BAB 2 KERANGKA KONSEP
C. Kondisi yang diharapkan
Pemberian layanan informasi peningkatan penyadaran masyarakat terhadap anak korban pelecehan seksual di Nagari Lareh Nan Panjang, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, bertujuan untuk:
1. Memberi berbagai pengetahuan, wawasan dan pemahaman kepada masyarakat, terutama orang tua tentang pelecehan seksual pada anak, berkaitan dengan apa itu
9 pelecehan seksual pada anak, apa saja bentuknya, siapa saja pelakunya, cara menghindarkan diri agar tidak menjadi korban.
2. Memberikan pengetahuan, wawasan dan pemahaman kepada masyarakat tentang ciri-ciri anak yang menjadi korban pelecehan seksual, agar dapat memberikan penanganan lebih lanjut kepada mereka
3. Memberikan pengetahuan, wawasan dan pemahaman kepada masyarakat tentang pendidikan seks dini kepada anak, seperti segala sesuatu yang terkait dengan fisik/anggota tubuh anak yang tidak boleh dilihat dan disentuh oleh orang lain.
4. Seluruh masyarakat dan termasuk lingkup sekolah memberikan pendidikan seks dini kepada anak
5. Memberikan pengetahuan, wawasan dan pemahaman kepada masyarakat tentang ancaman hukuman pidana terhadap pelaku pelecehan seksual kepada anak.
6. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat tentang dosa dan hukuman Allah terhadap pelaku pelecehan seksual
7. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya dari pelecehan seksual pada anak, yang diharapkan orang tua waspada terhadap kasus pelecehan seksual
8. Memberikan dukungan kepada masyarakat untuk bersama-sama saling bersatu mencegah dan memberantas terjadinya pelecehan seksual pada anak.
9. Memberikan dukungan kepada masyarakat agar melaporkan setiap terjadinya pelecehan seksual pada anak kepada aparatur pemerintahan nagari ataupun pihak kepolisian, supaya mereka tidak menutupi peristiwa tersebut, karena akan membuat kasus makin melebar dan korban makin banyak dengan merasa terlindunginya pelaku.
10. Meminimalkan bahkan mencegah tidak terjadi pelecehan seksual pada anak, dengan pengetahuan, wawasan dan pemahaman yang dimiliki oleh masyarakat.
11. Terciptanya suatu aturan nagari yang mengatur segala aktivitas masyarakat yang terkait dengan arah terjadinya pelecehan seksual terutama pada anak
12. Aparatur nagari, tokoh masyarakat dan keluarga secara bersinergi menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif untuk anak.
13. Menyelamatkan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dari pelecehan seksual.
10 D. Strategi Pelaksanaan
Strategi pendampingan yang digunakan bersifat Partisipatori dan Community Based Research (CBR). Breanda Roche dalam Mohammad Hanafi, dkk menyatakan CBR “sebagai sebuah riset yang dilakukan komunitas dan kepakaran akademis untuk mengeksplorasi dan menciptakan peluang-peluang bagi terjadinya aksi sosial dan perubahan sosial”5,. Pada kegiatan bimbingan dan penyuluhan ini dengan melakukan partisipasi dan mobilisasi sosial untuk menumbuhkan meningkatkan kesadaran serta kepedulian masyarakat terhadap adanya aksi-aksi pelecehan seksual yang dilakukan pada anak-anak di bawah umur.
Alasan menggunakan metode CBR dalam pengabdian ini bagi para akademisi sebagai untuk upaya melakukan perubahan fenomena sosial dengan mengubah cara pandang masyarakat tentang kehidupan mereka. Berikut penjelasan tentang pentingnya metode CBR:
1. Bahwa CBR dapat mengidentifikasi intervensi baru yang lebih baik serta upaya-upaya preventif bagi anggota masyarakat.
2. Bahwa CBR dapat mengidentifikasi dan memberikan dukungan untuk pengembangan sistem yang lebih baik dalam kehidupan sosial.
