• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Kondom

2.3.1 Sejarah Kondom

Kondom adalah salah satu jenis alat kontrasepsi tertua. Alat yang berbahan

dasar olahan karet ini pertama kali diperkenalkan sekitar 1000 tahun sebelum masehi

oleh orang-orang mesir. Seorang bernama Gabrielle Fallopius melakukan percobaan

pembuatan kondom pada tahun 1500-an, pria berkebangsaan Itali ini

mengembangkan kondom yang terbuat dari bahan kain linen untuk mencegah

penularan penyakit kelamin pada laki-laki.

Menurut Charles Panati, dalam bukunya Sexy Origins and Intimate Things,

sarung untuk melindungi penis telah dipakai sejak berabad silam. Sejarah

bukan untuk mencegah kehamilan tapi menghindari penyakit kelamin. Untuk

menekan kelahiran, sejak dulu pria selalu mengandalkan kaum perempuan untuk

memilih bentuk kontrasepsi, sehingga menurut persepsi kaum laki-laki pada saat itu

tidak berpengaruh dalam pencegahan kehamilan.

Seiring perkembangan waktu pembuatan kondom mulai dikembangkan dan

berubah bahan dari kain linen menjadi kondom yang terbuat dari usus domba. Hal ini

terbukti dari penemuan sisa-sisa kondom di reruntuhan Dudle Castle, dekat

Birmingham Inggris. Diperkirakan perkembangan kondom di Inggris dimulai pada

tahun 1640-an, pada saat itu terjadi perang antar pengikut Oliver Cromwell dengan

prajurit Raja Charles I, kerena peperangan tersebut berlangsung lama maka,

melibatkan banyak PSK dan menimbulkan banyak terjadi penularan penyakit kelamin

yang mengakibatkan melemahnya daya gempur pasukan. Untuk menanggulanginya

tabib kerajaan membuatkan pelindung untuk melindungi alat kelamin para prajurit,

yang disebut Kondom.

Nama “kondom” berasal dari bahasa latin “Condon” yang berarti wadah..Di

tahun 1980-an penggunaan kondom meningkat karena persebaran virus baru

HIV/AIDS. Pada saat itu kondom dirasa dapat menjadi alat yang bisa

menanggulanginya.

Sampai saat ini kondom telah banyak ber-evolusi, dengan berbagai macam

rasa dan bentuk agar lebih nyaman digunakan dan lebih variatif dalam memberikan

juga kondom untuk wanita atau lebih dikenal dengan Fimidom. Namun sampai detik

ini masih banyak manusia yang tidak mau memakai alat pengaman yang memiliki

sejarah panjang ini (Donit, 2011).

2.3.2 Jenis-Jenis Kondom (Dumasari, 2008) a. Kondom laki-laki

Kondom merupakan sarung dari latex yang tipis, digunakan pada penis ketika

melakukan hubungan seksual. Kondom berguna untuk mengumpulkan semen

sebelum, selama dan sesudah masa ejakulasi dan menghalangi sperma masuk ke

vagina. Penggunaan kondom yang benar dapat mengurangi risiko penularan penyakit

seksual dan dapat juga digunakan sebagai alat kontrasepsi.

Kondom yang terbuat dari latex, efektif memberikan perlindungan terhadap

virus termasuk HIV. Kondom latex dibuat oleh pabrik mempunyai bentuk, tekstur,

warna, ketebalan, lebar dan panjang yang berbeda. Beberapa kondom mempunyai

permukaan yang lembut dan ada juga yang mempunyai tekstur. Kebanyakan dari

kondom berwarna pudar yang buram, tetapi ada juga yang berwarna dan beberap

kondom dibuat mempunyai bau wangi-wangian, rasa (strawberry, mint).

Kondom latex dirancang mempunyai permeabilitas membran yang dapat

menghambat lewatnya organisme dalam berbagai ukuran seperti spermatozoa dengan

diameter 0,003 mm (3000 nm) dan juga pathogen penyebab penyakit seksual seperti

nm). Menurut penelitian yag dilakukan oleh team FDA kondom dapat menurunkan

risiko terpapar dengan HIV sebanyak 10.000 kali lipat.

