• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

i KPM-UIN IB

LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT

PENINGKATAN PENYADARAN DAN KEPEDULIAN MASYARAKAT MELALUI LAYANAN INFORMASI PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK DI BAWAH UMUR

DI PARIAMAN

OLEH:

Meri Susanti, M.Pd Arifah Yenni Gustia, M.Soc.Sc

FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UIN IMAM BONJOL PADANG

OKTOBER 2021

(2)

i HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKT

Judul : Peningkatan Penyadaran Dan Kepedulian Masyarakat Melalui Layanan Informasi Pelecehan Seksual Pada Anak di Bawah Umur di Pariaman

Ketua Pelaksana : Meri Susanti, M.Pd

NIP : 1978

Pangkat/Gol : Lektor / III.C

Fakultas : Dakwah dan Ilmu Komunikasi Bidang Keahlian : Bimbingan Konseling

Jumlah Anggota : 2 Orang

Bentuk kegiatan : Layanan Informasi dalam Bentuk Seminar, Tanya Jawab dan Diskusi

Mengetahui

Ketua LPPM UIN IB Ketua Pelaksana

Dr. Ulfatmi, M.Ag. Meri Susanti, M.Pd

19630627199703001 197801042009122002

(3)

ii TIM PELAKSANA PENGABDIAN

Peningkatan Penyadaran Dan Kepedulian Masyarakat Melalui Layanan Informasi Pelecehan Seksual Pada Anak di BawahUmur di Pariaman

1. Meri Susanti, M.Pd : Ketua

NIP. : 197801042009122002

2. Arifah Yenni Gustia, M.Soc.Sc : Anggota

NIP : 198008062015032001

3. Fahrukrozi Onan : Mahasiswa

NIM :

(4)

iii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alaamiin, rasa syukur yang terdalam kepada Allah SWT atas segala rahmat dan nikmat yang diberikan, sehingga kegiatan pengabdian dan pembuatan laporan kegiatan selesai dilakukan. Kegiatan ini merupakan pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat.

Kegiatan yang dilakukan dalam bentuk seminar yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk melakukan tanya jawab, serta berdiskusi tentang materi yang diberikan yaitu tentang pelecehan seksual pada anak. Kegiatan ini diberi tema “Peningkatan Penyadaran Dan Kepedulian Masyarakat Melalui Layanan Informasi Pelecehan Seksual Pada Anak di Bawah Umur di Pariaman

Ide pertama dilakukannya kegiatan ini bermula dari maraknya terjadi pelecehan seksual pada anak di daerah Pariaman. Salah satu faktor penyebab adalah kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak serta kurangnya kepedulian masyarakat. Dengan adanya peningkatan kesadaran masyarakat melalui kegiatan ini, diharapkan dapat mengurangi dan bahkan dapat mencegah terjadinya peristiwa.

Kegiatan ini berjalan dengan sukses berkat kerjasama banyak pihak. Izinkan kami Tim Pengabdi mengucapkan rasa terimakasih yang terdalam kepada:

1. Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Dirjen Pendis Kemenag yang telah meloloskan dan memberi dana untuk kegiatan pengabdian

2. Rektor IAIN Imam Bonjol Padang yang telah memberikan rekomendasi untuk mengikuti seleksi Promgram Bantuan Peningkatan Mutu Pengabdian tahun 2019

3. Wali Nagari dan segenap jajarannya pada pemerintahan Nagari Lareh Nan Panjang Kecamatan VII Koto Sungai Sarik Kabupaten Padang Pariaman.

4. Masyarakat Nagari Lareh Nan Panjang Kecamatan VII Koto Sungai Sarik Kabupaten Padang Pariaman yang mengikuti kegiatan dengan antusias.

(5)

iv 5. Bapak dan Ibu nara sumber yang telah bersedia meluangkan waktu dan berbagi

ilmu untuk dapat tercegahnya kasus pelecehan seksual pada anak.

6. Segenap panitia, baik dari mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang maupun masyarakat Nagari Lareh Nan Panjang Kecamatan VII Koto Sungai Sarik Kabupaten Padang Pariaman, atas terselenggara kegiatan ini.

Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, terutama para akademisi untuk tetap menggiatkan diri melalui khasanah keilmuan dalam mengatasi berbagai persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Padang, Oktober 2021

Tim Pengabdi

(6)

v

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined.

TIM PELAKSANA PENGABDIAN ... Error! Bookmark not defined.

KATA PENGANTAR ... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR ISI... Error! Bookmark not defined.

ABSTRAK ... Error! Bookmark not defined.iii BAB 1 : PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined.

A. Latar Belakang ... Error! Bookmark not defined.

B. Permasalahan ... 3

C. Tujuan... 4

1. Tujuan Umum ... 4

2. Tujuan Khusus ... 4

D. Signifikansi... 5

E. Sistematika Laporan ... 6

BAB 2 KERANGKA KONSEP ... 7

A. Gambaran Umum Lokasi Pengabdian... 7

B. Kondisi Saat Ini Masyarakat Dampingan... 7

C. Kondisi yang diharapkan ... 8

D. Strategi Pelaksana ... 10

E. Kajian Teori... 12

1. Layanan Informasi ... 12

a. Pengertian ... 12

b. Tujuan ... 13

c. Fungsi Bimbingan dan Konseling ... 15

(7)

vi

d. Materi Layanan ... 16

e. Teknik Penyampaian Layanan Informasi ... 16

f. Asas-Asas Layanan Informasi ... 17

2. Pelecehan Seksual Pada Anak ... 17

a. Pelecehan Seksual ... 17

1) Pengertian ... 17

2) Bentuk-Bentuk Pelecehan Seksual ... 18

3) Perilaku Tindak Pelecehan Seksual ... 19

4) Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Pelecehan Seksual ... 20

5) Aspek-Aspek Pelecehan Seksual ... 21

b. Anak ... 22

1) Pengertian Anak ... 22

2) Fase Perkembangan Anak ... 23

3) Karakteristik Masa Kanak-Kanak Akhir ... 19

BAB 3 : PELAKSANAAN PENGABDIAN ... 27

A. Gambaran Kegiatan ... 27

B. Evaluasi ... 49

C. Kesimpulan... 50

BAB 4 : DISKUSI KEILMUAN ... 51

A. Diskusi Data ... 51

B. Follow Up ... 52

BAB 5 : PENUTUP ... 54

A. Kesimpulan... 54

B. Saran ... 55

(8)

vii DAFTAR REFERENSI ... 56

(9)

viii ABSTRAK

Pelecehan seksual atau disebut juga dengan kekerasan seksual pada anak merupakan suatu tindakan seksual yang dilakukan secara sewenang-wenang oleh orang dewasa terhadap anak-anak. Kuantitas kekerasan seksual di Indonesia cukup tinggi, korban terutama adalah anak-anak yang masih berusia di bawah umur. Kasus kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi persoalan besar.. Hal ini terjadi karena kebanyakan anak yang menjadi korban enggan melapor. Oleh karena itu sebagai orang tua dan anggota masyarakat kita harus dapat mengenali tanda-tanda anak yang mengalami kekerasan seksual. Banyaknya kasus yang terjadi menyentakkan semua pihak, diperlukan kepedulian semua kalangan terutama keluarga dan masyarakat sekitar begitu juga pemerintah agar proaktif melakukan tindakan pencegahan dan pengentasan agar kasus- kasus tersebut diminimalisasikan bahkan diantisipasi agar tidak terjadi.

Untuk mengantisipasi agar anak-anak terhindar dari pelecehan seksual, perlu diberikan layanan informasi untuk meningkatkan penyadaran masyarakat dengan cara memberikan pengetahuan, serta meningkatkan kepedulian keluarga, tetangga dan masyarakat sekitar terhadap tindakan pelecehan seksual yang dialami anak, dengan mengetahui gejala-gejala yang terjadi pada anak-anak yang menjadi koban, serta membantu pemulihan mental terhadap trauma yang dialami anak.

Adapun strategi yang kami lakukan dalam proses pengabdian ini dengan melakukan kegiatan layanan informasi berupa seminar, ceramah serta tanya jawab.

Kata Kunci: Layanan Informasi, Pelecehan Seksual Pada Anak

(10)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelecehan seksual anak adalah suatu bentuk pelecehan terhadap anak, dimana orang dewasa atau remaja yang lebih tua menggunakan anak untuk rangsangan seksualnya. Bentuk pelecehan seksual anak termasuk terlibat dalam kegiatan seksual dengan seorang anak (apakah dengan meminta atau menekan), paparan tidak senonoh (dari alat kelamin, puting perempuan), mendadani anak dengan tidak senonoh, atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi (Tower, 2002).

Pelecehan seksual termasuk tindakan tidak hanya pelecehan penetratif, tetapi juga bertindak masturbasi, oral seks, cumbuan, voyeurism, paparan tindakan seksual, paparan atau keterlibatan dalam pornografi dan bentuk-bentuk eksploitasi seksual komersial, yang secara seksual memuaskan pelaku; biasanya ditimbulkan oleh orang dewasa atau anak yang lebih tua (Mathew,2014).Pelecehan seksual atau disebut juga dengan kekerasan seksual pada anak merupakan tindakan seksual yang dilakukan secara sewenang-wenang oleh orang dewasa terhadap anak-anak.

