TAWARAN METODOLOGIS KESARJANAAN BARAT KONTEMPORER DALAM STUDI AL- QUR’AN
A. Pembacaan al- Qur’an Pra-Kanonikal Angelika Neuwirth
3. Konsep Oralitas dan Skriptualitas dalam al- Qur’an
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kegagalan dalam mengkaji al-Qur’an yang dialami oleh para orientalis generasi sebelumnya disebabkan karena kurang mengindahkan aspek oralitas dalam al-Qur’an. Hal ini menjadikan fokus kajian mereka menjadi dangkal, yaitu hanya berkutat pada pelacakan urtext al-Qur’an dan pertanyaan-pertanyaan skeptis lainnya tentang isu-isu genetika serta orisinalitas teks al-Qur’an. Oleh karena itu, pada periode kontemporer ini beberapa sarjana Barat mengkritik kelalaian para orientalis dalam menelusuri dimensi-dimensi oral al-Qur’an. Dalam hal ini, Neuwirth menegaskan bahwa
36Zayad Abd. Rahman, “Angelika Neuwirth: Kajian Intertekstualitas dalam QS. Al-Rahman dan Mazmur 136”, Empirisma, Vol. 24, No. 1 (Januari 2015), 118-119.
aspek yang paling genuine dari al-Qur’an sesungguhnya terletak pada aspek oralitasnya. Inilah jati diri al-Qur’an yang paling prinsipil.37
Untuk dapat menangkap esensi dari orality of the Qur’an ini,
pertama-tama yang harus dilakukan adalah penegasan kembali tentang perbedaan yang jelas antara konsep al-Qur’an dan konsep al-kita>b. Neuwirth menekankan bahwa antara istilah “al-Qur’a>n” dan “al-kita>b” tetap menggambarkan dua buah konsepsi yang berbeda. Istilah “al-Qur’a>n” merujuk pada sebuah gambaran dari suatu peristiwa yang sedang berlangsung pada komunitas umat beriman yang melibatkan sejumlah ‘pelaku drama’ di dalamnya. Dalam konteks ini, terdapat seorang penutur sedang menyampaikan pesan-pesan ketuhanan yang diterimanya dari “Yang Tak Terlihat” yang telah menugaskannya untuk membacakan pesan ketuhanan tersebut kepada segenap audiens atau pendengar. Di sini, yang menjadi penekanan adalah adanya aspek interaksi horizontal yang terbentuk antara Nabi sebagai sosok pembaca wahyu di satu sisi, dan bangsa Arab sebagai audiens di sisi lain. Proses interaksi tersebut tentu sangat dinamis, cair, dan tidak lepas dari konteks sosio-historis yang melingkupinya.38 Gambaran ini yang kemudian disebut Neuwirth sebagai aspek “pre-canonical Qur’an”.
Apabila diilustrasikan dalam sebuah gambar, corak interaksi horizontal yang terjadi kurang lebih akan tampak sebagai berikut:
37 Mustansir Mur, “Language”, dalam The Blackwell Companion to the Qur’an, ed. Andrew Rippin (USA & UK: Blackwell Publishing, 2006), 93.
Sedangkan pada konsep kedua yaitu “al-kita>b”, istilah ini lebih terfokus pada sebuah kesan transenden yang sangat hierarkis, yang mengisyaratkan suatu hubungan vertikal antara sosok Zat pemilik wahyu yang tidak terlihat dan para pembacanya. Tentang perbedaan antara kedua konsep ini, Nicolai Sinai membuat perumpamaan konsep “al-kita>b” ini sebagai sebuah sarana penyimpan kenikmatan surgawi (a heavenly medium of storage), sedangkan “al-Qur’a>n” ia ibaratkan sebagai sarana pertunjukan dinamika duniawi (an earthly medium of display).39 Konsep kedua ini dapat diilustrasikan sebagai berikut:
39Ibid., 102-103.
