• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

4 KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

Letak Geografis

Secara geografis, wilayah Provinsi Sumatera selatan terletak di sebelah Selatan garis khatulistiwa pada 1o - 4o Lintang Selatan dan 102o - 108o Bujur Timur dengan luas daratan 87.017 Km². Sumatera Selatan sering pula disebut sebagai Daerah Batang Hari Sembilan, karena kawasan ini terdapat sembilan sungai besar yang dapat dilayari sampai jauh ke hulu yaitu Sungai Musi, Ogan, Komering, Lematang, Lakitan, Kelingi, Rawas, Batanghari Leko dan Lalan. Batas wilayahnya sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Jambi, Sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Bengkulu, Sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Lampung, Sebelah Utara, berbatasan dengan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sebagaimana tertera pada Gambar 6.

Sumber: Bappeda Provinsi Sumatera Selatan (2012)

Gambar 6 Peta Wilayah Administrasi Provinsi Sumatera Selatan

Di pantai timur tanahnya terdiri dari rawa-rawa dan perairan payau yang dipengaruhi oleh pasang surut. Vegetasinya berupa tumbuhan palmaseae dan kayu rawa (bakau). Sedikit ke arah barat merupakan dataran rendah yang luas. Lebih jauh masuk ke dalam wilayah daratan bagian barat semakin berbukit-bukit Sumatera Selatan memiliki Bukit Barisan yang membelah Sumatera Selatan dalam daerah perbukitan dan daerah lembah. Beberapa puncak tertinggi pada Bukit Barisan antara lain puncak Gunung Seminung (1.964 meter), Gunung Dempo (3.159 meter), Gunung Patah (1.107 meter) dan Gunung Bungkuk (2.125 m).

Sumatera Selatan beriklim tropis dipengaruhi dua musim sepanjang tahun, yakni musim hujan dan musim kemarau. Suhu udara bervariasi antara 24-32 derajat celcius dan kelembaban 73-84 persen. Musim hujan terjadi pada

36

bulan Oktober-April, dengan curah hujan berkisar 2.100-3.264 mm. Musim kemarau terjadi pada bulan Juni-September.

Pembagian Wilayah Administratif

Secara umum, wilayah Provinsi Sumatera Selatan terbagi atas 16 kabupaten/kota, 230 kecamatan, 370 kelurahan, dan 2.841 desa, sebagaimana tertera pada Tabel 4.

Tabel 4 Jumlah Kecamatan, Kelurahan dan Desa Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan

No. Kabupaten/Kota Jumlah Kecamatan

Jumlah Kelurahan

Jumlah Desa

1 Ogan Komering Ulu 12 22 135

2 Ogan Komering Ilir 18 22 299

3 Muara Enim 19 15 240

4 Lahat 22 26 350

5 Musi Rawas 21 6 282

6 Musi Banyuasin 14 8 228

7 Banyuasin 19 23 281

8 Ogan Komering Ulu Selatan 19 6 253

9 Ogan Komering Ulu Timur 20 17 279

10 Ogan Ilir 16 29 212

11 Empat Lawang 10 3 153

12 Penukal Abab Lematang Ilir 5 4 67

13 Palembang 16 104 3 14 Prabumulih 6 18 19 15 Pagar Alam 5 16 19 16 Lubuk Linggau 8 51 21 Jumlah 230 370 2.841 Sumber: BPS (2013)

Wilayah terluas di Sumatera Selatan adalah Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan luas 1.705.832 Ha. Wilayah terkecil adalah Kota Palembang dengan luas 37.403 ha. Tahun 2013, Provinsi Sumatera Selatan terdiri dari 16 kabupaten/kota, 230 kecamatan, 370 kelurahan, dan 2.841 desa (BPS, 2013).

Kependudukan

Jumlah penduduk di Sumatera Selatan pada tahun 2010 adalah 7.450.394 jiwa. Wilayah yang memiliki jumlah penduduk tertinggi adalah kota Palembang (1.455.284 jiwa), dan wilayah dengan penduduk terendah di Kabupaten Pagar Alam (126.181 jiwa). Kepadatan penduduk tertinggi setelah

Kota Palembang (3.890 jiwa/km2) adalah Kota Lubuk Linggau (479 jiwa/km2).