Kuantitas kekerasan seksual di Indonesia cukup tinggi, korban terutama adalah anak-anak yang masih berusia di bawah umur. Kementriaan Bidang Kesejahteraan Rakyat dari tahun 2010 sampai 2014 tercatat sebanyak 21.869.797 kasus kekerasan seksual pada anak, tersebar di 34 provinsi dan 179 kabupaten dan kota. Sebesar 24-58% dari pelanggaran hak anak itu, katanya merupakan kejahatan seksual terhadap anak (kemenkopmk.com) dalam jurnal Psikoislamika volume 12 nomor 2 tahun 2015. Dan sebagian besar pelaku adalah orang yang dikenal oleh korban; sekitar 30% adalah keluarga si anak, paling sering adalah saudara laki-laki, ayah, paman, atau sepupu, sekitar 60%

adalah kenalan lainnya seperti teman dari keluarga, pengasuh, atau tetangga, orang asing adalah pelanggar sekitar 10% dalam kasus penyelahgunaan seksual anak (Whealin, 2007)

(11)

2 dalam jurnal Psikoislamika volume 12 nomor 2 tahun 2015.1 Dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia pada tahun 2017 terdapat 393 korban dan 66 pelaku. Pada awal 2018 hingga akhir Februari 2018 jumlah korban kekerasan seksual pada anak di Indonesia sudah mencapai 117 anak dan 22 pelaku.2

Berita Pariaman, mengungkapkan tentang “ kasus kekerasan terhadap anak di Pariaman cenderng meningkat”. Pada hari Rabu 5 September 2018, Dinas Kesehatan Kota Pariaman mengadakan pertemuan pelayanan kesehatan peduli remaja dan kekerasam terhadap anak dan perempuan (PKPR & KTA/P), Iustica Fitri dari Unit PPA Polres Pariaman mengungkapkan landasan hukumnya diatur oleh UUD Negara RI pasal 28 B ayat 2 “Setiap anak berhakatas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi” dan UU RI No. 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang RI No I tahun 2016 Tentang Peraturan Kedua Atas UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-undang.3Kepala Divisi Pelayanan P2TP2A Pariaman Fatmi Yeti Kahar menyebutkan kasus kekeraasan terhadap anak terutama pelecehan seksual cenderung meningkat dari tahun sebelumnya “ Tahun 2017 kasus kekerasan seksual di Kota Pariaman ada sebanyak 14 kasus sedangkan di Kabupaten Padang Pariaman sejumlah 29 kasus”. Pada tahun 2018 terhitung Januari hingga akhir Agustus dari data yang masuk untuk Kota Pariaman ada 9 kasus sedangkan un tuk Kabupaten sudah ada 32 kasus.4

Banyaknya kasus yang terjadi menyentakkan semua pihak, diperlukan kepedulian semua kalangan terutama keluarga dan masyarakat sekitar begitu juga pemerintah agar proaktif melakukan tindakan pencegahan dan pengentasan agar kasus-kasus tersebut diminimalisasikan bahkan diantisipasi agar tidak terjadi. Sulitnya mengetahui adanya kasus ini terjadi, karena banyak korban tidak mau dan takut menginformasikannya karena apa yang dialami mereka adalah aib baginya. Akibatnya sering kasus ini tidak tercuat ke publik dan sipelaku semakin leluasa dalam bertindak. Untuk itu perlu diberikan informasi

1Jurnal Psikoislamika. Volume 12 Nomor 2 Tahun 2015

2Koran Tribun Jakarta.Com. Senin 19 Maret 2018

3www.minangkabaunews.com. Kasus Kekerasan terhadap Anak di Pariaman CenderungMeningkat. Rabu 5 Sepember 2018

4Ibid

(12)

3 tentang hal-hal yang berkaitan dengan pelecehan seksual, terutama dampak yang ditimbulkan pada anak serta karakteristik anak yang mengalami pelecehan seksual.

Dengan demikian orang dewasa bisa melakukan penanganan lebih lanjut baik pada korban maupun pada pelaku.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik melakukan suatu kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk memberikan dan meningkatkan penyadaran serta kepedulian masyarakat terhadap pelecehan seksual yang dialami oleh anak melalui layanan informasi. Kegiatan ini bertujuan untuk menjadikan masyarakat sebagai filter dan tameng bagi anak terhadap tindakan pelecehan yang terjadi atau mungkin saja dialami oleh anak, sehingga mampu mengurangi bahkan menghambat terjadinya tindakan tersebut..

B. Permasalahan

Anak sebagai titipan dan amanah dari Allah, juga merupakan generasi penerus bangsa. Mereka memiliki hak untuk hidup secara normal, aman dan jauh serta terhindar dari tindakan amoral seperti menjadi objek bagi pelampiasan nafsu birahi. Untuk itu perlu adanya campurtangan dari para akademisi untuk mengantisipasi agar anak-anak terhindar dari pelecehan seksual dengan cara memberikan pengetahuan, penyadaran dan meningkatkan kepedulian keluarga, tetangga dan masyarakat sekitar terhadap tindakan pelecehan seksual yang dialami anak, dengan mengetahui gejala-gejala yang terjadi pada anak-anak yang menjadi koban, serta membantu pemulihan mental terhadap trauma yang dialami anak. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan pemberian informasi tentang hal-hal yang bersangkut paut dengan pelecehan seksual pada anak.

Pemberian informasi ini nantinya dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kasus-kasus pelecehan seksual pada anak. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah pada kegiatan pengabdian ini adalah

“Bagaimana Upaya Meningkatkan Penyadaran dan Kepedulian Masyarakat melalui Layanan Informasi Pelecehan Seksual Pada Anak dibawah Umur Di Pariaman”.

(13)

4 C. Tujuan

Penelitian ini memiliki dua tujuan, yaitu:

1. Tujuan Umum

Harapan dari kegiatan ini adalah menimbulkan dan meningkatkan kesadaran serta kepedulian masyarakat terhadap adanya aksi-aksi pelecehan seksual terhadap anak- anak yang dilakukan oleh orang dewasa, dengan demikian tindakan kekerasan terhadap anak dapat berkurang dan diantisipasi.

2. Tujuan Khusus

a. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang bentuk-bentuk pelecahan seksual yang dialami oleh anak.

b. Memberikan wawasan dan pemahaman tentang berbagai kondisi yang bisa menyebabkan terjadinya pelecehan seksual pada anaks

c. Memberikan wawasan dan pemahaman tentang ciri-ciri orang dewasa yang memiliki indikasi dapat melakukan pelecehan seksual pada anak.

d. Memberikan wawasan dan pemahaman tentang ciri-ciri anak yang rentan mengalami pelecehan seksual

e. Memberikan wawasan dan pemahaman terhadap ciri-ciri anak yang mengalami pelecehan seksual

f. Memberikan wawasan dan pengetahuan kepada masyarakat tentang cara-cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan trauma yang dialami anak penyintas seksual

g. Memberikan wawasan dan pengetahuan kepada masyarakat terutama orang tua, cara melakukan proteksi kepada anak agar terlindungi dan terhindar dari pelecehan seksual.

h. Memberikan wawasan dan pengetahuan kepada masyarakat, cara-cara yang dapat dilakukan untuk penanganan dan pencegahan tindakan pelecehan seksual pada anak.

(14)

5 D. Signifikansi

Dengan adanya kegiatan pengabdian ini, diharapkan timbulnya kesadaran dari masyarakat tentang perlunya menjaga dan melindungi anak-anak agar terhindar dari tindakan pelecehan seksual. Dengan adanyan kesadaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepedulian keluarga dan masyarakat sekitar tentang pentingnya menjaga kenyamanan dan keamanan anak-anak, serta menjaga lingkungan agar para pelaku pelecehan enggan dan tidak leluasa bertindak. Menciptakan keluarga dan masyarakat yang sadar dan peduli tehadap tindakan pelecehan pada anak-anak di bawah umur dan menjadi proteksi bagi mereka

Melalui kegiatan ini ditemukannya cara dan langkah yang tepat dalam menjaga dan menghindarkan anak-anak di bawah umur terhadap tindakan pelecehan seksual, serta menghindarkan penyintas pelecehan seksual dari kekerasan verbal yang dilakukan oleh masyarakat.

Kegiatan pengabdian ini akan dirasakan manfaatnya oleh anak-anak dan keluarga, terutama yang berada di Pariaman baik kota maupun kabupaten yaitu, sebagai berikut:

1. Peningkatan wawasan dan pengetahuan masyarakat tentang pelecehan seksual yang terjadi pada anak di bawah umur

2. Peningkatan wawasan dan pengetahuan masyarakat tentang bentuk-bentuk pelecehan seksual yang dialami oleh anak

3. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang bahaya pelecehan seksual yang mengintai anak di bawah umur

4. Peningkatan kepedulian masyarakat terhadap anak-anak di bawah umur agar anak- anak terlindungi dari tindakan pelecehan seksual

5. Peningkatan perlindungan keluarga dan masyarakat terhadap keamanan dan keselamatan anak-anak dari bahaya pelecehan sekasual yang mengintai

6. Peningkatan percaya diri anak-anak yang telah menjadi korban pelecehan seksual untuk dapat berbaur lagi dengan masyarakat dan hidup dengan normal sesuai dengan masa perkembangannya

(15)

6 7. Membantu menghilangkan trauma pada anak penyintas pelecehan seksual

8. Memutus mata rantai pelecehan seksual pada anak

9. Membantu pemerintah dalam mengantisipasi dan mengurangi terjadinya pelecehan seksual

10. Mencipatakan generasi penerus bangsa yang sehat jasmani dan rohani serta berakhlakul kharimah

E. Sistematika Penulisan

Laporan hasil pengabdian kepada masyarakat ini dibuat dalam V Bab, dengan rincian sebagai berikut:

1. Cover; memaparkan tentang Kluster Pengabdian, Judul Pengabdian, Nama Pengusul, Nama Lembaga Pengusul, serta Tahun.

2. Abstraksi; menjabarkan tentang keseluruhan isi laporan hasil pengabdian kepada masyarakat mulai dari cover, isi dari bab I - V

3. BAB I Pendahuluan; terdiri dari Latar Belakang, Permasalahan, Tujuan, Signifikansi,.

Sistematika Penulisan

4. BAB II Kerangka Konsep; terdiri dari Gambaran Umum Lokasi Pengabdian, Kondisi Saat ini Masyarakat Dampingan, Kondisi Yang Diharapkan, Strategi Pelaksanaan,.

