BAB IV TEMUAN PENELITIAN
4.2. Temuan Penelitian
4.2.2. Hasil Wawancara
4.2.2.3. Konflik Pertunangan
4.2.2.3.2. Konflik AZH dan BTM
Kasus putus pertunangan juga dialami oleh AZH dan BTM yang bertunangan Desember tahun 2017 lalu dan berancana menikah setelah lebaran puasa tahun 2018.
Jangka waktu jatuh tempo pertunangan ini lebih kurang tujuh bulan. Belum sampai
kepernikahan hubungan mereka harus berakhir tepatnya pada bulan Mai tahun 2018.
AZH ini lahir pada 1 Maret 1990 merupakan warga Alue Selaseh, sedangkan BTM bertempat tinggal di Bakongan Kabupaten Aceh Selatan. Disini peneliti hanya mengambil data dari pihak keluarga AZH dan juga lembaga adat di Alue Selaseh mengingat jarak tempuh antara tempat peneliti melakukan penelitian sangat jauh dengan tempat tinggal BTM. Konflik antara AZH dengan mantan tunangannya dipicu oleh adanya pihak ketiga diantara mereka. AZH ini merupakan wanita yang jarang keluar untuk berpergian ketempat wisata dia hanya berpergian apabila ada kepentingan. Karena itu pada saat BTM mengajak jalan-jalan sekali-kali AZH ini sering menolak dan lebih suka berjumpa dan duduk dirumah saja. Padahal jarak mereka yang jauh seharusnya sekali-kali berjumpa dapat menikmati waktu dengan baik.
Kesederhanaan yang dimiliki oleh AZH inilah yang menjadi masalah bagi BTM. Mantan tunangannya itu ingin AZH berpenampilan modis mengikuti tren, dan juga mau ikut pada saat diajak berpergian ketempat-tempat wisata yang jaraknya lumayan jauh. Diakibatkan oleh penolakan-penolakan yang sering dilakukan oleh AZH ini kemudian membuat BTM berpaling kepada wanita lain yang sesuai dengan kriteria yang dia inginkan. Awal mulanya mereka bisa sampai bertunangan itupun karena dijodohkan oleh keluarga mereka masing-masing. Sebenarnya mereka memiliki hubungan saudara jauh, sehingga keluarga mereka ingin mendekatkan lagi hubungan persaudaraan ini. Pada awalnya baik AZH dan juga BTM tidak ada yang menolak untuk dijodohkan dan bahkan mereka mulai dekat setelah pertunangan itu.
Namun lama-kelamaan mereka mulai merasa perbedaan diantara mereka, terutama BTM yang pada akhirnya memilih wanita lain yang memiliki hubungan dekat dengannya bahkan selama masih bertunangan dengan AZH. Seperti yang diungkapkan oleh Taufik selaku Keuchik di Alue Selaseh:
‘’AZH baru-baru ini putus tunangan maka uang 10 juta yang telah diberikan kepadanya tidak diminta lagi. Saya sudah ke sana kerumah tunangannya dan bertanya apa betul dia ingin putus dengan AZH lalu dia jawab betul tidak mau lagi. Lalu saya tanya kenapa dia tidak mau lagi sama AZH, di jawabnya kalau dia sudah tidak suka lagi dengan AZH. karena dia tidak mau lagi dan kesalahan juga datang dari dia maka seperti saya katakan tadi ‘’kalau laki-laki berselingkuh maka uangnya jangan tanya lagi, lalu kalau perempuan yang berselingkuh maka apa yang uang ataupun emas yang telah diberikan harus bayar dua kali lipat’’.
