MEDAN PETISAH
PROPOSAL SKRIPSI
Oleh :
IKKE DWITIA SARI NIM. 1743000071
PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS POTENSI UTAMA MEDAN
2021
i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Tingkat Kepatuhan Peraporan SPT Tahunan Wajib Pajak Badan Di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Petisah” dengan baik.
Adapun penulisan skripsi ini guna memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Akuntansi program studi Akuntansi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Potensi Utama.
Selama proses menyusun skripsi ini penulis telah banyak mendapatkan bimbingan maupun bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Emi Masyitah, S.Pd., M.Ak., selaku Dosen Pembimbing dan Ketua Prodi Akuntansi yang telah meluangkan waktunya untuk memberi arahan dan masukan yang berguna kepada penulis dalam penulisan skripsi ini hingga selesai.
2. Ibu Hj. Nuriandy, BA, selaku Pembina Yayasan Potensi Utama Medan.
3. Bapak H. Bob Subhan Riza, ST, M.Kom, selaku Ketua Yayasan Potensi Utama Medan.
ii
4. Ibu Dr. Rika Rosnelly, S. Kom., M.Kom, selaku Rektor Universitas Potensi Utama.
5. Ibu Lili Tanti, M.Kom, selaku Wakil Rektor I Universitas Potensi Utama.
6. Bapak Alim Murtani, M.A, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Potensi Utama.
7. Ibu Citra Windy Lubis, S.E., M.Ak., selaku Dosen Penguji I 8. Ibu Erika Apulina Sembiring, S.Pd., M.Si, selaku Dosen Penguji II
9. Ibu Ina Liswanty, S.E., M.Ak., selaku Dosen Akuntansi di Universitas Potensi Utama.
10. Kepada Orang Tua dan keluarga penulis yang telah membimbing serta memberikan dorongan dan bantuan materil sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
11. Kepada teman-teman seperjuangan Kelas AK Malam B Stambuk 2017, dan teman-teman seperjuangan di Universitas Potensi Utama yang sama- sama berjuang menyelesaikan skripsi ini.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini agar lebih bermanfaat bagi penulis dan bagi kita semua.
Medan, 14 Juni 2021 Penulis,
Ikke Dwitia Sari 1743000071
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Fokus Masalah ... 7
1.4 Tujuan Penelitian ... 7
1.5 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 9
2.1 Kajian Teoritis ... 9
2.1.1 Konsep Dasar Perpajakan ... 9
2.1.1.1 Pengertian Pajak ... 9
2.1.1.2 Fungsi Pajak ... 11
2.1.1.3 Hukum Pajak ... 12
2.1.1.4 Pengelompokan Pajak ... 12
2.1.1.5 Sistem Pemungutan Pajak ... 14
2.1.2 Wajib Pajak ... 15
2.1.2.1 Pengertian Wajib Pajak ... 15
2.1.2.2 Kewajiban Wajib Pajak ... 15
iv
2.1.2.3 Hak-Hak Wajib Pajak ... 16
2.1.3 Nomor Pokok Wajib Pajak... 16
2.1.4 Kepatuhan Wajib Pajak ... 17
2.1.4.1 Pemgertian Kepatuhan Wajib Pajak ... 17
2.1.4.2 Jenis Kepatuhan Wajib Pajak ... 18
2.1.4.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Pajak... 19
2.1.5 Surat Pemberitahuan (SPT) ... 19
2.1.5.1 Pengertian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan ... 19
2.1.5.2 Fungsi Surat Pemberitahuan (SPT) ... 20
2.1.5.3 Jenis Surat Pemberitahuan (SPT) ... 21
2.1.5.4 Sanksi Terlambat atau Tidak Melaporkan SPT Tahunan ... 22
2.1.5.5 Pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) ... 23
2.1.6 Penelitian Terdahulu ... 24
2.2 Model Brainware Analysis Awal ... 26
BAB III METODE PENELITIAN ... 28
3.1 Alasan Pemilihan Pendekatan Kualitatif ... 28
3.2 Prosedur Penelitian ... 29
3.2.1. Tahap Penentuan Topik... 30
3.2.2. Tahap Penentuan Rumusan Masalah ... 30
3.2.3. Tahap Pengumpulan Kajian Pustaka ... 30
3.2.4. Tahap pengumpulan Data ... 31
3.2.5. Tahap Analisis Data ... 31
3.2.6. Tahap Penarikan Kesimpulan ... 33
v
3.3 Objek Penelitian ... 34
3.4 Instrumen Penelitian ... 34
3.5 Jenis Data ... 35
3.6 Sumber Data ... 35
3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 36
3.8 Teknik Analisis Data ... 37
3.9 Pengujian Keabsahan Data ... 41 DAFTAR PUSTAKA
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Data Pelaporan SPT Tahunan WP Badan ... 5 Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 24
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Model Brainware Analysis ... 26 Gambar 3.1 Prosedur Penelitian ... 29 Gambar 3.2 Triangulasi Teknik Pengumpulan Data ... 42
viii
DAFTAR LAMPIRAN
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia melakukan pembangunan nasional di setiap sektor seperti pembangunan di sektor ekonomi, sosial, budaya dan lainnya. Untuk mendukung pembangunan nasional tersebut tentu peranan penerimaan negara menjadi sangat penting. Pajak adalah salah satu penerimaan negara yang terbesar mengambil peranan dalam mendukung proses pembangunan nasional. Untuk mewujudkan pembangunan nasional ke arah masyarakat yang adil dan makmur maka diperlukan peran aktif dari masyarakat dalam membiayai pembangunan yang diwujudkan dalam pembayaran dan pelaporan pajak.
Pengertian pajak menurut Prof. Edwin R.A. Seligman dalam buku perpajakan indonesia (Waluyo, 2013) menyatakan :
“tax is compulsary contribution from the person, to the goverment todepray the expenses incured in the common interest of all, without reference to special benefit conferred”.
Dari definisi diatas, pajak adalah kontribusi wajib dari seseorang yang ditujukan kepada negara tanpa adanya manfaat yang ditujukan secara khusus pada seseorang. Dengan demikian halnya bahwa bagaimanapun juga pajak itu ditujukan manfaatnya kepada masyarakat.
Menurut (Mardiasmo, 2016)“Pajak merupakan iuran yang dibayarkan rakyat untuk dimasukan ke dalam kas negara yang dilaksanakan berdasarkan undang-undang, serta pelaksanaannya dapat dilapaksakan tanpa ada balas jasa”.
Berdasarkan definisi tersebut biasa dikatakan bahwa pajak tidak hanya digunakan untuk membiaya tugas-tugas dan aktivitas kenegaraan pemerintah melainkan juga digunakan untuk membayar pengeluaran umum yang mempunyai kaitan langsung dengan masyarakat seperti penyediaan fasilitas umum. Mengingat begitu pentingnya peran pajak dalam perekonomian Indonesia, maka pemerintah terus menyuarakan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak.