Kajian Teori

5. BAB III Pelaksanaan Pengabdian; terdiri dari Gambaran Kegiatan, Dinamika Keilmuan, Teori yang Dihasilkan dari Pendampingan Komunitas

6. BAB IV Diskusi Keilmuan; Diskusi Data, Follow Up 7. BAB V Penutup; Kesimpulan dan Penutup

8. Daftar Referensi; mencantumkan sumber-sumber yang digunakan sebagai referensi.

(16)

7 BAB II

KERANGKA KONSEP

A. Gambaran Umum Lokasi Pengabdian

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Nagari Lareh Nan Panjang. Nagari ini merupakan salah satu nagari yang berada di Kecamatan VII Koto Sungai Sarik, Kabupaten Padang Pariaman dengan luas 4,86 km2. Dalam sejarah geografis, kecamatan VII Koto terdiri dari tujuh nagari, yaitu; Nagari Sungai Sariak., Nagari Sungai Durian, Nagari Tandikek, Nagari Batu Kalang, Nagari Koto Dalam, Nagari Koto Baru dan Nagari Ampalu. Berdasarkan Data Pokok Desa tahun 2019, Nagari Lareh Nan Panjang dihuni oleh masyarakat dengan jumlah 1.614 jiwa, dengan rincian 786 laki-laki dan 828 perempuan. Sedangkan jumlah masyarakat berdasarkan umur produktif adalah: usia 0-17 sebanyak 508 jiwa, usia 18-55 sebanyak 819 jiwa dan 55 ke atas adalah 287 jiwa.

B. Kondisi Saat ini Masyarakat Dampingan

Orang tua adalah orang yang tedekat dengan anak. Merekalah yang pertama kali memberikan pendidikan serta memperkenalkan nilai-nilai yang berlaku pada lingkungannya. Orang tua mengajarkan kepada anak tentang segala hal yang boleh dan tidak boleh dlakukan. Merekalah yang melindungi anak-anaknya dari berbagai bahaya dan ancaman yang mengancam seperti dari pelecehan seksual pada anak yang mungkin saja pelakuknya ada disekitar mereka, bahkan ayah dan orang laki-laki dewasa disekitar anak-anak tersebut bisa saja menjadi pelaku dan ancaman bagi terbesar mereka.

Kurangnya pengetahuan dan pemahaman orang tua dan juga masyarakat tentang bahaya pelecehan seksual yang bagai “Mata Elang” selalu mengawasi mangsanya, bisa menjadikan anak-anak mereka sebagai sasaran empuk bagi para pelaku. Kondisi ini terbukti dengan tingginya kasus pelecehan seksual pada anak yang terjadi di Kabupaten Padang Pariaman. Seperti yang terungkap dari observasi dan hasil wawancara dengan Wali Nagari Lareh Nan Panjang Barat berikut ini:

(17)

8 1. Secara umum masyarakat nagari ini tidak mengetahui tingginya kasus pelecehan

seksual yang terjadi di daerah Padang Pariaman.

2. Kurangnya pengawasan terhadap anak, karena orang tua dilengahkan olek kesibukan mereka dalam bekerja sebagai petani, menggarap sawah dan berkebun.

3. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, dimana lebih dari 50% penduduk Nagari Lareh Nan Panjang lulusan sekolah dasar (SD) yang menjadikan mereka tidak memiliki keahlian dan pengetahuan formal.

4. Teknologi (Handphone) yang tersebar luas disemua kalangan masyarakat terutama anak-anak sekolah. Pendidikan secara daring menuntut mereka untuk memiliki handphone sebagai media belajar, dilengkapi dengan kuota internet yang mencukupi, menyebabkan tidak terfilternya berbagai informasi dan tayangan- tayanngan yang tidak layak dikonsumsi oleh semua umur seperti pornografi, termasuk oleh mereka yang berada pada masa anak-anak dan remaja.

5. Berbagai hal yang terkait dengan pornografi dan bisa diakses kapan saja dan oleh siapa saja, menjadi pemicu terjadinya kasus pelecehan seksual pada anak, sementara anak-anak mereka tidak dibekali oleh orang tuanya tentang bahaya pelecehan seksual yang mengancam mereka, serta cara untuk menghindarkan diri agar tidak manjadi korban.

6. Kondisi ini yang menjadi akasan perlunya diadakan layanan informasi kepada masyarakat Nagari Lareh Nan Panjang untuk meningkatkan pengetahuan, informasi dan wawasan akan kasus-kasus pelecehan seksual pada anak. Dengan ada layanan informasi ini diharapkan akan tumbuh kesadaran pada masyarakat sehingga kasus pelecehan seksul pada anak di Kabupaten Padang Pariaman dapat diminimalisir.

C. Kondisi yang diharapkan

Pemberian layanan informasi peningkatan penyadaran masyarakat terhadap anak korban pelecehan seksual di Nagari Lareh Nan Panjang, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, bertujuan untuk:

1. Memberi berbagai pengetahuan, wawasan dan pemahaman kepada masyarakat, terutama orang tua tentang pelecehan seksual pada anak, berkaitan dengan apa itu

(18)

9 pelecehan seksual pada anak, apa saja bentuknya, siapa saja pelakunya, cara menghindarkan diri agar tidak menjadi korban.

2. Memberikan pengetahuan, wawasan dan pemahaman kepada masyarakat tentang ciri-ciri anak yang menjadi korban pelecehan seksual, agar dapat memberikan penanganan lebih lanjut kepada mereka

3. Memberikan pengetahuan, wawasan dan pemahaman kepada masyarakat tentang pendidikan seks dini kepada anak, seperti segala sesuatu yang terkait dengan fisik/anggota tubuh anak yang tidak boleh dilihat dan disentuh oleh orang lain.

4. Seluruh masyarakat dan termasuk lingkup sekolah memberikan pendidikan seks dini kepada anak

5. Memberikan pengetahuan, wawasan dan pemahaman kepada masyarakat tentang ancaman hukuman pidana terhadap pelaku pelecehan seksual kepada anak.

6. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat tentang dosa dan hukuman Allah terhadap pelaku pelecehan seksual

7. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya dari pelecehan seksual pada anak, yang diharapkan orang tua waspada terhadap kasus pelecehan seksual

8. Memberikan dukungan kepada masyarakat untuk bersama-sama saling bersatu mencegah dan memberantas terjadinya pelecehan seksual pada anak.

9. Memberikan dukungan kepada masyarakat agar melaporkan setiap terjadinya pelecehan seksual pada anak kepada aparatur pemerintahan nagari ataupun pihak kepolisian, supaya mereka tidak menutupi peristiwa tersebut, karena akan membuat kasus makin melebar dan korban makin banyak dengan merasa terlindunginya pelaku.

10. Meminimalkan bahkan mencegah tidak terjadi pelecehan seksual pada anak, dengan pengetahuan, wawasan dan pemahaman yang dimiliki oleh masyarakat.

11. Terciptanya suatu aturan nagari yang mengatur segala aktivitas masyarakat yang terkait dengan arah terjadinya pelecehan seksual terutama pada anak

12. Aparatur nagari, tokoh masyarakat dan keluarga secara bersinergi menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif untuk anak.

13. Menyelamatkan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dari pelecehan seksual.

(19)

10 D. Strategi Pelaksanaan

Strategi pendampingan yang digunakan bersifat Partisipatori dan Community Based Research (CBR). Breanda Roche dalam Mohammad Hanafi, dkk menyatakan CBR “sebagai sebuah riset yang dilakukan komunitas dan kepakaran akademis untuk mengeksplorasi dan menciptakan peluang-peluang bagi terjadinya aksi sosial dan perubahan sosial”5,. Pada kegiatan bimbingan dan penyuluhan ini dengan melakukan partisipasi dan mobilisasi sosial untuk menumbuhkan meningkatkan kesadaran serta kepedulian masyarakat terhadap adanya aksi-aksi pelecehan seksual yang dilakukan pada anak-anak di bawah umur.

Alasan menggunakan metode CBR dalam pengabdian ini bagi para akademisi sebagai untuk upaya melakukan perubahan fenomena sosial dengan mengubah cara pandang masyarakat tentang kehidupan mereka. Berikut penjelasan tentang pentingnya metode CBR:

1. Bahwa CBR dapat mengidentifikasi intervensi baru yang lebih baik serta upaya- upaya preventif bagi anggota masyarakat.

