DALAM ISLAM
C. Pandangan Islam tentang Al- Qur’an dan Konsep Pewahyuannya
2. Konsep al- Qur’an sebagai Sebuah Dokumen Tertulis (as Scripture)
Kata “al-Qur’a>n” adalah istilah Arab yang memiliki pengertian hafalan atau bacaan. Dalam bahasa Arab, term ini berasal dari akar kata (qa – ra – ˋa) yang juga merupakan kalimat pertama yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad, yaitu “iqraˋ” yang bermakna “bacalah”. Dalam konteks ini, peran
Muhammad sebagai seorang Nabi dan Rasul utusan Allah resmi dimulai saat Nabi diperintahkan oleh Allah untuk membaca. Walaupun al-Qur’an menggunakan berbagai istilah sebagai sebutan yang merujuk pada dirinya sendiri, namun secara umum istilah al-Qur’an adalah yang paling populer untuk menyebut nama kitab suci ini. Nama-nama lain yang juga dipakai untuk menamai dirinya sendiri antara lain “al-tanzi>l”, “al-dhikr”, “al-furqa>n”, “al-huda>”, “al-baya>n” dan “al-kita>b”. Selain itu, ia juga kadang menyematkan sifat-sifat mulia kepada dirinya, seperti “qur’a>n maji>d”, “qur’a>n mubi>n”, “kita>b mus}addiq”, “muba>rak”, “nu>r”, “shifa>ˋ”,
dan lain sebagainya.
Di dalam al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menunjukkan bahwa selama proses pewahyuan al-Qur’an kepada Nabi (era pra-kanonisasi), al-Qur’an telah menyebut dirinya sebagai sebuah kitab (teks atau naskah) walaupun fakta sejarah menyebutkan bahwa ia baru dikodifikasi menjadi sebuah dokumen yang utuh pasca wafatnya Nabi. Contohnya adalah, “Dan Allah telah menurunkan Kitab (al-Qur’an) dan Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui.”140 Dalam ayat lain disebutkan, “Sungguh, telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab (al-Qur’an) yang di dalamnya terdapat
peringatan bagimu. Maka apakah kamu tidak mengerti.”141 Faktanya, al-Qur’an menggunakan istilah al-kita>b untuk menyebut dirinya sendiri lebih dari 70 kali dalam al-Qur’an. Hal ini merupakan indikasi kuat bahwa konsep al-Qur’an sebagai sebuah teks (kitab) telah mapan dalam diri al-Qur’an jauh sebelum meninggalnya Rasulullah SAW. Namun begitu, seluruh pakar sejarah Muslim mengakui bahwa kitab suci ini baru sempurna proses pengumpulannya menjadi sebuah dokumen tunggal pada masa khalifah ‘Ushma>n ibn ‘Affa>n (m.656).142 Mereka juga sepakat bahwa sosok pertama yang memprakarsai pengumpulan al-Qur’an adalah khalifah pertama Islam, yaitu Abu> Bakr al-Siddi>q (m.624) atas usulan dari ‘Umar ibn al-Khat}t}a>b (m.644).143
a. Al-Qur’an sebagai Wahyu yang Terucap sekaligus Kitab yang Tertulis
Dalam banyak tempat, al-Qur’an sering menggambarkan sifat dirinya sebagai sebuah wahyu yang terucap (spoken word). Contohnya adalah sebuah ayat yang menyebutkan, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Dhikr (al-Qur’an), dan sesunggunya Kami benar-benar memeliharanya. Juga ayat lain yang menyatakan bahwa al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad agar dengan itu beliau dapat memberi peringatan kepada umatnya, juga kepada siapa saja yang al-Qur’an tersebut telah sampai kepadanya. Namun, dalam ayat-ayat lain disebutkan pula bahwa al-Qur’an merupakan sebuah kitab atau sesuatu yang tertulis (written word). Sebagai contoh, wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi SAW telah mengasosiasikan al-Qur’an sebagai “pena”. “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena.” Ketika
141al-Qur’an, 21: 10.