Jadi dalam kasus ini pihak laki-laki kehilangan uang yang diantarkan oleh keluarga dan perangkat adat ketika mereka meminang dulu. Uang yang didapatkan untuk meminang AZH memang merupakan uang BTM sendiri yang dia tabung selama dia bekerja di Malaysia. Oleh sebab itu maka keluarga BTM tidak bisa terlalu memaksa bila BTM ingin memutuskan hubungan itu. Cuma bagi keluarga sangat disayangkan hal ini bisa terjadi karena hubungan kekerabatan yang semula ingin didekatkan bukan semakin dekat malah semakin menjauh. Dalam hal konsekuansi yang harus ditanggung apabila laki-laki yang berselingkuh selama masa pertunangan maka uang tanda yang diberikan dahulu akan hilang, dan apabila wanita yang berselingkuh maka uang itu akan dibayar dengan dua kali lipat. Hal senada juga di ungkapkan oleh AZH:
‘’Pada saat itu dia memilih wanita tersebut, padahal aku sudah memberi dia kesempatan dan pilihan. Jika dia ingin memilih aku, tinggalkan perempuan itu, jika dia memilih perempuan itu ya sudah putuskan saja hubungan diantara
kami dan aku serahkan semuanya sama keluarga dan adat, biarkan keluarga dan adat yang memutuskan. Jadi aku sampaikan pada keluarga aku kalau dia tidak mau lagi dengan ku dan ingin memutuskan hubungan kami. Lalu keluarga aku bertanya langsung pada dia dan dia tetap bilang ingin putus, ditanya pula pada keluarganya namun keluarganya juga berkata demikian tapi mereka tidak mau mengatakan alasannya pada keluarga ku. Maka kemudian keluarga aku melapor sama keuchik, jadi datanglah keuchik bersama ayah dan juga paman aku kesana untuk memastikan. Diputuskanlah disitu bahwa dia akan kehilangan uangnya’’.
Setelah AZH memeberikan kesempatan kepada tunangannya untuk memilih, namun tunangannya tetap memilih wanita lain yang berada diantara dia dan tunangannya itu. Dikarenakan perasaan tidak bisa dipaksa dan dia tidak mau juga pernikahan karena terpaksa yang kelak akan membuat hidupnya sengsara maka kemudian AZH melepaskan BTM. Untuk menegaskan hubungan mereka dan agar semua orang tau bahwa dia sudah tidak lagi memiliki tunangan, sehingga kelak apabila dia berhubungan dengan laki-laki lain tidak akan dipandang buruk oleh orang lain maka AZH menempuh jalur adat dalam menyelesaikannya. Hal ini juga didukung oleh keluarganya.
BAB V PEMBAHASAN
Berdasarkan fokus masalah dan juga hasil penelitian kemudian peneliti mengambil uraian hasil temuan penelitian secara rinci dengan menghubungkan pada kerangka pemikiran dan juga penelitian yang terdahulu. Peneliti menganalisis hasil temuan penelitian yang diperoleh dari hasil observasi nonpartisipan dan wawancara mendalam. Berikut pembahasan jenis konflik keluarga dan juga strategi lembaga adat dalam menyelesaikan konflik keluarga yang dialami oleh warganya:
5.1. Konflik Dalam Keluarga
Keluarga merupakan bagian dari masyarakat yang terdiri dari kelompok terkecil dalam masyarakat tersebut dan tinggal satu atap serta memiliki hubungan yang dekat.
Hal ini juga di ungkapkan oleh (Supartini, 2002:22) bahwasannya keluarga itu terdiri dari dua orang atau lebih yang memiliki hubungan darah, ikatan perkawinan, adopsi, hidup satu rumah, serta berinteraksi satu sama lain dengan perannya menciptakan dan mempertahankan suatu budaya. Didalam keluarga terdapat kehangatan, dukungan, dan juga konflik sehingga menjadikannya tempat dalam menghadapi berbagai situasi.
Memiliki hubungan yang sangat kuat dalam ikatan ini terkadang orang-orang yang berada didalamnya tidak bisa mengambil keputusan sendiri dalam hidupnya.
Keputusan itu bukan hanya keputusan yang diambil pada situasi yang sedang terjadi namun bahkan keputusan yang menyangkut masa depan yang akan dia jalani dalam waktu yang lama, juga harus mendapat persetujuan dari anggota keluarga yang lainnya. Permasalahan ini dapat kita jumpai pada kasus yang dialami oleh NJH yang
sangat ditentang oleh anaknya untuk menikah lagi. Walapun dia sudah menjadi janda yang ditinggal meninggal oleh suaminya. Padahal mengenai putusnya tali pernikahan juga telah diatur dalam undang-undang nomor 50 Tahun 2009 dan pasal 113 komplikasi hukum islam (Jamaluddin, dkk, 2017:251) yang tertulis bahwasannya perkawinan dapat putus diakibatkan oleh kematian, perceraian, dan juga atas putusan pengadilan. Walaupun secara hukum NJH ini berhak apabila ingin menikah lagi, namun diakibatkan oleh RZ yang merupakan anak kandungnya dan memiliki hubungan darah dengannya sangat menentang apabila dia ingin menikah lagi maka NJH mengalah dan mengikuti perkataan anaknya tersebut. NJH disini tidak bisa mengambil keputusan sendiri walaupun itu menyangkut kehidupannya kedepan karena dia memiliki keluarga sehingga pendapat dari anggota keluarganya yang lain sangat diperlukan dan apabila dia mengabaikan ini maka akan terjadi konflik antara dia dan anggota keluarga yang lain dan konflik ini juga telah terjadi namun dapat diselesaikan oleh lembaga adat.