Angkatan kerja di Provinsi Sumatera Selatan berjumlah sekitar 3.770.673 jiwa yang terdiri dari 2.313.769 jiwa laki-laki dan 1.456.904 perempuan atau 61 % adalah laki-laki. Apabila dilihat dari tingkat pendidikan yang dimiliki 50,8% berasal dari tingkat pendidikan rendah yaitu SD.

Lokasi Sentra Produksi Karet Rakyat

Untuk mengetahui sebaran lokasi kawasan sentra produksi karet rakyat dan besar luas areal perkebunan karet rakyat di Provinsi Sumatera Selatan berikut ini disajikan peta sentra produksi karet rakyat tertera pada Gambar 7.

Gambar 7 Peta Lokasi Sentra Produksi dan Luas Areal Karet Rakyat di Provinsi Sumatera Selatan

Pada Gambar 7 areal yang berwarna hijau muda, menunjukkan wilayah kabupaten/kota yang memiliki perkebunan karet rakyat. Adapun luas areal perkebunan karet rakyat dari yang terbesar hingga yang terkecil di Sumatera Selatan adalah: (1) Kabupaten Musi Rawas, (2) Kabupaten Muara Enim, (3) Kabupaten Musi Banyuasin, (4) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), (5) Kabupaten Banyuasin, (6) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, (7) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU Induk), (8) Kabupaten Lahat, (9) Kabupaten Ogan Ilir (OI), (10) Kota Prabumulih, (11) Kota Lubuk Linggau, (12) Kabupaten Empat Lawang, (13) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan.

38

5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Potensi Karet Rakyat di Sumatera Selatan Wilayah Basis Produksi

Lampiran 3 hasil analisis LQ menunjukkan besarnya kapasitas basis produksi karet rakyat yang tersebar di 14 kabupaten/kota di Sumatera Selatan, sehingga dapat diketahui tingkat kecukupan penyediaan kebutuhan bahan olah karet yang berasal dari hasil produksi petani lokal Sumatera Selatan. Dari hasil analisis LQ, terdapat perbedaan kelompok wilayah kabupaten/kota yang memiliki nilai LQ > 1 dan nilai LQ < 1, sebagaimana tercantum pada Tabel 5. Tabel 5 Pengelompokkan Nilai LQ Berdasarkan Luas Tanaman Perkebunan

Karet Rakyat Sumatera Selatan Tahun 2010 (Ha) Urutan Kabupaten/Kota

yang Memiliki Areal Perkebunan Karet Rakyat Mulai dari yang Terluas

Urutan Kabupaten/Kota yang memiliki LQ > 1 Kabupaten /Kota yang memiliki LQ = 1 Kabupaten/ Kota yang memiliki LQ < 1 1. Musi Rawas 2. Muara Enim 3. Musi Banyuasin 4. OKI 5. Banyuasin 6. OKU Timur 7. OKU 8. Lahat 9. Ogan Ilir 10.Prabumulih 11.Lubuk Linggau 12.Empat Lawang 13.OKU Selatan 14.Pagar Alam 1. Prabumulih 2. Musi Rawas 3. OKI 4. Ogan Ilir 5. Lubuk Linggau 6. Musi Banyuasin 7. OKU Timur 8. Muara Enim - 1. OKU 2. Lahat 3. Banyua-sin 4. OKU Selatan 5. Pagar Alam 6. Empat Lawang

Tabel 5 menunjukkan delapan kabupaten/kota yang memiliki nilai LQ > 1 untuk karet rakyat, sementara itu enam kabupaten/kota lainnya memiliki nilai LQ < 1 untuk karet rakyat. Hal itu menunjukkan bahwa Sumatera Selatan memiliki basis produksi karet rakyat yang cukup besar khususnya di delapan kabupaten/kota, seperti terlihat pada Gambar 8 yaitu wilayah yang berwarna oranye, sedangkan wilayah bukan basis produksi karet rakyat adalah wilayah yang berwarna hijau muda.

