan meningkatkan laju penyerapan oksigen sebanyak 2.8 kali dari keadaan normal, sampai kandungan oksigen habitatnya menjadi normal kembali (Davenport dan Wong in Prawuri 2005). Penelitian Setyobudiandi et al. di perairan Marunda ditemukan bahwa kerang lamis dapat ditemukan pada perairan yang memiliki kandungan oksigen 2.01-9.24 mg/l (Setyobudiandi et al. 2004).
Tebbut (1992) in Effendi (2003) menyatakan bahwa pH hanya menggambarkan konsentrasi ion hidrogen. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH. Organisme perairan mempunyai kemampuan yang berbeda dalam mentoleransi pH perairan. Sebagian besar spesies akuatik menyukai pH yang mendekati nilai netral yaitu berkisar antara 7-8.5. Penelitian Setyobudiandi et al. di perairan Marunda ditemukan bahwa kerang lamis dapat ditemukan pada perairan yang memiliki kisaran pH antara 6.5-7.5 (Setyobudiandi et al. 2004).
2.6. Logam Berat 2.6.1. Timah hitam (Pb)
Kelarutan timah hitam (Pb) di perairan cukup rendah sehingga kadarnya di perairan relatif kecil. Kadar dan toksisitas timah hitam dipengaruhi oleh kesadahan, pH, alkalinitas, dan oksigen. Toksisitas Pb terhadap organisme akuatik berkurang dengan meningkatnya kesadahan dan kadar oksigen terlarut. Pb dapat berasal dari pupuk, insektisida, pestisida, produk kosmetik, dan asap rokok.
Di perairan laut, nilai Pb yang diperbolehkan untuk keberlangsungan hidup organisme akuatik adalah 5.6 ppb (Laws 1993). Menurut KepMen LH No. 51 Tahun 2004, baku mutu Pb yaitu <0.001 mg/l. Timah hitam tidak termasuk unsur yang
esensial bagi makhluk hidup, bahkan unsur ini bersifat toksik bagi hewan dan manusia karena dapat terakumulasi pada tulang.
Menurut Marasabessy dan Edward (2002), logam berat Pb yang terakumulasi dalam tubuh biota akan terus meningkat dengan adanya proses biomagnifikasi di badan perairan. Terjadinya kontaminasi zat beracun pada organisme perairan dapat melalui 3 cara, yaitu melalui permukaan organisme, melalui respirasi atau ingesti dari air dan melalui pengambilan makanan (zooplankton dan fitoplankton) yang mengandung bahan pencemar kimia (Jardin 1993 in Suprapti 2008).
Kemampuan biota laut (ikan, udang dan moluska) dalam mengakumulasi logam berat di perairan tergantung pada jenis logam berat, jenis biota, lama pemaparan serta kondisi lingkungan seperti pH, suhu dan salinitas. Semakin besar ukuran biota air, maka akumulasi logam berat semakin meningkat (Hutagalung 1991 in Buwono et al. 2005). Timah hitam dapat menutupi lapisan mukosa pada organisme akuatik dan selanjutnya dapat mengakibatkan sufokasi. Menurut Sukiyanti (1987) in Buwono et al. (2005), toksisitas logam berat dalam kerang yang ditimbulkan akibat akumulasi dalam jaringan tubuh mengakibatkan keracunan dan kematian bagi biota air yang mengkonsumsinya.
Toksisitas akut Pb terhadap beberapa jenis avertebrata air tawar dan laut berkisar antara 0.5-5.0 mg/liter (Effendi 2003). Menurut Hutagalung dan Sutomo (1996), tingginya kadar Pb, Cd, Cu, dan Zn dalam sedimen di perairan Teluk Banten dimungkinkan oleh sifat perairannya yang relatif tenang sehingga memperbesar kesempatan senyawa logam berat tersebut untuk mengendap di dasar perairan.
2.6.2. Kadmium (Cd)
Kadmium (Cd) di dalam air terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit dan bersifat tidak larut dalam air. Sumber alami kadmium adalah berasal dari letusan vulkanik, kebakaran hutan, pupuk yang mengandung Cd dan terbawa aliran sungai (Laws 1993). Kadar kadmium pada perairan laut sekitar 0.0001 mg/liter (McNeely et al. 1979 in Effendi 2003). Menurut KepMen LH No. 51 Tahun 2004, baku mutu Cd yang ditetapkan yaitu <0.001 mg/l.
Menurut Lestari dan Edward (2004), Cd merupakan salah satu logam berat yang bersifat racun dan merugikan bagi semua organisme hidup, bahkan juga
berbahaya untuk manusia. Untuk melindungi kehidupan pada ekosistem akuatik, perairan sebaiknya memiliki kadar kadmium sekitar 0.0002 mg/l (Moore 1991 in Effendi 2003).
Bila dibedakan menurut jenis kerang, terlihat bahwa kadar maksimum Cd dalam kerang darah relatif lebih tinggi dibandingkan kadar Cd maksimum dalam kerang yang lain, oleh karena itu kerang darah akan lebih baik bila dipakai sebagai bioindikator dibandingkan kerang hijau dan kerang bulu (Inswiasri 1993). Berdasarkan penelitian Aunurohim di kepulauan Kangen pada tahun 2004, diketahui bahwa spesies A. scapha yang lebih besar atau berumur lebih tua mengakumulasi logam berat lebih tinggi dibandingkan spesies yang berukuran kecil atau yang masih muda (Aunurohim 2009).