Dalam keluarga terdapat fungsinya yaitu salah satunya seperti yang diungkapkan oleh kertamuda (2009:53) keluarga merupakan pemberi dukungan emosional seperti cinta, dan dukungan emosional lain yang dapat membuat mereka bahagia, sehat, dan juga aman. Sesuai fungsinya ini kita dapat jumpai dalam kasus putusnya pertunangan yang dialami oleh AD dengan AV serta yang dialami juga oleh AZH. Dalam hal ini masing-masing keluarga mencoba untuk melindungi anggota keluarganya yang lain seperti AD yang mana dia didukung oleh keluarganya untuk memutuskan AV diakibatkan oleh AV yang tidak bisa menjaga kata-katanya
sehingga mereka takut apabila nanti AD menikah dengan AV akan terjadi hal yang tidak mengenakkan dengan AD. Sedangkan pihak yang diputuskan ini seperti AV yang diputuskan oleh AD dan juga AZH yang diputuskan oleh BTM akan merasakan juga perasaan terluka seperti yang dialami oleh salah satu anggota keluarganya tersebut.
5.2. Manajemen Konflik Idividu Yang Terlibat Konflik
Managemen konflik sangat diperlukan oleh masing-masing individu yang hidup berdampingan dengan individu lainnya. Hal ini diakibatkan karena setiap individu tidak akan mungkin luput dari konflik karena tidak selamanya gagasan dan tujuan yang ingin digapai oleh individu yang satu dengan yang lainnya selalu dalam keadaan sama, pasti sekali-kali akan terlibat pertikaian. Manajemen konflik ini merupakan pendekatan yang berorientasi pada proses komunikasi pelaku maupun pihak luar. Ada beberapa managemen konflik yang digunakan oleh masing-masing individu seperti yang diungkapkan oleh Devito (2012:167) ada beberapa cara dalam mengelola konflik seperti 1). menghindar, 2). paksa dan bicara yang mana ketika dihadapkan pada konflik banyak individu yang memaksakan posisi mereka pada lawan bicaranya, 3). defensif dan memberi dukungan dengan cara melakukan gaya komunikasi untuk melindungi diri dari serangan yang bertujuan agar pihak lawan tidak dapat menang, dan 4). Menilai perbuatan orang lain yang mana orang tersebut cenderung menjadi marah dan membela diri bahkan mungkin pada situasi yang sama juga cenderung bersifat sama dengan menilai dan bahkan menghakimi balik.
Manajemen konflik yang digunakan oleh anggota keluarga di Alue Selaseh cenderung lebih sering menggunakan pengelolaan konflik dengan cara menghindar.
Hal ini dialami oleh PH, DS, dan juga HSN. Sedangkan pada kasus konflik antara anak dengan orang tua yang dirasakan oleh RZ dan NJH, dalam hal ini RZ menggunakan managemen konflik yang bersifat paksa dan berbicara yang mana disini RZ memaksakan posisi dan keinginannya pada NJH. Metode ini biasa digunakan oleh anak-anak namun ada juga beberapa orang dewasa yang menggunakan metode ini. Tidak sepatutnya orang yang sudah dewasa ini memaksakan gagasan dan tujuannya terhadap orang lain karena masing-masing orang memiliki gagasan dan tujuannya sendiri. Menejemen konflik yang dilakukan oleh individu yang memilih untuk memutuskan hubungan pertunangan yang merupakan proses menuju pernihakan juga menggunakan metode paksa dan bicara. Hal ini dapat kita lihat pada kasus BTM yang memaksa AZH untuk menjadi seperti yang dia inginkan. Hal yang sama juga terjadi pada kasus AD dan AV yang mana AV memaksakan posisinya pada AD dan bahkan dilakukan dengan berbicara secara kasar kepada AD.