Pajak merupakan fenomena dan permasalah yang sangat kompleks bagi masyarakat dan pemerintah saat ini (Primadhany & Puspaningsih, 2018). Rakyat yang ikut serta dalam pembayaran pajak, setiap wajib pajak harus melaporkan pajak yang sudah dibayar atau dipotong. Wajib Pajak adalah Orang Pribadi atau Badan yang menurut ketentuan perundang- undangan perpajakan ditenkan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk peungutan pajak atau pemotongan pajak tersebut. Wajib Pajak Badan merupakan sekumpulan orang atau modal baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha seperti perseroan terbatas, perseroan komanditer, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha
Milik Daerah (BUMD) dan Bentuk Usaha Tetap (BUT)(Pohan et al., 2019)
Kepatuhan Wajib Pajak adalah Wajib Pajak tidak terlambat saat memberikan SPT, tidak memiliki hutang pajak, memiliki laporan keuangan yang telah diaudit akuntan publik, dan belum pernah mendapatkan pidana, dalam rangka melaksanakan tanggung jawab dan memenuhi hak perpajakannya. Tingkat kepatuhan adalah perpindahan kerelaan Wajib Pajak untuk menuntaskan tanggung jawab pajaknya dari kondisi awal menuju fase yang lebih bagus ataupun sebaliknya. Kepatuhan Wajib Pajak merupakan aspek krusial di dalam mewujudkan target penerimaan pajak. Makin tinggi Kepatuhan Wajib Pajak, penerimaan pajak juga semakin bertambah, dan sebaliknya.
Surat Pemberitahuan Tahunan merupakan yang digunakan Wajib Pajak untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak, kewajiban sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Fungsi dari surat pemberitahuan adalah untuk mengawasi penerimaan pajak. Oleh karena itu, kepatuhan pelaporan SPT oleh Wajib Pajak harus ditingkatkan agar pengawasan penerimaan pajak menjadi efektif. Kepatuhan penyampaian SPT dapat dilihat dari apakah SPT telah disampaikan oleh wajib pajak atau belum. Pengisian SPT harus benar, jelas, dan dilengkapi dengan lampiran-lampirannya serta harus disampaikan sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan.
Ditengah pandemi Covid-19 sekarang ini tentu mempengaruhi penerimaan pajak. Kondisi perekonomian di Indonesia yang belum stabil mempengaruhi banyak aspek. Perusahaan mengalami penurunan pendapatan, kesempatan kerja menurun, pendapatan masyarakat menurun.
Kesadaran wajib pajak dalam kewajiban perpajakannya berpengaruh.
Berdasarkan (DDTC, 2021) ada beberapa faktor yang membuat kepatuhan wajib pajak badan tahun lalu mengalami penurunan bila dibandingkan dengan capaian tahun 2019. Kepatuhan formal wajib pajak badan tahun lalu tercatat hanya 60,17%, lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2019 yang 65,28%. Momen pelaporan SPT (Surat Pemberitahuan) Tahunan bebarengan dengan merebaknya pandemi dan PSBB yang langsung diberlakukan. Pengusaha kaget dan tidak ada yang siap ketika tiba-tiba seluruh aktivitas kantor atau pekerjaan dihentikan Selain itu, banyak pula wajib pajak badan yang mengalami masalah dari sisi arus kas atau cashflow. Pengusaha yang tidak memiliki laba ditahan atau dana darurat pun menghadapi dilema, apakah bertahan atau membayar pajak.
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Petisah merupakan kantor pajak yang melayani wajib pajak pribadi dan wajib pajak badan.
Dalam hal ini peneliti ingin melakukan penelitian tentang tingkat kepatuhan pelaporan SPT tahunan wajib pajak badan di KPP Pratama Medan Petisah.
Berikut data tentang jumlah wajib pajak badan yang terdaftar yang melaporkan SPT tahunan dan yang tidak melaporkan SPT tahunan dari tahun 2016-2020.
Tabel 1.1
Data Pelaporan SPT Tahunan WP Badan KPP Pratama Medan Petisah
Tahun
Jumlah WP Badan
Yang Terdaftar
WP Badan Yang Melaporkan
SPT
WP Badan Yang Tidak Melaporkan
SPT
Presentase Melaporkan
Presentase Tidak Melaporkan
2016 13.107 2.981 10.126 22,74% 77,26%
2017 13.737 3.195 10.542 23,25% 76,75%
2018 14.409 3.365 10.355 23,35% 76,65%
2019 14.888 3.349 11.060 22,49% 77,51%
2020 15.854 1.343 14.511 8,47% 91,53%
Sumber : KPP Pratama Medan Petisah
Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa jumlah persentase Wajib Pajak Badan yang melaporkan SPT Tahunan pada tahun 2016 sebesar 22,74% dan pada tahun 2017 sebesar 23,25% berarti persentase Wajib Pajak Badan yang melaporkan hanya mengalami kenaikan 0,51 %. Pada tahun 2017 persentase yang melaporkan sebesar 23,25% dan pada tahun 2018 sebesar 23,35% berarti persentase Wajib Pajak Badan yang melaporkan mengalami kenaikan sebesar 0,1%. Jumlah persentase Wajib Pajak Badan yang melaporkan pada tahun 2018 sebesar 23,35% dan pada tahun 2019 sebesar 22,49% berarti persentase Wajib Pajak Badan mengalami penurunan sebesar 0,76%. Jumlah persentase Wajib Pajak Badan yang melaporkan pada tahun 2019 sebesar 22,49% dan pada tahun
2020 sebesar 8,47% berarti mengalami penurunan sebesar 14,02%. Dapat disimpulkan bahwa jumlah rata-rata Wajib Pajak Badan yang melaporkan SPT Tahunan masih sangat kurang dari 50%.
Upaya untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak Badan belum maksimal. Karena masih ada Wajib Pajak Badan yang tidak memenuhi kewajibannya. Direktorat Jenderal Pajak menyatakan bahwa
“semakin tinggi tingkat rasio penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan menunjukan semakin meningkatnya tingkat kepatuhan wajib pajak”, (Aris, 2010).Banyaknya jumlah wajib pajak yang terlambat dan tidak melaporkan SPT sangat mengkhawatirkan karena dengan tidak melaporkan SPT menandakan bahwa wajib pajak tersebut tidak memenuhi kewajibannya untuk menghitung dan membayar pajak terutangnya.
Dari fenomena yang telah dipaparkan diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian di KPP Pratama Medan Petisah dengan judul
“Analisis Tingkat Kepatuhan Pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Badan Di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Petisah”
1.2 Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang masalah penelitian diatas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah :
1. Bagaimana tingkat kepatuhan Wajib Pajak Badan dalam pelaporan SPT Tahunan di KPP Pratama Medan Petisah?
2. Apa upaya yang dilakukan KPP Pratama Medan Petisah untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak badan dalam melaporkan SPT tahunan ?
1.3 Fokus Masalah
Fokus masalah bertujuan untuk memperjelas arah dan tujuan dari suatu masalah yang akan diteliti sehingga tidak menimbulkan kesalah pahaman. Penulis membatasi fokus masalah yang akan diteliti hanya Analisis Tingkat Kepatuhan Pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Badan tahun pajak 2016-2020 Di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Petisah.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penulis dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai brikut :
1. Untuk mengetahui dan menganalisis tingkat kepatuhan Wajib Pajak Badan dalam pelaporan SPT Tahunan di KPP Pratama Medan Petisah
2. Untuk mengetahui bagaimana upaya yang dilakukan KPP Pratama Medan Petisah untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak badan dalam melaporkan SPT tahunan
1.5 Manfaat Penelitian
Dalam melakukan suatu penelitian pasti akan memberikan manfaat, adapun manfaat dalam penelitian ini adalah :
1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai bahan perkembangan ilmu pengetahuan dalam mata kuliah perpajakan terkhususnya bagi Program Studi Akuntansi yang mengambil peminatan perpajakan agar mempelajari mengenai SPT Tahunan.
b. Untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai perpajakan, terutama agar lebih memahami tentang Tingkat Kepatuhan Pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Badan Di KPP Pratama Medan Petisah.