3. Bahwa CBR dapat mengidentifikasi prioritas pembangunan sosial yang dapat dijadikan fokus oleh organisasi dan agensi-agensi perubahan sosial.
4. Bahwa CBR dapat Mengembangkan program-program pengembangan pendidikan untuk para staf dari organisasi sosial atau Lembaga Swadaya Masyarakat yang menjadi agensi perubahan sosial.
5. Bahwa CBR dapat menterjemahkan beberapa pertanyaan penelitian yang sangat baik dalam konteks memenuhi kebutuhan sosial dari anggota masyarakat.
6. Community Based Reseacrh (CBR) bukan sebuah metode, bukan pula sebuah pendekatan yang akan menentukan berbagai teknik pengumpulan dan analisis data, tapi, sebuah model penelitian yang menjadikan target komunitas sosial sebagai bagian aktif dalam proses penelitian
5 Mohammad Hanafi dkk. 2015:11.Community Based Research , LP2M UIN Sunan Ampel Surabaya. Surabaya
11 Penelitian CBR melibatkan masyarakat dalam semua proses penelitian, sebagaimana dijelaskan oleh Rena Pasick dari University of California, San Fransisco, bahwa masyarakat diajak terlibat dalam enam (6) proses penelitian yakni:
1. Para peneliti harus memulai mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam perumusan isu penting yang menuntut adanya intervensi untuk membawa perubahan pada masyarakat.
2. Masyarakat juga diajak untuk berpartisipasi dalam perumusan proposal penelitian dan presentasi dalam pengajuan proposal kepada pemerintah atau badan lain yang mensponsori penelitian tersebut.
3. Peneliti juga harus melibatkan perwakilan dari masyarakat dalam menentukan kelompok sosial yang akan dijadikan sebagai subyek peneltian.
4. Representasi masyarakat juga harus dilibatkan dalam penyusunan disain model yang akan diintervensikan pada komunitas sosial mereka,
5. Sebahagian kelompok komunitas sosial subyek penelitian juga terlibat dalam proses penggunaan rancangan model dalam sebuah intervensi yang dilakukan.
6. Terakhir, sebagian dari anggota masyarakat dari komunitas subyek penelitian juga terlibat dalam perumusan akhir hasil penelitian, melakukan diseminasi, serta membantu menjelaskan pada masyarakat bagaiamana model baru ini diimplementasikan dalam kehidupan sosial mereka, agar terjadi perubahan yang mereka inginkan6.
Masyarakat juga dilibatkan mengatasi permasalahan pelecehan seksual terhadap anak yang terjadi disekitarnya. Tim pengabdi bekerjasama dengan aparatur pemerintah, tokoh masyarakat, masyarakat umum dan juga keluarga di tempat pengabdian ini dilakukan. Pada kegiatan ini mereka dilibatkan secara aktif sebagai subyek mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi program-program riset.
Daerah yang menjadi wilayah pengabdian diambil dengan menggunakan teknik purposife sampling. Adapun yang menjadi pertimbangannya yaitu: daerah yang paling banyak memiliki kasus pelecehan seksual terhadap anak. Pengabdian dilakukan di Kabupaten/Kota yang terdapat di Padang Pariaman. Kabupaten Padang Pariaman
6 Mohammad Hanafi dkk. 2015. Community Based Research , LP2M UIN Sunan Ampel
12 memiliki 17 Kecamatan dan 103 Desa, dengan sebaran penduduk 347 jiwa/KM.
Sementara Kota Pariaman memiliki 4 Kecamatan 16 Kelurahan dan 55 Desa dengan sebaran penduduk 1346 jiwa/KM7.