2. Bahwa CBR dapat mengidentifikasi dan memberikan dukungan untuk pengembangan sistem yang lebih baik dalam kehidupan sosial.

3. Bahwa CBR dapat mengidentifikasi prioritas pembangunan sosial yang dapat dijadikan fokus oleh organisasi dan agensi-agensi perubahan sosial.

4. Bahwa CBR dapat Mengembangkan program-program pengembangan pendidikan untuk para staf dari organisasi sosial atau Lembaga Swadaya Masyarakat yang menjadi agensi perubahan sosial.

5. Bahwa CBR dapat menterjemahkan beberapa pertanyaan penelitian yang sangat baik dalam konteks memenuhi kebutuhan sosial dari anggota masyarakat.

6. Community Based Reseacrh (CBR) bukan sebuah metode, bukan pula sebuah pendekatan yang akan menentukan berbagai teknik pengumpulan dan analisis data, tapi, sebuah model penelitian yang menjadikan target komunitas sosial sebagai bagian aktif dalam proses penelitian

5 Mohammad Hanafi dkk. 2015:11.Community Based Research , LP2M UIN Sunan Ampel Surabaya. Surabaya

(20)

11 Penelitian CBR melibatkan masyarakat dalam semua proses penelitian, sebagaimana dijelaskan oleh Rena Pasick dari University of California, San Fransisco, bahwa masyarakat diajak terlibat dalam enam (6) proses penelitian yakni:

1. Para peneliti harus memulai mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam perumusan isu penting yang menuntut adanya intervensi untuk membawa perubahan pada masyarakat.

2. Masyarakat juga diajak untuk berpartisipasi dalam perumusan proposal penelitian dan presentasi dalam pengajuan proposal kepada pemerintah atau badan lain yang mensponsori penelitian tersebut.

3. Peneliti juga harus melibatkan perwakilan dari masyarakat dalam menentukan kelompok sosial yang akan dijadikan sebagai subyek peneltian.

4. Representasi masyarakat juga harus dilibatkan dalam penyusunan disain model yang akan diintervensikan pada komunitas sosial mereka,

5. Sebahagian kelompok komunitas sosial subyek penelitian juga terlibat dalam proses penggunaan rancangan model dalam sebuah intervensi yang dilakukan.

6. Terakhir, sebagian dari anggota masyarakat dari komunitas subyek penelitian juga terlibat dalam perumusan akhir hasil penelitian, melakukan diseminasi, serta membantu menjelaskan pada masyarakat bagaiamana model baru ini diimplementasikan dalam kehidupan sosial mereka, agar terjadi perubahan yang mereka inginkan6.

Masyarakat juga dilibatkan mengatasi permasalahan pelecehan seksual terhadap anak yang terjadi disekitarnya. Tim pengabdi bekerjasama dengan aparatur pemerintah, tokoh masyarakat, masyarakat umum dan juga keluarga di tempat pengabdian ini dilakukan. Pada kegiatan ini mereka dilibatkan secara aktif sebagai subyek mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi program-program riset.

Daerah yang menjadi wilayah pengabdian diambil dengan menggunakan teknik purposife sampling. Adapun yang menjadi pertimbangannya yaitu: daerah yang paling banyak memiliki kasus pelecehan seksual terhadap anak. Pengabdian dilakukan di Kabupaten/Kota yang terdapat di Padang Pariaman. Kabupaten Padang Pariaman

6 Mohammad Hanafi dkk. 2015. Community Based Research , LP2M UIN Sunan Ampel

(21)

12 memiliki 17 Kecamatan dan 103 Desa, dengan sebaran penduduk 347 jiwa/KM.

Sementara Kota Pariaman memiliki 4 Kecamatan 16 Kelurahan dan 55 Desa dengan sebaran penduduk 1346 jiwa/KM7.

E. Kajian Teori

1. Layanan Informasi a. Pengertian

Layanan informasi sebagai layanan ke dua dari sepuluh jenis layanan, merupakan salah satu solusi yang dapat ditawarkan untuk mengatasi berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat saat ini, termasuk dalam meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk mencegah dan mengantisipasi terjadinya pelecehan seksual pada anak. Layanan informasi merupakan layanan yang memungkinkan individu untuk memperoleh pemahaman dari suatu informasi dan pengetahuan yang diperlukan, sehingga dapat digunakan untuk mengenali diri sendiri dan lingkungan. Layanan ini memungkinkan klien menerima dan memahami berbagai informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan klien.

Berikut pengertian layanan informasi oleh beberapa ahli:

Winkel (dalam Tohirin) mengemukakan bahwa layanan informasi adalah suatu layanan yang berupaya memenuhi kekurangan individu akan informasi yang mereka perlukan. Layanan informasi juga bermakna usaha-usaha untuk membekali seseorang dengan pengetahuan serta pemahaman tentang lingkungan hidupnya.8

Prayitno dan Erman Amti layanan informasi adalah kegiatan memberikan pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani tugas atau

7 www.wikipedia.org

8 Tohirin, Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah, (Pekanbaru: Grafino Persada), h. 147

(22)

13 kegiatan, atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau rencana yang dikehendaki.9

Winkel dan Sri Hastuti layanan informasi adalah usaha untuk membekali seseorang dengan pengetahuan tentang data dan fakta dibidang pendidikan, pekerjaan, dan perkembangan pribadi dan sosial, supaya mereka bisa belajar tentang lingkungan hidupnya serta lebih mampu mengatur dan merencanakan kehidupannya sendiri.10

Slameto mengungkapkan layanan informasi adalah layanan yang diberikan untuk memberikan berbagai keterangan, data dan fakta tentang dunia luar (dunia pendidikan dan dunia kerja) kepada individu dengan maksud agar mempunyai pemahaman yang betul tentang dunia sekitarnya. Pemahaman ini selanjutnya penting untuk mengambil keputusan atau menentukan pilihan11

Yahya Jaya layanan informasi adalah salah satu jenis layanan konseling KSKK yang memungkinkan umat atau orang bcragama menerima dan memahami informasi dan pengetahuan tentang kekuatan, spiritual, keagamaan dan ketuhanan (KSKK) dari sumber yang layak dipercaya untuk dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melaksanakan amal saleh serta membuat pertimbangan dan mengambil keputusan bagi penentuan sikap dan tingkah laku keberagamaan atau nasib dan jalan hidupnya.12

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan layanan informasi sebagai suatu bentuk usaha dalam memberikan pengetahuan, keterangan dan data yang diperlukan individu sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

b. Tujuan

Layanan informasi membekali individu dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenali diri,

9 Prayitno, Erman Amti, “Dasar- Dasar Bimbingan Dan Konseling”(Jakarta: Rineka Cipta, 2004),h.

259-260

10 Winkel, Sri Hastuti, “Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan”, (yogyakarta: Mesdia Abadi, 2007), h. 316-317

11 Slameto, Bimbingan di Sekolah (Salattiga: PT Bima Aksara, 1986), h. 60.

12 Yahya Jaya. Wawasan Profesional Konseling KSKK Islam. (Padang: Hafya Press, 2014), h. 99

(23)

14 merencakan, dan mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat.

Tujuan dilakukannya layanan informasi untuk memberikan bantuan kepada klien baik berupa informasi mengenai pemahaman diri, penyesuaian bakat, minat, kemampuan, cita-cita, pendidikan, maupun pekerjaan. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mencegah timbulnya masalah, pemecahan suatu masalah, untuk memelihara dan mengembangkan potensi individu serta memungkinkan individu yang bersangkutan membuka diri dalam mengaktualisasikan hak- haknya.13

Layanan informasi bertujuan untuk mengembangkan kemandirian, pemahaman dan penguasaan individu terhadap informasi yang diperlukannya akan memungkinkan individu untuk :

1) Mampu memahami dan menerima diri dan lingkungannya secara objektif, positif, dan dinamis

2) Mengambil keputusan

3) Mengaruhkan diri untuk kegintan-kegiutun yung bergunu sesuai dengan keputusan yang diambil

4) Mengaktualisasikan dirinya secara terintegrasi.14

Selain itu Yahya Jaya juga berpendapat dalam perspektif agama, tujuan layanan informasi adalah untuk membekali orang atau umat beragama dengan

13 Tohirin, op.cit h.148

14 Ibid, h. 155

(24)

15 berbagai pengetahuan dan pemahaman KSKK tentang berbagai hal yang berguna bagi pembangunan. dan pengembangan kehidupan beragama Islam.15

Dari beberapa pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan layanan informasi adalah untuk memberikan pengetahuan, keterangan dan data kepada individu, agar individu tersebut dapat bersikap dan mengambil keputusan yang tepat.

c. Fungsi Bimbingan Dan Konseling

Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh jenis layanan informasi ialah fungsi pemahaman dan pencegahan

1) Fungsi pemahaman, yaitu akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan nya, pemahaman itu meliputi:

a) Pemahaman tentang diri

b) Pemahaman tentang lingkungan

c) Pemahaman tentang lingkungan yang “lebih luas”.

2) Fungsi pencegahan, yaitu akan menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul, yang akan dapat mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian-kerugian tertentu dalam proses perkembangan, Prayitno (2008:68).

