DAFTAR LAMPIRAN
3 METODE PENELITIAN
Kerangka Pemikiran
Dalam upaya mengembangkan hasil-hasil penelitian terdahulu ke arah pencarian solusi terhadap permasalahan yang ada dalam pengembangan agribisnis karet rakyat di Provinsi Sumatera Selatan, yang ditelaah secara komprehensif dari hulu ke hilir dari perspektif peranan kelembagaan secara terintegrasi antar pusat, provinsi dan kabupaten/kota, dan perspektif pengembangan ekonomi wilayah, berikut ini disusun gambaran kerangka pemikiran penelitian sebagaimana tertera pada Gambar 3.
Gambar 3 Kerangka Pemikiran Pengembangan Agribisnis Karet dalam Perspektif Kelembagaan dan Ekonomi Wilayah
Gambar 3 menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya permasalahan produktivitas karet rendah, faktor-faktor penyebab mutu bahan olah karet rendah, dan faktor-faktor penyebab industri hilir karet belum berkembang di Sumatera Selatan, yang ditelaah dalam dua perspektif yaitu perspektif peranan kelembagaan dan perspektif ekonomi wilayah, sebagai landasan untuk mencari solusi terhadap permasalahan pengembangan agribisnis karet rakyat di Sumatera Selatan. Tujuan akhir penelitian ini adalah menghasilkan arahan kebijakan dan strategi pengembangann agribisnis karet rakyat yang disusun berdasarkan hasil telaahan dalam perspektif peranan kelembagaan dan perspektif pengembangan ekonomi wilayah.
Analisis pengembangan agribisnis karet rakyat dalam perspektif peranan kelembagaan, meliputi analisis deskripsi peranan organisasi/lembaga, jumlah organisasi/lembaga yang berperan, posisi peranan organisasi/lembaga yang berperan di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota, kendala pelaksanaaan peranan organisasi/lembaga, pola hubungan antar organisasi/lembaga dengan kelompok tani, karakteristik kelembagaan, model struktur dan hirarkhi kelembagaan. Sementara itu, analisis pengembangan agribisnis karet rakyat dalam perspektif ekonomi wilayah meliputi analisis
Ekonomi Wilayah
Peranan Kelembagaan
Produktivitas Karet
Mutu Bahan Olah Karet
Industri Hilir Karet
Arahan Kebijakan
Strategi Pengembangan
wilayah basis, wilayah pemusatan, wilayah spesialisasi, wilayah kompetitif karet rakyat, dan penentuan wilayah yang strategis untuk pengembangan agribisnis karet rakyat di Sumatera Selatan.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Provinsi Sumatera Selatan, yakni di tiga kabupaten dan satu kota sebagai sampel yaitu Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Muara Enim, Kabupaten OKU, Kota Palembang sebagaimana tertera pada Gambar 4.
Gambar 4 Peta Lokasi Sampel Penelitian dan Sebaran Perkebunan Karet Rakyat di Sumatera Selatan Tahun 2010
Penentuan lokasi dan sampel penelitian adalah penelitian ini fokus pada karet rakyat, karena karet hampir 85% dari total luas areal perkebunan karet di seluruh Indonesia dikelola oleh rakyat, sementara karet yang dikelola pemerintah hanya sekitar 7%, dan karet yang dikelola oleh perusahaan swasta murni adalah sekitar 8% (Kementan, 2011).