Gambar 2.3 Kondom Latex untuk Laki-laki

Sumber : http://primbondonit.blogspot.com Cara penggunaan :

a) Selalu menggunakan kondom latex yag baru dan gunakan sebelum tanggal

kadaluarsa

b) Buka kemasan kondom dengan hati-hati dan jangan menggunakan gigi

c) Pasang kondom setelah penis ereksi

d) Pegang ujung kondom diantara 2 jari (menjepit ujungnya) agar ada tempat untuk

mengumpulkan sperma dan hilangkan udara dari ujung kondom untuk

e) Pasang kondom dari ujung penis,, kemudian ditarik hingga ke pangkal penis dan

ujungnya tetap dijepit.

f) Setelah ejakulasi dan sebelum penis menjadi lembek, tarik keluar penis dengan

hati-hati dan pegang bibir kondom agar sperma tidak tumpah.

g) Setelah pemakaian, kondom dibungkus dan tidak boleh dibuang kedalam toilet.

Keuntungan pemakaian kondom latex:

a) Dapat mencegah kehamilan dan penularan penyakit seksual

b) Harganya tidak mahal dan mudah didapat

c) Kemasannya ringan dan hanya untuk satu kali pemakaian

d) Tidak membutuhkan resep untuk membelinya (dijual bebas)

e) Dapat memperpanjang ereksi pada laki-laki

f) Dapat mengurangi ejakulasi dini

Keadaan yang kurang menguntungkan dari pemakaian kondom latex :

a) Dapat timbul alergi

b) Hilangnya sensasi ketika berhubungan seksual

c) Kondom dapat rusak/bocor

b. Kondom wanita

Terdiri dari bahan polyurethane berbentuk seperti sarung atau kantong dengan

panjang 17 cm (6,5 inci).. Bahan ini kurang menyebabkan alergi dibandingkan

dengan latex. Bahan tersebut juga kuat dan jarang robek (40% lebih kuat dari latex)

ini dapat mencegah kehamilan dan penularan penyakit seksual termasuk HIV apabila

digunakan dengan benar.

Gambar 2.4 Kondom Polyurethane untuk Wanita

Sumber : http://primbondonit.blogspot.com

Pada tiap ujung kondom terdapat cincin/lingkaran yang lentur. Ujung yang

tertutup dengan cincin yang lentur, dimasukkan ke dalam vagina untuk membantu

supaya kondom tersebut tetap pada tempatnya. Sedangkan pada ujung yang terbuka,

cincin tetap pada `berada di sebelah luar vulva (pintu masuk kedalam vagina).

Tersedianya kondom dengan bahan dasar silikon sebagai lubrikasi didalamnya, tetapi

penambahan lubrikasi dapat juga dilakukan. Kondom wanita tidak mengandung

spermecide. Penggunaan kondom wanita sebaiknya tidak bersamaan dengan kondom

Penggunaan kondom ini telah digunakan di Eropa sejak tahun 1992 dan pada

tahun 1993 disetujui pemakaiannya oleh FDA (Food and Drug Administration)

Amerika Serikat.

Cara penggunaan :

a. Buka bungkusan kondom dengan hati-hati

b. Pastikan lubrikasinya cukup

c. Cincin yang tertutup berada di sebelah bawah dan ujung yang terbuka dipegang

menggantung

d. Pegang cincin bagian dalam dengan ibu jari dan jari tengah dan kemudian

masukkan cincin bagian dalam beserta kantongnya ke dalam vagina

e. Letak kondom harus tetap lurus dan tidak boleh berputar didalam vagina.

f. Cincin bagain luar tetap berada di luar vagina

g. Untuk mengeluarkan kondom, putar cincin bagian luar dengan hati-hati dan

kemudian tarik kondom keluar dan sperma tetap berada didalam.

