BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Konsep Aromaterapi
Aromaterapi berasal dari dua kata yaitu aroma dan terapi. Dimana aroma berarti bau harum atau bau-bauan dan terapi berarti pengobatan. Aromaterapi adalah salah satu cara pengobatan penyakit dengan menggunakan bau-bauan yang umumnya berasal dari tumbuh-tumbuhan serta berbau harum, gurih enak dan biasanya disebut dengan minyak atsiri (Agusta, 2000).
Aromaterapi adalah suatu terapi yang meliputi penggunaan minyak esensial yang berasal dari tanaman, yang dapat digunakan sebagai salah satu terapi alternatif dengan memanfaatkan uap minyak/minyak atsiri (esensial oil) dan melibatkan organ penciuman manusia.
2.4.2 Aromaterapi Lavender
Lavender oil yang umum digunakan dalam perawatan memiliki nama latin lavunda angustifolia. Minyak lavender ini berasal dari bunga lavender, wanginya segar sekaligus menenangkan. Minyak esensial ini sangat aman sehingga dapat
digunakan untuk mengobati luka. Kandungan zat aktif yang dimiliki lavender berkasiat sebagai penghilang rasa sakit, antiseptik, meregenerasi sel kulit dan menenangkan sel saraf, mengatasi ketegangan otot, dan mengatasi gangguan pencernaan. Minyak lavender dapat digunakan sebagai campuran minyak pijat, diteteskan pada air mandi untuk berendam, inhalasi atau pewangi ruangan dan memberikan efek relaksasi. Lavender dikenal dengan sebutan bahasa latin lavandula officinalis L. Vera. Minyak lavender diperoleh dengan cara distilasi bunga. Komponen kimia utama yang dikandungnya adalah ester jenis linalil asetat, linalool, alkohol, oksida, keton dan aldehid (Agusta, 2000).
Minyak levender sangat bersifat serba guna, sangat cocok untuk merawat kulit terbakar, terkelupas, dan juga membantu kasus insomnia/sulit tidur. Aromanya berkasiat membangkitkan kesehatan, cinta, dan kedamaian (Agusta, 2000). Lavender juga bersifat analgesik; untuk nyeri kepala, nyeri otot, bersifat antibakterial, antifungal, antiinflamasi, antiseptik, dan penenang (Price, 1997). Sejauh ini tidak ada kontraindikasi yang diketahui dan tidak terdapat iritasi atau sensitisasi jika digunakan pada kulit dan juga tidak mengiritasi mukosa. lavender adalah aromaterapi yang sangat aman yang banyak digunakan untuk keperluan-keperluan rumah tangga dan wanginya yang banyak digemari (Price, 1997).
2.4.3 Sifat Teraupetik Aromaterapi
Bau yang segar, harum, merangsang sensori, reseptor dan akhirnya mempengaruhi organ yang lain. Berbeda dengan obat kimiawi sintetis, pemakaian minyak esensial tumbuhan sebagai bahan aromaterapi tidak dianggap benda asing
oleh tubuh, sehingga tidak memperberat kerja organ-organ tubuh minyak esensial masuk ke sirkulasi tubuh dan menuju organ sasaran untuk memberikan reaksi (Niken, 2007).
Aromaterapi yang dipakai bisa berupa pengharum ruangan, dupa (incense stick), cologne/parfum, minyak esensial yang dibakar bersama air diatas tungku kecil, atau bentuk-bentuk yang lainnya. Aromaterapi selalu dihubungkan dengan hal-hal menyenangkan agar membuat jiwa, tubuh dan pikiran merasa relaks dan bebas. Aromaterapi digunakan untuk relaksasi dan pengobatan.
