• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai-nilai Pendidikan Agama Islam Multikultural dalam al- al-Quran dan Hadist

AISYAHNUR NASUTION

D. Nilai-nilai Pendidikan Agama Islam Multikultural dalam al- al-Quran dan Hadist

Menurut Farida Hanum dalam Yaya Suryana dan Rusdiana, nilai-nilai inti dari pendidikan multikultural berupa demoktratis, humanisme, dan pluralisme.123

1. Nilai Demoktratisasi

Nilai demoktratisasi atau keadilan merupakan sebuah istilah yang menyeluruh dalam segala bentuk, baik keadilan budaya, politik, maupun sosial. Keadilan merupakan bentuk bahwa setiap insan mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan.

2. Nilai Humanisme

Nilai humanisme atau kemanusiaan manusia pada dasarnya adalah pengakuan akan pluralitas, heterogenitas, dan keragaman manusia. Keragaman itu dapat berupa

123Yaya Suryana dan Rusdiana, Pendidikan Multikultural: Suatu Upaya Penguatan Jati Diri Bangsa Konsep, Prinsip, dan Implementasi (Jakarta :Rineka Cipta), h. 200.

ideologi, agama, paradigma, suku bangsa, pola pikir, kebutuhan, tingkat ekonomi, dan sebagainya.

3. Nilai Pluralisme

Nilai pluralisme bangsa adalah pandangan yang mengakui adanya keragaman dalam suatu bangsa, seperti yang ada di Indonesia. Istilah plural mengandung arti berjenis-jenis, tetapi pluralisme bukan berarti sekedar pengakuan terhadap hal tersebut, melainkan memiliki implikasi-implikasi politis, sosial, dan ekonomi. Oleh sebab itu, negara yang menyatakan dirinya sebagai negara demokrasi, tetapi tidak mengakui adanya pluralisme dalam kehidupannya sehingga terjadi berbagai jenis segregasi.

Pluralisme berkenaan dengan hak hidup kelompok-kelompok masyarakat yang ada dalam suatu komunitas.

4. Nilai Perdamaian dan Toleransi

Perdamaian dan toleransi beragama sulit dibangun karena telah terjadi politik agama. Salah satu penjelasan yang dapat diterima bahwa semua fenomena sosial dan politik, termasuk tindakan politik agama, bermula dari pikiran manusia. Berdasarkan asumsi tersebut, upaya untuk menemukan penyebab dasar politik agama dipusatkan pada faktor kepentingan individu dan kelompok yang memobilisasi psikologis orang atas dasar agama. Jadi, nilai-nilai pendidikan multikultural menurut penyusun, yaitu nilai keadilan, humanisme, nilai pluralisme, nilai perdamaian, dan toleransi. Nilai tersebut harus dimiliki oleh setiap umat manusia agar terjaganya persatuan dan kesatuan dalam masyarakat, bangsa, dan Negara.

Indonesia termasuk negara yang mencoba memperbaiki konsepnya dalam menghadapikeragaman agama dan budayanya. Jika sebelumnya, konsep homogeneisasi (penyeragaman) yang mirip dengan melting pot-nya Amerika Serikat diutamakan, maka Indonesia saat ini menempatkan semua agama secara sejajar. Dengan memperhatikan pokok-pokok tentang multikulturalisme dan dihubungkan dengan kondisi negara Indonesia saat ini, kiranya menjadi jelas bahwa multikulturalisme perlu dikembangkan di Indonesia, karena justru dengan gagasan inilah kita dapat memaknai keragaman agama di Indonesia.

Konsep ini dapat memperkaya konsep kerukunan umat beragama yang dikembangkan secara nasional di negara kita.

Satu hal yang harus diamalkan bahwa gagasan multikulturalisme menghargai dan menghormati hak-hak sipil, termasuk hak-hak kelompok minoritas. Tapi, sikap ini tetap memperhatikan hubungan antara posisi negara Indonesia sebagai negara religius yang berdasarkan Pancasila. Negara Indonesia tidak membenarkan dan tidak mentolerir adanya pemahaman yang anti Tuhan (atheism).

