BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
3. Konsep Dasar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Menurut
Permendikbud Nomor 68 Tahun 2013 tentang kerangka dasar struktur kurikulum Sekolah Menengah Pertama /Madrasah Tsanawiyah menyatakan
“pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan akademik melalui disiplin ilmu”. Kemendikbud (2013:9a) menyatakan adanya pendidikan dimaksudkan untuk “membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu”. Pendidikan menjadi penting bagi setiap individu untuk meningkatkan kemampuan dalam inteletual, berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan partisipasi dalam membangun kehidupan masyarakat. Suharyo dalam Heryatno (2008:14), “pendidikan dapat dipahami sebagai salah satu bentuk perwujudan iman yang saling berhubungan erat antara iman, pendidikan dan transformasi sosial” sehingga tidak hanya fokus pada intelektual saja tetapi perwujudan dalam kehidupan bermasyarakat.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 57 tahun 2014, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti adalah “usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh iman dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Agama Katolik”.
a. Hakikat Pendidikan Agama Katolik
Lokakarya tahun 1981 di Malino, Ujung Pandang dalam Setyakarjana (1981:31&194), melalui Pendidikan Agama Katolik di kelas mengajak murid untuk belajar menggumuli segi-segi hidup yang tak dapat dihindari oleh manusia, mampu bergumul dengan segi-segi hidup dirinya secara mendalam yang muncul
dalam perkembangannya. Guru Agama Katolik mengajak muridnya untuk memungkinkan belajar menggumuli (pola penalaran) segi-segi hidup dari iman, dengan begitu secara berkembang mampu berpikir. Pelajaran agama berputar dalam proses mengembangkan iman anak dari dalam (menumbuhkan dari dalam, memekarkan imannya), dan di lain pihak mau memberi pengetahuan (Kitab Suci, sejarah kudus, liturgi, dan sebagainya).
Heryatno (2008:22), Pendidikan Agama Katolik “dipahami sebagai proses pendidikan dalam iman yang diselenggarakan oleh Gereja, sekolah, keluarga, dan kelompok jemaat lainnya” yaitu membantu peserta didik untuk semakin beriman kepada Yesus dan mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam hidup peserta didik. Dapiyanta dalam Bunga Rampai (1995:70) juga mengungkapkan bahwa Pendidikan Agama Katolik di sekolah merupakan salah satu bentuk katekese yang mempunyai fungsi khas melaksanakan pendidikan iman agar orang beriman Kristen mencapai kedewasaan iman. Dapiyanta (2008:7) menegaskan bahwa Pendidikan Agama Katolik merupakan salah satu bentuk komunikasi iman yang meliputi seluruh aspek yaitu pengetahuan, pergumulan, dan penghayatan iman.
Dapiyanta dalam Bunga Rampai (1995:68), “Pendidikan Agama Katolik di sekolah bukan kepentingan Gereja, tetapi kepentingan negara”. Maka Pendidikan Agama Katolik diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 pasal 39 ayat 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa:
Pendidikan agama merupakan usaha memperkuat iman ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh pesera didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan menghormati agama lain dalam hubungan dengan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.
Pendidikan Agama Katolik bagian dari pendidikan Nasional dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 menyatakan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap dan kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 ditegaskan bahwa pendidikan agama bertujuan mengembangkan iman peserta didik agar mampu menghormati agama lainnya sehingga dapat saling menghormati dan menghargai guna menjaga kerukunan umat beragama.
Semakin ditegaskan pula bahwa bahwa tujuan pendidikan adalah perkembangan potensi peserta didik semakin beriman, taqwa, akhlak mulia, sehat hingga mampu bertanggungjawab.