Banyak alasan mengapa minyak esensial atau aromaterapi perlu diikutsertakan dalam proses penyembuhan penyakit, karena minyak esensialnya memiliki banyak sifat yang positif dan memberikan efek seperti yang diinginkan seperti antiseptik, antibiotik, analgetik, sedatif dan sebagainya, tetapi hanya sedikit yang memiliki kekurangan seperti yang bersifat mengiritasi kulit seperti daun kayu manis, daun cengkeh. Hal penting mengapa minyak esensial disukai adalah karena aromanya yang menyenangkan. Bahan ini banyak sekali digunakan dalam keperluan rumah tangga (contohnya lemon dan lavender) dan diterima dengan baik oleh karena jauh lebih menyenangkan dan aman bila dibandingkan dengan pemakaian karbol. Aromanya sendiri akan memberikan efek dan manfaat kepada orang yang menggunakannya (Price, 1997).
a. Antiseptik dan Antibiotik
Minyak esensial memiliki kerja dan efek yang multiple misalnya minyak esensial yang dipakai dalam pengobatan infeksi respiratorius, minyak ini bukan saja memberikan kasiat antiseptik, tetapi juga mukolitik, anti inflamasi dan seterusnya. Contoh lainnya adalah penggunaan minyak esensial dalam sistem pencernaan yang sekalipun bersifat antiseptik, kerja minyak esensial ini tidak mengganggu kerja flora usus serta fungsi sekresi saluran cerna sehingga berbeda dengan antibiotik yang tidak dikehendaki. Penggunaan minyak esensial merupakan cara yang pasti untuk menghindari fenomena timbulnya resistensi pada mikroba karena essence aromatic dapat membunuh secara selektif strain kuman yang resisten. Beberapa minyak esensial yang berkhasiat antiseptik dan antibiotik antara lain lavender, peppermint, cengkih, mawar, lemon dan lain sebagainya. Sifat antiseptik minyak esensial ini juga dapat digunakan sebagai sarana yang sangat menyenangkan dan efektif untuk desinfeksi udara dalam ruangan tertutup, sehingga ideal untuk digunakan dalam kamar klien, unit luka bakar, bagian resepsionis, ruang tunggu dan lain-lain (Price, 1997).
b. Analgesik
Banyak minyak esensial memiliki sifat analgesik hingga derajat tertentu dan mengapa terjadi demikian tampaknya tidak ada keterangan yang dapat menjelaskan, mengingat rasa nyeri itu sendiri merupakan masalah yang rumit. Namun diperkirakan
sifat analgetik ini terjadi akibat efek antiinflamasi, sirkulasi serta detoksifikasi dan juga sifat anastesi dari minyak esensial itu sendiri. Senyawa fenol yang terdapat pada minyak cengkeh sudah dikenal sebagai obat yang dapat menghilangkan pegal, nyeri otot, dan sakit gigi. Pada kulit, minyak yang kaya dengan senyawa terpene memiliki efek analgesik, khususnya obat yang mengandung paracymene (Price, 1997).
Beberapa minyak esensial memiliki sifat sedatif universal sebagai pereda nyeri, misalnya chamomile, canaga ordorata, citrus bergamia, cengkeh, lavender dan masih banyak jenis minyak esensial lain berkhasiat sebagai analgesik.
c. Pengatur Keseimbangan
Aromaterapi memiliki khasiat yang benar-benar dirasakan untuk mengatur keseimbangan. Minyak esensial merupakan campuran yang komplek dari berbagai konsistensi alami sebagian diantaranya bersifat stimulant sementara sebagian lainnya bersifat sedatif sehingga satu minyak esensial bias saja memperlihatkan efek stimulasi pada suatu keadaan lain. Efek ini dikenal sebagai efek adaptogenik. Salah satu contoh minyak esensial yang dapat digunakan sebagai pengatur keseimbangan tekanan darah yaitu kenanga atau canaga ordorata (Price, 1997).
d. Hormonal
Sebagian minyak esensial memiliki kecenderungan untuk menormalkan sekresi hormonal dan kerjanya ini diperkirakan terjadi secara langsung atau hipofise. Kerja yang mirip hormon ini dari ekstrak tanaman dilaporkan tidak memiliki efek
samping. Contoh dari minyak esensial yang bersifat hormonal yaitu pinus, geranium, rosemary yang dapat merangsang korteks kelenjar adrenal, ekstrak biji fanel memiliki efek estrogenic (Price, 1997).
e. Sedatif
Dimasa lampau, sifat-sifat sedatif pada minyak esensial hamper dianggap sebagai lelucon, namun saat ini beberapa jenis minyak esensial sudah diselidiki dan ternyata efektif sebagai sedatif. Jenis-jenis minyak esensial tersebut adalah lavender yang dapat menenangkan sistem saraf pusat karena kandungan citronella serta senyawa monoterpena lainnya.
