BAB I PENDAHULUAN
1.5 Manfaat Penelitian
Dalam melakukan suatu penelitian pasti akan memberikan manfaat, adapun manfaat dalam penelitian ini adalah :
1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai bahan perkembangan ilmu pengetahuan dalam mata kuliah perpajakan terkhususnya bagi Program Studi Akuntansi yang mengambil peminatan perpajakan agar mempelajari mengenai SPT Tahunan.
b. Untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai perpajakan, terutama agar lebih memahami tentang Tingkat Kepatuhan Pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Badan Di KPP Pratama Medan Petisah.
2. Manfaat Praktisi
Sebagai bahan kajian untuk meningkatkan kinerja KPP Pratama Medan Petisah dalam meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak Badan atas pelaporan SPT Tahunan.
9
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teoritis
2.1.1 Konsep Dasar Perpajakan
2.1.1.1 Pengertian Pajak
Pajak adalah sebuah kontribusi wajib kepada negara terutang oleh setiap orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa tetapi tetap berdasarkan Undang-Undang yang tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Undang Undang Nomor 16 Tahun 2009, 2020)
Tax is one source of financing needed by the state to run the goverment. This tax collection has long existed - in the past the taxation was done through tribute collection based on the rules made by the kings/rulers without involving the taxpayers, unlike today where the rules are made both by the government and the people through their representatives (Subadriyah & Aliyah, 2018)
Pengertian pajak menurut Prof. Edwin R.A. Seligman dalam buku perpajakan indonesia (Waluyo, 2013) menyatakan :
“tax is compulsary contribution from the person, to the goverment todepray the expenses incured in the common interest of all, without reference to special benefit conferred”.
Dari definisi diatas, pajak adalah kontribusi wajib dari seseorang yang ditujukan kepada negara tanpa adanya manfaat yang ditujukan secara khusus pada seseorang. Dengan demikian halnya bahwa bagaimanapun juga pajak itu ditujukan manfaatnya kepada masyarakat.
Menurut (Mardiasmo, 2016)“Pajak merupakan iuran yang dibayarkan rakyat untuk dimasukan ke dalam kas negara yang dilaksanakan berdasarkan undang-undang, serta pelaksanaannya dapat dilapaksakan tanpa ada balas jasa”.
Dari definisi diatas, bahwa pajak memiliki unsur adalah sebagai berikut :
1. Iuran dari rakyat kepada negara, yang berhak memungut pajak hanyalah negara. Iuran tersebut berupa uang (bukan barang).
2. Berdasarkan undang-undang. Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.
3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.
4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran- pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
2.1.1.2 Fungsi Pajak
Fungsi pajak menurut (Resmi, 2017) memiliki fungsi utama adalah sebagai berikut :
1. Fungsi Anggaran (Budgetair)
Dalam fungsi budgetair ini pemungutan pajak bertujuan untuk memasukkan uang sebanyak-banyaknya ke dalam kas negara yang pada waktunya akan digunakan oleh pemerintah untuk membiayai pengeluaran negara baik untuk pengeluaran rutin dalam melaksanakan mekanisme pemerintahan maupun pengeluaran untuk membiayai pembangunan.
2. Fungsi Mengatur (Regulerend)
Pada lapangan perekonomian, pengaturan pajak memberikan dorongan kepada pengusaha untuk memperbesar produksinya, dapat juga memberikan keringanan atau pembesaran pajak pada para penabung dengan maksud menarik uang dari masyarakat dan menyalurkan antara lain ke sektor produktif.
3. Fungsi Stabilitas
Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan, hal ini bisa dilakukan antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan pajak yang efektif dan efisien.
4. Fungsi Redistribusi
Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai pembangunan sehingga dapat membuka kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
2.1.1.3 Hukum Pajak
Menurut (Ziski Aziz, 2016) hukum pajak mempunyai kedudukan di antara hukum-hukum sebagai berikut :
1. Hukum Perdata
Mengatur hubungan anatara saat individu dengan individu lainnya.