5.3. Strategi Komunikasi Lembaga Adat Dalam Menyelesaikan Konflik
Konflik-konflik yang sudah dijelaskan diatas pada akhirnya diselesaikan oleh lembaga adat dikarenakan mereka tidak dapat menemukan kata damai. Pada awalnya mereka berada pada tujuan dan gagasannya masing-masing serta tidak ada yang mau mengalah. Dalam kasus penyelesaian konflik antara suami istri serta ibu dan anak pihak lembaga adat merupakan mediator. Seorang mediator tidak memilik wewenang
secara langsung untuk memberi keputusan dengan memberikan suatu perjanjian yang mengikat. Keputusan yang diberikan oleh lembaga adat dalam kasus ini tidaklah mengikat karena keputusan akhirnya akan diserahkan pada pihak yang berkonflik.
Ketika lembaga adat melakukan manajemen konflik dengan menggunakan metode evaluasi atau menilai permasalahan pihak yang berkonflik pada awalnya masing-masing pihak menggunakan metode manajemen konflik yang defensif yaitu dengan mempertahankan diri bahwa masing-masing pihak merasa dirinya benar. Selain mengevaluasi, lembaga adat juga menggunakan strategi menang-menang. Strategi menang-menang ini dengan menggunakan pengetahuan, sikap dan keterampilan menciptakan relasi serta interaksi yang membuat pihak-pihak yang terlibat merasa aman, dihargai, dan menciptakan suasana yang kondusif. Tatacara yang digunakan oleh lembaga adat dalam metode menang-menang yaitu dengan pemecahan masalah terpadu dalam upaya penyelesaian konflik secara mufakat serta memadukan kebutuhan kedua belah pihak.
Sebagai penengah pihak lembaga adat harus memperhatikan beberapa petunjuk berikut ini:
1. Pertama lembaga adat memastikan terlebih dahulu pihak yang berkonflik setuju untuk berkerja sama dengan lembaga adat.
2. Membantu orang-orang mengidentifikasikan konflik yang sebenarnya yang dilakukan oleh lembaga adat melalui komunikasi dengan masing-masing pihak tersebut yang dipanggil kerumah salah satu tokoh adat. Disini pada awalnya mereka tidak langsung di pertemukan mereka dipanggil satu persatu
untuk menemukan akar permasalahannya. Bahkan pada saat dipanggil satu pihak, pihak yang lainnya tidak mengetahuinya.
3. Memelihara netralitas
4. Pembicaraan yang dilakukan hanya seputaran masalah yang sedang terjadi bukan merembes kepada masalah pribadi mereka
5. Berusaha untuk menjamin waktu bicara yang sama. Seperti pada saat mereka dipanggil yang ketiga kalinya dan dipertemukan disitu, pihak lembaga adat memberi mereka waktu untuk berbicara. Ketika pihak yang satu sedang berbicara, maka pihak yang lain harus diam dan apabila dia menyanggah ketika pihak yang pertama itu berbicara maka pihak yang kedua akan diangga tidak menghargai tokoh adat yang ada disitu dan bisa dianggap bersalah.
6. Membuat uraian kata-kata agar memastikan kedua belah pihak memahami dan mendukung penyelesaian konflik ini.
Selain harus menguasai manajemen konflik yang efektif, lembaga adat juga harus mengiringi dengan kemampuan dalam menyusun strategi komunikasi terhadap kedua belah yang berkonflik. Strategi komunikasi merupakan perencanaan komunikasi dan manajemen komunikasi yang dilakukan agar mencapainya suatu tujuan yang diinginkan. Seperti yang diungkapkan oleh Effendy (2004:28) bahwasannya efektifitas kegiatan komunikasi ditentukan oleh strategi komunikasinya.
Apabila kita uraikan dari rumus Laswell mengenai efek yang diinginkan maka hal ini mengandung pertanyaan kapan, bagaimana, dan mengapa dilaksanakannya.
Mengenai kapan dilaksanakannya strategi komunikasi adalah pada saat melakukan
komunikasi dengan pihak yang berkonflik, serta dilakukannya sebagian besar menggunakan cara pendekatan dengan pihak yang berkonflik sehingga ditemukannya akar permasalahan yang ada, dan strategi ini dilakukan oleh lembaga adat adalah untuk menyelesaikan konflik keluarga yang dialami oleh warganya.