Gambar 8 Peta Analisis LQ Berdasarkan Luas Tanaman Perkebunan Karet Rakyat Sumatera Selatan Tahun 2010 (Ha)

Hasil analisis LQ ini selain menemukan wilayah basis produksi karet rakyat, juga menemukan basis produksi komoditas perkebunan lainnya. Hanya Kota Prabumulih yang basis produksinya hanya karet rakyat, sedangkan kabupaten/kota lainnya disamping basis produksinya pada karet rakyat juga berbasis komoditas lainnya, seperti: Kabupaten Musi Rawas selain karet juga berbasis kelapa sawit dan aren; Kabupaten OKI selain karet juga berbasis kapuk dan pinang; Kabupaten Ogan Ilir selain karet juga berbasis kelapa sawit, tebu, kapuk dan pinang; Kota Lubuk Linggau selain karet juga berbasis aren, tembakau, kemiri; Kabupaten Musi Banyuasin selain karet juga berbasis gambir dan kelapa sawit; Kabupaten OKU Timur selain karet juga berbasis lada, pinang, kakao dan kapuk; Kabupaten Muara Enim selain karet juga berbasis kelapa sawit.

Dikaitkan dengan teori basis ekonomi, hasil analisis LQ tersebut sesuai dengan teori basis ekonomi (Bendavid, 1991) yang berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dipengaruhi oleh tingkat permintaan dari luar wilayah terhadap produk-produk yang dihasilkannya, karena pengembangan ekonomi wilayah Sumatera Selatan berbasis karet juga dipengaruhi oleh permintaan dari luar wilayah Sumatera Selatan, yang mana bokar yang dihasilkan oleh petani digunakan untuk bahan baku industri crumb rubber (industri barang setengah jadi) di Sumatera Selatan dan dipasarkan ke China, Amerika Serikat, Jepang, India, Korea. Pandangan Syafrizal (2008) tentang basis ekonomi, dapat diartikan bahwa Sumatera Selatan memiliki komoditas unggulan karet di delapan kabupaten/kota, artinya memiliki potensi lebih besar untuk tumbuh lebih cepat dibanding enam kabupaten/kota lainnya, sehingga karet perlu diprioritaskan dan dikembangkan secara optimal di

40

delapan kabupaten/kota tersebut agar dapat memacu pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatera Selatan di masa mendatang. Dengan demikian disimpulkan bahwa Sumatera Selatan memiliki potensi karet rakyat yang cukup besar karena sebagian besar wilayahnya merupakan basis produksi karet rakyat.

Wilayah Pemusatan

Berdasarkan hasil analisis Localization Index (LI) yang terdapat pada Lampiran 4, diketahui bahwa nilai LI untuk karet rakyat Sumatera Selatan adalah 0,14 (mendekati 0), artinya tidak terjadi pemusatan wilayah produksi karet rakyat pada kabupaten/kota tertentu di Sumatera Selatan, dengan kata lain tidak ada kabupaten/kota yang relatif berkembang lebih baik dalam pengelolaan karet rakyat dibandingkan dengan di kabupaten/kota lainnya dalan wilayah Sumatera Selatan.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun perkebunan karet sudah berkembang di semua kabupaten/kota kecuali Palembang dalam kurun waktu yang lama, namun secara lokasional, lokasi aktifitas karet masih terpencar- pencar. Dengan kata lain pengusahaan karet rakyat ini belum beraglomerasi, bahkan di delapan wilayah basis ekspor tersebut. Berdasarkan pandangan Kuncoro (2002) yang menyatakan jika suatu aktifitas tidak beraglomerasi, maka dapat dikatakan bahwa pola aktifitas tersebut mencerminkan kurangnya sistem interaksi antar pelaku usaha yang sama maupun antar perusahaan dalam industri yang berbeda, dan antar individu (petani) dengan perusahaan. Warpani (2001) menyatakan bahwa pemusatan suatu aktifitas adalah sangat penting untuk memberikan nilai ekonomi yang optimal sebagai pengggerak ekonomi di wilayah tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa meskipun Sumatera Selatan memiliki potensi karet rakyat yang cukup besar, namun aktifitas karet tersebut belum memberikan nilai ekonomi yang optimal di wilayah Sumatera Selatan.

Wilayah Spesialisasi

Berdasarkan hasil analisis Specialization Index (SI) yang tertera pada Lampiran 5, diketahui bahwa nilai SI di setiap kabupaten/kota berkisar antara 0,11 - 0,76 (lebih banyak yang mendekati 0), artinya tidak ada satupun kabupaten/kota di Sumatera Selatan yang memiliki spesialisasi atau kekhasan pada suatu aktifitas perkebunan tertentu termasuk untuk karet rakyat.

