• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Kongregasi Suster Fransiskan santa Lusia (KSFL)

1. Sejarah berdirinya Kongregasi Suster Fransiskan santa Lusia. Kongregasi Suster Fransiskan St. Lusia (KSFL) hadir di Indonesia setelah peziarahan yang panjang dan bervariasi. Kongregasi ini pada awlnya dimulai oleh tiga orang gadis dari Lewen Belgia bersama seorang gadis dari Breda 1826. Dengan perantaraan suster dari Dongen, mereka mengambil alih satu rumah sakit kecil yang terletak di Haagweg. Lima tahun kemudian (1830) mereka mengucapkan kaulnya di tangan Mgr. Van Hooydonk, administrator kepausan di daerah itu. Pada saat itu terbentuklah Kongregasi”Gasthuiszuster” atau rumah penginapan atau ”Kongregasi Semuanya Untuk Semua”. Pada tahun 1838 mereka membuka rumah di Bergen op Zoom, 1845 di Oosterhout kemudia di Roterdam tahun 1847.

Munculnya Kongregasi Roterdam diawali oleh adanya permohonan dari Pater Yohanes Van Lies Hout OFM kepada suster di Breda, kiranya mereka bersedia berkarya di parokinya untuk merawat orang sakit, orang miskin dan panti asuhan yang sudah diasuh oleh satu keluiarga. Permohonan ini ditanggapi positif oleh Pimpinan Kongregasi di Breda. Tanggal 29 November 1841 tiba kelompok yang pertama yaitu Sr. Lusia dierekx dari Meersel-Belgia, Sr. Dominika Van Weert dari Bergen

Op Zoom dan Sr. Benedikta Van Gastel dari Etten. Mereka tinggal dalam rumah biasa dimana sejumlah laki-laki dan perempuan dirawat dan diasuh. Pastor paroki melihat bahwa pendidikan TK, SD, Sekolah Menjahit dan Perawatan Orang tua (jompo) sangat dibutuhkan diparokinya. Melihat

situasi ini rektor Lonink didukung oleh Pater Van der Beek mencari jalan keluar agar suster dari Breda memisahkan diri dan membentuk kongregasi baru di Roterdam. Pada tanggal 4 April 1847 para suster Roterdam menulis surat pernyataan kepada pimpinan kongregasi di Breda banwa mereka akan memisahkan diri dari biara induk Breda dan membentuk kongregasi baru dibawah pimpinan Muder Lusia Dierkx. Maka tanggal 15 Oktober 1847 ditetapkan hari berdirinya kongregasi dengan nama resmi Kongregasi Peniten Rekolektin Ordo ke III Religius dari St. Fransiskus

yang berpusat di Sint Lusia Gesticht di Roterdam. Biasa disingkat dengan nama ”Kongregasi dari Rotterdam atau Kongregasi St. Lusia”.

Siapakah Muder Lusia Dierkx? Muder Lusia Dierkx lahir 19 Juni 1821 di Meersel-Belgia, masuk biara di Breda 16 Januari 1838, menerima jubah biara 9 Mei 1838 dan profesi 30 Juli 1840. pribadinya tidak lengkap bola tidak disebut bagaimana beliau memadukan pengertiannya tentang jiwa manusia dan rasa hormatnya terhadap setiap pribadi para susternya. Hal ini diaplikasikanya dalam berkomunikasi yang empatik dan inilah kekhasan Muder Lusia dalam membina para susternya.

Kongregasi semakin berkembang baik dalam jumlah anggota maupun dalan karya. Karena biara pusat di Coolsingel tidak cukup besar

untuk para calon dan keramaian kota terus bertambah maka diusahakan mencari mencari lokasi baru untuk novisiat. Akhirnya dibeli Biara Suster hati Kudus dari Perancis Bennebroek. Tanggal satu Agustus 1919 novisiat pindah ke Bennebroek dan tanggal 1 Mei 1920 Biara St. Lusia diberkati dan diresmikan sebagai pusat Biara Suster Fransiskan St. Lusia. Sejak saat itu disebut ” Suster Fransiskanes Dari Bennebroek atau suster-suster dari Santa Lusia.”. Indonesia menantikan kehadiran suster dari Bennebroek. Pada tahun 1924 Uskup Haarlem memberi izin untuk mengembangkan sayap ke Indonesia. Tanggal 3 Oktober 1925 enam suster tiba di Sawahlunto, Sumatera Barat, Kongregasi di Indonesia mulai menerima calaon sejak tahun 1953.