2.6.3. Merkuri (Hg)
Senyawa merkuri (Hg) dapat mengalami bioakumulasi dan biomagnifikasi pada biota perairan, baik secara langsung ataupun melalui jala makanan (food web). Organisme yang berada pada rantai yang paling tinggi (manusia) memiliki kadar merkuri yang lebih tinggi daripada organisme di bawahnya. Kadar merkuri dalam berbagai organisme yang merupakan anggota jala makanan pada ekosistem perairan ditunjukkan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Biomagnifikasi merkuri pada beberapa organisme anggota jala makanan pada ekosistem perairan
Jenis Organisme Kadar Merkuri (µg/kg berat basah)
1. Sedimen 87-114 2. Fitoplankton 15 3. Tumbuhan tingkat tinggi 9
4. Zooplankton 13 5. Zoobentos herbivora 77
6. Zoobentos karnivora 83 7. Jenis ikan hebivora 332-500 8. Jenis ikan karnivora 604-1.510
9. Bebek/itik 240 10. Burung pemakan ikan 2.512-13.685
Kadar merkuri pada perairan laut berkisar antara <10-30 ng/liter (Moore 1991 in Effendi 2003). Menurut KepMen LH No. 51 tahun 2004, baku mutu Hg yaitu <0.008 mg/l. Senyawa merkuri bersifat sangat toksik bagi manusia dan hewan. Berdasarkan Kep. Ditjen POM No. 03725/B/SK/VII/1989 dan FAO/WHO (1976) in Buwono et al. (2005), kadar maksimum kandungan logam Hg pada biota laut yang boleh dikonsumsi sebesar 0.5 ppm dan tidak boleh melebihi 0.2 mg per 70 kg berat badan per minggu sebagai metil merkuri. Sifat toksik logam Hg dalam bentuk senyawa HgCl2 dengan konsentrasi 0.027 ppm menyebabkan kematian pada larva
3. METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di perairan Bojonegara-Teluk Banten dan perairan PLTU Labuan-Teluk Lada, Banten selama lima bulan mulai bulan Desember 2009 hingga bulan Mei 2010. Perairan Bojonegara memiliki titik koordinat 5°59’37.8’’ LS dan 106°6’34.3’’ BT. Perairan ini termasuk dalam wilayah Desa Margarigi, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang. Perairan pesisir Labuan memiliki titik koordinat 6°26'56.2" LS dan 105°49'14.3"BT. Perairan ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Labuan dan Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Jumlah stasiun pada kedua lokasi berjumlah 3 stasiun. Lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 3, Gambar 4, dan Gambar 5.
Gambar 3. Lokasi penelitian perairan Bojonegara (google earth)
Gambar 4. Lokasi penelitian perairan Labuan (google earth)
Gambar 5. Lokasi penelitian perairan Bojonegara dan Labuan (google earth)
3.2. Metode Kerja
3.2.1. Pengambilan dan penanganan contoh air, substrat dan biota
Pengambilan contoh air dilakukan menggunakan Van dorn Water Sampler. Parameter yang diukur secara in situ meliputi suhu, salinitas, arus, DO, dan pH. Contoh air yang diperoleh dimasukkan ke dalam botol sample yang telah diberi label untuk dilakukan pengukuran secara ex situ di laboratorium yang meliputi logam berat (Pb, Cd, dan Hg). Pengambilan contoh substrat dasar perairan dilakukan satu kali pada setiap lokasi pengamatan menggunakan Ekman grab. Substrat yang diperoleh dimasukkan ke dalam kantong plastik yang telah diberi label untuk dilakukan pengukuran secara ex situ di laboratorium.
Pengambilan kerang dilakukan dengan menggunakan alat tangkap garok yang ditarik oleh kapal nelayan yang memiliki ukuran mesin sebesar 23 pk. Garok adalah alat tangkap yang dioperasikan di dasar perairan. Pada penelitian ini mesh size yang digunakan adalah 1 inchi dengan lebar bukaan mulut sebesar 70 cm. Kerang yang diperoleh dimasukkan ke dalam kantong plastik yang telah diberi label dan kemudian dimasukkan ke dalam ice box.
3.2.2. Pengukuran dan pengamatan
3.2.2.1. Pengukuran karakter morfometrik kerang darah
Kerang darah yang ditangkap kemudian diukur morfometriknya. Identifikasi dan pengukuran morfometrik kerang darah (A. granosa) dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hewan Air, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Karakter morfometrik yang diukur adalah panjang cangkang, tinggi cangkang, tebal cangkang, tinggi umbo, panjang ligament, berat total dan berat daging. Pengukuran morfometrik kerang darah ini dilakukan dengan menggunakan alat kaliper atau jangka sorong. Kerang yang telah diukur morfometriknya kemudian diletakkan di wadah yang telah diberi label untuk dilakukan penimbangan bobot total dan bobot daging.
Pengukuran berat total dan berat daging dilakukan dengan menggunakan timbangan digital. Berat total kerang diukur dengan cara menimbang kerang secara keseluruhan beserta cangkangnya, sedangkan untuk berat daging diukur dengan cara menimbang daging kerang yang telah dipisahkan dari cangkangnya. Pemisahan
cangkang dari tubuhnya dilakukan dengan jalan memotong otot adduktornya. Karakter morfometrik yang diukur dapat dilihat pada Tabel 2 dan Gambar 6.