Gambar 9 menjelaskan peta GIS berdasarkan hasil analisis SI seluruh jenis tanaman perkebunan rakyat di Sumatera Selatan. Wilayah yang memiliki nilai SI di atas 0,7 dapat dikatakan mendekati angka 1 (terdapat spesialisasi) terdapat di tiga kabupaten yaitu OKU Selatan, Pagar Alam dan Empat Lawang (wilayah yang berwarna oranye). Untuk wilayah yang memiliki nilai SI mendekati 0, terdapat pada wilayah yang berwarna hijau muda.

Gambar 9 Peta Analisis Specialization Index (SI) Perkebunan Rakyat di Sumatera Selatan

Teori spesialisasi menurut Anwar (2002) menyebutkan bahwa spesialisasi suatu kegiatan ekonomi akan menghasilkan peningkatan efisiensi dan produktivitas yang semakin tinggi. Sementara itu Agustina (2010) berpandangan bahwa wilayah yang tidak melakukan spesialisasi berarti wilayah tersebut tidak memiliki keunggulan dalam mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya lokalnya, sehingga kontribusinya pada pengembangan ekonomi wilayah relatif lebih rendah dibandingkan apabila wilayah tersebut berspesialisasi.

Dapat disimpulkan bahwa Sumatera Selatan memiliki potensi karet rakyat yang cukup besar, namun tidak ada satupun kabupaten/kota yang memiliki keunggulan dalam mengoptimalkan pengelolaan agribisnis karet, sehingga kontribusi karet dalam pengembangan ekonomi wilayah kabupaten/kota dan Sumatera Selatan relatif masih rendah.

Wilayah Kompetitif

Berdasarkan hasil Shift Share Analysis (SSA) yang tertera pada Lampiran 8 dan Lampiran 9, diketahui bahwa dari 13 kabupaten/kota terdapat sembilan wilayah yang kompetitif untuk karet rakyat (nilai Differential Shift yang positif) karena mengalami pertumbuhan luas perkebunan karet rakyat dari tahun 2006 ke 2010, yaitu di Kabupaten OKU, OKI, Muara Enim, Musi Rawas, OKU Selatan, OKU Timur, Ogan Ilir, Kota Pagar Alam, Kota Lubuk Linggau, sedangkan empat kabupaten lainnya tidak kompetitif bahkan semakin berkurang yaitu terjadi di Kabupaten Lahat, Musi Banyuasin, Banyuasin, Kota Prabumulih. Menurut pandangan Arsyad (1999), jika nilai pergeseran Differential Shift positif maka aktifitas tersebut lebih tinggi daya saingnya dibandingkan aktifitas tersebut pada wilayah lain.

42

Berdasarkan nilai komponen penyebab terjadinya pertumbuhan luas tanaman karet rakyat di Sumatera Selatan dari hasil analisis SSA, wilayah yang tidak kompetitif untuk karet rakyat (kabupaten Lahat, Musi Bayuasin, Banyuasin dan Kota Prabumulih) terlihat tetap bertahan di Sumatera Selatan disebabkan karena adanya pengaruh komponen Regional Share (bauran pertumbuhan tanaman perkebunan secara agregat di tingkat Provinsi Sumatera Selatan), disamping itu ada juga pengaruh dari komponen Proportional Shift (pengaruh pertumbuhan tanaman perkebunan karet rakyat seluruh kabupaten/kota di Sumatera Selatan).

Selain itu, dari hasil analisis SSA juga ditunjukkan bahwa nilai keunggulan kompetitif karet rakyat relatif lebih rendah dibandingkan dengan nilai keunggulan kompetitif coklat, panili, kemiri, cengkeh, kapuk, kopi, kayu manis, kelapa sawit. Artinya komoditas coklat, panili, kemiri, cengkeh, kapuk, kopi, kayu manis, kelapa sawit telah menjadi pesaing bagi karet rakyat dalam hal pertumbuhan luas tanaman. Keunggulan kompetitif karet rakyat relatif sama rendah dengan nilai keunggulan kompetitif tembakau, gambir, pinang. Apabila dibandingkan dengan komoditas kelapa, maka keunggulan kompetitif karet tersebut masih berada di atas keunggulan kompetitif kelapa.