E. Kajian Teori
1. Layanan Informasi a. Pengertian
Layanan informasi sebagai layanan ke dua dari sepuluh jenis layanan, merupakan salah satu solusi yang dapat ditawarkan untuk mengatasi berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat saat ini, termasuk dalam meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk mencegah dan mengantisipasi terjadinya pelecehan seksual pada anak. Layanan informasi merupakan layanan yang memungkinkan individu untuk memperoleh pemahaman dari suatu informasi dan pengetahuan yang diperlukan, sehingga dapat digunakan untuk mengenali diri sendiri dan lingkungan. Layanan ini memungkinkan klien menerima dan memahami berbagai informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan klien.
Berikut pengertian layanan informasi oleh beberapa ahli:
Winkel (dalam Tohirin) mengemukakan bahwa layanan informasi adalah suatu layanan yang berupaya memenuhi kekurangan individu akan informasi yang mereka perlukan. Layanan informasi juga bermakna usaha-usaha untuk membekali seseorang dengan pengetahuan serta pemahaman tentang lingkungan hidupnya.8
Prayitno dan Erman Amti layanan informasi adalah kegiatan memberikan pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani tugas atau
7 www.wikipedia.org
8 Tohirin, Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah, (Pekanbaru: Grafino Persada), h. 147
13 kegiatan, atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau rencana yang dikehendaki.9
Winkel dan Sri Hastuti layanan informasi adalah usaha untuk membekali seseorang dengan pengetahuan tentang data dan fakta dibidang pendidikan, pekerjaan, dan perkembangan pribadi dan sosial, supaya mereka bisa belajar tentang lingkungan hidupnya serta lebih mampu mengatur dan merencanakan kehidupannya sendiri.10
Slameto mengungkapkan layanan informasi adalah layanan yang diberikan untuk memberikan berbagai keterangan, data dan fakta tentang dunia luar (dunia pendidikan dan dunia kerja) kepada individu dengan maksud agar mempunyai pemahaman yang betul tentang dunia sekitarnya. Pemahaman ini selanjutnya penting untuk mengambil keputusan atau menentukan pilihan11
Yahya Jaya layanan informasi adalah salah satu jenis layanan konseling KSKK yang memungkinkan umat atau orang bcragama menerima dan memahami informasi dan pengetahuan tentang kekuatan, spiritual, keagamaan dan ketuhanan (KSKK) dari sumber yang layak dipercaya untuk dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melaksanakan amal saleh serta membuat pertimbangan dan mengambil keputusan bagi penentuan sikap dan tingkah laku keberagamaan atau nasib dan jalan hidupnya.12
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan layanan informasi sebagai suatu bentuk usaha dalam memberikan pengetahuan, keterangan dan data yang diperlukan individu sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
b. Tujuan
Layanan informasi membekali individu dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenali diri,
9 Prayitno, Erman Amti, “Dasar- Dasar Bimbingan Dan Konseling”(Jakarta: Rineka Cipta, 2004),h.
259-260
10 Winkel, Sri Hastuti, “Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan”, (yogyakarta: Mesdia Abadi, 2007), h. 316-317
11 Slameto, Bimbingan di Sekolah (Salattiga: PT Bima Aksara, 1986), h. 60.
12 Yahya Jaya. Wawasan Profesional Konseling KSKK Islam. (Padang: Hafya Press, 2014), h. 99
14 merencakan, dan mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat.
