Kepada Yth. Bapak Sebut Saja A
Tokoh masyarakat di sebuah desa di Kabupaten Mesuji, Lampung
Bapak Sebut Saja A yang baik,
Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri.Perkenalkan nama saya Rizani, saat ini bekerja di Yayasan MITRA BENTALA, Lampung.
Mungkin Bapak heran menerima surat saya ini, karena tentu Bapak tidak mengenal atau ingat saya.Rasanya baru sekali saya jumpa dengan Bapak dan pertemuan itu pun sangat singkat.Waktu itu saya juga tidak sempat memperkenalkan diri dan berbincang dengan Bapak. Pertemuan singkat tersebutterjadi di Kantor WALHI Lampung. Pada saat itu Bapak sedang serius sekali memperbincangkan dengan Direktur WALHI Lampung, Bapak Hendrawan, persoalan yang sedang Bapak dan warga alami.Masalah yang terbesar adalah karena Bapak akan dikriminalkan.Saya sangat miris mendengarnya, yaitu bahwa upaya warga masyarakat meminta hak-haknya atas tanah kelahirannya sendiri ternyata harus berhadapan dengan dengan persolan hukum dan dianggap sebagai pencurian.
Kini Bapak harus hidup dalam pelarian, tidak menyerah pada kriminalisasi yang sedang Bapak hadapi.
Bapak,
Masih teringat oleh saya kejadian yang sangat menghebohkan di tahun 2011, yaitu konflik antara masyarakat dengan perusahaan perkebunan terkait dengan sengketa lahan. Kejadian tersebut juga berlanjut dengan perkelahian yang sangat sadis antara warga Bapak dengan aparat keamanan perusahaan yang sampai menimbulkan korban jiwa. Kejadian tersebut sempat menjadi pemberitaan dan perbincangan yang sangat hangat, bukan saja di media lokal akan tetapi sampai ke media nasional.Salah satu stasiun TV swasta sempat menyiarkan kejadian tersebut.Kemudian ada hearing atau dengar pendapat dari perwakilan masyarakat dengan anggota DPR RI tentang asal mula kejadian yang sebenarnya.
Kejadian tersebut berawal dengan ketidakjelasan batas tanah warga Bapak dengan batas yang diklaim oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit.Ketidakjelasan dan kejadian saling klaim hasil dari perkebunan sawit tersebut sudah terjadi bertahun-tahun lamanya dan akan terus terjadi jika kita tidak mampu mendeteksi apa yang menjadi dasar penyebab kejadian tersebut.
Saya selaku orang luar melihat bahwa persolan tersebut muncul oleh karena hilangnya tanah-tanah warga Bapak yang selama ini menjadi sumber penghasil pendapatan untuk menyambung hidup. Banyak tanah warga masyarakat yang dijual kepada perusahaan perkebunan tersebut. Yang tergambar dalam pikiran kita pada umumnya dan warga Bapak pada khususnya tentunya adalah bahwa keberadaan suatu perusahaan akan meningkatkan kesejahteraan bagi kita yang berada di sekitar areal perusahaan.Juga bahwa akan ada banyak pemuda-pemudi yang bekerja yang berarti tingkat pengangguran akan semakin berkurang. Pemerintah akan mendapatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tinggi dari beroperasinya perusahaan, kemudian jalan–jalan di wilayah sekitar perusahaan akan semakin baik. Dan pada akhir ceritanya, selesailah masalah–masalah klasik kemiskinan. Kita akan semakin makmur, hidup tentram, damai di negeri tercinta ini.
Gambaran kesejahteraan dan kemakmuran yang akan didapat dengan industrialisasi sektor perkebunan tersebut tak lain adalah pandangan dan cara berpikir pemerintah daerah. Sektor perkebunan menjadi sumber penghasilan daerah dan visi utamanya adalah menggerakkan pembangunan dengan hasil yang didapat melalui pajak untuk pada akhirnya menopang kemakmuran bersama. Perluasan sektor perkebunan akan menjadi maksimal dengan dijadikannya lahan-lahan tidak produktif menjadi lahan perkebunan, lahan-lahan yang tidak bertuan dijadikan areal konsesi bagi perusahaan-perusahaan, dan bahkan kawasan register yang konon berfungsi sebagai wilayah lindung juga diberikan pengelolaannya kepada perusahaan-perusahaan.
Padahal, kalau kita mau berpikir secara objektif tentu akan menemukan bahwa di wilayah register banyak terdapat warga yang selama ini mendiami dan mengelola lahan.Akan tetapi kenyataannya mereka dianggap perambah dan semua aktivitas yang dilakukan dianggap ilegal. Kata-kata ilegal ini membuat kami miris mendengarnya.Hanya untuk bertahan hidup, kita akan dihadapkan kepada proses hukum dimana kalau kita tidak memiliki pengacara yang hebat, dalam 1 jam pemeriksaan saja kita akan langsung ditetapkan sebagai tersangka.
