• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TEMUAN PENELITIAN

4.2. Temuan Penelitian

4.2.2. Hasil Wawancara

4.2.2.2. Konflik Antara Anak Dan Ibu

Orangtua dalam sebuah keluarga yaitu terdiri dari ayah dan ibu bagi anaknya.

Orangtua yang pertama sekali mengajarkan anaknya tentang kasih sayang dan arti dari kehidupan. Melalui orangtua anak diajarkan tentang segala hal untuk mempersiapkan dirinya menghadapi lingkungan sosialnya kelak. Dalam keluarga antara ayah dan ibu memiliki perannya masing-masing. Ayah berperan sebagai kepala rumah tangga, mencari nafkah untuk keluarga dan menjaga keluarganya, sedangkan ibu berfungsi sebagai menejer dalam keluarga yang bertugas mengurus anak, mengatur rumah, dan lain sebagainya. Dalam menjaga hubungan antara orangtua dan anak sangat dibutuhkan komunikasi yang baik. Apabila komunikasi orangtua dengan anak buruk, maka anak akan cenderung tidak menghormati orantuanya sehingga akan sering terjadi pertengkaran dan menimbulkan perasaan tidak berharga pada anak.

Berikut ini tabel konflik yang terjadi antara ibu dan anaknya:

Tabel 4.2 Daftar Informan

No Nama Umur Alamat Pekerjaan Status Keterangan

1. RZ-NJH 29 / 48 Dusun Sejahtera, Desa Alue Selaseh

Petani Keluarga Selesai/

Kembali Harmonis

4.2.2.2.1. Konflik Yang Dialami Oleh RZ Dan NJH

NJH sudah ditinggal meninggal oleh suaminya sejak tahun 2016 disebabkan oleh penyakit stroke yang dideritanya. NJH memilik dua orang anak yang keduanya laki-laki, RZ merupakan anak pertama NJH. Wanita yang lahir tahun 1970 ini setelah ditinggal oleh suaminya sehari-hari bekerja sebagai petani menggantikan suaminya dan di bantu oleh RZ anak tertuanya. Konflik yang terjadi antara NJH dan RZ dipicu oleh RZ yang merasa bahwa ibunya berhubungan dekat dengan laki-laki lain. RZ tidak suka ibunya memiliki hubungan dengan laki-laki lain karena dia merasa malu kepada warga dengan kelakuan ibunya yang menurutnya tidak pantas mengingat umur ibunya yang sudah tua dan juga memiliki anak yang sudah besar. Peneliti berjumpa dengan RZ pada saat peneliti sedang berada dirumah keuchik. Pada saat itu RZ datang dengan menggunakan sepeda motor kerumah Keuchik dengan maksud untuk melaporkan perihal kelakuan ibunya. Pada saat itu peneliti memperhatikan dari dalam rumah keuchik ketika mereka berbicara diluar raut wajah RZ terlihat sangat marah. Setelah keuchik kembali masuk kedalam rumah, kemudian peneliti bertanya kepada keuchik ada permasalahan apa dan keuchik menjawab bahwa dia ingin melaporkan ibunya yang sedang dekat dengan pria lain. Namun kemudian keuchik menyuruh RZ menjumpai kepala lorong dahulu yang berada tidak jauh dari rumahnya untuk membuat laporan. Taufik selaku Keuchik bercerita kepada peneliti:

‘’anaknya pergi mengadukan ibunya dekat dengan laki-laki. Dulu waktu di rumah pesta pernah diikuti sama anaknya tapi ibunya ternyata keluar dari pintu belakang rumah orang itu karena ingin berjumpa dengan laki-laki tersebut. anaknya tau ibunya keluar lewat pintu belakang karena sudah lama ditunggu ibunya dipintu depan tapi ternyata tidak muncul-muncul. Setelah lama ditunggu dan diperiksa kedalam ternyata sudah tidak ada lagi, sesampai dirumah sudah ada ibunya dirumah. Ibunya juga sering menelfon dengan laki-laki tengah malam dan didengar oleh anaknya. Seharusnya anaknya juga tidak boleh melarang ibunya kalau ibunya ingin menikah lagi daripada dia berzina.

Dalam kondisi ini ibunya pun apabila memang ingin bersama dengan laki-laki itu seharusnya mempertemukan anaknya dengan pria tersebut dan langsung menikah jangan hanya berpacaran saja. Tapi sebagai perangkat adat kami ini tidak boleh menyalahkan ibunya ataupun anaknya diwaktu menyelesaikan masalah ini. kami tetap harus berada ditengah’’.

Walaupun lembaga adat ini memiliki pandangan masing-masing tentang siapa yang salah, namun mereka harus bisa bersikap netral dalam menyelesaikan permasalahan warganya. Dalam hal ini apabila mereka ingin menyalahkan, maka mereka harus menyalahkan keduanya. Tidak ada yang namanya pembenaran atas kesalahan dari satu pihak. Pada saat menyelesaikan konflik RZ keuchik tidak mau menerima langsung laporannya karena memang prosesnya harus melalui kepala lorong terlebih dahulu, yang mana rumah kepala lorong pun tidak jauh dari rumahnya.

Sebelum menghadap pada lembaga adat, RZ sebelumnya sudah terlebih dahulu melapor kepada saudaranya namun saudaranya tidak memperdulikan pengaduan RZ.