142Muhammad Mustafa al-Aʿzami, Sejarah Teks, 88.
menunjuk makna wahyu, al-Qur’an juga sering menggunakan berbagai istilah yang memiliki konotasi sebagai sebuah wahyu yang tertulis, misalnya term “kita>b”, “s}uh}uf”, dan “alwa>h}”. Dalam banyak kesempatan, al-Qur’an juga menggunakan istilah kita>b Alla>h atau kita>b saja untuk merujuk pada wahyu-wahyu yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul sebelum Muhammad. Istilah “ahl al-kita>b” juga sering dipakai oleh al-Qur’an sebagai sebutan untuk umat terdahulu yang mengimani wahyu-wahyu ini, seperti umat Yahudi dan Kristen. Berdasarkan apa-apa yang telah al-Qur’an sematkan untuk dirinya sendiri ini, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa walaupun sebelum meninggalnya Nabi, al-Qur’an sudah menyebut dirinya sendiri sebagai wahyu tertulis walaupun ia baru dibukukan menjadi sebuah dokumen tunggal (mus}h}af) beberapa tahun pasca meninggalnya beliau.
b. Struktur dan Susunan Kitab Suci al-Qur’an
Kitab suci al-Qur’an terdiri dari 114 surah dengan panjang yang bervariasi. Di dalam setiap surahnya terdapat sejumlah ayat yang juga memiliki panjang yang beraneka ragam. Dalam mushaf Usmani edisi standar Mesir, yang menjadi panutan sebagian besar umat Muslim dunia dewasa ini, ayat al-Qur’an seluruhnya berjumlah 6236 ayat. Beberapa ayat tersebut terbentuk dari sejumlah kalimat, sedangkan yang lain hanya terdiri dari sebuah frase yang pendek, atau bahkan dalam ayat-ayat tertentu hanya terdiri dari sebuah kata tunggal saja. Contohnya, “al-rah}ma>n” (Yang Maha Pengasih) yang merupakan ayat pertama dari surah ke-55 yang juga dijadikan sebagai nama untuk surah ini. Dalam bahasa Arab, kata-kata “rah}ma>n” dihitung satu kata. Di sisi lain, ayat 282 dari surah
al-Baqarah (sapi betina) terlihat jauh lebih panjang dari beberapa surah-surah pendek yang terdapat dalam al-Qur’an. Salah satu ayat terpanjang dalam al-Qur’an ini membahas tentang etika dalam melakukan transaksi hutang-piutang, juga perintah Allah untuk menulis transaksi tersebut serta menghadirkan dua orang saksi yang dapat dipercaya.
Ke-114 surah di atas pada masa awal Islam telah diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama, yaitu: Pertama, al-t}iwa>l, tujuh surah terpanjang, mulai dari surah kedua sampai surah kesembilan; Kedua, al-miʿu>n, surah-surah yang terdiri
dari seratus ayat atau lebih, mulai dari surah 10 sampai surah 35; Ketiga,
al-matha>ni>, surah-surah yang kurang dari seratus ayat, mulai dari surah 36 sampai
surah 49; dan Keempat, al-mufas}s}al, surah-surah pendek, mulai dari surah 50 sampai surah terakhir. Pada tahap berikutnya, diperkenalkan pembagian al-Qur’an ke dalam 30 bagian atau juz yang hampir sama. pembagian 30 juz ini biasanya diberi tanda dipinggiran salinan kitab suci al-Qur’an. Bagian yang lebih kecil lagi adalah h}izb yang membagi juz tersebut menjadi dua bagian. Jadi setiap juz dalam al-Qur’an terdiri dari dua h}izb. Bagian yang lebih kecil dari h}izb adalah perempat
h}izb (rub’u al-h}izb), yang juga sering diberi tanda di pinggiran al-Qur’an.
pembagian lainnya adalah ruku’, sejumlah 554 untuk keseluruhan isi al-Qur’an.