Tabel 2. Karakter morfometrik yang diukur
No. Karakter Morfometrik
1 Panjang cangkang Jarak dari bagian anterior sampai bagian posterior kerang
2 Tinggi cangkang Jarak dari bagian dorsal yaitu pada bagian umbo sampai
bagian ventral
3 Tebal cangkang Jarak terjauh antara cangkang kanan dan cangkang kiri
4 Tinggi umbo Tinggi cangkang dikurangi dengan tinggi dari ventral
sampai ligament
5 Panjang ligament Jarak antara anterior sampai posterior pada bagian dorsal
cangkang
Gambar 6. Karakter morfometrik yang diukur (google)
Keterangan :
PC = Panjang cangkang TIC = Tinggi cangkang TEC = Tebal cangkang TU = Tinggi umbo PL = Panjang ligament
3.2.2.2. Analisis kualitas air, sedimen dan daging
Pengukuran di laboratorium meliputi substrat dasar perairan dan logam berat (Pb, Cd, dan Hg). Analisis kualitas air, sedimen dan daging kerang darah dilakukan di Laboratorium Produktivitas Lingkungan, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Analisis substrat dasar perairan dilakukan untuk mengetahui komposisi (%) pasir, debu, dan liat. Penentuan tekstur substrat dilakukan dengan mencocokkan persentase pasir, debu, dan liat dengan segitiga Millar. Segitiga Millar dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Segitiga Millar (Brower et al. 1990)
Langkah-langkah penentuan tekstur dasar perairan :
• Menentukan komposisi dari masing-masing fraksi substrat, misalnya fraksi pasir 69.14%, debu 18.35%, dan liat 12.51%.
• Menarik garis pada sisi persentase pasir di titik 69.14% sejajar dengan sisi persentase debu. Untuk fraksi liat, garis ditarik dari titik 12.51% sejajar dengan persentase pasir. Kemudian untuk fraksi debu, garis ditarik dari titik 18.35% sejajar dengan sisi persentase liat.
• Hasil pertemuan ketiga titik berada pada tekstur lempung berpasir.
Analisis logam berat (Pb, Cd, dan Hg) pada air, sedimen, dan daging kerang darah (A. granosa) dilakukan dengan cara langsung untuk contoh air dan cara kering (pengabuan) untuk contoh sedimen. Kerang darah pada perairan Bojonegara
memiliki ukuran besar (>3 cm) dan ukuran kecil (<3 cm), sedangkan pada perairan Labuan ukuran besar (>2.5 cm) dan kecil (<2.5 cm). Perbedaan ukuran ini dikarenakan oleh perbedaan ukuran kerang darah yang tertangkap pada masing-masing lokasi pengamatan. Penentuan kandungan logam berat terbagi atas beberapa tahap, yaitu preparasi, ekstraksi dan injeksi. Tahap preparasi dilakukan pada sedimen dan daging kerang darah. Sebelum dianalisis sedimen dan daging kerang dikeringkan terlebih dahulu selama satu hari di dalam oven dengan suhu 105ºC. Kemudian dilakukan penggerusan hingga halus agar homogen dengan menggunakan mortar dan cawan petri. Setelah halus, sedimen dan kerang darah ditimbang sebanyak 0.5 gram dan dilakukan pemanasan kembali dengan penambahan bahan H2SO4 dan HNO3. Hasil dari pemanasan tersebut dilarutkan kembali dengan etanol
37%.
Tahap ekstraksi dilakukan pada ketiga contoh, yaitu air laut, sedimen dan daging kerang (setelah tahap preparasi) dengan menggunakan bantuan alat corong pemisah dengan penambahan larutan standar logam seperti Kalium Natrium
Tartarat, Hydroxylamin, dan KCN (Kalium Sianida) serta larutan ditizhon diaduk
hingga homogen. Setelah tahap ekstraksi selesai dilakukan tahap injeksi dengan memisahkan supernatant dari larutan contoh untuk dianalisis menggunakan bantuan alat spektrofotometer.
3.3. Analisis Data
3.3.1. Analisis karakter morfometrik
Dari tujuh karakter morfometrik yang diukur, dibuat perbandingan ukuran. Perbandingan ukuran karakter morfometrik kerang darah dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Perbandingan ukuran karakter morfometrik kerang darah
No. Perbandingan Ukuran
1 Panjang Cangkang : Tinggi Cangkang
2 Panjang Cangkang : Tebal Cangkang
3 Panjang Cangkang : Panjang Ligament
4 Tinggi Cangkang : Tebal Cangkang
3.3.2. Hubungan panjang berat
Untuk menganalisis hubungan panjang-berat kerang darah digunakan rumus sebagai berikut (Effendie 1997) :
W = aLb
Keterangan :
W = Berat total (gr)
L = Panjang cangkang (mm)
a = Intersep (perpotongan kurva hubungan panjang-berat dengan sumbu y) b = Penduga pola pertumbuhan panjang-berat
Untuk mendapatkan persamaan linier atau garis lurus digunakan persamaan sebagai berikut:
Log W = Log a + b Log L
Untuk mendapatkan parameter a dan b, digunakan analisis regresi dengan log W sebagai ‘y’ dan log L sebagai ‘x’, maka didapatkan persamaan regresi :
y = a + bx
Untuk menguji nilai b = 3 atau b ≠ 3 dilakukan uji-t, dengan hipotesis (Effendie 1997) :
H0 : b = 3, hubungan panjang dengan berat adalah isometrik
H1 : b ≠ 3, hubungan panjang dengan berat adalah allometrik, yaitu :
- Allometrik positif, jika b>3 (pertambahan berat lebih cepat dibandingkan pertambahan panjang)
- Allometrik negatif, jika b<3 (pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan berat
thitung = 1 0 1 Sb b b −
Keterangan :
b1 = Nilai b (dari hubungan panjang-berat)
b0 = 3
Sb1 = Simpangan koefisien b
Bandingkan nilai thitung dengan nilai ttabel pada selang kepercayaan 95%.