2. Hukum Publik
Mengatur antara pemerintah dengan rakyatnya.
Hukum ini dapat dirinci lagi sebagai berikut : - Hukum Tata Negara
- Hukum Tata Usaha (Hukum Administrasi) - Hukum pajak
- Hukum Pidana
2.1.1.4 Pengelompokan Pajak
Menurut (Waluyo, 2013) jenis pajak dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok adalah sebagai berikut :
1. Menurut Golongan atau Pembebanan, diantaranya : a. Pajak Langsung, adalah pajak yang
pembebanannya tidak dapat dilimpahkan pihak lain, tetapi harus menjadi beban langsung wajib pajak yang bersangkutan. Contoh : Pajak Penghasilan.
b. Pajak Tidak Langsung, adalah pajak yang pembebanannya dapat dilimpahkan kepada pihak lain. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai
2. Menurut Sifat dimaksudkan pembedaan dan pembagiannya berdasarkan cirri-ciri prinsip adalah sebagai berikut :
a. Pajak Subjektif, adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya yang selanjutnya dicari syarat objektifnya,dalam arti memperhatikan keadaan dari wajib pajak. Contoh : Pajak Penghasilan.
b. Pajak Objektif, adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
3. Menurut Pemungutan dan Pengelolanya, diantaranya : a. Pajak Pusat, adalah pajak yang dipungut oleh
pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, dan Bea Materai.
b. Pajak Daerah, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Contoh : Pajak reklame, Pajak hiburan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Bumi dan Bangunan sektor perkotaan dan pedesaan.
Beberapa teori pajak yang dikemukakan oleh Resmi, (2017)sebagai dasar pemungutan pajak adalah sebagai berikut :
1. Teori Asuransi
Teori ini menyatakan bahwa negara bertugas untuk melindungi orang dan segala kepentingannya, meliputi keselamatan dan keamanan jiwa, dan juga harta bendanya. Seperti halnya perjanjian asuransi (pertanggungan), untuk melindungi orang dan kepentingan tersebut diperlukan pembayaran premi.
2. Teori Kepentingan
Teori ini memperhatikan pembagian beban pajak yang harus dipungut dari seluruh penduduk. Pembagian beban ini berdasarkan atas kepentingan masing-masing orang dalam tugas pemerintah, termasuk perlindungan atas jiwa orang-orang itu beserta harta bendanya. Maka sudah sewajarnya biaya-biaya negara dibebankan kepada mereka.
3. Teori Gaya Pikul
Teori ini menekankan pada asas keadilan, bahwasannya pajak haruslah sama beratnya untuk setiap orang. Pajak harus dipungut berdasarkan gaya pikul seseorang yang dapat diukur berdasar besarnya penghasilan dan mempehitungkan besarnya pengeluaran atau pembelanjaan seseorang.
4. Teori Kewajiban Pajak Mutlak (Teori Bakti)
Teori ini mendasarkan pada paham Organische Staalseer yang mengajarkan bahwa karena sifat suatu negara maka timbulah hak yangmutlak untuk memungut pajak. Sebagai warna negara yang berbakti, menyadari bahwa suatu kewajiban untuk membuktikan tanda baktinya kepada negara dengan membayar pajak.
5. Teori Asas Gaya Beli
Teori ini mengajarkan bahwa penyelenggaraan kepentingan masayarakat inilahyang dapat dianggap sebagai dasar keadilan memungut pajak.
2.1.1.5 Sistem Pemungutan Pajak
Sistem Pemungutan Pajak berdasarkan (Resmi, 2017) dapat dipaparkan dengan cara dibagi 3 bagian yaitu :
1. Official Assessment System
Dalam sistem ini pemerintah memberikan tanggung jawab kepada petugas pajak untuk melakukan pemungutan pajak. Petugas pajak tersebut melakukan perhitungan jumlah pajak yang harus dibayar wajib pajak setiap tahunnya sesuai dengan aturan pajak yang berlaku saat ini. Dengan demikian, berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan pajak banyak tergantung pada aparatur perpajakan (peranan dominan ada pada aparatur perpajakan).
