• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Dan Prinsip Ta'âwun Dalam Hukum Islam

TINJAUAN PUSTAKA

3. Konsep Dan Prinsip Ta'âwun Dalam Hukum Islam

Taa’wun bagi sesama dalam rangka mencukupi kebutuhan hidup merupakan sesuatu yang mutlak bagi kehidupan manusia.

Ta’awun atau sikap gotong royong bagi manusia merupakan salah satu sifat bawaan dari lahir, dengan demikian pada naluri tersebut menjadikan kehidupan manusia mejadi semarak dan penuh dinamika. Naluri ta’awun merupakan symbol dari keperkasaan dan kehebatan manusia. Karena adanya bergotong royong menusia dapat melahirkan karya-karya besar dan menakjubkan, semua itu tidak mungkin dapat dilakukan jenis mahkluk lainya.33 Ta’awun dapat dilakukan oleh siapapun dengan syarat dan aturan semua manusia bisa melakukannya baik orang tua, dewasa, muda atau anak-anak dalam melakukan kebaikkan dan kebajikan. Konsep ini diangkat dari ayat yang berbunyi:

اَوُقَّا اَ ِنا اَْدوعْلا اَ ِمْثِ ْلْا ىالاع اَون اَااعاَّ الَ اَ ۖ ٰى اَُْقَّلا اَ ِ رِبْلا ىالاع اَون اَااعاَّ اَ ...

ِبااُِعْلاوديِداش ا قللَّا قنِإ ۖ ا قللَّا

“…Saling tolong-menolonglah kamu dalam kebaikkan, dan jangan tolong- menolonglah kamu dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS.

Al-Maidah:2)

Ayat ini memaparkan tentang konsep menyadari adanya perbedaan sekaligus mengakui bahwa setiap individu memiliki kekuatan dan potensi. Dengan konsep ini menghendaki agar

33 Musthafa Kamal, Qalbun-Salim: Hiasan Hidup Muslim Terpuji, (Jogjakarta: Citra Karya Mandiri, 2002),p.79

perbedaan dan potensi dan kekuatan (keunggulan, kelemahan, kaya, miskin, menjabat atau tidak menjabat dan lain sebagainya) fungsional secara positif dalam membangun kehidupan secara harmonis. Konsep ta’awun memiliki makna yang komprehensif dan sistematik.

Orang berjiwa pemurah dipandang sebagai manusia yang berbahagia dalam hidup karena ia memiliki banyak harta, tetapi hal tersebut telah menjadi karakternya yang khas. Orang yang demikian adalah orang tidak dikuasai atau didominasi rasa kikir yang pada hakikatya menyusahkan dirinya. Siapapun tidak disebut pemurah dan kikir merupakan dua hal yang bertolak belakang34

Manusia adalah ciptaan Allah yang mempunyai tanggung jawab terhadap diri, keluarga, tetangga, seluruh masyarakat merupakan kesatuan untuk mengapai ridho Allah karena manusia berasal dari dari satu keturunan Adam dan Hawa.

Allah menjadikan mereka berberbangsa-bangsa dan bersuku-sukuagar saling mengenal dan berintraksi, serta tolong-menolong dalam perbuatan kebaikkan dan bertakwa. Antara sesama manusia tidak terdapat perbedaan, perbedaan manusia hanyalah terletak pada amal yang dikerjakanya dan rasa ketakwaan kepada Allah. Sesuai denga firman Allah Swt dalam surat al-Hujurat; 13

َّنِإ ۡۚ ْآوُفَراَعَِلّ َلِئٓاَبَقَو اٗبوُعُش ۡمُكََٰنۡلَعَجَو َٰ َثَنُأَو ٖرَكَذ نِِم مُكََٰنۡقَلَخ اَّنِإ ُساَّلنٱ اَهُّي َ أََٰٓي يرِبَخ ٌميِلَع َ َّللّٱ َّنِإ ۡۚۡمُكَٰىَقۡت َ

أ ِ َّللّٱ َدنِع ۡمُكَمَرۡك َ أ ٣١

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(QS.