2. Manfaat Praktisi
Sebagai bahan kajian untuk meningkatkan kinerja KPP Pratama Medan Petisah dalam meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak Badan atas pelaporan SPT Tahunan.
9
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teoritis
2.1.1 Konsep Dasar Perpajakan
2.1.1.1 Pengertian Pajak
Pajak adalah sebuah kontribusi wajib kepada negara terutang oleh setiap orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa tetapi tetap berdasarkan Undang-Undang yang tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Undang Undang Nomor 16 Tahun 2009, 2020)
Tax is one source of financing needed by the state to run the goverment. This tax collection has long existed - in the past the taxation was done through tribute collection based on the rules made by the kings/rulers without involving the taxpayers, unlike today where the rules are made both by the government and the people through their representatives (Subadriyah & Aliyah, 2018)
Pengertian pajak menurut Prof. Edwin R.A. Seligman dalam buku perpajakan indonesia (Waluyo, 2013) menyatakan :
“tax is compulsary contribution from the person, to the goverment todepray the expenses incured in the common interest of all, without reference to special benefit conferred”.
Dari definisi diatas, pajak adalah kontribusi wajib dari seseorang yang ditujukan kepada negara tanpa adanya manfaat yang ditujukan secara khusus pada seseorang. Dengan demikian halnya bahwa bagaimanapun juga pajak itu ditujukan manfaatnya kepada masyarakat.
Menurut (Mardiasmo, 2016)“Pajak merupakan iuran yang dibayarkan rakyat untuk dimasukan ke dalam kas negara yang dilaksanakan berdasarkan undang-undang, serta pelaksanaannya dapat dilapaksakan tanpa ada balas jasa”.
Dari definisi diatas, bahwa pajak memiliki unsur adalah sebagai berikut :
1. Iuran dari rakyat kepada negara, yang berhak memungut pajak hanyalah negara. Iuran tersebut berupa uang (bukan barang).
2. Berdasarkan undang-undang. Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.
3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.
4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran- pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
2.1.1.2 Fungsi Pajak
Fungsi pajak menurut (Resmi, 2017) memiliki fungsi utama adalah sebagai berikut :
1. Fungsi Anggaran (Budgetair)
Dalam fungsi budgetair ini pemungutan pajak bertujuan untuk memasukkan uang sebanyak- banyaknya ke dalam kas negara yang pada waktunya akan digunakan oleh pemerintah untuk membiayai pengeluaran negara baik untuk pengeluaran rutin dalam melaksanakan mekanisme pemerintahan maupun pengeluaran untuk membiayai pembangunan.
2. Fungsi Mengatur (Regulerend)
Pada lapangan perekonomian, pengaturan pajak memberikan dorongan kepada pengusaha untuk memperbesar produksinya, dapat juga memberikan keringanan atau pembesaran pajak pada para penabung dengan maksud menarik uang dari masyarakat dan menyalurkan antara lain ke sektor produktif.
3. Fungsi Stabilitas
Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan, hal ini bisa dilakukan antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan pajak yang efektif dan efisien.
4. Fungsi Redistribusi
Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai pembangunan sehingga dapat membuka kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
2.1.1.3 Hukum Pajak
Menurut (Ziski Aziz, 2016) hukum pajak mempunyai kedudukan di antara hukum-hukum sebagai berikut :
1. Hukum Perdata
Mengatur hubungan anatara saat individu dengan individu lainnya.
2. Hukum Publik
Mengatur antara pemerintah dengan rakyatnya.
Hukum ini dapat dirinci lagi sebagai berikut : - Hukum Tata Negara
- Hukum Tata Usaha (Hukum Administrasi) - Hukum pajak
- Hukum Pidana
2.1.1.4 Pengelompokan Pajak
Menurut (Waluyo, 2013) jenis pajak dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok adalah sebagai berikut :
1. Menurut Golongan atau Pembebanan, diantaranya : a. Pajak Langsung, adalah pajak yang
pembebanannya tidak dapat dilimpahkan pihak lain, tetapi harus menjadi beban langsung wajib pajak yang bersangkutan. Contoh : Pajak Penghasilan.
b. Pajak Tidak Langsung, adalah pajak yang pembebanannya dapat dilimpahkan kepada pihak lain. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai
2. Menurut Sifat dimaksudkan pembedaan dan pembagiannya berdasarkan cirri-ciri prinsip adalah sebagai berikut :
a. Pajak Subjektif, adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya yang selanjutnya dicari syarat objektifnya,dalam arti memperhatikan keadaan dari wajib pajak. Contoh : Pajak Penghasilan.
b. Pajak Objektif, adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
3. Menurut Pemungutan dan Pengelolanya, diantaranya : a. Pajak Pusat, adalah pajak yang dipungut oleh
pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, dan Bea Materai.
b. Pajak Daerah, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Contoh : Pajak reklame, Pajak hiburan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Bumi dan Bangunan sektor perkotaan dan pedesaan.
Beberapa teori pajak yang dikemukakan oleh Resmi, (2017)sebagai dasar pemungutan pajak adalah sebagai berikut :
1. Teori Asuransi
Teori ini menyatakan bahwa negara bertugas untuk melindungi orang dan segala kepentingannya, meliputi keselamatan dan keamanan jiwa, dan juga harta bendanya. Seperti halnya perjanjian asuransi (pertanggungan), untuk melindungi orang dan kepentingan tersebut diperlukan pembayaran premi.
2. Teori Kepentingan
Teori ini memperhatikan pembagian beban pajak yang harus dipungut dari seluruh penduduk. Pembagian beban ini berdasarkan atas kepentingan masing-masing orang dalam tugas pemerintah, termasuk perlindungan atas jiwa orang-orang itu beserta harta bendanya. Maka sudah sewajarnya biaya-biaya negara dibebankan kepada mereka.
3. Teori Gaya Pikul
Teori ini menekankan pada asas keadilan, bahwasannya pajak haruslah sama beratnya untuk setiap orang. Pajak harus dipungut berdasarkan gaya pikul seseorang yang dapat diukur berdasar besarnya penghasilan dan mempehitungkan besarnya pengeluaran atau pembelanjaan seseorang.
4. Teori Kewajiban Pajak Mutlak (Teori Bakti)
Teori ini mendasarkan pada paham Organische Staalseer yang mengajarkan bahwa karena sifat suatu negara maka timbulah hak yangmutlak untuk memungut pajak. Sebagai warna negara yang berbakti, menyadari bahwa suatu kewajiban untuk membuktikan tanda baktinya kepada negara dengan membayar pajak.
5. Teori Asas Gaya Beli
Teori ini mengajarkan bahwa penyelenggaraan kepentingan masayarakat inilahyang dapat dianggap sebagai dasar keadilan memungut pajak.
2.1.1.5 Sistem Pemungutan Pajak
Sistem Pemungutan Pajak berdasarkan (Resmi, 2017) dapat dipaparkan dengan cara dibagi 3 bagian yaitu :
1. Official Assessment System
Dalam sistem ini pemerintah memberikan tanggung jawab kepada petugas pajak untuk melakukan pemungutan pajak. Petugas pajak tersebut melakukan perhitungan jumlah pajak yang harus dibayar wajib pajak setiap tahunnya sesuai dengan aturan pajak yang berlaku saat ini. Dengan demikian, berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan pajak banyak tergantung pada aparatur perpajakan (peranan dominan ada pada aparatur perpajakan).