Sesudah Konsili Vatikan II, panggilan hidup membiara di negara Belanda semakin berkurang bahkan 30 tahun terakhir tidak ada lagi yang berminat masuk biara. Jumlah anggota kongregasi semakin surut jumlahnya, akhirnya setelah dipelajari dan dibicarakan berulang kali secara terbuka, maka disepakati lebih baik kongregasi di Indonesia berdiri sendiri. Hal ini disampaikan ke Kongregasi suci di Roma dengan segala alasan disertai rekomendasi dari para Bapa Uskup dimana Kongregasi hadir dan berkarya. Maka, ditetapkan di Roma pada tanggal 21 Februari 1995 Kongregasi Suster Fransiskan St. Lusia (KSFL) adalah kongregasi baru dan mandiri dengan status ” keuskupan”. Biara induk berdomisili di

2. Spiritualitas dan Kharisma Kongregasi Suster Fransiskan santa Lusia

a. Spiritualitas Kongregasi Suster Fransiskan santa Lusia

Kata spiritualitas berasal dari kata spiritus yang berarti ”Roh”. Kata spiritualitas berarti orang yang digerakkan oleh Roh yaitu Roh Kudus. Spiritualitas adalah sikap hidup, semangat juang atau yang menjadi dasar/pedoman. ”Setiap kongregasi atau ordo mempunyai penghayatan spiritualitas yang khas yang membedakannya dengan spiritualitas kongregasiyang lain” (Jacobs, 1989:3).

Spiritualitas KSFL adalah kesederhanaan dan persaudaraan dengan pertobatan yang terus (Konstitusi KSFL, 1999). Kesederhanaan yang dimaksud disini bukan hanya segi lahiriah yang kelihatan seperti pakaian, akan tetapi terlebih dari segi rohani (batiniah). Suster Lusia adalah teladan

hidup sederhana. Kesederhanaannya dihadapan Tuhan ditunjukkan lewat teladan hidupnya untuk menghormati keunikan setiap susternya. Kemampuan mendengarkan yang dimilikinya mampu memikat semua anggota komunitasnya dan orang-orang yang dilayaninya. Ia berhati mulia, iklas penuh cinta dan hangat bagi sesamanyaserta menjadikan dirinya segalanya bagi semua orang (Konstitusi KSFL, 1999).

b. Kharisma Kongregasi Suster Fransiskan santa Lusia

Karisma adalah karunia Roh Kudus yang Luar biasa yang diberikan kepada orang beriman supaya melayani umat ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991). Jacobs (1980:25) menyatakan bahwa” Hidup

religius adalah salah satu dari Kharisma Roh atau Kharisma dalam Gereja”. Kharisma ini juga disebut panggilan, yakni dorongan Roh Kudus untuk menghayati Injil dalam hidup. Kharisma bagi hidup religius adalah kesadaran bahwa iman akan Yesus, karya keselamatan-Nya terlaksana dalam hidup, wafat dan kebangkitan-Nya merupakan nilai khusus dalam hidup religius. Kharisma ini biasanya berasal dari kharisma khusus pendirinya.

Pendiri Kongregasi Suster Fransiskan St. Lusia menghayati dan mewujudkan dalam hidupnya cara dan gaya hidup Kristus yang mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba, merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib ( Konstitusi KSFL, 1999: art.4). kharisma yang ada dalam diri pendiri kongregasi tercermin dari tindakannya yang tak kenal lelah menyerahkan diri untuk semua orang, sikap rendah hati dihadapan Tuhan dan sesama, siap sedia melayani tanpa pandang bulu, berkomunikasi yang empati dengan orang lain.

Kongregasi Suster Fransiskan St. Lusia berusaha menghidupi kharisma pendiri yaitu Yesus yang mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba sampai wafat di salib.

3. Visi dan Misi Kongregasi Suster Fransiskan santa Lusia a. Visi

Visi adalah kemampuan untuk melihat pada inti persoalan atau pandangan yang menyeluruh tentang suatu kesatuan yang mendesak dan perlu segera ditanggapi ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991)

Visi KSFL adalah siap sedia mewartakan Kerajaan Allah demi keselamatan manusia. Pendiri kongregasi (Suster Lusia), dengan pengosongan diri dan dalam semangat kerendahan hati, kesederhanaan dan persaudaraan mewujudkan kerajaan Allah melalui pelayanan kasih kepada semua orang yang membutuhkan pertolongan (Konstitusi KSFL, 1999: art. 5).

Kitap Hukum Kanonik (1991: art 675) menyatakan bahwa:

Dalam tarekat-tarekat yang diarahkan untuk karya-karya kerasulan, kegiatan kerasulan itu sendiri termasuk dalam hakekat mereka. Karena itu, seluruh hidup para anggota hendaknya diresapi dengan semangat kerasulan, dan seluruh kegiatan kerasulan mereka diilhami oleh semangat religius, kegiatan kerasulan hendaknya selalu mengalir dari kesatuannya yang mesra dengan Allah, dan memperteguh serta menunjang kesatuan itu; kegiatan kerasulan yang dilaksanakan dalam persatuan dengan-Nya.

