KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Media Pembelajaran
B. Konsep Dasar Pembelajaran PPKn 1.Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan dan evaluasi. Dalam hal ini pembelajaran tidak terjadi seketika, melainkan sudah melalui tahapan rancangan. Belajar menurut Yuliani Nurani Sujiono (2010: 41) merupakan suatu proses perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari interaksi dengan sekolah maupun lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Proses pembelajaran dalam bentuk interaksi belajar mengajar dalam suatu interaksi edukatif, yaitu interaksi yang sadar akan tujuan, artinya interaksi yang telah dicanangkan untuk suatu tujuan tentu setidaknya adalah pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan pada satuan pelajaran.
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat (20) dinyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono (2006) sebagaimana dikutip oleh Mukhamad Murdiono (2012: 20-21) istilah pembelajaran merujuk pada terjadinya proses belajar mengajar. Belajar merupakan proses internal peserta didik dan pembelajaran merupakan kondisi eksternal peserta didik. Dilihat dari sisi peserta didik menurut Mukhamad
Murdiono (2012: 21), pembelajaran sebagai suatu proses yang kompleks merupakan kegiatan peningkatan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik, agar menjadi seseorang yang lebih baik. Kemampuan kognitif dapat berupa penguasaan peserta didik terhadap sejumlah pengetahuan atau informasi yang diperoleh melalui proses belajar. Komponen afektif mencerminkan nilai-nilai yang menjadi acuan bagi peserta didik dalam bersikap. Sementara kemampuan psikomotorik dapat berupa keterampilan atau perilaku yang dimiliki peserta didik (Mukhamad Murdiono, 2012: 21).
Merujuk pada teori kognitif yang mendasari pengembangan media pembelajaran, jelaslah bahwa belajar bukan hanya sekedar pengalaman atau hasil belajar tetapi yang lebih penting adalah bagaimana proses pencapaian tujuan belajar tersebut (Yuliani Nurani Sujiono, 2010: 41). Artinya belajar sebagai suatu proses merupakan kegiatan yang aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk usaha untuk mencapai tujuan (Yuliani Nurani Sujiono, 2010: 41).
Pembelajaran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran dapat dikatakan sebagai bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Selain itu pembelajaran adalah usaha sadar dari guru untuk membuat peserta didik belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri peserta didik yang belajar, dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama dan karena adanya usaha. Pembelajaran dalam penelitian ini mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan nilai yang baru.
2. Pengertian PPKn
Pengertian Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Menurut Mansoer sebagaimana dikutip oleh Muhamad Erwin (2013: 2) pada hakikatnya PPKn itu merupakan hasil dari sintesis antara civic education, democracy education, serta citizenship yang berlandaskan pada Filsafat Pancasila serta mengandung identitas nasional Indonesia serta materi muatan tentang bela negara. Selanjutnya menurut Muhamad Erwin (2013: 3) PPKn di Indonesia merupakan pendidikan kebangsaan dan kewarganegaraan yang berhadapan dengan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, demokrasi, HAM, dan cita-cita untuk
mewujudkan masyarakat madani Indonesia dengan menggunakan Filsafat Pancasila sebagai pisau analisisnya. Karena itu, program PPKn memuat konsep-konsep umum ketatanegaraan, politik dan hukum negara, serta teori umum yang lain yang cocok dengan target tersebut.
Maka secara garis besar PPKn dapat diartikan sebagai usaha persiapan generasi muda (peserta didik) untuk menjadi warga negara yang memiliki pengetahuan, kecakapan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakatnya. PPKn adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk mempersiapkan warga masyarakat yang partisipatif, berpikir kritis dan bertindak demokratis melalui suatu pendidikan yang dialogial.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat dikemukakan bahwa PPKn adalah suatu mata pelajaran yang merupakan satu rangkaian proses untuk mengarahkan peserta didik menjadi warga negara yang berkarakter bangsa Indonesia, cerdas, terampil, dan bertanggung jawab sehingga dapat berperan aktif dalam masyarakat sesuai dengan ketentuan Pancasila dan UUD 1945. Dalam penelitian ini pengertian PPKn diartikan sebagai suatu pendidikan politik yang bertujuan melatih peserta didik untuk berpikir kritis, analitis, bersikap dan bertindak demokratis, membina peranan warga negara dalam kehidupan bernegara sesuai ketentuan Pancasila dan UUD 1945 agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.