2. Self Assessment System
Dalam sistem ini pemungutan pajak difokuskan pada wajib pajak itu sendiri. Wajib pajak disini diberikan kepercayaan untuk menetapkan jumlah pajak yang harus dibayarkan atau jumlah pajak yang terutang untuk setiap tahunnya sesuai aturan yang berlaku dalam perundang-undangan. Wajib pajak dianggap mampu untuk mengerjakan sendiri mulai dari menghitung sampai melaporkan pajaknya.
3. With Holding System
Dalam sistem ini pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga yang ditunjuk untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan, keputusan presiden, dan peraturan lainya untuk memotong dan memungut pajak, menyetor, dan mempertanggungjawabkan melalui saran perpajakan yang tersedia.
2.1.2 Wajib Pajak
2.1.2.1 Pengertian Wajib Pajak
Wajib Pajak adalah Orang Pribadi atau Badan yang menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan ditenkan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk peungutan pajak atau pemotongan pajak tersebut. Wajib Pajak Badan merupakan sekumpulan orang atau modal baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha seperti perseroan terbatas, perseroan komanditer, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Bentuk Usaha Tetap (BUT).(Pohan et al., 2019)
Wajib Pajak Badan seperti yang dimaksud pada UU KUP, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak dan pemungut pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, memiliki kewajiban subjektif dan kewajiban objektif serta telah mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
2.1.2.2 Kewajiban Wajib Pajak
Menurut (Mardiasmo, 2016) kewajiban Wajib Pajak antara lain :
1. Mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP
2. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP 3. Menghitung dan membayar sendiri pajak dengan benar
4. Mengisi dengan benar SPT (SPT diambil sendiri), dan memasukkan ke Kantor Pelayanan Pajak dalam batas waktu yang telah ditentukan.
5. Menyelenggarakan Pembukuan/ Pencatatan.
6. Jika diperiksa wajib :
a. Memperlihatkan dan atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak Badan, atau objek yang terutang pajak.
b. Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan.
7. Apabila dalam waktu mengungkapkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen serta keterangan yang diminta, Wajib Pajak terikat oleh suatu kewajiban untuk merahasiakan, maka kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan oleh permintaan untuk keperluan pemeriksaan.
2.1.2.3 Hak-Hak Wajib Pajak
Menurut (Mardiasmo, 2016) hak-hak wajib pajak sebagai berikut :
1. Mengajukan permohonan perhitungan pajak yang dikenakan dalam surat ketetapan pajak.
2. Menerima tanda bukti pemasukan SPT
3. Melakukan pembetulan SPT yang dimasukkan 4. Meminta pengembalian kelebihan pembayaran pajak 5. Meminta bukti pemotongan atau pemungutan pajak
2.1.3 Nomor Pokok Wajib Pajak
Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada wajib pajak sebagai sarana dalam adminitrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib
pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.
(Undang-Undang KUP Nomor 16 Tahun 2009 Pasal 1 Angka 6).
2.1.4 Kepatuhan Wajib Pajak
2.1.4.1 Pemgertian Kepatuhan Wajib Pajak
Kondisi perpajakan yang menuntut keikutsertaan aktif Wajib Pajak dalam menyelenggarakan perpajakannya membutuhkan kepatuhan Wajib Pajak yang tinggi, yaitu kepatuhan dalam pemenuhan kewajiban perpajakan yang sesuai dengan kebenarannya (Arifin & Nasution, 2017). Kepatuhan memenuhi kewajiban perpajakan secara sukarela (voluntary of complience) merupakan tulang punggung dari self assesment system, dimana Wajib Pajak bertanggung jawab menetapkan sendiri kewajiban perpajakan kemudian secara akurat dan tepat waktu dalam membayar dan melaporkan pajaknya.
Menurut (Rahayu, 2010) menyebutkan bahwa kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan tercermin dalam situasi dimana :
1. Wajib pajak paham atau berusaha untuk memahami ketentuan perundang-undangan perpajakan.
2. Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas.
3. Menghitung jumlah pajak yang terutang dengan benar.
4. Membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya.
Menurut Rahayu kepatuhan Wajib Pajak dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana Wajib Pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak
perpajakannya. Kepatuhan Wajib Pajak merupakan pemenuhan kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh pembayar pajak dalam rangka memberikan kontribusi bagi pembangunan, diharapkan didalam pemenuhannya diberikan secara sukarela. Kepatuhan wajib pajak menjadi aspek penting mengingat sistem perpajakan Indonesia menganut Self Assessment System.
Kepatuhan dapat meningkat apabila Wajib Pajak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai sistem perpajakan sesuai dengan undang-undang pajak yang berlaku, serta kesadaran akan pentingnya pajak bagi pembangunan Negara.
Kepatuhan Wajib Pajak menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 544/KMK.04/2000, yaitu suatu tindakan Wajib Pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan peraturan pelaksanaan perpajakan yang berlaku disuatu negara.
2.1.4.2 Jenis Kepatuhan Wajib Pajak
Menurut (Rahayu, 2010) jenis-jenis kepatuhan Wajib Pajak adalah :
1. Kepatuhan formal adalah suatu keadaan dimana Wajib Pajak memenuhi kewajiban secara formal sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang perpajakan.
2. Kepatuhan material adalah suatu keadaan dimana Wajib Pajak secara substantif/hakikatnya memenuhi semua ketentuan material perpajakan yaitu sesuai isi dan jiwa Undang-undang pajak kepatuhan material juga dapat meliputi kepatuhan formal. Misalnya ketentuan batas waktu pelaporan Surat Pemberitahuan Pajak
Penghasilan (SPT PPh) Tahunan tanggal 31 Maret.
Apabila Wajib Pajak telah melaporkan Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan Tahunan sebelum atau pada tanggal 31 Maret maka Wajib Pajak telah memenuhi ketentuan formal, akan tetapi isinya belum tentu memenuhi ketentuan material, yaitu suatu keadaan dimana Wajib Pajak secara subtantive memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yakni sesuai isi dan jiwa undang-undang perpajakan.
2.1.4.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Pajak Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak (Sari & Susanti, 2015) adalah sebagai berikut :
1. Pemahaman terhadap sistem self assessment 2. Kualitas pelayanan
3. Tingkat pendidikan 4. Tingkat penghasilan
5. Persepsi wajib pajak terhadap sanksi perpajakan.
2.1.5 Surat Pemberitahuan (SPT)
2.1.5.1 Pengertian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan
Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan merupakan yang digunakan Wajib Pajak untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak, kewajiban sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Fungsi dari surat pemberitahuan adalah untuk mengawasi penerimaan pajak. Oleh karena itu, kepatuhan penyampaian SPT oleh Wajib Pajak harus ditingkatkan agar pengawasan penerimaan pajak menjadi efektif. Kepatuhan penyampaian SPT dapat dilihat dari apakah SPT telah disampaikan oleh wajib pajak atau belum. Pengisian SPT harus benar, jelas, dan
dilengkapi dengan lampiran-lampirannya serta harus disampaikan sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan.
“According to Mardiasmo (2018), states that Tax Return (SPT) is a letter used by taxpayers to report the calculation of tax payments, tax objects or non-tax objects, and or assets and liabities in accordance with the provision of laws and regulations taxation”(Kemala et al., 2020)
Dari definisi diatas Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan penghitungan pembayaran pajak, objek pajak atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan.”