Itulah cerita–cerita singkat yang saya rangkum dari apa yang saya alami, lihat, dan dengar dari teman-teman aktivis lingkungan. Tentu banyak cerita lainnya yang Bapak alami sendiri secara langsung yang tidak mampu saya ceritakan di sini.
Sekedar pencerahan saja, saya akan bercerita kenapa pemerintah memberikan keleluasaan pengelolaan lahan untuk industri perkebunan besar. Salah satu teorinya adalah bahwa adanya perusahaan perkebunan berskala besar tentunya akan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi daerah kita, Lampung. Istilah laju pertumbuhan ekonomi di masyarakat kita adalah sebuah istilah yang baru atau masih asing, ekstrimnya orang kampung bilang bahasa dari luar, yang kadang kita sulit untuk memahaminya. Pertumbuhan ekonomi adalah proses perubahan kondisi perekonomian suatu daerah secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik
selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan daerah. Pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Jadi mungkin sekarang kita dapat sedikit pahami kenapa pemerintah daerah begitu berhasrat membuka seluas-luasnya, memberikan akses sebesar-besarnya, untuk perusahaan-perusahaan perkebunan skala besar. Di atas kertas nampaknya mudah sekali menghitung capaian pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ini.
Pak Sebut Saja A,
Menurut catatan yang saya dapatkan, pertumbuhan ekonomi Lampung dalam tiga tahun terakhir ini mengalami percepatan.Pada tahun 2012 laju pertumbuhan ekonomi mencapai 6.53%, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Di tahun 2012 itu pertumbuhan ekonomi Lampung lebih tinggi daripada laju pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 6,26%.Menurut catatan itu juga, laju pertumbuhan ekonomi Lampung meningkat terus dari tahun ke tahun.
GrafikpertumbuhanekonomiProvinsi Lampung
2011-2013
Penyumbang terbesar percepatan laju pertumbuhan ekonomi di lampung ini adalah sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, yaitu 35,90%, Perdagangan hotel dan restoran 15,85%, industri pengolahan 15,54% kemudian pengangkutan dan komunikasi 11,53%. Kemudian sektor jasa 9,10%, sektor listrik, gas, dan air bersih 0,55%.
Melihat dari data ini, nampaknya sektor perkebunan belum menjadi komponen penting dalam mendukung laju pertumbuhan ekonomi Lampung. Padahal banyak sekali perusahaan perkebunan besar yang ada di provinsi ini.
Padahal juga kita telah ketahui bahwa banyak sekali permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan dari keberadaan perusahan perkebunan, diantaranya yang terjadi di tiga desa (SriTanjung, Nipah Kuning, dan Kagungan Dalam). Dalam dokumen yang ada dan saya baca di WALHI Lampung tercatat bahwa salah satu perusahaan, PT BSMI, yang telah beroperasi selama 17 tahun ternyata masih menimbulkan permasalahan dengan sistem plasma yang pernah dijanjikan. Padahal lahan pencadangan yang disiapkan seluas 7.000 hektar dari 17.000 hektar area perkebunan yang dikuasai perusahaan tersebut. Belum lagi proses ganti rugi lahan yang kabarnya hanya setengahnya yang telah mendapat ganti rugi.
Ini sungguh ironis. Keberadaan perusahaan yang diharapkan memberikan dampak positif bagi laju pertumbuhan ekonomi dan Pendapatan Asli Daerah Lampung ternyata masih menyisahkan persoalan yang sangat sulit untuk diselesaikan dan bahkan sebab dan pelaku konflik yang sedemikian hebatnya dengan warga masyarakat, termasuk dengan Bapak sendiri dan rekan-rekan Bapak yang telah menjadi korban.
Pak Sebut Saja A,
Bapak tidak sendiri.Banyak masyarakat yang telah menjadi korban penangkapan akibat dari ‘pencurian’ sawit sebagaimana tuduhan perusahaan. Banyak sekali.Nampaknya ini pula salah satu yang menyebabkan semakin tingginya angka kriminalitas di Provinsi Lampung, yaitu 2.542 kasus di tahun 2013 menurut data BPS.
Selain semakin parahnya kriminalitas, ternyata provinsi kita juga tak pernah lepas dari ketertinggalan atau kemiskinan.Saya memperoleh data dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) yang menunjukkan bahwa di Lampung masih ada empat kabupaten dalam dampingan KPDT, artinya termasuk dalam kategori daerah tertinggal. Dalam hal ini memang Lampung tidak sendiri.Di seluruh Pulau Sumatera masih terdapat 46 kabupaten tertinggal dampingan KPDT. Empat di antaranya adalah di Lampung, yakni Lampung Barat, Lampung Utara, Way Kanan, dan Pesawaran.1
Masih berkaitan dengan ketertinggalan adalah informasi tentang kemiskinan.Statistik kemiskinan September 2013 menyebutkan