. Fungsi ini berkaitan dengan upaya konselor dalam mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, agar tidak dialami oleh klien. Fungsi pencegahan akan menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya klien dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul, yang akan

15 Yahya Jaya. Op.cit h. 99

(25)

16 dapat mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian- kerugian tertentu dalam proses perkembangan.

d. Materi layanan:

Materi dalam layanan informasi ini berkaitan dengan:

1) Informasi pengembangan pribadi

2) Informasi kurikulum dan proses belajar mengajar 3) Informasi pendidikan tinggi

4) Informasi jabatan

5) Informasi kehidupan berkeluarga, sosial kemasyarakatan, keberagamaan, social budaya, dan lingkungan

e. Teknik Penyampaian Layanan Informasi

Layanan informasi dapat dilakukan secara terbuka, klasikal dan berkelompok. Prayitno mengemukakan bahwa cara penyampaian informasi yang paling biasa dipakai dalam layanan adalah ceramah, yang diikuti dengan tanya jawab untuk mendalami informasi tersebut dapat dilakukan diskusi antara peserta layanan.16

Selain dengan metode caramah atau yang disebut dengan teknik lisan, Winkel juga mengemukakan bentuk yang lain yaitu:

1) Lisan 2) Tertulis 3) Audio visual

4) Disket program computer

16 Ibid, h. 8

(26)

17 Menurut Tohirin, menyebutkan bahwa teknik yang yang biasa digunakan untuk layanan informasi adalah :

1) Ceramah, tanya jawab, dan diskusi.

2) Melalui media penyampaian informasi 3) Acara khusus

4) Narasumber

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan teknik yang digunakan dalam pelaksanaan layanan informasi dilakukan secara lisan, tertulis maupun menggunakan alat/media.

f. Asas-Asas Layanan Informasi

Kegiatan konseling memiliki 12 azas yang mesti diperhatikan dalam pelaksanaannya. Kegiatan layanan informasi ini ada beberapa azas yang utama, yaitu:

1) Asas kegiatan 2) Asas kesukarelaan 3) Asas keterbukaan 4) Asas kerahasiaan.

2. Pelecehan Seksual Pada Anak a. Pelecehan Seksual

1) Pengertian

Pelecehan sesksual merupakan sebuah bentuk pemberian perhatian seksual, baik secara lisan, tulisan, maupun fisik terhadap perempuan.

(27)

18 Pelecehan seksual adalah sifat perilaku seksual yang tidak diinginkan atau tindakan yang didasarkan pada seks yang menyinggung si penerima.

Pelecehan seksual tidak harus berupa tindak pemerkosaan atau kekerasan seksual. Bentuk pelecehan seksual dapat bermacam-macam mulai dari sekedar menyiuli perempuan yang sedang berjalan, memandang dengan mata seolah sedang menyelidiki tiap-tiap lekuk tubuh, meraba-raba ke bagian tubuh yang sensitif, memperlihatkan gambar porno, dan sebagainya sampai bentuk tindak kekerasan seksual berupa perkosaan.17

Kekerasan seksual, dengan selain bersifat fisik juga mencakup banyak perilaku lainnya, misalnya penganiayaan psikologis dan penghinaan.18 2) Bentuk-Bentuk Pelecehan Seksual

Adapun bentuk-bentuk pelecehan seksual terhadap anak sebagai berikut:

a) Incest

Incest berbentuk pada hubungan seksual yang terjadi dalam keluarga dekat, dan pernikahan tidak diperbolehkan antara mereka. Seperti hubungan kaka adik atau yang lebih patologis lagi antara ayah dengan anak perempuannya.19 Kasus in sering terjadi antara paman dengan keponakannya, dan termasuk juga ayah tiri.

b) Extrafamilial Sexual Abuse

17 Bagong Suyanto,Masalah Sosial Anak, (Jakarta:Prenada Media Group,2003),h. 248

18 Djamaludin Darwis, Mendidik Remaja Nakal,(Jakarta 2014), h. 262

19 Fausiah Fitri dan Julianti Widury, Psikologi Abnormal Klinis Dewasa,(Jakarta:Universitas Indonesia Press, 2005) h. 62

(28)

19 Extrafamilial sexual abuse merupakan pelecehan seksual terhadap anak yang terjadi diluar lingkungan keluarga dan pelaku bukan dari anggota keluarga korban. Ada yang mengatakan, saat ini Indonesia berada pada kondisi “darurat kejahatan seksual terhadap anak”.

Adapun dampak-dampak psikologis dari pelecehan seksual bentuk ini adalah berupa rasa benci, dendam, memberontak, dan trauma. Dampak negatif yang akan timbul dalam diri korban yang pernah mendapatkan perlakuan kekerasan seksual yaitu adanya trauma secara fisik dan psikis.

Kemudian menjurus kepada disorientasi moral.

3) Perilaku Tindak Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual lebih sering menimpa pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. Setiap korban pelecehan seksual anak mungkin menunjukkan perilaku yang berbeda dari orang lain Perilaku pendekatan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal maupun fisik merujuk pada seks. Pelecehan seksual dapat terjadi dimana saja. Baik tempat umum maupun tempat pribadi. Pelecehan seksual, biasanya terdiri dari kata- kata pelecehan (10%), intonasi yang menunjukkan pelecehan (10%), dan nonverbal (80%).

(29)

20 4) Faktor–Faktor Penyebab Terjadinya Pelecehan Seksual Pada Anak

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya pelecehan seksual, yaitu:

a) Riwayat pelecehan seksual di masa lalu yaitu adanya tindakan yang pernah dialami oleh orang tersebut sehingga ada keinginan untuk melakukan perbuatan yang sama terhadap orang lain, benci terhadap anak-anak

b) Keluarga yang tidak harmonis menimbulkan rasa kurang kasih sayang sehingga melampiaskan permasalahan kepada orang lain

c) Kelainan seksual dari perilaku yang menyebabkan selalu ingin melakukan perbuatan untuk meyalurkan hasrat seksualnya

d) Kontrol dan pengawasan terhadap anak kurang baik bermain di dalam di rumah, maupun di luar rumah

e) Penggunaan media televisi, internet, buku-buku yang tidak terkontrol dan berlebihan khususnya yang menampilkan beberapa tayangan, gambar, akses yang tidak boleh dilihat oleh anak-anak

f) Pola dan bentuk permainan yang mempengaruhi untuk berperilaku menyimpang

g) Pendidikan seksualitas yang tidak tepat

(30)

21 h) Pengaruh lingkungan yang berada ditengah-tengah kehidupan yang serba bebas baik dalam berperilaku, bergaul, dan berpakaian, kurangnya pendidikan moral dan agama.20

5) Aspek-Aspek Pelecehan Seksual

Mayer dkk menyatakan secara umum dua aspek paling penting dalam pelecehan seksual, yaitu aspek prilaku dan aspek situasional.

1) Aspek perilaku

Pelecehan sebagai rayuan seksual yang tidak dikehendaki penerimanya, dimana rayuan tersebut muncul dalam beragam bentuk baik yang halus, kasar, terbuka, fisik maupun verbal dan bersifat searah.

Bentuk umum dari pelecehan seksual adalah verbal dan godaan secara fisik, dan pelecehan secara verbal lebih banyak dari pada secara fisik.

Pelecehan dalam bentuk verbal adalah bujukan seksual yang tidak diharapkan, gurauan atau pesan seksual yang terus menerus, mengajak kencan terus menerus walaupun telah ditolak, pesan yang menghina atau merendahkan,komentar yang sugestif atau cabul, ungkapan mengenai pakaian, tubuh, pakaian atau aktifitas seksual perempuan, permintaan pelayanan seksual yang dinyatakan dengan ancaman secara tidak langsung maupun terbuka.

20 Nur Ayu,program S1,pembinaan pelaku tindak pelecehan seksual anak di panti sosial marsudi putra toddopuli makasar. (Makasar: jurnal dakwah dan komunikasi,2017), h. 19

(31)

22 2) Aspek situasional

Pelecehan seksual dapat dilakukan dimana saja dengan kondisi tertentu. Perempuan korban pelecehan seksual dapat berasal dari setiap ras, umur, karakteristik, status perkawinan, kelas sosial, pendidikan, pekerjaan, tempat kerja, dan pendapatan.21

Menurut Nila, Septi dan Annisa gambaran aspek mekanisme psikologis yang terdiri dari beberapa aspek:

1) Aspek Kognitif, meliputi norma, kemampuan memahami situasi, pengambilan keputusan.

2) Aspek Emosi, meliputi perasaan tidak adekuat secara individu, kecemasan menghadapi masa depan, perasaan sedih akibat pengabaian figur yang dicintai, perasaan cemas terhadap hasrat seksual.

3) Aspek Sosial, meliputi penyesuaian diri dengan lingkungan, penyelesaian masalah, tindakan agresif, perasaan rendah diri dan kurang percaya dengan kemampuan yang dimiliki,

b. Anak

1) Pengertian Anak

Anak adalah seorang cikal bakal yang kelak akan meneruskan generasi keluarga, bangsa dan negara. Anak juga merupakan sebuah aset sumber daya manusia yang kelak dapat membantu membangun bangsa dan

21 Susi Wiji Utami,Program SI,Hubungan Antara Kontrol Diri Dengan Pelecehan Seksual, (Purwokerto: UMP Purwokerto,2016), h. 11.