2.1.5.2 Fungsi Surat Pemberitahuan (SPT)
Menurut (Mardiasmo, 2016) fungsi Surat Pemberitahuan bagi Wajib Pajak Pajak Penghasilan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah pajak yang sebenarnya terhutang dan untuk melaporkan tentang :
1. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam 1 (satu) tahun pajak atau bagian tahun pajak.
2. Penghasilan yang merupakan objek pajak dan atau bukan objek pajak.
3. Harta dan Kewajiban.
4. Pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan atau pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 (satu) Masa Pajak, yang ditentukan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Bagi PKP adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang sebenarnya terutang. Bagi pemotong atau pemungut pajak adalah
sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkannya.
2.1.5.3 Jenis Surat Pemberitahuan (SPT)
Jenis SPT sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 9/PMK.03/2018 tentang Surat Pemberitahuan (SPT) yaitu :
1. SPT Tahunan Pajak Penghasilan, yaitu SPT untuk suatu tahan pajak atau bagian tahun pajak
2. SPT Masa, yaitu SPT untuk suatu masa pajak yang terdiri atas :
a. SPT Masa Pajak Penghasilan (PPh)
b. SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
c. SPT Masa PPN bagi pemungut PPN Baik jenis SPT tahunan maupun SPT Masa berbentuk :
1. Formulir kertas (hardcopy)
2. e-SPT yaitu data SPT wajib pajak dalam bentuk elektronik yang dibuat oleh wajib pajak demnagn menggunakan aplikasi e-SPT yang disediakan Direktorat Jenderal Pajak
2.1.5.4 Sanksi Terlambat atau Tidak Melaporkan SPT Tahunan
Menurut (Mardiasmo, 2016) jika Wajib Pajak tidak melaporkan SPT sesuai batas waktu yang ditentukan maka akan dikenakan sanksi sebagai berikut :
1. Apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan atau batas waktu perpanjangan pelaporan SPT Tahunan maka akan dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp. 1.000.000 untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan.
2. Wajib Pajak karena kealpaan tidak melaporkan SPT Tahunan atau melaporkan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara tidak dikenakan sanksi pidana apabila dilakukan pertama kali oleh Wajib Pajak dan Wajib Pajak tersebut wajib melunas kenaikan 200%
dari jumlah yang kurang dibayar.
3. Wajib Pajak dengan sengaja tidak melaporkan SPT sehingga menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara dipidana paling singkat 6 (enam) bulan penjara dan paling lama 6 (enam) tahun penjara dan denda paling sedikit dua kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang bayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak yang terutang yang tidak atau kurang bayar. Perundang-undangan yang berhubungan dengan perpajakan terus disempurnakan agar pajak dapat lebih diterima oleh masyarakat.
2.1.5.5 Pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT)
Terhadap SPT yang telah diisi selanjutnya Wajib Pajak melaporkan SPT tersebut ke Kantor Pajak atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jendral Pajak, dapat dilakukan (Zidni Amaliah Mardlo, 2018) :
1. Secara langsung
2. Melalui pos dengan bukti pengiriman surat;atau
3. Cara lain untuk melaporkan SPT dapat dilakukan antara sebagai berikut :
a. Melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir (perusahaan yang berbentuk badan hukum yang memberikan jasa pengiriman surat jenis tertentu termasuk pengiriman SPT ke Direktorat Jendral Pajak) dengan bukti pengiriman surat; atau
b. E-Filling melalui ASP (Application Service Provider)
ASP atau penyedia jasa aplikasi ini sebagai perusahaan penyedia jasa aplikasi yang telah ditunjuk dengan Keputusan Direktur Jendral Pajak sebagai perusahaan yang dapat menyalurkan pelaporan SPT atau pemberitahuan perpanjangan SPT Tahunan secara elektronik ke Direktorat Jendral Pajak.
Setiap SPT yang disampaikan oleh Wajib Pajak diperlukan tanda penerimaan surat (tanda terima) atau bukti penerimaan SPT, tetapi juga mengikuti cara pelaporan SPT. Terhadap SPT yang disampaikan : Secara langsung, akan diberikan tanda penerimaan surat melalui Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) Kantor Pelayanan Pajak. Dan melalui pos dengan bukti pengiriman surat tersebut.
2.1.6 Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, antara lain dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
Nama Peneliti Judul Penelitian Hasil penelitian Santa Veronika
Logho (2017)
Analisis Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak
Badan Di Kota Wamena
Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak badan di kota Wamena belum sesuai, dikarenakan relatif sedikit yang mendaftarkan diri untukmemliki NPWP, wajib pajak badan masih sedikit yang dapat menghitung pajak terutang dengan benar.
Dya Ardiani (2018)
Analisis Kepatuhan Wajib Pajak Sebelum dan Sesudah Program
e-SPT Dalam melaporkan SPT Masa
PPN Masa Pada KPP Pratama
Medan Petisah
Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kepatuhan wajib pajak sebelum dan sesudah penerapan program e-SPT dalam melaporkan SPT Masa PPN karena wajib pajak lebih banyak memilih untuk menyampaikan SPT secara manual daripada secara elektronik (e-SPT). Namun penerapan program e-SPT telah cukup efektif dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak karena wajib pajak yang menggunakan e-SPT lebih patuh daripada wajib pajak yang menyampaikan SPT secara manula pada KPP Pratama Medan Petisah Cesi Minarti
Aritonang (2018)
Analisis Penyampaian SPT Tahunan Badan
Dalam Penerimaan Pajak Penghasilan
Badan Pada KPP Pratama Medan Kota
Hasil penelitian menunjukan masih banyak wajib pajak badan yang tidak menyampaikan bahkan lebih banyak yang tidak menyampaikan daripada yang menyampaikan SPT tahunan badan pada KPP Pratama Medan Kota. Disebabkan karena kurangnya tingkat pemahaman wajib pajak dalam penyampaian SPT tahunan, kelalaian wajib pajak dalam meyampaikan SPT tahunan sehingga menyebabkan penerimaan pajak penghasilan menuru dan tidak mencapai target.
Erlina Sari Pohan (2019)
Analisis Kepatuhan Wajib Pajak Badan Berdasarkan Realisasi
Penerimaan Pajak Penghasilan Pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama
Cilegon
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa jika dilihat dari 2014-2017 jumlah wajib pajak perusahaan meningkat setiap tahun. Peningkatan jumlah wajib pajak perusahaan menunjukkan bahwa potensi penerimaan pajak penghasilan perusahaan akan meningkat setiap tahun. Target dan penerimaan kenaikan pajak penghasilan badan.
Pada 2014-2015 penerimaan pajak mencapai target yang ditetapkan. Hanya saja pada 2016- 2017 dengan target yang lebih tinggi Realisasi Pendapatan pajak penghasilan perusahaan tidak mencapai target yang ditentukan. Upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan penerimaan pajak Penghasilan di kantor pelayanan Pajak Pratama (KPP) Cilegon adalah melakukan sosialis asi, drop box, mengambil bola
Belia Natasya dan Ira Septriana (2020)
Tingkat Kepatuhan WP Badan Dalam Memenuhi Kewajiban Perpajakannya Melalui
Pemeriksaan Pajak, Kesadaran Dan Kualitas Pelayanan Pada KPP Pratama Semarang Barat
Hasil penelitian menunjukan bahwa pemeriksa pajak berpengaruh signifikan dan positif terhadap kepatuhan wajib pajak badan dalam memenuhi kewajiban pajakannya. Kesadaran wajib pajak berpengaruh signifikan dan positif terhadap kepatuhan wajib pajak badan dalam memenuhi kewajiban pajakannya. Kualitas pelayanan pajak signifikan dan positif terhadap kepatuhan wajib pajak badan dalam memenuhi kewajiban pajakny a. Pemeriksa, kesadaran, dan kualitas pelayanan bersama-sama berpengaruh pada timgkat kepatuhan wajib pajak.