Selanjutnya untuk mengetahui pola pertumbuhan organisme, kaidah keputusan yang diambil adalah :
thitung > ttabel : tolak hipotesis nol (H0)
thitung <ttabel : gagal tolak hipotesis nol (H0)
3.3.3. Rasio berat daging/berat total
Perhitungan ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar persentase daging yang terkandung dalam cangkangnya dari keseluruhan berat total. Hubungan ini dilakukan dengan cara perbandingan berat daging dengan berat total dikalikan 100%. Menurut Prawuri (2005) rasio berat daging/berat total ini digunakan rumus sebagai berikut:
Rasio Bd = (Bd/Bt) X 100%
Keterangan :
Bd = berat daging (gr) Bt = berat total (gr)
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Kondisi Umum Daerah Penelitian
4.1.1. Kondisi umum perairan Bojonegara-Teluk Banten
Secara administratif perairan Bojonegara-Teluk Banten termasuk dalam wilayah Desa Margarigi, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Wilayah Bojonegara menghadap langsung ke Teluk Banten dengan perairan teluk yang tenang. Perairan Bojonegara memiliki batas-batas administratif yaitu : - Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kerang Kepuh - Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Terate - Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Banten
Berdasarkan hasil pengamatan Mayunar et al. pada tahun 1992, perairan Bojonegara mempunyai pantai yang landai dengan dasar perairan yang terdiri dari lumpur bercampur pasir yang kedalamannya tidak lebih dari 13 m (Mayunar et al. 1995). Kegiatan-kegiatan yang berada di sekitar Teluk Banten meliputi kegiatan perikanan, suaka alam, dan industri. Di wilayah Bojonegara memiliki potensi sumberdaya kelautan untuk pengembangan kegiatan penangkapan kerang. Kerang yang terdapat di perairan Bojonegara diantaranya adalah kerang darah, kerang bulu, kerang mencos dan kerang tahu. Kerang tersebut ditangkap dengan cara tradisional dengan menggunakan tangan karena perairannya memiliki kedalaman yang dangkal. Disekitar kawasan tersebut telah berdiri kawasan industri yang dikembangkan adalah penambangan batu, PLTU Suralaya, industri plastik, pengeboran minyak lepas pantai, galangan kapal palwa, industri logam dasar, kimia dasar, rekayasa dan rancang bangun.
Beberapa sungai yang mengalir menuju Teluk Banten diantaranya adalah Sungai Domas, Sungai Soge, Sungai Kemanyungan, Sungai Banten, Sungai Pelabuhan, Sungai Baros, dan Sungai Wadas. Sungai-sungai ini melintasi daerah perindustrian yang terdapat di sekitar Teluk Banten sehingga akan menghasilkan berbagai limbah yang secara langsung maupun tidak langsung dapat masuk ke dalam perairan (Mayunar et al. 1995).
Penelitian Mayunar et al. pada tahun 1992 di Teluk Banten, diperoleh bahwa suhu di Teluk Banten berkisar antara 28.7-30.5°C, pH berkisar antara 7.2-8.2 dan oksigen terlarut berkisar antara 4.2-6.6 mg/l. Kandungan kadmium (Cd) yang terdapat di perairan Teluk Banten berkisar antara 0-0.20 mg/l dan nilai Merkuri (Hg) berkisar antara 0.52-2.89 mg/l.
4.1.2. Kondisi umum perairan PLTU Labuan-Teluk Lada
Secara geografis Kabupaten Pandeglang terletak antara 6º21’-7º10’ LS dan 104º48’-106º11’ BT, memiliki luas wilayah 2.747 km2 (274.689.91 ha) atau sebesar 29.98% dari luas Provinsi Banten dengan panjang pantai mencapai 307 km. Secara administratif dibagi menjadi 322 Desa, 13 Kelurahan dan 31 Kecamatan, dengan batas-batas administrasi, yaitu:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Serang - Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Sunda
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia - Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lebak
Perairan pesisir PLTU Labuan-Teluk Lada berada di wilayah Kecamatan Labuan dan Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Perairan PLTU Labuan-Teluk Lada dibatasi oleh Tanjung ketapang di sebelah timur dan Tanjung Citereup di sebelah barat, sehingga daerah tersebut merupakan teluk kecil di dalam Teluk Lada. Pada perairan ini berpotensi masuknya air buangan yang berasal dari PLTU, perkebunan kelapa sawit, limbah domestik, industri skala kecil seperti pengolahan produk perikanan, dan aktifitas perikanan yang meliputi perikanan tangkap maupun perikanan budidaya.
Beberapa sungai yang mengalir menuju Teluk Lada diantaranya adalah Sungai Ciliman, Sungai Bama dan Sungai Cibungur. Di wilayah Labuan memiliki potensi sumberdaya kelautan untuk pengembangan kegiatan penangkapan kerang. Kerang yang terdapat di perairan Labuan diantaranya adalah kerang darah, kerang bulu, kerang mencos dan kerang tahu. Kerang tersebut ditangkap dengan menggunakan alat tangkap garok.
4.2. Kondisi Habitat Kerang Darah Anadara granosa 4.2.1. Kualitas air
Parameter fisika yang mempengaruhi kehidupan kerang darah diantaranya adalah suhu, salinitas, dan arus, sedangkan parameter kimia dan logam berat yang mempengaruhi kehidupan kerang adalah oksigen terlarut (DO), pH, timah hitam (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg). Parameter fisika, kimia dan logam berat di perairan Bojonegara dan Labuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5.