Tujuan dilakukannya layanan informasi untuk memberikan bantuan kepada klien baik berupa informasi mengenai pemahaman diri, penyesuaian bakat, minat, kemampuan, cita-cita, pendidikan, maupun pekerjaan. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mencegah timbulnya masalah, pemecahan suatu masalah, untuk memelihara dan mengembangkan potensi individu serta memungkinkan individu yang bersangkutan membuka diri dalam mengaktualisasikan hak- haknya.13
Layanan informasi bertujuan untuk mengembangkan kemandirian, pemahaman dan penguasaan individu terhadap informasi yang diperlukannya akan memungkinkan individu untuk :
1) Mampu memahami dan menerima diri dan lingkungannya secara objektif, positif, dan dinamis
2) Mengambil keputusan
3) Mengaruhkan diri untuk kegintan-kegiutun yung bergunu sesuai dengan keputusan yang diambil
4) Mengaktualisasikan dirinya secara terintegrasi.14
Selain itu Yahya Jaya juga berpendapat dalam perspektif agama, tujuan layanan informasi adalah untuk membekali orang atau umat beragama dengan
13 Tohirin, op.cit h.148
14 Ibid, h. 155
15 berbagai pengetahuan dan pemahaman KSKK tentang berbagai hal yang berguna bagi pembangunan. dan pengembangan kehidupan beragama Islam.15
Dari beberapa pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan layanan informasi adalah untuk memberikan pengetahuan, keterangan dan data kepada individu, agar individu tersebut dapat bersikap dan mengambil keputusan yang tepat.
c. Fungsi Bimbingan Dan Konseling
Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh jenis layanan informasi ialah fungsi pemahaman dan pencegahan
1) Fungsi pemahaman, yaitu akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan nya, pemahaman itu meliputi:
a) Pemahaman tentang diri
b) Pemahaman tentang lingkungan
c) Pemahaman tentang lingkungan yang “lebih luas”.
2) Fungsi pencegahan, yaitu akan menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul, yang akan dapat mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian-kerugian tertentu dalam proses perkembangan, Prayitno (2008:68).
. Fungsi ini berkaitan dengan upaya konselor dalam mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, agar tidak dialami oleh klien. Fungsi pencegahan akan menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya klien dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul, yang akan
15 Yahya Jaya. Op.cit h. 99
16 dapat mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian-kerugian tertentu dalam proses perkembangan.
d. Materi layanan:
Materi dalam layanan informasi ini berkaitan dengan:
1) Informasi pengembangan pribadi
2) Informasi kurikulum dan proses belajar mengajar 3) Informasi pendidikan tinggi
4) Informasi jabatan
5) Informasi kehidupan berkeluarga, sosial kemasyarakatan, keberagamaan, social budaya, dan lingkungan
e. Teknik Penyampaian Layanan Informasi
Layanan informasi dapat dilakukan secara terbuka, klasikal dan berkelompok. Prayitno mengemukakan bahwa cara penyampaian informasi yang paling biasa dipakai dalam layanan adalah ceramah, yang diikuti dengan tanya jawab untuk mendalami informasi tersebut dapat dilakukan diskusi antara peserta layanan.16
Selain dengan metode caramah atau yang disebut dengan teknik lisan, Winkel juga mengemukakan bentuk yang lain yaitu:
1) Lisan 2) Tertulis 3) Audio visual
4) Disket program computer
16 Ibid, h. 8
17 Menurut Tohirin, menyebutkan bahwa teknik yang yang biasa digunakan untuk layanan informasi adalah :
1) Ceramah, tanya jawab, dan diskusi.
2) Melalui media penyampaian informasi 3) Acara khusus
4) Narasumber
Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan teknik yang digunakan dalam pelaksanaan layanan informasi dilakukan secara lisan, tertulis maupun menggunakan alat/media.
f. Asas-Asas Layanan Informasi
Kegiatan konseling memiliki 12 azas yang mesti diperhatikan dalam pelaksanaannya. Kegiatan layanan informasi ini ada beberapa azas yang utama, yaitu:
1) Asas kegiatan 2) Asas kesukarelaan 3) Asas keterbukaan 4) Asas kerahasiaan.
2. Pelecehan Seksual Pada Anak a. Pelecehan Seksual
1) Pengertian
Pelecehan sesksual merupakan sebuah bentuk pemberian perhatian seksual, baik secara lisan, tulisan, maupun fisik terhadap perempuan.
18 Pelecehan seksual adalah sifat perilaku seksual yang tidak diinginkan atau tindakan yang didasarkan pada seks yang menyinggung si penerima.