Sumber : Data diolah
2.2 Model Brainware Analysis Awal
Model brainware analysis awal dalam penelitian ini adalah menggambarkan jawaban sementara peneliti terhadap rumusan masalah yang akan diteliti. Berikut peta (map) brainware analysis awal dalam penelitian ini adalah :
Gambar 2.1 Model Brainware Analysis Sumber : Data diolah menggunakan Aplikasi NVivo
Dari Gambar 2.1 Model Brainware Analysis diatas adalah menggambarkan jawaban sementara peneliti terhadap rumusan masalah yang akan diteliti tentang Analisis Tingkat Kepatuhan Pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Badan Di KPP Pratama Medan Petisah.
Jika dibandingkan dengan penelitian kualitatif model brainware analysis ini sama dengan hipotesis. Jadi peneliti mennggambarkan jawaban sementara dan dibuktikan dengan bukti-bukti yang bersifat sementara tetapi nyata. Untuk bukti-bukti tersebut diperoleh dari sumber- sumber yang akurat dan resmi seperti jurnal, website dan dokumen yang dipublikasikan.
Dari Gambar 2.1 Model Brainware Analysis tersebut, tingkat kepatuhan wajib pajak badan dalam pelaporan SPT tahunan, penyebab tingkat kepatuhan wajib pajak karena kurang pemahaman tentang pelaporan SPT tahunan. Dan kurangnya kesadaran wajib pajak badan dalam melaporkan SPT tahunan. Upaya yang dilakukan KPP Pratama Medan Petisah untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak badan dalam melaporkan SPT tahunan adalah dapat dilakukan dengan meningkatkan pelayanan dan sosialisasi dalam tata cara pelaporan SPT tahunan.
28
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Alasan Pemilihan Pendekatan Kualitatif
Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Menurut Sugiyono (Kasim, 2019), “metode deskriptif adalah penelitian yang melukiskan, mengambarkan, atau memaparkan keadaan objek yang diteliti sebagai apa adanya, sesuai dengan situasi dan kondisi ketika penelitian tersebut dilakukan”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Sugiyono (Kasim, 2019), “pendekatan kualitatif adalah mekanisme kerja penelitian yang berpedoman penilaian subjektif nonstatistik atau nonmatematis, dimana ukuran nilai yang digunakan dalam penelitian ini bukanlah angka-angka skor, melainkan kategorisasi nilai atau kualitasnya”.
Adapun alasan peneliti menggunakan pendekatan kualitatif adalah peneliti ingin mengetahui data yang sebenarnya tentang permasalahan yang akan diteliti. Oleh karena itu, peneliti langsung ke lapangan untuk mengamati fenomena yang terjadi untuk mengetahui dan membuktikan kebenaran masalah dan mendapatkan informasi terkait data dari objek penelitian yang akan diteliti.
3.2 Prosedur Penelitian
Prosedur Penelitian adalah tahap-tahap yang digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan data dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian ini. Prosedur penelitian yang digunakan peneliti ada beberapa diantaranya adalah tahap penentuan topik,tahap penentuan rumusan masalah, tahap pengumpulan kajian pustaka, tahap pengumpulan data, tahap analisis data dan tahap penarikan kesimpulan.
Gambar 3.1 Prosedur Penelitian Sumber : Data diolah
3.2.1. Tahap Penentuan Topik
Topik menduduki posisi yang sangat penting dalam penelitian karena penentuan topik akan menentukan arah penelitian. Dalam penelitian ini mengangkat topik “Analisis Tingkat Kepatuhan Pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Badan Di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Petisah”
3.2.2. Tahap Penentuan Rumusan Masalah
Setelah menentukan topik penelitian, tahap selanjutnya adalah tahap penentuan rumusan masalah. Peneliti melihat bahwa masih banyak wajib pajak badan yang tidak melaporkan SPT tahunan oleh karena itu perlunya upaya pihak Kantor Pelayanan Pajak untuk meningkatkan meningkatkan kepatuhan wajib pajak badan dalam pelaporan SPT tahunan.
3.2.3. Tahap Pengumpulan Kajian Pustaka
Tahap selanjutnya yang dilakukan peneliti setelah menentukan rumusan masalah adalah menentukan kajian pustaka. Peneliti menentukan kajian pustaka ini dengan mengambil referensi dari buku perpajakan, jurnal dan peneliti terdahulu. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan pengumpulan data kualitatif berupa studi pustaka, wawancara, dan juga dokumentasi
.
3.2.4. Tahap pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer adalah data yang didapatkan dengan cara melakukan penelitian langsung ke lapangan untuk mendapatkan dan mengumpulkan data di KPP Pratama Medan Pestisah.
Sedangkan data sekunder adalah data yang didapatkan melalui buku, studi pustaka dan dokumentasi melalui web resmi KPP, media sosial KPP Pratama Medan Petisah.
3.2.5. Tahap Analisis Data
Tahap analisis data adalah menyiapkan dan mengatur analisis data (yaitu data teks seperti dalam transkip, atau gambaran dalam foto), kemudian mengurangi data kedalam tema melalui proses kondensasi coding, dan akhirnya meyajikan data dalam bentuk angka, table, atau suatu diskusi. Analisis data ini merupakan suatu pendekatan yang luas dan tidak hanya menganalisis teks dan gambar, tetapi meliputi pula pengorganisasian data, melakukan pemahaman pendahuluan terhadap database, mengode dan mengorganisasikan tema, menyajikan data, dan membentuk interpretasi data (Creswell, Jhon, W., Calk, Vicky, L., 2013).
Berdasarkan penelitian diatas NVivo dianggap oleh penulis mampu sebagai sarana ataupun media dalam menghimpun, mengelompokkan atau memetakan data, proses analisa data dan pengolahan data dalam penelitian ini memiliki tahap yaitu :
1. Coding
Kode dalam analisis data kuantitatif adalah kata atau frasa pendek singkat yang paling sering muncul secara simbolis memberikan ringkasan, intisari yang menonjol, kesimpulan pokok masalah atau atribut yang membangkitkan ingatan dari sesuatu yang didasarkan bahasa atau data visual. Data dapat terdiri dari wawancara transkip, catatan lapangan observasi partisipan, jurnal, dokumen, literatur, bagian data yang akan dikodekan selama proses pengkodean siklus pertama dapat berkisar dari satu kata ke satu kalimat penuh hingga keseluruhan halaman teks ke aliran gambar bergerak.
2. Analysis Map
Membuat sketsa ide-ide (map) tentang penelitian pada tahap ini adalah cara untuk mencatat apa yang peneliti pikirkan serta lebih suka berpikir dan bekerja secara visual. Menurut Maxwell (Guntur, 2019) berpendapat untuk “membuat peta konsep awal untuk membantu menjelaskan kerangka kerja konseptual atau teoritis yang mendasari studi”. Dalam
NVivo, peta konsep, diagram alur atau diagram eksplorasi murni dapat dibuat menggunkan alat pemodelan, dan secara umum disebut sebagai model.