Selanjutnya dilakukan overlay hasil analisis LQ dan SSA, untuk mendapat wilayah basis karet rakyat sekaligus wilayah yang kompetitif untuk karet rakyat, guna dijadikan sebagai wilayah yang strategis dalam pengembangan optimalisasi pengelolaan karet rakyat dari hulu sampai ke hilir, sehingga dapat meningkatkan kontribusinya dalam pengembangan perekonomian wilayah Sumatera Selatan.

Tabel 6 merupakan hasil overlay analisis LQ dan SSA, yang menunjukkan LQ > 1 dan Differential Shift positif, meliputi enam kabupaten/kota yakni Musi Rawas, Lubuk Linggau, Muara Enim, Ogan Ilir, OKU Timur, dan OKI. Gambar 10 menunjukkan wilayah berwarna oranye adalah wilayah overlay LQ > 1 dan Differential Shift positif. Keenam wilayah tersebut membentuk suatu pola yang terletak di jalur perlintasan bagian tengah Sumatera Selatan yang sebagian besar merupakan dataran rendah.

Tabel 6 Rekapitulasi Hasil Analisis Potensi Perkebunan Karet Rakyat Sumatera Selatan Menurut Luas Areal Tanam Tahun 2006-2010 Hasil Analisis Kabupaten/Kota

LQ > 1 Prabumulih, Musi Rawas, OKI, Ogan Ilir, Lubuk Linggau, Musi Banyuasin, OKU Timur, Muara Enim

LQ < 1 OKU, Lahat, Banyuasin, OKU Selatan, Pagar Alam, Empat Lawang

SSA (DS +) OKU, OKI, Muara Enim, Musi Rawas, OKU Selatan, OKU Timur, Ogan Ilir, Pagar Alam, Lubuk Linggau SSA (DS -) Lahat, Musi Banyuasin, Banyuasin, Prabumulih

Jumlah SSA + Semua kabupaten/kota seolah-olah menjadi kompetitif Keterangan:

Gambar 10 Peta Analisis Overlay Wilayah LQ > 1 dan SSA Differential Shift Positif untuk Karet Rakyat Sumatera Selatan

Implikasi bagi perencanaan pengembangan wilayah adalah keenam kabupaten/kota merupakan wilayah strategis untuk difokuskan sebagai pusat pengembangan agribisnis karet rakyat Sumatera Selatan ke depan, mulai dari pengembangan industri hulu, budidaya, industri pengolahan produk dari setengah jadi (crumb rubber) sampai dikembangkan menjadi produk jadi (pengembangan industri hilir), yang selanjutnya akan memberikan pengaruh pada munculnya berbagai jenis organisasi/lembaga pendukung di wilayah tersebut, menciptakan spesialisasi pada pengembangan agribisnis karet rakyat, sehingga akan meningkatkan kontribusi karet dalam pengembangan ekonomi wilayah kabupaten/kota maupun regional Sumatera Selatan.

Peranan Karet Rakyat dalam Perekonomian Sumatera Selatan

Peranan karet rakyat dalam perekonomian antara lain dapat dilihat melalui nilai ekspor karet. Pada Tabel 7 ditunjukkan nilai ekspor karet Sumatera Selatan menempati urutan teratas terhadap beberapa komoditas ekspor utama selama tahun 2012.

44

Tabel 7 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2012 (USD)

Mar-Mei Jun-Agt Sep-Nov Des-Feb Mar-Mei Jumlah Ekspor 1.046.404.140 973.278.290 834.298.120 806.796.180 904.445.450 Karet 830.839.730 727.914.470 581.635.450 602.558.520 752.959.860 Batu Bara 62.552.520 49.967.360 76.603.750 57.243.330 45.624.880 Sawit 86.126.920 106.898.590 109.601.060 87.949.900 41.054.580 Lain- lain 66.884.970 88.497.870 66.457.860 59.224.430 64.806.130

Tabel 8 menunjukkan kondisi pertumbuhan produksi karet dan barang dari karet dan barang dari plastik berdasarkan data Bank Indonesia tahun 2012 terlihat pada triwulan IV tahun 2011, jenis industri karet dan barang dari karet dan barang dari plastik mengalami kenaikan pertumbuhan sebesar 4,93 persen yakni menjadi 9,82%.