Dari Gambar 4 tentang peta lokasi sampel penelitian terlihat wilayah kabupaten sampel penelitian dipilih secara purposive sampling, dengan pertimbangan: Kabupaten Musi Rawas dan Muara Enim dipilih karena merupakan dua kabupaten yang memiliki luas areal kebun karet rakyat terbesar di Sumatera Selatan yakni menguasai 46% luas areal perkebunan karet di Sumatera Selatan; terdapat beragam aktifitas usaha agribisnis karet yang sudah berjalan dan berkembang sejak lama; dan terdapat organisasi atau lembaga pemerintah dan organisasi atau lembaga pelaku usaha yang berkaitan dengan pengelolaan pengembangan agribisnis karet rakyat. Kabupaten OKU dipilih karena merupakan kabupaten yang mewakili wilayah program eks
20
transmigrasi PIR BUN yang pernah dilaksanakan pada tahun 1980-an untuk ditelaah kondisi perkembangan agribisnis karet rakyatnya, terutama aspek kemitraan petani dengan perusahaan inti (PTP VII di Baturaja, Kabupaten OKU); terdapat beragam aktifitas usaha agribisnis karet yang sudah berjalan dan berkembang sejak lama; dan terdapat organisasi atau lembaga pemerintah dan organisasi atau lembaga pelaku usaha yang berkaitan dengan pengelolaan pengembangan agribisnis karet rakyat. Kota Palembang dipilih karena merupakan lokasi pusat industri pengolahan karet terbesar di Sumatera Selatan berupa pabrik crumb rubber; terdapat organisasi atau lembaga pemerintah dan organisasi atau lembaga pelaku usaha yang berkaitan dengan pengelolaan pengembangan agribisnis karet rakyat. Selain Provinsi Sumatera Selatan, juga dipilih Kota DKI Jakarta karena merupakan lokasi pusat aktifitas lembaga pemerintah pusat yang berkaitan dengan pengelolaan kebijakan pengembangan agribisnis karet rakyat secara nasional.
Pemilihan informan atau nara sumber yang menjadi sampel mewakili masing-masing organisasi/lembaga pemerintah dan non-pemerintah yang terkait, dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, dengan dasar pertimbangan organisasi/lembaga tersebut relatif dapat mewakili kelompok subsistem agribisnis karet yang bergerak pada subsistem hulu, budidaya, pengolahan dan pemasaran, dan subsistem penunjang, baik organisasi/lembaga yang berada di tingkat pusat, provinsi maupun di kabupaten/kota. Oleh karena data kerangka sampling tentang informan/nara sumber organisasi/lembaga tidak tersedia, maka pengambilan sampel informan/nara sumber juga dilakukan dengan teknik snowball sampling. Menurut Singarimbun dan Effendi (1989), jika kerangka sampel yang akan digunakan sebagai dasar pemilihan sampel tidak tersedia atau tidak lengkap, maka perlu menetapkan unit-unit analisis dalam populasi, yang digolongkan ke dalam gugus-gugus yang disebut cluster, untuk kemudian dibuat menjadi satuan-satuan, sebagai dasar sampel yang akan diambil. Sugiyono (2009) menjelaskan dalam penelitian kualitatif tidak dikenal istilah populasi, namun lebih dikenal ”social situation” yang terdiri dari: a) tempat, b) pelaku, c) aktivitas yang berinteraksi secara sinergis. Hasil penelitan kualitatifg tidak diberlakukan kepada populasi, namun dapat ditransferkan ke tempat lain dengan situasi sosial yang sama dengan kasus yang diteliti.
Untuk mendapatkan responden kelompok tani, dipilih dua kecamatan per masing-masing kabupaten/kota sampel yang mewakili kecamatan sentra karet rakyat di masing-masing kabupaten/kota. Kemudian dipilih 50% desa mewakili sentra produksi karet rakyat per masing-masing kecamatan sampel. Pemilihan jumlah responden kelompok tani dilakukan dengan menggunakan random sampling berdasarkan kerangka sampling. Penarikan sampel kelompok tani yang populasinya lebih dari 1000, menurut Riduwan (2008), dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
S : Jumlah sampel yang diambil n : Jumlah anggota populasi
%) 15 % 50 ( 100 1000 1000 % 15 − − − + = n S
Hasil pemilihan jumlah responden kelompok tani per masing-masing kabupaten/kota, kecamatan dan desa tertera pada Tabel 1.