(32)

23 negara. Anak adalah semua orang yang berusia di bawah 18 tahun.22 Ada juga beberapa yang menyebutkan, anak adalah seseorang yang berada pada usia 2 tahun sampai dengan 12 tahun,

2) Fase Perkembangan Anak

Fase perkembangan anak, sebagai berikut:

b) Fase sebelum lahir (prenatal)

Fase prenatal ini merupakan masa proses pembentukan dan pertumbuhan janin di dalam kandungan

c) Fase bayi (infant)

Fase ini dimulai dari semenjak lahir sampai berumur 1 atau 2 tahun

d) Fase anak-anak (childhood)

Fase dimulai dari umur 1 atau 2 tahun sampai 10 atau 12 tahun.

Fase anak-anak di klasifikasikan menjadi 2 fase; a) Fase anak kecil (early childhood), b) Fase anak besar ( later childhood). Fase anak kecil

yaitu 1 dan 2 sampai 6 tahun. Fase anak besar adalah 6 sampai 10 atau 12 tahun.

e) Fase adolesensi (adolescence)

Fase adolesensi antara perempuan dan laki-laki dimulai dan diakhiri pada umur yang berbeda. Pada perempuan mulai pada umur 10

22 Asnely Ilyas, 1995, Mendambakan Anak Saleh: Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak dalam Islam, Al- Bayan. h. 48

(33)

24 tahun dan berakhir pada umur 18 tahun. Sedangkan pada laki-laki mulai umur 12 tahun dan berakhir 20 tahun. Berarti.23

Dalam perspektif Islam, perjalanan hidup manusia dibagi menjadi empat periode:

a) Periode Kandungan.

Periode kandungan ialah suatu periode di ketika manusia masih berada didalam kandungan ibunya.

b) Periode Thufulah (kanak-kanak).

Periode ini dimulai semenjak seseorang lahir ke dunia, dengan lahirnya itu, maka telah sempurnalah sifat kemanusiaannya, karena ia telah terpisah dari tubuh ibunya. Namun demikian, kemampuan akalnya belum ada, kemudian berkembang sedikit demi sedikit. Periode ini berlangsung sampai seseorang mencapai masa tamyiz.

c) Periode Tamyiz.

Periode tamyiz dimulai dari seseorang mampu membedakan antara sesuatu yang baik dengan yang buruk dan antara sesuatu yang bermanfaat dengan yang mularat. Pada periode ini kemampuan akal seseorang belum sempurna, karena periode ini adalah masa mulai dan semakin bersinarnya cahaya kemampuan akal seseorang. Karena itu

23 Indra Kasih. Pertumbuhan Gerak Dankarakteristik Perkembangan Anak, Indra Kasih Adalah Dosen FIK Universitas Negeri Medan, Vol. 4, No. 1, 2010, h. 123

(34)

25 daya fikirnya masih dangkal, yakni masih terbatas pada hal-hal yang nampak saja.24

d) Periode Baligh

Dalam masa ini dimana seseorang telah mencapai kedewasaannya, ia mempunyai kemampuan berbuat sepenuhnya, baik yang berhubungan dengan ibadah atau pun muamalah. Dalam masa inilah, ia menjadi mukalaf yang sebenarnya. Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial.

3) Karakteristik Masa Kanak-Kanak Akhir

Orang tua adalah pendidik dan ahli psikologi memberikan berbagai label kepada periode ini dan label-label itu mencerminkan ciri-ciri penting dari periode akhir masa kanak-kanak ini.

a) Masa yang menyulitkan yaitu masa dimana ia lebih banyak mempengaruhi oleh teman-teman sebaya dari pada orang tua.

b) Usia yang tidak rapi suatu masa dimana anak cenderung tidak memperdulikan atau ceroboh dalam penampilan meskipun peraturan keluarga yang ketat mengenai kerapian dan merawat barang-barang.

c) Usia bertengkar yaitu suatu masa dimana banyak terjadi pertengkaran antara keluarga dan suatu rumah yang tidak menyenangkan bagi semua anggota keluarga.25

24 Zakiyah Daradjat 1995.Ilmu Fiqh, jilid 1, Yogyakarta : PT. Dani Bhakti Wakaf. h.1-3.

(35)

26 d) Usia penyesuaian diri. Pada umur kurang lebih 12 tahun sudah masa anak-

anak sudah berakhir baginya, tenaga badannya sudah mulai berkembang telah banyak pengetahuan dan cara berpikir logis dan telah bisa menguasai hawa nafsu dalam beberapa hal.

25 Hurlock, Psikologi Perkembangan, jakarta, Erlangga: 1980, hal. 147

(36)

27 BAB III

PELAKSANAAN PENGABDIAN

A. Gambaran Kegiatan

Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan melalui beberapa tahapan. Setelah seminar proposal dan mendengarkan masukan dari reviewer, tim pengabdi melakukan perbaikan proposal sesuai dengan yang diarahkan oleh reviewer.

Adapun rincian dari kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

 Kegiatan Setelah Seminar Proposal

a. Perencanaan; pada tahap ini tim pengabdi melakukan analisis internal mitra pengabdi dalam kegiatan layanan informasi terkait peningkatanpenyadaran dan kepedulian masyarakat terhadap korban pelecehan seksual di bawah umur.

b. Menentukan Tujuan; Tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini di daerah Pariaman karena adanya peningkatan kasus pelecehan seksual pada anak.

Banyaknya kasus yang terjadi mendapat perhatian dari semua pihak. Oleh karena itu diperlukan kepedulian semua kalangan terutama keluarga dan masyarakat sekitar agar proaktif melakukan tindakan pencegahan dan pengentasan sehingga kasus-kasus tersebut tidak terjadi lagi

c. Menetapkan Rencana Jangka Panjang dan Pendek; Rencana jangka panjang dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk menimbulkan dan meningkatkan kesadaran serta kepedulian masyarakat terhad apadanya aksi-aksi pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh orang dewasa, dengan demikian tindakan kekerasan terhadap anak dapat berkurang dan diantisipasi. Sedangkan tujuan jangka pendek dari pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah memberikan informasi, wawasan serta pengetahuan pada masyarakat mengenai bentuk pelecehan seksual pada anak, kondisi yang menyebabkan terjadinya pelecehan seksual serta upaya pencegahannya.

 Persiapan Kegiatan

(37)

28 Mengawali kegiatan ini dengan melakukans osialisasi pada minggu awal dibulan Agustus, sebagai tahap dasar yang pertama kali tim pengabdi lakukan adalah”

a. Menghubungi walinagari dan menyampaikan maksud serta tujuan kegiatan yang akan dilakukan oleh tim pengabdi. Hal ini dilakukan sekaligus untuk meminta dukungan dari wali nagari agar pelaksanaan kegiatan bias berjalan sesuai harapan.

b. Setelah berbincang dengan walinagari, langkah kedua adalah sosialisasi pelaksanaan pengabdian ini pada masyarakat setempat. Kegiatan sosialisasi ini dihadiri oleh beberapa orang masyarakat

Gambar 1. Sosialisasi pelaksanaan kegiatann pengabdian kepada masyakat

 Pelaksanaan Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada minggu keempat Agustus 2021 tepatnya pada hari Rabu dan Kamis (25 dan 26 Agusus 2021). Penentuan jadwal ini diambil dengan tidak mengganggu aktivitas masyarakat dan tidak dilaksanakan pada hari balai (pasar). Kegiatan pengadian dilakukan dengan kerjasama antara tim pengabdian dan

(38)

29 nara sumber yang memberikan materi-materi yang sesuai dengan tema kegiatan pengabdian, yaitu Peningkastan Penyadaran Dan Kepedulian Masyarakat Melalui Layanan Informasi Pelecehan Seksual Pada Anak Dibawah Umur Di Pariaman.

Adapun rincian kegiatan sebegai berikut:

a. Layanan Informasi Hari Pertama

Hari : Rabu, 25 Agustus 2021 Pukul : 09.00- Selesai

Tempat : Gedung pertemuan nagari

Materi 1 : “Layanan Informasi dalam Peningkatan Penyadaran dan Kepedulian Masyarakat terhadap Korban Pelecehan Seksual Anak di bawah Umur” disampaikan oleh Ibu Dr. Mellyarti Syarif. M.Pd

Materi 2 : “Menyelamatkan Anak Dari Kejahatan Seksual dengan cara Terus-menerus Melakukan Sosialisasi UU” disampaikan oleh AKBP Drs. H.

Azwir Nasution, M.Pd

Materi 3 : “Dampak Psikologis Kekerasan Seksual terhadap Keberlangsungan Hidup Anak” disampaikan oleh Dina Haya Sufya, S.Psi, M.Si.

b. Layanan Informasi Hari Kedua

Hari : Kamis, 26 Agustus 2021 Pukul : 09.00- Selesai

Tempat : Gedung pertemuan nagari

Materi 1 : “Layanan Informasi dalam Peningkatan Penyadaran dan Kepedulian Masyarakat terhadap Korban Pelecehan Seksual Anak di bawah Umur” disampaikan oleh Ibu Dr. Mellyarti Syarif. M.Pd

(39)

30 Materi 2 : “Menyelamatkan Anak Dari Kejahatan Seksual dengan cara Terus-menerus Melakukan Sosialisasi UU” disampaikan oleh AKBP Drs. H.

Azwir Nasution, M.Pd

Materi 3 : “Dampak Psikologis Kekerasan Seksual terhadap Keberlangsungan Hidup Anak” disampaikan oleh Dina Haya Sufya, S.Psi, M.Si.

