TINJAUAN PUSTAKA
4. Konteks Ta’awun dalam Pendidikan
Konteks ta’awun dalam pendidikan dapat di temui pada semua instrumen dalam pendidikan mulai dari siswa, guru, lembaga, gedung, wali murid, kurikulum, buku, transportasi, masyarakat, undang-undang, gaji guru, dll. Umat muslim telah diperintahkan
oleh Allah untuk menjalankan konsep ta’awun dalam dimensi sosial maupun vertikal.
Beberapa konteks perbuatan ta’awun yang dapat dilakukan pada dunia pendidikan adalah:
1. Guru/tenaga pendidik. Ta’awun dalam tenaga pendidik adalah kesempatan bagi kita untuk mengabdikan diri sebagai guru baik di sekolah formal maupun di lembaga non-formal dengan tujuan untuk beribadah bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup semata. Profesi mulia ini juga dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan secara sukarela kepada orang-orang tidak mampu tanpa memungut bayaran apapun.
2. Siswa/ murid. Ta’awun dalam konteks anak didik adalah dengan mengajak anak-anak putus sekolah maupun anak-anak yang kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Menjadi orang tua asuh bagi anak yatim dan fakir miskin.
3. Fasilitas dan gedung belajar. Konteks ta’awun dalam hal ini dapat diwujudkan dengan menjadi donatur dalam pembangunan fasilitas belajar, maupun dalam hal memberikan sumbangan tenaga kerja bangunan.
4. Buku. Buku merupakan sumber belajar utama para pendidik maupun peserta didik. Ta’awun dalam hal buku dapat dilakukan dengan cara mendonasikan buku-buku bacaan ke perpustakaan sekolah maupun perguruan tinggi. Selain juga donasi dana buku untuk perpustakaan maupun untuk anak-anak tidak mampu berupa perpustakaan keliling. Ta’awun dalam konteks buku juga dapat dilakukan dengan menjadi penulis buku atau penerbit buku dan membagikan buku itu kepada orang-orang fakir miskin.
5. Gaji guru. Ta’awun dapat diterapkan dengan membantu kafa’ah/penghasilan dan kesejahteraan para guru.
6. Undang-undang dan peraturan pendidikan. Menyuarakan keadilan dan pemerataan pendidikan nasional merupakan salah satu upaya ta’awun dalam pendidikan. Pemerintah berjuang untuk merealisasikan undang-undang pendidikan dan menggagas peraturan pemerintah terhadap pendidikan juga merupakan upaya ta’awun pemikiran.
7. Transportasi. Tingginya angka kecelakaan yang terjadi terhadap anak-anak sekolah akibat berkendara motor menuju sekolah hendaknya menjadi pemikiran untuk berta’awun dalam
mewujudkan transportasi anak sekolah yang aman dan nyaman.
Konteks ta’awun dalam transportasi dapat dilakukan dengan cara memberikan tumpangan gratis untuk anak-anak lainnya menuju sekolah, atau dengan menyediakan bis sekolah guna keamanan perjalanan ke sekolah.
Konteks ta’awun dalam pendidikan adalah dengan bergotong royong memajukan pendidikan bangsa maupun sumber daya manusia. Konteks ta’awun tidak terbatas pada beberapa aspek diatas saja, melainkan juga pada aspek lain yang menunjang kemajuan pendidikan.
KESIMPULAN
Orangberjiwa pemurah dipandang sebagai manusia yang berbahagia dalam hidup, orang tersebut adalah orang yang ringan dalam memberikan pertolongan kepada orang lain. Apabila ada seseorang yangr ingan member pertolongan bukan dikarenakan iamemiliki banyak harta, tetapi haltersebut telah menjadi karakter nya yang khas. Orang yang demikian adalah orang yang tidak dikuasai atau didominasi rasa kikir yang pada hakikatnya menyusahkan dirinya.Siapapun tidak disebut pemurah jika jiwa dan prilakunya masih memiliki sifat kikir.Karena pemurah dan kikir merupakan dua hal yang bertolakbelakang.Dalam hidupini, setiap orang memerlukan pertolongan oranglain.
