• Tidak ada hasil yang ditemukan

Posisi Angelika Neuwirth terhadap Kelompok Revisionis abad Modern

TAWARAN METODOLOGIS KESARJANAAN BARAT KONTEMPORER DALAM STUDI AL- QUR’AN

A. Pembacaan al- Qur’an Pra-Kanonikal Angelika Neuwirth

2. Posisi Angelika Neuwirth terhadap Kelompok Revisionis abad Modern

Kesarjanaan al-Qur’an di Barat pada beberapa dekade terakhir menurut Angelika Neuwirth secara umum masih lebih memfokuskan titik kajiannya hanya pada teks al-Qur’an pasca kodifikasi (mus}h}af) dalam bentuknya yang ada sekarang daripada melakukan upaya-upaya eksplorasi terhadap aspek oralitas al-Qur’an, yakni al-Qur’an dalam kapasitasnya sebagai suatu rangkaian pesan-pesan kenabian yang disampaikan oleh Nabi kepada para pengikutnya, di mana salah satu tujuan utama dari komunikasi tersebut adalah untuk membentuk sebuah komunitas masyarakat baru di bawah bimbingan ajaran-ajaran kenabian. Konsep al-Qur’an sebagai sebuah media komunikasi kenabian ini menurut Neuwirth tidak akan dapat difahami secara komprehensif kecuali setelah dilakukan reposisi

al-22Angelika Neuwirth, “Two Faces of the Qur’an: Qur’a>n and Mus}h}af ”, Oral Tradition, Volume 25, Nomor 1 (2010), 142.

Qur’an berbasis surah yang sesuai dengan urutan-urutan kronologi pewahyuannya (h}asb tarti>b nuzu>lih).23

Pemilihan textus receptus sebagai bahan atau fokus kajian ini disebabkan oleh dorongan serta ambisi yang besar dari kesarjanaan Barat untuk dapat mengungkap ur-text al-Qur’an dengan pendekatan filologi-historis. Sebagai sebuah ilustrasi, John Wansbrough dalam karyanya, Qur’anic Studies (terbit pada

1977) secara sangat radikal mencoba merefisi sekaligus mendefinikan ulang hubungan antara al-Qur’an dan tradisi sejarah kenabian (si>rah nabawiyyah) yang telah mendarah daging dalam keyakinan umat Islam. Padahal tradisi tersebut telah menjadi rujukan bagi mayoritas umat Islam untuk mengetahui berbagai narasi sejarah tentang asal-usul serta proses pewahyuan al-Qur’an dan seputar dakwah kenabian. Wansbrough menunjukkan skeptisisme yang sangat radikal terhadap keduanya dengan menolak seluruh data faktual kesajarahan yang ada dalam tradisi Islam, dan bahkan mengundurkan peristiwa penulisan al-Qur’an selama dua ratus tahun setelah meninggalnya Nabi. Dengan menggunakan metode biblical

criticism, Wansbrough mengklaim bahwa dalam proses pembentukan al-Qur’an

terdapat campur tangan dari tradisi-tradisi sebelumnya, dalam artian al-Qur’an telah menjiplak tradisi serta motif keagamaan yang ada dalam ajaran Bibel. Dengan kata lain, Wansbrough telah menolak otentisitas serta historisitas al-Qur’an, baik dari sisi proses kanonisasi dan kualitas tekstualitasnya maupun dari

sisi kapasitas al-Qur’an sebagai salah satu rujukan utama tradisi si>rah dalam Islam.24

Dengan adanya upaya menyematkan sebuah model kronologi sekaligus letak geografis yang benar-benar berbeda terhadap al-Qur’an (dalam bentuk tuduhan bahwa al-Qur’an baru sempurna penyusunannya pada abad ke-8 dan ia berasal dari suatu tempat di luar Jazirah Arab), Wansbrough secara otomatis telah menganggap al-Qur’an sebagai sebuah produk teks yang disusun oleh sekelompok pengarang yang tidak diketahui identitasnya yang berasal dari suatu tempat di luar jazirah Arab yang juga tidak diketahui pasti di mana berada. Hal ini menurut Angelika Neuwirth telah mengecilkan hati para pengkaji al-Qur’an yang mencoba melakukan upaya akademis dalam menganalisa susunan struktur mikro teks dalam al-Qur’an. Dengan semangat yang tidak jauh berbeda, Patricia Crone dan Michael Cook dengan karya mereka yang juga tidak kalah kontroversial, Hagarism: The