2. Self Assessment System
Dalam sistem ini pemungutan pajak difokuskan pada wajib pajak itu sendiri. Wajib pajak disini diberikan kepercayaan untuk menetapkan jumlah pajak yang harus dibayarkan atau jumlah pajak yang terutang untuk setiap tahunnya sesuai aturan yang berlaku dalam perundang-undangan. Wajib pajak dianggap mampu untuk mengerjakan sendiri mulai dari menghitung sampai melaporkan pajaknya.
3. With Holding System
Dalam sistem ini pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga yang ditunjuk untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan, keputusan presiden, dan peraturan lainya untuk memotong dan memungut pajak, menyetor, dan mempertanggungjawabkan melalui saran perpajakan yang tersedia.
2.1.2 Wajib Pajak
2.1.2.1 Pengertian Wajib Pajak
Wajib Pajak adalah Orang Pribadi atau Badan yang menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan ditenkan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk peungutan pajak atau pemotongan pajak tersebut. Wajib Pajak Badan merupakan sekumpulan orang atau modal baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha seperti perseroan terbatas, perseroan komanditer, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Bentuk Usaha Tetap (BUT).(Pohan et al., 2019)
Wajib Pajak Badan seperti yang dimaksud pada UU KUP, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak dan pemungut pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, memiliki kewajiban subjektif dan kewajiban objektif serta telah mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
2.1.2.2 Kewajiban Wajib Pajak
Menurut (Mardiasmo, 2016) kewajiban Wajib Pajak antara lain :
1. Mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP
2. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP 3. Menghitung dan membayar sendiri pajak dengan benar
4. Mengisi dengan benar SPT (SPT diambil sendiri), dan memasukkan ke Kantor Pelayanan Pajak dalam batas waktu yang telah ditentukan.
5. Menyelenggarakan Pembukuan/ Pencatatan.
6. Jika diperiksa wajib :
a. Memperlihatkan dan atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak Badan, atau objek yang terutang pajak.
b. Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan.
7. Apabila dalam waktu mengungkapkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen serta keterangan yang diminta, Wajib Pajak terikat oleh suatu kewajiban untuk merahasiakan, maka kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan oleh permintaan untuk keperluan pemeriksaan.
2.1.2.3 Hak-Hak Wajib Pajak
Menurut (Mardiasmo, 2016) hak-hak wajib pajak sebagai berikut :
1. Mengajukan permohonan perhitungan pajak yang dikenakan dalam surat ketetapan pajak.
2. Menerima tanda bukti pemasukan SPT
3. Melakukan pembetulan SPT yang dimasukkan 4. Meminta pengembalian kelebihan pembayaran pajak 5. Meminta bukti pemotongan atau pemungutan pajak
2.1.3 Nomor Pokok Wajib Pajak
Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada wajib pajak sebagai sarana dalam adminitrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib
pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.
(Undang-Undang KUP Nomor 16 Tahun 2009 Pasal 1 Angka 6).
2.1.4 Kepatuhan Wajib Pajak
2.1.4.1 Pemgertian Kepatuhan Wajib Pajak
Kondisi perpajakan yang menuntut keikutsertaan aktif Wajib Pajak dalam menyelenggarakan perpajakannya membutuhkan kepatuhan Wajib Pajak yang tinggi, yaitu kepatuhan dalam pemenuhan kewajiban perpajakan yang sesuai dengan kebenarannya (Arifin & Nasution, 2017). Kepatuhan memenuhi kewajiban perpajakan secara sukarela (voluntary of complience) merupakan tulang punggung dari self assesment system, dimana Wajib Pajak bertanggung jawab menetapkan sendiri kewajiban perpajakan kemudian secara akurat dan tepat waktu dalam membayar dan melaporkan pajaknya.
Menurut (Rahayu, 2010) menyebutkan bahwa kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan tercermin dalam situasi dimana :
1. Wajib pajak paham atau berusaha untuk memahami ketentuan perundang-undangan perpajakan.
2. Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas.