Pelecehan seksual tidak harus berupa tindak pemerkosaan atau kekerasan seksual. Bentuk pelecehan seksual dapat bermacam-macam mulai dari sekedar menyiuli perempuan yang sedang berjalan, memandang dengan mata seolah sedang menyelidiki tiap-tiap lekuk tubuh, meraba-raba ke bagian tubuh yang sensitif, memperlihatkan gambar porno, dan sebagainya sampai bentuk tindak kekerasan seksual berupa perkosaan.17
Kekerasan seksual, dengan selain bersifat fisik juga mencakup banyak perilaku lainnya, misalnya penganiayaan psikologis dan penghinaan.18 2) Bentuk-Bentuk Pelecehan Seksual
Adapun bentuk-bentuk pelecehan seksual terhadap anak sebagai berikut:
a) Incest
Incest berbentuk pada hubungan seksual yang terjadi dalam keluarga dekat, dan pernikahan tidak diperbolehkan antara mereka. Seperti hubungan kaka adik atau yang lebih patologis lagi antara ayah dengan anak perempuannya.19 Kasus in sering terjadi antara paman dengan keponakannya, dan termasuk juga ayah tiri.
b) Extrafamilial Sexual Abuse
17 Bagong Suyanto,Masalah Sosial Anak, (Jakarta:Prenada Media Group,2003),h. 248
18 Djamaludin Darwis, Mendidik Remaja Nakal,(Jakarta 2014), h. 262
19 Fausiah Fitri dan Julianti Widury, Psikologi Abnormal Klinis Dewasa,(Jakarta:Universitas Indonesia Press, 2005) h. 62
19 Extrafamilial sexual abuse merupakan pelecehan seksual terhadap anak yang terjadi diluar lingkungan keluarga dan pelaku bukan dari anggota keluarga korban. Ada yang mengatakan, saat ini Indonesia berada pada kondisi “darurat kejahatan seksual terhadap anak”.
Adapun dampak-dampak psikologis dari pelecehan seksual bentuk ini adalah berupa rasa benci, dendam, memberontak, dan trauma. Dampak negatif yang akan timbul dalam diri korban yang pernah mendapatkan perlakuan kekerasan seksual yaitu adanya trauma secara fisik dan psikis.
Kemudian menjurus kepada disorientasi moral.
3) Perilaku Tindak Pelecehan Seksual
Pelecehan seksual lebih sering menimpa pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. Setiap korban pelecehan seksual anak mungkin menunjukkan perilaku yang berbeda dari orang lain Perilaku pendekatan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal maupun fisik merujuk pada seks. Pelecehan seksual dapat terjadi dimana saja. Baik tempat umum maupun tempat pribadi. Pelecehan seksual, biasanya terdiri dari kata-kata pelecehan (10%), intonasi yang menunjukkan pelecehan (10%), dan nonverbal (80%).
20 4) Faktor–Faktor Penyebab Terjadinya Pelecehan Seksual Pada Anak
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya pelecehan seksual, yaitu:
a) Riwayat pelecehan seksual di masa lalu yaitu adanya tindakan yang pernah dialami oleh orang tersebut sehingga ada keinginan untuk melakukan perbuatan yang sama terhadap orang lain, benci terhadap anak-anak
b) Keluarga yang tidak harmonis menimbulkan rasa kurang kasih sayang sehingga melampiaskan permasalahan kepada orang lain
c) Kelainan seksual dari perilaku yang menyebabkan selalu ingin melakukan perbuatan untuk meyalurkan hasrat seksualnya
d) Kontrol dan pengawasan terhadap anak kurang baik bermain di dalam di rumah, maupun di luar rumah
e) Penggunaan media televisi, internet, buku-buku yang tidak terkontrol dan berlebihan khususnya yang menampilkan beberapa tayangan, gambar, akses yang tidak boleh dilihat oleh anak-anak
f) Pola dan bentuk permainan yang mempengaruhi untuk berperilaku menyimpang
g) Pendidikan seksualitas yang tidak tepat
21 h) Pengaruh lingkungan yang berada ditengah-tengah kehidupan yang serba bebas baik dalam berperilaku, bergaul, dan berpakaian, kurangnya pendidikan moral dan agama.20
5) Aspek-Aspek Pelecehan Seksual
Mayer dkk menyatakan secara umum dua aspek paling penting dalam pelecehan seksual, yaitu aspek prilaku dan aspek situasional.