Tabel 1 Penarikan Sampel Kelompok Tani di Tiga Kabupaten Sampel Penelitian
Kabupaten Kecamatan Desa Kelompok Tani
Jumlah Sampel Jumlah Sampel Jumlah Sampel
Musi Rawas 21 Karang Jaya 14 7 69 21
Rawas Ulu 17 9 126 40
Muara Enim 22 Gelumbang 22 11 118 38
Lubai 20 10 100 31
OKU 11 Lubuk Raja 5 3 70 22
Sinar
Peninjauan 7 4 95 30
Jumlah 85 44 578 182
Tabel 1 menjelaskan pada 6 kecamatan sampel dipilih 44 desa sampel untuk tiga kabupaten sampel dengan 182 kelompok tani sampel. Adapun nama-nama desa yang menjadi sampel dalam penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 1.
Pelaksanaan penelitian ini selama 13 bulan mulai dari September 2012 sampai September 2013, meliputi dua jenis tahapan kegiatan analisis data sekunder terhadap 14 kabupaten/kota yang memiliki areal perkebunan karet rakyat yang dilaksanakan pada bulan September 2012 sampai November 2012; dan kegiatan analisis data primer yang dilakukan di tiga wilayah kabupaten dan satu kota sampel di Sumatera Selatan pada bulan Desember 2012 sampai September 2013.
Kegiatan analisis data primer yang berkaitan dengan peranan kelembagaan, pengumpulan data tidak hanya dilakukan di Provinsi Sumatera Selatan, tetapi juga dilakukan di Jakarta karena nara sumber yang mewakili organisasi/lembaga tingkat pusat, umumnya berada di Jakarta.
Jenis Data dan Sumber Data
Berdasarkan tujuan penelitian, jenis data penelitian ini terdiri dari data sekunder dan data primer dengan sumber data tertera pada Tabel 2.
23 Tabel 2 Jenis dan Sumber Data, Metode Pengumpulan dan Analisis Data, serta Output yang Diharapkan
Tujuan Penelitian Jenis Data Sumber Data Metode Pengumpulan
Metode Analisis Data Output yang Diharapkan
1. Menganalisis kondisi karet rakyat ditinjau dari perspektif pengembangan ekonomi wilayah:
wilayah basis produksi, wilayah pemusatan, wilayah spesialisasi, dan wilayah kompetitif di Sumatera Selatan.
Data Sekunder:
1) Luas areal tanaman dan produksi karet rakyat Sumatera Selatan.
2) Peta RBI Sumatera Selatan.
BPS tahun 2007-2011. Bakosurtanal. Dokumen laporan perencanaan, kebijakan, hasil penelitian. a) Location Quotient (LQ)
b) Localization Index (LI)
c) Specialization Index (SI)
d) Shift and Share Analysis (SSA)
e) Geographic Information System (GIS).
a) wilayah basis ekspor karet rakyat
b) pola penyebaran areal karet rakyat
c) wilayah spesialisasi karet rakyat
d) wilayah kompetitif karet rakyat
e) peta overlay LQ,SSA.
2. Menganalisis faktor- faktor penyebab rendahnya tingkat produktivitas karet rakyat di Sumatera Selatan ditinjau dari perspektif peranan kelembagaan.
Data Primer:
1) Persepsi kelompok tani (6 kec, 44 desa, 182
kelompok tani).
2) Persepsi organisasi/lembaga di luar kelompok tani: (a) 21 lembaga Pemerintah
Pusat;
(b) Tujuh lembaga Pemprov Sumatera Selatan; (c) 16 lembaga Pemkab Musi
Rawas, Muara Enim, OKU, Palembang;
(d) Enam lembaga non- pemerintah:
(d1) 1 perusahaan industri crumb
Responden dan nara sumber di wilayah sampel. Wawancara terstruktur, terbuka dan mendalam dengan kuesioner, Focus Group Discussion, observasi, dan triangulasi data. 1) Analisis Deskriptif kualitatif 2) Analisis Deskriptif kuantitatif (statistik prosentase) 3) Analisis kuantitatif Interpretative Structural Modelling (ISM). Ditemukannya faktor- faktor penyebab rendahnya tingkat
produktivitas karet rakyat di Sumatera Selatan ditinjau dari perspektif peranan kelembagaan.