h. Setelah pemakaian, dianjurkan kondom tersebut jangan digunakan lagi dan tidak

boleh dibuang kedalam toilet

Keadaan yang kurang menguntungkan dari pemakaian kondom latex :

a. Lebih sulit memasangnya

b. Kemungkinan dapat timbul bising ketika berhubungan seksual

2.3.3 Efektifitas Kondom

Hasil workshop yang dilaksanakan di Virginia pada tahun 2000 tentang

efektifitas kondom laki-laki yang terbuat dari bahan latex dalam mencegah penyakit

seksual melaporkan bahwa responden yang menggunakan kondom diperkirakan

insiden HIV/AIDS dari 12 penelitian adalah 0,9 seroconversion/100 orang/tahun,

sedangkan responden yang tidak pernah menggunakan kondom diperkirakan insiden

HIV/AIDS adalah 6,7 seroconversion/100 orang / tahun. Dari workshop tersebut

juga disimpulkan bahwa penggunaan kondom dapat menurunkan penularan

HIV/AIDS sebanyak 85% dibanding dengan yang tidak menggunakan (Dumasari,

2008).

Efektifitas kondom juga dibuktikan di Thailand, dimana penggunaan kondom

menjadi program nasional dan seiring dengan meningkatnya pemakaian kondom dari

14% pada awal 1989 menjadi lebih dari 90% pada Juni 1992, kasus IMS juga

menurun menjadi kurang dari 15.000 kasus/tahun. Sejak tahun 2000 dari 400.000

kasus/tahun pada Juli 2004 di Pembukaan International AIDS Congress, Perdana

Menteri Thailand bahkan mengakui bahwa program ini telah mencegah lebih dari 5

juta infeksi HIV.

Pelaksanaan program 100% penggunaan kondom di Kamboja dimulai pada

Oktober 1998 di Sihanoukville, sebuah distrik yang banyak pekerja seksnya.

Kemudian menjadi program nasional pada tahun 2001. Program ini berhasil

ini juga dilaksanakan di beberapa negara asia lainnya, seperti Filipina dan Vietnam.

Negara Asia lain yang menjalankan program 100% penggunaan kondom adalah

Myanmar pada awal tahun 2001 di kota Bago, Pyay, Kwathaung dan Tachileik,

kemudian berkembang ke 152 kota lainnya pada awal 2006. Terdapat laporan

penggunaan kondom pada pekerja seks meningkat dari 60,7% (2001) menjadi 91,0%

(2002), terdapat penurunan prevalensi sifilis dari 6% menjadi 3%

(Rojanapithayakorn, 2008).

2.4. Landasan Teori

Dalam membuat kerangka konsep, peneliti menggunakan landasan teori

Health Belief Model (HBM).

HBM adalah model psikologis yang mencoba untuk menjelaskan dan

memprediksi perilaku kesehatan dengan berfokus pada sikap dan keyakinan individu.

Model perubahan perilaku kesehatan dikembangkan oleh Irwin M. Rosenstock pada

tahun 1966 untuk mempelajari dan mempromosikan serapan pelayanan kesehatan.

Model ini lebih lanjut dkembangkan oleh Becker dan rekannya pada tahun 1970-an

dan 1980-an. Perubahan terus dilakukan hingga akhir tahun 1988, untuk

mengakomodasi bukti tentang peran pengetahuan dan persepsi. Awalnya, model ini

dirancang untuk memprediksi respon perilaku untuk pengobatan yang diterima oleh

pasien sakit akut atau kronis, tetapi dalam beberapa tahun, model ini telah digunakan

seseorang dalam berperilaku kesehatan akan memprediksi kemungkinan perilaku itu.

Sejak itu, HBM telah disesuaikan dengan mengeksplorasi berbagai tindakan jangka

panjang dan jangka pendek kesehatan perilaku, termasuk perilaku seksual berisiko

dan penularan HIV/AIDS.

Para peneliti menunjukkan bahwa seorang individu yang dianggap memiliki

kemampuan untuk berhasil melaksanakan strategi pemeliharaan kesehatan, seperti

menggunakan kondom secara konsisten, sangat mempengaruhinya dalam

memberikan keputusan untuk menetapkan dan mempertahankan perubahan perilaku.