1) Aspek perilaku
Pelecehan sebagai rayuan seksual yang tidak dikehendaki penerimanya, dimana rayuan tersebut muncul dalam beragam bentuk baik yang halus, kasar, terbuka, fisik maupun verbal dan bersifat searah.
Bentuk umum dari pelecehan seksual adalah verbal dan godaan secara fisik, dan pelecehan secara verbal lebih banyak dari pada secara fisik.
Pelecehan dalam bentuk verbal adalah bujukan seksual yang tidak diharapkan, gurauan atau pesan seksual yang terus menerus, mengajak kencan terus menerus walaupun telah ditolak, pesan yang menghina atau merendahkan,komentar yang sugestif atau cabul, ungkapan mengenai pakaian, tubuh, pakaian atau aktifitas seksual perempuan, permintaan pelayanan seksual yang dinyatakan dengan ancaman secara tidak langsung maupun terbuka.
20 Nur Ayu,program S1,pembinaan pelaku tindak pelecehan seksual anak di panti sosial marsudi putra toddopuli makasar. (Makasar: jurnal dakwah dan komunikasi,2017), h. 19
22 2) Aspek situasional
Pelecehan seksual dapat dilakukan dimana saja dengan kondisi tertentu. Perempuan korban pelecehan seksual dapat berasal dari setiap ras, umur, karakteristik, status perkawinan, kelas sosial, pendidikan, pekerjaan, tempat kerja, dan pendapatan.21
Menurut Nila, Septi dan Annisa gambaran aspek mekanisme psikologis yang terdiri dari beberapa aspek:
1) Aspek Kognitif, meliputi norma, kemampuan memahami situasi, pengambilan keputusan.
2) Aspek Emosi, meliputi perasaan tidak adekuat secara individu, kecemasan menghadapi masa depan, perasaan sedih akibat pengabaian figur yang dicintai, perasaan cemas terhadap hasrat seksual.
3) Aspek Sosial, meliputi penyesuaian diri dengan lingkungan, penyelesaian masalah, tindakan agresif, perasaan rendah diri dan kurang percaya dengan kemampuan yang dimiliki,
b. Anak
1) Pengertian Anak
Anak adalah seorang cikal bakal yang kelak akan meneruskan generasi keluarga, bangsa dan negara. Anak juga merupakan sebuah aset sumber daya manusia yang kelak dapat membantu membangun bangsa dan
21 Susi Wiji Utami,Program SI,Hubungan Antara Kontrol Diri Dengan Pelecehan Seksual, (Purwokerto: UMP Purwokerto,2016), h. 11.
23 negara. Anak adalah semua orang yang berusia di bawah 18 tahun.22 Ada juga beberapa yang menyebutkan, anak adalah seseorang yang berada pada usia 2 tahun sampai dengan 12 tahun,
2) Fase Perkembangan Anak
Fase perkembangan anak, sebagai berikut:
b) Fase sebelum lahir (prenatal)
Fase prenatal ini merupakan masa proses pembentukan dan pertumbuhan janin di dalam kandungan
c) Fase bayi (infant)
Fase ini dimulai dari semenjak lahir sampai berumur 1 atau 2 tahun
d) Fase anak-anak (childhood)
Fase dimulai dari umur 1 atau 2 tahun sampai 10 atau 12 tahun.