Ditemukannya kondisi peranan kelembagaan yang ada.
24
rubber di Palembang; (d2) GAPKINDO Sumatera
Selatan
(d3) Tiga pedagang pengumpul mewakili tiap kabupaten; (d4) Satu unit KUD agribisnis
karet di Muara Enim; (d5) BALIT Sembawa di
Banyuasin;
(d6) Lima pakar agribisnis karet (Disbunprov, Disbun Musi Rawas, Disbun Muara Enim, Disbun OKU, UNSRI)
3. Menganalisis faktor- faktor penyebab rendahnya mutu bahan olah karet rakyat di Sumatera Selatan ditinjau dari perspektif peranan kelembagaan.
Data Primer:
1) Persepsi kelompok tani (6 kec, 44 desa, 182
kelompok tani).
2) Persepsi organisasi/lembaga di luar kelompok tani: (a) 21 lembaga Pemerintah
Pusat;
(b) Tujuh lembaga Pemprov Sumatera Selatan; (c) 16 lembaga Pemkab Musi
Rawas, Muara Enim, OKU, Palembang;
(d) Enam lembaga non- pemerintah: Responden dan nara sumber di wilayah sampel. Wawancara terstruktur, terbuka dan mendalam dengan kuesioner, Focus Group Discussion, observasi, dan triangulasi data. 1) Analisis Deskriptif kualitatif 2) Analisis Deskriptif kuantitatif (statistik prosentase) 3) Analisis kuantitatif Interpretative Structural Modelling (ISM). Ditemukannya faktor- faktor penyebab rendahnya mutu bahan olah karet rakyat di Sumatera Selatan ditinjau dari perspektif peranan kelembagaan. Ditemukannya kondisi peranan kelembagaan yang ada. Tabel 2 (Lanjutan) 23
(d1) 1 perusahaan industri crumb rubber di Palembang; (d2) GAPKINDO Sumatera
Selatan
(d3) Tiga pedagang pengumpul mewakili tiap kabupaten; (d4) Satu unit KUD agribisnis
karet di Muara Enim; (d5) BALIT Sembawa di
Banyuasin;
(d6) Lima pakar agribisnis karet (Disbunprov, Disbun Musi Rawas, Disbun Muara Enim, Disbun OKU, UNSRI)
4. Menganalisis faktor- faktor penyebab industri hilir karet belum berkembang di Sumatera Selatan ditinjau dari perspektif peranan kelembagaan.
Data Primer:
1) Persepsi kelompok tani (6 kec, 44 desa, 182
kelompok tani).
2) Persepsi organisasi/lembaga di luar kelompok tani: (a) 21 lembaga Pemerintah
Pusat;
(b) Tujuh lembaga Pemprov Sumatera Selatan; (c) 16 lembaga Pemkab Musi
Rawas, Muara Enim, OKU, Palembang;
(d) Enam lembaga non-
Responden dan nara sumber di wilayah sampel. Wawancara terstruktur, terbuka dan mendalam dengan kuesioner, Focus Group Discussion, observasi, dan triangulasi data. 1) Analisis Deskriptif kualitatif 2) Analisis Deskriptif kuantitatif (statistik prosentase) 3) Analisis kuantitatif Interpretative Structural Modelling (ISM). Ditemukannya faktor- faktor penyebab industri hilir karet belum
berkembang di Sumatera Selatan ditinjau dari perspektif peranan kelembagaan. Ditemukannya kondisi peranan kelembagaan yang ada. Tabel 2 (Lanjutan) 24
26
pemerintah:
(d1) 1 perusahaan industri crumb rubber di Palembang; (d2) GAPKINDO Sumatera
Selatan
(d3) Tiga pedagang pengumpul mewakili tiap kabupaten; (d4) Satu unit KUD agribisnis
karet di Muara Enim; (d5) BALIT Sembawa di
Banyuasin;
(d6) Lima pakar agribisnis karet (Disbunprov, Disbun Musi Rawas, Disbun Muara Enim, Disbun OKU, UNSRI)
5. Menyusun arahan kebijakan dan strategi pengembangan agribisnis karet rakyat di Sumatera Selatan dari perspektif peranan kelembagaan dan ekonomi wilayah.