Berikut uraian kegiatan layanan informasi yang dilakukan dalam bentuk seminar, tanya jawab dan diskusi:

a. Pelaksanaan pengabdian kepada masyaraakat 25 dan 26 Agustus 2021

Acara pengabdian ini dibuka oleh ketua tim pengabdian dengan memaparkan maksud dan tujuan pelaksanaan acara ini pada peserta. Pada hari pertama masyarakat yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 30 orang

Gambar 2. Ketua Tim Pengabdian sedang membuka acara sekaligus memberikan penjelasan terkai tmaksud dan tujuan pengabdian masyarakat ini dilakukan

Setelah itu acara dilanjutkan dengan mendengarkan kata sambutan yang diberikan oleh wali nagari. Dalam sambutannya, wali nagari sangat mengapresiasi kegiatan ini, Dalam kata sambutannya, wali nagari berharap semoga kasus pelecehan seksual yang banyak terjadi Pariaman bias berkurang. Harapan yang

(40)

31 sama juga disampaikan kepada masyarakatnya agar saling berkerjasama dalam menjaga keluarga serta lingkungan dari kejahatan seksual. Setelah kata sambutan dari wali nagari, acara pengabdian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh nara sumber

Gambar 3. Walinagari dan Narasumber acara

1) Materi Pertama bertema “Layanan Informasi Dalam Peningkatan Penyadaran Dan Kepedulian Masyarakat Terhadap Korban Pelecehan Seksual Anak Di Bawah Umur” .Nara sumber pada materi ini adalah ibu Dr. MellyartiSyarif. M.Pd (Pensuinan Dosen Jurusan BKI Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol Padang). Pada materi ini nara sumber menjelaskan faktor-faktor penyebab kekerasan seksual pada anak, bentuk kekerasan serta upaya pencegahan

(41)

32

Gambar 4. Materi 1 tanggal 25 Agustus 2021 oleh Ibu Dr. Mellyarti Syarif. M.Pd

Gambar 5. Materi 1 (26 Agustus 2021) oleh Ibu Dr. Mellyarti Syarif. M.Pd

(42)

33 Gambar 6. Sesi Tanya jawab dengan peserta

Berikut gambaran materimya:

Layanan informasi dalam peningkatan penyadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pelecehan seksual pada anak di bawah umur

Oleh : Dr. Dra. MELLYARTI SYARIF. M.Pd

1. Fenomena masyarakat hari ini

Seiring dengan perkembangan zaman, jenis-jenis perbuatan yang melanggar hukum semakin beraneka ragam yang terjadi didalam masyarakat. Pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang telah berulang kali memberikan penyuluhan untuk menyadarkan masyarakat mengenai akibat yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut. Tetapi usaha ini belum cukup untuk menyadarkan masyarakat. Maka Perlu membantu pemerintah dengan mempersamakannya. Tim UIN mencoba menggunakan konseling dengan layanan informasinya.

ِﷲ َﻝﻮُﺳ َﺭ ُﺖْﻌِﻤَﺳ :َﻝﺎَﻗ ،ُﻪْﻨَﻋ ُﷲ َﻲ ِﺿَﺭ ِّﻱ ِﺭْﺪُﺨﻟﺍ ٍﺪْﻴِﻌَﺳ ﻲِﺑَﺃ ْﻦَﻋ ﷺ

» :ُﻝ ْﻮُﻘَﻳ ْﻊِﻄَﺘﺴَﻳ ْﻢَﻟ ْﻥِﺈَﻓ ،ِﻩِﺪَﻴِﺑ ُﻩ ْﺮِّﻴَﻐُﻴْﻠَﻓ ًﺍﺮَﻜْﻨُﻣ ْﻢُﻜْﻨِﻣ ﻯَﺃ َﺭ ْﻦَﻣ

َﺭ «ِﻥﺎَﻤْﻳِﻹﺍ ُﻒَﻌْﺿَﺃ َﻚِﻟَﺫ َﻭ ِﻪِﺒْﻠَﻘِﺒَﻓ ْﻊِﻄَﺘﺴَﻳ ْﻢَﻟ ْﻥِﺈَﻓ ،ِﻪِﻧﺎَﺴِﻠِﺒَﻓ ُﻩﺍ َﻭ

ٌﻢِﻠْﺴُﻣ .

(43)

34 Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.”([HR. Muslim, no.

49]

Terjadinya Kemungkaran

• Kemajuan Media Dan Teknologi

• Norma Sosial & Agama Menurun

• Kesibukan Orangtua

• Peredaran Narkotika

• Ambisi Kebebasan

• Tuntutan Pelajaran

• Kekerasan Lingkungan

• Guru Penuh Beban

Macam-macam kekerasan terhadap anak

1.Penyiksaan Fisik(Psysical Abuse)

2. Penyiksaan Emosi (Psychological/ Emotional Abuse) 3. Pelecehan seksual (seksual Abuse)

4. Pengabaian (Child Neglect)

2. Pelecehan seksual pada anak dibawah umur

• Dalam pasal 45 KUHP, didefinisikan anak yang belum dewasa apabila belum berumur 16 tahun.

 Berdasarkan data SIMFONI (Sistem Informasi Online perlindungan Perempuan dan Anak)Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,

(44)

35

 Per 1 Januari hingga 19 Juni 2020 telah terjadi 3.087 kasus pelecehan terhadap anak, diantaranya 852 pelecehan fisik, 768 psikis, dan 1.848 kasus pelecehan seksual.

 Luka psikologis yang mungkin dialami antara lain : merasa sangat ketakutan, kesakitan, membenci ayahnya dan bisa saja orang dewasa di sekitarnya.

 Merasa jijik pada diri sendiri karena risau dan bingung, kecewa, marah, dendam.

Maka yang tampil adalah:

 perilaku yang tidak mudah dipahami, menarik diri, melawan, kasar, ketakutan, impulsif, gangguan tidur dan makan, dan jelas prestasi akademis terganggu.

 Luka batin yang dialami oleh korban kekerasan seksual itu nggak main-main.

Sebetulnya luka ini juga bisa nular ke keluarganya

Korban-korban yang tidak mendapat penanganan yang baik bisa menjadi:

 korban kekerasan seksual berkelanjutan, bisa juga menjadi pelaku sebagai balas dendam

 Korban akan mengalami luka fisik dan psikologis yang amat mendalam.

 Anak anak tersebut akan terus melakukan aktivitas seksual, dan pada usia remaja akan terpapar HIV.

Harusnya depkes harus menyiapkan tenaga terapis,” untuk itu.

 “Pemerintah tidak punya uang untuk menangani HIV pada anak yang bertabur di 9000 pulau.

 “Indonesia tidak punya terapis khusus untuk menangani kasus kekerasan seks pada anak-anak, lalu kalau anak itu diterapi dimana tempatnya, tenaga terapinya darimana, biayanya darimana, ya dari BPJS lahh,” keluhnya.

Pasal 294 Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) yang berbunyi: “Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa, atau dengan orang yang belum dewasa, pemeliharaannya, pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya ataupun dengan bujangnya atau bawahannya yang belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

(45)

36

 Pornografi jelas tidak akan pernah ada jika aturan bergaul dan berpakaian dikembalikan lagi kepada Islam.

Bukankah Islam mengatur bagaimana seorang laki-laki dan perempuan berpakaian?

 Cara kita memandang lawan jenis ternyata juga diatur. namamya menjaga pandangan.

 Aturan Islam hadir bukan hanya sekedar memberikan batasan saja. Segalanya Allah buat justru untuk melindungi manusia dari berbagai kerusakan yang ada. Alangkah indahnya ketika kita bisa hidup dalam penerapan Islam yang sempurna

Dulu, orang tua yang memiliki anak perempuan biasanya punya kekhawatiran lebih besar ketika melepas anak mereka keluar rumah. Tapi hari ini, kondisinya sudah amat jauh berbeda.

Para predator bukan hanya memangsa anak-anak perempuan saja, bahkan laki-laki pun iya.

 Pemerkosaan inses kepada anak perempuan yang dilakukan ayah dan saudara kandung sendiri makin mengkhawatirkan. Untuk itu, orang tua harus membekali anaknya supaya bisa menjaga diri.

 Usia 7 tahun dianggap ideal untuk mulai memperkenalkan anak tentang pelecehan seksual itu. A

 Anak yang berusia di atas 7 tahun harus diperkenalkan tentang pelecehan seksual, kekerasan seksual, dan perkosaan dengan menggunakan kata-kata yang sesuai dengan usia mereka.

 Ortu tidak bisa lagi merasa tabu dan saru sehingga tidak menyampaikan yang benar untuk melindungi anaknya.

Faktor yang mungkin jadi penyebab:

a. Kurangnya pengetahuan, penghayatan dan pengamalan kehidupan beragama b. Kerusakan otak karena melihat pornografi.

c. Pengaruh media/tontona

d. Pengaruh teman dan lingkungan e. Pola asuh yang salah

f. Banyaknya waktu luang

g. Ruang-ruang privasi sangat terbatas

(46)

37 Upaya mencegah agar perkosaan tak terjadi pada keluarga

1. Co atau dual parenting: kedua orang tua harus terjun dan terlibat penuh mengasuh anak mereka, bertanggung jawab kepada Tuhan untuk titipannya itu. Jangan mudah mensubkontrakkan mereka ke tangan orang lain: baby sitter, pengasuh, anggota keluarga atau tempat penitipan anak

2. Menyadari tantangan zaman menjadi semakin gila: orang-orang yang rusak otaknya karena narkoba, pornografi dan penyakit masyarakat lainnya akan mudah melakukan kekerasan seksual dan perkosaan pada anak-anak. Umumnya dilakukan oleh orang: dekat dan dikenal dengan 2 cara: dibujuk atau diancam.