Tabel 4. Parameter fisika, kimia, dan logam berat di perairan Bojonegara
Parameter Perairan Bojonegara
Desember 2009 April 2010 Mei 2010 Suhu (°C) 26 ± 1.53 29 ± 0.52 30 ± 0.29 Salinitas (‰) 25 ± 7.07 22 ± 2.02 26 ± 1.89 Arus (cm/s) 14.71 ± 0.76 3.77 ± 1.86 11.04 ± 6.13 DO (mg/l) 4.12 ± 0.96 9.80 ± 5.34 5.60 ± 0.8 pH 8 ± 0.00 7.8 ± 0.29 7.2 ± 0.21 Pb (mg/l) 0.0530 ± 0.0042 0.0055 ± 0.0015 0.0004 ± 0.0000 Cd (mg/l) 0.023 ± 0.003 0.007 ± 0.001 0.031 ± 0.009 Hg (mg/l) 0.0006 ± 0.0001 0.0003 ± 0.0001 0.0055 ± 0.0010
Tabel 5. Parameter fisika, kimia, dan logam berat di perairan Labuan
Parameter Perairan Labuan
Desember 2009 Maret 2010 Mei 2010 Suhu (°C) 28 ± 0.58 29 ± 0.58 32 ± 0.58 Salinitas (‰) 35 ± 0.58 25 ± 0.58 32 ± 3.23 Arus (cm/s) 20.53 ± 13.72 2.81 ± 0.04 4.28 ± 0.71 DO (mg/l) 5.24 ± 1.32 5.41 ± 0.42 6.34 ± 0.30 pH 7.7 ± 0.29 7.3 ± 0.29 7.8 ± 0.29 Pb (mg/l) 0.0233 ± 0.0085 0.0120 ± 0.0044 0.0599 ± 0.0942 Cd (mg/l) 0.005 ± 0.000 0.005 ± 0.000 0.018 ± 0.007 Hg (mg/l) 0.0005 ± 0.0004 0.0003 ± 0.0001 0.0004 ± 0.0001
Berdasarkan Tabel 4 dan Tabel 5, dapat dilihat bahwa suhu di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 26-30°C dan suhu di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 28-32°C. Suhu di perairan Labuan memiliki kisaran suhu yang relatif lebih tinggi dibandingkan kisaran suhu di perairan Bojonegara. Hal ini dapat disebabkan karena di perairan Labuan telah dipengaruhi oleh buangan limbah
cair panas dari PLTU ke dalam perairan. Penelitian Hidayat pada tahun 2004, menyebutkan bahwa suhu yang berada di stasiun 1 di Perairan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang memiliki suhu yang lebih tinggi disebabkan adanya polutan yang berupa limbah air panas sisa pendingin instalasi PLTU yang menyebabkan air menjadi lebih panas mencapai 32.5°C (Hidayat et al. 2006).
Suhu pada kedua lokasi penelitian masih dapat mendukung pertumbuhan kerang darah karena masih dalam batas suhu yang optimal bagi pertumbuhan kerang darah. Berdasarkan penelitian Boonruang dan Janekarn pada tahun 1983 di Phuket Thailand, A. granosa dapat ditemukan pada suhu 25-32.8°C (Broom 1985). Suhu akan mempengaruhi aktivitas metabolisme dan perkembangbiakkan dari organisme tersebut (Nybakken 1988). Suhu air juga akan menentukan kehadiran dari spesies-spesies akuatik, mempengaruhi pemijahan dan penetasan serta aktivitas dan rangsangan yang dapat menghambat pertumbuhan spesies (NTAC 1968 in Koesoebiono 1979).
Salinitas di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 22-26‰ dan salinitas di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 25-35‰. Kisaran salinitas di perairan Bojonegara relatif lebih rendah dibandingkan perairan Labuan. Rendahnya salinitas di perairan Bojonegara dapat disebabkan karena percampuran massa air tawar yang dibawa Sungai Teratai dan Sungai Wadas. Menurut Nontji (1987), sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan, dan aliran sungai. Salinitas di kedua lokasi masih dapat mendukung pertumbuhan kerang darah karena masih dalam batas salinitas yang optimal bagi pertumbuhan kerang darah. Pathansali (1966) menyatakan bahwa A. granosa L. dapat ditemukan di perairan yang memiliki salinitas 18-30‰. Penelitian Baquiero pada tahun 1980 di Mexico, menemukan A. tuberculosa dapat hidup pada kisaran salinitas 30-40‰ (Broom 1985). Bervariasinya nilai salinitas dapat mempengaruhi pola adaptasi dan kelimpahan hewan bentik. Organisme yang cukup adaptif dan mampu bertahan dengan baik terhadap perubahan adalah organisme yang berasal dari kelas Polychaeta, Bivalvia, dan Crustacea (Nybakken 1988).
Kecepatan arus di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 3.77-14.71 cm/s dan kecepatan arus di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 2.81-20.53 cm/s. Kisaran kecepatan arus di perairan Labuan memiliki kisaran yang lebih luas
dibandingkan perairan Bojonegara. Hal ini dapat disebabkan karena di perairan Labuan dipengaruhi oleh gelombang air laut. Menurut Nontji (1987), arus merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dapat disebabkan oleh tiupan angin, karena perbedaan dalam densitas air laut atau disebabkan oleh gerakan gelombang. Kecepatan arus pada perairan Bojonegara dipengaruhi oleh pasang surut air laut yang berada pada muara Sungai Teratai dan muara Sungai Wadas. Nontji (1987) menyatakan bahwa arus yang disebabkan oleh pasang surut biasanya lebih banyak terdapat di perairan pesisir dan estuari. Menurut Nybakken (1988), arus mempengaruhi penyebaran organisme laut dan juga menentukan tipe substrat.