Tersusunnya arahan kebijakan dan strategi pengembangan karet rakyat di Sumatera Selatan dari perspektif peranan kelembagaan dan ekonomi wilayah. Tabel 2 (Lanjutan)
26
Metode Pengumpulan Data dan Analisis Data
Metode Pengumpulan data, analisis data dan output yang diharapkan tertera pada Tabel 2. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama mengumpulkan dan menganalisis data sekunder untuk menganalisis kondisi karet rakyat di Sumatera Selatan dari perspektif pengembangan ekonomi wilayah. Tahap dua mengumpulkan dan menganalisis data primer untuk menelaah faktor-faktor penyebab rendahnya produktivitas dan mutu karet rakyat, belum berkembangnya industri hilir karet, ditinjau dari perspektif peranan kelembagaan yang ada dalam pengembangan agribisnis karet rakyat di Sumatera Selatan.
Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui pengumpulan dokumen laporan pelaksanaan program/kegiatan di organisasi/lembaga pemerintah dan non pemerintah yang terkait selama lima tahun terakhir (2008-2012), dokumen perencanaan, kebijakan, peraturan, laporan hasil penelitian, yang berkaitan dengan pengembangan agribisnis karet di Sumatera Selatan. Data primer kuantitatif dikumpulkan melalui wawancara terstruktur kepada responden dengan menggunakan kuesioner. Data primer kualitatif diperoleh melalui pengamatan (observasi), wawancara mendalam (indepth interview), kepada informan, dan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion).
Metode analisis yang digunakan untuk mengolah data sekunder (untuk menelaah potensi perkebunan karet rakyat di 14 kabupaten/kota di Sumatera Selatan) adalah Location Quotient (LQ), Localization Index (LI), Specialization Index (SI), Shift and Share Analysis (SSA), Geographic Information System (GIS). Sementara itu, untuk mengolah data primer digunakan metode analisis deskriptif kualitatif, deskriptif kuantitatif (statistik persentase), dan analisis kuantitatif Interpretative Structural Modelling (ISM).
Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis gambaran tentang jenis peranan dan jenis kendala yang dihadapi organisasi/lembaga yang ada, serta masukan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi organisasi/lembaga. Jenis peranan yang dideskripsikan tersebut berupa kontribusi masing-masing organisasi/lembaga pada tataran implementasi kebijakan/program/kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan agribisnis karet rakyat di Sumatera Selatan. Analisis deskriptif kualitatif ini juga menganalisis perbandingan antara teori kelembagaan ideal menurut ahli kelembagaan dengan kondisi riel kelembagaan yang ada di lokasi sampel penelitian, sehingga dapat ditemukan gambaran kondisi kemampuan kelembagaan yang ada dalam mendukung pengembangan agribisnis karet rakyat di Sumatera Selatan.