Zat Pemilik Wahyu
Nabi sebagai penyampai atau pembaca wahyu yang
beliau terima dari “Zat yang Tak Terlihat”
“ INTERAKSI HORIZONTAL” KONSEP KOMUNIKASI “AL-QUR’AN ”
INTERAKSI VERTIKAL
Umat manusia sebagai pembaca pesan atau readers
KONSEP KOMUNIKASI “AL-KITA>B ”
Bangsa Arab sebagai audiens
Aspek hubungan vertikal yang hierarkis antara unsur ketuhanan sebagai pemilik wahyu dan Nabi sebagi pembaca atau penyampai wahyu pada tahap-tahap awal dakwah kenabian memang tampak belum diekspos secara tegas oleh al-Qur’an. Pada era awal kenabian, yang menjadi pertunjukan utama masih terfokus pada sisi komunikasi horizontal antara Nabi dan pengikutnya, di mana al-Qur’an menjadi medium utamanya. Hubungan yang terpisah antara kedua ‘terminal wahyu tersebut’ baru mengemuka dengan tegas ketika Nabi mulai memasuki tahun-tahun terakhir dari masa dakwah beliau, yaitu ketika konsep “al-kita>b” sudah semakin mengkristal menuju pemaknaan finalnya.
Dari paparan di atas dapat ditangkap bahwa istilah “al-kita>b” yang terdapat dalam al-Qur’an memang mengalami proses perkembangan dalam hal pemaknaan. Dimulai pada tahap Mekah awal, term “al-kita>b” masih belum diidentikkan sebagai sebuah istilah yang bermakna pesan-pesan genuine al-Qur’an secara total, akan tapi ia hanya merujuk pada beberapa narasi khusus dalam al-Qur’an yang memiliki kaitan dengan tradisi-tradisi Yahudi dan Kristen. Sebagai contoh, dalam surah al-Isra’ (Makkiyah) disebutkan:
ٰاَو
ﻰَﺳْﻮُﻣ ﺎَﻨْـﻴَـﺗ
ٰﺘِﻜْﻟا
َﺐ
ٰﻨْﻠَﻌَﺟَو
ًﻼْﻴِﻛَو ْ ِﱐْوُد ْﻦِﻣ اْوُﺬِﺨﱠﺘَـﺗ ﱠﻻَأ َﻞْﻴِﺋاَﺮْﺳِإ ِْﲏَﺒِﻟ ىًﺪُﻫ ُﻪ
)
٢
(
Dan Kami berikan kepada Musa, al-Kitab (Taurat) dan Kami jadikannya sebagai petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), “Janganlah kamu mengambil pelindung selain aku”.40
Dengan berjalannya usia dakwah kenabian, istilah “al-kita>b” ini kemudian semakin berkembang menuju kemandiriannya. Saat ia memasuki era akhir Mekah dan dilanjutkan dengan era Madinah, term ini mulai dipakai untuk merujuk
kepada pesan-pesan al-Qur’an secara murni dan menyeluruh (al-Qur’an secara
genuine) walaupun dalam konteks ini yang dimaksudkan masih berupa al-Qur’an
pada pra-kodifikasi. Pertumbuhan makna tersebut terus berlanjut, sampai akhirnya istilah “kita>b” ini menemukan maknanya yang baku, yaitu kumpulan wahyu al-Qur’an yang telah terbukukan setelah gerakan penyusunan mus}h}af, sekitar 25 tahun pasca meninggalnya Nabi. Dalam surah al-Baqarah (Madaniyah awal) disebutkan:
ٓﻟا ّٓﻢـ
)
١
ٰذ (
ٰﺘِﻜْﻟا َﻚِﻟ
ُﺐ
) َْﲔِﻘﱠﺘُﻤْﻠِﻟ ىًﺪُﻫ ِﻪْﻴِﻓ َﺐْﻳَر َﻻ
٢
(
Ali>f – la>m – mi>m. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada sedikit pun keraguan
padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa).41