Al-Hujurat: 13)

Sikap yang harus dimiliki oleh seorang dalam jiwa seorang muslim yang terpenting adalah sikap menghargai, menghormati

34 Rif’at Syauqi Nawawi, kepribadian Qurani (Jakarta: Amzah, 2011), p.136

orang lain baik dia beragama Islam atau beragama lain Membina silaturahmi dan saling tolong menolong terutama terhadap orang-orang yang lemah, seperti fakir miskin dan anak yatim hendakya berbuat baiklah terhadap mereka, dan melindungi mereka dari gangguan yang membahayakan.

Seseorang tidak dibenarkan untuk berlaku sewenang-wenang kepada anak yatim dan menghardik orang yang meminta-minta.

َّم َ أَف ۡرَهۡقَت َلََف َميِتَ لِٱ ا ۡ ٩

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang”. (QS.Dhuha: 9)

ۡرَهۡنَت َلََف َلِئ ٓاَّسلٱ اَّمَأَو ٣١

“Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya”(QS.Dhuha: 10)

Sikap hidup ta’awun dalam ajaran Islam mendapat perhatian dan sikap suka menolong kepada sesama makhluk Allah yang benar-benar memerlukan pertolongan mendapatkan pujian yang teramat tinggi dihadapan Allah. Bahkan lebih dari sekedar pujian, Allah menjanjikan kepada siapapun yang menolong terhadap kesusahan oranglain, penderitaan atau kesempitannya dengan limpahan anugerah yang tak terhingga kelak dihari kemudian. Membantu memenuhi kebutuhannya sebelum diminta. Ini memiliki derajat yang sebanding dengan tiga tingkatan dalam pengutamaan dengan harta. Nabi bersabda:

) ملسم هاَر ( هيحا نَع ىف دبعلا مادام دبعلا نَع ىف اللهَ

“Dan Allah akan menolong hamba-Nya, selama hamba itu menolong saudaranya. (HR.Muslim)

Dalam Islam mengajarkan harta dan kekayaan mempunyai fungsi sosial dan merupakan sumber kehidupan bagi manusia dalam rangka menegakkan dasar-dasar kehidupan adan mewujudkan tatanan social serta ekonomi yang berkeadilan , maka sangat diperlukn semangat tolong-menolong di antara seluruh lapisan masyarakat. Jika tidak ada bantuan berupa benda , maka kita dapat membantu orang-orang dengan

nasehat,atau kata-kata yang mampu menghiburnya hatinya. Jika dengan kata-katapun tak mampu maka bisa dengan bantuan jasa. .Punjagga Islam A. Hamid Al-Chatib berkata, “ Persaudaraan dalam Islam takkan berdiri kecuali denganjalantolong-menolong35

Tolong-menolong yang dimaksud disini adalah dalam konteks kebaikan dan ketakwan kepada Tuhan. Sedangkan Islam melarang tolong-menolong yang menjurus kepada dosa dan permusuhan. Menurut guru besar Universitas Al-Azhar Kairo, Sayyid Sabiq menjelaskan makna Al-Quran surat al-Hujurat ayat 10, arti “persaudaraan” disini adalah yang kuat melindungi yang lemah, yang kaya bersedia membantu yang miskin36

Menurut Rif’at Syauqi, seseorang jiwanya telah dijaga dari sifat kikir (yang merupakan tabiat aslinya), akan muncul menjadi orang yang beruntung dalam hidup. Dalam realitas hidup, mereka yang banyak dan besar infak dan sedekahnya, semakin makmur dan sejahtera hidupnya. Seperti firman Allah Swt:

ملٍةَئاِم ٍةَلُبنْملسما للكميافمةلاُئةنْةسمةعبُةسم بتةتةُبنْةأم ٍهُةحمالةثةِةكما هللَّامالياُةسميافمبملهةلا ةوبِةأمةنولقافبنْليمةنياذهلامللةثةِ

مٌمياَةعمٌعاسا ةومل هللَّا ةومۗملءئةشةيم بنةِالم لفاعئةضليمل هللَّا ةومۗم ٍهُةح

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.

Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”(Al-Baqarah:261).