Analisis deskriptif kuantitatif (statistik deskriptif) digunakan untuk menganalisis persepsi responden dan nara sumber tentang jumlah organisasi/lembaga yang berperan; posisi peranan organisasi/lembaga pada masing-masing subsistem agribisnis karet di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota; pola hubungan/relasi antar organisasi/lembaga baik hubungan secara horizontal maupun hubungan vertikal pusat-provinsi-kabupaten/kota dalam pengembangan agribisnis karet di Sumatera Selatan. Analisis kuantitatif Interpretative Structural Modelling (ISM) digunakan untuk menganalisis model struktur dan hirakhi kelembagaan yang ada melalui analisis dua elemen
yakni elemen organisasi/lembaga dan elemen kendala, yang berpengaruh dalam sistem pengembangan agribisnis karet di Sumatera Selatan. Dari model struktur dan hirarkhi kelembagaan yang ada tersebut dapat diketahui kondisi kelembagaan yang ada, sehingga dapat disusun arahan kebijakan dan strategi yang diperlukan untuk meningkatkan peranan kelembagaan yang ada agar lebih memadai untuk pengembangan agribisnis karet di masa mendatang.
Analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk menelaah besar kapasitas karet rakyat di kabupaten/kota. Jika nilai LQ > 1 berarti merupakan wilayah basis karet, namun jika LQ < 1 berarti bukan wilayah basis karet. Rumus analisis LQ (Panuju et al., 2011) adalah:
Analisis Localization Index (LI) untuk menelaah pola distribusi karet rakyat sehingga dapat ditentukan wilayah potensial yang berkembang lebih baik untuk aktivitas karet rakyat. Nilai LI mendekati 1 berarti terjadi pemusatan perkebunan karet rakyat di kabupaten/kota tertentu, atau terdapat wilayah potensial yang berkembang lebih baik untuk aktivitas karet rakyat (nama kabupaten/kota dapat dilihat dari hasil LQ). Nilai LI mendekati 0 berarti sebaliknya. Rumus analisis LI adalah:
Specialization Index (SI) untuk menelaah wilayah spesialisasi karet rakyat. Jika nilai SI mendekati 1 berarti terdapat spesialisasi di kabupaten/kota tertentu, jika nilai SI mendekati 0 berarti tidak terdapat spesialisasi di kabupaten/kota tertentu dalam unit wilayah Sumatera Selatan untuk karet rakyat. Rumus SI adalah:
Keterangan:
X ij : Nilai aktifitas ke-j (luas areal komoditas perkebunan ke-j) pada unit wilayah ke-i
(kab/kota ke-i)
X i. : Jumlah seluruh aktifitas (total luas areal semua komoditas perkebunan) di unit
wilayah ke-i (kab/kota ke-i)
X .j : Jumlah aktifitas ke-j (luas areal komoditas perkebunan ke-j) di seluruh unit wilayah
X .. : Besaran aktifitas total (total luas areal semua komoditas perkebunan) di seluruh unit
wilayah (Sumatera Selatan)
Keterangan:
Xij : Nilai aktifitas ke-j (luas areal komoditas perkebunan ke-j) pada unit wilayah ke-i
(kab/kota ke-i)
X i. : Jumlah seluruh aktifitas (total luas areal semua komoditas perkebunan) di unit
wilayah ke-i (kab/kota ke-i)
X .j : Jumlah aktifitas ke-j (luas areal komoditas perkebunan ke-j) di seluruh unit wilayah
Sumsel.
X.. : Besaran aktifitas total (total luas areal semua komoditas perkebunan) di seluruh unit
wilayah Sumsel.
n : Banyaknya wilayah kabupaten/kota.