Groome (2010:37), menyatakan Pendidikan Agama Kristen adalah
“kegiatan politis bersama para peziarah dalam waktu yang secara sengaja bersama mereka memberi perhatian pada kegiatan Allah di masa kini kita, pada cerita komunitas iman Kristen, dan visi Kerajaan Allah, benih-benih yang telah hadir di antara kita”. Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh iman dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Agama Katolik. Usaha tersebut dilakukan
dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain demi terciptanya kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti dijalankan sebagai proses komunikasi Iman. Proses tersebut meliputi kemampuan memahami, menginternalisasi dan menghayati iman yang terwujud secara dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya Pendidikan Agama menurut Riberu (2004:27), dikatakan “berhasil apabila dapat membantu dan sanggup mengembangkan sikap-sikap hidup orang beriman, yang senantiasa dibimbing oleh hati nurani dengan kesadaran moral yang tinggi bukan dapat mengalihkan banyak pengetahuan tentang agama”.
b. Tujuan Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti
Silabus Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti SMP revisi (2017:1) menyatakan bahwa Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti memiliki tujuan peserta didik memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap membangun hidup yang semakin beriman. Untuk dapat memiliki pengetahuan maka dapat dilakukan melalui aktivitas-aktivitas seperti mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengeveluasi dan mencipta. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas-aktivitas seperti mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji dan mencipta. Sikap dibentuk melalui kemampuan: menerima, menjalankan, menghargai, menghayati dan mengamalkan.
Menurut Gereja dalam buku Bunga Rampai (1995:69) yang ditulis oleh Dapiyanta, menyatakan fungsi Pendidikan Agama Katolik yaitu “sarana atau pelaksanaan pewartaan Kristus demi perubahan batin dan pembaharuan hidup
secara langsung bagi kaum muda baik di sekolah negeri maupun swasta Katolik”.
Heryatno (2008:23) menyatakan “tujuan Pendidikan Agama Katolik harus bersifat holistik, menyeluruh dalam arti mencakup seluruh aspek hidup beriman naradidik”. Artinya tujuan Pendidikan mencakup keseluruhan aspek sehingga tidak hanya fokus pada diri sendiri saja melainkan aktualisasi dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat luas.
c. Ruang Lingkup Bahan Pendidikan Agama Katolik
Silabus Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti revisi (2017:3), ruang lingkup pembelajaran dalam Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti mencakup empat aspek yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain.
Keempat aspek yang dibahas secara lebih mendalam sesuai tingkat kemampuan pemahaman peserta didik adalah:
Pribadi peserta didik
Membahas tentang diri sebagai laki-laki atau perempuan yang memiliki kemampuan dan keterbatasan, kelebihan dan kekurangan, yang dipanggil untuk membangun relasi dengan sesama serta lingkungannya sesuai dengan Tradisi Katolik.
Yesus Kristus
Membahas tentang pribadi Yesus Kristus yang mewartakan Allah Bapa dan Kerajaan Allah, seperti yang terungkap dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, agar peserta didik berelasi dengan Yesus Kristus dan meneladani-Nya.
Gereja
Membahas makna Gereja, agar peserta didik mampu mewujudkan kehidupan menggereja.
Masyarakat
Membahas tentang perwujudan iman dalam hidup bersama di tengah masyarakat sesuai dengan Tradisi Katolik.
d. Kurikulum 2013 1) Pengertian Kurikulum
Sanjaya dalam Yani (2014:6) mengungkapkan bahwa kurikulum merupakan
Sebuah dokumen perencanaan yang berisi tentang tujuan yang harus dicapai, isi materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan oleh siswa, strategi dan cara yang dapat dikembangkan, evaluasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang pencapaian tujuan, serta implementasi dari dokumen yang dirancang dalam bentuk nyata.
Hamalik (2007:91-92) menyatakan bahwa kurikulum merupakan “rencana tertulis” yang disusun guna mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan faktor-faktor yang perlu diperhatikan seperti perhatian terhadap perkembangan peserta didik dan lingkungan, kebutuhan dalam pembangunan nasional, perkembangan IPTEK, serta sesuai dengan jenjang masing-masing satuan pendidikan. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 mengungkapkan bahwa kurikulum merupakan “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
Kurikulum merupakan suatu perencanaan yang dimaksudkan agar peserta mencapai tujuan pendidikannya, memiliki kehidupan yang lebih baik, bermartabat dan bermanfaat bagi orang lain dan kehidupan secara keseluruhan. Atau dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan suatu pedoman dalam pendidikan dalam proses pembelajaran. Dan kurikulum berperan sangat penting dalam program pendidikan dan bagi pendidikan peserta didik. Sehingga tidak hanya pada satu kepentingan saja, tetapi saling seimbang dan melengkapi.