Dari ayat tersebut Alquran menyebutkn degan mantap menjamin orang yang pemurah suka menolong bahwa ia akan berubah menjadi orang yang beruntung. Nabi Muhammad Saw juga menjelaskan dalam hadits37

35 Fathani, Ensiklopedi Hikmah….p.667

36 Fathani, Ensiklopedi Hikmah….p.667

37 Departemen Agama RI, Alquran Al-Karim….,p.44

ِمديعُماللهمنِمديعُمليخُلامومرئنْلامنِمديعُمسئنْلامنِمبيرقماللهمنِمبيرقميخسلا مٍنْجلامن

رئنْلامنِمبيرقمسئنْلامنِمديعُ

“Bahwa orang pemurah itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dari manusia, dari manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang kikir jauh dari Allah, dari surge, dari manusia, dan dekat dengan neraka.( H.R. Tirmidzy)

Selain membutuhkan pertolongan sesama, manusia juga membutuhkan pertolongan sesama makhluk, manusia sangat membutuhkan pertolongan Allah kapanpun dimanapun, dan dalam keadaan apapun, tidak ada manusia yang hidup tanpa membutuhkan pertolongan orang lain tanpa memandang kaya atau miskin. Manusia adalah saudara apalagi sudah terikat satu iman, maka hendaknya satu sama lain saling menolong dalam berbagai kesulitan hidup, Islam juga mengajarkan umatya saling toleransi atas segala perbedaan yang ada.

...ةاوخامنونِْؤِلامئنْا

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara….(Q.S.Al-Hujurat:10)

) ملسم هاَر ( هيحا نَع ىف دبعلا مادام دبعلا نَع ىف اللهَ

“Dan Allah akan menolong hamba-Nya, selama hamba itu menolongsaudaranya.(HR.Muslim)

Arti sabda Nabi ini adalah pertolongan akan diberikan kepada hamba. Selama itu mau menolong sesamanya. Sikap tolong-menolong memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membina umat. Pahalanya juga sangat besar disisi Allah Swt.

,seperti halnya pahala shalat, puasa, sedekah, dan lainnya. Ath-Thabrani pernah meriwayat kan dari Umar ra bahwa buah paling besar yang diperoleh seorang muslim yang suka membantu saudaranya adalah mendapatkan pertolongan dan bantuan dari Allah. Hadits ini jugaDapat dipahami bahwa Allah tidak akan menolong hamba selama ia tidak mau menolong saudaranya.38Saling taawun dan membantu antar

38 Fahrur Mu’is, Syarah Hadits Arba’in an-Nawawi, ( Bandung:MQS Publishing, 2009), Cet.1,p 186

sesamaMerupakan puncak kehidupan masyarakat muslim.

Sungguh, Allah Swt. Telah memerintahkan orang-orang mukmin untuk saling menolong dalam kebaikan dan membantu beban saudaranya seiman.39

Allah Subḥānahu wa Ta’ālā memerintahkan manusia untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dengan beriringan ketakwaan kepada-Nya. Sebab dalam ketakwaan, terkandung ridha Allah. Sementara saat berbuat baik, orang-orang akan menyukai. Barang siapa memadukan antara ridha Allah dan ridha manusia, sungguh kebahagiaannya telah sempurna dan kenikmatan baginya sudah melimpah. Sebagai contoh sikap saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan,Imam Ahmad berkata: dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda:

مئِلئظمكئخامرصنْا ماذامتيارفام,ئِوَظِمنئكماذامهرصنْاماللهملوسرمئيملجرملئقفم,ئِوَظِموا

"مهرصنْمكلذمنءئفممَظلامنِمهعنِْتموامهزجحتم(ملئق,مهرصنْامفيكمئِلئظمنئك

“Tolonglah saudaramu, baik yang dalam keadaan berbuat zhalim atau dizhalimi. Ditanyakan: “ya Rasulullah aku akan menolong orang yang dixhalimi itu, lalu bagaimana aku akan menolongya jika ia dalam keadaan berbuat zhalim? “Beliau Saw menjawab:

“Menghindarkan dan melarangnya dari kezhaliman, itulah bentuk pertolongan baginya.” (HR. Bukhari)

Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul memerintahkan untuk saling ta’awun, baik kepada orang yang berbuat zhalim maupun orang yang sedang terzhalimi. Ketika seseorang berbuat zhalim maka ditolong dengan cara membantu untuk menghindarkan dan melarangnya untuk berbuat kezhaliman lagi. Pada orang yang dizhalimi haknya atau hartanya maka harus membantunya dengan mencegah terjadinya kezhaliman40:

م ارةكبنْلِبلامانةعمةن بوةهبنْةي ةوم افولربعةِبلئاُمةنولرلِبأةيمۚم ضبعةُملءئةيال بوةأمبملهلضبعةُملتئةنْاِبؤلِبلا ةومةنولنْاِبؤلِبلا ةو مٌزي ازةعممةهللَّامهناإمۗمل هللَّاململهلِةح برةيةسمةكاََٰةلولأمۚملهةلولسةر ةومة هللَّامةنولعياطلي ةومةةئةكهزلامةنولتبؤلي ةومةة ةلَهصلامةنولِياقلي ةو

39 Muhammad as-Sayyid Yusuf dkk, Ensiklopedi Metodologi Alquran:Kehidupan Sosial, terj.Abu Akbar Ahmad dkk. (Jakarta:PT.Kalam Publika), P.34

40 Abdul Qadir Ahmad Atha, Terj. Syamsudin TU, Adabun Nabi: Meneladani Akhlak Rasulullah, ( Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), Cet ke 3,p.67-68

مٌمياكةح

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-Taubah:71) Konsep ta'âwun dalam Islam bisa diterjemahkan menjadi enam macam:

1) Ta'âwun di dalam kebajikan dan ketakwaan, yang mencakupkebajikan universal (al-birr) dalam bingkai ketaatan sepenuh hati (at-taqwâ) yang membawa akibat kepada kebaikan masyarakat Muslimdan keselamatan dari keburukan serta kesadaran individu akan peran tanggung jawab yang diemban di oleh masing-masing pribadi muslim.

Karena ta’awun di dalam kehidupan umat merupakan manifestasi dari kepribadian setiap muslim dan merupakan fondasi yang tak bisaditawar dalam kerangka pembinaan dan pengembangan perabadan umat41.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk saling berta’awun (bekerja sama) di dalam kebajikan dan ketakwaan, dan melarang dari saling berta’awun di dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman.

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [al-Ma’idah/5 : 2]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata42:

41Muhsin Hariyanto, Membangun Tradisi Ta'âwun,

https:repository.umy.ac.id/bitstream/handle, diakses pada 01/07/2018. Lihat pula: Markaz al-Imâm al-Albani, Nubdzatul ‘Ilmiyyah fitTa’âwun asy-Syar’iy wat Tahdzîr minal Hizbiyyah, No.

3, 1422H.

42di dalam Tafsir Al-Qur’anil Azhim (II/7) menafsirkan ayat diatas [al-Ma’idah/5: 2]

“Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar saling berta’awun di dalam aktivitas kebaikan yang mana hal ini merupakan al-Birr (kebajikan) dan agar meninggalkan kemungkaran yang mana hal ini merupakan at-Taqwa. Allah melarang mereka dari saling bahu membahu di dalam kebatilan dan tolong menolong di dalam perbuatan dosa dan keharaman.”

2) Ta'âwun dalam bentuk walâ’ (loyalitas) kepada antarmuslim. Setiapmuslim harus berkesadaran bahwa dirinya adalah bagian dari muslim yang lain. Siapa pun yang mengabaikan saudara sesama muslim dan menelantarkannya, maka pada hakikatnya ia adalah seorang yang dapat diragukan keislamannya. Karena loyalitas antarmuslim merupakan konsekuensi keberislaman mereka.Allah Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar”

[at-Taubah/9 : 71]

Barangsiapa yang meninggalkan nasehat kepada saudaranya dan menelantarkannya, maka pada hakikatnya ia adalah seorang penipu dan bukan pembela mereka. Karena merupakan konsekuensi dari loyalitas adalah menasehati dan menolong mereka di dalam kebajikan dan ketakwaan.

3) Ta'âwun yang berorientasi pada penguatan sendi-sendi kehidupanbermasyarakat dan dan saling-melindungi.

Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. yang secara eksplisit telah menyerupakan ta’âwun kaum Muslimin, persatuan dan berpegang teguhnya mereka (pada agama Allah) dengan bangunan yang dibangun dengan batu bata yang tersusun rapi kuat sehingga menambah kekokohannya. Kaum muslimin akan semakin bertambah kokoh dengan tradisi ta'âwun seperti ini.Kaum muslimin semakin bertambah kokoh dengan saling tolong menolong di antara mereka. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam:

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang sebagiannya menguatkan bagian lainnya.”