Ketika kesan hubungan vertikal antara Zat Pemilik Wahyu sebagai pengirim pesan dan umat manusia sebagai penerima pesan ini mendominasi – sebagai akibat dari mengkristalnya konsep “al-kita>b” – maka akibat yang ditimbulkan menurut Neuwirth adalah kaburnya keberadaan Nabi dalam terminal-terminal perjalanan wahyu. Muncul semacam kesan bahwa seolah-olah proses komunikasi“al-kita>b” hanya terjadi secara vertikal antara Tuhan dan umat manusia. Selain itu, kesan ini juga berimplikasi pada berhentinya kedinamisan korpus al-Qur’an, sehingga ia hanya menjadi semacam kumpulan teks yang beku. Al-Qur’an seolah-olah adalah kitab yang timeless dan beyond history yang diturunkan Tuhan pada sebuah ruang kosong yang hampa, yang tidak memiliki keterkaitan dengan unsur-unsur eksternal sama sekali. Padahal faktanya,
faktor sosio-historis inilah yang selama kurun waktu 23 tahun masa kenabian telah turut serta melatari proses kelahiran Islam dan al-Qur’an.42
Maka, untuk mendapatkan kembali al-Qur’an yang masih kental dengan ‘cita rasa’ dan semangat pra-kanonikal tersebut, adalah penting untuk meluruskan persepsi dari segenap pembaca al-Qur’an bahwa merupakan sebuah kesalahan apabila al-Qur’an secara kaku dimaknai sebagai “sebuah buku untuk dipelajari” atau a book to read. Al-Qur’an harus mulai dipandang sebagai “sebuah teks untuk dibaca” atau a text to recite. Hal ini karena proses transmisi al-Qur’an serta eksistensi sosial yang mengitarinya pada dasarnya telah menonjolkan unsur keverbalan atau oralitas. Hal ini diperkuat dengan irama dan purwakanti al-Qur’an yang semakin memperjelas sekaligus mengkonfirmasi sebuah fakta bahwa tuturan yang terdapat dalam al-Qur’an pada hakikatnya dimaksudkan untuk didengar. Jadi, signifikansi dari pesan-pesan al-Qur’an banyak tersimpan dalam aspek suaranya. Sebanyak yang terdapat pada aspek informasi semantik yang dikandungnya. Selanjutnya, apabila memang benar bahwa makna genuine dari al-Qur’an adalah “a text to recite”, maka proses aktualisasi al-al-Qur’an sebagai sebuah tradisi oral dalam praktiknya harus benar-benar memiliki bukti yang bersumber dari komposisi teks itu sendiri.43
Masih terkait dengan konsep oralitas dan skriptualitas al-Qur’an, Neuwirth memunculkan dua buah konsep penting lainnya yang masih saling berhubungan,
42Angelika Neuwirth, “Locating the Qur’an in the Epistemic Space of Late Antiquity”, Ankara Üniversitesi Ïlahiyat Fakültesi Dergisi, Volume 54, Nomor 2 (2013), 197.
43 Angelika Neuwirth, “Structural, Linguistic, 103. Bandingkan dengan konsep the Qur’an as a “Clear” Book pemikiran Mustansir Mir. Lihat, Mustansir Mir, “Language”, 88-89.
yaitu konsep tentang al-Qur’an dan mus}h}af serta metode yang ia gunakan dalam menjaga unsur-unsur keverbalan al-Qur’an dengan pendekatan berbasis surah.