Tabel 8 Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang Triwulan IV Tahun 2011 di Sumatera Selatan

No. Kode KBLI

Jenis Industri Pertumbuhan (%)

1 15 Makanan dan minuman -9,06

2 24 Kimia dan barang-barang dari bahan kimia -2,55 3 25 Karet dan barang dari karet dan barang dari

plastik

9,82

Sumber: Bank Indonesia (2012)

Kontribusi karet rakyat dalam penyerapan tenaga kerja, diketahui bahwa aktifitas perkebunan karet rakyat di Sumatera Selatan tahun 2006-2010 menduduki peringkat paling atas dibandingkan dengan penyerapan tenaga kerja oleh aktifitas perkebunan kelapa sawit, kopi, kelapa dan komoditas perkebunan lainnya, sebagaimana tertera pada Pada Gambar 11.

Sumber: Bappeda Provinsi Sumatera Selatan (2012)

Gambar 11 Grafik Kondisi Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Perkebunan di Sumatera Selatan Tahun 2006-2010

Gambar 11 juga menunjukkan adanya kecenderungan terjadinya peningkatan jumlah tenaga kerja untuk perkebunan karet di Sumatera Selatan dari tahun 2006-2010. Jumlah petani yang diserap oleh kegiatan perkebunan karet rakyat adalah 757.401 KK petani karet (36,17%) dari total KK petani karet di Indonesia. Artinya sepertiga petani karet di Indonesia berada di Sumatera Selatan. Karet dan barang dari karet berkontribusi sebesar 9,8% terhadap industri pengolahan di Sumatera Selatan.

Berdasarkan data sekunder tentang kontribusi karet rakyat terhadap perekonomian wilayah di Sumatera Selatan, disimpulkan aktifitas karet rakyat memiliki kontribusi terhadap perekonomian di Sumatera Selatan, diantaranya dalam penyerapan tenaga kerja, perkebunan karet di Sumatera Selatan menduduki peringkat paling atas dibandingkan kelapa sawit, kopi, kelapa dan lainnya tahun 2006-2010, dan terdapat kecenderungan peningkatan jumlah tenaga kerja perkebunan karet di Sumatera Selatan tahun 2006-2010, serta sepertiga petani karet di Indonesia berada di Sumatera Selatan karena perkebunan karet rakyat menyerap 36,17% petani karet atau 757.401 KK dari jumlah petani karet di Indonesia. Karet dan barang dari karet berkontribusi sebesar 9,8% terhadap industri pengolahan di Sumatera Selatan Tahun 2011.

Analisis Produktivitas, Mutu Bokar dan Industri Hilir Dari Perspektif Kelembagaan

Faktor Penyebab Rendahnya Produktivitas Karet Rakyat

Gambar 12 menunjukkan tingkat produktivitas karet rakyat di tingkat petani berdasarkan pendapat kelompok tani di wilayah sampel penelitian. Tingkat produktivitas karet rakyat yang rendah relatif lebih banyak terjadi di Kabupaten Musi Rawas karena hampir separuh kelompok tani di Kabupaten Musi Rawas mengatakan bahwa rata-rata produktivitas karet yang dihasilkan petani berkisar antara kurang dari 700 kg/ha/th. Di Kabupaten OKU, tingkat produktivitas karet rakyat relatif lebih tinggi dibanding di Musi Rawas karena 60% kelompok tani di OKU mengatakan bahwa tingkat produktivitas karet yang dihasilkan petani berkisar antara 700-900 kg/ha/th. Tingkat produktivitas dan mutu bokar yang relatif tinggi umumnya ditemukan di Kabupaten Muara Enim, karena 59% kelompok tani di Muara Enim mengatakan bahwa rata-rata tingkat produktivitas karet yang dihasilkan petani berkisar antara 900-1.000 kg/ha/th.

Gambar 12 Analisis Produktivitas Karet Rakyat Berdasarkan Pendapat Kelompok Tani

46

Untuk mengetahui faktor penyebab rendahnya tingkat produktivitas karet rakyat yang melekat atau berkaitan erat dengan kondisi riil petani di tiga wilayah sampel, Gambar 13 menunjukkan hasil analisis berdasarkan pendapat kelompok tani.