Kandungan oksigen terlarut (DO) di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 4.12-9.80 mg/l dan kandungan oksigen terlarut di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 5.24-6.34 mg/l. Perairan Labuan memiliki kandungan oksigen terlarut yang relatif lebih rendah dibandingkan perairan Bojonegara. Hal ini dapat disebabkan karena suhu yang berada di perairan Labuan relatif lebih tinggi dibandingkan perairan Bojonegara sehingga dapat mempengaruhi kandungan oksigen terlarut di perairan. Menurut Effendi (2003), peningkatan suhu disertai dengan penurunan kadar oksigen terlarut. Kandungan oksigen di kedua lokasi masih dalam batas yang dapat ditoleransi oleh kerang darah dan masih dapat mendukung pertumbuhan kerang darah. Pada penelitian Setyobudiandi et al. di perairan Marunda ditemukan bahwa kerang lamis dapat ditemukan pada perairan yang memiliki kandungan oksigen 2.01-9.24 mg/l (Setyobudiandi et al. 2004).
pH di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 7.2-8 dan pH di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 7.3-7.8. Organisme perairan mempunyai kemampuan yang berbeda dalam mentoleransi pH perairan. Nilai pH pada kedua lokasi penelitian masih dapat mendukung pertumbuhan kerang darah karena masih dalam batas pH yang optimal bagi pertumbuhan kerang darah. Menurut Tebbut (1992) in Effendi (2003), sebagian besar spesies akuatik menyukai pH yang mendekati nilai netral yaitu berkisar antara 7-8.5. Keanekaragaman bentos mulai menurun pada pH 6-6.5 (Effendi 2003). Pada penelitian Setyobudiandi et al. di perairan Marunda ditemukan bahwa kerang lamis dapat ditemukan pada perairan yang memiliki kisaran pH antara 6.5-7.5 (Setyobudiandi et al. 2004).
Kandungan timah hitam (Pb) di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 0.0004-0.0530 mg/l dan kandungan Pb di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 0.0120-0.0599 mg/l. Kandungan Pb di perairan Bojonegara relatif lebih kecil dibandingkan kandungan Pb di perairan Labuan. Kandungan Pb di perairan Bojonegara dan Labuan telah melewati ambang batas yang telah dikeluarkan KepMen LH No. 51 Tahun 2004 yaitu >0.001 mg/l. Hal ini menunjukan bahwa air di Perairan Bojonegara dan Labuan telah terkontaminasi logam Pb. Perairan Bojonegara berpotensi masuknya limbah buangan yang berasal dari pabrik minyak kelapa, pabrik batu bara, dan pabrik gula. Pabrik-pabrik tersebut mengeluarkan limbah berupa cairan maupun padatan yang mengandung bahan organik, minyak dan lemak, Sulfida, timah hitam (Pb), Krom, dan Sianida. Perairan Labuan berpotensi masuknya limbah buangan yang berasal dari pabrik, PLTU, tambak, dan perkebunan kelapa sawit. Limbah-limbah yang dikeluarkannya berupa cairan maupun padatan yang mengandung bahan organik dan pestisida. Menurut Marasabessy dan Edward (2002), logam berat Pb yang terakumulasi dalam tubuh biota akan terus meningkat dengan adanya proses biomagnifikasi di badan perairan. Timah hitam dapat menutupi lapisan mukosa pada organisme akuatik dan selanjutnya dapat mengakibatkan sufokasi.
Kandungan kadmium (Cd) di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 0.007-0.031 mg/l dan kandungan Cd di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 0.005-0.018 mg/l. Kandungan Cd di perairan Bojonegara lebih besar dibandingkan kandungan Cd di perairan Labuan. Kandungan Cd di kedua perairan ini tergolong cukup tinggi. Berdasarkan KepMen LH No. 51 Tahun 2004, kandungan Cd di kedua perairan telah melewati ambang batas yang ditetapkan yaitu >0.001 mg/l. Hal ini menunjukkan bahwa air di Perairan Bojonegara dan Labuan telah terkontaminasi logam Cd.
Kandungan Merkuri (Hg) di perairan Bojonegara mempunyai kisaran antara 0.0003-0.0055 mg/l dan kandungan Hg di perairan Labuan mempunyai kisaran antara 0.0003-0.0005 mg/l. Kandungan Hg di perairan Bojonegara lebih besar dibandingkan kandungan Hg di perairan Labuan. Kandungan Hg di perairan Bojonegara dan Labuan masih dapat ditolerir oleh kerang darah. Menurut Moore (1991) in Effendi (2003), kadar merkuri pada perairan laut berkisar antara <10-30
ng/l. Berdasarkan Kep Men LH No. 51 tahun 2004, baku mutu Hg masih dibawah ambang batas yang yaitu <0.008 mg/l.
4.2.2. Kondisi sedimen
Menurut Nybakken (1988), kehidupan moluska bentik secara umum dipengaruhi oleh kualitas perairannya, antara lain jenis substrat tempat hidup, kekeruhan, pH, suhu, salinitas, kandungan oksigen terlarut dan polutan. Kondisi sedimen di kedua lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 6 dan Tabel 7.
Tabel 6. Kondisi sedimen di perairan Bojonegara
Kondisi Sedimen Perairan Bojonegara
Desember 2009 April 2010 Mei 2010 Pasir (%) 69.14 69.14 69.14 Debu (%) 18.35 18.35 18.35 Liat (%) 12.51 12.51 12.51 Pb (mg/l) 3.88 ± 1.30 0.56 ± 0.10 0.04 ± 0.01 Cd (mg/l) 0.50 ± 0.00 0.73 ± 0.09 0.13 ± 0.04 Hg (mg/l) 0.02 ± 0.00 0.02 ± 0.00 0.26 ± 0.02
Tabel 7. Kondisi sedimen di perairan Labuan
Kondisi Sedimen Perairan Labuan
Desember 2009 Maret 2010 Mei 2010 Pasir (%) 92.73 92.73 92.73 Debu (%) 3.84 3.84 3.84 Liat (%) 3.43 3.43 3.43 Pb (mg/l) 0.90 ± 0.61 1.78 ± 0.39 0.02 ± 0.00 Cd (mg/l) 0.50 ± 0.00 0.67 ± 0.21 0.26 ± 0.24 Hg (mg/l) 0.24 ± 0.09 0.97 ± 0.81 0.24 ± 0.21
Berdasarkan Tabel 6 dan Tabel 7, tekstur di perairan Bojonegara memiliki fraksi pasir sebesar 69.14%, fraksi debu sebesar 18.35%, dan fraksi liat sebesar 12.51%. Berdasarkan hasil dari segitiga Millar didapatkan tipe substrat di perairan Bojonegara memiliki tipe substrat lempung berpasir. Squares et al. (1975) in Hery (1998), menyatakan bahwa Anadara spp. banyak ditemukan pada lumpur halus atau kadang-kadang pada pasir berlumpur dan berlindung atau berasosiasi dengan mangrove di sebagian besar daerah tropis.