a. Dua Wajah al-Qur’an: al-Qur’an vs Mus}h}af
Apabila dalam al-Qur’an terdapat dua konsepsi yang berbeda tentang wahyu, yaitu “al-Qur’a>n” dan “al-kita>b”, maka dalam realitas dunia Islam, dua hal tersebut bisa dikatakan terwakili oleh dua wajah al-Qur’an yang juga berbeda, yaitu “al-Qur’a>n” dan “al-mus}h}af”. Dalam praktiknya, antara istilah “al-kita>b” dan “al-mus}h}af” lebih sering dipandang sebagai dua hal yang identik. Angelika Neuwirth sendiri lebih condong menggunakan istilah “al-mus}h}af” untuk merujuk pada korpus al-Qur’an pasca kodifikasi seperti yang di tangan kita saat ini. Menurut Neuwirth, terdapat perbedaan yang mendasar antara dua wajah dari al-Qur’an, yaitu antara mus}h}af dan al-Qur’an. Mus}h}af dapat dipahami sebagai sebuah buku atau naskah yang terkodifikasi, sedangkan al-Qur’an adalah gambaran dari proses komunikasi qur’ani yang terjadi pada era pewahyuan.
Pergeseran yang terjadi dari yang awalnya berupa konsep original al-Qur’an yang tumbuh dan berkembang pada era kenabian menuju konsep mus}h}af yang kelahirannya berangkat dari peristiwa kodifikasi al-Qur’an pasca meninggalnya Nabi ini mengakibatkan bergesernya kesan yang dimiliki al-Qur’an. Dari yang semula al-Qur’an dipandang sebagai teks oral yang sangat historis menjadi sebuah buku dengan simbol-simbol timeless dan beyond history-nya yang sangat kental. Dengan simbol-simbol itu pula, unsur kesejarahan al-Qur’an menjadi semakin kabur. Salah satu buktinya adalah fakta masih sangat minimnya kajian seputar susunan kronologis al-Qur’an yang sesuai dengan urutan pewahyuannya (tarti>b
nuzu>li>) dalam tradisi kesarjanaan Islam.44Hal ini diperparah lagi dengan semakin banyaknya unsur-unsur mitos yang menyelimuti ayat-ayat al-Qur’an dan unit-unit surahnya.
Kesarjanaan Barat kontemporer menilai bahwa penulisan al-Qur’an yang dalam keyakinan umat Muslim merupakan langkah yang sangat tepat dalam upaya penyeragaman sekaligus penjagaan terhadap kemurnian serta otentisitas kitab suci memiliki sejumlah implikasi yang nyata terhadap jati diri al-Qur’an itu sendiri. Dampak tersebut dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, yaitu: Pertama, naskah awal al-Qur’an yang pertama kali ada merupakan naskah yang masih dalam tataran scriptio defectiva (naskah yang tidak sempurna). Bentuk dasar naskah awal ini mudah dikenal dari kajian-kajian al-Qur’an pertama dan dari fragmen atau manuskrip awalnya di perpustakaan-perpustakaan besar. Pada beberapa contoh paling terdulu, hanya huruf-huruf matilah yang ditulis, dan bahkan huruf-huruf tersebut tidak dapat dibedakan antara satu dengan yang lain, karena bentuk tulisan yang mirip terkadang dapat menunjukkan dua huruf mati yang sama. dengan demikian, dapat dikatakan bahwa scriptio defectiva tidak lebih dari sekadar alat untuk melestarikan aspek oralitas dan hafalan al-Qur’an bagi yang bersangkutan. Pembaca teks-teks awal tersebut diperkirakan masih dalam lingkup mandiri dan hampir dapat dipastikan sudah memiliki taraf keakraban tertentu dengan teks, inilah bukti tentang masih hidupnya tradisi oral al-Qur’an
44 Dalam tradisi kesarjanaan Islam, kajian tentang urutan kronologis ini masih sebatas pada pengklasifikasian surah-surah al-Qur’an ke dalam dua kelompok, yaitu Makkiyah dan Madaniyah. Dalam pandangan kesarjanaan Muslim, pijakan utama untuk penanggalan kronologis dari bagian dan ayat-ayat al-Qur’an adalah hadis Nabi dan pernyataan dari para pengkaji al-Qur’an terdahulu. W. Montgomery Watt, Pengantar Studi al-Qur’an: Penyempurnaan atas Karya Richard Bell, terj. Taufik Adnan Amal (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1995), 173-174.