Negara Indonesia juga tidak mentolerir berbagai upaya yang ingin memisahkan agama dari negara (secularism).

Mungkin kedua hal ini menjadi ciri khas multikulturalisme di negara asalnya seperti Amerika Serikat dan Eropa. Tapi, ketika konsep ini diterapkan di Indonesia, harus disesuaikan dengan konsep negara dan karakteristik masyarakat Indonesia yang religius. Singkatnya, multikulturalisme yang diterapkan di Indonesia adalah multikulturalisme religius.

Dalam mewujudkan kerukunan dan kebersamaan dalam pluralitas dan multikultural agama, surah al-Nahl ayat 125 menganjurkan dialog dengan baik. Dalam dialog, seorang muslim hendaknya menghindari mengklaim dirinya sebagai orang yang berada dalam pihak yang benar, tapi dengan menunjukkan bukti sehingga orang lain bisa melihat kenyataan akan kebenaran islam. Dialog tersebut dimaksudkan untuk saling mengenal dan saling menimba pengetahuan tentang agama kepada mitra dialog. Dialog tersebut dengan sendirinya akan memperkaya wawasan kedua belah pihak dalam rangka mencari persamaan-persamaan yang dapat dijadikan landasan untuk hidup rukun dalam kehidupan bermasyarakat.

KESIMPULAN

Tasamuh dalam kehidupan beragama harus saling menghargai terhadap golongan yang beragama lain. Karena masing-masing individu berhak sesuai dengan kepercayaannya.

Untuk itu sebagai sesama makhluk ciptaan Allah swt harus saling menghargai hak-hak orang lain dengan menjaga kerukunan antar

umat beragama dan kerukunan umat islam dengan umat yang beragama lain.

Pendidikan multikultural merupakan pendidikan yang menjunjung tinggi HAM (Hak Asasi Manusia), menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Dalam pendidikan multikultural, tidak ada individu atau golongan yang paling baik atau paling unggul. Lebih jauh lagi, pendidikan multikultural tidak membenarkan adanya anggapan bahwa salah satu golongan manusia merasa paling benar, dan bahkan menganggap selainnya sama sekali salah. Perbedaan pemikiran atau pendapat, perbedaan kelas ekonomi atau kelas sosial, dan sampai kepada perbedaan suku, ras, budaya, dan lain sebagainya akan selalu menjadi pemicu konflik berkepanjangan jika tidak dikemas secara rapih. Pemikiran berparadigma eksklusif seperti di atas harus dirubah menjadi paradigma inklusif. Menjadikan toleransi sebagai pedoman dalam bersosial. Sikap menerima, bahwa orang lain berbeda dengan kita.

Pendidikan multikultural dapat disampaikan kepada peserta didik dengan penambahan materi pengajaran dalam mata pelajaran, seperti mata pelajaran pendidikan agama Islam dan pendidikan kewarganegaraan.

DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, Jakata: Kencana, 2008.

Alfat, Masan. Aqidah Akhlak Madrasah Aliyah. Semarang : PT. Karya Toha Putra. 1994.

As‟ad, Mahrus, dkk. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta:

PenerbitErlangga, 2009.

ChoirulMahfudz, Pendidikan Multikultural. Yogyakarta:

PustakaPelajar, 2014.

Rahmad Asril Pohan, Toleransi Inklusif: Menapak Jejak Sejarah Kebebasan Beragama Dalam Piagam Madinah, Yogyakarta:

Kaukaba Dipantara, 2014.

ZuhairiMisrawi, Alqur‟an Kitab Toleransi: TafsirTematik Islam RahmatanLil‟alamin, Jakarta: Grasindo, 2010.

Yaya Suryana dan Rusdiana, Pendidikan Multikultural: Suatu Upaya Penguatan Jati Diri Bangsa Konsep, Prinsip, dan Implementasi.

Jakarta :RinekaCipta, 2000.

ZakiyyuddinBaidhawy. Pendidikan Agama BerwawasanMultikulural.

Jakarta: PenerbitErlangga, 2005.

KONSEP MUSAWAH BERAGAMA DALAM MULTIAGAMA