Tekstur di perairan Labuan memiliki fraksi pasir sebesar 92.73%, fraksi debu sebesar 3.84% dan fraksi liat sebesar 3.43%. Berdasarkan hasil dari segitiga Millar didapatkan tipe substrat di perairan Labuan memiliki tipe substrat pasir. Hal ini dapat diduga karena kerang darah dapat beradaptasi dengan tipe substrat pasir. Di Phuket, Thailand, ditemukan bahwa populasi A. granosa mendiami substrat 70-80% pasir (diameter >63 µm) (Broom 1988 in Hery 1998). Menurut Dharma (1988) in Prawuri (2005), moluska termasuk binatang yang sangat berhasil menyesuaikan diri untuk hidup di beberapa tempat dan cuaca.
Kandungan timah hitam (Pb) pada sedimen di perairan Bojonegara berkisar antara 0.04-3.88 mg/l dan kandungan Pb pada sedimen di perairan Labuan berkisar antara 0.02-1.78 mg/l. Kandungan kadmium (Cd) pada sedimen di perairan Bojonegara berkisar antara 0.13-0.73 mg/l dan kandungan Cd pada sedimen di perairan Labuan berkisar antara 0.26-0.67 mg/l. Kandungan merkuri (Hg) pada sedimen di perairan Bojonegara berkisar antara 0.02-0.26 mg/l dan kandungan Hg pada sedimen di perairan Labuan berkisar antara 0.24-0.97 mg/l. Kandungan Logam berat (Pb, Cd, dan Hg) pada sedimen lebih tinggi dari kandungan logam berat pada perairan di kedua lokasi. Penelitian Hutagalung di perairan Teluk Banten pada tahun 1993, menunjukkan bahwa di seluruh lokasi pengamatan kadar Cd, Cu, dan Zn yang tertinggi selalu ditemukan dalam sedimen. Tingginya kadar Pb, Cd, Cu, dan Zn dalam sedimen di perairan Teluk Banten dimungkinkan oleh sifat perairannya yang relatif tenang sehingga memperbesar kesempatan senyawa logam berat tersebut untuk mengendap di dasar perairan (Hutagalung dan Sutomo 1996).
4.3. Kandungan Logam Berat pada Kerang
Hutagalung (1991) in Buwono et al. (2005), menyatakan bahwa kemampuan biota laut (ikan, udang, dan moluska) dalam mengakumulasi logam berat di perairan tergantung pada jenis logam berat, jenis biota, lama pemaparan serta kondisi lingkungan seperti pH, suhu, dan salinitas. Kandungan logam berat pada kerang darah dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Kadungan logam berat pada kerang darah
Daging Perairan Bojonegara Perairan Labuan
Kecil Besar Kecil Besar Pb (mg/l) 0.2550 ± 0.1612 0.2000 ± 0.10420 0.1883 ± 0.0408 0.2642 ± 0.0323
Cd (mg/l) 0.2080 ± 0.1993 0.3000 ± 0.1417 0.1802 ± 0.0088 0.2125 ± 0.0209 Hg (mg/l) 0.1935 ± 0.2917 0.0540 ± 0.0547 0.0200 ± 0.0000 0.0233 ± 0.0052
Berdasarkan tabel 8, kandungan timah hitam (Pb) pada kerang darah ukuran kecil dan besar di perairan Bojonegara berturut-turut sebesar 0.2550 mg/l dan 0.2000 mg/l. Kandungan kadmium (Cd) pada kerang darah ukuran kecil dan besar di perairan Bojonegara berturut-turut sebesar 0.2080 mg/l dan 0.3000 mg/l. Kandungan merkuri (Hg) pada kerang darah ukuran kecil dan besar di perairan Bojonegara berturut-turut sebesar 0.1935 mg/l dan 0.0540 mg/l. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa kandungan logam berat (Pb dan Hg) pada kerang kecil lebih tinggi dibandingkan pada kerang besar. Hal ini diduga karena adanya efek fisiologis dari kerang tersebut, seperti kemampuan untuk mengeliminasi logam, kecepatan makan dan laju absorpsi. Namun, kandungan kadmium (Cd) pada kerang besar lebih tinggi dibandingkan pada kerang kecil. Hal ini diduga karena akumulasi kadmium yang dilakukan oleh kerang darah berukuran besar. Menurut Hutagalung (1991) in Buwono et al. (2005), semakin besar ukuran biota air, maka akumulasi logam berat semakin meningkat. Moluska bivalvia dapat mengakumulasi Cd sampai 352 kali lebih tinggi dari kadar Cd yang terdapat dalam airnya (LIPI 1991 in Inswiasri et al. 1993).
Kandungan timah hitam (Pb) pada kerang darah ukuran kecil dan besar di perairan Labuan berturut-turut sebesar 0.1883 mg/l dan 0.2642 mg/l. Kandungan kadmium (Cd) pada kerang darah ukuran kecil dan besar di perairan Labuan berturut-turut sebesar 0.1802 mg/l dan 0.2125 mg/l. Kandungan merkuri (Hg) pada kerang darah ukuran kecil dan besar di perairan Labuan berturut-turut sebesar 0.0200 mg/l dan 0.0233 mg/l. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa kandungan logam berat (Pb, Cd, dan Hg) pada kerang besar lebih tinggi dibandingkan pada kerang kecil. Hal ini diduga karena akumulasi logam berat yang dilakukan oleh kerang darah berukuran besar. Menurut Hutagalung (1991) in
Buwono et al. (2005), semakin besar ukuran biota air, maka akumulasi logam berat semakin meningkat.