X
X
X
X
LQ
j i ij ij .. . . / / =∑
= − = n i i j ij jX
X
X
X
LI
1 .. . . 2 128
Shift Share (SSA) untuk menelaah wilayah kompetitif karet rakyat di Sumatera Selatan berdasarkan perubahan luas areal karet rakyat. Nilai SSA dapat menjelaskan: (1) pergeseran struktur luas areal karet rakyat di suatu kabupaten/kota tertentu dalam periode dua titik waktu (tahun 2006 ke 2010); (2) kemampuan karet rakyat berkompetisi dengan tanaman perkebunan lainnya di Sumatera Selatan dalam periode dua titik waktu (tahun 2006 ke 2010); (3) jenis komponen penyebab pertumbuhan luas areal karet rakyat di tingkat Provinsi Sumatera Selatan, yaitu: (a) Regional Share; (b) Proportional Shift; (c) Differential Shift, sehingga dapat diketahui komponen yang paling berperan besar mendukung pergeseran/perubahan luas areal karet rakyat di Sumatera Selatan. Nilai SSA adalah penjumlahan dari seluruh nilai komponen tersebut. Rumus SSA adalah:
(a) (b) (c)
Nilai komponen penyebab terjadinya pertumbuhan luas tanaman karet rakyat di Sumatera Selatan dari analisis SSA, terdapat nilai koefisien pertumbuhan karet rakyat yang didekomposisikan menjadi tiga hal, yaitu: a) sebab pertumbuhan perkebunan karet rakyat yang bersumber dari pengaruh dinamika keragaan wilayah secara agregat (komponen Regional Share), yaitu pertumbuhan seluruh komoditas perkebunan di seluruh kabupaten/kota dalam wilayah Sumatera Selatan pada dua titik waktu, yang menunjukkan dinamika pertumbuhan perkebunan seluruh wilayah kabupaten/kota; b) sebab pertumbuhan perkebunan karet rakyat yang bersumber dari pengaruh dinamika keragaan perkebunan karet rakyat secara agregat (komponen Proportional
Keterangan:
Xij : Nilai aktifitas ke-j (luas areal komoditas perkebunan ke-j) pada unit wilayah ke-i
(kab/kota ke-i di Sumsel)
X i. : Jumlah seluruh aktifitas (total luas areal semua komoditas perkebunan) di unit
wilayah ke-i (kab/kota ke-i di Sumsel)
X .j : Jumlah aktifitas ke-j (luas areal komoditas perkebunan ke-j) di seluruh unit wilayah
Sumsel.
X.. : Besaran aktifitas total (total luas areal semua komoditas perkebunan) di seluruh unit
wilayah Sumsel.
p : Banyaknya jenis komoditas perkebunan di Sumsel.
∑
= − = P j j i ij iX
X
X
X
SI
1 .. . 2 1 − + − + − =X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
SSA
t j t j t ij t ij t t t j t j t t ) 0 ( . ) 1 ( . ) 0 ( ) 1 ( ) 0 ( ) 1 ( ) 0 ( . ) 1 ( . ) 0 ( ) 1 (..
..
..
..
1 Keterangan:X.. : Nilai total semua aktifitas (total perkebunan rakyat) dalam total wilayah kab/kota. X.j : Nilai total aktifitas tertentu (total karet rakyat) dalam total wilayah kab/kota. Xij : Nilai aktifitas tertentu (karet rakyat) pada suatu wilayah tertentu (kab/kota). t1 : Data nilai tahun akhir (digunakan data luas tanaman perkebunan tahun 2010). t0 : Data nilai tahun awal (digunakan data luas tanaman perkebunan tahun 2006). a : Komponen Regional Share (RS).
b : Komponen Proportional Shift (PS).
Shift) yaitu pertumbuhan seluruh aktifitas karet rakyat dibandingkan dengan pertumbuhan seluruh komoditas perkebunan di seluruh kabupaten/kota dalam wilayah Sumatera Selatan, yang menunjukkan dinamika perkebunan karet di seluruh wilayah kabupaten/kota di Sumatera Selatan; c) sebab pertumbuhan perkebunan karet rakyat yang bersumber dari dinamika keragaan unit wilayah kabupaten/kota di Sumatera Selatan, yang diamati adalah komponen Differential Shift yaitu tingkat kompetisi perkebunan karet rakyat di suatu kabupaten/kota dibandingkan pertumbuhan aktifitas karet rakyat di seluruh Sumatera Selatan. Nilai Differential Shift menggambarkan dinamika unggul atau tidaknya perkebunan karet rakyat di suatu kabupaten/kota terhadap perkebunan karet rakyat tersebut di Sumatera Selatan.