Panjang-pendeknya ruku’ ini tidak seragam dalam al-Qur’an. Surah panjang
biasanya terdiri dari beberapa ruku’, sedangkan surah pendek berisi hanya satu ruku’. Keseluruhan pembagian ini, yang diberi tanda tertentu di pinggiran teks
al-Qur’an bukanlah merupakan bagian orisinal dari wahyu namun lebih sebagai alat bantu bagi para pembaca.144
Kecuali surah pertama, yaitu surah al-Fa>tih}ah (pembuka), al-Qur’an secara umum tersusun sesuai dengan panjang surah-surahnya. Surah pertama dalam al-Qur’an tersebut isi kandungannya berbentuk doa di mana ia terdiri dari tujuh buah ayat yang cukup panjang. Surah al-Fa>tih}ah adalah surah yang selalu dibaca oleh umat Muslim ketika sedang melaksanakan ibadah salat, baik salat wajib maupun salat sunah. Selain membaca surah al-Fa>tih}ah ini, setiap umat Muslim yang melaksanakan salat juga diharapkan untuk membaca ayat-ayat lain yang terdapat dalam al-Qur’an. Terkait isi kandungannya, tidak semua surah dalam al-Qur’an berbentuk doa. Beberapa dari mereka berisi kisah-kisah yang mengandung hikmah, sejarah tentang umat atau nabi-nabi terdahulu, kode etik dan moral kehidupan, hukum pidana dan perdata, serta penjelasan seputar surga dan neraka. Seluruh dari ayat-ayat tersebut dapat dibaca dalam salat.
Dimulai dari surah kedua, yaitu surah al-Baqarah, di mana ia merupakan surah terpanjang dalam al-Qur’an yang terdiri dari 286 ayat, surah-surah yang tersusun selanjutnya secara berangsur-angsur menjadi semakin pendek. Adapun surah yang paling pendek yang terdapat dalam al-Qur’an adalah surah al-‘As}r (103), surah al-Kawthar (108), dan surah al-Nas}r (110), di mana masing-masing dari surah tersebut terdiri dari tiga ayat saja. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad memberi instruksi kepada para penulis tentang letak ayat pada setiap surah. Uthma>n ibn Abi> al-‘As} menjelaskan bahwa baik wahyu itu
mencakup ayat yang panjang maupun satu ayat terpisah, Nabi Muhammad selalu memanggil penulisnya dan berkata, “Letakkan ayat-ayat tersebut ke dalam surah seperti yang beliau sebut.” Zayd ibn Tha>bit menegaskan, “Kami akan kumpulkan al-Qur’an di depan Nabi Muhammad.” Menurut ‘Uthma>n, malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad dan memberi perintah akan penempatan ayat tertentu.145 Sebagai contoh, ‘Uthma>n ibn Abi> al-‘As} melaporkan bahwa saat sedang duduk bersama Nabi Muhammad, tiba-tiba beliau memalingkan pandangan pada satu titik dan kemudian berkata, Malaikat Jibril datang menemuiku dan meminta agar menempatkan ayat (Inna Alla>h yaˋmuru bi al-‘adl wa al-ih}sa>n) sampai (laʿallakum tadhakkaru>n) pada bagian surat tertentu.146
Contoh lainnya, Ubay ibn Kaʿb menjelaskan, “Kadang-kadang saat permulaan suatu surah diwahyukan pada Nabi Muhammad, kemudian saya menuliskannya, dan wahyu yang lain turun pada beliau SAW lalu berkata, “Ubay! Tulislah ayat ini dalam surah yang menyebut ini dan itu.” Dalam kesempatan lain, wahyu diturunkan pada beliau dan saya menunggu perintah yang hendak diberikan sehingga beliau memberi tahu tempat yang sesuai dari suatu ayat.”147
Setiap surah dalam al-Qur’an selalu memiliki nama yang sangat pendek. Dalam banyak tempat malah hanya terdiri dari satu kata saja. Ulama Muslim secara umum meyakini bahwa penamaan ini ditentukan langsung oleh Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi. dalam banyak kasus, nama surah selalu terkait erat dengan isu, kejadian, atau nama-nama tokoh yang terdapat atau disebutkan
145Muhammad Mustafa al-Aʿzami, Sejarah Teks, 68.
146al-Qur’an, 16: 90.
dalam surah. Al-Baqarah misalnya, nama ini merujuk pada sebuah kisah yang terdapat dalam surah tersebut di mana Nabi Musa memerintahkan kaum Bani Israil untuk menyembelih seekor sapi betina atas instruksi langsung dari Allah.148
Walaupun ayat yang mengisahkan tentang sapi betina ini tidak lebih dari tujuh ayat saja, namun karena signifikansinya, istilah “al-Baqarah” dijadikan sebagai nama untuk surah ini.