Senyawa merkuri (Hg) dapat mengalami bioakumulasi dan biomagnifikasi pada biota perairan, baik secara langsung ataupun melalui jala makanan (food web). Organisme yang berada pada rantai yang paling tinggi (manusia) memiliki kadar merkuri yang lebih tinggi daripada organisme di bawahnya. Menurut Sukiyanti (1987) in Buwono et al. (2005), toksisitas logam berat dalam kerang yang ditimbulkan akibat akumulasi dalam jaringan tubuh mengakibatkan keracunan dan kematian bagi biota air yang mengkonsumsinya. Berdasarkan Kep. Ditjen POM No. 03725/B/SK/VII/1989 dan FAO/WHO (1976) in Buwono et al. (2005), kadar maksimum kandungan logam Hg pada biota laut yang boleh dikonsumsi sebesar 0.5 mg/l dan tidak boleh melebihi 0.2 mg per 70 kg berat badan per minggu sebagai metil merkuri.
4.4. Hubungan Panjang Berat
Hubungan panjang berat diperoleh berdasarkan data-data morfometrik panjang cangkang dan berat total kerang. Berdasarkan grafik hubungan panjang berat kerang darah (A. granosa) diperoleh bahwa persamaan hubungan panjang berat kerang darah di perairan Bojonegara-Teluk Banten secara keseluruhan adalah W = 0.022L1.812 dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.610 dan koefisien korelasi (r) sebesar 0.78. Dengan demikian, model memberikan sumbangan sebesar 61.0% terhadap keragaman berat dan memiliki hubungan panjang dan berat yang sangat erat pada A. granosa di perairan Bojonegara. Jumlah kerang yang digunakan dalam penentuan hubungan panjang berat adalah 493 individu.
Berdasarkan hasil yang diperoleh didapatkan nilai b kerang darah di perairan Bojonegara adalah 1.812. Nilai b yang diperoleh tersebut menunjukkan bahwa hubungan panjang dan berat adalah allometrik negatif (b<3). Artinya, pertambahan panjang lebih cepat atau dominan dibandingkan pertambahan beratnya. Hal ini dapat disebabkan karena kerang darah memanfaatkan energinya untuk pertumbuhan panjangnya dibandingkan dengan pertumbuhan beratnya. Untuk membuktikan bahwa hubungan panjang berat bersifat allometrik negatif, maka dilakukan
pengujian hipotesis dalam uji t, hasilnya adalah tolak H0 yaitu nilai b bersifat allometrik negatif. Dimana thitung> ttabel.
Berdasarkan grafik hubungan panjang berat kerang darah (A. granosa) diperoleh bahwa persamaan hubungan panjang berat kerang darah di perairan PLTU Labuan-Teluk Lada adalah W = 0.0007L2.786 dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.809 dan koefisien korelasi (r) sebesar 0.90. Dengan demikian, model memberikan sumbangan sebesar 80.9% terhadap keragaman berat dan memiliki hubungan panjang dan berat yang sangat erat pada A. granosa di perairan Labuan.
Berdasarkan hasil yang diperoleh diketahui bahwa nilai b kerang darah di perairan Labuan adalah 2.786. Nilai b yang diperoleh menunjukkan bahwa hubungan panjang dan berat adalah allometrik negatif (b<3). Artinya, pertambahan panjang lebih cepat atau dominan dibandingkan pertambahan beratnya. Untuk membuktikan hubungan panjang berat bersifat allometrik negatif, maka dilakukan pengujian hipotesis dalam uji t, hasilnya adalah tolak H0 yaitu bahwa nilai b bersifat allometrik negatif. Dimana thitung> ttabel. Grafik hubungan panjang berat kerang darah
di perairan Bojonegara dan Labuan dapat dilihat pada Gambar 8.
4.5. Rasio Berat Daging/Berat Total
Perhitungan rasio berat daging/berat total adalah untuk mengetahui persentase berat daging yang terdapat di dalam cangkang. Untuk kebutuhan konsumsi, maka kualitas dan kuantitas daging kerang perlu dipertimbangkan. Persentase dari rasio berat daging/berat total rata-rata kerang darah yang diamati selama penelitian di perairan Bojonegara-Teluk Banten dan PLTU Labuan-Teluk Lada dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9. Rasio berat daging/berat total rata-rata kerang darah selama penelitian di perairan Bojonegara dan Labuan
Berdasarkan Gambar 9, dapat dilihat bahwa rasio berat daging/berat total rata-rata kerang darah di perairan Bojonegara berkisar antara 22.75-24.16%. Rasio berat daging/berat total rata-rata terbesar berada pada selang kelas 36.8-39.9 mm yaitu sebesar 24.16% dari berat totalnya, sedangkan rasio berat daging/berat total rata-rata yang terkecil berada pada selang kelas 14.4-17.5 mm yaitu sebesar 22.75% dari berat totalnya. Hal ini dapat diduga karena kerang darah pada ukuran panjang 36.8-39.9 mm memanfaatkan energinya untuk pertumbuhan dan perkembangan gonad sehingga berat daging akan mengalami peningkatan.
Rasio berat daging/berat total rata-rata kerang darah di perairan Labuan berkisar antara 14.96-29.35%. Rasio berat daging/berat total rata-rata terbesar berada pada selang kelas 11.2-14.3 mm yaitu sebesar 29.35% dari berat totalnya,