3. Framework Matrices
Matriks kerangka kerja adalah cara untuk meringkas atau memadatkan volume besar materi wawancara menjadi jumlah yang lebih mudah dikelola dan dapat membantu penulis memperoleh wawasan pemahaman tentang data penulis.
3.2.6. Tahap Penarikan Kesimpulan
Tahap akhir dalam prosedur penelitian ini adalah tahap penarikan kesimpulan. Kesimpulan dalam penelitian ini dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal. Tahap ini bertujuan untuk mencari makna data atau informasi yang dikumpulkan dengan mencari hubungan, persamaan atau perbedaan sehingga dapat ditarik kesimpulan. Kesimpulan - kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung.
Dalam penelitian ini, peneliti akan memanfaatkan dan menghasilak olahan data dengan menggunakan software NVivo 11 Plus yang nantinya dapat disajikan dalam bentuk gambaran dari map hal ini dilakukan untuk menarik kesimpulan.
3.3 Objek Penelitian
Menurut (Sugiyono, 2018)“objek penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.
Objek penelitian ini adalah Tingkat Kepatuhan Pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Badan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Petisah Jalan Asrama No. 7A Medan.
3.4 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lenngkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2013). Fungsi dari instrumen penelitian menurut (Sukardi, 2013) bahwa instrumen penelitian adalah untuk memperoleh data yang diperlukan ketika peneliti sedang mengumpulkan informasi di lapangan.
Instrumen utama dalam penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri, dengan dibantu beberapa alat untuk memudahkan peneliti, alay yang digunakan berupa alat tulis seperti buku dan pena, alat erekam seperti handphone digunakan untuk merekam saat wawancara, alat kamera digunakan untuk dokumentasi, dan perangkat lunak komputer seperti software NVivo 11 Plus digunakan untuk mengelola data.
3.5 Jenis Data
Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder :
a. Data primer adalah data yang didapatkan dan dikumpulkan langsung dari objek yang diteliti. Data primer dalam penelitian ini adalah langsung ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Petisah untuk meneliti dan mewawancarai kepala bagian umum, bagian data dan pandangan dari wajib pajak badan.
b. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak atau sumber lain yang telah ada. Data sekunder dalam penelitian ini adalah dokumentasi melalui web resmi KPP, media sosial KPP Pratama Medan Petisah dan bisa diminta secara langsung ke bagian data.
3.6 Sumber Data
Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang didapatkan dengan cara melakukan penelitian langsung ke lapangan untuk mendapatkan dan mengumpulkan data di KPP Pratama Medan Pestisah. Sedangkan data sekunder adalah data yang didapatkan melalui studi pustaka dan dokumentasi melalui web resmi KPP, media sosial KPP Pratama Medan Petisah.
3.7 Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Studi Pustaka
Pengumpulan data dan teori yang sesuai dengan permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian yang dibutuhkan dan didapat dari buku, referensi literatur, jurnal, dan penelitian terdahulu.
b. Wawancara
Pengumpulan data dengan cara tanya jawab dan diskusi langsung dengan pegawai Seksi Pelayanan di KPP Pratama Medan Petisah untuk memperoleh data yang berhubungan dengan masalah kepatuhan wajib pajak badan, meliputi mengapa masih banyak wajib pajak badan yang tidak melaporkan SPT tahunan dan upaya yang dilakukan oleh KPP Pratama Medan Petisah.
c. Dokumentasi
Pengumpulan data yang berhubungan dengan pelaporan SPT tahunan badan tahun 2016-2020 di KPP Pratama Medan Petisah.
Dokumentasi yang diambil melalui web resmi KPP, media sosial KPP Pratama Medan Petisah dan bisa diminta secara langsung ke bagian data.
3.8 Teknik Analisis Data
Analisis data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah analisis data NVivo dengan software NVivo 11 Plus. Software NVivo 11 Plus ini adalah sebuah perangkat lunak Qualitative Data Analysis (QDA) yang diproduksi oleh QSR international. Software NVivo 11 Plus ini merupakan sebuah perangkat lunak Qualitative Data Analysis (QDA) yang diproduksi oleh QSR international. Software NVivo di desain dengan berbagai macam set fitur inti dan digunakan untuk mengerjakan sebuah proyek-proyek penelitian kualitatif dengan sumber berbasis teks (QSR International, 2018).
Dalam teknik analisis penelitian ini NVivo dianggap oleh penulis mampu sebagai sarana ataupun media dalam menghimpun, mengelompokkan atau memetakan data, proses pengolahan data dalam penelitian ini memiliki beberapa tahap yaitu :
1. Coding
Menurut (Badur, 2016) coding merupakan suatu proses yang iteratif, yakni kegiatan seorang peneliti kualitatif secara kontinu dalam menganalisis data. Sedangkan menurut (Bazeley, P., &
Jackson, 2013) mengartikan coding adalah representasi abstrak dari sebuah objek atau fenomena, atau cara mengidentifikasi tema dalam suatu teks. Coding bertujuan untuk mengumpulkan suam informasi yang relevan dari berbagai sumber yang terkait dengan topik penelitian sehingga informasi yang terkumpul
tersebut akan membentuk kategori-kategori utama yang selanjutnya akan saling terhubung dan memunculkan konsep- konsep teoritis yang baru. Peneliti akan mengidentifikasi pola yang ada untuk bisa menemukan jawaban dari rumusan masalah dengan melalui 3 tahapan coding yaitu : initial coding, axial coding, dan selective coding.
a. Initial Coding
Initial coding adalah pengkodingan awal untuk mengekspresikan kemungkinan teoritis apapun dapat dilihat dalam data. Langkah awal ini akan mengerakkan peneliti ke arah keputusan selanjutnya tentang mendefinisikan kategori konseptual inti. Dalam tahap initial coding ini, peneliti mengumpulkan data yang didapat berupa wawancara dibaca dengan cermat, semua pernyataan yang diberikan dengan pertanyaan untuk di identifikasi dan masing-masing diberi kode sesuai dengan 2 rumusan masalah dalam penelitian ini dan data yang di identifikasi dengan kode yang sama disusun secara bersama juga serta mengelompokkan pada kategori yang sama.
b. Axial Coding
Axial coding adalah tahap menghubungkan kategori dengan subkategori pengodean aksial menentukan sifat dan dimensi suatu kategori. Dalam tahap axial coding ini, data
dikumpulkan kembali yang telah di pecah-pecah melalui initial coding, dengan meninjuau dan meyoroti-ulang tema- tema umum. Peneliti mengelompokkan kembali kategori- kategori awal dalam bentuk baru untuk membangun kategori utama, yang kemudian peliti labeli.
c. Selectinve Coding
Selective coding adalah proses memilih satu kategori untuk menjadi kategori inti. Dalam tahap selective coding ini, peneliti dapat menemukan initisari penelitian dan menggabungkan semua unsur dari teori yang muncul.
Termasuk dalam kategori initi adalah gagasan-gagasan yang paling signifikan bagi informan.
2. Analytical Maps
Analytical Maps adalah membuat sketsa atau ide-ide (Map) tentang penelitian. Pada tahap ini adalah cara tertentu untuk mencatat apa yang peneliti pikirkan dan dituangkan dalam bentuk gambar visualisasi serta mempuyai manfaat bagi peneliti sendiri maupun yang lain. Menurut ungkapan yang diperkuat oleh Maxwell (Guntur, 2019) dengan “membuat peta konsep awal untuk membantu memperjelas kerangka kerja konseptual atau teoritis yang mendasari studi”. Dalam software NVivo, peta konsep, diagram alur atau diagram eksplorasi murni dapat dibuat menggunakan alat pemodelan dan secara umum disebut sebagai
model. Model melayani berbagai tujuan selama proyek penelitian kualitatif berjalan. Oleh karena itu peneliti menggunakan model dari NVivo 11 untuk memetakan titik awal peneliti dan asumsi yang dibawakan dalam proyek tersebut kemudian peneliti membuat diagram konsep, hubungan atau pola yang diharapkan (Bazeley, P., & Jackson, 2013).