Gambar 13 Analisis Faktor Penyebab Rendahnya Tingkat Produktivitas Karet Rakyat yang Melekat dengan Kondisi Riel Petani

Gambar 13 menjelaskan bahwa sebagian besar kelompok tani di wilayah sampel mengatakan bahwa sebagian besar petani karet bekerja hanya sebagai petani karet, sehingga sumber penghasilan terbesar petani berasal dari kebun karet; tingkat pendidikan petani karet sebagian besar adalah tamatan SD; luas lahan kebun karet yang dimiliki per petani pada umumnya kurang dari 3 ha; umur tanaman karet yang dimiliki petani sebagian besar sudah berada di atas 20 tahun sehingga produktivitas tanaman sudah mulai menurun; status kepemilikan lahan per petani sebagian besar bukan milik sendiri melainkan lahan sewa dan lahan warisan sehingga petani tidak memiliki lahan milik sendiri yang dapat dijadikan agunan untuk mengakses modal ke perbankan; bibit karet umumnya dibeli dari penangkar di desa setempat atau dari luar kabupaten yang mana bukan merupakan bibit unggul bersertifikat; hampir separuh petani karet memiliki tingkat pendapatan kurang dari Rp 3 juta per bulan. Kondisi riil petani menurut kelompok tani di tiga wilayah sampel tersebut menjadi penyebab adanya keterbatasan sebagian besar petani karet

Keterangan:

Kategori interpretasi % jumlah kelompok tani yang menjawab:

0% = tidak ada; 0,1-25%= sebagian kecil; 26-49% = hampir setengah; 50%= setengahnya; 51% -75% = sebagian besar; 76% -99%= pada umumnya; 100%= seluruhnya.

dalam meningkatkan produktivitas tanaman karetnya, termasuk menjadi penyebab ketidakmampuan petani dalam menghasilkan bokar bermutu tinggi.

Khusus masalah peremajaan, faktor dominan penyebab kurangnya kemampuan petani melakukan peremajaan adalah karena faktor bibit unggul bersertifikat yang relatif mahal, sehingga sebagian besar petani membeli bibit tanpa sertifikat, atau menggunakan bibit asalan, yang dikembangkan dari hasil kebunnya sendiri, sebagaimana hasil analisis pada Gambar 14.

Gambar 14 Analisis Kendala Petani Karet dalam Melakukan Peremajaan Berdasarkan Persepsi Kelompok Tani

Ketidakmampuan petani dalam membeli bibit unggul bersertifikat ini hampir sebagian besar terjadi di semua kabupaten sampel. Hal itu menunjukkan bahwa peranan kelembagaan dalam meningkatkan pengembangan industri bibit unggul yang efisien masih belum optimal, sehingga harga bibit unggul bersertifikat masih relatif mahal.

Faktor Penyebab Rendahnya Mutu Bahan Olah Karet (Bokar)

Sebelum menganalisis faktor-faktor dominan yang menyebabkan rendahnya mutu bokar di tingkat petani, perlu menganalisis tingkat mutu bahan olah karet (bokar) yang dihasilkan oleh petani di wilayah sampel.

Pada Gambar 15 ditunjukkan bahwa tingkat mutu bahan olah karet (bokar) yang relatif rendah lebih banyak terjadi di Kabupaten Musi Rawas, karena 59% kelompok tani mengatakan bahwa kondisi mutu bokar yang dihasilkan petani masuk ke dalam kategori relatif rendah. Di Kabupaten OKU, diketahui mutu bokar relatif sedang, karena 58% kelompok mengatakan bahwa kondisi mutu bokar yang dihasilkan petani masuk ke dalam kategori relatif sedang. Di Kabupaten Muara Enim, umumnya mutu bokar yang dihasilkan petani relatif tinggi, karena 77% kelompok tani mengatakan bahwa kondisi mutu bokar yang dihasilkan petani masuk ke dalam kategori relatif tinggi.

48

Penetapan kriteria mutu bokar yang masuk ke dalam kategori relatif rendah, sedang dan tinggi tersebut dilakukan berdasarkan masukan dari pakar, asosiasi pengusaha karet di Sumatera Selatan, pelaku usaha industri pengolahan crumb rubber, dan lembaga pemerintah, yang menjadi nara

Dokumen terkait