3. Menghitung jumlah pajak yang terutang dengan benar.
4. Membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya.
Menurut Rahayu kepatuhan Wajib Pajak dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana Wajib Pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak
perpajakannya. Kepatuhan Wajib Pajak merupakan pemenuhan kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh pembayar pajak dalam rangka memberikan kontribusi bagi pembangunan, diharapkan didalam pemenuhannya diberikan secara sukarela. Kepatuhan wajib pajak menjadi aspek penting mengingat sistem perpajakan Indonesia menganut Self Assessment System.
Kepatuhan dapat meningkat apabila Wajib Pajak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai sistem perpajakan sesuai dengan undang-undang pajak yang berlaku, serta kesadaran akan pentingnya pajak bagi pembangunan Negara.
Kepatuhan Wajib Pajak menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 544/KMK.04/2000, yaitu suatu tindakan Wajib Pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan peraturan pelaksanaan perpajakan yang berlaku disuatu negara.
2.1.4.2 Jenis Kepatuhan Wajib Pajak
Menurut (Rahayu, 2010) jenis-jenis kepatuhan Wajib Pajak adalah :
1. Kepatuhan formal adalah suatu keadaan dimana Wajib Pajak memenuhi kewajiban secara formal sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang perpajakan.
2. Kepatuhan material adalah suatu keadaan dimana Wajib Pajak secara substantif/hakikatnya memenuhi semua ketentuan material perpajakan yaitu sesuai isi dan jiwa Undang-undang pajak kepatuhan material juga dapat meliputi kepatuhan formal. Misalnya ketentuan batas waktu pelaporan Surat Pemberitahuan Pajak
Penghasilan (SPT PPh) Tahunan tanggal 31 Maret.
Apabila Wajib Pajak telah melaporkan Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan Tahunan sebelum atau pada tanggal 31 Maret maka Wajib Pajak telah memenuhi ketentuan formal, akan tetapi isinya belum tentu memenuhi ketentuan material, yaitu suatu keadaan dimana Wajib Pajak secara subtantive memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yakni sesuai isi dan jiwa undang-undang perpajakan.
2.1.4.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Pajak Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak (Sari & Susanti, 2015) adalah sebagai berikut :
1. Pemahaman terhadap sistem self assessment 2. Kualitas pelayanan
3. Tingkat pendidikan 4. Tingkat penghasilan
5. Persepsi wajib pajak terhadap sanksi perpajakan.
2.1.5 Surat Pemberitahuan (SPT)
2.1.5.1 Pengertian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan
Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan merupakan yang digunakan Wajib Pajak untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak, kewajiban sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Fungsi dari surat pemberitahuan adalah untuk mengawasi penerimaan pajak. Oleh karena itu, kepatuhan penyampaian SPT oleh Wajib Pajak harus ditingkatkan agar pengawasan penerimaan pajak menjadi efektif. Kepatuhan penyampaian SPT dapat dilihat dari apakah SPT telah disampaikan oleh wajib pajak atau belum. Pengisian SPT harus benar, jelas, dan
dilengkapi dengan lampiran-lampirannya serta harus disampaikan sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan.
“According to Mardiasmo (2018), states that Tax Return (SPT) is a letter used by taxpayers to report the calculation of tax payments, tax objects or non-tax objects, and or assets and liabities in accordance with the provision of laws and regulations taxation”(Kemala et al., 2020)
Dari definisi diatas Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan penghitungan pembayaran pajak, objek pajak atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan.”
2.1.5.2 Fungsi Surat Pemberitahuan (SPT)
Menurut (Mardiasmo, 2016) fungsi Surat Pemberitahuan bagi Wajib Pajak Pajak Penghasilan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah pajak yang sebenarnya terhutang dan untuk melaporkan tentang :
1. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam 1 (satu) tahun pajak atau bagian tahun pajak.