pada era-era kenabian.45 Namun, dengan adanya proyek kodifikasi yang dimulai pada era khalifah Usman, berbagai perubahan eksperimental yang bertahap terus diberlakukan terhadap atribut-atribut yang melingkupi tulisan al-Qur’an, antara lain seperti tanda-tanda bunyi vokal, berbagai bentuk titik, berbagai pembeda untuk huruf mati, tanpa vokal panjang dan pendek, penanda untuk menunjukkan pengulangan huruf mati, dan lain sebagainya. Berbagai penyempurnaan tersebut menurut Neuwirth mengakibatkan mus}h}af menjadi kaku, mengkristal dan terisolir dari latar sosio-historis sekaligus unsur oralitasnya secara total. Penyempurnaan itu juga telah menutup korpus ini karena dianggap telah final and established.46
Kedua, akibat kodifikasi ini, al-Qur’an menjadi tercerabut dari konteks
sosio-historis yang melatari kelahirannya. Kanonisasi telah menjadikan al-Qur’an terdehistorisasi. Ketika al-Qur’an telah bertransformasi ke dalam bentuk mus}h}af seperti saat ini, maka yang menonjol adalah karakter timeless, eternal, dan beyond
history-nya. Menurut Neuwirth karakter ini sangat bertentangan dengan jati diri
al-Qur’an yang sangat kental nuansa oralnya. Ketiga, kanonisasi telah
mengaburkan karakter utama al-Qur’an bahwa ia lahir secara berangsur-angsur. Hal ini terbukti dari terkuburnya kajian seputar kronologi al-Qur’an di kalangan sarjana Muslim. Selain itu, ketika unit-unit surah disejajarkan antara satu dengan yang lain dalam satu ‘barisan’ yang homogen di dalam mus}h}af, maka keunikan karakteristik dan heterogenitas yang dikandung setiap surah tersebut menjadi hilang. Padahal setiap surah dalam al-Qur’an memiliki gaya penuturan, retorika, serta sejarah historisnya sendiri yang unik dan khas. Akibatnya, peran unit surah
45Ibid., 71.
dalam kajian al-Qur’an menjadi semakin tidak signifikan lagi, khususnya dalam kesadaran umat Muslim era belakangan.47
Sebagai ilustrasi, guna menggambarkan perbedaan antara konsep al-Qur’an sebagai suatu bentuk gambaran dari proses komunikasi yang dinamis dan hidup pada era kenabian dan konsep al-Qur’an sebagai sebuah teks kanon yang baku dan final (mus}h}af), Neuwirth mengibaratkannya sebagai sebuah drama. Dalam pertunjukan drama, paling tidak terdapat dua faktor yang sangat dominan, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Yang dimaksud dengan faktor eksternal drama dalam hal ini adalah susunan skenario atau naskah cerita yang telah baku tertulis. Adapun faktor internal drama merupakan adegan-adegan yang tampil dalam drama, yang disajikan oleh seluruh unsur yang terlibat di dalamnya, mulai dari aktor, sutradara, para pemeran pembantu, dan lain sebagainya. Pertunjukan drama ini merupakan impelementasi atau gambaran hidup dari seluruh apa yang telah terekam dalam skenario. Faktor internal ini dapat dijadikan sebagai semacam kiasan untuk menjelaskan bagaimana proses pembacaan al-Qur’an pra-kanonikal itu bisa diaplikasikan.48
b. Menjaga Unsur Keverbalan al-Qur’an: Kajian al-Qur’an berbasis Surah
Dalam sudut pandang Angelika Neuwirth, kemuliaan al-Qur’an tidak hanya semata-mata berada pada diri teks itu sendiri, melainkan lebih dikarenakan faktor peran dan posisi yang telah dimainkan oleh kitab tersebut dalam sebuah komunitas yang mengimaninya. Oleh karenanya, karakteristik serta jati diri Qur’an hanya dapat dilacak melalui kajian mendalam terhadap situasi di mana
al-47Ibid., 99-100.