Adakalanya seseorang mengalami sengsara dalam hidup, penderitaan batin atau kegelisahan jiwa, dan adakalanya karena sedih setelah mendapat berbagai musibah. Orang mukmin akan bergerak hatinya ketika melihat orang lain tertimpa musibah dan menolong sesuai dengan kemampuannya.
Ta’awun dalam pendidikan adalah ta’awun dalam kebaikan sekaligus berdimensi ketaqwaan.Karena bergotong-royong dan saling tolong menolong dalam meningkatkan sumber daya manusia dengan tidak memandang latar belakang agama maupun status sosial masyarakat, merupakan jihad fisabilillah baik berperan sebagai pendidik, dermawan, maupun masyarakat.Ta’awun ini juga dipertegas dalam undang-undang bahwa pendidikan merupakan tanggungjawab kita bersama.
Referensi:
Atha, Abdul Qadir Ahmad. 2002. Terj. Syamsudin TU, Adabun Nabi:
Meneladani Akhlak Rasulullah. Jakarta; Pustaka Azzam. Cet.
ke 3.
Amir, Samsul Munir. 2016. Ilmu akhlak. Jakarta: Amzah, Cet.Ke-1 Bisri, Adib & Munawir. 1999. Kamus Al-Bisri Indonesia-Arab
Arab-Indonesia. Surabaya: Pusaka Progresif. Cet.ke-1.
Firetone, Reuven, Jihad:The Origin of holy war in Islam(t.k:t.p,1999) Fahrur Mu’is, Syarah Hadits Arba’in an-Nawawi, ( Bandung:MQS
Publishing, 2009), Cet.1
Hariyanto, Muhsin. 2018. Membangun Tradisi Ta'âwun, https://repository.umy.ac.id/bitstream/handle, diakses pada 01/07/2018.
J. Suyuthi Pulungan, Prinsip-Prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah dari Pandangan Al-Qur’an, (Jakarta: Rajawali Press,1993)
Hamka. 1984. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas, juzu’ 6 Montgomery Watt, Muhammad at Medina. (Oxford Univesity Press,
1956
Mu’is, Fahrur. 2009. Syarah Hadits Arba’in an-Nawawi. Bandung:
MQS Publishing. Cet.1.
M. Yakub, Piagam Madinah: Acuan Dasar Negara Islam, jurnal Analytica Islamica, no.2, Vol.6,Th.2004
Musthafa Kamal, Qalbun-Salim: Hiasan Hidup Muslim Terpuji, (Jogjakarta: Citra Karya Mandiri, 2002),
Muhammad as-Sayyid Yusuf dkk, Ensiklopedi Metodologi Alquran:Kehidupan Sosial, terj.Abu Akbar Ahmad dkk.
(Jakarta:PT.Kalam Publika)
Muhsin Hariyanto, Membangun Tradisi Ta'âwun, https:repository.umy.ac.id/bitstream/handle, diakses pada
01/07/2018. Lihat pula: Markaz al-Imâm al-Albani, Nubdzatul ‘Ilmiyyah fitTa’âwun asy-Syar’iy wat Tahdzîr minal Hizbiyyah, No. 3, 1422H.
Nawawi, Rif’at Syauqi. 2011. Kepribadian Qurani. Jakarta: Amzah.
Nurcholis Madjid tersebut dalam Ahmad Baso, Civil Society VersusMasyarakat Madani, (Bandung: Pustaka Hidayah), 1999 Rif’at Syauqi Nawawi, kepribadian Qurani (Jakarta: Amzah, 2011), Poerwadarmita. 2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia: Edisi ketiga.
Jakarta: Balai Pustaka,
Yusuf, Muhammad as-Sayyid. Tt. Ensiklopedi Metodologi Alquran:
Kehidupan Sosial, terj. Abu Akbar Ahmad dkk. Jakarta:
PT.Kalam Publika.
Yunus, Mahmud. Tt. Kamus Arab-Indonesia. Jakarta: PT. Mahmud Yunus Wadzuryah.
KONSEP TAKAFUL BERAGAMA DALAM MULTIAGAMA