Lavender dikenal sebagai minyak penenang dan kini banyak digunakan dalam bangsal rumah sakit untuk membantu pasien tidur, efek sedatif pada lavender diperkirakan terjadi sebagian karena adanya senyawa-senyawa coumarin dalam minyak tersebut sekalipun kandungannya rendah.
Selain memiliki banyak manfaat aromaterapi juga memiliki efek yang tidak diinginkan. Namun demikian, efek ini sangat jarang dan kebanyakan terjadi setelah pemberian yang overdosis. Selain itu efek samping yang terjadi biasanya sebagai akibat penyalahgunaan minyak esensial, misalnya menggunakan minyak esensial untuk menggugurkan kandungan ataupun anak-anak yang meminum minyak esensial ini langsung dari botolnya (Agusta, 2000).
Efek yang biasanya ditimbulkan yaitu iritasi pada kulit, iritasi pada membran mukosa, fototoksisitas, nefrotoksitas. Namun hal ini baru terjadi jika penggunaan aromaterapi yang tidak sesuai dengan ketentuan dan overdosis. Namun kebanyakan minyak esensial dilaporkan aman digunakan karena hanya sedikit yang dapat menyebabkan efek yang tidak diinginkan.
2.4.4 Cara Penggunaan Aromaterapi
Ada banyak cara yang dapat digunakan dalam pemakaian aromaterapi, baik pemakaian melalui interna maupun eksterna. Pemakaian melalui interna yaitu melalu oral dan pemakaian melalui eksterna yaitu dengan cara pijat, rendaman, kompres dan inhalasi (Agusta, 2000).
Inhalasi merupakan cara konservatif pada pemakaian minyak esensial dalam lingkungan asuhan kesehatan. Minyak esensial ini dapat diberikan dengan kertas tissue, kedua belah tangan, alat penguapan, pewangi ruangan dan lain-lain. Dan semua cara pemberian ini efektif dalam situasi yang tepat.
2.4.5 Cara Kerja Aromaterapi
a. Absorbsi melalui kulit
Berdasarkan kelarutannya dalam lipid yang ditemukan dalam stratum korneum, minyak esensial dianggap mudah diserap. Penyerapan senyawa-senyawa ini berlangsung ketika senyawa ini melewati lapisan epidermis kulit dan masuk ke
dalam kompleks saluran limfe serta darah, kelenjar keringat, saraf, serta masuk ke dalam aliran darah dan menuju kesetiap sel tubuh untuk bereaksi (Agusta, 2000).
Ada banyak faktor yang menentukan kecepatan dan kuantitas setiap substansi dalam menembus kulit, namun secara umum kulit merupakan membran semipermeabel yang sedikit banyak mudah ditembus oleh substansi. Sifat-sifat fisikokimia molekul seperti berat molekul serta susunan spasial liposolubilitas, koefisien difusi dan disosiasi merupakan dasar terjadinya penetrasi kulit.
b. Pemberian melalui nasal
Akses lewat jalur nasal merupakan cara yang paling cepat dan efektif untuk pengobatan permasalahan emosional seperti susah tidur, stres, depresi dan juga beberapa tipe nyeri kepala. Hal ini karena hidung mempunyai hubungan langsung dengan otak yang bertanggung jawab dalam memicu respon efek aromaterapi untuk mencapai otak.