2. Penghasilan yang merupakan objek pajak dan atau bukan objek pajak.
3. Harta dan Kewajiban.
4. Pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan atau pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 (satu) Masa Pajak, yang ditentukan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Bagi PKP adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang sebenarnya terutang. Bagi pemotong atau pemungut pajak adalah
sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkannya.
2.1.5.3 Jenis Surat Pemberitahuan (SPT)
Jenis SPT sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 9/PMK.03/2018 tentang Surat Pemberitahuan (SPT) yaitu :
1. SPT Tahunan Pajak Penghasilan, yaitu SPT untuk suatu tahan pajak atau bagian tahun pajak
2. SPT Masa, yaitu SPT untuk suatu masa pajak yang terdiri atas :
a. SPT Masa Pajak Penghasilan (PPh)
b. SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
c. SPT Masa PPN bagi pemungut PPN Baik jenis SPT tahunan maupun SPT Masa berbentuk :
1. Formulir kertas (hardcopy)
2. e-SPT yaitu data SPT wajib pajak dalam bentuk elektronik yang dibuat oleh wajib pajak demnagn menggunakan aplikasi e-SPT yang disediakan Direktorat Jenderal Pajak
2.1.5.4 Sanksi Terlambat atau Tidak Melaporkan SPT Tahunan
Menurut (Mardiasmo, 2016) jika Wajib Pajak tidak melaporkan SPT sesuai batas waktu yang ditentukan maka akan dikenakan sanksi sebagai berikut :
1. Apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan atau batas waktu perpanjangan pelaporan SPT Tahunan maka akan dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp. 1.000.000 untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan.
2. Wajib Pajak karena kealpaan tidak melaporkan SPT Tahunan atau melaporkan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara tidak dikenakan sanksi pidana apabila dilakukan pertama kali oleh Wajib Pajak dan Wajib Pajak tersebut wajib melunas kenaikan 200%
dari jumlah yang kurang dibayar.
3. Wajib Pajak dengan sengaja tidak melaporkan SPT sehingga menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara dipidana paling singkat 6 (enam) bulan penjara dan paling lama 6 (enam) tahun penjara dan denda paling sedikit dua kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang bayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak yang terutang yang tidak atau kurang bayar. Perundang-undangan yang berhubungan dengan perpajakan terus disempurnakan agar pajak dapat lebih diterima oleh masyarakat.
2.1.5.5 Pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT)
2. Melalui pos dengan bukti pengiriman surat;atau
3. Cara lain untuk melaporkan SPT dapat dilakukan antara sebagai berikut :
a. Melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir (perusahaan yang berbentuk badan hukum yang memberikan jasa pengiriman surat jenis tertentu termasuk pengiriman SPT ke Direktorat Jendral Pajak) dengan bukti pengiriman surat; atau
b. E-Filling melalui ASP (Application Service Provider)
ASP atau penyedia jasa aplikasi ini sebagai perusahaan penyedia jasa aplikasi yang telah ditunjuk dengan Keputusan Direktur Jendral Pajak sebagai perusahaan yang dapat menyalurkan pelaporan SPT atau pemberitahuan perpanjangan SPT Tahunan secara elektronik ke Direktorat Jendral Pajak.
Setiap SPT yang disampaikan oleh Wajib Pajak diperlukan tanda penerimaan surat (tanda terima) atau bukti penerimaan SPT, tetapi juga mengikuti cara pelaporan SPT. Terhadap SPT yang disampaikan : Secara langsung, akan diberikan tanda penerimaan surat melalui Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) Kantor Pelayanan Pajak. Dan melalui pos dengan bukti pengiriman surat tersebut.
2.1.6 Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, antara lain dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
Nama Peneliti Judul Penelitian Hasil penelitian Santa Veronika kepatuhan wajib pajak badan di kota Wamena belum sesuai, dikarenakan relatif sedikit yang mendaftarkan diri untukmemliki NPWP, wajib pajak badan masih sedikit yang dapat menghitung pajak terutang dengan benar.
Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kepatuhan wajib pajak sebelum dan sesudah penerapan program e-SPT dalam melaporkan SPT Masa PPN karena wajib pajak lebih banyak memilih untuk menyampaikan SPT secara manual daripada secara elektronik (e-SPT). Namun penerapan program e-SPT telah cukup efektif dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak karena wajib pajak yang menggunakan e-SPT lebih patuh daripada wajib pajak yang menyampaikan SPT secara manula pada KPP Pratama Medan Petisah Cesi Minarti
Hasil penelitian menunjukan masih banyak wajib pajak badan yang tidak menyampaikan bahkan lebih banyak yang tidak menyampaikan daripada yang menyampaikan SPT tahunan badan pada KPP Pratama Medan Kota. Disebabkan karena kurangnya tingkat pemahaman wajib pajak dalam penyampaian SPT tahunan, kelalaian wajib pajak dalam meyampaikan SPT tahunan sehingga menyebabkan penerimaan pajak penghasilan menuru dan tidak mencapai target.
Erlina Sari
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa jika dilihat dari 2014-2017 jumlah wajib pajak perusahaan meningkat setiap tahun. Peningkatan jumlah wajib pajak perusahaan menunjukkan bahwa potensi penerimaan pajak penghasilan perusahaan akan meningkat setiap tahun. Target dan penerimaan kenaikan pajak penghasilan badan.
Pada 2014-2015 penerimaan pajak mencapai target yang ditetapkan. Hanya saja pada 2016- 2017 dengan target yang lebih tinggi Realisasi Pendapatan pajak penghasilan perusahaan tidak mencapai target yang ditentukan. Upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan penerimaan pajak Penghasilan di kantor pelayanan Pajak Pratama (KPP) Cilegon adalah melakukan sosialis asi, drop box, mengambil bola
Belia Natasya dan Ira Septriana (2020)
Tingkat Kepatuhan WP Badan Dalam Memenuhi Kewajiban Perpajakannya Melalui
Pemeriksaan Pajak, Kesadaran Dan Kualitas Pelayanan Pada KPP Pratama Semarang Barat
Hasil penelitian menunjukan bahwa pemeriksa pajak berpengaruh signifikan dan positif terhadap kepatuhan wajib pajak badan dalam memenuhi kewajiban pajakannya. Kesadaran wajib pajak berpengaruh signifikan dan positif terhadap kepatuhan wajib pajak badan dalam memenuhi kewajiban pajakannya. Kualitas pelayanan pajak signifikan dan positif terhadap kepatuhan wajib pajak badan dalam memenuhi kewajiban pajakny a. Pemeriksa, kesadaran, dan kualitas pelayanan bersama-sama berpengaruh pada timgkat kepatuhan wajib pajak.
Sumber : Data diolah
2.2 Model Brainware Analysis Awal
Model brainware analysis awal dalam penelitian ini adalah menggambarkan jawaban sementara peneliti terhadap rumusan masalah yang akan diteliti. Berikut peta (map) brainware analysis awal dalam penelitian ini adalah :
Gambar 2.1 Model Brainware Analysis Sumber : Data diolah menggunakan Aplikasi NVivo
Dari Gambar 2.1 Model Brainware Analysis diatas adalah menggambarkan jawaban sementara peneliti terhadap rumusan masalah yang akan diteliti tentang Analisis Tingkat Kepatuhan Pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Badan Di KPP Pratama Medan Petisah.
Jika dibandingkan dengan penelitian kualitatif model brainware analysis ini sama dengan hipotesis. Jadi peneliti mennggambarkan jawaban sementara dan dibuktikan dengan bukti-bukti yang bersifat sementara tetapi nyata. Untuk bukti-bukti tersebut diperoleh dari
Jika dibandingkan dengan penelitian kualitatif model brainware analysis ini sama dengan hipotesis. Jadi peneliti mennggambarkan jawaban sementara dan dibuktikan dengan bukti-bukti yang bersifat sementara tetapi nyata. Untuk bukti-bukti tersebut diperoleh dari