Ada beberapa model-model strategi komunikasi yang digunakan oleh lembaga adat. Dalam menyelesaikan konflik sebagian besar menggunakan model persuasif dan diiringi dengan model instruktif serta coersif.
5.3.1. teknik coersif
Coersif terjadi dalam bentuk paksaan yang dilatarbelakangi sanksi-sanksi akibat penerima pesan tidak mengikuti perintah komunikator. Memang pada beberapa kasus konflik keluarga tidak sepenuhnya terjadi pemaksaan karena lembaga adat merupakan mediator. Namun akan tetapi terkadang lembaga adat juga harus memberi sanksi kepada komunikan apabila mereka tidak mau menuruti tujuan daris komunikasi tersebut. hal ini dapat kita lihat pada kasus putusnya pertunangan. Tujuan pertunangan adalah untuk memberikan pesan bahwa pria ataupun wanita tersebut sudah ada yang memiliki dan akan meneruskan kejenjang pernikahan. Sehingga dalam hal ini masing-masing pihak harus menjaga komitmen tersebut dan apabila dilanggar maka akan dikenakan sanksi. Seperti apabila diakibatkan oleh salah satu pihak ingin memutuskan hubungan dan alasannya diakarenakan oleh perselingkuhan maka akan dikenakan sanksi bagi yang berselingkuh itu. Seperti kasus yang dialami oleh AZH dan BTM. Berikut kutipan ungkapan dari Keuchik mengenai hal ini:
‘’AZH baru-baru ini putus pertunangan. Saya sudah kesana untuk bertanya mengenai masalah ini kepada pihak laki-laki dan dia mengatakan betul tidak mau lagi. Maka kemudian hilang uang sebelah laki-laki sebanyak 10 juta.
Seperti yang saya katakana apabila laki-laki yang selingkuh maka akan hilang uangnya sedangkan apabila perempuan yang selingkuh maka harus membayar dua kali lipat’’.
Sedangkan kasus yang dialami oleh AV bukan disebabkan oleh permasalahan perselingkuhan. Masalah yang dialami oleh AV dan juga AD adalah permasalahan perbedaan pendapat dan juga tujuan dalam hubungan sehingga tidak terdapat sistem sanksi. Disini AV hanya dituntut untuk memulangkan uang yang sebelumnya diberikan oleh keluarga AD sebagai tanda. Pada kasus AZH lembaga adat berperan sebagai abritasi yaitu hakim dalam memberi keputusan sehingga ada perjanjian yang mengikat seperti sanksi yang harus dilaksanakan. Dalam konflik suami-istri model komunikasi koersif dirasakan samar-samar atau tidak terlalu jelas. Seperti yang diungkapkan oleh Geuchik:
‘’menurut perjanjian pada awalnya yang dilakukan bersama-sama mengenai apa yang diminta. Ada orang yang sudah sampai tiga kali melapor maka dikatakan langsung ‘’apabila seperti itu lagi kalian tidak boleh pulang lagi kesini maka kalian bercerai saja’’. Ini merupakan cara yang keras dan yang terakhir. itulah menurut perjanjian tadi, sama-sama berjanji. Tapi kalau kami buat perjanjian sendiri itu tidak boleh, harus ada kedua belah pihak. Misalnya ‘’kalian kalau terulang lagi kalian tidak boleh tinggal lagi dirumah itu’’. kita beri dia ancaman agar mau berubah’’.
Seperti ungkapan keuchik diatas ancaman-ancaman disertai sanksi yang dikatakan itu hanya sekedar pesan untuk menakut-nakuti pihak yang berkonflik.
Namun sebenarnya hal ini dilakukan agar mereka dapat berubah. Karena memang untuk kasus konflik antara suami dan istri tidak dapat diputuskan oleh lembaga adat karena pada dasarnya lembaga adat hanya berperan sebagai mediator. Pihak yang
berhak memutuskan tentang status hubungan suami istri hanyalah Mahkamah Agama.
Hal yang dilakukan oleh lembaga adat apabila ada suami istri yang tidak pernah berhenti berkonflik padahal sudah pernah diselesaikan konfliknya oleh lembaga adat adalah dengan membiarkannya saja. Namun sebagian besar konflik yang diselesaikan oleh lembaga adat di Alue Selaseh tidak berulang kembali.