Kongregasi Fransiskan St. Lusia dalam melaksanakan kerasulannya selalu didasarkan pada semangat pendiri dan teladan hidup St. Fransiskus Asisi, sebagai perpanjangan tangan gereja mewartakan kerajaan Allah.

b. Misi

Misi adalah kegiatan menyebarkan kegiatan Kabar Gembira (Injil) dan mendirikan jemaat-jemaat setempat, yang dilakukan atas dasar pengutusan sebagai kelanjutan misi Kristus ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991).

Misi KSFL adalah saudara bagi semua orang yang dijumpai, dalam hal ini saudara tidak dibatasai oleh suku, agama, daerah dan negara melainkan setiap manusia dimana pun berada. Pengabdian suster sebagai

kongregasi demi Kerajaan Allah, di dalam dan di luar tanah air terwujud dalam keterlibatan menangani masalah-masalah kehidupan baik di dalam gereja maupun ditengah masyarakat setiap zaman (Konstitusi KSFL, 1999: art.6).

Sebagai wujud kongkrit dari misi tersebut, KSFL memberi perhatian besar pada karya pelayanan di bidang pendidikan/pembinaan kaum muda, pemeliharaan dan perawatan orang sakit, lanjut usia, orang lemah dan menderita, karya sosial dan pastoral. Dalam melaksanakan hal ini, pergaulan dan pengabdian selalu terarah untuk menciptakan damai dan persatuan diantara umat manusia.

4. Suster-suster KSFL a. Suster Yunior

Suster yunior adalah suster yang sudah mengucapkan kaul sementara akan tetapi belum mengucapkan kaul kekal. Suster yunior sering disebut dengan suster muda. Dalam konstitusi KSFL (1999: art.32) dijelaskan bahwa masa yunior adalah masa pengembangan, pendalaman tentang cara hidup kongregasi dan pematangan hidup lebih lanjut serta persiapan intensif untuk pilihan status hidup tetap bagi cara hidup yang terwujud dengan pengikraran kaul kekal. Pada masa yunior, seorang suster harus berupaya membina diri agar semakin menjadi pribadi religius yang matang dan dewasa lagi tangguh sesuai dengan spiritualitas dan kharisma kongregasi sehingga mampu melaksanaka tugas perutusannya dengan penuh dedikasi.

Masa kaul sementara yang diucapkan oleh suster yunior pada dasarnya tidak lebih singkat dari tiga tahun atau lebih lama dari enam tahun. Tetapi apabila ada alasan khusus dan masuk akal masa kaul itu dapat diperpanjang, asalkan seluruh waktu kaul sementara tidak lebih dari sembilan tahun (KHK.Kan. 655). Misalnya seorang suster yunior mengajukan permohonan untuk berkaul kekal, tetapi pihak kongregasi menunda permohonannya karena dianggap kurang matang dalam emosi dan hidup rohani atau dari pihak suster yunior sendiri belum siap secara batin untuk berkaul kekal, maka kongregasi memberi kesempatan kepada yunior yang bersangkutan untuk memperpanjang masa kaul sementaranya. Menurut Prasetyo, (2001) tujuan khusus masa yunior adalah pendampingan para suster yunior untuk lebih terlibat dalam perutusan gereja dan bersama-sama mendukung perutusan kongregasi yang mendasarkan semangatnya pada inti jiwa kongregasi. Ini berarti, menguji lewat kenyataan hidup konkrit, apakah sudah mulai berada dalam identitas kongregasi yang nampak dalam satu budi, satu hati, satu cita rasa, satu kehendak dan satu keprihatinan tarekat dan mencintai tarekat dalam segala suka dukanya.

b. Suster Medior

Suster medior adalah suster yang sudah berkaul kekal. Dengan kaul seumur hidup, seorang suster bergabung secara defenitif dalam kongregasi. Dengan berkaul kekal, seorang anggota memperoleh hak dan

kewajiban yang sama dan menanggung segala kewajiban sesuai dengan ketentuan hukum Gereja dan Konstitusi Kongregasi (KHK, Kan. 654)

Suster yang sudah berkaul kekal disebut juga suster yang berada pada tahap bina lanjut atau on going formation, artinya pembinaan

terus-menerus. Bina lanjut menekankan pada usaha untuk terus-menerus membaharui diri sesuai dengan tuntutan zaman dan tuntutan spiritualitas, dengan konsekuensi tidak mau mandek dalam pembaruan terus-menerus memperkembangkan kemampuan dan keterampilan dalam membatinkan nilai-nilai religius dan mewujudkan cita-cita tarekat, kemudian terus berusaha memberi bentuk kesaksian hidup bakti dalam gereja dan masyarakat sesuai dengan tempat dan kemampuannya (Prasetyo, 2001).

Dokumen terkait