Di tempat lainnya, nama surah kadang ditemukan sangat sederhana berupa susunan huruf yang tampak mencolok yang terdapat di dalam surah tersebut, biasanya merupakan huruf yang pertama. Huruf tersebut sangat mungkin sekali tidak berkaitan dengan pembahasan atau isu tertentu. Misalnya, nama untuk surah ke-37, surah “Ya>-Si>n”. Nama ini merupakan gabungan dari dua huruf Arab yaitu huruf ya> dan huruf si>n yang mana ia juga merupakan ayat permulaan dalam surah. Dalam al-Qur’an sendiri terdapat beberapa surah yang diawali dengan kombinasi huruf-huruf tertentu yang biasa disebut dengan “ah}ruf
al-muqat}t}aʿah”. Sementara sebutan yang lazim digunakan oleh sarjana Barat ketika
merujuk huruf-huruf ini adalah “huruf-huruf misterius”.149 Para ulama Muslim telah berupaya sepanjang sejarah Islam untuk menyelami rahasia makna huruf-huruf misterius tersebut, dan penafsiran yang berkembang di kalangan sarjana Muslim era awal dapat dikemukakan secara ringkas ke dalam tiga sudut pandang utama. Pandangan pertama memandang bahwa huruf-huruf tersebut masuk ke dalam kategori ayat-ayat mutasya>biha>t yang maknanya hanya diketahui Allah.
148Lihat, al-Qur’an, 2: 67-73.
149 W. Montgomery Watt, Pengantar Studi al-Qur’an: Penyempurnaan atas Karya Bell, terj. Taufik Adnan Amal (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1995), 96.
Pandangan kedua memandang bahwa huruf-huruf itu sebagai singkatan untuk kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu. Pandangan ketiga melihat bahwa huruf-huruf tersebut bukan merupakan singkatan untuk kata-kata atau kalimat tertentu, melainkan adalah semacam simbol yang mengandung sejumlah kemungkinan penafsiran yang sangat bervariasi.150
Di dalam al-Qur’an terdapat 29 surah yang kesemuanya dimulai dengan kombinasi huruf-huruf alfabet Arab (al-ah}ruf al-muqat}t}a’ah). Dalam bahasa Arab sendiri, huruf-huruf tersebut memang tidak memiliki makna yang spesifik, sehingga pemaknaannya tidak dapat dipastikan. Huruf-huruf tersebut, jika dihitung secara tidak berulang adalah:
Kombinasi Huruf Terletak pada surah ke-Alif - La>m - Mi>m
Alif - La>m - Ra>’
Alif - La>m - Mi>m - S}a>d Alif - La>m - Mi>m - Ra>’ Ka>f - Ha>’ - Ya>’ - ‘Ay>n - S}a>d T}a>’ - Ha>’
T}a>’ - Si>n - Mi>m T}a>’ - Si>n Ya> - Si>n S}a>d H}a>’ - Mi>m
H}a>’ - Mi>m - ‘Ay>n - Si>n - Qa>f Qa>f Nu>n 2; 3; 29; 30; 31; dan 32 10; 11; 12; 14; dan 15 7 13 19 20 26 dan 28 27 36 38 40; 41; 43; 44; 45 dan 46 42 50 68
Panjangnya ayat dalam al-Qur’an, sebagaimana juga panjangnya surah, sangat beragam. Dalam beberapa surah yang pada umumnya merupakan surah panjang, ayat-ayatnya juga panjang dan menggugah. Sedangkan pada surah-surah pendek yang terletak pada bagian akhir dari al-Qur’an, ayat-ayatnya pun pendek dan padat mengena. Walaupun dalam generalisasi ini masih terdapat beberapa pengecualian, namun secara keseluruhan ia tetap relevan, khususnya bila ayat-ayat tersebut pendek.151
c. Pengumpulan al-Qur’an sebagai sebuah Dokumen Tunggal dalam Islam
Muslim mempercayai bahwa selama era pewahyuan al-Qur’an mulai 610 sampai dengan 632, Rasulullah selalu menginstruksikan kepada para pengikutnya untuk menghafalkan wahyu tersebut sekaligus menulisnya. Meskipun begitu, kala itu belum menjadi kebutuhan yang mendesak untuk menyusun al-Qur’an menjadi sebuah dokumen tunggal. Masyarakat Arab saat itu terkenal dengan tradisi oralnya yang sangat kuat. Mereka biasa bersandar pada tradisi hafalan dan cerita turun temurun dalam melestarikan teks-teks kebudayaan yang dianggap sangat penting, seperti puisi. Al-Qur’an sendiri walaupun bukan merupakan kitab puisi, namun ia memiliki beberapa elemen puitis yang sangat indah serta diakui secara luas sebagai sebuah teks dengan kualitas literasi yang sangat tinggi. Tradisi Muslim juga meyakini bahwa literatur al-Qur’an inilah yang pada awal kemunculannya menjadi daya tarik yang luar biasa yang berhasil memikat banyak orang untuk memeluk agama Islam selama masa kenabian Muhammad.152
151W. Montgomery Watt, Pengantar Studi al-Qur’an, 95-96.