5.3.2. Komunikasi Instruktif
Komunikasi intruktif adalah komunikasi yang didalamnya terdapat pengetahuan yang diberikan. Penyelesaian konflik yang digunakan oleh lembaga adat juga menggunakan model strategi instrukstif dengan memberi pengetahan mengenai perceraian. Seperti yang dikatakan oleh teungku imum perceraian itu memang dihalalkan tapi dibenci oleh Allah. Arahan yang lain juga diberikan oleh Teungku Imum mengenai permasalahan yang dialami oleh DS seperti berikut:
‘’Disaat suami mengatakan kepada istrinya agar pulang kerumah orang tuannya.
Hal demikian itu belum jatuh talak karena dilakukan untuk menjernikan fikiran dalam keadaan marah. Ibarat keadaan yang marah bisa kembali tenang dengan adanya jarak diantara mereka untuk saling berfikir’’.
Teungku imum memberikan pengetahuan mengenai permasalah konflik yang dialami oleh DS dan YL. Pada awalnya keluarga DS mengatakan bahwa YL dan DS masih bisa rujuk, sedangkan keluarga YL mengatakan bahwa mereka sudah tidak bisa lagi rujuk. Setelah teungku imum memberi pengetahuan dan menginstruksikan bahwa mereka masih bisa rujuk dan belum jatuh talak diantara DS dan YL baru kemudian mereka rujuk kembali.
5.3.3. Komunikasi Persuasif
Komunikasi persuasif adalah teknik penyampaian pesan dengan cara meyakinkan komunikan supaya bertindak sesuai dengan pemikiran komunikator.
Seperti yang diungkapkan oleh Uripin, dkk (2002:14) bahwa komunikasi persuasif merupakan metode komunikasi yang bersifat membujuk secara halus agar sasaran yakin. Inilah yang awalnya dilakukan oleh lembaga adat dalam menyelesaikan konflik keluarga. Mereka mencoba meyakinkan pihak berkonflik dengan berbicara lembut dan halus serta disertai dengan memberikan pandangan-pandangan tertentu mengenai apa yang benar dan salah untuk dilakukan lalu kemudian mereka mulai membujuk agar pihak ini mau untuk berdamai. Seperti kasus NM dan HSN yang diungkapkan oleh Erly:
‘’Kami berbicara secara persuasif, yang pertama dengan lemah lembut, tidak kasar. Jadi kita bayangkan bahasa yang sulit dulu ke dia. Bahasanya ‘’jangan lihat enaknya saja, coba lihat kebelakang yang susah, yang selama ini kalian bina keluarga kalian bukan kemarin saja tapi satu, lima, sampai sepuluh tahun yang kebelakang bagaimana. Kalian hidup mencari berdua tau-tau sudah begini, sudah punya uang begini kamu berselingkuh, ingat masa lalu’’. Jadi kalau sudah ingat masa lalu kemudian ingat keluarga, yang namun kita berbicara dengan dia tidak pernah berkata kasar’’.
Berdasarkan tiga faktor penting dalam komunikasi persuasi yang diungkpakan oleh Sears (Hutagalung 2015:75) dapat mengubah sikap komunikan yaitu:
1. Komunikator memiliki keahlian, dapat dipercaya, dan disukai oleh komunikan.
2. Kemampuan dalam membuat pesan didalamnya terdapat isi yang terkandung rasa cemas atau rasa takut yang dirasakan oleh penerima
pesan. Rasa cemas ini tidak boleh juga terlalu mengancam dan mengganggu. Strategi inilah yang dilakukan oleh lembaga adat seperti yang diungkapkan oleh Erli berikut ini:
‘’Ada satu keluarga yang kami buat kesal dengan memprosesnya dalam waktu yang lama. Misalnya, hari ini kami panggil lalu dua minggu kemudian kami panggil kembali. Sehingga dia jenuh dengan persoalan itu dan memilih untuk rujuk kembali. Proses yang kami perlama disebabkan
‘’Ada satu keluarga yang kami buat kesal dengan memprosesnya dalam waktu yang lama. Misalnya, hari ini kami panggil lalu dua minggu kemudian kami panggil kembali. Sehingga dia jenuh dengan persoalan itu dan memilih untuk rujuk kembali. Proses yang kami perlama disebabkan