BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teoritis
2.1.1 Konsep Dasar Perpajakan
2.1.1.1 Pengertian Pajak
Pajak adalah sebuah kontribusi wajib kepada negara terutang oleh setiap orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa tetapi tetap berdasarkan Undang-Undang yang tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Undang Undang Nomor 16 Tahun 2009, 2020)
Tax is one source of financing needed by the state to run the goverment. This tax collection has long existed - in the past the taxation was done through tribute collection based on the rules made by the kings/rulers without involving the taxpayers, unlike today where the rules are made both by the government and the people through their representatives (Subadriyah & Aliyah, 2018)
Pengertian pajak menurut Prof. Edwin R.A. Seligman dalam buku perpajakan indonesia (Waluyo, 2013) menyatakan :
“tax is compulsary contribution from the person, to the goverment todepray the expenses incured in the common interest of all, without reference to special benefit conferred”.
Dari definisi diatas, pajak adalah kontribusi wajib dari seseorang yang ditujukan kepada negara tanpa adanya manfaat yang ditujukan secara khusus pada seseorang. Dengan demikian halnya bahwa bagaimanapun juga pajak itu ditujukan manfaatnya kepada masyarakat.
Menurut (Mardiasmo, 2016)“Pajak merupakan iuran yang dibayarkan rakyat untuk dimasukan ke dalam kas negara yang dilaksanakan berdasarkan undang-undang, serta pelaksanaannya dapat dilapaksakan tanpa ada balas jasa”.
Dari definisi diatas, bahwa pajak memiliki unsur adalah sebagai berikut :
1. Iuran dari rakyat kepada negara, yang berhak memungut pajak hanyalah negara. Iuran tersebut berupa uang (bukan barang).
2. Berdasarkan undang-undang. Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.
3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.
4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran- pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
2.1.1.2 Fungsi Pajak
Fungsi pajak menurut (Resmi, 2017) memiliki fungsi utama adalah sebagai berikut :
1. Fungsi Anggaran (Budgetair)
Dalam fungsi budgetair ini pemungutan pajak bertujuan untuk memasukkan uang sebanyak-banyaknya ke dalam kas negara yang pada waktunya akan digunakan oleh pemerintah untuk membiayai pengeluaran negara baik untuk pengeluaran rutin dalam melaksanakan mekanisme pemerintahan maupun pengeluaran untuk membiayai pembangunan.
2. Fungsi Mengatur (Regulerend)
Pada lapangan perekonomian, pengaturan pajak memberikan dorongan kepada pengusaha untuk memperbesar produksinya, dapat juga memberikan keringanan atau pembesaran pajak pada para penabung dengan maksud menarik uang dari masyarakat dan menyalurkan antara lain ke sektor produktif.
3. Fungsi Stabilitas
Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan, hal ini bisa dilakukan antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan pajak yang efektif dan efisien.
4. Fungsi Redistribusi
Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai pembangunan sehingga dapat membuka kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
2.1.1.3 Hukum Pajak
Menurut (Ziski Aziz, 2016) hukum pajak mempunyai kedudukan di antara hukum-hukum sebagai berikut :
1. Hukum Perdata
Mengatur hubungan anatara saat individu dengan individu lainnya.
2. Hukum Publik
Mengatur antara pemerintah dengan rakyatnya.
Hukum ini dapat dirinci lagi sebagai berikut : - Hukum Tata Negara
- Hukum Tata Usaha (Hukum Administrasi) - Hukum pajak
- Hukum Pidana
2.1.1.4 Pengelompokan Pajak
Menurut (Waluyo, 2013) jenis pajak dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok adalah sebagai berikut :
1. Menurut Golongan atau Pembebanan, diantaranya : a. Pajak Langsung, adalah pajak yang
pembebanannya tidak dapat dilimpahkan pihak lain, tetapi harus menjadi beban langsung wajib pajak yang bersangkutan. Contoh : Pajak Penghasilan.