Untuk menelaah peta hasil analisis wilayah kabupaten/kota di Sumatera Selatan yang berpotensi sebagai wilayah basis produksi karet rakyat, wilayah pemusatan, wilayah spesialisasi dan wilayah kompetitif karet rakyat di Sumatera Selatan, dilakukan teknik overlay dari hasil analisis LQ, LI, SI, dan SSA menggunakan Geographic Information System (GIS).
Data primer diolah dengan metode analisis deskriptif kualitatif, deskriptif kuantitatif (statistik persentase), dan metode kuantitatif Interpretative Structural Modelling (ISM) guna menelaah faktor-faktor produktivitas dan mutu karet rakyat rendah, belum berkembangnya industri hilir karet di Sumatera Selatan, yang berhubungan dengan peranan kelembagaan dalam pengembangan agribisnis karet rakyat di Sumatera Selatan, melalui prosedur (alur analisis) sebagai berikut:
1. Metode analisis deskriptif kualitatif berdasarkan data persepsi dari informan atau nara sumber yang mewakili masing-masing organisasi/lembaga terkait, dilakukan cross cek terhadap dokumen terkat guna menelaah variabel peranan kelembagaan yang ada: (a) deskripsi peranan organisasi/lembaga; (b) kendala pelaksanaaan peranan organisasi/lembaga; (c) karakteristik kelembagaan yang ada, yang dianalisis menggunakan teori Schmid (1972) dan Syahyuti (2003);
2. Metode analisis deskriptif kuantitatif (statistik persentase) berdasarkan data persepsi dari responden kelompok tani, menelaah variabel peranan kelembagaan yang ada: (a) jumlah organisasi/lembaga yang berperan; (b) gambaran posisi peranan organisasi/lembaga menurut subsistem agribisnis karet di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota; (c) pola hubungan antar organisasi/lembaga dengan kelompok tani;
3. Metode analisis kuantitatif Interpretative Structural Modelling (ISM) berdasarkan data persepsi para pakar agribisnis karet, guna menelaah model struktur dan hirarkhi elemen kelembagaan yang ada, sebagaimana telah digunakan dalam penelitian Indrawanto (2009); Walukow (2011); Sadikin, et al. (2004); Abbasi, et al. (2012); Kholil, et al. (2008); Singh, et al. (2008). Hasil analisis ISM memberikan gambaran tentang sejauhmana kemampuan atau kelemahan sistem kelembagaan (Eriyatno, 2007) khususnya di Sumatera Selatan, guna menelaah bentuk hubungan kontekstual sub elemen organisasi/lembaga dan sub elemen kendala yang terkait atau yang berpengaruh dalam pengembangan agribisis karet di Sumatera Selatan, serta menjelaskan tentang sub elemen organisasi/lembaga dan subelemen Kendala mana di dalam pengembangan
30
sistem agribisnis karet di Sumatera Selatan, yang perlu mendapat perhatian perbaikan kebijakan ke depan.
Tahapan analisis yang dilakukan dalam metode ISM adalah: 1) melakukan identifikasi elemen; 2) menentukan hubungan kontekstual elemen tersebut; 3) hasil penilaian tersebut tersusun dalam structural Self Interaction Matrix (SSIM) yang dibuat dalam bentuk tabel Reachability Matrix (RM) dengan mengganti atau memasukkan simbol V, A, X, dan O menjadi bilangan 1 dan 0; 4) matriks tersebut kemudian diubah menjadi matriks tertutup, untuk mengoreksi matriks tersebut apakah sudah memenuhi kaidah transitivity yaitu jika suatu variabel A mempengaruhi B dan B mempengaruhi C, artinya A harus mempengaruhi C. Untuk penelitian ini, lebih difokuskan pada analisis