3. Tujuan PPKn
Secara umum tujuan ialah sesuatu yang ingin dicapai. Menurut penjelasan Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah untuk membentuk individu menjadi warga negara yang memiliki rasa kebangsaan, cinta tanah air serta memiliki tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dengan kata lain, PPKn diharapkan dapat membentuk warga negara yang memiliki nasionalisme serta tanggung jawab terhadap bangsa dan negara. Selanjutnya dijelaskan pula oleh Mukhamad Murdiono (2012: 49) bahwa tujuan dari Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan membekali peserta didik agar memiliki kemampuan untuk berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab serta bertindak cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Selain itu menurut Muhamad Erwin (2013: 7) esensi dari PPKn ini diarahkan sebagai pendidikan demokrasi untuk membentuk kecakapan partisipatif yang bermutu dan bertanggung jawab serta sekaligus dalam upaya untuk menjadikan warga negara yang baik dan demokratis. Dengan kata lain PPKn bertujuan membekali peserta didik untuk dapat berkembang secara positif dan demokratis berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila.
Selain itu tujuan dari Pendidikan Kewarganegaraan juga diatur dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Tujuannya adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
a. Berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.
b. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta anti-korupsi.
c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain.
d. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Mukhamad Murdiono, 2012: 48).
Dari tujuan yang dikemukakan di atas, diketahui bahwa tujuan PPKn memuat beberapa hal yang memuat nilai-nilai karakter. Untuk mencapai tujuan tersebut PPKn memiliki komponen-komponen yang diajukan oleh Branson (1999) yaitu pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), keterampilan kewarganegaraan (civic skill), dan karakter kewarganegaraan (civic disposition) (Mukhamad Murdiono, 2012: 35).
Berdasarkan pemaparan di atas dapat dikemukakan tujuan Pendidikan Pancasila dan Kewaranegaran dapat diartikan sebagai mata pelajaran yang fokus pada pembentukan warga negara yang memiliki keterampilan intelektual dengan pemikiran yang kritis dan analitis, keterampilan berpartisipasi dalam setiap kegiatan, bersikap dan bertindak demokratis serta
memiliki karakter kewarganegaraan yang kuat sehingga menjadikan warga negara yang cerdas dan berkarakter.
4. Ruang Lingkup PPKn
Ruang lingkup Pendidikan Kewarganegaraan diatur dalam Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Ruang Lingkup mata pelajaran PKn untuk pendidikan dasar dan menengah secara umum meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
a. Persatuan dan kesatuan bangsa, meliputi hidup rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, sumpah pemuda, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, partisipasi dalam pembelaan negara, sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, keterbukaan dan jaminan keadilan.
b. Norma, hukum dan peraturan, meliputi tertib dalam kehidupan keluarga, tata tertib di sekolah, norma yang berlaku di masyarakat, peraturan-peraturan daerah, norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem hukum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan internasional.
c. Hak Asasi Manusia, meliputi hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen nasional dan internasional HAM, pemajuan penghormatan dan perlindungan HAM.
d. Kebutuhan warga negara, meliputi hidup gotong royong, harga diri sebagai masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan
pendapat, menghargai keputusan bersama, prestasi diri, persamaan kedudukan warga negara.
e. Konstitusi negara, meliputi proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, hubungan dasar negara dengan konstitusi.
f. Kekuasaan dan politik, meliputi pemerintahan desa dan kecamatan, pemerintahan daerah dan otonomi, pemerintah pusat, demokrasi dan sistem politik, budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat madani, sistem pemerintahan, pers dalam masyarakat demokrasi.
g. Pancasila, meliputi kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai ideologi terbuka.
h. Globalisasi, meliputi globalisasi di lingkungannya, politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, dampak globalisasi, hubungan internasional dan organisasi internasional, dan mengevaluasi globalisasi (Mukhamad Murdiono, 2012: 50-52).
Berdasarkan ruang lingkup PKn di atas, diketahui bahwa materi yang ada dalam PPKn terdiri dari diantaranya tentang materi nilai-nilai, norma dan peraturan hukum yang mengatur perilaku warga negara, kehidupan demokratis, menghargai perbedaan, kebebasan mengeluarkan pendapat sehingga diharapkan peserta didik dapat mengamalkan materi tersebut dalam
kehidupan sehari-hari menjadi karakter pribadi yang melekat pada setiap individu peserta didik.
C. Sikap Demokratis dalam PPKn