3. Framework Matrices
Framework Matrices merupakan salah satu icon yang terdapat dalam software NVivo 11 yang menyajikan data. Tampilan dari Framework Matrix berbentuk tabel yang bisa diekspor ke microsoft excel. Data yang dilakukan dalam Framework Matrices yaitu menampilkan serta menyajikan secara ringkas sumber data dan juga dapat berfungsi untuk membedakan penelitian yang dilakukansakarang ini dan penelitian sebelumnya. Penampilan dan penyajian dari data Framework Matrices disajikan dalam lampiran di mana berisikan tentang hasil-hasil dari pengkodean yang dilakukan oleh peneliti.
Framework Matrices dibuat peneliti untuk mengafasilitasi agar para pembaca dapat dengan mudah memahami penelitian ini.
3.9 Pengujian Keabsahan Data
Keabsahan data dilakukan untuk membuktikan apakah penelitian yang dilakukan benar-benar merupakan penelitian ilmiah sekaligus untuk menguji data yang diperoleh. Menurut (Sugiyono, 2012) “agar data penelitian kualitatif dapat dipertanggungjawabkan sebagai penelitian ilmiah maka perlu diadakan uji keabsahan data”.
Dalam penelitian ini keabsahaan data akan dilakukan dengan cara menggunakan perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, triangulasi, menggunakan bahan referensi dan pengecekan anggota (member checking). Adapun teknik pengujian keabsahan data adalah sebagai berikut :
1. Perpanjangan Pengamatan
Perpanjangan pengamatan peneliti kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru. Dengan perpanjangan pengamatan ini berarti hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin berbentuk rapport, semakin akrab, semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi.
2. Meningkatkan Ketekunan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka
kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.
3. Triangulasi
Dalam triangulasi, peneliti melakukan pengecekan data dengan menggunakan berbagai sumber dan melalui pengecekan terhadap observasi dilapangan, catatan lapangan, studi literatur serta berdiskusi dengan narasumber terhadap data yang diperoleh peneliti untuk memastikan kebenaran data.
Wiliam Wiersma (dalam Sugiyono, 2012) mengemukakan bahwa : “Triangulation is qualitative cross-validation. It assesses the sufficiency of the data according to the convergence of multiple data sources or multiple data collection procedures”. Triangulasi dalam pengujian ini diartikan dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Agar mendaptkan triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu, seperti pada contoh gambar sebagai berikut:
Wawancara Observasi
Studi Dokumentasi
Gambar 3.2 Triangulasi Teknik Pengumpulan Data Sumber : Data diolah
a) Triangulasi Sumber
Menurut Sugiyono, (2012) triangulasi sumber berarti, untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-benda dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.Maka dari itu peneliti dapat menyimpulkan bahwa triangulasi sumber dapat dilakukan dengan cara mengecek kembali data yang telah diperoleh dari responden yang telah diteliti.
b) Triangulasi Teknik
Menurut Sugiyono, (2012) mengungkapkan bahwa triangulasi teknik merupakan pengumulan data yang berbeda- beda dengan cara mengecek data sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data dapat diperoleh dengan cara wawancara, setelah itu dicek dengan observasi, dokumentasi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam ketiga teknik pengujian kredibilitas data dapat menghasilkan data yang sama sehingga dapat menyimpulkan hasil penelitiannya. Namun data yang diperoleh berbeda-beda maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan untuk memastikan data yang diperoleh benar.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Tujuan dari triangulasi data yaitu untuk mengecek kebenaran data dan membandingkanya
dengan data yang telah diperolehdari sumber lain. Triangulasi dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara dan observasi yang peneliti lakukan dengan sumber data yang berbeda.
4. Menggunakan Bahan Referensi
Menurut Sugiyono, (2012)menyatakan bahwa: “…yang dimaksud dengan bahan referensi di sini adalah adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti”.
Yang dimaksud dari pernyataan di atas adalah adanya bukti bahwa peneliti telah melakukan penelitian, sebagai contoh rekaman wawancara, catatan hasil wawancara, foto-foto yang dapat membantu dalam melaksanakan penelitian kualitatif sehingga data tersebut dapat dipercaya kebenarannya
5. Mengadakan Member Check
Dalam hal ini peneliti melakukan pengecekan terhadap data yang sudah diperoleh dari pemberi data, apakah data yang diberikan oleh pemberi data sudah memenuhi kebenaran atau valid. Data yang yang diperoleh peneliti harus sesuai dengan apa yang telah diberikan oleh pemberi data guna keabsahan data dalam penelitian.
Menurut Sugiyono, (2012) menyatakan bahwa: “Membercheck adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada
pemberi data.” Tujuan dari membercheck menurut Sugiyono, (2012)adalah: “Tujuan membercheck adalah agar informasi yang diperoleh dan akan digunakan dalam penulisan laporan sesuai dengan apa yang dimaksud sumber data atau informan”.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, S. B., & Nasution, A. A. (2017). Pengaruh Kualitas Pelayanan Dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Badan Di KPP Pratama Medan Belawan. Jurnal Akuntansi Dan Bisnis, 3(2), 177–186.
Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.
Aris. (2010). Diskusi Penggunaan e-SPT, (Online). http.//www.ortax.org (diakses pada tanggal 2 Juni 2021)
Badur, A. (2016). Penelitian Kualitatif-Metodologi, Desain dan Teknik Analisis Data dengan Nvivo 11 Plus. Edisi Pertama. Jakarta : Mitra Wacana Media.
Bazeley, P., & Jackson, K. (2013). Qualitatif Data Analysis with NVIVO (2nd ED). Wasington DC : In Sage Publication.
Creswell, Jhon, W., Calk, Vicky, L., & P. (2013). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches (3rd Ed.). Wasington DC : Sage Publication,Inc.
DDTC, N. (2021). Kepatuhan Wajib Pajak Badan Turun, Ini Perspektif Pengusaha. https://news.ddtc.co.id/kepatuhan-wajib-pajak-badan-turun- ini-perspektif-pengusaha-28212
Guntur, G. (2019). a Conceptual Framework for Qualitative Research: a Literature Studies. Capture : Jurnal Seni Media Rekam, 10(2), 91–106.
https://doi.org/10.33153/capture.v10i2.2447
Kasim, P. N. K. (2019). Implementasi Strategi Pemasaran Pariwisata Untuk Meningkatkan Kepuasan Wisatawan Berkunjung Ke Desa Gucialit Kecamatan Gucialit Kabupaten Lumajang Studi Kasus Pada Komunitas Gowa (Guciailit Organisasi Wisata Alam). E-Conversion - Proposal for a Cluster of Excellence, 2, 34–42.
Kemala, P., Lubis, D., & Putri, E. (2020). Analysis of The Application Of E-SPT in The Annual Tax Return Reporting of Corporate Taxpayers at The Medan City Primary Tax Office. 1(1), 37–44.
Mardiasmo. (2016). Perpajakan Edisi Revisi Tahun 2016. Yogyakarta : CV. Andi.
Offset