Fase anak-anak di klasifikasikan menjadi 2 fase; a) Fase anak kecil (early childhood), b) Fase anak besar ( later childhood). Fase anak kecil
yaitu 1 dan 2 sampai 6 tahun. Fase anak besar adalah 6 sampai 10 atau 12 tahun.
e) Fase adolesensi (adolescence)
Fase adolesensi antara perempuan dan laki-laki dimulai dan diakhiri pada umur yang berbeda. Pada perempuan mulai pada umur 10
22 Asnely Ilyas, 1995, Mendambakan Anak Saleh: Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak dalam Islam, Al-Bayan. h. 48
24 tahun dan berakhir pada umur 18 tahun. Sedangkan pada laki-laki mulai umur 12 tahun dan berakhir 20 tahun. Berarti.23
Dalam perspektif Islam, perjalanan hidup manusia dibagi menjadi empat periode:
a) Periode Kandungan.
Periode kandungan ialah suatu periode di ketika manusia masih berada didalam kandungan ibunya.
b) Periode Thufulah (kanak-kanak).
Periode ini dimulai semenjak seseorang lahir ke dunia, dengan lahirnya itu, maka telah sempurnalah sifat kemanusiaannya, karena ia telah terpisah dari tubuh ibunya. Namun demikian, kemampuan akalnya belum ada, kemudian berkembang sedikit demi sedikit. Periode ini berlangsung sampai seseorang mencapai masa tamyiz.
c) Periode Tamyiz.
Periode tamyiz dimulai dari seseorang mampu membedakan antara sesuatu yang baik dengan yang buruk dan antara sesuatu yang bermanfaat dengan yang mularat. Pada periode ini kemampuan akal seseorang belum sempurna, karena periode ini adalah masa mulai dan semakin bersinarnya cahaya kemampuan akal seseorang. Karena itu
23 Indra Kasih. Pertumbuhan Gerak Dankarakteristik Perkembangan Anak, Indra Kasih Adalah Dosen FIK Universitas Negeri Medan, Vol. 4, No. 1, 2010, h. 123
25 daya fikirnya masih dangkal, yakni masih terbatas pada hal-hal yang nampak saja.24
d) Periode Baligh
Dalam masa ini dimana seseorang telah mencapai kedewasaannya, ia mempunyai kemampuan berbuat sepenuhnya, baik yang berhubungan dengan ibadah atau pun muamalah. Dalam masa inilah, ia menjadi mukalaf yang sebenarnya. Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial.
3) Karakteristik Masa Kanak-Kanak Akhir
Orang tua adalah pendidik dan ahli psikologi memberikan berbagai label kepada periode ini dan label-label itu mencerminkan ciri-ciri penting dari periode akhir masa kanak-kanak ini.
a) Masa yang menyulitkan yaitu masa dimana ia lebih banyak mempengaruhi oleh teman-teman sebaya dari pada orang tua.
b) Usia yang tidak rapi suatu masa dimana anak cenderung tidak memperdulikan atau ceroboh dalam penampilan meskipun peraturan keluarga yang ketat mengenai kerapian dan merawat barang-barang.
c) Usia bertengkar yaitu suatu masa dimana banyak terjadi pertengkaran antara keluarga dan suatu rumah yang tidak menyenangkan bagi semua anggota keluarga.25
24 Zakiyah Daradjat 1995.Ilmu Fiqh, jilid 1, Yogyakarta : PT. Dani Bhakti Wakaf. h.1-3.
26 d) Usia penyesuaian diri. Pada umur kurang lebih 12 tahun sudah masa
anak-anak sudah berakhir baginya, tenaga badannya sudah mulai berkembang telah banyak pengetahuan dan cara berpikir logis dan telah bisa menguasai hawa nafsu dalam beberapa hal.
25 Hurlock, Psikologi Perkembangan, jakarta, Erlangga: 1980, hal. 147