• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di perairan Bojonegara-Teluk Banten dan perairan PLTU Labuan-Teluk Lada, Banten selama lima bulan mulai bulan Desember 2009 hingga bulan Mei 2010. Perairan Bojonegara memiliki titik koordinat 5°59’37.8’’ LS dan 106°6’34.3’’ BT. Perairan ini termasuk dalam wilayah Desa Margarigi, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang. Perairan pesisir Labuan memiliki titik koordinat 6°26'56.2" LS dan 105°49'14.3"BT. Perairan ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Labuan dan Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Jumlah stasiun pada kedua lokasi berjumlah 3 stasiun. Lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 3, Gambar 4, dan Gambar 5.

Gambar 3. Lokasi penelitian perairan Bojonegara (google earth)

Gambar 4. Lokasi penelitian perairan Labuan (google earth)

Gambar 5. Lokasi penelitian perairan Bojonegara dan Labuan (google earth)

3.2. Metode Kerja

3.2.1. Pengambilan dan penanganan contoh air, substrat dan biota

Pengambilan contoh air dilakukan menggunakan Van dorn Water Sampler. Parameter yang diukur secara in situ meliputi suhu, salinitas, arus, DO, dan pH. Contoh air yang diperoleh dimasukkan ke dalam botol sample yang telah diberi label untuk dilakukan pengukuran secara ex situ di laboratorium yang meliputi logam berat (Pb, Cd, dan Hg). Pengambilan contoh substrat dasar perairan dilakukan satu kali pada setiap lokasi pengamatan menggunakan Ekman grab. Substrat yang diperoleh dimasukkan ke dalam kantong plastik yang telah diberi label untuk dilakukan pengukuran secara ex situ di laboratorium.

Pengambilan kerang dilakukan dengan menggunakan alat tangkap garok yang ditarik oleh kapal nelayan yang memiliki ukuran mesin sebesar 23 pk. Garok adalah alat tangkap yang dioperasikan di dasar perairan. Pada penelitian ini mesh size yang digunakan adalah 1 inchi dengan lebar bukaan mulut sebesar 70 cm. Kerang yang diperoleh dimasukkan ke dalam kantong plastik yang telah diberi label dan kemudian dimasukkan ke dalam ice box.

3.2.2. Pengukuran dan pengamatan

3.2.2.1. Pengukuran karakter morfometrik kerang darah

Kerang darah yang ditangkap kemudian diukur morfometriknya. Identifikasi dan pengukuran morfometrik kerang darah (A. granosa) dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hewan Air, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Karakter morfometrik yang diukur adalah panjang cangkang, tinggi cangkang, tebal cangkang, tinggi umbo, panjang ligament, berat total dan berat daging. Pengukuran morfometrik kerang darah ini dilakukan dengan menggunakan alat kaliper atau jangka sorong. Kerang yang telah diukur morfometriknya kemudian diletakkan di wadah yang telah diberi label untuk dilakukan penimbangan bobot total dan bobot daging.

Pengukuran berat total dan berat daging dilakukan dengan menggunakan timbangan digital. Berat total kerang diukur dengan cara menimbang kerang secara keseluruhan beserta cangkangnya, sedangkan untuk berat daging diukur dengan cara menimbang daging kerang yang telah dipisahkan dari cangkangnya. Pemisahan

cangkang dari tubuhnya dilakukan dengan jalan memotong otot adduktornya. Karakter morfometrik yang diukur dapat dilihat pada Tabel 2 dan Gambar 6.

Tabel 2. Karakter morfometrik yang diukur

No. Karakter Morfometrik

1 Panjang cangkang Jarak dari bagian anterior sampai bagian posterior kerang

2 Tinggi cangkang Jarak dari bagian dorsal yaitu pada bagian umbo sampai

bagian ventral

3 Tebal cangkang Jarak terjauh antara cangkang kanan dan cangkang kiri

4 Tinggi umbo Tinggi cangkang dikurangi dengan tinggi dari ventral

sampai ligament

5 Panjang ligament Jarak antara anterior sampai posterior pada bagian dorsal

cangkang

Gambar 6. Karakter morfometrik yang diukur (google)

Keterangan :

PC = Panjang cangkang TIC = Tinggi cangkang TEC = Tebal cangkang TU = Tinggi umbo PL = Panjang ligament

3.2.2.2. Analisis kualitas air, sedimen dan daging

Pengukuran di laboratorium meliputi substrat dasar perairan dan logam berat (Pb, Cd, dan Hg). Analisis kualitas air, sedimen dan daging kerang darah dilakukan di Laboratorium Produktivitas Lingkungan, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Analisis substrat dasar perairan dilakukan untuk mengetahui komposisi (%) pasir, debu, dan liat. Penentuan tekstur substrat dilakukan dengan mencocokkan persentase pasir, debu, dan liat dengan segitiga Millar. Segitiga Millar dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Segitiga Millar (Brower et al. 1990)

Langkah-langkah penentuan tekstur dasar perairan :

• Menentukan komposisi dari masing-masing fraksi substrat, misalnya fraksi pasir 69.14%, debu 18.35%, dan liat 12.51%.