Jika minyak esensial dihirup, molekul-molekul atsiri dalam minyak tersebut akan terbawa oleh arus turbulen ke langit-langit hidung. Pada langit-langit hidung terdapat silia yang menjulur dari sel-sel reseptor kedalam saluran hidung. Kalau molekul minyak tertahan pada silia, suatu impuls akan ditransmisikan lewat bulbus olfaktorius dan traktus olfaktorius ke dalam sistem limbik. Proses ini akan memacu respon memori dan emosional yang lewat hipotalamus yang bekerja sebagai pemancar serta regulator menyebabkan pesan tersebut dikirim kebagian otak yang
lain dan bagian tubuh lainnya. Pesan yang diterima akan diubah menjadi kerja sehingga terjadi pelepasan zat-zat neurokimia yang bersifat eoforik, relaksan, sedatif, atau stimulan menurut keperluan tubuh. Kemudian serabut-serabut dari nervus olfaktorius membawa impuls kedalam bagian otak yang kecil tetapi signifikan yaitu lokus seruleus dan nucleus raphe. Noreadrenalin terkonsentrasi dalam lokus seruleus dan serotonin dalam nucleus raphe. Selanjutnya aroma sedatif seperti bau minyak lavender memberi efek stimulasi nucleus raphe yang kemudian akan melepaskan zat neurokimia serotonin. Serotonin merupakan neurotransmitter yang mengatur permulaan tidur (Somer & Elizabeth, 1999).
2.4.6 Penggunaan Aromaterapi Lavender untuk Meningkatkan Kualitas Tidur
Menurut Potter & Perry (2005), fisiologi tidur dimulai dari irama sirkandian yang merupakan irama yang dialami individu yang terjadi selama 24 jam. Irama sirkandian mempengaruhi pola fungsi mayor biologik dan fungsi perilaku. Perubahan temperatur tubuh, denyut nadi, tekanan darah, sekresi hormon, ketajaman sensori dan suasana hati juga tergantung pada pemeliharaan siklus sirkandian. Irama sirkandian meliputi siklus rutin bangun tidur yang dapat dipengaruhi oleh cahaya, temperatur dan faktor eksternal seperti aktivitas sosial dan pekerjaan rutin.
Dari beberapa terapi dalam penanganan kualitas tidur pada anak tersebut salah satu diantaranya dapat dilakukan dengan pemberian aromaterapi lavender. Lavender merupakan minyak esensial yang dapat digunakan untuk mempengaruhi tidur. Tetesan campuran minyak esensial lavender akan membantu menghasilkan tidur bagi
pasien dengan kandungan minyak esensialnya yang merupakan zat penenang akan memudahkan terjadinya tidur.
Jika minyak esensial dihirup, molekul-molekul atsiri dalam minyak tersebut akan terbawa oleh arus turbulen kelangit-langit hidung. Pada langit-langit hidung terdapat bulu-bulu halus (silia) yang menjulur dari sel-sel reseptor kedalam saluran hidung. Bila molekul minyak terkunci pada bulu-bulu maka suatu impuls elektromagnetik akan ditransmisikan lewat bulbus olfaktorius dan traktus olfaktorius kedalam sistem limbik (amindala serta hipokampus). Proses ini akan memicu respon memori dan emosional yang lewat hipotalamus yang bekerja sebagai pemancar serta regulator menyebabkan pesan tersebut dikirim kebagian otak yang lain dan bagian tubuh lainnya. Pesan yang diterima akan diubah menjadi kerja sehingga terjadi pelepasan zat-zat neurokimia yang bersifat eoforik, relaksan, sedatif atau stimulan menurut keperluannya.
Noradrenalin terkonsentrasi dalam lokus seruleus dan serotonin dalam nucleus raphe. Selanjutnya aroma sedatif seperti bau minyak lavender memberi efek stimulasi nucleus raphe yang kemudian akan melepaskan zat neurokimia serotonin. Serotonin merupakan neurotransmitter yang mengatur permulaan tidur (Somer & Elizabeth, 1999).
2.5 Konsep Rawat Inap