Masih sejalan dengan tradisi oral ini, Rasulullah bersama para sahabatnya sering membacakan sebagian dari wahyu al-Qur’an ini baik di depan umum maupun secara pribadi selama kurun waktu 22 tahun masa kenabian beliau. Sejak tahun 620, ketika ibadah salat lima waktu mulai diwajibkan terhadap seluruh umat Muslim, ayat-ayat al-Qur’an juga dijadikan sebagai bagian tak terpisahkan dari ritual ibadah salat yang harus dilantunkan secara teratur di dalamnya. Demikian pula, selama masa pewahyuan al-Qur’an, semua wahyu yang telah diterima oleh Nabi sampai awal bulan Ramadan setiap tahunnya juga akan dibacakan sepanjang bulan tersebut dalam rangka ibadah sekaligus membantu menguatkan hafalan dari para sahabat.153
Walaupun al-Qur’an belum dibukukan menjadi sebuah dokumen tunggal selama masa kenabian Muhammad, namun dalam tradisi Muslim diyakini bahwa sesungguhnya sebagian besar, untuk tidak menyebut semuanya, dari wahyu tersebut telah dituliskan di atas berbagai bahan yang berbeda-beda sewaktu meninggalnya Nabi pada 632. Diyakini pula bahwa sebelum meninggalnya, Rasulullah telah meninggalkan instruksi serta arahan yang sangat jelas dan tuntas tentang bagaimana seharusnya al-Qur’an tersebut semestinya disusun. Instruksi kenabian inilah yang selanjutnya menjadi basis acuan dari susunan al-Qur’an yang ada saat ini.154
Sebuah riwayat yang sangat terkenal dalam tradisi Islam menyebutkan bahwa gerakan pengumpulan al-Qur’an sendiri dimulai pada masa kekhalifahan Abu> Bakr (632-634). Disebutkan, ‘Umar ibn Khat}t}a>b merasa khawatir karena
153Ibid., 18.