Making of Islamic World mencoba mendukung pemikiran revisionis Wansbrough

terhadap gambaran tradisional era awal Islam dan juga terhadap al-Qur’an.25 Dengan menyandarkan studi mereka pada sumber-sumber non-Arab, hal yang paling ironis dari dua buah karya revisionis-skeptis ini adalah mereka dalam praktiknya tidak hanya meniadakan eksistensi dari narasi-narasi kesejarahan Islam yang berasal dari sumber-sumber Arab, namun juga telah meniadakan objek

24Untuk penjelasan lebih jauh terkait corak serta arah pemikiran John Wansbrough, lihat Andrew Rippin, “Analisis Sastra terhadap al-Qur’an, Tafsir, dan Sirah: Metodologi John Wansbrough”, dalam Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama, ed. Richard C. Martin, terj. Zakiyuddin Bhaidawy (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2002), 201-222.

25Hubungan antara dua karya ini sangat erat. Keduanya sering disebut secara bersamaan dalam oleh para sarjana al-Qur’an ketika merujuk pada corak pemikiran revisionis-skeptis era modern. Disebutkan dalam pengantar bahwa pengarang buku ini mendapatkan banyak manfaat dari John Wansbrough dengan saling bertukar pendapat. Lihat Patricia Crone & Michael Cook, Hagarism: The Making of the Islamic World (Cambridge: Cambridge of University Press, 1977), viii.

utama dari fokus kajian mereka yaitu al-Qur’an sendiri. SebelumQur’anic Studies

dan Hagarism, sudah ada kajian serupa yang berspekulasi bahwa sumber-sumber tradisi Kristiani diyakini telah dijadikan sebagai bahan baku utama dalam penyusunan teks al-Qur’an, di antaranya adalah Günter Lüling (1974). Ia berpandangan bahwa asal-usul al-Qur’an diambil dari kumpulan nyanyian dan pujian yang terdapat dalam tradisi Kristen sebelum akhirnya diadaptasi oleh Muhammad untuk menyusun ajaran-ajarannya.26 Jejak Lüling ini kemudian diikuti oleh penerusnya, yaitu Christoph Luxenberg. Dengan memanfaatkan kajian filologis, Lexenberg mencoba mendekonstruksi otentisitas dari mus}h}af

‘uthma>ni>. Dalam karyanya yang dalam versi Inggrisnya bertajuk Syro-Aramaic

Reading of the Koran (terbit 2000), ia mengklaim bahwa bahasa orisinil yang

sebenarnya dari al-Qur’an bukanlah bahasa Arab, melainkan bahasa Syriak-Aramaik.27Sehingga menurutnya seseorang tidak akan bisa memahami al-Qur’an dengan benar kecuali apabila ia menguasai bahasa Syro-Aramaik ini.28 Dengan menggunakan sudut pandang ini pula – tanpa terlebih dahulu melakukan kajian analisis struktur mikro – Luxenberg dengan sangat gegabah mencoba

26 Dalam membuktikan hipotesanya ini, Lüling mencoba melakukan analisa terhadap surah al-‘Alaq. Lihat Gabriel Said Reynolds, “Introduction: Qur’anic Studies and Its Controversies”, dalam The Qur’an in Its Historical Context, ed. Gabriel Said Reynolds (London & New York: Routledge, 2008), 10-11.

27 Bahasa Syriak, disebut juga dengan bahasa Suryani atau Nabatean, seringkali diartikan juga sebagai bahasa Aramaik, adalah sebuah bahasa kuno yang terdokumentasikan dengan baik, yang pernah menjadi bahasa pergaulan di seluruh wilayah Bulan Sabit Subur. Bukti kuat bahwa bahasa ini merupakan bahasa tulis adalah terjemahan Alkitab yang berasal dari abad ke-2 M. Untuk pertama kalinya orang Yunani menamakan bahasa Aram yang digunakan dalam penerjemahan Alkitab ini sebagai "Bahasa Suryani". Orang-orang Kristen kemudian mengambil alih penamaan oleh orang Yunani ini bagi bahasa yang dituturkannya. Lihat Sebastian P. Brock, An Introduction to Syriac Studies (Piscataway: Gorgias Press, 2006).