Yani (2014:xiii) menyatakan bahwa “kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang bermaksud baik karena membentuk ekspresi dari semua keinginan yang baik untuk membentuk generasi terbaik bangsa Indonesia di masa yang akan datang”. Sunarti dan Rahmawati (2014:1) menyatakan “kurikulum 2013 memadukan tiga konsep yang menyeimbangkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Hardskill dan softskill harus seimbang dimulai dari Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian dapat diwujudkan”. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang bertujuan agar pendidikan di sekolah dapat meningkatkan keseluruhan aspek dari peserta didik.
Pengetahuan, sikap dan keterampilan sangat ditekankan tetap seimbang sehingga tidak hanya meningkatkan aspek pengetahuan saja, melainkan juga aspek kreativitas ditengah kemajuan teknologi saat ini.
2) Prinsip Pengembangan Kurikulum
Zulfikri & Akhmad (2014:126-130) menyatakan prinsip pengembangan kurikulum sebagai berikut:
a) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik : setiap siswa dibimbing dan diarahkan untuk mampu mengembangkan potensi masing-masing sehingga menjadi manusia yang kompeten dalam bidangnya. Pengembangan potensi dapat dilakukan secara optimal apabila setiap siswa dibekali dengan kompetensi dasar yang memadai. Proses ini dilakukan melalui penciptaan iklim belajar yang menyerupai kehidupan nyata dengan penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi dimana pemanfaatan metode bervariasi tersebut bersifat fleksibel dan situasional, pengembangan alat proses evaluasi yang komprehensif mencakup semua aspek kemampuan dengan instrumen yang valid dan reliabel.
b) Beragam dan terpadu : Menyediakan layanan pembelajaran yang sesuai dengan keragaman karakteristik peserta didik dan potensi daerah.
Keterpaduan sumber dan bahan ajar diharapkan mampu membangun karakter peserta didik yang memiliki ilmu, akhlak, dan iman yang kuat.
c) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni : Mengembangkan bahan ajar dan metode yang aplikatif untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan dalam kehidupan sehubungan dengan perkembangan IPTEK yang dinamis. Bahan ajar dan proses pembelajaran dikemas dalam berbagai persoalan yang menantang peserta didik untuk mengeksplor kemampuannya.
d) Relevan dengan kebutuhan kehidupan : menciptakan suasana dan iklim pembelajaran yang dekat dengan realita kehidupan.
e) Menyeluruh dan berkesinambungan : Semua perangakat pembelajaran seperti perencanaan, pemanfaatan saran belajar, evaluasi dan bahan ajar disusun dan dikembangkan secara komprehensif.
f) Belajar sepanjang hayat : menerapkan paradigma pendidikan yang dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Menciptakan strategi dan iklim budaya belajar yang berlangsung sepanjang hayat.
3) Kriteria untuk menyeleksi materi kurikulum
Zulfikri & Akhmad (2014:130-131) menyatakan bahwa kriteria untuk menyeleksi materi yang perlu diajarkan sebagai berikut: sahih (valid), tingkat kepentingan, kebermanfaatan, layak dipelajari, menarik minat.
4) Prinsip Kurikulum 2013
Berdasarkan Permendikbud Nomor 70 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMK/MAK (2013:6-7), Kurikulum 2013 dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:
a) Menyeimbangkan antara pengembangan sikap spiritual, dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerjasama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik.
b) Peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar sebab sekolah merupakan bagian dari masyarakat.
c) Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya di sekolah dan masyarakat.
d) Memberi waktu yang cukup banyak untuk mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan.
e) Kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang kemudian dijabarkan dalam kompetensi dasar mata pelajaran.
f) Kompetensi inti kelas menjadi elemen (organizing elements) kompetensi dasar dan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti.
5) Tujuan Kurikulum 2013
Mulyasa (2013:65) mengungkapkan bahwa tujuan diadakannya perubahan kurikulum adalah untuk “melanjutkan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu”. Permendikbud Nomor 70 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMK/MAK (2013:7) menyebutkan “kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan efektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia”.
Kerangka Dasar Kurikulum 2013 Permendikbud Nomor 70 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMK/MAK (2013: 7-9) menyebutkan ada 3 landasan dalam pengembangan Kurikulum 2013. Landasan tersebut antara lain:
a) Landasan filosofis
(1) Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang.