dalam pertempuran Yamamah banyak penghafal al-Qur’an yang turut meninggal dunia. Jika angka kematian ini terus bertambah, beberapa bagian dari al-Qur’an ditakutkan akan musnah. Karena itu, Umar meminta kepada Abu Bakar untuk membuat suatu edisi kumpulan dari kitab al-Qur’an. walaupun awalnya agak ragu karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi, Abu Bakar akhirnya menyetujui usulan tersebut dan menugaskan Zayd ibn Tha>bit (m.665), salah seorang penulis wahyu era Nabi untuk memulai tugas besar tersebut. Zayd pun mulai mengumpulkan al-Qur’an dari lembaran-lembaran lontar, lempengan batu, daun palem, tulang belikat dan rusuk binatang, lembaran-lembaran kulit, serta lembaran papan, demikian pula yang bersumber dari ingatan para sahabatnya. Bagian terakhir yang ditemukannya adalah dua ayat terakhir dari surah at-Taubah. Zayd menuliskan wahyu-wahyu yang telah dikumpulkannya tersebut di atas lembaran-lembaran (s}uh}uf) yang memiliki ukuran sama kemudian menyerahkannya kepada Abu> Bakr. Setelah Abu> Bakr meninggal, s}uh}uf tersebut diberikan kepada khalifah ‘Umar ibn Khat}t}a>b (634-644), yang kemudian berpindah lagi ke tangan putrinya, Hafsah, setelah Umar wafat.155
Sementara sumber-sumber keislaman menunjukkan bahwa teks-teks al-Qur’an telah dikumpulkan bersama dalam bentuk lembaran-lembaran (s}uh}uf) selama masa kekhalifahan Abu> Bakr, khalifah ketiga, ‘Ushma>n ibn ‘Affa>n (644-656) melihat kebutuhan yang sangat mendesak bagi umat Islam untuk membuat sebuah teks standar al-Qur’an yang dapat disebarluaskan ke berbagai penjuru wilayah Islam. Kebutuhan akan standarisasi teks al-Qur’an ini berangkat dari
banyaknya perselisihan tentang bacaan al-Qur’an di kalangan tentara-tentara Muslim selama pengiriman ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan. Perselisihan yang cukup serius ini menyebabkan salah seorang pimpinan tentara Muslim melaporkannya kepada khalifah Usman bin Affan dan mendesaknya agar mengambil langkah guna mengakhiri perbedaan-perbedaan bacaan tersebut. Khalifah lalu berembuk dengan para sahabat senior Nabi, dan akhirnya menugaskan Zayd ibn Tha>bit dan beberapa sahabat lainnya untuk mengumpulkan sebuah edisi teks al-Qur’an standar yang otoritatif. Satu prinsip yang harus diikuti dalam menjalankan tugas ini adalah bahwa dalam kasus perselisihan bacaan, dialek Quraisy harus dijadikan sebagai pilihan. Hal ini didasarkan pada firman Allah, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka.”156 Dengan ini, suatu naskah otoritatif al-Qur’an yang biasa dikenal dengan mus}h}af ‘uthma>ni> akhirnya telah ditetapkan. Sejumlah salinannya juga dibuat dan dibagikan ke pusat-pusat daerah Islam. Adapun salinan-salinan al-Qur’an yang ada sebelumnya (yakni sebelum adanya edisi Usmani) turut dimusnahkan, sehingga teks seluruh salinan al-Qur’an yang akan dibuat di masa-masa selanjutnya harus didasarkan pada naskah-naskah standar tersebut. Pada masa selepas Usman, al-Qur’an mulai dikenal tidak hanya dalam bentuk tradisi lisan saja sebagaimana yang ada pada era kenabian, tetapi juga sebagai sebuah dokumen tertulis yang telah final (clossed
official corpus) dan tidak menerima berbagai tambahan atau revisi apapun.157
156al-Qur’an, 14: 4.
Terkait masalah pergeseran pemahaman umat Muslim dalam memaknai istilah al-Qur’an dalam konteks era kenabian dan al-Qur’an sebagai sebuah dokumen terstandarisasi yang muncul pada era al-Khulafa>’ al-Ra>syidu>n, seorang sarjana Barat pakar studi Timur Tengah, William Graham menyebutkan:
Sudah jelas sekali bahwa umat Muslim pada era belakangan memahami terminologi “al-Qur’an” sebagai istilah yang digunakan untuk merujuk pada sekumpulan firman Allah yang tertulis di atas mas}a>h}if yang sempurna penyusunannya pada era kekhalifahan Usman bin Affan, atau paling tidak pasca berakhirnya masa pewahyuan yang ditandai dengan wafatnya Rasulullah. Artinya sebelum era kodifikasi al-Qur’an yang juga dikenal sebagai textus receptus tersebut, atau setidaknya sebelumnya berakhirnya proses pewahyuan al-Qur’an, terminologi al-Qur’an tidak dapat dimaknai sebagai kumpulan lengkap dari wahyu dalam bentuk sebuah dokumen tertulis. Penegasan ini untuk menekankan kesalahan dalam memahami terminologi “al-Qur’an” yang banyak sekali dialami