Hal inilah yang membuat RZ kemudian berinisatif mengadu kepada lembaga adat yang merupakan harapan terakhirnya untuk membantu menyelesaikan permasalahannya. Berikut kutipan wawancara dengan RZ:

‘’Mamak saya dulu sering kali berhubungan dekat dengan laki-laki, menelfon sampe tengah-tengah malam. Saya tidak suka mamak saya kayak gitu, malu

saya sama orang-orang. Saya sudah lelah menasehati dia supaya jangan seperti itu, saya malu orang-orang sudah mencemooh kami, tapi mamak saya tidak mau mendengarkan, malah dibilang agar saya jangan suka sekali atur-atur hidup dia, masih kecil juga, katanya gitu. Aku cerita sama keluarga aku malah tidak ada yang mau dengar aku, mereka malah seperti mendukung mamak ku menikah dengan laki-laki lain. Itulah yang bikin aku lapor ke keuchik, aku tidak tau harus bagaimana mana lagi’’.

Sebelum mereka didamaikan dengan mempertemukan mereka berdua, permasalahan ini terutama diserahkan kepada kepala lorong untuk menginterogasi dan menemukan akar permasalahannya terlebih dahulu. Setelah akar permasalahannya ditemukan baru kemudian kepala lorong melaporkan masalah ini pada keuchik dan kemudian dipertemukanlah NJH dan juga RZ. Pada saat diinterogasi oleh kepala lorong, selain menanyakan akar permasalahannya, kepala lorong juga memberi nasehat-nasehat untuk mendinginkan keadaan agar mereka dapat berfikir dengan baik, karena walau bagaimanapun NJH tetap merupakan ibu dari RZ dan RZ tetap sebagai anaknya NJH. Berikut ungkapan dari Ramaizan mengenai proses penyelesaian konflik ini:

‘’ Dia lapor kalau ibunya sedang berhubungan dekat dengan laki-laki jadi saya beri dia pengertian bahwa ibunyakan sudah berapa tahun menjanda jadi wajar apabila dia berhubungan dekat dengan laki-laki dan ingin menikah lagi. Dia punya hak juga apabila ingin menikah lagi agar ada orang yang mendampingin dia. Lalu dibilang sama anaknya apabila ibunya menikah lagi maka harus pindah dari rumah mereka. Saya katakana lagi kan itu rumah ibu kamu juga jadi kamu tidak boleh begitu. Lalu besoknya saya panggil ibunya, saya tanya pula sama ibunya, dikatakan sama ibunya kalau tuduhan dari anaknya itu tidak benar, tidak ada hubungan dekat ibunya dengan laki-laki, yang ada cuma teman biasa saja. Saya nasehati juga ibunya, saya bilang anak ibukan sudah besar, jadi ibu pandai-pandailah jaga sikap. Kalau memang ibu sudah memiliki laki-laki lain, maka ibu langsung saja menikah. Kasian sama anak, jadi malu anak apabila ibu dekat dengan laki-laki yang bukan muhrim ibu, dilihat sama tetangga tidak enak. Begitulah saya nasehati mereka. karena siibu ini tetap mengaku tidak ada hubungan dekat dengan laki-laki lain, dan si

anak ini juga tetap terus menuduh-nuduh ibunya, maka masalah ini sudah tidak dapat saya selesaikan sama saya jadi saya serahkan sama Geuchik’’.

Konflik antara RZ dan NJH tidak dapat diselesaikan oleh Kepala Dusun sehingga dia menyerahkan permasalahan ini kepada Keuchik untuk mencari jalan penyelesaiannya bersama. Melalui Geuchik inilah jalan penyelesaian terakhir yang dapat dilakukan oleh lembaga adat. Berikut hasil wawancara dengan Geuchik Taufik:

‘’Waktu itu saya tanya lagi sama mereka berdua dan saya kasih kesempatan mereka berbicara satu-satu. Saya kasih kesempatan si anak dulu untuk katakana masalahnya, setelah si anak cerita panjang lebar masalahnya, lalu saya kasih kesempatan sama ibunya pula untuk bicara dan siibu membantah tuduhan dari anaknya itu. Maka kemudian saya katakanlah sama mereka berdua kalau itu mungkin salah faham. Saya tanya lagi apa kalian mau damai atau terus ribut? Saya bilang malu sama orang ibu dan anak bertengkar. Ibu sebagai orangtua akan dinilai gagal dalam mendidik anak sehingga bisa melawan sama ibu, sedangkan sama anaknya saya bilang kalau tidak ada ibu kamu, tidak mungkin kamu ada didunia ini sudah sampai sebesar ini dijawab sama anaknya ‘’dia boleh menikah lagi tapi tinggalkan rumah kami’’, dijawab pula sama kepala lorong itukan rumah dia juga, tidak boleh begitu sama orangtua. kemudian saya tanya pula sama ibunya, mau pindah dari rumah kalau suatu saat kamu menikah lagi? dijawab sama ibunya boleh. Saya nasehati juga ibunya agar jangan brtingkah seperti anak muda, kasihan anak jadi malu, kalau memang mau maka ajak saja dia untuk langsung melamar.

Lalu saya suruh mereka untuk berjanji jangan mengungkit masalah ini lagi dan masalah ini harus cukup sampai disini. Terakhir saya suruh juga mereka bersalaman untuk saling maaf-memaafkan dan tanda damai.

Setelah masalah ini diselesaikan oleh lembaga adat ternyata didapatlah satu kesimpulan bahwa apabila NJH ingin menikah lagi maka dia harus siap tinggalkan rumahnya saat ini. Pada akhirnya permasalahan yang semula tidak menemukan titik penyelesaian, dapat diselesaikan oleh lembaga adat Gampong. Tidak membutuhkan

waktu terlalu lama dalam menyelesaikan permasalahan ini seperti waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan konflik antara suami istri. Tampak disini pada akhirnya NJH mengalah dengan RZ.Sifat RZ yang temperamen membuat permasalahan ini tidak bisa diselesaikan hanya diantara dia dan ibunya, sehingga harus masuk pihak lain sebagai penengah.