• Menarik garis pada sisi persentase pasir di titik 69.14% sejajar dengan sisi persentase debu. Untuk fraksi liat, garis ditarik dari titik 12.51% sejajar dengan persentase pasir. Kemudian untuk fraksi debu, garis ditarik dari titik 18.35% sejajar dengan sisi persentase liat.

• Hasil pertemuan ketiga titik berada pada tekstur lempung berpasir.

Analisis logam berat (Pb, Cd, dan Hg) pada air, sedimen, dan daging kerang darah (A. granosa) dilakukan dengan cara langsung untuk contoh air dan cara kering (pengabuan) untuk contoh sedimen. Kerang darah pada perairan Bojonegara

memiliki ukuran besar (>3 cm) dan ukuran kecil (<3 cm), sedangkan pada perairan Labuan ukuran besar (>2.5 cm) dan kecil (<2.5 cm). Perbedaan ukuran ini dikarenakan oleh perbedaan ukuran kerang darah yang tertangkap pada masing-masing lokasi pengamatan. Penentuan kandungan logam berat terbagi atas beberapa tahap, yaitu preparasi, ekstraksi dan injeksi. Tahap preparasi dilakukan pada sedimen dan daging kerang darah. Sebelum dianalisis sedimen dan daging kerang dikeringkan terlebih dahulu selama satu hari di dalam oven dengan suhu 105ºC. Kemudian dilakukan penggerusan hingga halus agar homogen dengan menggunakan mortar dan cawan petri. Setelah halus, sedimen dan kerang darah ditimbang sebanyak 0.5 gram dan dilakukan pemanasan kembali dengan penambahan bahan H2SO4 dan HNO3. Hasil dari pemanasan tersebut dilarutkan kembali dengan etanol 37%.

Tahap ekstraksi dilakukan pada ketiga contoh, yaitu air laut, sedimen dan daging kerang (setelah tahap preparasi) dengan menggunakan bantuan alat corong pemisah dengan penambahan larutan standar logam seperti Kalium Natrium

Tartarat, Hydroxylamin, dan KCN (Kalium Sianida) serta larutan ditizhon diaduk

hingga homogen. Setelah tahap ekstraksi selesai dilakukan tahap injeksi dengan memisahkan supernatant dari larutan contoh untuk dianalisis menggunakan bantuan alat spektrofotometer.

3.3. Analisis Data

3.3.1. Analisis karakter morfometrik

Dari tujuh karakter morfometrik yang diukur, dibuat perbandingan ukuran. Perbandingan ukuran karakter morfometrik kerang darah dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Perbandingan ukuran karakter morfometrik kerang darah

No. Perbandingan Ukuran

1 Panjang Cangkang : Tinggi Cangkang

2 Panjang Cangkang : Tebal Cangkang

3 Panjang Cangkang : Panjang Ligament

4 Tinggi Cangkang : Tebal Cangkang

3.3.2. Hubungan panjang berat

Untuk menganalisis hubungan panjang-berat kerang darah digunakan rumus sebagai berikut (Effendie 1997) :

W = aLb

Keterangan :

W = Berat total (gr)

L = Panjang cangkang (mm)

a = Intersep (perpotongan kurva hubungan panjang-berat dengan sumbu y) b = Penduga pola pertumbuhan panjang-berat

Untuk mendapatkan persamaan linier atau garis lurus digunakan persamaan sebagai berikut:

Log W = Log a + b Log L

Untuk mendapatkan parameter a dan b, digunakan analisis regresi dengan log W sebagai ‘y’ dan log L sebagai ‘x’, maka didapatkan persamaan regresi :

y = a + bx

Untuk menguji nilai b = 3 atau b ≠ 3 dilakukan uji-t, dengan hipotesis (Effendie 1997) :

H0 : b = 3, hubungan panjang dengan berat adalah isometrik

H1 : b ≠ 3, hubungan panjang dengan berat adalah allometrik, yaitu :

- Allometrik positif, jika b>3 (pertambahan berat lebih cepat dibandingkan pertambahan panjang)

- Allometrik negatif, jika b<3 (pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan berat

thitung =  1 0 1 Sb b b  

Keterangan :

b1 = Nilai b (dari hubungan panjang-berat) b0 = 3

Sb1 = Simpangan koefisien b

Bandingkan nilai thitung dengan nilai ttabel pada selang kepercayaan 95%. Selanjutnya untuk mengetahui pola pertumbuhan organisme, kaidah keputusan yang diambil adalah :

thitung > ttabel : tolak hipotesis nol (H0) thitung <ttabel : gagal tolak hipotesis nol (H0)

3.3.3. Rasio berat daging/berat total

Perhitungan ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar persentase daging yang terkandung dalam cangkangnya dari keseluruhan berat total. Hubungan ini dilakukan dengan cara perbandingan berat daging dengan berat total dikalikan 100%. Menurut Prawuri (2005) rasio berat daging/berat total ini digunakan rumus sebagai berikut:

Rasio Bd = (Bd/Bt) X 100%

Keterangan :

Bd = berat daging (gr) Bt = berat total (gr)

Dokumen terkait