Komponen HBM :

1) Ancaman (Threat); persepsi terhadap ancaman suatu penyakit merupakan langkah

awal dalam proses bertindak mengurangi ancaman tersebut. Persepsi terhadap

ancaman merupakan gabungan 2 faktor, yaitu persepsi terhadap risiko tertular

suatu penyakit (perceived susceptibility) dan persepsi terhadap keseriusan suatu

penyakit baik secara medis maupun sosial (perceived severity)

2) Harapan; persepsi terhadap harapan ini dibagi atas 3 faktor yaitu Persepsi positif

terhadap suatu tindakan pencegahan (perceived benefit), dalam hal ini adalah

persepsi positif terhadap penggunaan kondom, persepsi negatif terhadap

penggunaan kondom (perceived barriers) misalnya biaya yang mahal, efek

samping, rasa sakit, ketidaknyamanan, dan lain-lain. Faktor lainnya adalah

persepsi kemampuan diri dalam melakukan tindakan pencegahan tersebut dengan

bagaimana mereka berperilaku, berpikir, dan bereaksi terhadap situasi yang tidak

menyenangkan. Penilaian diri terhadap kemampuan yang dimilikinya akan

menentukan rangkaian perilaku yang harus ditampilkan dan berapa lama harus

menjalaninya, pola pikir dan reaksi emosional.

3) Cues to action

Cues to action adalah tanda/sinyal yang menyebabkan seseorang untuk bergerak

kearah perilaku pencegahan. Tanda tersebut berasal dari luar (kampanye di media

massa, nasihat dari orang lain, kejadian pada kenalan/keluarga, artikel di majalah)

4) Variebel sosiodemografi, sosiopsikologi dan struktural

Variabel sosiodemografi meliputi, status ekonomi, ras, umur, pendidikan dan

akses terhadap pelayanan kesehatan. Variabel sosiopsikologi meliputi dorongan

dari peer group atau reference group . sedangkan variabel struktural mencakup

pengetahuan dan pengalaman seseorang yang menjadikan dia berperilaku sehat.

Variabel sosiodemografi, sosiopsikologi dan struktural mempengaruhi persepsi

individu maka secara tidak langsung mempengaruhi perilaku yang berhubungan

dengan kesehatan (health-related behavior). Tingkat pendidikan diyakini

mempunyai dampak tidak langsung terhadap perilaku dengan mempengaruhi

perceived susceptibility, perceived severity, perceived barriers dan perceived

Gambar 2.5 Bagan Komponen Health Belief Model (HBM)

Sumber : Rosenstock dkk. (1994) dalam Preventing AIDS

Faktor Sosiodemografi • Umur • Pendidikan • Status pernikahan Faktor Sosiopsikologi • Dorongan dari peer group atau reference group Struktural • Pengetahuan • Pengalaman Harapan

• Persepsi positif terhadap suatu tindakan

• Persepsi negatif terhadap suatu tindakan • Persepsi terhadap kemampuan sendiri untuk bertindak Cues to Action • Media massa • Informasi dari orang lain Perilaku untuk mengurangi ancaman berdasarkan harapan Ancaman

• Persepsi terhadap risiko tertular penyakit

• Persepsi terhadap keseriusan suatu penyakit

2.5. Kerangka Konsep

Berdasarkan landasan teori diatas maka dapat disusun kerangka konsep

penelitian sebagai berikut :

Variabel Independent Variabel Dependent

Gambar 2.6 Bagan Kerangka Konsep Penelitian Tindakan Penggunaan Kondom Faktor Sosiodemografi 1. Umur 2. Pendidikan 3. Status Pernikahan

Persepsi mengenai HIV/AIDS

6. Persepsi berisiko tertular 7. Persepsi keseriusan 8. Persepsi positif 9. Persepsi negatif

10.Persepsi keyakinan diri

Faktor Struktural

5. Pengetahuan

Faktor Sosiopsikologi

Dokumen terkait