28Christoph Luxenberg (psedonym), The Syro-Aramaic Reading of the Koran: A Contribution to the Decoding of the Language of the Koran (Berlin: Schiler, 2007), 23-25.

menghasilkan sebuah teks al-Qur’an versi baru yang lebih jelas dan otentik (producing a clearer text of the Qur’an).29

Berangkat dari fenomena ini, Angelika Neuwirth berpandangan bahwa sebelum kita melangkah lebih jauh pada isu-isu detail seputar al-Qur’an, hal pertama yang harus disepakati terlebih dahulu adalah tentang isu orisinalitas al-Qur’an ini sendiri. Pada era kontemporer saat ini, kajian al-al-Qur’an harus sudah menemukan spirit baru yang lebih dialogis dan akademis ketimbang skeptis, apologetis, dan polemis seperti yang jelas tergambar dari kajian para sarjana revisionis tersebut. Pertanyaan tentang otentisitas dan historisitas al-Qur’an sudah bukan masanya lagi untuk dipertanyakan. Maka, sumber-sumber tradisional Islam yang membicarakan tentang sejarah kehadiran kitab al-Qur’an, bahwa ia benar-benar merupakan teks yang genuine yang disampaikan Nabi kepada para pengikutnya selama aktivitas dakwah beliau di Mekah (sekitar 620-622) dan kemudian di Madinah (dari 622 sampai beliau meninggal) harus sudah dapat diterima oleh para orientalis pengkaji al-Qur’an di Barat dengan sepenuhnya.30

Walaupun konsensus yang terbentuk dalam studi Qur’an bahwa al-Qur’an merupakan kitab suci yang asli dan genuine telah diserang habis-habisan kelompok revisionis-skeptis abad modern, namun secara umum kajian yang biasa disebut skeptik atau revisionis yang menolak secara radikal seluruh

sumber-29Angelika Neuwirth, “Structure and, 140.

30 Angelika Neuwirth, “Structural, Linguistic and Literary Features”, dalam The Cambridge Companion to The Qur’an, ed. Jane Dammen McAuliffe (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 100.

sumber sejarah Islam tradisional ini terbukti telah gagal dan tidak terpakai lagi.31 Penemuan baru berupa kepingan manuskrip al-Qur’an di beberapa tempat menurut Neuwirth juga harus diposisikan sebagai faktor penegas tentang orisinalitas Qur’an yang dapat semakin mengkonfirmasi keotentisitasan al-Qur’an dalam ruang lingkup kajian akademis, dan bukan malah dijadikan amunisi untuk menghantam eksistensi dari kitab suci umat Islam ini. Selain itu, kajian kontroversial yang digagas oleh para sarjana revisionis abad modern tersebut juga telah terbukti tidak memberikan konstribusi positif sama sekali terhadap studi al-Qur’an selain hanya hal-hal yang bersifat kontroversi, polemik, dan menimbulkan arus penolakan serta kritik yang besar dari para sarjana, baik Muslim maupun non-Muslim.

Dalam kacamata Neuwirth, kegagalan yang dialami oleh sarjana revisionis di atas, termasuk di dalamnya Christoph Luxenberg dan Günter Lüling disebabkan oleh miskinnya basis metodologi yang mereka gunakan. Selain karena miskinnya basis metodologi, menurut Neuwirth argumen kebahasaan yang dikemukakan oleh kelima sarjana revisionis di atas tampak sangat eksklusif, selektif dan kaku dalam memandang serta mendekati teks al-Qur’an. Akibatnya, ketika ditemukan suatu kosakata, istilah, ataupun unsur-unsur yang menurut mereka tidak ‘genuine’ dari al-Qur’an maka dengan gegabah mereka akan langsung menyimpulkannya sebagai bentuk tiruan, penjiplakan, atau bahkan curian dari teks-teks lainnya. Di sini tampak jelas bahwa pendekatan literary

analysis (filologi) yang terlalu ketat terhadap al-Qur’an yang mereka terapkan

31Angelika Neuwirth mengatakan, “As a whole, however, the theories of the so-called sceptic or revisionist scholars who, arguing historically, make a radical break with the transmitted picture of Islamic origins, have by now been discarded.” Angelika Neuwirth, “Structural, Linguistic, 100.