b. Pajak Tidak Langsung, adalah pajak yang pembebanannya dapat dilimpahkan kepada pihak lain. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai
2. Menurut Sifat dimaksudkan pembedaan dan pembagiannya berdasarkan cirri-ciri prinsip adalah sebagai berikut :
a. Pajak Subjektif, adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya yang selanjutnya dicari syarat objektifnya,dalam arti memperhatikan keadaan dari wajib pajak. Contoh : Pajak Penghasilan.
b. Pajak Objektif, adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
3. Menurut Pemungutan dan Pengelolanya, diantaranya : a. Pajak Pusat, adalah pajak yang dipungut oleh
pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, dan Bea Materai.
b. Pajak Daerah, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Contoh : Pajak reklame, Pajak hiburan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Bumi dan Bangunan sektor perkotaan dan pedesaan.
Beberapa teori pajak yang dikemukakan oleh Resmi, (2017)sebagai dasar pemungutan pajak adalah sebagai berikut :
1. Teori Asuransi
Teori ini menyatakan bahwa negara bertugas untuk melindungi orang dan segala kepentingannya, meliputi keselamatan dan keamanan jiwa, dan juga harta bendanya. Seperti halnya perjanjian asuransi (pertanggungan), untuk melindungi orang dan kepentingan tersebut diperlukan pembayaran premi.
2. Teori Kepentingan
Teori ini memperhatikan pembagian beban pajak yang harus dipungut dari seluruh penduduk. Pembagian beban ini berdasarkan atas kepentingan masing-masing orang dalam tugas pemerintah, termasuk perlindungan atas jiwa orang-orang itu beserta harta bendanya. Maka sudah sewajarnya biaya-biaya negara dibebankan kepada mereka.
3. Teori Gaya Pikul
Teori ini menekankan pada asas keadilan, bahwasannya pajak haruslah sama beratnya untuk setiap orang. Pajak harus dipungut berdasarkan gaya pikul seseorang yang dapat diukur berdasar besarnya penghasilan dan mempehitungkan besarnya pengeluaran atau pembelanjaan seseorang.
4. Teori Kewajiban Pajak Mutlak (Teori Bakti)
Teori ini mendasarkan pada paham Organische Staalseer yang mengajarkan bahwa karena sifat suatu negara maka timbulah hak yangmutlak untuk memungut pajak. Sebagai warna negara yang berbakti, menyadari bahwa suatu kewajiban untuk membuktikan tanda baktinya kepada negara dengan membayar pajak.
5. Teori Asas Gaya Beli
Teori ini mengajarkan bahwa penyelenggaraan kepentingan masayarakat inilahyang dapat dianggap sebagai dasar keadilan memungut pajak.
2.1.1.5 Sistem Pemungutan Pajak
Sistem Pemungutan Pajak berdasarkan (Resmi, 2017) dapat dipaparkan dengan cara dibagi 3 bagian yaitu :
1. Official Assessment System
Dalam sistem ini pemerintah memberikan tanggung jawab kepada petugas pajak untuk melakukan pemungutan pajak. Petugas pajak tersebut melakukan perhitungan jumlah pajak yang harus dibayar wajib pajak setiap tahunnya sesuai dengan aturan pajak yang berlaku saat ini. Dengan demikian, berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan pajak banyak tergantung pada aparatur perpajakan (peranan dominan ada pada aparatur perpajakan).
2. Self Assessment System
Dalam sistem ini pemungutan pajak difokuskan pada wajib pajak itu sendiri. Wajib pajak disini diberikan kepercayaan untuk menetapkan jumlah pajak yang harus dibayarkan atau jumlah pajak yang terutang untuk setiap tahunnya sesuai aturan yang berlaku dalam perundang-undangan. Wajib pajak dianggap mampu untuk mengerjakan sendiri mulai dari menghitung sampai melaporkan pajaknya.
3. With Holding System
Dalam sistem ini pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga yang ditunjuk untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan, keputusan presiden, dan peraturan lainya untuk memotong dan memungut pajak, menyetor, dan mempertanggungjawabkan melalui saran perpajakan yang tersedia.