Tidaklah umat Islam ini menjadi lemah dan musuh-musuhnya menguasai mereka, melainkan dikarenakan berpecah belah dan berselisihnya mereka, walaupun kuantitas dan jumlah mereka banyak. Allah Ta’ala berfirman :

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” [al-Anfal/8: 46]

4) Ta'âwun dalam upaya ittihâd (persatuan). Ta'âwun dan persatuanselayaknya ditegakkan di atas kebajikan dan ketakwaan, jika tidak, akan menghantarkan pada kelemahan umat Islam, berkuasanya para musuh Islam, terampasnya tanah air, terinjak-injaknya kehormatan umat. Seorang muslim haruslah memiliki solidaritas terhadap saudaranya, ikut merasakan kesusahannya, ta'âwun di dalam kebajikan dan ketakwaan harus diorientasikan agar umat Islam dapat menjadi seperti satu tubuh yang hidup. Allah berfirman:

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” [al-Mu’minun/23 : 52]

Ta’awun dan persatuan selayaknya ditegakkan di atas kebajikan dan ketakwaan, jika tidak, akan menghantarkan pada kelemahan yang parah, berkuasanya para musuh Islam, terampasnya tanah air, terinjak-injaknya kehormatan dan terenggutnya tanah. Sebagai pembenar apa yang diberitakan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Salam:

“Kalian nyaris diperebutkan oleh umat-umat selain kalian sebagaimana makanan di sebuah tempayan yang diperebutkan manusia.” Para sahabat bertanya: “apa jumlah kita pada saat itu sedikit wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih, dan Allah akan mengangkat rasa takut kepada kalian dari dada musuh-musuh kalian, dan Allah akan menancapkan al-Wahn ke dalam hati-hati kalian.”

Para sahabat bertanya: “apakah al-Wahn itu wahai Rasulullah?”, Rasulullah menjawab: “cinta dunia dan takut mati.”

Seorang muslim, haruslah memiliki solidaritas dengan saudaranya, turut merasakan kesusahannya, tolong menolong di dalam kebajikan dan ketakwaan, agar umat Islam dapat menjadi satu tubuh yang hidup, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam:

“Perumpamaan kaum mukminin di dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan bagaikan tubuh yang satu, apabila salah satu anggota tubuh mengeluh maka akan memanggil seluruh anggota tubuh lainnya dengan terjaga dan demam.” [Muttafaq

‘alaihi]

5) Ta'âwun dalam bentuk tawâshî (saling berwasiat) di dalam kebenarandan kesabaran. Saling berwasiat di dalam kebenaran dan kesabaran termasuk manifestasi nyata dari ia'âwun di dalam kebajikan dan ketakwaan. Kesempurnaan dan totalitas ta'âwun dalam masalah ini adalah: dengan saling berwasiat di dalam konteks amar ma’ruf nahimunkar.

Diantara bentuk manifestasi ta'âwun di dalam kebajikan dan ketakwaan adalah: menghilangkan kesusahan kaum muslimin, menutup aib mereka, mempermudah urusan mereka, menolongmereka dari orang yang berbuat aniaya, mencerdaskan mereka, mengingatkan orang yang lalai di antara mereka, mengarahkan orang yang tersesat di kalangan mereka, menghibur yang sedang berduka cita, meringankan mereka yang tertimpa musibah, dan menolong mereka dalam segala hal yang baik. Allah Ta’ala berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [al-Ashr/103 ; 1-3]

Dalam kehidupan manusia setiap individu memerlukan bantuan atau pertolongan orang lain. Tidak semua manusia yang hidup dimuka bumi ini mengarungi hidup mulus tanpa ada masalah pasti mengalami pahit getirya hidup penderitaan batin atau kegelisahan dalam jiwa dan merasakan kesedihan setelah mendapatkan musibah. Sebagai seorang muslim sejati akan tergerak hatinya jika melihat teman, tetangga atau

siapapun itu yang terkena musiba untuk membantu atau menolong sesuai dengan kemampuan.