sangat tidak sesuai dengan karakteristik al-Qur’an yang sangat dinamis, cair, serta isinya yang komprehensif.32

Memang sejak isu pelacakan “ur-text al-Qur’an” yang dimotori oleh Lüling dan beberapa orientalis generasi sebelumnya dijadikan semacam kelaziman dalam setiap kajian historis-kritis al-Qur’an, metode penelusuran sisi oralitas al-Qur’an tampak masih distandarkan kepada kriteria-kriteria pendekatan tekstualitas yang tentu saja tidak ada relevansi sama sekali dengan aspek keverbalan tersebut. Dalam konteks ini, kesarjanaan kontemporer melihat bahwa pelacakan genetika asal-usul al-Qur’an semacam itu akan jauh lebih baik apabila mulai digeser kepada aspek historis lainnya, yaitu usaha pelacakan konteks sosial dan historis al-Qur’an yang melingkupi proses pewahyuannya. Hal ini penting sekali mengingat fokus studi ini belum tereksplorasi secara maksimal. Artinya, kajian al-Qur’an yang dilakukan oleh kelompok revisionis abad modern dianggap belum mampu menyentuh unsur-unsur yang lebih fundamental, semisal tentang struktur kebahasaan al-Qur’an, isu keistimewaan karakteristik literasi al-Qur’an, serta eksplorasi seputar aspek-aspek oralitas dalam tuturannya. Selain itu, mereka juga masih melewatkan kajian seputar konteks sosio-historis yang melatari proses pewahyuan al-Qur’an, yang oleh bahasa Neuwirth biasa diistilahkan dengan studi

pre-canonical reading of the Qur’an.33 Poin inilah yang kemudian menjadi titik tolak Neuwirth dalam rangkaian kajian al-Qur’an yang ia lakukan.

32 Muzayyin, “Kesarjanaan Revisionis dalam Studi al-Qur’an: Upaya Merekonstruksi Sumber Awal Kemunculan Teks al-Qur’an”, Esensia, Vol. 16, No. 2 (Oktober 2015), 210-211.

33Lihat Gabriel Said Reynolds, “Introduction: The Golden Age of Qur’anic Studies?”, dalam New Perspectives on the Qur’an: The Qur’an in Its Historical Context 2, ed. Gabriel Said Reynolds (London & New York: Routledge, 2011), 5.

Sebagai tindak lanjut dari keseriusan Angelika Neuwirth dalam menjawab tantangan di atas, sekaligus sebagai upaya nyata dalam memberikan sumbangsih yang berarti bagi diskursus kajian al-Qur’an, maka Neuwirth mendirikan sebuah proyek penelitian al-Qur’an yang ia sebut sebagai Corpus Coranicum. Proyek

Corpus Coranicum ini sengaja dibentuk dengan tujuan utamanya untuk

melahirkan pemahaman kontekstual terhadap al-Qur’an yang lebih baik bagi masyarakat Barat. Dengan proyek ini, Neuwirth mencoba mengajukan pendekatan baru yang komprehensif dalam mengkaji al-Qur’an. Untuk mendukung posisi ini, Neuwirth dan beberapa pakar Qur’anic studies lainnya, seperti Nicolai Sinai dan

Michael Marx, melakukan beberapa penelitian dan menerbitkan artikel-artikel seputar studi al-Qur’an di berbagai jurnal dan antologi internasional.34 Memang dalam praktiknya, para sarjana Barat tersebut menggunakan pendekatan yang mirip seperti yang telah diterapkan oleh Abraham Geiger sebelumnya, namun paradigma yang digunakan sangat jauh berbeda. Tidak seperti generasi sebelumnya, Neuwirth memandang al-Quran sebagai ‘teks polifonik’ dan bukan

memesis (tiruan) dari kitab lain. Tren penelitian semacam ini bisa dianggap

sebagai tren baru dalam studi al-Qur’an.35Proyek ini sendiri terdiri atas beberapa kerja utama, antar lain:

34 Salah satu karya paling penting yang menggambarkan corak dan pendekatan keilmuan dari proyek kerja kesarjanaan ini adalah antologi The Qur’an in Context. Lihat Angelika Neuwirth, Nicolai Sinai, dan Michael Marx (ed.), The Qur’an in Context: Historical and Literary Investigations into the Qur’anic Milieu (Leiden: Brill, 2010).

35 Lien Iffah Naf’atu Fina, “Survey Awal Studi Perbandingan al-Qur’an dan Bibel dalam Kesarjanaan Barat: Sebuah Perjalanan Menuju Intertekstualitas”, Suhuf, Vol. 8, No. 1 (Juni 2015), 137.

Pertama, para sarjana yang tergabung dalam tim ini membuat

dokumentasi tentang manuskrip-manuskrip al-Qur’an awal berikut variasi qira>'at. Namun, pendokumentasian ini tidak bertujuan untuk membuat teks edisi kritis al-Qur’an. Dalam hal manuskrip al-Qur’an, mereka membuat data bank tentang lokasi, penanggalan, dan aspek-aspek paleografis dari setiap manuskrip. Saat ini, bank data terdiri atas 250 entri dan setiap entri memiliki sejumlah foto manuskrip. Jumlah foto yang telah digitalisasi dalam beberapa komputer saat ini sekitar 3.500 buah. Adapun dalam bank data tentang variasi bacaan al-Qur’an, seseorang dapat menemukan semua cara baca (qira>'a>t) al-Qur’an, baik yang dianggap sebagai

qira>'at mutawa>tirah (diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi), qira>'at masyhu>rah

(diriwayatkan oleh relatif banyak perawi), maupun qira>'at sya>dzah (yang tidak termasuk keduanya).

Kedua, mereka melakukan penelitian dan kajian serta membuat bank data

terkait dengan apa yang mereka sebut dengan Texte aus der Welt des Quran (teks-teks di sekitar al-Qur’an). Dalam hal ini, para outsider Barat tersebut berupaya mencari kemiripan teks al-Qur’an dengan teks-teks lain pada masa turunnya wahyu al-Qur’an. Kajian semacam ini dikenal dengan istilah “intertekstualitas” antara ayat-ayat al-Qur’an dan teks-teks dari tradisi pra-Islam, seperti Alkitab, teks Yahudi pasca-Biblikal, dan puisi Arab klasik. Intertekstualitas ini, menurut Angelika Neuwirth merupakan fondasi yang sangat berarti bagi upaya rekonstruksi teks-teks yang ada di sekitar al-Qur’an. Namun berbeda dari orientalis-orientalis lain pada abad ke-19 yang berpandangan bahwa al-Qur’an adalah imitasi/tiruan dari teks-teks pra-Islam, para sarjana ini telah melakukan

riset seobjektif mungkin dan mereka sampai pada kesimpulan bahwa al-Qur’an bukan merupakan kitab hasil imitasi dari beberapa teks lain dari tradisi pra-Islam. Mereka menegaskan, bahwa kitab suci al-Qur’an meskipun dalam beberapa kasus memiliki paralelitas dan kemiripan dengan teks-teks lainnya, tetapi pada hakikatnya ia merupakan teks independen yang memiliki karakteristik sendiri dan dinamikanya sendiri, baik dari segi bahasa maupun konten. Ketiga, mereka telah dan sedang memproduksi apa yang mereka sebut dengan “Der historisch-kritische

literaturwissenschaftliche Kommentar des Quran” (Interpretasi historis-kritis dan

sastrawi terhadap al-Qur’an) dalam rangka menghasilkan interpretasi dengan pendekatan historis-kritis dan pendekatan sastra terhadap al-Qur’an. Struktur interpretasi ini terdiri atas beberapa elemen, di mana salah satunya adalah studi al-Qur’an seputar urutan kronologis turunnya wahyu.36