3. Beberapa hal yang harus dipersiapkan ortu bagi anaknya:

a. Pengetahuan agama dan praktiknya, termasuk berdoa untuk dapat perlindungannya dalam kehidupan sehari-hari

b. Komunikasi yg dekat dan hangat sehingga bisa menunjukkan dan menjelaskan kepada anak di atas 4Th

4. Upaya pencegahan ini diberikan dalam bentuk psikoedukasi, Psikoedukasi yang diberikan berupa comprehensive sexuality education. Sampaikan kepada anak, Dia sangat berharga. Maka selain orang tua yg menjaga, dia harus menjaga dirinya sendiri, Tidak boleh disentuh sembarangan kecuali sebutkan siapa dalam keluarga: mama, ayah, nenek, mbak dan dokter.

 Jelaskan tentang bedanya orang asing, kenalan, teman, sahabat, kerabat dan muhrim (bagi yang muslim).

 Jelaskan tentang 3 jenis sentuhan: Sentuhan yang baik yaitu, yang menyenyuh bagian tubuh dari kepala ke atas dan lutut ke bawah.

(47)

38

 Sentuhan membingungkan yaitu, yang menyentuh bagian tubuh dari bawah bahu sampai di atas lutut.

 Sentuhan yang buruk yaitu, yang menyentuh bagian tubuh yang ditutup oleh pakaian renang.

Semua ini harus dipraktikkan berulang-ulang supaya anak paham. Mereka juga harus diajarkan bagaimana bereaksi terhadap sentuhan membingungkan dan yang buruk dengan role play.

• Berikut kata-kata yang harus mereka ucapkan.

• Anak harus diajarkan, mereka boleh berbohong, berteriak dan jangan pernah takut melaporkan pada orang tua atau orang dewasa lain dalam keluarga.

• Bisa saja terjadi karena pengaruh setan atau penyakit di otak, orang-orang terdekat dapat melakukan hal-hal yang keji.

• Jangan takut dengan ancaman dan hadiah yang dijanjikan.

• Jelaskan betapa masa depan anak akan terganggu.

• Gunakan banyak kalimat bertanya untuk melatih anak berpikir kritis.

Tanda-tanda anak terkena pelecehan seksual

• Tanda-tanda fisik: sulit duduk maupun berjalan, kelaminnya gatal atau sakit, daerah vagina atau duburnya lecet dan berdarah, menderita penyakit seksual, hamil.

• Bila gangguan psikologis akibat kekerasan seksual (trauma post sexual abuse) tidak segera ditangani, maka semakin anak besar, ia akan menunjukkan: harga diri yang rendah, merasa berdosa, marah, menyendiri dan tidak mau bergaul dengan orang lain dan makan tidak teratur.

• Dari sekian banyak kasus kekerasan seksual,, tentu tidak akan terjadi secara tiba-tiba.

dorongan seksual tidak akan mungkin hadir tanpa ada pemicu. Kalau kita cermati dengan seksama, beragam kasus yang terjadi ternyata bermula dari pornografi.

(48)

39

• Kenapa ada anak yang bisa memperkosa temannya? Ternyata karena kecanduan pornografi.

• Kenapa ada orang dewasa yang memperkosa? Ternyata salah satu pemicunya adalah ini juga.

Bagaimana menyembuhkan anak yang sudah menjadi korban pemerkosaan?

Semua korban inses harus melalui terapi terpadu:

1. Fisik,

2. Psikologis dan 3. Religius.

Dalam seluruh fase hidupnya akan dibayang-bayangi kenangan mengerikan itu. sangat amat memungkinkan korban mengalami depresi akut yang mendorongnya untuk bunuh diri.

3. layanan informasi salah satu alternatif menghadapi masalah dalam BK

Bimbingan Konseling merupakan pemberian bantuan terhadap seseorang oleh konselor guna membantu memecahkan masalahnya baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam rangka membantu klien agar dapat mengembangkan potensi dirinya atau pun memecahkan permasalahan yang dialaminya.

Jenis-jenis layanan dalam BK 1. Layanan Orientasi 2. Layanan Informasi

3. Layanan Penguasaan Konten

4. Layanan Penempatan dan Penyaluran 5. Layanan Konseling Perorangan 6. Layanan Bimbingan Kelompok 7. Layanan Konseling Kelompok 8. Layanan mediasi

(49)

40 9. Layanan konsultasi

10. Layanan advokasi

JENIS-JENIS LAYANAN DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING

• Layanan Orientasi

• Layanan Informasi

• Layanan Konten

• Layanan Penempatan dan Penyaluran

• Layanan Konseling Perorangan

• Layanan Bimbingan Kelompok

• Layanan Konseling Kelompok Layanan Informasi

• Layanan informasi adalah suatu kegiatan atau usaha untuk membekali seseorang tentang berbagai macam pengetahuan supaya mereka mampu mengambil keputusan secara tepat dalam kehidupannya

Tujuan layanan informasi

• supaya seseorang memperoleh informasi yang relevan dalam rangka memilih dan mengambil keputusan secara tepat guna pencapaian pengembangan diri secara optimal

KESIMPULAN

1. Perbuatan yang melanggar hukum semakin beraneka ragam yang terjadi didalam masyarakat.

2. Juni 2020 telah terjadi pelecehan terhadap anak, sebanyak 1.848 kasus pelecehan seksual.

3. Kedua orang tua harus terjun dan terlibat penuh mengasuh anak mereka, bekali anak dg pengetahuan agama, jalinkomunikasi yg dekat dan hangat.

4. Berikan comprehensive sexuality education pada anak

5. layanan informasi salah satu alternatif mencegah pelecehan seksual pada anak usia dibawah umur

(50)

41 a. Materi2 disampaikan oleh AKBP Azwir Nasution. Tema pada materi ini adalah“

Menyelamatkan anak dari kejahatan seksual dengan cara terus-menerus melakukan sosialisasi UU”. Pada materi ini nara sumber mengkaji kekerasan seksual pada anak dari segi hukum yang berlaku di Indonesia.

Gambar 7. Penyampaian Materi 2 tanggal 25 Agustus 2021 oleh AKBP Azwir Nasution

Gambar 8. Penyampaian Materi 2 tanggal 26Agustus 2021 oleh AKBP Azwir Nasution

(51)

42 Gambar 9. Antusias masyarakat dalam mendengarkan penjelasan dari nara sumber

b. Materi membahas “Dampak psikologis kekerasan seksual terhadap keberlangsungan hidup anak” disampaikan oleh Dina Haya Sufya, S.Psi, M.Si. Pada sesi ketiga ini nara sumber mengupas tuntas mengenai pelecehan seksual pada anak yang terjadi disekitar kita. Selain itu, juga dijelaskan dimana saja pelecehan seksual itu sering mengintai anak-anak serta dampak psikologis pelecehan seksual terhadap anak.

Gambar

Gambar 1. Sosialisasi pelaksanaan kegiatann pengabdian kepada masyakat
Gambar  2.  Ketua  Tim  Pengabdian  sedang  membuka  acara  sekaligus  memberikan  penjelasan terkai tmaksud dan tujuan pengabdian masyarakat ini dilakukan
Gambar 3. Walinagari dan Narasumber acara
Gambar 4. Materi 1 tanggal 25 Agustus 2021  oleh Ibu Dr. Mellyarti Syarif. M.Pd
+4

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan Sosialisasi Peran Orang Tua dalam Memotivasi Belajar Anak bagi Bhayangkari Ranting Loano memberikan wawasan bagi peserta tentang bagaimana mendidik dan memotivasi

a) Selalu meningkatkan kerja sama yang baik antara dosen, mahasiswa dan pihak panti Sosial werdha Bidi Mulya 1 Cipayung Jakarta timur untuk kegiatan –

Kegiatan ini dilakukan dengan membimbing siswa/i menyelesaikan tugas rumah yang diberikan guru dari sekolah, dan membimbing untuk memahami materi yang kurang

Pemberian kompensasi yang sesuai dengan kinerja karyawan diharapkan dapat menyebabkan karyawan memiliki komitmen, dan karyawan tersebut termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya

Asabri (Persero), yang telah memberikan kesempatan kepada Saya untuk menjadi narasumber pada pelatihan Financial Forecasting dalam meningkatkan kinerja

Selain mengenai proses penerapan pemasaran digital dengan menggunakna media sosial, penting juga untuk mengetahui bagaimana cara kelima pelaku Usaha Mikro yang menjadi subjek

Oleh karena itu perlu suatu kegiatan bagi guru-guru SMP Kabupaten Sleman untuk mempersiapkan materi tari agar semua guru menyampaikan materi yang sama, baik

Mengingat pentingnya pemahaman tentang hal ini, maka perlu dilakukan pengetahuan tentang pemilihan kosmetik yang tepat dan aman bagi remaja agar siswi Madrasah Muallimat