(2) Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif.
(3) Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu.
(4) Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik.
b) Landasan teoritis
(1) Teori pendidikan berdasarkan standar (standard-based education).
Pendidikan berdasarkan standar menetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal warga negara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
(2) Teori kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum).
Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan untuk bersikap, berpengetahuan, berketerampilan, dan bertindak.
c) Landasan yuridis
(1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
(2) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
(3) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), serta semua ketentuan yang dituangkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
(4) Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang telah diubah dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
6) Prinsip pengembangan Kurikulum 2013
Menurut Balitbang Kemendikbud dalam Mulyasa (2013:81-82), sesuai dengan kondisi negara, kebutuhan masyarakat, dan perkembangan yang berlangsung dewasa ini, kurikulum 2013 memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) Pengembangan kurikulum dilakukan mengacu pada standar nasional pendidikan guna mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
b) Pengembangan kurikulum diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.
c) Mata pelajaran adalah wahana untuk mewujudkan pencapaian kompetensi.
d) Standar kompetensi lulusan dijabarkan mulai dari tujuan pendidikan nasional, kebutuhan masyarakat, negara, dan perkembangan zaman.
e) Standar isi dijabarkan dari standar kompetensi lulusan.
f) Standar proses dijabarkan dari standar isi.
g) Standar penilaian dijabarkan dari standar kompetensi lulusan, standar isi, dan standar proses.
h) Standar kompetensi lulusan dijabarkan ke dalam kompetensi inti.
i) Standar kompetensi lulusan dijabarkan ke dalam kompetensi inti.
j) Kompetensi inti dijabarkan ke dalam kompetensi dasar dikontekstualisasikan dalam suatu mata pelajaran.
k) Kurikulum satuan pendidikan dibagi menjadi kurikulum tingkat nasional, daerah, dan satuan pendidikan.
l) Proses pembelajaran dibuat interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif di kelas.
m) Penilaian hasil belajar berbasis proses dan produk.
n) Proses belajar menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach).
B. Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu skripsi yang berjudul “Persepsi Guru Sekolah Dasar Manchester terhadap Pembelajaran Kurikulum 2013” oleh Oktaviani Chandra Dewi (2015). Penelitian ini dilatabelakangi oleh penerapan kurikulum 2013 yang menimbulkan pro kontra antara guru yang menerima kebijakan tersebut dengan guru yang masih belum siap untuk menerapkannya dalam pembelajaran. Yang menganggap penerapan kurikulum bagus tetapi perangkat tidak mendukung dan kesiapan dari sumber daya manusia juga tidak mendukung, sehingga terkesan dipaksakan. Selain itu, pola pikir guru yang menganggap pembelajaran harus dilakukan diluar sehingga tidak bisa dilaksanakan didalam kelas secara sering. Media yang digunakan perlu buku, komputer, tanaman serta alat peraga lain dapat digunakan sebagai media.
Peneliti memberikan saran kepada guru untuk memfasilitasi siswa agar terlatih berpikir logis, sistematis dan ilmiah. Dengan meningkatkan keterampilan
guru dalam melaksanakan pembelajaran dan pendekatan yang saintifik.sehingga guru juga perlu dalam meningkatkan kemampuan dalam administrasi.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif.
Dengan metode penelitian kuantitatif deskriptif, maka peneliti melakukan pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, pengolahan data yang bersifat frekuentif serta statistik dan pemaparan data yang telah dianalisis (Sugiyono, 2015:14). Peneliti ini termasuk dalam penelitian pendidikan karena membahas tentang persepsi guru terhadap konsep dasar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti di sekolah.
B. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian ex post facto. Desain penelitian ex post facto digunakan untuk mengamati hubungan dari suatu kejadian yang terjadi secara alami tanpa adanya intervensi dari peneliti. Perlakuan pada penelitian ex post facto telah terjadi sebelum peneliti melakukannya. Peneliti sama sekali tidak melakukan kontrol terhadap administrasi dan perlakuan tersebut dan hanya menggambarkan “apa adanya” tentang sesuatu variabel (Arikunto, 2013:234)
C. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat : Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari 5 kabupaten
yakni Kulon Progo, Sleman, Bantul, Gunungkidul dan kota Yogyakarta
Waktu : Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April.
D. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian
Sugiyono (2015:117) mengungkapkan bahwa “populasi adalah subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Populasi dalam penelitian ini meliputi guru-guru yang mengajar di Sekolah Menengah Pertama provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terdiri dari 5 kabupaten yakni kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul. Alasan dipilihnya guru-guru karena mereka secara langsung mengalami pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti.
2. Sampel Penelitian
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling insidental. Sampling insidental merupakan teknik penentuan data sampel berdasarkan kebetulan yakni siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti dan dipandang sesuai sebagai sumber data maka dapat digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2013:124).
Dalam penelitian ini, anggota sampel yang digunakan merupakan guru-guru Pendidikan Agama Katolik yang ada di kota Yogyakarta, kabupaten Sleman,
kabupaten Bantul, kabupaten Kulon Progo, dan kabupaten Gunungkidul baik guru yang sudah diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun Guru Tidak Tetap (GTT). Dari keseluruhan jumlah guru Pendidikan Agama Katolik yang ada di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi sampel penelitian ini adalah guru-guru yang kebetulan hadir pada saat pelaksanaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) masing-masing kabupaten dan bersedia mengisi kuesioner yang disebarkan oleh penulis. Berikut hasil pengambilan sampel dari masing-masing kabupaten: kota Yogyakarta dengan jumlah 15 guru, kabupaten Sleman dengan jumlah 15 guru, kabupaten Bantul dengan jumlah 7 guru, kabupaten Gunung Kidul dengan jumlah 9 guru, dan kabupaten Kulon Progo dengan jumlah 14 guru. Jadi, jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 60 guru.
E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Identifikasi Variabel
Penelitian ini terdiri dari variabel tunggal, yakni persepsi guru Pendidikan Agama Katolik terhadap konsep dasar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai konsep dasar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti yang diukur melalui persepsi para guru. Dengan kata lain, konsep dasar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti menjadi stimulus yang menghasilkan persepsi dari guru Pendidikan Agama Katolik yang disebut sebagai respon.
2. Definisi Konseptual
Persepsi adalah pengintepretasian terhadap apa yang dilihat, didengar, maupun dirasakan oleh alat inderanya terhadap konsep dasar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti.
3. Definisi Operasional
Persepsi merupakan kesan yang bersifat positif atau negatif terhadap konsep dasar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut: rasionale Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti, kompetensi inti dan dasar, cakupan materi, pendekatan, dan evaluasi.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui penyebaran instrumen dalam bentuk kuesioner. Penyebaran kuesioner dilakukan dengan cara mendistribusikan kepada guru-guru pada saat pelaksanaan kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran pada setiap kabupaten dan disebarkan secara personal ke sekolah-sekolah bagi guru yang tidak hadir saat Musyawarah Guru Mata Pelajaran. Pengisian kuesioner tidak dilaksanakan pada hari pelaksanaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran namun dibawa oleh masing-masing guru.
Setelah kuesioner selesai diisi oleh responden, kemudian dikembalikan kepada peneliti pada hari yang sudah disepakati bersama.
5. Instrumen Penelitian
Arikunto (2013:101) mengungkapkan bahwa “instrumen merupakan alat bantu bagi peneliti di dalam menggunakan metode pengumpulan data”. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dengan skala bertingkat.
Penggunaan skala dalam kuesioner ini dimulai dari tingkat sangat rendah sampai sangat tinggi. sehingga responden memberikan tanda pada tingkat yang sesuai dengan keadaan yang dialami dan diamati (Dapiyanta, 2008:25)
Dalam instrumen ini, tertulis beberapa pernyataan mengenai konsep dasar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti. Rincian pernyataan variabel persepsi guru Penddikan Agama Katolik terhadap konsep dasar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti sebanyak 35 soal. Alternatif jawaban dari masing-masing soal yang dipilih oleh penulis adalah sangat rendah dan sangat
Dalam instrumen ini, tertulis beberapa pernyataan mengenai konsep dasar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti. Rincian pernyataan variabel persepsi guru Penddikan Agama Katolik terhadap konsep dasar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti sebanyak 35 soal. Alternatif jawaban dari masing-masing soal yang dipilih oleh penulis adalah sangat rendah dan sangat